Katakabar.com - Akibat pandemi Covid-19 yang belum berakhir, perayaan Tahun Baru Imlek 2572/2021 di Solo ditiadakan. Demikian juga di Klenteng Tien Kok Sie, Pasar Gede Solo tak ada kemeriahan seperti tahun lalu. Bahkan ritual Pao Oen atau tolak bala pun tak bisa dilakukan, agar tak terjadi kerumunan.
Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie, Pasar Gede Solo, Sumantri Dana Waluya mengatakan, pada kondisi normal ritual tolak bala dihadiri tak kurang dari 500 penganut ajaran Tri Dharma (Taoisme, Khonghucu, dan Budha). Kegiatan tersebut dilaksanakan menjelang Imlek.
"Untuk ibadah yang menghadirkan umat banyak kita tiadakan. Ritual hanya dilakukan terbatas oleh pengurus klenteng, itu juga hanya dibatasi 20 orang saja," ujar Sumantri, Selasa (9/2).
Bahkan Klenteng yang ada di depan Balai Kota Solo itu akan ditutup sehari menjelang pergantian Tahun Baru Imlek hingga seusai Imlek. Penutupan dilakukan untuk menghindari terjadinya kerumunan umat yang akan beribadah.
"Kami tidak ingin ada klaster Covid-19 dari sini. Karena beribadah di sini berbeda dengan tempat ibadah lainnya kalau di masjid, jamaah duduk berjejer kemudian selesai berdoa langsung pulang," katanya.
Demikian juga ibadah di gereja, lanjut dia, mereka bisa duduk dengan mengatur jarak. Namun kalau di klenteng bisa berdoa sampai satu harian dan mereka berjalan berkeliling.
Ia menambahkan, meski umat Tri Dharma tidak diperkenankan hadir langsung melakukan ibadah di Klenteng, semua ritual peribadahan tetap dilaksanakan dengan diwakili oleh pengurus klenteng. Ritual yang dilakukan saat Tahun Baru Imlek dimulai dengan membersihkan Klenteng dan patung Dewa.
"Membersihkan Klenteng dan petung Dewa hanya sekali dalam satu tahun yakni saat Tahun Baru Imlek. Setelah itu ada ritual Pao Oen biasanya ritual ini diikuti sekitar 500 orang tapi tahun ini ditiadakan. Mereka memotong sedikit rambut kemudian kepalanya diguyur dengan air yang sudah didoakan," jelasnya.
Setelah itu, dilakukan ritual melepas makhluk hidup ke alam. Pelepasan mahluk hidup ini juga diwakilkan ke pengurus Klenteng yang akan melepas 888 ekor burung dan ikan lele. Angka 888 bagi orang Tionghoa memiliki makna harapan yang tidak pernah putus.
Ritual dilanjutkan dengan menghanyutkan (melarung) potongan rambut ke Sungai Bengawan Solo. Sumantri juga menjelaskan tahun-tahun lalu, pada malam menjelang Tahun Baru Imlek, banyak umat Tri Dharma yang datang ke Klenteng untuk sembahyang.
"Sekarang ini tidak bisa, mulai pukul sore pagar Klenteng kita tutup hingga Imlek selesai. Biasanya kita buka 24 jam, kalau mereka datangnya hanya satu satu tidak berkelompok masih bisa diizinkan," terangnya.
Ritual masih berlanjut hingga Cap Go Meh atau 15 hari setelah Imlek. Selain meniadakan ibadah Imlek di Klenteng, tahun ini juga tidak ada Grebeg Sudiro dan pemasangan lampion. Grebeg Sudiro merupakan kolaborasi antara masyarakat Sudiroprajan dengan warga Tionghoa.
"Tahun Baru Imlek biasanya kita juga membagikan beras kepada masyarakat. Sekarang karena pandemi, tidak bisa, kami yang akan menjemput bola membagikan langsung agar tidak terjadi kerumunan," tutupnya.
Merdeka.com
Perayaan Imlek, Klenteng Tien Kok Sie Solo Tiadakan Ritual Tolak Bala
Diskusi pembaca untuk berita ini