Oleh: Agung Marsudi, Duri Institute

"Ini adalah dunia labi-labi, di mana yang kuat dihormati, yang lemah dikebiri karena lobi-lobi"

katakabar.com - Klan Mu Sung adalah salah satu dari klan lama berdarah kuning, tapi kini nadinya berdarah merah. Diawali ketika mereka beramai-ramai beralih dari posisinya, lalu mengajukan mosi tak percaya.

Meski telah menjadi korban, banyak para penanda tangan mosi malah bergabung ke Klan Mu Sung, tak malu-malu menjadi penjilat ulung.

Tak peduli, mereka berasal dari mana, termasuk partai dakwah yang dikenal memegang teguh syariah. Tapi Klan Mu Sung memberinya iming-iming yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga.

Seperti diketahui, Klan adalah sekelompok orang yang dipersatukan oleh perasaan adanya hubungan kekerabatan atau seketurunan (orang menyebutnya dinasti).

Realitas politiknya, Klan Mu Sung kini diusung oleh 10 partai yang menyatakan sumpah setia. Dengan demikian wajar jika anak sulung Klan Mu Sung, yang didaulat menjadi Ketua Dewan, menyebut ayahandanya sebagai "The King Maker of Riuh". Sebutan yang sebentar lagi menghebohkan jagat politik negeri, pasca pemilihan gubernur riuh (pilgubri).

Di zaman mutan dan teknologi, ketika semua orang mengejar kekuasaan abadi, Klan Mu Sung tampil sebagai petarung. Di kelilingi para penjilat, seperti lebah berdengung.