Dovish

Sorotan terbaru dari Tag # Dovish

The Fed Makin Dovish, Mengapa Harga Emas Berpotensi Koreksi Pekan Depan? Internasional
Internasional
13 jam yang lalu

The Fed Makin Dovish, Mengapa Harga Emas Berpotensi Koreksi Pekan Depan?

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAUUSD) diperkirakan masih akan menjadi fokus utama pelaku pasar pada pekan depan. Analisis terbaru dari Dupoin Futures menunjukkan, harga emas berpotensi mengalami fase koreksi setelah mencatatkan penguatan yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, prospek jangka menengah logam mulia masih ditopang oleh sentimen fundamental yang relatif positif, terutama setelah data inflasi di tingkat produsen Amerika Serikat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan terburu-buru kembali menaikkan suku bunga. Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut berpotensi membuat pergerakan emas lebih dinamis, dengan kecenderungan melemah terlebih dahulu sebelum pasar menentukan arah selanjutnya. Dari sisi fundamental, kata Geraldo, emas (XAUUSD) masih mendapatkan dukungan setelah data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat periode Juli menunjukkan hasil yang tidak mengalami kenaikan. Data tersebut memberikan sinyal tekanan inflasi di tingkat produsen mulai mereda, sehingga pelaku pasar semakin optimistis bahwa bank sentral Amerika Serikat memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan atau bahkan melonggarkan kebijakan moneternya dalam beberapa bulan mendatang. "Meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed berikutnya menjadi faktor yang mampu menjaga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai, sekaligus berpotensi membatasi penguatan dolar AS," ujarnya. Menurut Dupoin Futures, sentimen tersebut sebenarnya masih memberikan fondasi yang cukup kuat bagi pergerakan harga emas (XAUUSD) dalam jangka menengah. Namun, setelah kenaikan harga yang cukup agresif sebelumnya, pasar diperkirakan mulai memasuki fase konsolidasi. Sebagian investor kemungkinan memilih merealisasikan keuntungan melalui aksi profit taking, sehingga tekanan jual dalam jangka pendek berpotensi meningkat. Kondisi seperti ini merupakan hal yang umum terjadi setelah reli panjang, ketika pelaku pasar mulai mengamankan keuntungan sambil menunggu katalis baru yang mampu mendorong harga bergerak lebih tinggi. Dalam analisis teknikal, Dupoin Futures menilai bahwa struktur pergerakan emas (XAUUSD) pada time frame Daily mulai menunjukkan sinyal pelemahan. Harga diketahui membentuk swing high baru yang mengindikasikan bahwa momentum kenaikan mulai kehilangan tenaga. Terbentuknya swing high tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas jual di area harga yang lebih tinggi, sehingga membuka peluang bagi pasar untuk bergerak lebih rendah dalam beberapa sesi perdagangan mendatang. Selain itu, pergerakan harga juga mulai membentuk secondary trend yang mengarah ke bawah. Geraldo Kofit menjelaskan bahwa kondisi ini menunjukkan adanya fase koreksi di tengah tren yang sebelumnya didominasi oleh kenaikan. Dalam proyeksi Dupoin Futures, area 4.220 menjadi level support sekaligus demand zone yang perlu dicermati oleh investor. Zona tersebut berpotensi menjadi titik munculnya kembali minat beli apabila tekanan jual mulai mereda dan pasar memperoleh sentimen positif baru. Sinyal pelemahan juga diperkuat oleh indikator Stochastic, yang saat ini bergerak turun menuju area oversold. Pergerakan indikator tersebut mencerminkan bahwa momentum bearish mulai meningkat dalam jangka pendek. Walaupun kondisi oversold nantinya dapat membuka peluang terjadinya rebound teknikal, Dupoin Futures menilai tekanan jual masih memiliki ruang untuk berlanjut selama belum muncul konfirmasi pembalikan arah yang lebih kuat. Meski proyeksi jangka pendek cenderung mengarah pada koreksi, Dupoin Futures menegaskan bahwa kondisi ini belum dapat diartikan sebagai perubahan tren utama menjadi bearish. Pelemahan harga lebih dipandang sebagai proses penyesuaian yang sehat setelah reli yang cukup panjang. Dalam siklus pasar, koreksi seperti ini sering menjadi bagian dari proses konsolidasi sebelum tren utama kembali berlanjut. Pada pekan depan, perhatian pelaku pasar juga diperkirakan masih akan tertuju pada sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat, termasuk perkembangan inflasi, data tenaga kerja, serta komentar dari para pejabat Federal Reserve. Setiap perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, yang selama ini menjadi faktor utama penentu arah harga emas (XAUUSD). Selain faktor ekonomi, dinamika geopolitik global juga tetap menjadi variabel yang tidak dapat diabaikan. Apabila ketidakpastian global kembali meningkat, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas berpotensi kembali menguat dan membatasi ruang pelemahan harga. Sebaliknya, apabila sentimen risiko membaik dan investor mulai kembali masuk ke aset berisiko, tekanan terhadap emas dapat berlanjut dalam jangka pendek. Secara keseluruhan, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa harga emas (XAUUSD) pada pekan depan masih memiliki peluang mengalami koreksi teknikal meskipun didukung oleh fundamental yang relatif kondusif. Ekspektasi The Fed akan bersikap lebih dovish setelah data PPI Amerika Serikat yang melandai masih menjadi sentimen positif bagi emas. Namun, terbentuknya swing high, munculnya secondary trend bearish, meningkatnya aksi profit taking, serta indikator Stochastic yang bergerak menuju area oversold menunjukkan tekanan jual masih berpotensi berlanjut menuju support 4.220. Oleh karena itu, investor dan trader disarankan untuk mencermati pergerakan harga di area tersebut sebagai acuan dalam menyusun strategi transaksi, sembari terus memantau perkembangan data ekonomi dan kebijakan moneter Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah pergerakan emas (XAUUSD) pada pekan depan.

S&P 500 Cetak Rekor, Data Naker Lemah Buka Peluang The Fed Lebih Dovish Serba Serbi
Serba Serbi
Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:05 WIB

S&P 500 Cetak Rekor, Data Naker Lemah Buka Peluang The Fed Lebih Dovish

Jakarta, katakabar.com - Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengawali pekan dengan sentimen positif setelah Wall Street mencatat penguatan dalam dua pekan berturut-turut. Indeks S&P 500 bahkan berhasil mencetak rekor baru, sementara Nasdaq Composite menjadi salah satu indeks dengan kinerja paling kuat berkat kembali bergairahnya saham-saham teknologi dan semikonduktor. Di perdagangan pekan lalu, S&P 500 menguat sekitar 3,6%, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 5,2%. Reli juga didukung oleh saham-saham yang berkaitan dengan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), termasuk sektor semikonduktor yang kembali menjadi motor penggerak pasar. Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve atau The Fed akan lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga setelah muncul tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS. Data Tenaga Kerja AS Jadi Perhatian Investor Sentimen pasar berubah setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan yang cukup tajam. Nonfarm payrolls pada Juli 2026 tercatat turun 23.000 pekerjaan, berlawanan dengan ekspektasi ekonom yang memperkirakan penambahan sekitar 80.000 pekerjaan. Selain penurunan payrolls, data sebelumnya juga mengalami revisi ke bawah. Pertumbuhan pekerjaan pada Mei direvisi dari 129.000 menjadi 63.000, sementara Juni direvisi dari 57.000 menjadi hanya 20.000. Tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,1% dari 4,2%, tetapi penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan turunnya tingkat partisipasi angkatan kerja. Data tersebut memberikan sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum. Bagi investor, kondisi ini justru dapat menjadi katalis positif bagi aset berisiko karena tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat menjadi lebih rendah. Pasar kini menilai peluang kenaikan suku bunga pada September semakin mengecil. Setelah data pekerjaan dirilis, probabilitas kenaikan suku bunga September di pasar futures turun ke kisaran 44%, dibandingkan sekitar 60% sebelumnya. Situasi ini mencerminkan fenomena “bad news is good news” bagi pasar saham. Data ekonomi yang lebih lemah dapat menjadi kabar buruk bagi pertumbuhan, tetapi sekaligus meningkatkan harapan bahwa The Fed tidak perlu menaikkan suku bunga lebih tinggi. Penurunan imbal hasil obligasi AS juga berpotensi memberikan dukungan bagi saham-saham teknologi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Inflasi Jadi Katalis Berikutnya Meski demikian, reli pasar belum sepenuhnya aman. Fokus investor kini beralih ke sejumlah indikator ekonomi penting yang akan dirilis sepanjang pekan ini, terutama data inflasi. Data Consumer Price Index (CPI) Juli akan menjadi perhatian utama karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed selanjutnya. Konsensus pasar memperkirakan inflasi utama berada di sekitar 3,4% secara tahunan, sementara inflasi inti diproyeksikan sekitar 2,5%. Jika data inflasi kembali menunjukkan perlambatan, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan yang lebih dovish dapat semakin menguat. Selain CPI, investor juga akan mencermati Producer Price Index (PPI), penjualan ritel, serta data sektor perumahan. PPI penting untuk melihat tekanan harga dari sisi produsen, sedangkan penjualan ritel dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan konsumsi rumah tangga AS. Jika kombinasi data tersebut menunjukkan inflasi yang terkendali dan aktivitas ekonomi yang mulai melambat secara terukur, ruang bagi The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga akan semakin terbuka. Sebaliknya, apabila inflasi kembali meningkat, pasar dapat kembali mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan berpotensi menekan valuasi saham. Dengan S&P 500 berada di level rekor dan Nasdaq mencatat kenaikan signifikan, investor perlu mencermati apakah reli saat ini dapat berlanjut atau justru memasuki fase konsolidasi. Kinerja laba perusahaan yang kuat masih menjadi fondasi penting bagi pasar, terutama setelah sebagian besar perusahaan S&P 500 melaporkan kinerja kuartal kedua yang melampaui ekspektasi. Pantau Pergerakan Saham AS, Kripto dan Emas di Nanovest Pergerakan Saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital saat ini bisa kamu cek melalui aplikasi Nanovest. Bagi kamu yang tertarik mulai berinvestasi di saham AS maupun mengeksplorasi aset kripto dan emas digital, Nanovest menawarkan akses ke berbagai pilihan aset dalam satu platform. Nanovest memungkinkan pengguna mulai berinvestasi dengan modal dari Rp5.000. Berdasarkan informasi di situs resminya, layanan aset kripto Nanovest disediakan oleh PT Tumbuh Bersama Nano yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sementara transaksi emas digital dilakukan melalui mitra yang berizin Bappebti. Dari sisi keamanan, Nanovest juga menyebut adanya perlindungan melalui Asuransi Sinarmas serta fitur keamanan NanoShield untuk membantu melindungi akun dan aset pengguna dari risiko keamanan siber. Bagi investor pemula, Nanovest dapat menjadi salah satu pilihan untuk mulai mengenal investasi secara bertahap. Aplikasi Nanovest tersedia di Google Play Store dan App Store, sehingga pengguna dapat memantau pasar dan mengelola investasi melalui satu aplikasi. Informasi lebih lanjut mengenai layanan dan produk Nanovest dapat ditemukan melalui situs resmi Nanovest. Disclaimer: Investasi memiliki risiko. Investor perlu memahami karakteristik dan risiko setiap aset sebelum mengambil keputusan investasi.

Harga Emas Sentuh Rekor Tertinggi, Pasar Fokus Sinyal Dovish The Fed Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 25 September 2025 | 14:07 WIB

Harga Emas Sentuh Rekor Tertinggi, Pasar Fokus Sinyal Dovish The Fed

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) kembali menjadi sorotan pasar global setelah mencatat reli kuat pada sesi perdagangan Amerika Utara pada Selasa malam (23/9). XAU/USD naik sekitar 0,73% dan sempat menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di $3.791, menyusul rilis data ekonomi AS yang melemah dan pernyataan bernada hati-hati dari Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. Hingga Rabu pagi (24/9), harga emas bertahan di kisaran $3.750-an, menegaskan sentimen bullish yang kian solid di tengah tekanan pada Dolar AS. Menurut Andy Nugraha, Analis Dupoin Futures Indonesia, indikator teknikal mendukung proyeksi kenaikan lanjutan harga emas. “Pola candlestick dan pergerakan Moving Average masih mengonfirmasi tren bullish yang kuat,” jelasnya. Andy memproyeksikan selama momentum beli tetap terjaga, XAU/USD berpotensi menembus $3.786 dalam jangka pendek. Namun, ia mengingatkan potensi terjadinya koreksi teknikal. “Jika tekanan beli melemah, harga dapat turun menguji $3.738 sebagai area support penting,” tambahnya. Fundamental makro juga menguatkan sentimen positif. Data Purchasing Managers Index (PMI) AS menunjukkan perlambatan aktivitas bisnis pada September, baik di sektor jasa maupun manufaktur. Angka PMI yang lebih lemah dari perkiraan memberi sinyal potensi pelemahan ekonomi, sehingga mendukung ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter yang lebih longgar dalam beberapa bulan ke depan. Dalam pidatonya, Jerome Powell menegaskan risiko negatif pada ketenagakerjaan telah “menggeser keseimbangan risiko,” yang menjadi salah satu alasan pemangkasan suku bunga minggu lalu. Ia menyebut pemangkasan itu mendorong kebijakan moneter ke arah yang lebih netral, meskipun inflasi masih cenderung tinggi. Powell menilai “efek inflasi akibat tarif akan relatif singkat,” dan menekankan bahwa arah kebijakan bank sentral tetap sangat bergantung pada data. Nada dovish juga terdengar dari pejabat The Fed lainnya. Raphael Bostic, Presiden The Fed Atlanta, terbuka pada ide revisi target inflasi, sementara Michelle Bowman memproyeksikan kemungkinan tiga kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2025 untuk menjaga kekuatan pasar tenaga kerja. Di sisi lain, Austan Goolsbee, Presiden The Fed Chicago, menekankan bahwa target inflasi 2% tetap prioritas utama.

Ekspektasi Kebijakan Dovish The Fed Perkuat Tren Bullish Emas Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 17 September 2025 | 08:31 WIB

Ekspektasi Kebijakan Dovish The Fed Perkuat Tren Bullish Emas

menilai tren bullish pada emas tetap dominan. Ia mengungkapkan, pergerakan harga emas saat ini masih ditopang oleh kombinasi sinyal candlestick dan indikator Moving Average yang mengindikasikan tekanan beli kuat. Andy memperkirakan momentum positif ini berpotensi membawa harga emas menembus area psikologis penting yang menjadi fokus investor. Tapi, ia menegaskan pentingnya mengantisipasi skenario koreksi apabila harga gagal mempertahankan laju penguatannya, dengan area support tertentu sebagai patokan utama untuk mengukur kekuatan tren. Selain menantikan keputusan FOMC, pelaku pasar juga memantau agenda ekonomi lain yang dapat memengaruhi pergerakan emas, seperti rilis data Penjualan Ritel AS. Di sisi politik, perhatian publik tertuju pada proses pemungutan suara di Senat AS terkait pencalonan Dr. Stephen Miran untuk kursi Federal Reserve. Jika disetujui, Miran dapat langsung berpartisipasi dalam pertemuan kebijakan pekan ini. Di tengah dinamika tersebut, mantan Presiden Donald Trump bahkan menyuarakan dorongan agar The Fed memangkas suku bunga lebih besar daripada yang diantisipasi Powell, menambah spekulasi di kalangan investor. Sementara, hasil survei University of Michigan terbaru menunjukkan penurunan indeks sentimen konsumen yang mencerminkan meningkatnya pesimisme masyarakat terhadap prospek ekonomi AS. Ekspektasi inflasi jangka pendek memang tetap tinggi, namun proyeksi inflasi jangka panjang justru menunjukkan kenaikan, menegaskan kekhawatiran akan risiko resesi. Kombinasi faktor fundamental dan teknikal ini memperkuat pandangan bahwa emas akan tetap menjadi aset yang dilirik menjelang pengumuman penting The Fed.