ITSEC Asia

Sorotan terbaru dari Tag # ITSEC Asia

ITSEC Asia Luncurkan ITSEC Cyber & AI Academy, Siapkan Talenta Indonesia Amankan dan Pimpin Era AI Tekno
Tekno
Kemarin

ITSEC Asia Luncurkan ITSEC Cyber & AI Academy, Siapkan Talenta Indonesia Amankan dan Pimpin Era AI

Jakarta, katakabar.com - PT ITSEC Asia Tbk (ITSEC Asia) (IDX: CYBR), perusahaan cybersecurity dengan pengalaman 16 tahun, resmi luncurkan ITSEC Cyber & AI Academy di kantor pusat ITSEC Asia, Jakarta. Academy ini hadir untuk memperkuat talenta cybersecurity dan AI Indonesia melalui pembelajaran berbasis praktik, pengalaman dunia nyata dan teknologi yang dirancang untuk kebutuhan profesional dan organisasi. Peluncuran ini dihadiri sejumlah pejabat pemerintah dan perwakilan institusi nasional, yakni Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia; Edwin Hidayat, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia; Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia; Tiar Nabilla Karbala, Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang UMKM dan Teknologi Digital; serta Marsekal Pertama TNI I Ketut S. Wahyu Wijaya, M.A., Komandan Satuan Siber TNI AU, yang mewakili Marsekal TNI M. Tonny Harjono, S.E., M.M., Kepala Staf Angkatan Udara. Acara ini juga dihadiri oleh para pemimpin industri, profesional teknologi, mitra dan rekan-rekan media. Percepatan digitalisasi dan adopsi artificial intelligence (AI) membuat kebutuhan terhadap talenta yang mampu mengembangkan sekaligus mengamankan teknologi semakin besar. Organisasi membutuhkan profesional yang dapat menghadapi ancaman siber, menguji ketahanan sistem, membangun solusi berbasis AI serta memahami aspek keamanan dan tata kelola teknologi. Kondisi tersebut menempatkan pengembangan talenta cybersecurity dan AI sebagai bagian dari kesiapan Indonesia menghadapi ekonomi digital. Pemerintah juga terus mendorong pengembangan talenta digital dan AI untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam mengembangkan dan memanfaatkan teknologi. “Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital pada 2030, sementara saat ini kita baru memiliki sekitar 3 juta. Kesenjangan ini tidak dapat diatasi oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri dan institusi pendidikan untuk menyiapkan talenta yang dibutuhkan Indonesia di tengah pertumbuhan ekonomi digital. Inisiatif seperti ITSEC Cyber & AI Academy dapat menjadi bagian dari upaya tersebut dengan memperkuat kesiapan talenta di bidang cybersecurity dan AI,” kata Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. Kurun 16 tahun, ITSEC Asia telah membangun pengalaman dalam membantu organisasi menghadapi berbagai tantangan cybersecurity. Melalui ITSEC Cyber & AI Academy, pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi pembelajaran yang dirancang untuk membantu profesional mengembangkan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. "Selama 16 tahun, ITSEC Asia telah berada di garis depan cybersecurity. Sekarang kami membawa pengalaman tersebut ke dalam pengembangan talenta yang akan menjadi bagian dari generasi berikutnya yang menjaga masa depan digital Indonesia," ujar Patrick Dannacher, President Director ITSEC Asia. "Tantangan cybersecurity dan AI terus berkembang. Karena itu, kita membutuhkan lebih banyak profesional yang mampu memahami teknologi secara praktis, mengamankannya dan menggunakannya secara bertanggung jawab. ITSEC Cyber & AI Academy merupakan bagian dari komitmen kami untuk berkontribusi pada penguatan kapabilitas digital Indonesia," jelsnya. Dengan filosofi "We don't just train defenders. We create them.", Academy menggunakan pendekatan practitioner-led yang menempatkan pengalaman praktis sebagai bagian utama dari proses pembelajaran. Peserta dapat mengikuti perjalanan pengembangan kompetensi yang mencakup asesmen, pembelajaran, praktik dan evaluasi. “Indonesia memiliki kekuatan besar dalam bentuk data. Namun, data baru menjadi kekuatan strategis ketika kita memiliki kemampuan untuk melindunginya dan menggunakannya dengan tepat. AI dapat membantu kita menyelesaikan berbagai persoalan yang relevan bagi Indonesia, tetapi hal tersebut membutuhkan talenta yang memahami teknologi sekaligus data yang menjadi dasarnya,” ujar Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Defend & Attack. Build & Govern. ITSEC Cyber & AI Academy memiliki dua fokus utama yang dirancang untuk menjawab kebutuhan kompetensi di era digital. Cybersecurity Academy: Defend & Attack membangun kemampuan untuk memahami, menguji, mempertahankan dan merespons ancaman siber. Pendekatan ini memberikan peserta perspektif defensif dan ofensif agar mereka memahami bagaimana sistem dilindungi sekaligus bagaimana kerentanan dapat ditemukan dan diuji. AI Academy: Build & Govern berfokus pada kemampuan membangun, menerapkan dan mengelola teknologi AI dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan tata kelola. Pendekatan ini menjawab kebutuhan organisasi yang semakin banyak menggunakan AI dalam proses bisnis dan pengambilan keputusan. Yulius C. Rusli, President Director ITSEC Cyber & AI Academy, mengatakan bahwa pendekatan Academy dirancang berdasarkan kebutuhan nyata yang dihadapi profesional di lapangan. "Kami membangun Academy dengan pendekatan yang berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan. Peserta tidak hanya mempelajari konsep cybersecurity dan AI, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menguji kemampuan melalui asesmen, pembelajaran adaptif dan simulasi yang dirancang menyerupai kondisi yang mereka hadapi dalam pekerjaan." "Ekosistem teknologi seperti AKSI, CAKRA, SAKTI, PERISAI dan JAGA memungkinkan kami membangun perjalanan pembelajaran yang lebih terukur, mulai dari mengidentifikasi kompetensi hingga menguji kemampuan dalam skenario yang realistis." Didukung Ekosistem Teknologi dari Asesmen hingga Simulasi Untuk mendukung perjalanan pembelajaran tersebut, ITSEC Cyber & AI Academy menghadirkan ekosistem teknologi yang mencakup asesmen, pembelajaran, pengembangan kompetensi, simulasi dan cyber awareness. AKSI (Asesmen Kompetensi Sistematis dan Integratif) digunakan untuk mengidentifikasi kompetensi kandidat, termasuk kemampuan teknis, aptitude dan soft skills. CAKRA (Capaian Akademik Kompetensi Siber Resiliensi Akselerasi) mendukung pengelolaan pembelajaran dan kompetensi dalam satu lingkungan pembelajaran. Untuk pembelajaran berbasis AI, SAKTI (Sistem AI untuk Kompetensi, Teknologi, dan Inovasi) menyediakan jalur pembelajaran adaptif untuk AI, cybersecurity, intelligence, data dan programming, termasuk evaluasi yang dipersonalisasi serta fitur proctoring dan anti-cheating. Sementara, PERISAI (Platform Emulasi Realistik untuk Intelijen Siber dan Ancaman Infrastruktur) menyediakan cyber range berbasis AI untuk mensimulasikan skenario cybersecurity, AI security dan intelligence. JAGA (Jaringan Awareness dan Governance untuk Aset Nasional) mendukung kebutuhan cyber awareness organisasi melalui simulasi phishing berbasis AI, pelatihan interaktif dan analitik kinerja. Ekosistem tersebut memungkinkan Academy menghubungkan proses asesmen, pembelajaran, praktik, simulasi dan evaluasi dalam satu perjalanan pengembangan kompetensi. Membangun Pipeline Talenta Indonesia Peluncuran ITSEC Cyber & AI Academy menjadi bagian dari perluasan kontribusi ITSEC Asia terhadap ekosistem digital Indonesia. Pengembangan talenta cybersecurity dan AI membutuhkan kolaborasi antara industri, pemerintah, institusi pendidikan dan komunitas teknologi agar kemampuan profesional dapat terus mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja. Dengan membawa pengalaman 16 tahun di bidang cybersecurity ke dalam pendidikan dan pengembangan kompetensi, ITSEC Asia ingin membantu memperkuat pipeline talenta yang dibutuhkan Indonesia untuk menghadapi ancaman siber sekaligus memanfaatkan AI secara aman dan bertanggung jawab. ITSEC CyberTalent: Mendukung Talenta Muda Indonesia Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui ITSEC CyberTalent, sebuah inisiatif yang mendukung talenta muda Indonesia dengan potensi di bidang cybersecurity melalui akses terhadap pembelajaran, pendampingan dan pengalaman industri. Pada peluncuran ITSEC Cyber & AI Academy, ITSEC Asia memberikan dukungan kepada Ibrahim Al Abrar, pelajar asal Boyolali, Jawa Tengah, yang menerima Letter of Appreciation dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) setelah menemukan dan melaporkan kerentanan keamanan pada salah satu sistem publik NASA melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP). Dukungan yang diberikan meliputi perangkat pendukung untuk menunjang pembelajaran cybersecurity, sesi pelatihan privat bersama para ahli cybersecurity ITSEC Asia serta kesempatan menjalani program magang di ITSEC Asia setelah memenuhi persyaratan yang berlaku. "Selama 16 tahun kami melihat bahwa talenta hebat dapat lahir dari mana saja. Tantangan terbesar sering kali bukan kemampuan, melainkan akses terhadap pembelajaran, pendampingan dan kesempatan. Melalui ITSEC CyberTalent, kami ingin membantu talenta muda Indonesia terus berkembang sehingga mereka dapat berkontribusi bagi keamanan digital Indonesia di masa depan," ujar Patrick Dannacher. Melalui kehadiran ITSEC Cyber & AI Academy dan inisiatif ITSEC CyberTalent, ITSEC Asia memperkuat komitmennya untuk mendukung pengembangan talenta cybersecurity dan AI Indonesia, baik melalui pendidikan yang terstruktur maupun dukungan langsung kepada individu yang menunjukkan potensi luar biasa di bidang tersebut. ITSEC Cyber & AI Academy akan terus mengembangkan program pembelajaran, memperluas kolaborasi dengan berbagai institusi serta menghadirkan berbagai inisiatif pengembangan talenta untuk mendukung kebutuhan sumber daya manusia cybersecurity dan AI di Indonesia.

ITSEC Asia dan PT Len Industri Satukan Kekuatan Teknologi dan Talenta Perkuat Ketahanan Siber Indonesia Nasional
Nasional
Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09 WIB

ITSEC Asia dan PT Len Industri Satukan Kekuatan Teknologi dan Talenta Perkuat Ketahanan Siber Indonesia

Jekarta, katakabar.com - Melalui dua kolaborasi strategis, kedua perusahaan menggabungkan kapabilitas riset dan pengembangan, solusi keamanan siber serta pengembangan kompetensi di bidang cybersecurity dan AI PT ITSEC Asia Tbk (ITSEC Asia) (IDX: CYBR) bersama anak perusahannya ITSEC Cyber & AI Academy menjalin kolaborasi strategis dengan PT Len Industri (Persero) untuk memperkuat pengembangan teknologi dan talenta di bidang keamanan siber dan kecerdasan artifisial (AI). Kerja sama tersebut mencakup dua fokus utama, yaitu riset dan pengembangan serta penyediaan solusi keamanan siber dan pengembangan kompetensi melalui program pendidikan dan pelatihan cybersecurity dan AI. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan dua Nota Kesepahaman di Bandung pada 30 April 2026. Nota Kesepahaman pertama antara PT Len Industri (Persero) dan ITSEC Asia berfokus pada pengembangan teknologi dan solusi keamanan siber, sedangkan Nota Kesepahaman kedua dengan ITSEC Cyber & AI Academy mencakup program pendidikan, pelatihan dan pengembangan kompetensi di bidang keamanan siber dan AI. Kerja sama ini dilakukan di tengah meningkatnya perhatian terhadap ancaman keamanan siber sebagai bagian dari tantangan keamanan nasional. Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto baru-baru ini mengingatkan ancaman modern tidak lagi terbatas pada perang konvensional, tetapi juga mencakup perang siber dan perang informasi. Bahkan, Kepala Negara menekankan pentingnya penguasaan AI, sistem siber dan teknologi modern lainnya untuk menghadapi perkembangan ancaman tersebut. Peningkatan ancaman tersebut menunjukkan kebutuhan untuk membangun kapabilitas keamanan siber melalui pengembangan teknologi yang diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia. PT Len Industri (Persero), ITSEC Asia dan ITSEC Cyber & AI Academy akan mempertemukan keahlian masing-masing untuk menjawab kedua kebutuhan tersebut. Sebagai induk Holding Industri Pertahanan DEFEND ID sekaligus perusahaan teknologi nasional, PT Len Industri (Persero) terus memperkuat kapabilitas di bidang teknologi digital dan keamanan siber sebagai bagian dari pengembangan teknologi strategis nasional. Penguatan aspek keamanan siber menjadi semakin penting untuk menjaga keandalan sistem, melindungi infrastruktur digital, serta mendukung pengembangan produk pertahanan yang aman, tangguh, dan berdaya saing. Melalui kolaborasi ini, PT Len Industri (Persero) juga mendorong peningkatan inovasi serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia di bidang cybersecurity dan artificial intelligence (AI). President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengatakan kolaborasi dengan PT Len Industri (Persero) mencerminkan kebutuhan untuk memperkuat kapabilitas keamanan siber melalui pengembangan teknologi dan sumber daya manusia secara bersamaan. “Ancaman siber berkembang dengan sangat cepat, sementara teknologi yang kita gunakan juga terus berubah dengan hadirnya AI. Indonesia membutuhkan kapabilitas teknologi sekaligus talenta yang mampu mengembangkan, mengelola dan mengamankannya. Melalui kolaborasi dengan PT Len Industri (Persero), kami ingin menggabungkan pengalaman dan keahlian masing-masing pihak, mulai dari riset dan pengembangan teknologi hingga mempersiapkan talenta cybersecurity dan AI yang dibutuhkan Indonesia,” ujar Patrick. Soal pengembangan teknologi, jelasnya, ITSEC Asia dan PT Len Industri (Persero) akan menggabungkan kemampuan, sumber daya dan keahlian masing-masing untuk melakukan riset dan pengembangan teknologi keamanan siber, serta mengembangkan solusi yang mencakup layanan konsultasi dan produk keamanan siber. "Ruang lingkup kerja sama juga mencakup penyediaan, implementasi, integrasi dan pengelolaan layanan serta produk teknologi keamanan siber sesuai proyek yang disepakati kedua pihak," tuturnya. Sedang pada sisi pengembangan talenta, ITSEC Cyber & AI Academy dan PT Len Industri (Persero) akan mengembangkan program pendidikan dan peningkatan kompetensi di bidang keamanan siber dan AI, mencakup pelatihan, workshop, seminar, sertifikasi serta program lainnya sesuai kebutuhan dan kesepakatan para pihak. Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Prof. Joga Dharma Setiawan, Ph.D., menyampaikan kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk mensinergikan keunggulan, kompetensi, sumber daya, dan keahlian yang dimiliki kedua belah pihak dalam mengembangkan inovasi teknologi keamanan siber serta menghadirkan program pendidikan, pelatihan, dan pengembangan kompetensi di bidang Cybersecurity dan Artificial Intelligence (AI). "Melalui kolaborasi ini, kedua pihak juga berkomitmen menghadirkan layanan konsultasi serta solusi dan produk keamanan siber yang terintegrasi secara efektif dan berkelanjutan. Selain itu, kerja sama ini diharapkan dapat mencetak talenta digital yang unggul dan berkontribusi pada penguatan ekosistem keamanan siber nasional," terang Joga. Patrick menimpali kesiapan menghadapi perkembangan ancaman siber akan sangat ditentukan oleh kemampuan Indonesia dalam membangun kapabilitas teknologi dan sumber daya manusia. “Kami ingin melihat lebih banyak teknologi, keahlian dan talenta dikembangkan di Indonesia untuk menjawab kebutuhan Indonesia. Melalui kolaborasi seperti ini, kami berharap dapat memperkuat kemampuan dalam negeri untuk mengembangkan dan mengamankan teknologi yang semakin strategis bagi masa depan Indonesia,” sebut Patrick.

Mengapa Pen-Test Tahunan Sudah Tidak Lagi Cukup di Tengah Lanskap Ancaman Siber Terus Berubah? Tekno
Tekno
Selasa, 16 Juni 2026 | 18:34 WIB

Mengapa Pen-Test Tahunan Sudah Tidak Lagi Cukup di Tengah Lanskap Ancaman Siber Terus Berubah?

Jakarta, katakabar.com - Transformasi digital membuat bisnis bergerak semakin cepat. Sayangnya, pendekatan keamanan yang digunakan oleh banyak organisasi masih berjalan dengan ritme yang sama seperti satu dekade lalu. Tidak sedikit orang yang rutin melakukan medical check-up setiap tahun untuk memastikan kondisi kesehatannya tetap baik. Tetapi, tidak ada yang benar-benar berasumsi bahwa hasil pemeriksaan tersebut menjamin semuanya akan baik-baik saja selama setahun penuh. Kondisi tubuh bisa berubah. Pola hidup berubah. Risiko penyakit baru dapat muncul sewaktu-waktu. Lantaran itu, menjaga kesehatan bukan hanya soal melakukan pemeriksaan tahunan, tetapi juga soal pemantauan dan kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Prinsip yang sama berlaku dalam dunia keamanan siber. Selama bertahun-tahun, penetration test tahunan telah menjadi praktik yang umum dilakukan perusahaan. Organisasi menjadwalkan assessment, menerima laporan, melakukan perbaikan, lalu mengulang proses yang sama pada tahun berikutnya. Pada masanya, pendekatan ini cukup memadai karena lingkungan teknologi belum berubah secepat sekarang. Tetapi situasinya berbeda saat ini. Cloud semakin banyak digunakan. API menjadi fondasi berbagai layanan digital. Tim pengembang merilis fitur baru secara berkala, sementara integrasi dengan pihak ketiga semakin kompleks. Dalam kondisi seperti ini, permukaan serangan sebuah organisasi juga berubah secara terus-menerus. Sebuah sistem yang dinyatakan aman enam bulan lalu bisa saja memiliki profil risiko yang sangat berbeda hari ini. Hal tersebut memunculkan pertanyaan yang mulai banyak diajukan para pemimpin keamanan informasi: Apakah melakukan penetration test setahun sekali masih cukup? Menurut Patrick Dannacher, President Director ITSEC Asia, keamanan siber pada dasarnya bukanlah sesuatu yang bersifat statis. "Penetration test tradisional tetap memiliki peran yang sangat penting. Tetapi, lingkungan digital saat ini berubah jauh lebih cepat dibandingkan frekuensi assessment yang dilakukan sebagian besar organisasi. Karena itu, organisasi membutuhkan visibilitas yang lebih berkelanjutan terhadap risiko yang terus berkembang," ujarnya. Pada dasarnya, penetration test memberikan gambaran kondisi keamanan pada suatu titik waktu tertentu. Hasil tersebut tetap memiliki nilai yang sangat penting, tetapi tidak selalu merepresentasikan kondisi lingkungan yang sama beberapa bulan kemudian. Aplikasi mengalami pembaruan. Infrastruktur berubah. Layanan baru ditambahkan. Integrasi baru dilakukan. Setiap perubahan tersebut berpotensi menghadirkan risiko yang sebelumnya tidak ada. Hal ini bukan berarti penetration test tradisional sudah tidak relevan. Sebaliknya, pengalaman dan kreativitas seorang ethical hacker masih menjadi komponen yang sangat berharga dalam menemukan kelemahan sebelum dimanfaatkan oleh pelaku ancaman. Tantangan utamanya terletak pada kecepatan perubahan lingkungan digital yang kini jauh lebih tinggi dibandingkan frekuensi assessment yang dilakukan. Sedang, pelaku kejahatan siber tidak bekerja berdasarkan jadwal audit atau kebutuhan compliance perusahaan. Mereka secara aktif melakukan scanning terhadap aset yang terhubung ke internet, memantau kerentanan yang baru dipublikasikan, dan mencari celah yang dapat dimanfaatkan. Kurun beberapa tahun terakhir, waktu antara sebuah kerentanan diumumkan dan upaya eksploitasi pertama dilakukan menjadi semakin singkat. Dalam banyak kasus, serangan sudah mulai terjadi hanya dalam hitungan jam atau beberapa hari setelah kerentanan dipublikasikan. Kondisi tersebut menciptakan ketimpangan yang cukup besar. Organisasi memvalidasi keamanan secara berkala. Sementara penyerang mengujinya setiap saat. Itu sebabnya, semakin banyak organisasi mulai mengubah cara pandangnya terhadap keamanan siber. Penetration test tahunan tetap penting, tetapi tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya mekanisme untuk memahami tingkat risiko yang dimiliki organisasi. Konsep continuous security validation mulai mendapatkan perhatian lebih besar. Pendekatan ini memungkinkan organisasi memperoleh visibilitas yang lebih baik terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan mereka serta mendeteksi potensi risiko lebih awal. Tujuannya bukan menggantikan penetration test tradisional, melainkan melengkapinya. ITSEC Asia meyakini masa depan offensive security akan ditentukan oleh kolaborasi antara manusia dan artificial intelligence. "Masa depan offensive security bukan tentang manusia melawan AI. Justru kombinasi Human dan AI memungkinkan organisasi memperoleh visibilitas yang lebih baik serta menjalankan validasi keamanan secara lebih konsisten di tengah lingkungan yang terus berubah," tambah Patrick. Sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan yang semakin AI-driven, PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR) memperkenalkan Bronyx.ai, platform AI-powered autonomous penetration testing yang dirancang untuk membantu organisasi menjalankan continuous security validation melalui kombinasi kemampuan Human dan AI. Bronyx.ai memungkinkan organisasi memperoleh hasil pengujian yang lebih cepat, cakupan validasi yang lebih luas, serta laporan yang siap mendukung kebutuhan audit dan compliance. Dengan pendekatan tersebut, organisasi dapat menjaga tingkat keamanan yang lebih konsisten seiring berkembangnya lingkungan digital dan meningkatnya kompleksitas ancaman. Saatnya Beralih ke Pendekatan Lebih Berkelanjutan Pada akhirnya, tujuan utama keamanan siber bukan sekadar memenuhi kewajiban compliance atau menghasilkan laporan tahunan. Paling penting adalah memastikan bahwa organisasi memiliki visibilitas terhadap risiko yang terus berkembang. Sama seperti menjaga kesehatan, keamanan siber bukan sesuatu yang cukup diperiksa setahun sekali. Karena pertanyaan yang paling penting saat ini bukan lagi apakah sistem aman enam bulan yang lalu. Melainkan, apakah sistem tersebut masih aman hari ini. Bagi organisasi yang ingin memahami bagaimana pendekatan continuous security validation dapat diterapkan di lingkungan mereka, informasi lebih lanjut mengenai Bronyx.ai dapat diakses melalui https://bronyx.ai. Untuk menjadwalkan sesi diskusi dan demo bersama para spesialis ITSEC Asia, kunjungi https://itsec.asia/contact.