katakabar.com - SAF atau Sustainable Aviation Fuel kelapa sawit solusi strategis bagi Indonesia guna tekan ketergantungan impor, sekaligus jawab tantangan lingkungan.
Penggunaan SAF atau bioavtur sebagai substitusi avtur fosil pada pesawat terbang menjadi solusi ganda, yakni untuk kurangi ketergantungan negara Indonesia kepada avtur fosil impor, sekaligus menekan jejak karbon di sektor penerbangan.
Menurut jurnal PASPI Monitor (2025) berjudul 'Pengembangan SAF Sawit untuk Langit yang Lebih Hijau 'menjelaskan, SAF berbasis kelapa sawit solusi strategis bagi Indonesia guna tekan ketergantungan impor, sekaligus jawab tantangan lingkungan.
Berikut ulasan terkait solusi strategis pengembangan SAF sawit tersebut.
Mengurangi Ketergantungan Impor Avtur: Sebagai negara kepulauan, sektor penerbangan memegang peranan yang sangat vital bagi perekonomian Indonesia. Pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan kelas menengah, kenaikan pendapatan dan daya beli masyarakat, serta perkembangan sektor pariwisata mendorong peningkatan mobilitas penerbangan pada rute domestik maupun internasional, baik dari sisi jumlah penumpang maupun volume angkutan muatan. Kondisi tersebut berimplikasi pada peningkatan konsumsi avtur sebagai bahan bakar pesawat terbang.
Data Kementerian ESDM dan PT Pertamina (Persero) menunjukkan konsumsi avtur Indonesia mengalami peningkatan dari 3,53 juta kiloliter pada tahun 2010 menjadi 5 juta kiloliter pada tahun 2023. Untuk memenuhi tingginya kebutuhan avtur, Indonesia melakukan impor avtur fosil (HS 2710.19.81).
Volume impor avtur fosil meningkat dari 201,7 ribu ton menjadi 1,4 juta ton. Sejalan dengan itu, nilai impor mengalami kenaikan dari US$95,1 juta (Rp1,56 triliun dengan kurs Rp16.400 per US$) menjadi US$1,08 miliar (Rp17,71 triliun). Di periode Januari hingga Juni 2025, nilai dan volume impor avtur fosil telah mencapai 50 persen dari total impor pada tahun 2024.
Tren peningkatan volume impor tersebut menunjukkan Indonesia makin tergantung pada avtur fosil. Kondisi tersebut sebabkan defisit neraca migas Indonesia semakin besar dan berpotensi menimbulkan kerentanan pada sektor penerbangan nasional akibat gejolak geopolitik dunia hingga instabilitas sosial-ekonomi dalam negeri.
Mengulang keberhasilan implementasi biodiesel (PASPI, 2023; PASPI Monitor, 2023b; 2024a; 2024b; 2025c), pencampuran dengan avtur fosil pada tingkat tertentu (blending rate) bisa kurangi konsumsi avtur fosil impor sehingga berpotensi dapat menghemat devisa Indonesia.
Mengurangi Emisi Karbon: Masyarakat dunia semakin menyadari bahwa perubahan iklim global (global climate change) dan pemanasan global (global warming) disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer yang telah melampaui konsentrasi alaminya (PASPI, 2023). Sektor energi berbasis fosil merupakan kontributor utama emisi GRK global.
Di antara sektor itu, transportasi udara sebagai pengguna bahan bakar fosil (avtur) turut memberikan kontribusi sebesar 2,3 persen terhadap total emisi GRK global pada tahun 2020 lalu.
International Civil Aviation Organization atau ICAO sebagai otoritas global di bidang penerbangan berkomitmen untuk berkontribusi dalam penurunan emisi gas rumah kaca atau GRK guna mewujudkan target net zero emission atau NZE global pada 2050 mendatang. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembentukan Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA).
Salah satu program utama dalam skenario CORSIA untuk mewujudkan penurunan emisi karbon di sektor penerbangan internasional adalah melalui penerapan SAF atau bioavtur sebagai substitusi avtur fosil yang memiliki intensitas emisi tinggi.
Sebagai negara anggota ICAO, Indonesia tidak hanya implementasikan penggunaan SAF pada sektor penerbangan, tapi kembangkan industri SAF nasional dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang salah satunya adalah kelapa sawit, termasuk minyak, produk samping (by-product), dan limbahnya, yang berpotensi digunakan sebagai feedstock atau bahan baku SAF (PASPI, 2025).
Pemanfaatan SAF sawit bisa menurunkan emisi karbon di sektor penerbangan. Berbagai publikasi menunjukkan kemampuan SAF dalam mengurangi emisi karbon adalah sebesar 65 persen (IATA, tt) hingga 80 persen (Airbus, tt) apabila dibandingkan dengan penggunaan avtur fosil.
Studi Millatie et.al. (2023) telah mengompilasi berbagai studi terkait penurunan emisi karbon dari penggunaan SAF (bioavtur) dibandingkan avtur fosil dengan persentase yang cukup tinggi berkisar 36-85 persen (Liu et.al., 2021); 38,9-65,2 persen (Zhu et.al., 2022); dan 63,7 persen (Zhang et.al., 2022).
Bioavtur Solusi Tekan Impor dan Jawab Tantangan Lingkungan
Diskusi pembaca untuk berita ini