Tentang Apa Arti Kemerdekaan Itu

Lufkin


Malam sudah hampir memenggal senja di kawasan Minas Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Di bibir jalan lintas Utara Sumatera yang membelah kawasan itu, batang baja hitam bermerek Lufkin nampak terseok-seok  turun naik mengikuti bilah baja hitam yang terus-terusan menusuk bumi.

Tak setetes pun minyak yang keluar dari lubang itu, sebab lebih dari 15 tahun terakhir, Lufkin cuma dibikin jadi saksi sejarah, bahwa Lufkin adalah sumur bor pertama di Minas. Sumur yang kemudian membikin saya harus berulang kali mengernyitkan kening membayangkan seperti apa wajah Richard Hopper, lelaki yang pertama kali menyebut bahwa di Minas ada cekungan seperti kuali terbalik. Di dalam cekungan itu ada minyak bumi yang tak habis disedot hingga 100 tahun mendatang. 

Sudah gitu, jenis minyaknya light sweet pula, minyak berkadar sulfur rendah. Minyak ini paling dicari lantaran bisa difraksinasi langsung menjadi naphtha (bensin), minyak tanah dan diesel. 

Hopper sendiri adalah ahli geologi, dia menggondol gelar PhD di California Institute Of Technology pada 1938. Standard Oil Company California (Socal) yang bermarkas di San Fransisco kemudian mengirim Hopper ke Medan, Sumatera Utara (Sumut) untuk bekerja di anak perusahaan Socal; Nederlandsche Pacific Petroleum Maatschappij (NPPM), perusahaan yang menjadi cikal bakal Caltex dan terakhir berubah nama menjadi Chevron. 

Dari Medan, berbulan-bulan lelaki ini keluar masuk hutan sambil menenteng Gurdy --- alat bor tangan --- hingga sampai di Minas tadi. Dari sinilah kemudian, bisnis raksasa penyedotan minyak bumi di Riau berlangsung. Caltex bebas mengutak-atik lahan seluas 9.898 kilometer persegi yang sudah diberikan pemerintah Indonesia melalui kontrak karya. 

Lahan itu, lantaran mirip kangguru, disebutlah kangaroo block. Di blok ini pula, persis di kawasan Duri, Caltex membikin proyek injeksi uap terbesar di dunia; Duri Steam Flood (DSF). Presiden Soeharto yang meresmikan proyek ini pada 1990. Ini berarti setelah Caltex sudah menyedot minyak bumi Riau, lebih dari 45 tahun!

DSF yang hanya seluas 18 kilometer x 8 kilometer itu muncul lantaran di kawasan itu kandungannya minyaknya heavy oil (minyak berat). Meski luasnya hanya segitu, tapi ada 4.200 sumur produksi di sana. Kedalaman rata-ratanya cuma 90,6 meter. 
Sumur-sumur ini ditemani oleh 1.900 sumur injector dan 500 observation well. 

Pada 4 Oktober 1995, ladang minyak Duri sudah menghasilkan 1 milyar barrel dan 11 tahun kemudian tugu 2 milyar barrel dibangun. Maklum, selama 50 tahun, ladang minyak Duri menghasilkan rata-rata 500 ribu hingga 800 ribu barrel per hari. 

Belakangan Kangaroo Block tadi dipisah menjadi Blok Rokan, Coastal Plains Pekanbaru (CPP), Mountain Front Kuantan (MFK) dan Blok Siak. Setelah tahun 2000, blok-blok ini satu persatu dikembalikan ke pemerintah. Blok Rokan yang seluas 6.264 kilometer persegi itu tetap digarap Chevron.  CPP kemudian digarap oleh PT Bumi Siak Pusako, MFK oleh Sumatera Persada Energi dan Blok Siak digarap Pertamina. Selain Chevron, operasional semua perusahaan terseok-seok sebab satu-satunya yang punya pembangkit untuk menghidupkan sumur-sumur di blok itu masih Caltex.

Caltex punya pembangkit listrik berteknologi Cogeneration (Cogen) di Duri. Konon pembangkit yang dibangun pakai duit sekitar USD190 juta dalam bentuk cost recovery ini, mampu menghasilkan setrum hingga 300 ribu mega watt. Cogen sendiri adalah sebuah teknologi yang mampu mengubah gas dan feedwater menjadi listrik dan uap. Setrum inilah yang kemudian dijual kepada pengelola baru blok tadi. 

Adapun bahan bakar pembangkit ini adalah gas yang disedot dari Asamera/Gulf Oil (Conoco). Caltex tidak membeli gas itu, tapi membarter crude oil dengan gas tadi. Belakangan gas untuk pembangkit ini dialirkan dari kawasan Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) sebesar 100 juta metric standard cubic feet (mmscfd). Alasannya demi menggenjot produksi minyak nasional. Hanya saja, upaya ini justru menyulut sengkarut persoalan energi nasional.   

Di saat ranum-ranumnya minyak bumi, tanah Riau di permukaan dikapling lagi untuk kegiatan perkebunan, Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Versi Pemerintah Riau, ada sekitar 2,4 juta hektar kebun kelapa sawit dan versi Jaringan Penyelamat Hutan Riau, ada sekitar 2,1 juta hektar HTI. 

Padahal luas daratan Riau setelah Kepulauan Riau berdiri sendiri, hanya 8,9 juta hektar. Itu sudah termasuk luasan 4 sungai besar yang ada; Kampar, Siak, Rokan dan Indragiri, lalu di mana manusia Riau yang jumlahnya sudah 6 juta jiwa lebih, hidup untuk melanjutkan kehidupannya disaat klaim kawasan hutan sudah menghadang dimana-mana, di antara kawasan suaka margasatwa dan Taman Nasional yang menjadi terbanyak di Riau? 

"Hampir setiap jengkal tanah di Indonesia telah dikuasai korporasi" (Mimin Dwi Hartono, 2010). 
"Jiwa kedaulatan saya terusik. Seolah saya melihat ke belakang, ada bayang-bayang penjajah dengan semena-mena merampas padi yang menguning, karena kita hanya bisa menumbuk padi menggunakan lesung, sedangkan sang penjajah punya mesin selep padi yang modern. Seolah saya melihat penjajah menyedot minyak bumi di Tanah Air kita seenaknya, karena kita tidak menguasai teknologi dan tidak memiliki uang untuk mengolahnya. Inikah yang disebut neo-kolonialisme yang diramal oleh Bung Karno 50 tahun yang lalu?" kata Siti Fadilah Supari (mantan Menteri Kesehatan RI) dalam bukunya "Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung (2008).

"Bila investasi terhadap sumberdaya alam suatu negara sudah melebihi 50 tahun, saya menyebutnya invasi, bukan lagi investasi," kata Agung Marsudi, seorang peneliti di Duri Institute.
Taufiq Ismail dalam puisinya di halaman terakhir di Tirani terpahat judul; Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini.

"Kita adalah berpuluh juta yang bertahan hidup sengsara. Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama. Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka," katanya.

Pada 17 Agustus nanti, Republik ini kembali meneriakkan kemerdekaannya yang ke-75 dan Provinsi Riau, pada 9 Agustus ini juga akan meneriakkan kelahirannya yang ke-63. Di usia itu, Gubernur Riau, Syamsuar menyebut bahwa dari 2.799 kilometer panjang jalan provinsi, 55,18 persen rusak berat dan sedang. Lalu, kepada siapa kemudian pertanyaan ini akan tersampaikan;

“Siapa kelak yang akan menanggung hutang ekologis tambang minyak yang sudah lebih dari 85 tahun itu di saat Chevron sudah pulang ke kampung halamannya tahun depan, setelah Pertamina kemudian menambang Blok Rokan? Dan siapa pula kemudian yang bertanggungjawab atas gundulnya hutan belantara Riau oleh dalih Hutan Tanaman Industri itu?”
 

Editor : Aziz

Berita Terkait