Kaltara, katakabar.com - Seorang petani kelapa sawit di Desa Menjelutung, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, Ares Wahyudi hadang laju gadget agar tidak membikin candu atau ketagihan anak-anak.
Apalagi, saat ini kehadiran gadget dinilai menjadi ancaman pada minat belajar anak-anak. Gadget sering dijadikan jurus para orang tua untuk menenangkan si buah hati.
Memang, melepaskan ketergantungan anak pada gadget tidak mudah. Terlebih tidak ada lagi permainan yang menarik di mata anak-anak di era zaman now ini.
Berlatar ketergantungan itu, Ares Wahyudi, nekad merogoh kocek pribadinya mendirikan sebuah Taman Baca gratis bagi anak-anak di desanya.
Taman Baca Mandiri atau TBM nanya dibikin Ares, berdiri empat tahun lalu, pasnya pada tahun 2020. Walau sebagian besar dana pribadi tapi untuk mendapatkan buku bacaan, Ares memanfaatkan program donasi buku yang digalakkan pemerintah.
"Saya hadirkan seadanya untuk anak-anak di sekitar tempat tinggal saya. Sebab TBM saat ini masih berada di rumah," kata Ares, dilansir dari laman elaeis.co, Selasa (20/8).
Seiring berjalan waktu, kini usaha menumbuhkan minat baca dan belajar pada anak cukup sukses. Tidak sedikit anak-anak datang ke rumahnya untuk membaca buku, mengerjakan tugas, atau hanya sekadar menikmati gambar-gambar pada sebuah buku.
"Alhamdulillah, anak-anak sudah mulai ramai datang, mulai dari yang masih taman kanak-kanak hingga sekolah dasar," tuturnya.
Selain ketergantungan gadget tadi, ide hadirnya TBM ini lantaran Ares merasa miris melihat anak-anak yang terpaksa harus di tinggal orang tuanya bekerja di kebun kelapa sawit.
Maklum, cerita Ares sebagian besar warga di desanya petani kelapa sawit. Awalnya, memang sulit untuk membujuk anak-anak datang dan membaca buku. Ia harus memahami karakter anak hingga menggalar kegiatan-kegiatan menarik agar diminati anak-anak tersebut. Misalnya membuat lomba dengan menghadirkan hadiah.
"Meski masih di rumah, TBM ini sudah menciptakan beberapa anak yang mampu mewujudkan cita-citanya. Ada yang sudah jadi polisi, pegawai di catatan sipil dan sebagainya," ceritanya
Rasa bangga itu Ares jadikan motivasi untuk terus mengembangkan TBM ini. Rencananya ia pindahkan TBM ini di lokasi yang lebih luas, dan dilengkapi dengan taman agar anak-anak tidak bosan membaca buku.
Tidak hanya itu, dirinya bakal sosialisasikan kepada pihak perusahaan kelapa sawit di sekitar desanya untuk membangun TBM bagi anak para karyawan yang ada di PKS. Lantaran saat ini anak para pekerja di perusahaan harus menempuh jarak sampai 10 kilometee untuk belajar di sekolah.
"Harapan kita dari TBM itu justru menjadi pemicu perusahaan untuk menghadirkan sekolah sendiri," terangnya.
Apalagi ulas Ares, saat ini di wilayahnya ada program dari Pemerintah Kabupaten tentang pembangunan aman baca di setiap desa. Artinya di desa tempat tunggalnya ada dua teman baca, yakni milik Pemkab dan miliknya sendiri.
"Saat ini kita ada ribuan koleksi buku. Ini kita dapat dari donasi buku tadi. Bahkan, ada yang baru datang 6 kardus buku dari Donasi Buku lengkap dengan lemarinya. Nanti kita pajang buku-buku itu jika sudah memiliki tempat yang sesuai," sebutnya.
Dirikan Taman Baca Mandiri, Asa Petani Sawit di Kaltara Anak-anak Bisa Lupakan Gadget
Diskusi pembaca untuk berita ini