Jakarta, katakabar.com - Priska Sahanaya jabarkan cara melakukan public speaking, banyak aspek mesti diperhatikan baik-baik agar pesan yang berusaha disampaikan pada pendengar bisa dipahami seutuhnya oleh pendengar.
"Salah satu aspek yang perlu diperhatikan penggunaan gestur tubuh ketika berbicara," kata Priska saat workshop public speaking usung tema 'Body Language in Effective Communication' di SD Muhammadiyah 27, Jakarta, paruh November 2023 lalu.
Pentingnya gestur tubuh ketika melakukan public speaking, kata Priska seraya ajarkan materi menggunakan berbagai permainan interaktif agar para siswa dapat langsung mempraktikkan kemampuan public speaking-nya.
Dijelaskan Priska, penggunaan gestur tubuh dapat membantu untuk menyampaikan pesan dan menekankan poin-poin penting pada topik yang sedang dibahas.
Pembicara perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Postur tubuh pembicara perlu tegak dan tetap tenang untuk menunjukkan kepercayaan diri sang pembicara di depan publik.
2. Pembicara perlu melakukan kontak mata dengan audiens-nya agar audiens merasa dilibatkan dan diperhatikan selama sesi pembicaraan.
Teknik yang bisa dilakukan dengan menggunakan teknik kontak mata zig-zag. Misalnya pembicara melakukan kontak mata pada audiens dari sisi kanan belakang terlebih dahulu lalu dilanjutkan ke sisi kiri depan.
Tidak lupa untuk menjaga kontak mata sepersekian detik pada audiens tertentu dan juga bisa divariasikan bagaimana cara perpindahan kontak mata kepada audiens lainnya.
3. Pembicara dapat menggunakan gestur tangan untuk memperjelas poin yang pembicara sedang sampaikan. Dengan menggunakan gestur tangan, pembicara dapat dengan fleksibel menyampaikan pesannya dan bisa memberikan kesan agar poin-poin penting dapat mudah diingat oleh pendengarnya.
Gunakan gestur tangan seperlunya di bagian-bagian poin tertentu, hindari penggunaan gestur tangan yang berlebih agar pendengar tidak teralihkan fokusnya ke gestur tangan yang digunakan.
4. Pembicara perlu ekspresif dalam menyampaikan pesannya baik melalui ekspresi muka dan gerak tubuhnya.
Hal ini dilakukan untuk menciptakan atmosfir pembicaraan agar audiens dapat merasakan dan terbawa dengan penyampaian pembicara.
Misalnya ketika pembicara menunjukkan kegembiraannya atau kehebohannya sehingga audiens dapat memahami apa yang disampaikan pembicara dengan lebih baik lagi.
5. Pembicara perlu memikirkan pacing sebaik mungkin. Pacing merupakan tempo dalam berbicara di mana pembicara perlu mengetahui,dan menentukan kapan Ia perlu berhenti sejenak, kapan Ia perlu menyampaikan pesannya dengan cepat, kapan Ia mengajak audiensnya untuk berpartisipasi atau untuk sama-sama diam sejenak, dan lainnya. Ini dilakukan sebagai strategi agar topik yang dibicarakan dapat diproses dan dipahami lebih baik lagi oleh audiens.
Selama sesi workshop berlangsung, Priska mengajak para siswa untuk aktif berpartisipasi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dan mempraktikkan gestur-gestur tubuh yang dicontohkannya untuk ditiru oleh para siswa.
Siswa yang aktif menjawab dan berani maju ke depan untuk menunjukkan kemampuannya mendapatkan poin. Poin-poin dapat dikumpulkan dan siswa dengan poin terbanyak akan mendapatkan hadiah berupa medali dari Priska. Para siswa pun semakin berlomba-lomba menunjukkan kemampuan dirinya.
Para siswa-siswi SD Muhammadiyah 27 merasa sangat senang karena materi public speaking disampaikan lewat permainan-permainan yang membuat mereka mudah mengingat materi karena langsung dipraktikkan selama sesi berlangsung.
Salah satu siswa kelas 6 bernama Rasya merasakan workshop yang dijalankan sangat bermanfaat untuknya karena materinya mudah dipahami dan asyik baginya. Rasya pun memberikan kesan yang Ia rasakan selama acara workshop berlangsung.
“Public speaking itu penting agar kita tidak malu ketika berbicara dengan orang banyak dan percaya diri. Sesi yang paling menyenangkan menurut saya saat diberi pertanyaan dan saat power whoosh,” tutur Rasya.
Salah seorang siswi kelas 5 bernama Rama memberikan kesannya mengenai workshop. “Sesi paling menarik menurut saya adalah ketika memberikan power whoosh kepada teman yang sedang maju dan menjawab pertanyaan Coach Priska karena seru dan asyik,” ucap Rama.
Guru-guru di SD Muhammadiyah 27 pun ikut senang melihat antusiasme dan partisipasi para siswa selama mengikuti sesi workshop.
Imam Wahyudi, salah satu guru di SD Muhammadiyah 27 memberikan pendapatnya terkait workshop yang diadakan Priska tersebut.
“Ada beberapa poin yang sangat penting yang bisa kita ambil. Anak dilatih untuk berbicara di depan, anak dilatih untuk menjawab sebuah pertanyaan, dan mereka membuat kesimpulan atau mereka membuat argumentasi atas apa yang mereka bangun di dalam pikiran mereka,” terang Imam.
Guru lainnya di SD Muhammadiyah 27, sari merasa workshop yang bermanfaat tersebut perlu diadakan di sekolah-sekolah lainnya
“Dengan public speaking, kita bisa meningkatkan komunikasi dengan lebih baik. Sesi pertanyaan (menjadi sesi) yang menarik bagi saya. Saat anak-anak tanya jawab, anak-anak antusias untuk tanya jawab seputar dengan public speaking itu untuk apa nantinya,” timpal Sari.
Workshop Public Speaking yang ditaja Priska Sahanaya ini masih berlanjut. Sebagai Direktur IPSA Academy, Priska menargetkan workshop public speaking ini digelar secara gratis di 100 sekolah di Jakarta dari jenjang pendidikan SD, SMP, SMA dan SMK.
Program ini salah satu program yang dijalankan Indonesian Professional Speakers Association atau IPSA sebagai upayanya untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan public speaking sejak dini.
Priska berharap dengan diadakannya workshop public speaking gratis ini dapat memberikan dorongan bagi anak-anak untuk berani mengeksplorasi kemampuannya dalam berkomunikasi, untuk semakin mengenal dan mengembangkan potensi diri, dan juga untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.
Mau sekolah Anda mendapatkan public speaking secara gratis untuk seluruh siswa Anda? Yuk daftarkan sekarang juga melalui nomor di bawah ini:
Kontak: Priska Sahanaya
081389608249
Priska Sahanaya Ulas Cara Public Speaking yang Efektif di SD Muhammadiyah 27 Jakarta
Diskusi pembaca untuk berita ini