Medan, katakabar.com  – Di jantung Kota Medan, Pusat Pasar berdiri sebagai nadi ekonomi rakyat sejak puluhan tahun lalu. 

Namun kejayaannya perlahan meredup. Lorong yang dulu padat kini lebih lengang, pembeli berkurang, dan suara tawar-menawar tak lagi seramai dulu.

Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, pernah menegaskan bahwa kondisi pasar tradisional “tidak sedang baik-baik saja”. 

Turunnya daya beli, perubahan pola konsumsi, hingga menurunnya kontribusi terhadap PAD, yang pada 2024 hanya sekitar Rp600 juta dari 52 pasar menjadi gambaran betapa berat tantangan yang dihadapi.

Namun dari sudut kecil di antara lorong-lorong itu, secercah harapan muncul. Tepatnya dari deretan lapak ikan teri yang selama ini menjadi komoditas andalan Pusat Pasar.

Para pedagang ikan teri yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sayur Teri dan Makanan (SATEMAK) merasakan angin segar setelah hadirnya Adira Finance melalui Festival Pasar Rakyat (FPR), yang digelar 15–16 November 2025 bertepatan dengan ulang tahun ke-35 perusahaan pembiayaan tersebut.

Salah satu pedagang, Fitriani asal Batang Kuis, mengaku merasakan dampak langsung dari kegiatan itu. Puluhan tahun menggantungkan hidup dari komoditas teri yang terkenal hingga luar negeri, ia tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.

“Setelah Festival Pasar Rakyat, kami merasa diperhatikan. Ada semangat baru,” ujarnya, Senin (8/12/2025).

“Alhamdulillah, bantuannya sangat terasa. Penjualan naik. Kalau bisa, modal ditambah lagi. Itu sangat membantu kami bertahan.”

Harapan serupa datang dari Ramlan, pedagang berkarakter ramah dengan kumis tebalnya. Ia menilai program seperti ini seharusnya berkelanjutan karena dampaknya sangat signifikan bagi pedagang kecil.

Pusat Pasar yang terhubung langsung dengan Medan Mall tetap menjadi simpul penting perdagangan kota. Namun menghadapi gempuran pasar modern dan digitalisasi, kolaborasi antara pedagang tradisional dan pihak swasta seperti Adira Finance menjadi angin segar yang layak dirawat.

Bagi Fitriani, Ramlan, dan ratusan pedagang kecil lain, Pusat Pasar bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi ruang hidup yang harus diperjuangkan. Selama masih ada pihak yang mau merangkul ekonomi rakyat, harapan untuk bangkit tidak akan padam.***