Oleh: Agung Marsudi, Duri Institute

katakabar.com - Pilkada Serentak, makin menghentak. Hiruk pikuknya terasa di seantero negeri. Apalagi hari ini, Sabtu (23/11) adalah hari terakhir kampanye. Sejarah perjalanan demokrasi Indonesia, akan diuji, menjadi lebih baik atau justru sebaliknya.

Dalam konteks lokal, kampanye terakhir dua pasangan calon bupati dan wakil bupati Bengkalis 2024, memusatkan kegiatannya di Duri, sebutan ikonik untuk teritori darat Bengkalis yang mensuplai jumlah pemilih terbanyak (59,3%).

Menutup rangkaian kegiatan kampanye dan kerja-kerja politiknya, pasangan Syahrial-Andika (SANDI) tidak menggelar acara besar di lapangan, tapi justru menggelar sholawat dan doa bersama, yang dilaksanakan secara serentak di beberapa titik.

Sedang pasangan petahana KBS, akan melaksanakan kampanye akbar di lapangan bola Sebanga, Titian Antui, dengan gebyar artis, dangdutan.

Dua cara berbeda, pesta demokrasi menyambut pemimpin baru Bengkalis, dangdutan versus sholawatan. Negeri bermarwah, tak elok rasanya jika harus menanggalkan jati diri. Tamaddun kemelayuannya akan hilang. Meski euporia politik, dengan goyang dangdutan sah-sah saja dilakukan.

"Serang, goyang, menang!". Tiga kata yang berkelindan dengan kekuasaan yang memabukkan. Itulah politik, realitasnya kadang unik, menggelitik. Alasannya pesta rakyat, padahal (_show of force_).

Buah kueni, buah durian. Unjuk gigi, unjuk kekuatan.