Agentic AI

Sorotan terbaru dari Tag # Agentic AI

Lintasarta dan OpenClaw Perkuat Ekosistem Agentic AI Percepat Transformasi Industri Indonesia Teknologi
Teknologi
17 jam yang lalu

Lintasarta dan OpenClaw Perkuat Ekosistem Agentic AI Percepat Transformasi Industri Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Perkembangan Agentic AI atau AI Agents semakin mendapat perhatian dari pelaku industri di Indonesia. Tingginya minat tersebut tercermin dalam OpenClaw Meetup Jakarta #4 yang didukung Lintasarta melalui Cloudeka dan berhasil menarik lebih dari 500 pendaftar. Antusiasme ini menunjukkan pemanfaatan AI tidak lagi berhenti pada tahap eksplorasi, tetapi mulai bergerak menuju implementasi nyata untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi operasional, dan pengambilan keputusan bisnis. Sebagai salah satu komunitas AI yang berkembang pesat di Indonesia, OpenClaw telah menjadi ruang kolaborasi bagi para AI practitioner, developer, startup, enterprise, dan technology leaders untuk berbagi pengalaman dalam membangun, mengintegrasikan, dan mengoperasikan AI Agents di lingkungan produksi. Topik yang dibahas mencakup AI automation, AI engineering, multi-agent systems, hingga implementasi Agentic AI untuk berbagai kebutuhan industri. Momentum ini sejalan dengan proyeksi Gartner yang memperkirakan bahwa pada 2028 sekitar 33 persen aplikasi perangkat lunak enterprise akan mengadopsi Agentic AI, meningkat signifikan dari kurang dari 1 persen pada 2024. Pada periode yang sama, sekitar 15 persen keputusan operasional sehari-hari diproyeksikan dapat dijalankan secara otonom oleh AI Agents. Perubahan ini menandai lahirnya era baru autonomous enterprise yang akan mengubah cara organisasi beroperasi dan menciptakan nilai bisnis. Gidion Suranta Barus, Chief Cloud Officer Lintasarta, mengatakan adopsi Agentic AI membutuhkan lebih dari sekadar model AI yang canggih. Organisasi juga memerlukan fondasi digital yang mampu memastikan keamanan, integrasi, kedaulatan data, serta kesiapan infrastruktur untuk menjalankan AI dalam skala enterprise. “Agentic AI menjadi salah satu evolusi paling penting dalam perjalanan transformasi digital. Tetapi keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh teknologi AI itu sendiri, melainkan oleh kesiapan fondasi digital yang menopangnya. Lantaran itu, Lintasarta terus memperkuat Intelligent Core sebagai fondasi yang mengintegrasikan konektivitas, cloud, cybersecurity, dan AI dalam satu ekosistem yang aman, terintegrasi, dan siap mendukung kebutuhan industri,” ujar Gidion. Sebagai AI Factory dari Indosat Ooredoo Hutchison Group, Lintasarta menghadirkan Intelligent Core sebagai fondasi digital yang mengintegrasikan kapabilitas Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration-AI (4C) untuk membantu organisasi mengadopsi teknologi AI secara lebih cepat, aman, dan terukur. Dengan prinsip Sovereign, Integrated, dan Seamless Experience, Intelligent Core memungkinkan organisasi membangun dan menjalankan berbagai solusi AI di atas infrastruktur yang berdaulat, aman, dan sesuai dengan kebutuhan bisnis masing-masing. Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui gerakan AI Merdeka, dengan mempercepat pengembangan ekosistem AI nasional melalui Laskar AI yang mencetak talenta digital dan AI Indonesia serta Semesta AI yang memberdayakan startup dan pengembangan berbagai AI use case di berbagai sektor industri strategis. Melalui AI Merdeka, Lintasarta mempertegas perannya sebagai AI Factory yang menghubungkan talenta, teknologi, dan kebutuhan industri untuk membangun ekosistem AI Indonesia yang berdaulat, inklusif, dan berkelanjutan. Pada akhirnya, melalui dukungannya terhadap OpenClaw Meetup, Lintasarta menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem AI nasional yang terbuka dan kolaboratif. Bagi Lintasarta, percepatan adopsi AI tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi antara komunitas teknologi, penyedia infrastruktur, pengembang solusi, akademisi, pemerintah, dan pelaku industri. Perwakilan OpenClaw, Sofian Hadiwijaya, menjelaskan kolaborasi lintas ekosistem menjadi faktor penting dalam mempercepat adopsi Agentic AI di Indonesia. “AI Agents memiliki potensi besar untuk mentransformasi cara organisasi bekerja. Namun untuk mewujudkannya dibutuhkan ruang kolaborasi yang memungkinkan komunitas, industri, dan penyedia teknologi saling berbagi pengetahuan serta pengalaman implementasi. Kami mengapresiasi dukungan Lintasarta yang tidak hanya menyediakan platform diskusi, tetapi juga menunjukkan komitmen nyata dalam membangun ekosistem AI Indonesia,” ucapnya. Kolaborasi antara Lintasarta dan OpenClaw menjadi bagian dari upaya mendorong terbentuknya ekosistem AI yang berdaulat, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan menghubungkan komunitas, teknologi, dan kebutuhan industri, Lintasarta ingin memastikan bahwa pemanfaatan AI di Indonesia tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga menciptakan dampak nyata bagi produktivitas, daya saing, dan kedaulatan digital nasional.

Peris.ai Jabarkan Tentang Agentic AI dan Dampaknya di Dunia Keamanan Siber Tekno
Tekno
Kamis, 05 Juni 2025 | 09:39 WIB

Peris.ai Jabarkan Tentang Agentic AI dan Dampaknya di Dunia Keamanan Siber

katakabar.com - Kurun setahun belakangan ini, istilah Agentic AI atau "Kecerdasan Buatan yang Bisa Bertindak Sendiri" mulai banyak dibicarakan di dunia teknologi. Berbeda dengan kecerdasan buatan atau AI biasa yang hanya merespons perintah, Agentic AI bisa mengambil keputusan dan bertindak tanpa harus menunggu instruksi. Artinya, AI ini tidak hanya menunggu untuk diberi tahu apa yang harus dilakukan, tapi dapat 'berpikir'dan melakukan langkah-langkah untuk menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Perubahan ini sangat berpengaruh di berbagai bidang, tapi dampaknya yang paling terasa mungkin ada di keamanan siber atau perlindungan data, dan sistem di dunia digital. Di dunia ini, ancaman datang begitu cepat, dan setiap detik sangat berarti. Keamanan siber harus mampu merespons dengan sangat cepat, sebab serangan bisa berkembang lebih cepat daripada kebijakan atau sistem yang ada. Banyak organisasi sudah menggunakan berbagai perangkat untuk melindungi sistem mereka dari ancaman, seperti sistem yang memantau data atau perangkat keras yang memblokir serangan. Meskipun sudah ada teknologi canggih, sering kali sistem ini tidak cukup cepat untuk mendeteksi atau merespons ancaman yang muncul. Penyebab utamanya adalah: - Perangkat yang tidak saling terhubung, sehingga tidak bisa saling berbagi informasi. - Tim yang kewalahan dengan terlalu banyak peringatan yang harus ditindaklanjuti. - Keamanan yang terlalu reaktif, yaitu baru bertindak setelah ancaman muncul, bukannya mencegahnya lebih dulu. - Tidak ada gambaran yang jelas tentang semua perangkat dan aktivitas yang terjadi di dalam sistem. Semua tantangan ini semakin terasa di Security Operations Center (SOC), tempat di mana tim berusaha memantau dan melindungi sistem dari ancaman. Pada kenyataannya, SOC modern terus menghadapi berbagai masalah, seperti: - Peringatan yang terlalu banyak datang setiap harinya, tanpa prioritas yang jelas. - Prosedur yang terlambat dalam merespons serangan yang semakin canggih. - Kekurangan tenaga ahli di tim dan kelelahan yang sering dialami. - Perangkat yang terpisah-pisah dan tidak saling terhubung. Untuk itulah hadir Agentic AI, yang bisa membantu tim keamanan bekerja lebih cepat dan lebih efektif. Agentic AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia, tetapi untuk mendukung mereka agar bisa menangani ancaman dengan lebih cerdas dan responsif. Salah satu engineer dari Peris.ai, Farhan Barry, menjelaskan, kami ingin membantu security analyst menjadi lebih tangguh dan responsif, dengan memaksimalkan potensi setiap anggotanya melalui teknologi.