Oleh: Agung Marsudi
Founder Duri Institute

katakabar.com - Di LA Kopi sambil menunggu panas menyengat di langit Duri hari ini, saya menghubungi sahabat penting, yang kebetulan seorang redaktur senior sebuah media. "Kondisi kita memang sudah darurat membaca. Membaca judulnya saja sudah takut, apalagi membaca isi, bisa kena somasi", katanya.

"Sebentar lagi mungkin ada darurat menulis, orang takut menulis di media, sebab sudah muncul istilah tulisan "halus dan kasar", katanya.

Masih katanya, "Ingat, ini konsekuensi menulis. Kalau halus, dapet ini. Kalau menulis kasar kena itu".

Harus menghabiskan dua gelas kopi hitam untuk memahami maksud dan arah pembicaraan sahabat saya ini. Membaca, menulis, halus, kasar, dan somasi. "Ngeri-ngeri!" kataku dalam hati.

Kalau media sudah takut menyuarakan kebenaran, lalu siapa yang akan menjadi penyambung lidah rakyat. Mengadu ke dewan tak mempan, mengadu ke pemerintah tak kesah. Mengadu ke media, takut ada apa-apa.

Kasihan nasib rakyat, kebenaran, perjuangan selalu berada di ruang sempit, sakit, terhimpit. Janji kesejahteraan dibayar dengan hutang, nasibnya tersingkir dari tanah dan air.

Oh, media. Ketakutan semestinya tak dikapitalisasi atas dalih kekuasaan. Meski relasi dan uang seperti hubungan, benci rindu. Media bukan saluran pesanan politik mana suka siaran niaga.

Seperti cinta, media adalah hati yang bicara. Ditulis, dibaca, dengan dialektika.