AspekPIR
Sorotan terbaru dari Tag # AspekPIR
Sinergi BPDP dan ASPEKPIR Lepas Ekspor Perdana Lidi Sawit ke China Buah Pemberdayaan UMKM Perkebunan
Medan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia melepas ekspor perdana lidi sawit saat perhelatan di gudang PT Arra Setya Abadi di Belawan, Medan, Sumatera Utara, Rabu (17/6) lalu. Total 28 Ton lidi sawit yang berasal dari perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau, Sumatera Utara dan Aceh akan diberangkatkan menuju China. Produk lidi sawit tersebut dikumpulkan dan diusahakan oleh para petani sawit serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta Koperasi anggota ASPEKPIR hasil dari rangkaian kegiatan program pemberdayaan UMKM dan Koperasi yang telah digelar ASPEKPIR dan BPDP. ASPEKPIR menggandeng PT Arra Setya Abadi sebagai eksportir yang akan memasarkan produk lidi sawit ke pasar internasional. Hadir di kegiatan tersebut Ketua Umum ASPEKPIR, Setiyono, Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Anwar Sadat, Direktur Utama PT Arra Setya Abadi Ilham Setiadi, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumatera Utara yang diwakili Tsarwah, perwakilan Badan Karantina, Sekretaris Jenderal ASPEKPIR Syarifuddin Sirait, perwakilan sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Utara, serta petani dan pengrajin lidi sawit. Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Anwar Sadat menyampaikan BPDP telah lama melakukan kegiatan promosi mengenai potensi nilai tambah ekonomi dari produk samping dan limbah kelapa sawit, termasuk lidi sawit. Kerja sama intensif bersama ASPEKPIR dilakukan melalui berbagai kegiatan workshop dan diseminasi sejak tahun 2024 hingga saat ini. Rangkaian workshop produksi lidi sawit tersebut telah dilaksanakan di berbagai wilayah antara lain Kabupaten Siak, Kampar, Bengkalis, Muaro Jambi, Belitung Timur, hingga Kabupaten Pasang Kayu, Sulawesi Barat. Upaya tersebut dilakukan untuk mengenalkan potensi lidi sawit dan ketersediaan pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan kapasitas petani agar kualitas produk sesuai standar pasar ekspor. Menurut Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, lidi sawit memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi beragam produk bernilai ekonomi, mulai dari bahan baku ekspor hingga aneka kerajinan yang dapat dikerjakan oleh pelaku UMKM di daerah. “BPDP sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini karena mampu memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat serta menunjukkan bahwa limbah sawit dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi,” ujarnya. BPDP saat ini memiliki berbagai program strategis untuk mendukung penguatan kapasitas dan peningkatan produktivitas petani sawit, antara lain melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Program Sarana dan Prasarana, Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan, Penelitian dan Pengembangan, serta program Promosi Perkebunan yang bertujuan mengenalkan manfaat komoditas perkebunan bagi masyarakat dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Keberhasilan ekspor perdana lidi sawit ini menunjukkan bahwa sawit adalah komoditas yang inklusif karena manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari petani, perempuan, pemuda, UMKM, koperasi hingga pelaku ekspor. “Rantai pasok produksi lidi sawit melibatkan banyak pihak, dari petani, pengrajin, koperasi, dan pelaku ekspor, sehingga dapat memberikan efek ganda bagi penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi di daerah,” ujarnya. Menurut Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, kegiatan ini juga sejalan dengan visi pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden RI, H Prabowo Subianto, khususnya dalam upaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional melalui ekonomi hijau, memperluas kesempatan kerja berkualitas dengan kewirausahaan, serta pemerataan pembangunan hingga ke desa-desa. Ketua Umum ASPEKPIR, Setiyono menegaskan pelepasan ekspor perdana ini merupakan tindak lanjut dari berbagai program pemberdayaan UMKM yang telah dilaksanakan ASPEKPIR bersama BPDP di sejumlah daerah di Riau dan Sumatera Utara. Dijelaskan Setiyono, sedikitnya tujuh koperasi anggota ASPEKPIR terlibat dalam penyediaan bahan baku lidi sawit yang diekspor ke China. Manfaatnya kemudian akan dirasakan kurang lebih 2.800 anggota koperasi tersebut. Keterlibatan koperasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan usaha berbasis limbah sawit mampu menjadi sumber ekonomi baru bagi petani. “Ekspor perdana ini membuktikan bahwa lidi sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kami berharap semakin banyak petani sawit yang tertarik menjadikan pengumpulan dan pengolahan lidi sawit sebagai sumber penghasilan tambahan,” imbuh Setiyono. Direktur Utama PT Arra Setya Abadi, Ilham Setiadi, menimpali sejak akhir 2024 pihaknya bersama ASPEKPIR dan didukung BPDP terus melakukan sosialisasi serta pendampingan pengembangan usaha ekspor lidi sawit di berbagai daerah. Menurut Ilham, permintaan pasar internasional terhadap lidi sawit terus menunjukkan tren positif sehingga peluang pengembangan usaha ini masih sangat terbuka lebar bagi petani dan UMKM di berbagai daerah sentra perkebunan sawit. Pada kegiata sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumatera Utara yang diwakili Tsarwah menyampaikan apresiasi atas keberhasilan ekspor perdana tersebut. Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lainnya untuk memanfaatkan potensi limbah pertanian dan perkebunan yang memiliki nilai ekonomi. “Sumatera Utara memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan berbagai produk turunan berbasis limbah kelapa sawit, termasuk lidi sawit. Kerja sama dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi petani, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan keberhasilan ekspor seperti ini,” terangnya. Pengembangan produk lidi sawit menjadi bukti sektor sawit mampu mendukung prinsip ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan pelepah dan biomassa sawit sebagai bahan baku produk UMKM membantu mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat sekitar perkebunan. Produk lidi sawit ini juga sekaligus dapat memperluas pasar ekspor perkebunan melalui diversifikasi produk turunan kelapa sawit. Selain kegiatan pelepasan perdana ekspor lidi sawit, BPDP dan ASPEKPIR taja workshop praktik ekspor lidi sawi di Langkat, Sumatra Utara pada Kamis (18/6). Dalam workshop yang dihadiri 100 peserta ini, dilakukan penandatanganan MoU antara koperasi sawit dan pelaku ekspor tentang peningkatan produksi lidi sawit siap ekspor.
BPDP dan Aspekpir Kolaborasi Taja Workshop Inovasi Sawit Buat Kaum Hawa di Muaro Jambi
Muaro Jambi, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR Indonesia (Aspekpir Indonesia) kolaborasi taja Workshop Inovasi Sawit untuk Perempuan di Kabupaten Muaro Jambi, Selasa (17/2). Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis BPDP dan Aspekpir Indonesia dalam peningkatan kapasitas petani dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kelapa sawit melalui pengembangan produk turunan bernilai tambah. Workshop ini juga memuat narasi strategis BPDP terkait kandungan sawit pada produk kosmetik dan perawatan tubuh, pemberdayaan UMKM dan koperasi petani komoditas perkebunan, serta kegiatan promosi kelapa sawit dan produk turunannya sebagai komoditas unggulan nasional. Dalam sesi materi, dijelaskan bahwa minyak sawit dan turunannya banyak digunakan dalam industri kosmetik dan perawatan tubuh karena memiliki sifat melembapkan, melembutkan, serta mampu membersihkan dan menstabilkan tekstur produk. Beberapa kandungan turunan sawit yang umum digunakan, yakni asam palmitat dan asam stearat sebagai emolien dan pembentuk tekstur krim, gliserin sebagai humektan untuk menjaga kelembapan kulit, SLS dan SLES sebagai bahan pembersih dan pembentuk busa pada sabun dan sampo, serta tocotrienol (vitamin E dari sawit) yang berfungsi sebagai antioksidan alami untuk melindungi kulit dari radikal bebas. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum penguatan peran perempuan dalam rantai nilai industri sawit, serta mendorong tumbuhnya UMKM dan koperasi petani komoditas perkebunan yang mandiri dan berdaya saing. Selain itu, kegiatan promosi sektor kelapa sawit dan produk turunannya juga terus digencarkan dalam forum tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat citra positif sawit Indonesia. Di kegiatan tersebut hadir Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, Region Head PTPN IV Regional IV, Jambi Khayamuddin Panjaitan, serta Camat Sungai, Bahar Agus Riyadi, ST, Ketua DPD I Aspekpir Jambi Roy Asnawi. Adapun pembicara dan instruktur praktik di kegiatan tersebut, yakni dr. Irdawati Novita, C.M.C, C.H.M (Dokter estetika medis/medical aesthetician), Dr. Duta Setiawan (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tanjung Pura) dan Ilham Setiadi (Eksportir Lidi Sawit). Workshop menghadirkan materi sekaligus praktik langsung pembuatan fresh care berbahan sawit, snack stik dari umbut sawit, serta pengolahan lidi sawit siap ekspor. Selain keterampilan teknis produksi, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai strategi pemasaran, pengemasan, hingga branding produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Menurut Helmi Muhansyah, kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Ia menyebut sawit sebagai miracle crop karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, mulai dari pangan, energi, hingga produk kosmetik dan kebutuhan rumah tangga. “Sebagian besar produk yang kita gunakan sehari-hari mengandung turunan sawit. Bahkan sekitar 80 persen produk di ritel modern memiliki kandungan sawit,” ujarnya. Dijelaskan Helmi, kekuatan sawit tidak hanya terlihat pada angka devisa, tetapi juga pada dampaknya terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga petani. “Kalau pendapatan keluarga stabil, maka kesejahteraan meningkat. Begitu pula negara, stabilitas ekonomi ditopang oleh devisa yang kuat, dan sawit menjadi salah satu penopangnya,” ucapnya. Sementara, Ketua DPD I Aspekpir Jambi, Roy Asnawi, menegaskan kegiatan ini langkah konkret mendorong peran perempuan sebagai penggerak ekonomi keluarga petani sawit. “Kita ingin ibu-ibu tidak hanya bergantung pada hasil panen TBS, tetapi mampu menciptakan nilai tambah dari turunan sawit. Ini bagian dari penguatan ekonomi keluarga petani,” tuturnya. Roy menyatakam inovasi produk seperti fresh care, snack stik umbut sawit, hingga kerajinan lidi sawit memiliki potensi pasar yang besar jika dikelola secara serius dan profesional. Ia berharap dari Sungai Bahar akan lahir kelompok-kelompok usaha perempuan berbasis sawit yang mampu berkembang hingga tingkat nasional bahkan ekspor. “Kalau petani kuat, keluarga kuat. Kalau keluarga kuat, daerah juga akan kuat. Sawit harus menjadi sumber kesejahteraan bersama,” imbuh Roy. Kegiatan ini melibatkan 80 peserta perempuan yang berasal dari petani sawit dan UMKM di Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi. Melalui kolaborasi BPDP dan Aspekpir, workshop ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelatihan, tetapi menjadi titik awal lahirnya UMKM sawit yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing di Kabupaten Muaro Jambi.
Sinergi BPDP dan ASPEKPIR Ajari Petani Sawit di Pulau Terluar Bikin Lidi Sawit Siap Ekspor
Bengkalis, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia hadir di Pulau Bengkalis, persisnya di Bantan Tengah, salah satu pulau terluar di Indonesia berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura, di penghujung Oktober 2025 lalu. Lewat Praktik Mengolah Pelepah Kelapa Sawit jadi Produk Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi (UKMK), berupa Lidi Sawit Siap Ekspor, Pakan Ternak dari Daun Sawit dan Biochar dari Pelepah Sawit, Aspekpir dan BPDP sapa petani sawit di pulau terluar. Bupati Bengkalis, Kasmarni, melalui Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Andres Wasono, mengatakan inovasi pengolahan pelepah kelapa sawit menjadi produk bernilai ekonomis langkah strategis meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat ekonomi kerakyatan di 'Negeri Junjungan' nama lain dari Kabupaten Bengkalis. Sedang, Ketua DPD I Aspekpir Riau, Sutoyo, ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis khususnya masyarakat Desa Bantan Tengah dan BPDP dalam kolaborasi kegiatan Praktik Mengolah Pelepah Kelapa Sawit Menjadi Produk UKMK Bernilai Ekonomis. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah saat memberikan sambutan secara online, menuturkan BPDP terus mengembangkan kolaborasi dengan seluruh stakeholders termasuk kalangan petani kelapa sawit, petani kelapa dan kakao di berbagai daerah di Indonesia , termasuk di Bengkalis. “Berbagai kegiatan promosi UKMK Sawit yang dilaksanakan BPDP telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi produk-produk UKMK untuk berkembang. Contoh nyatanya, transformasi salah satu UKM batik di Yogyakarta yang dulunya beromset kecil hingga saat ini mengalami peningkatan omzet dan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Kegiatan diharapkan melahirkan produk-produk inovatif UKMK sawit dari Bengkalis,“ jelas Helmi. Di kegiatan ini sebanyak 80 orang yang sebagian besar merupakan anak muda petani kelapa sawit dari berbagai desa di Pulau Bengkalis menjadi peserta. Mereka diajak belajar bagaimana menyiapkan lidi sawit yang siap ekspor, bagaimana membuat biochar dari pelepah sawit dan mengaplikasikannya pada tanaman dan bagaimana membuat pakan ternak dari daun sawit. Di acara tersebut ditandatangani MoU Ekspor lidi dari pelepah kelapa sawit.
Biar Paham Pembuatan Laporan Keuangan dan Perpajakan, UMKM Belajar Praktik dari Aspekpir Riau
Pekanbaru, katakabar.com - Para petani kelapa sawit dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah praktik pembuatan laporan keuangan, dan perpajakan dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat atau Aspekpir Provinsi Riau, di Gedung Pasca Sarjana Universitas Islam Riau atau UIR. Kegiatan ini hasil kolaborasi antara Aspekpir Indonesia dan Badan Pengelolaan Dana Perkebunan atau BPDP, serta didukung Program Studi Doktor Sains Manajemen program pasca sarjana Univesitas Islam Riau, yang menghasilkan 100 pelaku UMKM di Provinsi Riau. Ketua Umum Aspekpir Indonesia Setiyono mengutarakan, kegiatan ini sangat penting bagi petani kelapa sawit khususnya yang berkecimpung di dunia koperasi, dan para pelaku UMKM. “Kegiatan ini kita inisiasi lantaran ada keresahan kita melihat banyaknya koperasi yang diperiksa badan perpajakan bahkan hingga aparat penegak hukum atau APH. Di antaranya mengenai laporan keuangan yang masih belum maksimal,” jelasnya, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Jumat (5/9). Menurutnya, kegiatan ini menjadi antispasi agar tidak lagi terjadi kesalahan-kesalahan pada laporan keuangan baik di koperasi maupun UMKM. “Pembelajaran untuk pembuatan laporan keuangan sangat diperlukan. Sehingga kita berharap kegiatan ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Sehingga wawasan dan pengetahuan mengenai laporan keuangan meningkat,” harapnya. Direktur Program Pascasarjana UIR, Prof. Dr. H. Detri Karya, S.E., M.A menimpali, pihaknya sangat apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. "Asosiasi dan petani kelapa sawit adalah tamu yang memang ditunggu. Lantaran pihak yang langsung bergelut, dan berhasil di sektor perkebunan kelapa sawit yang menjadi komoditi andalan Indonesia," ucapnya. Kketertiban laporan keuangan, kupas Detri, mendorong kekuatan berorganisasi. Sehingga lahir koperasi-koperasi yang kuat, dan mampu bersaing hingga kancah internasional tawarkan produk dan hasil karyanya. Jadi, target pemerintah Indonesia Emas tahun 2045 mendatang terwujud dengan dukungan perekonomian yang kuat dari koperasi, dan UMKM. “Untuk mendukung kemajuan pembuatan laporan keuangan dalam koperasi dan UMKM kita akan hadirkan lembaga konsultasi untuk UMKM, dan koperasi. Otomatis kita ikut berpartisipasi mendukung kemajuan UMKM mulai dari provinsi Riau. Kemudian juga memperkuat SDM salah satunya di sektor perkebunan sawit,” sebutbMantan rektor Universitas Perkebunan Pelalawan itu.
Kolaborasi BPDPKS dan Aspek PIR Taja Workshop Pengembangan UKMK Sawit
Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat atau Aspekpir bangun kolaborasi taja workshop pengembangan Usaha Kecil, Menengah, dan Koperasi atau UKMK Kelapa Sawit. Kegiatan itu sejalan dengan saat ini di mana undustri kelapa sawit bagian integral dari ekonomi global yang berperan penting di sektor perekonomian nasional.
Aspekpir Indonesia Taja Sosialisasi di Pulau Wisata 'Negeri Junjungan''
Rupat, katakabar.com - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) taja sosialisasi di dua kelurahan di kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, yakni Kelurahan Batu Panjang dan Terkul, Rabu (3/9) lalu.
Aspekpir Sanjung Pemkab Morowali Utara Lantaran Rangkul Petani Jadi Anggota BPJS Ketenagakerjaan
Sulteng, katakabar.com - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) sanjung langkah Pemerintah Kabupaten(Pemkab) Morowali Utara yang merangkul petani kelapa sawit untuk menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan. Bupati Morowali Utara, Delis Julkarson Hehi belum lama ink serahkan secara simbolis kartu BPJS Ketenagakerjaan kepada 1.000 petani sawit dan pekerja di sektor perhubungan darat di wilayahnya.
Lewat Budidaya Sapi Pola Siska, BPDPKS dan Aspekpir Indonesia Bantu Pekebun Sawit di Sumsel
Palembang, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia kembangkan budidaya sapi pola integrasi sapi sawit (Siska) bantu pekebun kelapa sawit di Provinsi Sumatera Selatan. Diharapkan dengan program tersebut dapat mendukung, dan mewujudkan swasembada daging. Ini alasnya BPDPKS dan Aspekpir Indonesia membangun kolaborasi gelar Workshop UKMK Berbasis Kelapa Sawit guna mengembangkan budidaya sapi melalui pola integrasi sapi sawit (Siska) di Kota Palembang, Sumatra Selatan, Kamis (22/8) lalu.
Workshop UKMK Sawit Milenial Aspekpir dan BPDPKS Sukses, Ini Kata Pj Walikota Singkawang
Singkawang, katakabar.com - Workshop usaha kecil, menengah, dan koperasi (UKMK) Sawit Milenial yang digagas, sekaligus digelar DPD I Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) Kalimantan Barat, di Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat meriah dan sukses, pada Kamis (21/3) sore lalu. Bulan Suci Ramadhan semakin membuat ratusan para petani sawit berusia muda atau Milenial yang tergabung DPD I Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspek-PIR) Kalbar tersebut semakin semangat. Menurut Ketua DPD I Aspekpir Provinsi Kalimantan Barat, Y S Marjitan, acara ini digagas sekaligus digelar DPD Aspekpir Provinsi Kalimantan Barat dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI. "Workshop ini melibatkan para petani sawit milenial dari berbagai daerah dari Kalimantan Barat, khususnya dari Kota Singkawang," ujar Marjitan, lewat kerangan resmi dilansir dari laman elaeis.co, pada Sabut, akhir pekan. Para petani sawit milenial semakin semangat kala mengetahui Pj Walikota Singkawang, Sumastro yang buka acara. Pj Wali Kota Singkawang, Sumastro menyatakan, acara workshop benar-benar mengharukan. Apalagi, lokasi acara di Aula Hotel Dangau Singkawang, daerah yang berada di tengah-tengah antara Kabupaten Sambas dan Kabupaten Bengkayang, serta bagian dari perbatasan negara. “Para petani sawit milenial paling kita andalkan saat ini dan ke depan," jelasnya. Biasanya, ujar Pj Walikota, petani sawit milenial memiliki kemampuan mencari informasi dan inovasi melalui jaringan media sosial maupun komunitas yang mereka bangun sendiri. "Terlebih saya dengar workshop ini akan diarahkan ke hilirisasi. Ini sangat luar biasa," tutuenya. Bicara tentang sawit, ucap Pj Walikota, yang harus menjadi perhatian produktivitas. Petani sawit harus bisa mengalokasikan cadangan biaya pupuk, perawatan, karyawan dan lain-lain. “Sawit ini berapa kita kasih makan, maka segitulah memberikan rejekinya kepada kita,” terangnya. Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Provinsi Kalimantan Barat, Purwati Munawir, menimpali, komunitas sawit berperan strategis bagi perekonomian nasional maupun daerah. “Komunitas sisi sawit inilah yang telah berperan nyata dari penyerapan energi kerja. Di mana Provinsi Kalimantan Barat telah berhasil posisikan daerah ini sebagai salah satu sentra sawit nasional," ulasnya. Untuk itu, terima kasih kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat dan kabupaten dan kota atas dukungan dan pelatihan terhadap produksi sawit di Provinsi Kalimantan Barat. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Singkawang, Tjhai Chui Mie sampaikan keinginannya agar para petani makmur dan rakyat sejahtera. “Melalui workshop ini saya berharap para narasumber bisa memberikan motivasi bagi milenial untuk menjadi petani sawit,” jelasnya. Bil cerita mau sukses atau berhasil, tutur Tjhai Chui Mie, perlu disiapkan sarana dan prasarana. Jadi, diharapkan pemerintah dapat ikut menyiapkan alat, bibit dan membantu penjualannya. “Apakah di satu kawasan perlu dibangun pabrik atau Crude Palm Oil (CPO) sehingga petani tidak bisa lagi membawa hasil panennya,” imbuhnya. HKTI Singkawang, harap Tjhai, dukungan-dukungan seperti ini dari pemerintah untuk keberhasilan para petani. Kepala Divisi UMKM BPDPKS, Helmi Muhansyah berjanji siap berkolaborasi dan mendukung. “Khususnya rekan-rekan petani sawit milenial untuk berwirausaha menggunakan berbagai macam teknologi untuk mengembangkan produktivitas kelapa sawit,” tegasnya.
Petani Sawit Kalbar Belajar Pola Kemitraan Petani ke PTPN IV PalmCo Regional 3
Pekanbaru, katakabar.com - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) serta pengurus sejumlah koperasi produsen kelapa sawit dari Kalimantan Barat yang menaungi ratusan petani sawit belajar pola kemitraan ke PTPN IV PalmCo Regional 3 Provinsi Riau. Saat bertandang Mereka ke PTPN IV PalmCo Regional 3 disambut SEVP Operation, Arief Subhan Siregar dan General Manager Distrik Petani Mitra, Ferry P Lubis guna pelajari sekaligus mengadopsi skema kemitraan petani akselerasi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) atau replanting di Kalimantan Barat. Di kegiatan selama tiga hari itu, merkea melakukan kunjungan dan berinteraksi ldengan ratusan petani mitra perusahaan di Kabupaten Kampar, Rokan Hulu, serta Kabupaten Siak. "Luar biasa. Kami sangat berharap keberhasilan yang diraih di sini bisa diterapkan di Kalimantan Barat. Setidaknya ada empat pilar penting yang kami pelajari dari sini nanti bisa kami bawa pulang ke Kalimantan," ujar Ketua Bidang Advokasi, Humas, dan Promosi Aspekpir Kalimantan Barat, Ir Mei Irmoko di Pekanbaru, dilansir dari laman ANTARA, pada Senin (26/4). Menurut Irmoko, pertama kebijakan kemitraan dengan pola manajemen tunggal atau single management. Pola ini jadi kunci sukses program PSR yang dilaksanakan PTPN IV PalmCO Regional 3 Riau di berbagai kabupaten Provinsi Riau. Lewat pola itu, katanya, kultur teknis petani mitra akan setara dengan standar tinggi perusahaan, mulai dari penumbangan sawit renta, pemanfaatan bibit sawit unggul bersertifikat, proses penananman, pemupukan, hingga pemeliharaan untuk diterapkan di areal peremajaan sawit masyarakat. "Pendekatan kian lengkap dengan pola off taker atau pendampingan perusahaan kepada petani selama proses peremajaan sawit berlangsung. Salah satu wujud pola tersebut adalah skema cash for works untuk para petani mitra sehingga para petani tetap mendapatkan penghasilan selama peremajaan berlangsung," ulas Irmoko. Selanjutnya, tuturnya, PTPN IV menawarkan program penyediaan bibit sawit unggul bersertifikat, pendamping, pelatihan kepada para petani sehingga mampu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan petani dalam mewujudkan perkebunan berkelanjutan. "Di mana saat ini diterapkan ke Kalimantan Barat, Insya Alloh dapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Kami dari Aspekpir Kalbar mengucapkan terima kasih dan siap mendukung suksesi PSR di kalbar. Kami siap berkolaborasi dengan PTPN IV di Kalbar," terangnya. Secara umum, sambungnya, persoalan kemitraan di Riau tidak jauh berbeda dengan Kalimantan. Tapi, pendekatan yang dilaksanakan Regional 3 memberikan hasil yang jauh lebih baik. "Memang, kalau kita lihat karateristik permasalahan di sini tidak jauh berbeda dengan Kalimantan Barat, Kerja sama antara pihak perusahaan dan petani yang tentu akan sukses dan berhasil ketika roh nya ada. Roh kebersamaan. Roh kebersamaan itu butuh rasa saling. Saling mendukung, saling membantu, saling menguatkan. Tidak bisa berdiri sendiri. Strategi ini yang akan kita bawa ke sana," bebernya. Hal senada disampaikan Ketua Koperasi Produsen Titian Sejahtera Mandiri Kalimantan Barat, Ismail Lavan mengamimkam Irmoko. Dijelaskannya, jika standar dan pendekatan pola kemitraan Riau diterapkan, maka petani di Kalimantan Barat bakal jauh lebih sejahtera. Setelah mengikuti studi banding, saya bersemangat untuk segera kembali untuk mendorong dan melaksanakan PSR di Kalimantan Barat. "Kami dapat satu perbandingan yang sangat luar biasa. Keterbukaan, transparansi, itu modal utama untuk kepercayaan. Kemitraan di Riau sangat istimewa," ucapnya. Kami di Kalimantan sama dengan yang diterapkan di Pekanbaru ini, harap Ismail, itu kami sebarluaskan (pola kemitraan di Riau ke) petani kami di Kalbar. Program ini mudah-mudahan tidak hanya dirasakan petani di Pekanbaru, tapi dirasakan oleh seluruh petani Indonesia. SEVP Operation PTPN IV PalmCo Regional 3, Arief Subhan Siregar menjabarkan, kunjungan studi banding ini realisasi dari Workshop PTPN untuk Sawit Rakyat yang digelar di Pontianak, beberapa waktu lalu. Kegiatan ini diinisiasi Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa tersebut dihadiri Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Andi Nur Alamsyah, PJ Gubernur Kalimantan Barat, dr Harrison, Dirut Holding Perkebunan Nusantara III Persero serta ratusan petani sawit. Diketahui, Jatmiko Direktur PTPN V Riau sejak 2019 hingga 2023, tepat sebelum aksi korporasi menjadi PTPN IV PalmCo Regional 3 awal Desember tahun lalu. Selama memimpin PTPN V, Jatmiko berhasil melakukan beragam transformasi di berbagai lini, salah satunya merestorasi kemitraan dan akselerasi PSR yang merupakan bagian dari Program Strategis Nasional (PSN). Untuk itu, Arief menekankan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memulai lembaran baru dan merangkai kepercayaan serta memperkuat kemitraan petani dan PTPN IV Regional 5 Kalimantan. "Jika kita flashback ke belakang, karateristik Riau dan Kalimantan sebenarnya sama. Tapi, kita sepakat untuk membuka lembaran baru. Kita bentuk pola kemitraan kembali sehingga saling percaya, saling mendukung, saling membutuhkan itu tercapai," jelasnya. Selepas mengikuti kegiatan ini, tambah Arief, mudah-mudahan para petani yang tergabung ke dalam Aspekpir maupun koperasi dapat mendukung program pemerintah dalam akselerasi PSR yang ditargetkan Holding Perkebunan mencapai 60 ribu hektar hingga 2026 mendatang.