Terukur

Sorotan terbaru dari Tag # Terukur

Dari Nol ke First Trade: Strategi Trading Bagi Pemula dan 5 Aset Kripto Memulai Lebih Terukur Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 05 Mei 2026 | 07:36 WIB

Dari Nol ke First Trade: Strategi Trading Bagi Pemula dan 5 Aset Kripto Memulai Lebih Terukur

Jakarta, katakabar.com - Minat masyarakat terhadap aset kriptoterus menunjukkan peningkatan, seiring dengan kemudahan akses dan berkembangnya ekosistem digital.  Tetapi, di balik pertumbuhan tersebut, banyak investor pemula masih memasuki pasar tanpa strategi jelas, mengandalkan intuisi, mengikuti tren, atau bereaksi terhadap pergerakan harga jangka pendek.  “Trading bukan sekadar menebak arah harga. Ini adalah kombinasi antara disiplin, probabilitas, dan manajemen risiko. Pendekatan yang terstruktur sejak awal akan sangat menentukan hasil dalam jangka panjang,” ujar Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.  Pada praktiknya, banyak pemula mengalami kerugian bukan karena salah membaca arah pasar, melainkan tidak memiliki sistem yang konsisten. Perilaku seperti FOMO (fear of missing out), panic selling, atau terlalu sering melakukan transaksi tanpa dasar yang jelas menjadi penyebab utama.  Untuk itu, FLOQ menekankan beberapa prinsip dasar:  • Mengutamakan perlindungan modal sebelum mengejar keuntungan  • Menggunakan stop-loss dan take-profit sebagai kontrol risiko  • Menghindari keputusan berbasis emosi  • Membangun rutinitas investasi yang konsisten  Pendekatan ini membantu investor berpindah dari spekulasi jangka pendek menuju strategi yang lebih terukur dan berkelanjutan.  Sebagai langkah awal, diversifikasi menjadi strategi penting mengelola risiko di tengah volatilitas pasar kripto. Alih-alih berfokus pada satu aset, investor pemula dapat mempertimbangkan kombinasi beberapa kategori aset yang memiliki peran berbeda dalam ekosistem.  Berikut lima aset kripto yang dapat menjadi fondasi portofolio awal, lengkap dengan peran strategis dan kondisi pasar terkini:  1. Bitcoin (BTC): Fondasi dan “Digital Safe Haven”  *Harga diambil pada Sabtu, 2 Mei, pukul 14.00 WIB  Harga saat ini: ~US$78,306* Sebagai aset kripto pertama dan terbesar di dunia, Bitcoin sering dianggap sebagai “digital gold” dan berperan sebagai penyimpan nilai (store of value). Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin semakin banyak diadopsi oleh institusi global sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset.  Peran dalam portofolio: Stabilitas relatif + fondasi utama investasi  2. Ethereum (ETH): Mesin Inovasi Web3  Harga saat ini: ~US$2,304*. Ethereum bukan hanya aset kripto, tetapi juga platform teknologi yang mendukung berbagai aplikasi seperti decentralized finance (DeFi), NFT, dan smart contracts.  Peran dalam portofolio: Kombinasi antara utilitas teknologi dan potensi pertumbuhan  3. Tether (USDT): Stabilitas dan Likuiditas  Harga saat ini: ~US$0.997*. Sebagai stablecoin yang dipatok terhadap dolar AS, USDT digunakan sebagai alat lindung nilai terhadap volatilitas dan sebagai “cash position” dalam portofolio kripto.  Peran dalam portofolio: Stabilizer + fleksibilitas dalam strategi trading  4. Solana (SOL): Pertumbuhan dan Adopsi Cepat  Harga saat ini: ~US$83.76*. Solana dikenal sebagai salah satu blockchain dengan kecepatan tinggi dan biaya transaksi rendah, menjadikannya populer di kalangan developer dan pengguna ritel.  Peran dalam portofolio: Eksposur ke aset dengan potensi pertumbuhan lebih agresif  5. Hyperliquid (HYPE): Eksposur Emerging Asset  Harga saat ini: ~US$41.48*. Sebagai bagian dari kategori aset yang sedang berkembang, HYPE mencerminkan peluang pertumbuhan di fase awal adopsi, namun juga memiliki volatilitas yang lebih tinggi.  Peran dalam portofolio: Pelengkap dengan porsi terbatas untuk mengeksplorasi peluang upside  Sebagai ilustrasi sederhana, alokasi portofolio awal dapat dipertimbangkan sebagai berikut:   Contoh Alokasi Portofolio Pemula (Total: Rp1.000.000)  Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara stabilitas, likuiditas, dan potensi pertumbuhan, dengan tetap menjaga eksposur risiko pada level yang terukur.  Sebagai ilustrasi, portofolio awal sebesar Rp1.000.000 dapat dialokasikan secara terstruktur untuk menyeimbangkan stabilitas, likuiditas, dan potensi pertumbuhan. Sekitar 40% atau Rp400.000 dialokasikan ke Bitcoin (BTC) sebagai fondasi utama portofolio, mengingat posisinya sebagai aset paling matang dengan likuiditas tinggi dan dominasi pasar yang kuat.  Selanjutnya, 25% atau Rp250.000 ditempatkan pada Ethereum (ETH), yang memberikan eksposur terhadap pertumbuhan ekosistem Web3, termasuk DeFi dan berbagai inovasi berbasis blockchain. Untuk menjaga fleksibilitas, 20% atau Rp200.000 dialokasikan ke Tether (USDT) sebagai aset stabil yang berfungsi sebagai buffer likuiditas dan cadangan saat peluang pasar muncul.  Di sisi pertumbuhan, 10% atau Rp100.000 dialokasikan ke Solana (SOL), yang dikenal dengan kecepatan tinggi dan adopsi yang berkembang pesat. Sementara itu, 5% atau Rp50.000 ditempatkan pada Hyperliquid (HYPE) sebagai eksposur terbatas terhadap aset emerging dengan potensi upside yang lebih tinggi, namun tetap dalam porsi kecil untuk menjaga risiko tetap terkendali.  Logika di Balik Alokasi Ini  Core Stability (65%) → BTC + ETH Mayoritas portofolio ditempatkan pada aset dengan:  • Likuiditas tinggi  • Adopsi luas  • Risiko relatif lebih rendah Ini memastikan portofolio tidak terlalu terpengaruh volatilitas ekstrem.  Defensive Layer (20%) → USDT Berfungsi sebagai:  • “Dry powder” untuk buy the dip  • Proteksi saat market turun  Growth & Upside (15%) → SOL + HYPE Memberikan:  • Eksposur ke pertumbuhan cepat  • Potensi return lebih tinggi Namun dengan porsi kecil untuk menjaga risiko.  Simulasi Potensi Return  Ini adalah simulasi berbasis performa historis 12 bulan terakhir (perkiraan), bukan jaminan hasil di masa depan. Estimasi berikut menggunakan pendekatan CAGR (Compound Annual Growth Rate), yaitu rata-rata pertumbuhan tahunan suatu aset berdasarkan performa historis, dengan asumsi pertumbuhan yang terakumulasi secara konsisten. Simulasi ini bersifat indikatif dan bukan jaminan hasil di masa depan. Harga aset kripto tercantum di artikel ini merupakan data pasar yang diambil pada Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 14.00 WIB dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar. Investor wajib melakukan riset tersendiri (DYOR). Artikel ini bertujuan untuk edukasi dan bukan nasihat finansial.  Untuk memberikan gambaran yang lebih kontekstual, simulasi ini menggunakan asumsi alokasi portofolio sebesar Rp1.000.000.  Bitcoin (BTC): US$78.306,26 Rp400.000 → Rp520.000 (+30%) Ethereum (ETH): US$2.304,74 Rp250.000 → Rp312.500 (+25%) Tether (USDT): US$0,9997 Rp200.000 → Rp200.000 (0%) Nilai dalam Rupiah dapat berubah mengikuti pergerakan kurs USD/IDR saat dikonversikan. Solana (SOL): US$83,76 Rp100.000 → Rp140.000 (+40%) Hyperliquid (HYPE): US$41,48 Rp50.000 → Rp80.000 (~+60%) Secara keseluruhan, portofolio ini berpotensi berkembang dari Rp1.000.000 menjadi sekitar Rp1.252.500 dalam satu tahun, mencerminkan estimasi blended return sebesar kurang lebih 25%.

Menteri PU: Pemulihan Infrastruktur Konektivitas, Air Bersih dan Sanitasi Prioritas Nasional
Nasional
Selasa, 23 Desember 2025 | 17:00 WIB

Menteri PU: Pemulihan Infrastruktur Konektivitas, Air Bersih dan Sanitasi Prioritas

Jakarta, katakabar.com - Menteri Pekerjaan Umum (PU) menegaskan seluruh jajaran kementerian terus disiagakan untuk memastikan penanganan bencana berjalan cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran. Percepatan pemulihan konektivitas serta layanan infrastruktur dasar menjadi prioritas utama pemerintah agar aktivitas masyarakat, dan roda perekonomian daerah dapat segera kembali normal. Hal tersebut disampaikan Menteri PU, Dody, saat konferensi pers perkembangan penanggulangan pascabencana Sumatera yang digelar di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (19/12) lalu. Dody mengutarakan, Kementerian PU terus mengakselerasi penanganan dampak bencana yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Langkah tanggap darurat ini dilakukan secara lintas sektor yang meliputi bidang Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Cipta Karya. "Hingga 18 Desember 2025 pukul 20.00 WIB, Kementerian PU telah menurunkan 1.328 personel serta memobilisasi 872 unit alat berat dan pendukung untuk membuka kembali akses konektivitas, memulihkan layanan air bersih dan sanitasi, serta menormalkan sungai dan jaringan irigasi di wilayah terdampak," jelasnya. Di bidang Bina Marga, fokus utama penanganan adalah pemulihan jalan dan jembatan nasional yang terputus. Ia memaparkan progres signifikan di tiga provinsi terdampak. Di Aceh, dari total 38 ruas jalan nasional yang terdampak, sebanyak 26 ruas kini telah fungsional kembali. Sisanya masih dalam tahap perbaikan intensif dan pemasangan jembatan bailey. Sementara, di Sumatera Utara, 10 dari 12 ruas jalan nasional yang terdampak telah kembali berfungsi normal. Progres positif juga terlihat di Sumatera Barat, di mana 29 dari 30 ruas jalan nasional yang terdampak sudah dapat dilalui kendaraan. Kementerian PU menargetkan seluruh ruas jalan tersebut pulih sepenuhnya sebelum akhir Desember 2025. Selain konektivitas, Kementerian PU juga bergerak memulihkan infrastruktur di sektor Sumber Daya Air. Langkah yang dilakukan meliputi normalisasi sungai, perbaikan bendung, serta rehabilitasi jaringan irigasi. Berdasarkan data lapangan, luasan lahan irigasi yang terdampak bencana cukup masif, yakni mencapai 108.622 hektare di Aceh, 101.822 hektare di Sumatera Utara, dan 84.971 hektare di Sumatera Barat. Penanganan darurat dan rehabilitasi dilakukan secara bertahap untuk memastikan suplai air ke lahan pertanian kembali lancar untuk menjaga ketahanan pangan daerah. Di sisi lain, bidang Cipta Karya memastikan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi dan masyarakat terdampak. Kementerian PU telah menangani lebih dari 170 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan ratusan sarana sanitasi. Bantuan sarana pendukung juga terus dikirimkan ke 20 kabupaten/kota terdampak, antara lain berupa mobil tangki air, hidran umum, toilet portable, hingga Instalasi Pengolahan Air (IPA) mobile. Menutup keterangannya, Dody memastikan sinergi lintas instansi akan terus diperkuat. Kementerian PU akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, TNI, BUMN, dan masyarakat setempat hingga seluruh infrastruktur terdampak tertangani secara menyeluruh. “Pemulihan konektivitas dan layanan infrastruktur dasar menjadi prioritas agar aktivitas masyarakat dan perekonomian daerah dapat segera kembali normal,” pungkasnya. Program kerja ini bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak, Berdampak” dalam menjalankan Asta Cita dari Presiden RI, H Prabowo Subianto.

LindungiHutan Taja GSS Bantu Perusahaan Bangun Program CSR Terukur dan Relevan Bisnis Lingkungan
Lingkungan
Minggu, 14 Desember 2025 | 15:32 WIB

LindungiHutan Taja GSS Bantu Perusahaan Bangun Program CSR Terukur dan Relevan Bisnis

Semarang, katakabar.com - Menyusun program ESG atau CSR yang benar-benar terukur dan selaras dengan strategi bisnis masih menjadi tantangan bagi banyak perusahaan di Indonesia. Di tengah meningkatnya tuntutan regulasi, ekspektasi investor, dan persaingan pasar, sebagian besar PIC perusahaan masih berada pada tahap awal pemahaman, kesulitan menetapkan prioritas, ragu menentukan skema kolaborasi yang tepat, dan tidak yakin bagaimana memastikan program keberlanjutan memiliki nilai pembeda di mata publik maupun pemangku kepentingan. Menjawab tantangan tersebut, LindungiHutan meluncurkan Green Skilling Series (GSS), rangkaian workshop akhir tahun bertema “From Strategy to Action: Building Measurable Green Impact for Business.” Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas perusahaan dalam memahami, merancang, dan mengimplementasikan program keberlanjutan yang terstruktur, praktis, dan relevan dengan konteks industri masing-masing. Green Skilling Series berlangsung selama satu bulan dalam tiga sesi berjenjang melalui Zoom Meeting. Sesi pertama membahas fondasi ESG dan CSR, memberikan pemahaman yang dibutuhkan oleh para newcomer mengenai landscape regulasi terbaru, perbedaan ESG–CSR–program karbon, risiko bisnis, serta kerangka praktis Materiality → Strategy → Implementation → Reporting. Sesi kedua Green Skilling series berfokus pada cara menerjemahkan rencana keberlanjutan menjadi implementasi yang terukur, termasuk materiality mapping, penyusunan KPI, desain program lingkungan yang sesuai profil perusahaan, hingga penyusunan impact roadmap satu tahun. Sesi ketiga menjadi ruang praktik bagi peserta untuk menyusun draft program CSR-ESG secara langsung, mengisi template perencanaan, sekaligus berkonsultasi terkait kebutuhan perusahaan mulai dari penentuan prioritas, penyelarasan dengan anggaran, hingga strategi diferensiasi terhadap kompetitor. Melalui pendekatan konsultatif ini, peserta diharapkan dapat “pulang” dengan satu rancangan program keberlanjutan yang dapat segera dikembangkan. Green Skilling series diharapkan juga meningkatkan pemahaman yang lebih kuat mengenai keputusan strategis yang perlu diambil, baik untuk pengelolaan anggaran, perencanaan kontribusi lingkungan, maupun pemilihan model kolaborasi yang paling relevan. “Transformasi keberlanjutan membutuhkan kompetensi, bukan hanya kesadaran. Melalui Green Skilling Series, kami ingin memastikan bahwa perusahaan tidak lagi berhenti pada awareness, tetapi mampu mengubah inisiatif lingkungan menjadi program dengan dampak yang terukur, dapat dipertanggungjawabkan, dan benar-benar bernilai bagi bisnis,” ujar Dara, Event Organizer LindungiHutan. Program ini ditujukan untuk profesional CSR, ESG, HR, Corporate Affairs, Business Development, Strategy, Risk, dan Compliance dari berbagai sektor industri. Dengan metode pembelajaran yang implementatif dan terstruktur, Green Skilling Series diharapkan membuka peluang kolaborasi strategis antara perusahaan dan LindungiHutan, sekaligus meningkatkan kualitas desain program keberlanjutan di Indonesia. Pendaftaran setiap sesi telah dibuka dan dapat diakses melalui tautan berikut: • Episode 1 — Foundations: tinyurl.com/greenskilling29 • Episode 2 — Implementation: tinyurl.com/greenskilling30 • Episode 3 — Workshop & Consultation: tinyurl.com/greenskilling31 Dengan semakin ketatnya ekspektasi publik dan regulator, inisiatif keberlanjutan bukan lagi sekadar tambahan, melainkan strategi inti perusahaan modern. Green Skilling Series menjadi ruang bagi perusahaan untuk memastikan bahwa langkah yang mereka ambil bukan hanya baik untuk lingkungan, tetapi juga tepat untuk bisnis, karena masa depan keberlanjutan akan dimenangkan oleh mereka yang punya kompetensi, bukan sekadar komitmen.

Bittime Ajak Perluas Diversifikasi Aset Investasi dan Tingkatkan Strategi Investasi Terukur Internasional
Internasional
Rabu, 19 November 2025 | 22:32 WIB

Bittime Ajak Perluas Diversifikasi Aset Investasi dan Tingkatkan Strategi Investasi Terukur

Jakarta, katakabar.com - Nilai aset Bitcoin kembali melemah sepekan terakhir, dipengaruhi sejumlah faktor yang saling bersinggungan, dan sempat turun ke kisaran bawah sekitar US$ 93.000. Bittime, platform crypto exchange terdepan di Indonesia memandang momen koreksi ini, dapat jadi peluang untuk memperluas diversifikasi aset investasi. Setelah sebelumnya memuncak di kisaran US$ 125.000 pada Oktober lalu, Bitcoin jatuh hingga 10,57 perseb dalam seminggu terakhir. Dikutip dari The Economic Times, koreksi ini tidak hanya terjadi secara teknikal, tetapi juga karena perubahan ekspektasi makroekonomi dan kondisi sentimen pasar yang semakin berhati-hati. Terpantau, index Fear dan Greed terhadap kondisi psikologi pasar pada kapitalisasi market Coinmarketcap, sentimen pasar kini menyentuh level Extreme fear. Hal ini menunjukkan terdapat tekanan jual yang besar pada pasar aset Bitcoin, dampak sentimen pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Pasar memperkirakan kemungkinan pemangkasan sangat besar, tetapi kini peluangnya jauh lebih kecil. Itu sebabnya, mendorong terjadinya tekanan jual. Sedang secara teknikal, Bitcoin telah menembus level support penting. Menandakan zona “pantulan” yang sebelumnya dipercaya sebagai daerah pembeli mulai rapuh. Sebagai salah satu Top 3 platform exchange aset kripto di Indonesia, Bittime melihat meski volatilitas meningkat, momen ini bisa menjadi titik awal yang tepat. Di mana, situasi ini memberi kesempatan guna memperluas diversifikasi aset dan memperkuat strategi investasi dengan landasan yang lebih kuat. Ryan Lymn, CEO Bittime, membagikan bahwa koreksi harga pada pasar aset kripto justru dapat menjadi momentum “Begin Investing Today”. Turunnya harga aset justru dapat jadi peluang untuk memulai langkah kecil investasi aset kripto dan membangun strategi investasi berkelanjutan. “Di tengah situasi makro yang menuntut kewaspadaan, Bittime memastikan bahwa generasi muda dan investor aset kripto Indonesia memiliki akses ke platform yang terpercaya, cepat, efisien, dan murah. Sehingga, para investor dan trader Indonesia dapat memanfaatkan momentum pasar dengan maksimal sesuai dengan tingkat risiko masing-masing,” jelas Ryan. Ia mengatakan, menghadapi ketidakpastian kondisi ekonomi global, termasuk kebijakan moneter, likuiditas global, dan regulasi yang semakin ketat. Bittime berkomitmen untuk menjadi wadah terpercaya dan efisien bagi masyarakat Indonesia untuk dapat mengamankan, sekaligus mengembangkan nilai asetnya. Dengan filosofi BIT: Begin Investing Today dan TIME: Trustworthy, Immediate, Minimized, dan Effortless, Bittime mengajak untuk mulai berinvestasi dan memperluas diversifikasi aset. Sebab, pihaknya percaya fondasi investasi yang kuat tidak dibangun saat pasar sedang melonjak, melainkan ketika kondisi menuntut kehati-hatian dan strategi yang matang. Selaras dengan ini, literasi dan edukasi investasi juga menjadi fondasi utama dalam menghadapi gejolak ekonomi global. Investasi bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi tentang melindungi nilai aset yang sudah dimiliki.

Tentang Implementasi Biodiesel, Ini Kata Tim Pranata Universitas Indonesia Sawit
Sawit
Jumat, 17 Oktober 2025 | 18:25 WIB

Tentang Implementasi Biodiesel, Ini Kata Tim Pranata Universitas Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Tim Peneliti Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia (Pranata UI) menegaskan penerapan kebijakan biodiesel nasional penting tetapi dilakukan terukur, adaptif, dan berbasis data ilmiah guna memperkuat agenda transisi energi hijau pemerintah. "Penerapan kebijakan biodiesel nasional penting tetapi dilakukan terukur, adaptif, dan berbasis data ilmiah guna memperkuat agenda transisi energi hijau pemerintah," kata Tim Peneliti Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia (Pranata UI) saat merilis kajian berjudul “Produksi Sawit, Dinamika Pasar, serta Keseimbangan Biodiesel di Indonesia". “Kebijakan mesti mempertimbangkan seluruh faktor serta parameter pada industri kelapa sawit Indonesia secara ilmiah bakal mendukung efektivitas upaya membangun kemandirian energi lewat peningkatan mandatori pencampuran biodiesel dari B40 ke B50," ujar Dr Surjadi dari Pranata UI, dilansir dari laman EMG (Elaeis Media Group), Jumat (17/10). Menurutnya, pihaknya merekomendasikan agar seluruh pemangku kepentingan dalam industri ini mempertimbangkan seksama kapasitas produksi sawit nasional, daya saing ekspor, dan kesejahteraan petani agar manfaat program ini terasakan secara menyeluruh. Apalagi, terangnya, Indonesia saat ini merupakan produsen dan konsumen minyak sawit (CPO) terbesar di dunia, dengan produksi mencapai 48,2 juta ton atau 54 persen dari pasokan global, serta luas areal perkebunan sekitar 16,8 juta hektar. "Di mana, produksi 2025 diproyeksikan hanya mencapai 49,5 juta ton, sementara implementasi mandatori B50 menuntut peningkatan kapasitas produksi minyak sawit nasional sekitar 59 juta ton per tahun guna memenuhi kebutuhan dalam negeri," ulasnya. "Stagnasi pasokan menjadi risiko utama dalam mendukung mandatori biodiesel dan daya saing ekspor," timpal Dr Surjadi Simulasi menunjukkan penerapan mandatori biodiesel B50 dapat menghasilkan penghematan devisa impor solar sebesar Rp172,35 triliun, namun berpotensi menekan ekspor CPO hingga Rp190,5 triliun angka yang justru lebih besar dari penghematan impor. Kondisi ini, ucap Surjadi, berisiko mengurangi surplus neraca perdagangan, menekan cadangan devisa, dan memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah. "Penurunan ekspor mendorong harga CPO naik, bahkan kerap lebih mahal dari minyak nabati lain seperti kedelai, dengan selisih harga mencapai lebih dari US$100 per ton," bebernya. Sementara, sambung Surjadi, negara importir utama seperti India mulai mengalihkan permintaan ke minyak kedelai dan bunga matahari, sehingga impor CPO Indonesia diperkirakan turun ke titik terendah sejak 2019/2020. Kenaikan mandatori biodiesel dari B40 ke B50, tuturnya, berpotensi untuk meningkatkan harga minyak goreng domestik hingga 9 persen, dan mendorong harga Tandan Buah Segar (TBS) naik sekitar Rp618 per kilogram, seiring meningkatnya permintaan minyak sawit untuk bahan baku biodiesel. Tetapi, jelasnya lagi, di balik potensi keuntungan tersebut, penelitian menemukan kebijakan B50 juga menimbulkan beban fiskal baru karena kebutuhan subsidi yang semakin besar untuk menjaga keekonomian program biodiesel. Kenaikan tarif pungutan ekspor Crude Palm Oil (CPO) justru menekan harga TBS di tingkat petani. Peningkatan tarif sebesar 1% diperkirakan menurunkan harga TBS sekitar Rp333 per kilogram. Bahkan, tambahnya, untuk mendanai pelaksanaan B50, jika tarif ekspor dinaikkan lebih jauh hingga 15,17 persen dari sebelumnya 10 persen, tekanan terhadap harga TBS bisa mencapai Rp1.725 per kilogram. "Dampak ini paling berat dirasakan oleh petani swadaya yang memiliki posisi tawar lemah dalam rantai pasok sawit," terangnya. Fleksibilitas dan Keseimbangan Menurut Dr. Surjadi, tingkat campuran biodiesel yang optimal berada pada kisaran B35–B40, di mana manfaat energi, ekspor, dan stabilitas harga masih seimbang sehingga tidak perlu menaikan pungutan ekspor. "Tim peneliti merekomendasikan kebijakan blending rate dinamis, yakni menyesuaikan kadar pencampuran sesuai fluktuasi harga solar, CPO, dan TBS. Kebijakan serupa telah diterapkan di beberapa negara seperti Brasil, Malaysia, dan Thailand, yang menerapkan model fleksibilitas mandatori untuk menjaga keseimbangan antar sektor," sarannya. Kajian menyoroti pentingnya peran Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam menjaga keseimbangan alokasi dana antara subsidi biodiesel, program peremajaan sawit rakyat (replanting), dan stabilisasi harga minyak goreng. "Proporsi pendanaan yang terlalu besar untuk subsidi energi dapat mengurangi dukungan bagi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani," sebutnya seraya menyatakan