Kalkun Community Family (KCF)

Tak Sekadar WLS

Pekanbaru, katakabar.com - Hari ini menjadi hari ke-5 Tim 12 Kalkun Community Family (KCF) menjajal pulau Sumatera, setelah melaju menunggangi minibus jenis Toyota Hiace dari markas besarnya New Hunter di kawasan Cawang Bawah Jakarta Timur, 12 Oktober lalu.

"Malam ini kami sudah berada di kawasan Jam Gadang Bukit Tinggi, Sumatera Barat (Sumbar). Luar biasa kekayaan alam Ranah Minang," kata Pembina KCF, Rudolf Naibaho, kepada katakabar.com, malam ini. 

Misi yang bertajuk 'Wisata Lintas Sumatera' (WLS) itu kata lelaki 46 tahun ini, sesungguhnya terkesan mendadak, meski, pada prinsipnya semuanya langsung direncanakan supaya perjalanan berkualitas dan misi kesampaian. 

Baca juga: Mendobrak Kemustahilan Bersama KCF

Sebab menurut ayah dua anak ini, WLS enggak hanya sekadar jalan-jalan, tapi sederet misi dibawa. Mulai dari merajut silaturrahim dengan orang tua dan yang dituakan di Sumatera, hingga mengambil gambar-gambar yang dibutuhkan untuk melengkapi album ke-2 KCF. 

"Kita memang sekalian shooting video klip album kedua. Album kedua ini bakal sangat beda dengan album perdana yang sudah kami rilis 16 Agustus lalu. Sebab di album kedua ini, enggak hanya dijejali oleh lagu-lagu batak, tapi juga lagu-lagu bahasa Indonesia yang kekinian serta lagu-lagu Minang," rinci ayah dua anak ini. 

Di album perdana tadi kata Rudolf, ada 30 lagu-lagu hasil karya warga KCF, kebetulan dilaunching bersamaan dengan HUT New Hunter ke-14. 

"Nah, di album kedua ini, kita belum bisa merinci berapa total lagu yang akan dilaunching. Sebab semuanya masih berproses. Tapi yang bisa kami rinci adalah bahwa lagu-lagu di album kedua ini bakal disenangi oleh semua kalanganlah," ujar Rudolf optimis. 

Di kalangan orang-orang Batak di Jakarta maupun di pulau Jawa, New Hunter yang kemudian di dunia maya berbasis youtube disebut New Hunter Haholongan (NHH), enggak hanya sekadar ruang dengar senandung Batak, tapi juga tempat menengok hasil kreatif Indonesia Mini yang tergabung dalam KCF. 

Sebab di NHH maupun KCF, tidak hanya ada orang Batak, tapi ragam suku dan agama. Saling Topang, Ikat dan Angkat menjadi falsafah mereka untuk Bangkit dan Berlari.

"Perjalanan lintas Sumatera ini, juga bagian dari falsafah itu. Alhamdulillah, di Riau kami bisa menengok orang tua kami di Pekanbaru dan di Ujungbatu Rokan Hulu, luar biasalah pokoknya," kata Ketua KCF, Iskandar. 

Lelaki jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang Sumatera Barat ini, juga menjadi gitaris di Toton Homebandnya NHH. 

Di Sumbar kata Iskadar, selain ke Bukit Tinggi, mereka juga akan singgah di ISI dan lanjut ke sejumlah objek yang ada di Kota Padang. "Dari situ kami baru kembali ke Jakarta," dia merinci. 

Bagi Rinto Naibaho, WLS yang digelar hingga 10 hari itu, menjadi sesuatu yang unik. Sebab, meski di tengah pandemi, KCF masih bisa terus berkarya. 

"Dengan niat yang baik dan tulus, mudah-mudahan Tuhan yang maha kuasa menghindarkan kami dari hal-hal yang tidak baik. Tentu, kami akan tetap menjalankan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah," kata ayah satu anak yang juga Pimpinan Perusahaan katakabar.com ini. 

Selain menjadi wakil ketua di KCF, lelaki 43 tahun ini juga telah menyiapkan dua lagu untuk menjadi bagian dari album kedua KCF itu. "Mudah-mudahan lagu itu kelak disenangi oleh pecinta musik Indonesia," dia berharap. 

Terkait album kedua tadi, ada dua lagu yang aransemennya musiknya dibikin beda oleh Iskandar. Lirik berbahasa Batak, aransemen musiknya, Minang dan sebaliknya, liriknya Minang, aransemen musiknya, Batak. Pensaran? Tunggu saja launching album kedua itu.  
 

Editor : Aziz

Berita Terkait