Ditantang

Sorotan terbaru dari Tag # Ditantang

Mahasiswa Ditantang Hadirkan Riset Tingkatkan Produktivitas Sawit, Kakao dan Kelapa Berkelanjutan Sawit
Sawit
Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:35 WIB

Mahasiswa Ditantang Hadirkan Riset Tingkatkan Produktivitas Sawit, Kakao dan Kelapa Berkelanjutan

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ajak mahasiswa Indonesia menghadirkan inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas kelapa sawit, kakao, dan kelapa tanpa menambah luasan lahan. Tantangan tersebut disampaikan ketika Web Seminar Call for Proposal Lomba Riset Tingkat Mahasiswa Tahun 2026–2027. Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, yang buka kegiatan. Ia menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dan perguruan tinggi dalam menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan sektor perkebunan serta dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri. “Mahasiswa memiliki ruang yang sangat besar untuk menghadirkan perspektif baru dan solusi yang berani. Melalui lomba ini, kami berharap lahir inovasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga dapat menjawab persoalan nyata serta meningkatkan kesejahteraan pekebun sawit, kakao, dan kelapa,” ujar Mohammad Alfansyah. Program Lomba Riset Tingkat Mahasiswa bagian dari dukungan BPDP terhadap penelitian dan pengembangan komoditas perkebunan. Melalui program ini, mahasiswa didorong untuk menghasilkan gagasan yang kreatif, inovatif, aplikatif, dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut, terutama untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, keberlanjutan, dan kesejahteraan pekebun. Dalam paparannya bertajuk “Riset Inovatif untuk Masa Depan Industri Perkebunan Indonesia”, Dr. Bandung Sahari, anggota Tim Penilai Lomba Riset BPDP, menyoroti besarnya peran pekebun rakyat dalam tiga komoditas tersebut. Saat ini, sekitar 41 persen areal perkebunan kelapa sawit dikelola oleh pekebun rakyat. Sementara itu, lebih dari 90 persen perkebunan kakao dan kelapa berada dalam pengelolaan pekebun rakyat. Besarnya porsi tersebut menjadikan peningkatan produktivitas pekebun rakyat sebagai salah satu kunci bagi masa depan industri perkebunan Indonesia. Di sisi lain, upaya peningkatan produksi tidak dapat lagi hanya mengandalkan perluasan lahan karena harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, pengendalian konversi lahan, dan komitmen terhadap pembangunan rendah karbon. “Pertanyaan penting yang perlu dijawab melalui riset adalah bagaimana meningkatkan produktivitas sawit, kakao, dan kelapa tanpa menambah luasan lahan, sekaligus memastikan inovasi tersebut tetap terjangkau dan dapat diterapkan oleh pekebun rakyat,” jelas Bandung. Pada komoditas kelapa sawit, tantangan produktivitas pekebun rakyat antara lain berkaitan dengan akses terhadap benih unggul, pupuk, pembiayaan, praktik pembibitan, pengendalian penyakit, dan penerapan praktik budidaya yang baik. Tantangan serupa juga dihadapi pekebun kakao dan kelapa, termasuk tanaman tua, perubahan iklim, serangan organisme pengganggu tanaman, mutu hasil panen, serta keterbatasan akses terhadap teknologi dan pasar. Lantaran itu, mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada gagasan yang menarik secara akademis. Proposal riset perlu berangkat dari persoalan nyata, memiliki analisis kesenjangan yang kuat, menggunakan metodologi yang tepat, dan menawarkan solusi yang memungkinkan untuk diterapkan di lapangan. Inovasi yang ditawarkan dapat mencakup pengembangan varietas unggul dan tahan iklim, perbaikan kesehatan tanah, pemupukan presisi, pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan, pengelolaan air, mekanisasi, hingga pemanfaatan Internet of Things, kecerdasan buatan, dan data geospasial. Peluang riset juga terbuka pada bidang pascapanen, ketertelusuran rantai pasok, pemanfaatan limbah, ekonomi sirkular, pengurangan emisi gas rumah kaca, serta penguatan kelembagaan dan kapasitas pekebun. “Riset harus mampu menjadi jembatan antara pengetahuan di perguruan tinggi dan kebutuhan nyata industri serta pekebun. Ukuran keberhasilannya bukan hanya publikasi, melainkan juga seberapa besar solusi tersebut dapat memberikan dampak,” tutur Bandung. Dalam webinar tersebut, Kepala Divisi Penyaluran Dana Riset BPDP, Rahmat Widiana, turut menjabarkan mekanisme pengajuan proposal. Peserta lomba merupakan mahasiswa aktif jenjang sarjana atau diploma dari perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia. Setiap kelompok terdiri atas tiga hingga lima mahasiswa dan didampingi satu dosen pembimbing. “Kami mencari proposal yang mampu menunjukkan dengan jelas persoalan yang ingin diselesaikan, kebaruan solusi yang ditawarkan, dan manfaat yang dapat dihasilkan. Gagasan yang baik perlu diterjemahkan menjadi rancangan riset yang terukur, realistis, serta memiliki peluang untuk diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut,” ucap Rahmat Widiana. Penilaian proposal meliputi analisis kesenjangan, kualitas dan kreativitas kegiatan riset, kebermanfaatan, serta prospek pengembangan hasil penelitian. Ruang lingkup riset mencakup bidang budidaya, tanah dan lahan; pascapanen dan pengolahan; pangan dan kesehatan; bioenergi; biomaterial dan oleokimia; pengolahan limbah dan lingkungan; serta sosial, ekonomi, manajemen, bisnis, dan teknologi informasi. Melalui Lomba Riset Tingkat Mahasiswa Tahun 2026–2027, BPDP berharap lahir inovasi yang bukan hanya meningkatkan hasil per hektare, tetapi juga menekan biaya produksi, menjaga kesehatan ekosistem, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, dan memperkuat kesejahteraan pekebun rakyat. Tantangan kini berada di tangan mahasiswa: menghadirkan terobosan yang membuat kebun yang sudah ada menjadi lebih produktif, efisien, tangguh, dan berkelanjutan tanpa membuka lahan baru.

Kala Gen Z Ditantang Ambil Peluang Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan Sawit
Sawit
Kamis, 09 Januari 2025 | 21:27 WIB

Kala Gen Z Ditantang Ambil Peluang Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan

Medan, katakabar com - Generasi Z ditantang harus ambil peluang pengembangan kelapa sawit berkelanjutan di seminar nasional usung tema "Peluang dan Harapan Generasi Z dalam Menghadapi Masa Depan Kelapa Sawit Berkelanjutan", di acara memperingati Milad ke 60, Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara atau UISU. Sejumlah narasumber berkompeten hadir di seminar, yakni Dr H. Ali Jamil, Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian RI sekaligus Staf Ahli Bidang Infrastruktur Pertanian, Ir H. Irwan Perangin-angin, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Ir H. Syahril Pane, Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI Sumatera Barat, dan Dr Nurmawan, Kepala Peneliti Kelapa Sawit dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit atau PPKS. Seminar ini dipandu Dr. Syamsafitri, S.P., M.P., selaku moderator. Peserta seminar meliputi alumni, dosen, mahasiswa, dan berbagai stakeholder di bidang pertanian, khususnya kelapa sawit. Rektor UISU, Dr Safrida mengaku sangat mendukung kegiatan ini lantaran banyak sekali prestasi yang sudah dibuat FP UISU diantaranya program kreativitas mahasiswa, menang lomba inovasi internasional, dan hibah penelitian dosen.

Pelatihan SDM BPDPKS-Ditjenbun-BPI, Pekebun Sawit Sumsel Ditantang Jadi Juara Produktivitas Sawit
Sawit
Minggu, 28 April 2024 | 12:23 WIB

Pelatihan SDM BPDPKS-Ditjenbun-BPI, Pekebun Sawit Sumsel Ditantang Jadi Juara Produktivitas

Palembang, katakabar.com - Para pekebun kelapa sawit di daerah Provinsi Sumatera Selatan ditantang jadi juara produktivitas pada pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) kelapa sawit kolaborasi Badan Penglola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Ditjenbun dan Best Planter Indinesia (BPI). Untuk kesekian kali BPI gelar pelatihan SDM kelapa sawit bagi 4 Kabupaten yang berada di Sumatera Selatan, yakni Muba, OKI, Muara Enim, dan Lahat, pada 23 April 2024 lalu, di Hotel Swarna Dwipa Palembang atas penunjukkan dari BPDPKS dan Ditjenbun Jakarta. Direktur BPI Friyandito, SP, MM di pembukaan acara melaporkan, jumlah peserta pelatihan untuk tahun 2024 sebanyak 578 peserta. Rinciannya, Kabupaten Muba 154 peserta, Kabupaten OKI 256 peserta, Kabupaten Muara Enim 134 peserta dan Kabupaten Lahat 34 peserta, di mana semua peserta berasal para pekebun kelapa sawit dari berbagai koperasi. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Ir. Agus Darwa, M. Siyang yang buka resmi pelatihan SDM kelapa sawit ini, disaksikan Direktur Perlindungan Perkebunan yang diwakili Eva Lizarmi, SP hadir via zoom, Kepala Puslatan BPPSDMP yang diwakili Dr. M. ApukIsmane, S.Pi, M.Si, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Muba, Akhmad Toyibir S.STP, MM, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten OKI yang diwakili Sudirman, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Muara Enim, Holika, S.Sos, M.Si, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Lahat yang diwakili Destiaway Kartika dan Head of Seed Production & Comercial PT Sampoerna Agro Tbk, Zoelhermana Sembiring. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Ir. Agus Darwa, M. Siyang meminta peserta untuk banyak bersyukur, sebab mendapat pelatihan dengan biaya mahal tapi digratiskan untuk para pekebun sebagai upaya meningkatkan kemampuan pekebun untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Selain itu, Agus Darwa mengingatkan kita harus bangga lantaram menurut Undang Undang Dasar (UUD) 1945 para pekebun kelapa sawit dapat dikatagorikan melakukan bela negara karena terlibat dalam penyediaan pangan nasional. Pendiri Best Planter Indonesia, Heri DB memberikan catatan Sumatera Selatan sudah menjadi juara PSR Nasional, sebab capaian luas PSR sampai tahun 2023 telah mendekati 70.000 hektar, dan ini capaian tertinggi secara nasional. Tapi, ucap Heri, BPI sebagai lembaga pelatihan sawit memberi tantangan kepada para pekebun sawit Sumatera Selatan jangan hanya menjadi juar capaian luasan kebun mesti menjadi juara nasional capaian produktivitas. "Saat ini rata-rata produktivitas sawit rakyat secara nasional masih sangat rendah yaitu 2,5 ton hingga 3,5 ton CPO per Ha per tahun atau 12 hingga 16 ton TBS per hektar per tahun, dan ini masih memberi peluang untuk ditingkatkan menjadi 5 hingga 6 ton CPO per hektar per tahun atau 25 hingga 30 ton TBS per hektar per tahun," jelasnya Para pekebun, tambah Heri, agar menggunakan program PSR sebagai momentum untuk menaikkan produktivitas secara signifikan karena BPDPKS dan Ditjenbun telah fasilitasi biaya replanting (TBM 0) sekaligus pelatihan-pelatihan dengan materi sesuai yang dibutuhkan. Tim BPI yang sudah dan melatih 1000 pekebun kelapa sawit di Provinsi Sumatera Selatan selama 3 tahun berturut-turut hingga 2024 ini. Mengamati budaya kebun sudah terbentuk kepada para peserta pelatihan, ini terlihat di sesi diskusi kelas dan pada saat kunjungan belajar di lapangan. Jadi, Tim BPI optimis para pekebun kelapa sawit Sumatera Selatan mampu mewujudkan juara nasional produktivitas sawit rakyat dengan capaian 5 hingga 6 ton Crud Palm Oil (CPO) per hektar per tahun apabila, pertama menggunakan bibit unggul. Saat ini bagi yang sudah melaksanakan PSR hampir dipastikan sudah menggunakan bibit unggul. Kedua, menjaga populasi tanaman minimal bertahan 136 pokok per hektar dengan cara lebih antisipatif terhadap kemungkinan serangan Ganoderma yang bisa mengurangi populasi tanaman. Ketiga, memenuhi kebutuhan pupuk tanaman dengan cara menyisihkan biaya pupuk minimal 200 rupiah setiap kilogram Tandan Buah Segar (TBS) yang dijual, sehingga di setiap akhir tahun memiliki dana cadangan pupuk minimal Rp5 juta per hektar untuk pembelian pupuk berikutnya, pada akhirnya kekurangannya tidak terlalu besar, dan kalau bisa tidak utang lagi, beber Heri Kepala Dinas Perkebunan MUBA Akhmad Toyibir S.STP, MM seolah mengkonfirmasi pernyataan BPI seluas 10.000 hektar dari 19.000 hektar PSR yang sudah mulai panen telah memberikan hasil cukup baik, yakni 1,9 ton per hektar per bulan. Sedang, Eva Lizarmi, SP mewakili Direktur Perlindungan Perkebunan melalui zoom mengapresiasi kinerja BPI sebagai lembaga pelatihan sawit yang profesional dan meminta untuk terus memperbaiki kualitas pelatihan. Dr. M. ApukIsmane, S.Pi, M. Siyang mewakili Kapuslatan BPPSDMP berharap agar peserta pelatihan dapat menularkan ilmu yang diperoleh selama pelatihan kepada pekebun lain di tempat masing-masing.