Batang Hari, katakabar.com - Pekan Gebyar Anak dan Orang Tua Tingkat Kabupaten Batang Hari 2026, rupanya punya misi besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Bupati Mhd Fadhil Arief menginginkan anak-anak daerah ini tumbuh menjadi manusia cerdas. Meningkatnya angka stunting dari 10% menjadi 18,6% tak bisa dianggap remeh.
Ia bersama Ketua Tim Pembina Posyandu Batang Hari, Zulva Fadhil, pagi kemarin mendatangi Gedung Seni dan Olahraga Desa Panerokan, Kecamatan Bajubang.
Kedatangan Bupati beserta rombongan telah dinantikan ratusan anak-anak dan orang tua. Ibu-ibu menyusui tak ingin ketinggalan momen bayi mereka dapat sentuhan tangan sang pemimpin.
"Bapak, ibu, semua yang hadir dalam gedung ini, dulu mbah-mbah kita, nenek moyang kita, pernah di jajah Jepang. Orang Jepang itu, secara genetiknya kecil-kecil, satu meter lima puluh, satu meter enam puluh," ujarnya.
Tapi kondisi orang Jepang masa kini sungguh jauh berbeda. Pertumbuhan fisik penduduk Jepang tak lagi mengikuti genetik. Tinggi rata-rata orang Jepang, kata Fadhil Arief telah menyentuh angka 1,85 meter.
"Lihat orang Jepang sekarang, satu meter delapan puluh lima, satu meter sembilan puluh, susah mencari orang Jepang sekarang ini yang di bawah semeter delapan puluh. Mereka lebih tinggi dari saya semuanya," ujarnya.
Ia percaya ternyata Tuhan membuat pertumbuhan manusia tidak tergantung dengan genetik. Misalnya, banyak orang pendek-pendek tapi akalnya panjang. Kemungkinan pertama, kata Fadhil Arief, mungkin setelah lewat lima tahun, asupannya pas, sehingga otaknya berkembang.
"Tapi ingat, banyak yang panjang akal tapi tidak cerdas, cenderung menjadi licik dia, tapi bukan di Panerokan ini dia, di tempat lain," kelakarnya.
Menurut dia, manusia-manusia panjang akal sepertinya pintar, tapi bukan cerdas. Karena ciri-ciri orang cerdas cepat mengenali masalah, ciri-ciri orang cerdas setelah mengenali masalah, cepat mencari solusi dari masalah itu.
"Dokter yang cerdas, dia cepat mendiaknosa penyakit. Kemudian memberikan treatment, obat apa yang cocok atau terapi apa yang cocok," ujarnya .
"Perawat yang cerdas juga begitu, pasang infus pasien tak sakit-sakit sekali. Kalau perawat tak cerdas, pasang infus pasti sakit itu. Karena apa, dia tidak bisa memitigasi, dia tidak bisa merencanakan kerjaannya dengan baik," imbuhnya.
Ketua DPW PPP Jambi ini mengingatkan agar masyarakat jangan cepat berpikiran orang akal panjang pasti cerdas. Bisa jadi orang akal panjang tapi licik.
"Tapi itu sudahlah, masa lalu. Untuk itu kita menatap masa depan," ucapnya.
Semua orang tua punya niat, punya rencana mulia terhadap anak-anaknya. Mereka ingin nasib anak-anaknya jauh lebih baik ketimbang nasib orang tuanya.
"Bahwa kalau kita susah, anak kita jangan sampai susah. Kalau kita tidak sarjana, jangan sampai anak kita tidak sarjana. Kalau kita bodoh jangan sampai anak kita bodoh. Semua niat orang tua begitu, makanya niat orang tua ini kita satukan dengan niat pemerintah," tegasnya. (infotorial)
Inginkan Anak-anak Batang Hari Cerdas, Fadhil Arief Orang Pendek Panjang Akal Cenderung Licik
Diskusi pembaca untuk berita ini