Oleh: Agung Marsudi, Duri Institute
katakabar.com - Mau melihat wajah demokrasi Bengkalis? Demokrasi dijadikan topeng otoriter, dirusak oleh intimidasi, intervensi, dan politik dinasti.
Dan apa yang terjadi di Bengkalis, sudah saya sampaikan dalam forum strategis antikorupsi kemarin di Jakarta. Para pemangku kepentingan berbagi metode pemberantasan korupsi di negeri ini. Temanya besar, yaitu "Perjalanan, Tantangan, dan Harapan Pemberantasan Korupsi di Indonesia".
Para partisipan sepakat memberantas korupsi, menjadi bagian dari upaya menyelamatkan harkat negeri. Tanpa kecuali. Narasumber antikorupsi dari luar negeri ada Kevin Evans dari Australia. Memaparkan korupsi dalam perspektif internasional.
Mantan komisioner KPK yang dikenal lantang, Saut Situmorang, berhasil membongkar fenomena korupsi dalam bahasa lugas. Sehingga ketika dia menyebut, "Kawan-kawan!" Disambut dengan teriakan, "Lawan Korupsi" oleh para partisipan.
Dalam deretan akademisi dan praktisi, ada Wijayanto Samirin, Sukidi, Didik J Rachbini, Sudirman Said, Bambang Harimurti, Ahmad Khoirul Umam, dan lain-lain.
"Korupsi itu monopoli," simpulan Wijayanto Samirin, PhD dari Universitas Paramadina. Akademisi yang dikenal vokal ini menyampaikan korupsi dalam perspektif ekonomi.
"Nepotisme dirayakan sebagai kebenaran, padahal sebuah kejahatan" jelas Sukidi, PhD.
"Kawan-kawan, katanya, layanan satu pintu, tapi jendelanya banyak, lubang anginnya banyak!" sambut Saut Situmorang.
"Orang bebas, bicara gak pakai partitur. Korupsi telah memperbanyak disfungsi demokrasi," ujar Sudirman Said.
"Negara jangan putus asa?" pungkas Kevin Evans.
Agenda Kamis (5/12) adalah Senarai peringatan Hari Anti Korupsi yang ditaja di Trinity Tower, Lantai 45, Jalan Rasuna Said, Jakarta.
"Indonesia Memanggil". Saya satu-satu yang diundang, mewakili provinsi Riau.
Nepotisme dirayakan sebagai kebenaran, padahal sebuah kejahatan
Diskusi pembaca untuk berita ini