IRRDB

Sorotan terbaru dari Tag # IRRDB

Holding PTPN Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Gelar IRRDB Socio-Economic Seminar 2026 Internasional
Internasional
Selasa, 04 Agustus 2026 | 11:39 WIB

Holding PTPN Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Gelar IRRDB Socio-Economic Seminar 2026

Bali, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara melalui Pusat Penelitian Karet, entitas dari Holding Perkebunan Nusantara, bekerja sama dengan International Rubber Research and Development Board (IRRDB) gelar IRRDB Socio-Economic Seminar 2026 pada 30 Juni hingga 2 Juli 2026 di Hotel Aryaduta, Kuta, Bali. Usung tema "Strengthening Economic Resilience and Value Addition in the Global Natural Rubber Supply Chain", seminar ini menjadi forum internasional yang mempertemukan para peneliti, pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas tantangan serta peluang dalam pengembangan industri karet alam global. Seminar ini dihadiri sejumlah tamu yang mewakili pemerintah, asosiasi industri, dan organisasi internasional, di antaranya Wakil Sekretaris Jenderal IRRDB, Dr. Wan Abdul Rahaman, Direktur Hasil Hutan dan Industri Perkebunan Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, Direktur Sabah Rubber Industry Board (Malaysia), Ketua International Rubber Consortium (IRCo), Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), dan Ketua Asosiasi Produsen Ban Indonesia (APBI). Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut semakin menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dan lintas negara dalam mendorong kemajuan industri karet alam yang berdaya saing dan berkelanjutan. Seminar dibuka dengan sambutan dari Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), Dr. Iman Yani Harahap, yang menyoroti berbagai tantangan global yang saat ini memengaruhi industri karet, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga meningkatnya biaya produksi. Dr. Iman Yani Harahap menyampaikan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah memberikan dampak nyata terhadap pasar energi dunia, yang berujung pada kenaikan harga minyak serta meningkatnya biaya produksi di berbagai sektor. "Sebagai produsen karet alam terbesar kedua di dunia, Indonesia menghadapi tantangan berupa meningkatnya biaya logistik, transportasi, serta harga pupuk yang semakin membebani sektor perkebunan karet. Melalui seminar ini, kami berharap lahir berbagai gagasan, rekomendasi, dan solusi praktis untuk menjawab tantangan sosial ekonomi yang terus berkembang dalam industri karet global," ujar Dr. Iman Yani Harahap. Seminar ini diikuti lebih dari 80 peserta yang berasal dari negara Jepang, Malaysia, Thailand, India, Singapura, Sri Lanka, Vietnam dan Indonesia. Peserta berasal dari berbagai kalangan, termasuk lembaga penelitian, perusahaan perkebunan dan industri karet, asosiasi petani, organisasi internasional, lembaga pembangunan, perguruan tinggi, serta instansi pemerintah dan perbankan. Kehadiran beragam institusi tersebut mencerminkan kuatnya sinergi kolaborasi lintas negara dan lintas sektor dalam mendukung pengembangan industri karet alam yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing. Selama tiga hari pelaksanaan seminar, peserta mengikuti pemaparan materi utama, sesi teknis, diskusi ilmiah, dan berbagi pengalaman yang menghadirkan para pakar dari negara-negara anggota IRRDB, organisasi internasional, akademisi, serta pelaku industri karet. Melalui penyelenggaraan seminar ini, IRRDB bersama PT Riset Perkebunan Nusantara berharap dapat memperkuat sinergi internasional dalam merumuskan strategi yang mampu meningkatkan ketahanan ekonomi, keberlanjutan, nilai tambah, serta daya saing industri karet alam di tingkat global.

Palembang Jadi Perhatian, Holding PTPN Dorong Kolaborasi Riset Global Lewat PT RPN dan IRRDB Nasional
Nasional
Selasa, 04 November 2025 | 19:30 WIB

Palembang Jadi Perhatian, Holding PTPN Dorong Kolaborasi Riset Global Lewat PT RPN dan IRRDB

Palembang, katakabar.com - Palembang jadi pusat perhatian dunia industri karet dengan digelarnya Workshop International Rubber Research and Development Board (IRRDB) 2025 yang berlangsung pada 20 hingga 22 Oktober 2025 lalu. Kegiatan yang digelar PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) bersama IRRDB ini mempertemukan para peneliti, akademisi, dan pelaku usaha dari berbagai negara produsen karet seperti Malaysia, India, Filipina, Kamboja, dan Indonesia. Angkat tema “Facing Challenges in the Natural Rubber Industry: Combating Diseases and Seizing Opportunities”, forum internasional ini menghasilkan kesepakatan penting mengenai penguatan kolaborasi riset, inovasi teknologi, dan hilirisasi produk untuk meningkatkan daya saing industri karet serta kesejahteraan petani. Selama tiga hari, peserta berdiskusi dan bertukar pengetahuan mengenai strategi pengendalian penyakit tanaman karet, pengembangan varietas unggul, budidaya adaptif berbasis ekonomi sirkular, hingga optimalisasi bahan organik sebagai pupuk alami. Menjawab Tantangan Industri Karet Dunia Ketua Gapkindo Sumatera Selatan, Alex K. Edy, menyoroti tantangan berat yang dihadapi industri karet nasional. Ia menyebutkan penurunan produksi dan harga jual yang masih rendah membuat banyak petani beralih ke komoditas lain seperti sawit, tebu, atau singkong. “Sejak 2017 lalu, produksi karet nasional terus menurun. Dari 3,8 juta ton kini hanya sekitar 2 juta ton pada 2024. Harga jualnya pun masih rendah, di kisaran Rp13 ribu per kilogram, padahal idealnya bisa mencapai dua kali lipat,” ujar Alex. Ia menambahkan, meningkatnya produksi karet sintetis di beberapa negara seperti Tiongkok turut menekan permintaan terhadap karet alam. “Jika tidak ada langkah nyata dalam riset dan inovasi, petani bisa kehilangan motivasi menanam karet,” tegasnya. SEVP Riset, Inovasi & Sustainability PT RPN, Tjahjono Herawan, menegaskan pentingnya riset kolaboratif lintas negara untuk memperkuat ketahanan industri karet global. Menurutnya, kerja sama antarnegara produsen karet harus diarahkan pada penerapan hasil riset secara nyata di lapangan. “Industri karet tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan kerja sama yang berkelanjutan antara lembaga riset, pemerintah, pelaku usaha, dan petani agar inovasi benar-benar berdampak pada peningkatan daya saing dan keberlanjutan industri,” kata Tjahjono. Komitmen Kolaboratif dan Aksi Nyata Sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), PT RPN memperkuat perannya sebagai pusat inovasi yang mendorong modernisasi sektor perkebunan nasional. Forum ini menghasilkan komitmen bersama antara PT RPN dan IRRDB untuk menyusun rencana aksi jangka panjang dalam memperkuat riset, hilirisasi, dan ketahanan industri karet alam di kawasan Asia Tenggara. “Riset, hilirisasi, dan kerja sama lintas negara harus menjadi fondasi utama agar Indonesia, khususnya Sumatera Selatan, tetap menjadi rumah bagi inovasi dan kemajuan industri karet dunia,” sebut Tjahjono. Kegiatan ditutup dengan kunjungan lapangan ke Kebun Musilandas PTPN I Regional 7 Banyuasin, di mana para peserta menyaksikan langsung praktik pengelolaan perkebunan karet berbasis hasil riset nasional.