ETF Bitcoin

Sorotan terbaru dari Tag # ETF Bitcoin

ETF Bitcoin Kehilangan Miliaran Dolar: BI Naikkan Suku Bunga dan Investor Diminta Waspadai Volatilitas Pasar Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 18 Juni 2026 | 14:30 WIB

ETF Bitcoin Kehilangan Miliaran Dolar: BI Naikkan Suku Bunga dan Investor Diminta Waspadai Volatilitas Pasar

Jakarta, katakabar.com - Pasar aset digital dan pasar keuangan global memasuki periode volatilitas lebih tinggi di pekan kedua Juni 2026. Tekanan berasal dari keluarnya arus dana besar dari ETF Bitcoin di Amerika Serikat, pelemahan harga Bitcoin dan Ethereum, serta meningkatnya kehati-hatian investor akibat dinamika ekonomi global dan domestik. Market Outlook FLOQ di minggu kedua bulan Juni 2026, mencatat arus keluar dana dari ETF Bitcoin menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar. Sejak pertengahan Mei, ETF Bitcoin AS tercatat mengalami outflow sekitar US$4,4 miliar atau setara lebih dari 59.000 BTC dalam periode 13 hari perdagangan berturut-turut. Kondisi tersebut turut menekan harga Bitcoin yang sempat bergerak di bawah level psikologis US$60.000 sebelum kembali menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Harga BTC per hari ini berada di kisaran US$66.000 dengan kapitalisasi pasar (market cap) sekitar US$1,3 triliun. Sementara, Ethereum juga mengalami koreksi meskipun aktivitas fundamental di dalam ekosistemnya masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. "Pasar saat ini sedang berada dalam fase yang sangat dipengaruhi oleh sentimen makro dan arus dana institusi. Namun menariknya, di tengah tekanan harga, indikator fundamental seperti pertumbuhan staking Ethereum dan aktivitas akumulasi institusi masih menunjukkan tren yang positif," ujar Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ. Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian pasar adalah langkah perusahaan Strategy yang sempat menjual 32 BTC pada awal Juni. Meski jumlah tersebut relatif kecil dibanding total kepemilikan mereka, pasar sempat merespons negatif karena dianggap bertentangan dengan strategi akumulasi jangka panjang yang selama ini identik dengan perusahaan tersebut. Tetapi sentimen tersebut berbalik setelah Strategy kembali melakukan pembelian sekitar 1.550 BTC senilai lebih dari US$100 juta hanya beberapa hari kemudian. "Aksi Strategy menunjukkan bahwa investor institusi masih aktif memanfaatkan koreksi pasar untuk melakukan akumulasi. Ini menjadi pengingat bahwa pergerakan jangka pendek sering kali dipengaruhi oleh headline, sementara keputusan investasi institusi umumnya tetap berorientasi jangka panjang," jelasnya. Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada keputusan Bank Indonesia yang menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan terhadap nilai tukar. Langkah Bank Indonesia memberikan dampak langsung terhadap sentimen pasar domestik. Setelah sempat mengalami tekanan tajam, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan pemulihan terbatas pasca pengumuman kenaikan suku bunga. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi arah investasi ke depan, termasuk perkembangan geopolitik global, arah kebijakan moneter negara-negara besar, serta pergerakan arus modal internasional. Para investor perlu memperhatikan bahwa pergerakan aset digital saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan industri blockchain, tetapi juga oleh faktor ekonomi makro yang lebih luas seperti inflasi, suku bunga, dan aliran modal global. Bagi investor pemula, pendekatan akumulasi bertahap atau dollar cost averaging (DCA) dinilai tetap relevan dalam menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif. Sementara bagi trader, disiplin manajemen risiko menjadi faktor penting mengingat pasar masih bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan berita dan sentimen. Di sisi lain, investor jangka panjang dinilai masih dapat melihat perkembangan positif dari sisi fundamental industri. Pertumbuhan staking Ethereum yang mencapai rekor baru serta aktivitas akumulasi oleh sejumlah institusi besar menunjukkan bahwa adopsi aset digital dan teknologi blockchain terus berkembang meskipun pasar sedang mengalami fase konsolidasi. "Volatilitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pasar. Yang terpenting bagi investor adalah memahami risiko, menjaga disiplin strategi, dan tetap fokus pada tujuan investasi jangka panjang," terang Yudho.

ETF Bitcoin: Peluang dan Risiko Mesti Diketahui Investor Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 16 Oktober 2024 | 20:20 WIB

ETF Bitcoin: Peluang dan Risiko Mesti Diketahui Investor

Jakarta, katakabar.com - Mungkin kamu sudah sering mendengar tentang Bitcoin, aset kripto yang sangat populer di kalangan investor dan teknologi. Tapi, sudahkah kamu mendengar tentang exchange-traded fund (ETF) Bitcoin? Apa sebenarnya ETF Bitcoin itu, dan bagaimana cara kerjanya dalam dunia investasi? Di artikel ini, kita bahas secara mendalam tentang definisi ETF Bitcoin dan cara kerjanya. Kita bakal kupas keuntungan serta kerugian yang perlu kamu pertimbangkan sebelum memutuskan untuk berinvestasi di dalamnya.

Mengulik Dampak ETF Bitcoin Pada Harga Bitcoin dan Industri Kripto Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 10 Agustus 2024 | 21:19 WIB

Mengulik Dampak ETF Bitcoin Pada Harga Bitcoin dan Industri Kripto

Jakarta, katakabar.com - ETF Bitcoin di Amerika Serikat telah menunjukkan performa mengesankan dengan total pembelian lebih dari $84 juta selama bulan Juli. Tren ini menandai upaya berkelanjutan dari investor untuk terlibat dalam ruang kripto, pasca disetujuinya instrumen ini oleh Komisi Sekuritas dan Bursa AS pada Januari lalu. Optimisme terhadap masa depan kripto pun semakin meningkat berkat kehadiran ETF Bitcoin.

Peluang Besar Bagi Indonesia Thailand Setujui ETF Bitcoin Spot Pertama Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 07 Juni 2024 | 21:01 WIB

Peluang Besar Bagi Indonesia Thailand Setujui ETF Bitcoin Spot Pertama

Jakarta, katakabar.com - Thailand telah mengambil langkah maju signifikan hal adopsi aset digital dengan menyetujui Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin Spot pertama di negaranya, sekaligus menjadi yang pertama di kawasan Asia Tenggara. Ini menandakan transisi penting dalam regulasi dan penerimaan aset kripto di wilayah tersebut. ETF Bitcoin Spot ini diluncurkan One Asset Management (ONEAM), perusahaan manajemen aset terkemuka di Thailand, dan menawarkan alternatif investasi yang aman dan teregulasi bagi investor yang ingin mendapatkan eksposur ke Bitcoin. CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis, menyambut baik persetujuan ETF Bitcoin Spot di Thailand dan melihatnya sebagai pertanda positif bagi masa depan aset kripto di Indonesia. Menurutnya, ETF ini memberikan harapan untuk menarik minat dari investor institusional dan individu yang mencari cara aman dan teregulasi untuk berinvestasi dalam Bitcoin. "Persetujuan ETF Bitcoin Spot di Thailand ini memberikan harapan yang luas untuk adopsi kripto di Indonesia," kata Yudho. "Ini menunjukkan bahwa regulator di kawasan ini mulai menerima kripto sebagai kelas aset yang sah dan semakin terbuka terhadap potensinya," ujarnya. Perkembangan ini, cerita Yudho, dapat membuka peluang bagi peluncuran produk investasi ETF kripto di Indonesia. Dia menjelaskan perkembangan ini bisa menjadi pendorong utama bagi regulator di Indonesia untuk mempertimbangkan langkah serupa. “Adopsi kripto di Indonesia bisa mendapatkan dorongan signifikan dengan adanya produk ETF Bitcoin Spot. Hal ini dapat memberikan opsi investasi yang lebih aman dan teregulasi bagi masyarakat Indonesia,” beber Yudho. "Dengan melihat perkembangan regulator di negara lain, seperti Thailand, Hong Kong, Australia, dan Amerika Serikat, yang sudah menyetujui ETF kripto, maka kemungkinan besar Indonesia akan mengikuti langkah yang sama," tambahnya. Langkah Penting Persetujuan ETF Bitcoin Spot di Thailand memang menjadi langkah penting dalam evolusi aset kripto di Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi kripto mulai berkembang dan semakin matang, dan membuka jalan bagi adopsi yang lebih luas di masa depan. Perpindahan pengawasan dan pengaturan kripto dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga dapat membawa dampak positif bagi industri kripto di Indonesia. OJK memiliki pengalaman dan sumber daya yang lebih luas dalam mengawasi pasar keuangan, sehingga diharapkan dapat memberikan regulasi yang lebih komprehensif dan efektif untuk industri kripto. "Saat ini, pengawasan dan pengaturan kripto di Indonesia berada di bawah Bappebti. Tapi, waktu dekat pengawasan ini berpindah ke OJK. Perpindahan ini bisa membuka peluang bagi produk investasi ETF kripto di Indonesia, mengingat regulator negara lain sudah mulai menyetujuinya," ulas Yudho Wakil Ketua Umum Asosiasi Blockchain & Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo-ABI). Sentimen disetujuinya ETF Bitcoin di Thailand juga menjadi salah satu pendorong harga BTC menembus US$71.000 atau sekitar Rp1,15 miliar pada Rabu (5/6) sekitar pukul 09:00 WIB pagi. Hal ini menunjukkan kepercayaan yang semakin besar dari investor terhadap aset digital tersebut, yang dipicu oleh adanya produk investasi yang lebih aman dan teregulasi. Momentum ini tidak hanya memberikan keuntungan bagi pasar kripto Thailand tapi menimbulkan optimisme di pasar global, termasuk Indonesia, yang melihat peluang serupa untuk mendorong adopsi kripto dan menarik lebih banyak investor. Melihat perkembangan di Thailand, ada peluang besar bagi Indonesia untuk mengikuti jejak tersebut. Dengan regulasi yang tepat, ETF Bitcoin Spot dapat menarik lebih banyak investor institusional dan ritel yang selama ini ragu karena masalah keamanan dan regulasi. Selain itu, persetujuan ETF Bitcoin Spot dapat meningkatkan likuiditas pasar kripto di Indonesia dan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk berinvestasi dalam aset digital. Ini dapat memposisikan Indonesia sebagai pemain utama dalam ekosistem kripto di Asia Tenggara. Kontak: Bianda Ludwianto - Public Relations Tokocrypto +62856-9267-2993 [email protected]