Campuran
Sorotan terbaru dari Tag # Campuran
Beton Precast Foam Concrete dari Campuran Sawit Hasil Inovasi Riset BPDP dan Universitas SK
Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Universitas Syiah Kuala (SK), lahir inovasi riset yang dikembangkan, yakni material konstruksi berbasis perkebunan, berupa Beton Precast Foam Concrete berbasis sawit. Produk ini memanfaatkan turunan kelapa sawit sebagai bagian dari komposisi foam concrete, menghasilkan beton ringan yang tetap kuat, efisien, serta lebih ramah lingkungan. Inovasi ini tak terbayangkan sebelumnya, dan menjadi langkah nyata tingkatkan nilai tambah komoditas sawit, tidak hanya sebagai sumber pangan dan energi, tetapi sebagai solusi di sektor konstruksi. Dari sisi pemanfaatan, beton pracetak ini dirancang untuk mendukung pembangunan yang cepat dan praktis. Bobotnya ringan memudahkan distribusi dan pemasangan di lapangan, sekaligus memberikan efisiensi dalam proses konstruksi. Karakteristik tersebut menjadikannya alternatif material yang potensial untuk berbagai kebutuhan pembangunan modern. Proses pembuatannya diawali dengan produksi busa menggunakan foam agent (merek dagang: FoaMac) yang dikembangkan dalam penelitian. Bahan ini dicampurkan dengan air dan diproses melalui foam generator untuk menghasilkan busa dengan densitas terkontrol. Busa tersebut kemudian dicampurkan dengan pasta semen yang terdiri dari semen, air, serta agregat halus atau bahan substitusi biomassa sawit seperti clinker boiler. Seluruh bahan diolah secara homogen menggunakan cement mixer hingga mencapai densitas target sekitar 1,2–1,4 g/cm³. Terus, campuran dituangkan ke dalam cetakan untuk membentuk bata foam atau panel pracetak, lalu melalui proses curing hingga mencapai kekuatan yang diinginkan. Guna monitoring dan evaluasi terhadap capaian program penelitian dan pengembangan industri beton ringan ini, tim Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melakukan kunjungan lapangan ke Lambaro, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Selasa (5/5) lalu. Kunjungan tersebut diwakili Prof. Ir. Didiek Hadjar Goenadi, M.Sc., Ph.D bersama tim BPDP, yang meninjau langsung fasilitas produksi bata foam dan precast foam concrete yang telah dibangun dan dioperasikan. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat perkembangan implementasi hasil riset, mencakup pembangunan fasilitas industri, kesiapan teknologi produksi, serta penerapan produk pada konstruksi nyata. Observasi dilakukan secara menyeluruh terhadap alur produksi, mulai dari penyiapan bahan baku, proses pencampuran, hingga tahap pencetakan dan curing. Fasilitas yang dikunjungi merupakan wujud nyata dari kolaborasi riset antara Universitas Syiah Kuala dan BPDP mendorong hilirisasi teknologi pemanfaatan limbah biomassa sawit menjadi material konstruksi bernilai tambah tinggi. Program ini tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi berhasil mengimplementasikannya dalam skala industri. Sebagai luaran strategis, inisiatif ini telah melahirkan dua entitas bisnis, yakni PT Solusi Global Precast yang bergerak di industri bata foam dan precast foam concrete, serta UMKM sebagai pemasok foam agent. Produk yang dihasilkan meliputi bata foam, panel pracetak, penutup drainase, alas jembatan, hingga elemen konstruksi lain yang telah diaplikasikan, termasuk pada rumah contoh ramah gempa. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin sinergi yang semakin kuat antara BPDP, akademisi, dan industri dalam mengembangkan teknologi berbasis limbah biomassa sawit secara berkelanjutan. Selain itu, hasil monitoring dan evaluasi menjadi dasar untuk penyempurnaan program serta perluasan implementasi industri beton ringan di Indonesia.
Program Wajib Campuran Biodiesel Bikin RI Hemat Impor BBM Rp161 Triliun
Jakarta, katakabar.com - Program mandatory (wajib) dari pemerintah, pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis Biodiesel sebesar 35 persen atau B35 mulai Februari 2023 dijalankan. Indonesia diperkirakan bisa hemat impor Bahan Bakar Minyak (BBM) setara Rp161,25 triliun pada 2023 ini. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan, program biodiesel 35 persen atau B35 ini telah nyata bisa menekan impor BBM. Begitu pun jumlah devisa yang dihemat negara tahun ini diperkirakan bisa lebih besar dibandingkan tahun lalu. Soalnya, tahun lalu program pencampuran biodiesel masih sebesar 30 persen dan mulai Februari 2023 ini ditingkatkan menjadi 35 persen. Diceritakan Nicke, pada 2022 lalu negara berhasil menghemat devisa hingga Rp122,65 triliun dari program B30. Selain menghemat devisa, program pencampuran biodiesel ini berhasil menekan emisi karbon hingga 28 juta ton tahun lalu. "Sudah kami lakukan dengan mandatory B35 ini menghasilkan baik penghematan devisa tahun 2022 lalu mencapai Rp122 triliun. Di tahun ini diproyeksi menurunkan impor BBM Rp161 triliun. Sementara, dari sisi penurunan karbon emisi pada 2022 lalu menurunkan 28 juta ton CO2," jelasnya saat Rapat Panja dengan Komisi VI DPR RI, pada Senin (2/10) lalu, dilansir dari laman website resmi BPDPKS, pada Jumat (6/10). Diketahui, ulas Nicke, program pencampuran biodiesel minyak Solar telah diterapkan Indonesia dari 2008 silam. Di mana l persentase campuran biodiesel masih berada pada level 2,5 persen. Tapi, secara bertahap kadar pencampuran BBN ini semakin meningkat menjadi 7,5 persen pada 2010, 10 perse pada 2011, 15 persen pada 2015, 20 persen pada 2016, lalu 30 persen pada 2019, dan 35 persen mulai Februari 2023. "Saya optimistis, secara teknologi, penerapan biodiesel ini bisa ditingkatkan menjadi 100 persen. Secara teknologi, bisa sampai B100 (biodiesel 100 persen)," terangnya. Menurutnya, besarnya produksi minyak kelapa sawit (CPO) di Indonesia salah satu potensi pengembangan biodiesel di Tanah Air. Indonesia produsen CPO terbesar di dunia dengan produksi hingga 49,7 juta ton pada 2021 atau setara 67 persen dari total produksi CPO dunia. "Indonesia juga produsen biodiesel terbesar di dunia dengan total produksi mencapai 137 ribu barel per hari," sebutnya.