Komitmen
Sorotan terbaru dari Tag # Komitmen
Membangun Bersama Indonesia: Apa Diungkap Komitmen Jangka Panjang Google Tentang Kemitraan Teknologi Dibutuhkan Negara
berita utama. Sejarah justru akan mengingat kemitraan yang membantu memperkuat kapasitas Indonesia untuk berinovasi, bersaing, dan berkembang dengan caranya sendiri.
Kemitraan Indonesia-India: Saatnya Ubah Komitmen Jadi Hasil Nyata
Jakarta, katakabar.com - Kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi ke Indonesia menjadi kesempatan penting untuk mengangkat salah satu kemitraan strategis yang paling besar potensinya di Asia, tetapi hingga kini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagai dua negara demokrasi besar, kekuatan maritim, anggota G20, serta suara penting bagi negara-negara Global South, Indonesia dan India sesungguhnya memiliki modal yang sangat kuat untuk membangun hubungan yang jauh lebih erat. Tetapi, berbagai capaian kerja sama selama ini masih belum sepenuhnya mencerminkan potensi yang dimiliki kedua negara. Karena itu, kunjungan ini dapat menjadi titik balik yang penting—apabila Indonesia dan India mampu melampaui simbolisme diplomatik dan mulai melembagakan kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, konektivitas, keamanan maritim, serta hubungan antarmasyarakat secara lebih konkret dan berkelanjutan. Dari Kemitraan Strategis Menuju Konvergensi Strategis Hubungan kedua negara memperoleh momentum yang sangat kuat ketika Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke India pada Januari 2025, bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–India. Dalam kunjungan tersebut, kedua negara menandatangani lima kesepakatan yang mencakup kerja sama di bidang kesehatan, pengobatan tradisional, transformasi digital, keamanan maritim, serta pertukaran budaya. Kehadiran Presiden Prabowo sebagai Tamu Kehormatan pada peringatan Hari Republik India semakin menegaskan pentingnya posisi Indonesia dalam strategi Indo-Pasifik India. Namun demikian, pertanyaan yang lebih besar adalah apakah berbagai capaian tersebut mampu menghasilkan lompatan besar (quantum leap) dalam hubungan bilateral. Jawabannya bergantung pada kemampuan kedua negara mengubah hubungan yang selama ini banyak ditopang oleh kedekatan diplomatik menjadi kemitraan yang berakar pada saling ketergantungan ekonomi, teknologi, dan inovasi. Secara historis, Indonesia dan India memiliki hubungan peradaban yang sangat kuat serta saling memahami dalam berbagai isu politik internasional. Kerja sama selama masa perjuangan antikolonial, keterlibatan dalam semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung, serta dukungan terhadap terciptanya tatanan dunia yang lebih multipolar telah membangun fondasi yang kokoh bagi hubungan kedua negara. Kurun beberapa tahun terakhir, hubungan tersebut terus berkembang melalui peningkatan kerja sama maritim dan pertahanan, bertambahnya minat terhadap produk pertahanan India, perluasan pertukaran budaya dan pendidikan, dukungan India terhadap konservasi Candi Prambanan, meningkatnya investasi India di Indonesia, penjajakan mekanisme perdagangan menggunakan mata uang lokal, hingga kerja sama antara Indian Coast Guard dan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (BAKAMLA). Meski demikian, berbagai tantangan masih membatasi perkembangan hubungan bilateral. Nilai perdagangan kedua negara masih jauh di bawah potensi yang sebenarnya, sementara investasi India di Indonesia masih tertinggal dibandingkan investasi dari Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, maupun Singapura. Karena itu, hubungan Indonesia–India selama ini sering dipandang memiliki arti strategis yang besar, tetapi belum berkembang secara optimal dari sisi ekonomi. Mengapa Momentum Saat Ini Berbeda? Terdapat sejumlah perkembangan global yang membuat situasi saat ini jauh lebih menguntungkan dibandingkan sebelumnya. Salah satunya adalah semakin kuatnya peran Indonesia dan India sebagai pemimpin negara-negara Global South. Sebagai dua negara berkembang dengan perekonomian besar, keduanya memiliki kepentingan yang sama dalam mendorong reformasi tata kelola global, memperjuangkan pembiayaan iklim yang lebih adil, meningkatkan akses terhadap pendanaan pembangunan, memperkuat ketahanan pangan, serta memperluas akses terhadap teknologi. Ketika globalisasi menghadapi tekanan akibat rivalitas geopolitik, fragmentasi rantai pasok, dan meningkatnya proteksionisme, Indonesia dan India memiliki peluang untuk bersama-sama memperjuangkan tatanan ekonomi global yang lebih inklusif. Berbeda dengan banyak kemitraan Global South lainnya yang sering berhenti pada tataran retorika, Indonesia dan India memiliki skala ekonomi serta pengaruh diplomatik yang cukup besar untuk benar-benar memengaruhi arah berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, maupun ASEAN. Bidang lain yang memiliki prospek besar adalah ketahanan pangan dan energi. Kedua negara sama-sama menghadapi tantangan berupa inflasi pangan, fluktuasi harga energi, serta dampak perubahan iklim. Indonesia merupakan produsen utama minyak sawit, nikel, batu bara, dan berbagai komoditas strategis lainnya, sementara India merupakan salah satu pasar konsumen terbesar di dunia. Investasi bersama di bidang pengolahan pangan, pupuk, energi terbarukan, biofuel, hingga pembangunan cadangan strategis akan memperkuat ketahanan kedua negara terhadap berbagai guncangan global. Justru karena didorong oleh kepentingan jangka panjang, sektor pangan dan energi berpotensi menjadi salah satu pilar kerja sama yang paling kokoh dalam hubungan Indonesia–India di masa depan. Baik, berikut Bagian 2 dengan gaya yang tetap mengalir seperti artikel asli, tanpa memecah paragraf menjadi banyak bagian pendek. Keamanan Maritim dan Industri Pertahanan Dimensi maritim menawarkan salah satu peluang paling strategis dalam hubungan Indonesia dan India. Berada di jalur masuk Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok, Indonesia menempati posisi yang sangat penting dalam geopolitik Indo-Pasifik. Di sisi lain, India terus memperluas keterlibatan maritimnya ke arah timur melalui kebijakan Act East Policy dan strategi Indo-Pasifiknya. Kedua negara memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga kebebasan bernavigasi, meningkatkan kesadaran situasional maritim (maritime domain awareness), memberantas penangkapan ikan ilegal, memerangi pembajakan dan kejahatan lintas negara, memperkuat ketahanan rantai pasok, serta meningkatkan kemampuan penanggulangan bencana. Tahap berikutnya dari kerja sama ini seharusnya tidak lagi terbatas pada latihan militer bersama, tetapi berkembang menuju kolaborasi industri pertahanan, pembangunan fasilitas pemeliharaan bersama, produksi bersama, serta alih teknologi. Keinginan Indonesia untuk mendiversifikasi sumber pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) juga membuka peluang baru bagi berbagai platform dan teknologi pertahanan dari India. Kemitraan Digital Berpotensi Mengubah Permainan Bidang yang mungkin paling menjanjikan dalam hubungan Indonesia–India saat ini adalah kerja sama digital. Peluncuran Indonesia Open Network (ION) yang terinspirasi dari Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India merupakan salah satu contoh nyata transfer pengetahuan mengenai Digital Public Infrastructure (DPI). Keberhasilan India membangun berbagai layanan publik digital, mulai dari sistem identitas hingga infrastruktur pembayaran, telah menarik perhatian banyak negara. Dengan ekonomi digital yang terus berkembang pesat, Indonesia menjadi mitra yang sangat tepat untuk mengadaptasi berbagai inovasi tersebut sesuai kebutuhan nasional. Agenda kerja sama ke depan dapat diperluas mencakup pengembangan Digital Public Infrastructure, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), keamanan siber, teknologi finansial (fintech), digitalisasi UMKM, hingga pengembangan keterampilan digital. Di tengah semakin ketatnya persaingan teknologi global, keberhasilan kemitraan digital Indonesia–India bahkan berpotensi menjadi model kolaborasi bagi negara-negara Global South. Tantangan Masih Harus Diatasi Meski prospeknya sangat besar, terdapat sejumlah hambatan yang masih membatasi perkembangan hubungan kedua negara. Tantangan pertama adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat dan dunia usaha mengenai satu sama lain. Banyak pelaku bisnis India yang justru lebih mengenal pasar Eropa, Amerika Utara, atau kawasan Teluk dibandingkan Indonesia. Sebaliknya, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang masih memandang India hanya melalui perspektif sejarah dan budaya, tanpa memahami perkembangan ekonomi, teknologi, dan industrinya saat ini. Oleh karena itu, kedua negara memerlukan lebih banyak lembaga yang mampu menjembatani pertukaran gagasan secara berkelanjutan, seperti think tank, pusat kajian, maupun kemitraan akademik. Tantangan berikutnya berkaitan dengan persepsi. Sejumlah pemangku kepentingan di Indonesia masih memandang bahwa sebagian pihak di India terkadang melihat hubungan bilateral melalui perspektif “keunggulan peradaban”, dengan terlalu menonjolkan pengaruh sejarah India terhadap budaya Indonesia. Narasi semacam ini, meskipun tidak selalu disengaja, dapat menimbulkan kesan yang kurang setara. Indonesia modern adalah negara yang berdaulat dengan identitas dan pencapaiannya sendiri. Karena itu, hubungan Indonesia–India di masa depan harus dibangun sebagai kemitraan antara dua negara yang setara, bukan berdasarkan hubungan pewaris dan penerima warisan budaya. Dari sisi dunia usaha, perusahaan-perusahaan India juga masih menghadapi berbagai kendala dalam memahami dinamika regulasi dan lingkungan bisnis di Indonesia. Dibandingkan perusahaan dari Jepang maupun Tiongkok, jaringan bisnis India di Indonesia dinilai masih relatif terbatas. Berbagai tantangan yang sering disampaikan antara lain proses administrasi yang lambat, dukungan fasilitasi bisnis yang belum optimal, hambatan dalam pengadaan pemerintah, ketentuan tender tertentu yang berkaitan dengan standar OECD, hingga masih terbatasnya informasi pasar yang tersedia. Selain itu, terdapat pula pandangan bahwa kapasitas diplomasi ekonomi dan promosi bisnis India masih memerlukan penguatan agar mampu bersaing dengan negara-negara lain yang telah lebih dahulu aktif di Indonesia. Mobilitas manusia juga masih menjadi pekerjaan rumah. Interaksi bisnis selama ini masih didominasi oleh jajaran eksekutif senior. Padahal, hubungan jangka panjang akan jauh lebih kuat apabila diikuti oleh semakin banyak perpindahan mahasiswa, peneliti, profesional muda, pendiri startup, serta tenaga kerja terampil antara kedua negara. Interaksi yang lebih luas akan membangun pemahaman yang lebih mendalam sekaligus menciptakan kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan langsung terhadap keberhasilan hubungan Indonesia–India. Tidak hanya itu, hubungan bilateral masih membutuhkan lebih banyak proyek unggulan (flagship projects) yang mampu menunjukkan manfaat nyata bagi masyarakat. Tiongkok dikenal melalui pembangunan infrastrukturnya, Jepang melalui kawasan industri, dan Korea Selatan melalui ekosistem manufakturnya. India juga memerlukan proyek-proyek berskala besar yang mudah dikenali publik, seperti taman teknologi, pusat layanan kesehatan unggulan, laboratorium kecerdasan buatan bersama, kemitraan universitas bergaya Indian Institutes of Technology (IIT), maupun pusat manufaktur farmasi. Tanpa proyek-proyek yang nyata dan mudah terlihat, persepsi publik akan selalu tertinggal dibandingkan kemajuan diplomasi yang sebenarnya telah dicapai. Dapatkah Kunjungan Modi Menghasilkan Lompatan Besar? Lompatan besar (quantum leap) dalam hubungan Indonesia–India sangat mungkin terjadi, tetapi tidak akan terwujud secara otomatis. Keberhasilannya bergantung pada kemampuan kedua negara mengubah hubungan yang selama ini bertumpu pada niat baik diplomatik menjadi kemitraan yang menghasilkan capaian nyata. Setidaknya terdapat tiga prioritas utama yang perlu diwujudkan. Pertama, membangun kemitraan komprehensif di bidang teknologi dan ekonomi digital yang berfokus pada kecerdasan buatan, Digital Public Infrastructure, dan inovasi. Kedua, menghadirkan proyek-proyek unggulan di bidang kesehatan, pendidikan, dan teknologi yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus menunjukkan komitmen India terhadap Indonesia. Ketiga, memperdalam kerja sama maritim dan industri pertahanan sehingga hubungan kedua negara menjadi salah satu pilar utama stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Indonesia dan India saat ini memiliki konvergensi kepentingan yang sangat kuat, mulai dari kepemimpinan di Global South, kepentingan menjaga keamanan maritim, kebutuhan memperkuat ketahanan pangan dan energi, hingga ambisi menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi masa depan. Kunjungan Presiden Prabowo ke India pada 2025 telah menciptakan momentum yang positif. Kini, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi memberikan kesempatan untuk mengubah momentum tersebut menjadi transformasi strategis yang nyata. Keberhasilan hubungan kedua negara pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh banyaknya deklarasi yang dibuat, melainkan oleh kemampuan mengatasi kesenjjangan pengetahuan, hambatan birokrasi, dan berbagai kesalahpahaman, sambil menghadirkan proyek-proyek nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Apabila hal tersebut dapat diwujudkan, kemitraan Indonesia–India berpotensi berkembang menjadi salah satu hubungan bilateral paling penting di kawasan Indo-Pasifik sekaligus menjadi contoh nyata kerja sama praktis antarnegara Global South pada dekade mendatang. *Gurjit Singh adalah mantan Duta Besar India untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN. Sebagai diplomat karier dan penulis, ia dikenal sebagai salah satu pengamat terkemuka mengenai kawasan Indo-Pasifik, kebijakan luar negeri India, serta kerja sama strategis regional. Ia juga merupakan penulis buku The Mango Flavour: India, ASEAN and the Act East Policy.
Resmikan Breeding Area Gajah Sumatera di PLG Minas, Polda Riau Perkuat Komitmen Jaga Kelestarian Satwa dan Hutan
Minas, katakabar.com - Komitmen menjaga kelestarian Gajah Sumatera di Provinsi Riau terus diperkuat. Polda Riau bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau meresmikan Breeding Area Gajah Sumatera di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Minas, Kabupaten Siak, Rabu (12/8). Kehadiran fasilitas ini menjadi langkah strategis dalam mendukung program pengembangbiakan satwa dilindungi sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem hutan di 'Bumi Lancang Kuning' nama lain dari Riau. Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, yang meresmikan fasilitas tersebut. Ia tak sendirian tetapi didampingi Ketua Bhayangkari Daerah Riau, Ny. Tina Hery Heryawan bersama Kepala BBKSDA Riau, Supartono di kawasan Pusat Konservasi Gajah, Jalan PLG, Kelurahan Minas Jaya, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Hadir pula Wakapolda Riau, Brigjen Pol Hengki Haryadi, pejabat utama Polda Riau, jajaran BBKSDA Riau, Kapolres Siak, AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar, unsur TNI, pemerintah daerah, pengelola konservasi, WWF Indonesia, serta sejumlah tamu undangan. Prosesi diawali dengan sambutan Kapolda Riau, dilanjutkan pembukaan tirai papan nama Breeding Area Gajah Sumatera, penyerahan fasilitas secara simbolis, foto bersama, hingga pemotongan pita sebagai tanda diresmikannya fasilitas tersebut. Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, menegaskan pembangunan breeding area menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian Gajah Sumatera yang populasinya terus menghadapi berbagai tantangan akibat penyusutan habitat. "Alhamdulillah, berkat kerja sama yang selama ini kita bangun dan didukung oleh Dansat Brimob beserta jajarannya, hari ini kita dapat menghadirkan satu momentum sejarah melalui peresmian breeding area Gajah Sumatera di Pusat Konservasi Minas," ujar Irjen Pol Herry. Menurutnya, konservasi tidak hanya berfokus pada perlindungan satwa, tetapi juga memastikan habitatnya tetap terjaga. Karena itu, sinergi antara kepolisian, BBKSDA, pemerintah, komunitas konservasi, dan masyarakat menjadi kunci menjaga kelestarian alam Riau. "Gajah Sumatera merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaannya menjadi indikator bahwa hutan masih mampu menyediakan ruang hidup bagi berbagai satwa dan tumbuhan," jelasnya. Ia menegaskan gajah dan harimau merupakan satwa yang menjadi simbol identitas ekosistem Riau sehingga harus dijaga secara bersama-sama melalui kolaborasi lintas sektor. Sedang, Kepala BBKSDA Riau, Supartono mengapresiasi dukungan Kapolda Riau yang dinilai memiliki perhatian besar terhadap upaya konservasi satwa liar di Riau. Ia mengungkapkan, pembangunan kandang breeding bermula dari kunjungan Kapolda Riau ke Pusat Konservasi Gajah Minas beberapa waktu lalu. Saat itu, Kapolda menanyakan bentuk dukungan yang paling dibutuhkan untuk pengembangan konservasi gajah. "Kami sampaikan selama ini berbagai upaya konservasi sudah dilakukan. Kini tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan keberhasilan pengembangbiakan gajah. Karena itu, kami membutuhkan kandang breeding," jelas Supartono. Saat ini, BBKSDA Riau mengelola sekitar 46 ekor gajah jinak (captive) yang tersebar di sejumlah pusat konservasi. Sebanyak 14 ekor berada di PLG Minas, lima ekor di PLG Sebanga, tiga ekor di PLG Taman Wisata Buluh Cina, tujuh ekor di Taman Nasional Tesso Nilo, tiga ekor di Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo, tujuh ekor di RAPP, dan enam ekor di Sinar Mas. Kata Supartono, program pengembangbiakan gajah sebelumnya telah membuahkan hasil di beberapa lokasi meski masih menghadapi tantangan. Di PLG Sebanga misalnya, anak gajah yang sempat lahir akhirnya mati karena sakit. Sementara di Buluh Cina, program breeding berhasil menghasilkan kelahiran anak gajah. Dengan hadirnya fasilitas breeding di Minas, peluang keberhasilan pengembangbiakan Gajah Sumatera diharapkan semakin besar karena dilakukan secara lebih terarah, terpantau, dan didukung sarana yang memadai. "Harapan kami, besar kemungkinan kandang breeding ini juga akan berhasil di Minas sehingga mampu mendukung pelestarian Gajah Sumatera di Riau," ucapnya. Pembangunan Breeding Area Gajah Sumatera menjadi bukti nyata komitmen Polda Riau dukung pelestarian satwa liar beserta habitatnya. Fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat pengembangbiakan, tetapi juga menjadi simbol kuat sinergi berbagai pihak dalam menjaga keberlangsungan Gajah Sumatera sebagai bagian penting dari ekosistem hutan Riau. Dari Minas, lahir sebuah harapan baru. Bukan sekadar membangun kandang, melainkan membangun masa depan bagi Gajah Sumatera agar tetap lestari dan hidup berdampingan dengan alam yang menjadi rumahnya.
Raih Dua Penghargaan SIEXPO 2026, Bukti BPDP Komitmen Dukung UMKM Sawit
Pekanbaru, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), BLU Kemenkeu kukuhkan komitmen majukan industri kelapa sawit nasional dengan meraih dua penghargaan sekaligus di kegiatan SIEXPO (Sawit Indonesia Expo & Conference) 2026 yang berlansung di COEX Convention and Exhibition Center, Pekanbaru, Riau pada 6 hingga 8 Agustus 2026 lalu. Apresiasi tersebut diberikan atas kinerja serta kontribusi nyata BPDP, khususnya dalam kategori Dukungan program UMKM Sawit di wilayah Riau dan Best Hospitality Penghargaan diberikan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang diwakili Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah. Penghargaan ini menjadi wujud pengakuan atas kerja keras seluruh tim BPDP dalam menghadirkan pelayanan terbaik serta komitmen berkelanjutan untuk memperkuat ekosistem komoditas sawit dari hulu hingga hilir. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas penghargaan yang diraih ini. "Kita bangga BPDP mendapatkan dua penghargaan di Siexpo 2026. Ini merupakan salah satu bentuk apresiasi dan kita akan terus bekerja keras. Kita akan terus berkolaborasi membangun UMKM Perkebunan naik kelas agar berkontribusi dalam upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen sebagaimana ditargetkan Presiden Prabowo Subianto” ucap Helmi Dari Januari 2026 sampai bulan Juli 2026 Dukungan BPDP untuk program UMKM Sawit di wilayah Riau antara lain Workshop Gen-Z Sawit kerja sama dengan SAMADE di Pekanbaru Riau pada 8 hingga 9 Februari 2026, Workshop Peningkatan Kapasitas Pelaku Usaha Wanita Perkebunan Untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan Keluarga di Bidang Oleofood di Pekanbaru Riau pada 2 hingga 3 Maret 2026 lalu, Kegiatan Inovasi Sawit Untuk Perempuan “Praktik Membuat Fresh Care dari Sawit, Snack Stik dari Umbut Sawit dan Mengolah Lidi Sawit Siap Ekspor bagi Perempuan dan UMKM Petani Sawit“ di Kampar, Riau pada 31 Maret 2026, Workshop & Praktek Produksi Batik Sawit se Provinsi Riau “Melalui Batik, Menumbuhkan Kreatifitas dan Brand Baru Berbasis Turunan Kelapa Sawit” pada 21 hingga 22 April 2026, Praktik dan Pembuatan Pupuk Solid dan Tandan Kosong Kelapa Sawit Ramah Lingkungan di Pekanbaru Riau pada 17 hingga 18 Juni 2026 serta Promosi Diversifikasi Produk Turunan Kelapa Sawit di Wilayah Riau Melalui Program Inkubasi Bisnis Sawit Baik di Dumai Riau pada 30 Juni hingga 3 Juli 2026. Pada kegiatan SIEXPO 2026 booth BPDP menampilkan beragam produk UMKM Sawit serta mainan edukasi dari sawit dan turunannya seperti Clay Sawit dengan kandungan kelapa sawit fungsinya untuk membuat clay tidak keras, Kanvas melukis terbuat dari tangkos kelapa sawit, Mainan Balok dari batang sawit serta Rumah Bongkar pasang dari tangkos sawit. Booth BPDP juga dikunjungi berbagai stakeholders untuk berkomunikasi terkait program-program BPDP. Nampak Hadir di booth antara lain Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, Pj Gubernur Riau SF Hariyanto, Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho, Bupati Rokan Hilir, Bistaman, Perwakilan Asosiasi Petani, Perguruan Tinggi, Pelaku UMKM dan para Mahasiswa. Melalui sinergi yang terus dibangun BPDP optimistis dapat membawa industri sawit Indonesia ke arah yang lebih inklusif, berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi para pelaku usaha di berbagai daerah.
Komitmen Vale Indonesia Dorong Penguatan Rantai Pasok Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional
Jakarta, katakabar.com - Kolaborasi yang kuat antara dunia usaha, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan menjadi fondasi utama dalam mendorong proyek hilirisasi mineral di Indonesia. Sebagai bagian dari upaya mempererat sinergi tersebut, PT Vale yang merupakan anggota Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, mencatatkan sejumlah lompatan penting dalam ikhtiar hilirisasi nikel. Belum lama ini, Vale menghadirkan komponen utama autoclave, yang menjadi fase krusial dalam pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah. Diharapkan, pabrik yang dibangun dalam tiga jalur produksi (Line A, B, dan C) ini mencapai first mechanical completion pada akhir 2026. Capaian ini mempertegas komitmen hilirisasi Indonesia yang berdaya saing tinggi, berbasis standar hijau, serta mampu mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi daerah. Adapun, proyek ini menjadi bagian Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, salah satu proyek strategis nasional dalam mendorong hilirisasi mineral di Indonesia dengan total investasi US$2 miliar. Pengamat tambang dan energi, Ferdy Hasiman menilai pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) sudah menjadi kebutuhan strategis bagi pelaku industri nikel, bukan lagi sekadar pilihan. Menurutnya, perusahaan yang tidak berinvestasi pada proyek hilirisasi berisiko tertinggal dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang kini berkembang pesat. "Sebagian besar belanja modal (capex) perusahaan tambang saat ini memang diarahkan untuk pembangunan HPAL karena fasilitas ini akan menjadi tulang punggung ekosistem kendaraan listrik. Sejauh ini, MIND ID melalui Vale termasuk yang paling agresif mengembangkan proyek tersebut," kata Ferdy. Ia menambahkan pemerintah dan Danantara juga telah aktif mendorong percepatan hilirisasi dengan dukungan investasi bernilai triliunan rupiah. Menurut Ferdy, agresivitas Vale turut didukung pengalaman jajaran manajemen yang memahami pengembangan proyek HPAL. “Di samping itu, (Vale juga diuntungkan dengan) beberapa perusahaan nikel (swasta) lain memang tidak terlalu agresif sejak 2 tahun terakhir. Kemungkinan besar regulasi kita yang sering berubah-ubah,” jelasnya. Hilirisasi yang dijalankan tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan nilai tambah ekonomi mineral, melainkan menetapkan standar baru dalam kolaborasi lintas negara. Diharapkan, adanya kemitraan strategis Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok dapat diselaraskan dengan tata kelola lingkungan rendah karbon dan keberlanjutan sosial. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM & Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan apa yang sudah dicapai Vale bukan hanya sebuah fasilitas industri, melainkan ekosistem hilirisasi yang lengkap dan berkelanjutan. “Proyek hilirisasi Vale menempatkan standar baru dalam kolaborasi internasional yang selaras dengan kepentingan nasional: membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, serta menciptakan nilai tambah tinggi yang mendukung agenda Net Zero Emissions," jelasnya. Semangat mendukung hilirisasi mineral dan ekosistem kendaraan listrik nasional, secara tidak langsung juga akan mendorong efek ganda untuk daerah, seperti Kabupaten Morowali dan Sulawesi Tengah. Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny Arniwaty Lamadjido, mengapresiasi pengembangan kawasan industri yang tidak hanya berfokus pada dorongan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan perhatian besar pada aspek sosial dan kualitas hidup masyarakat. “Kolaborasi yang memberi ruang bagi UMKM lokal serta keterbukaan terhadap fasilitas publik menjadi model pembangunan kawasan industri yang inklusif dan berkelanjutan bagi Sulawesi Tengah," imbuhnya.
Perkuat Komitmen Keberlanjutan, PTPN IV Regional III Tuntaskan Penanaman 9.000 Pohon di Riau
Pekanbaru, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) lewat Subholding PTPN IV PalmCo terus perkuat komitmen dukung pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Di antara implementasinya diwujudkan melalui PTPN IV Regional III yang telah menuntaskan penanaman sedikitnya 9.000 bibit pohon di berbagai wilayah operasional di Provinsi Riau. Program penanaman pohon yang merupakan bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tersebut melibatkan seluruh insan PTPN IV Regional III yang tersebar di unit kebun dan pabrik kelapa sawit di Bumi Lancang Kuning. Penanaman perdana dilaksanakan Region Head PTPN IV Regional III, Bambang, Budi Santoso, didampingi Operation Head, Sori Ritonga, serta Business Support Head, Achmedy Akbar, di penghujung Mei 2026 lalu. Kegiatan serupa dilaksanakan secara bertahap oleh jajaran manajemen kebun dan pabrik kelapa sawit dengan melibatkan seluruh karyawan di berbagai wilayah operasional. Corporate Secretary and Legal PTPN IV Regional III, Hotmatua, di Pekanbaru, Selasa, mengatakan program bertajuk one man one tree tersebut merupakan agenda rutin perusahaan yang setiap tahun dilaksanakan dengan melibatkan karyawan maupun masyarakat di sekitar wilayah operasional. “Dan alhamdulillah, untuk tahun ini, bersamaan dengan Hari Bumi serta memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, kami telah merampungkan penanaman 9.000 bibit pohon melalui program one man one tree," jelasnya. Menurut Hotmatua, inisiatif tersebut juga menjadi upaya membangun kesadaran kolektif seluruh insan planters mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi generasi mendatang. Ia menjelaskan, ribuan bibit pohon tersebut ditanam di sejumlah area strategis, mulai dari kawasan operasional perusahaan, kawasan bernilai konservasi tinggi, hingga lingkungan masyarakat yang membutuhkan penghijauan. Ia menyebutkan, keterlibatan seluruh karyawan dalam program tersebut menjadi simbol bahwa upaya pelestarian lingkungan membutuhkan partisipasi bersama dan harus dilakukan secara berkelanjutan. "Selain mendukung penghijauan, program tersebut juga diharapkan memberikan manfaat jangka panjang terhadap kualitas lingkungan, termasuk menjaga ketersediaan sumber air, memperbaiki kualitas udara, serta mengurangi risiko degradasi lahan," imbuhnya. Hotmatua menambahkan, kegiatan serupa tidak hanya dilaksanakan di PTPN IV Regional III, tetapi juga berlangsung secara serentak di seluruh entitas usaha PTPN IV PalmCo yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Melalui gerakan penanaman pohon tersebut, Holding Perkebunan Nusantara melalui Sub Holding PTPN IV PalmCo terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung program pembangunan rendah karbon serta pencapaian target pembangunan berkelanjutan nasional. “Ke depan, program penghijauan seperti ini akan terus diperluas dan menjadi bagian dari budaya perusahaan dalam mendukung prinsip bisnis yang berkelanjutan,” sebutnya. Sebagai bagian dari transformasi Holding Perkebunan Nusantara, PTPN IV PalmCo terus mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek operasional perusahaan. Program penghijauan ini menjadi salah satu implementasi komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus mendukung pencapaian aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) secara berkelanjutan.
Pertegas Kemitraan di Lapangan Tembak, Kapolsek Mandau: Sinergi dan Komitmen Biarkan Tumbuh Natural
Mandau, katakabar.com - Pagi itu, pekan kedua Juli 2026, Lapangan Tembak yang berada di belakang mushala komplek perkantoran Mapolsek Mandau Jalan Jenderal Sudirman Duri, Kelurahan Gajah Sakti, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, saksi bisu silaturahmi antara Kapolsek Mandau, AKP I Made Pasek belum genap sebulan menjabat dan puluhan wartawan, pemilik (owner), serta Pemred media online sehari-hari bertugas di Duri, Kabupaten Bengkalis. Kapolsek Mandau tak sendirian di acara yang dikemas sederhana, tetapi didampingi Kasium, Kasih Humas, Kanit Intel dan sejumlah personel Polsek Mandau. Sedang, wartawan, dan Pemred, dan Owner yang hadir tampak Setiawan S, Johnson, Handana, Robby L, Soleh A, serta lainnya. Menurut Kapolsek Mandau, AKP I Made Pasek, sinergi dan komitmen kemitraan antara Polsek Mandau dengan wartawan biar tumbuh secara natural. "Fondasi sinergi dan kemitraan harus saling menghargai, dan menghormati agar hubungan dan silaturahmi terjalin dengan baik," ujarnya. Polsek Mandau, dan jajaran terbuka kepada wartawan. Apalagi saya ini cuma numpang lewat, dan menjabat sebagai Kapolsek baru perdana, yakni di Duri, dengan wilayah hukum Kecamatan Mandau dan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis. "Saya ini baru di Riau asli Bali, dan mendapat tugas di Polda Riau. Selanjutnya, baru beberapa bulan di Polda Riau mendapat tugas jadi Kapolsek Mandau, Polres Bengkalis," jelasnya. Untuk itu, harapnya, mari bangun sinergi dan komitmen lebih solid lagi agar kemitraan antara Polsek Mandau dan wartawan terjalin lebih baik ke depan.
BLU Kemenkeu Raih Penghargaan Medbun Awards 2026 Berkat Komitmen Pemberdayaan UMKM Sawit
Medan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU Kemenkeu mendapatkan penghargaan “Excellence Institution in Empowering Micro, Small, and Medium Palm Oil Enterprises” di ajang Medbun Awards 2026. Penghargaan yang diberikan kepada BPDP bentuk apresiasi atas komitmen dan perannya dalam mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah berbasis kelapa sawit di Indonesia. Penghargaan diberikan sebagai rangkaian kegiatan 4th Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 yang digelar pada 9 Juli 2026 di Hotel Adi Mulia, Medan, Sumatera Utara. BPDP secara aktif dan konsisten mendukung tumbuhnya UMKM sawit yang inovatif, mandiri dan berkelanjutan, dengan selalu menyediakan berbagai program peningkatan kapasitas, fasilitasi promosi dan penguatan daya saing agar dapat menjadi UMKM yang naik kelas. Hingga Juni 2026 kegiatan Kerjasama UMKM BPDP telah mencapai 52 program kegiatan dengan berkolaborasi dengan berbagai stakeholder mulai asosiasi Petani , Perguruan Tinggi, Kementerian, Media hingga pondok pesantren. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menyampaikan BPDP terus mendukung pengembangan sumber daya manusia (SDM), adopsi teknologi, serta percepatan hilirisasi industri kelapa sawit Indonesia menuju industri yang berdaya saing dan berkelanjutan agar kemudian UMKM juga memiliki produk-produk yang berkualitas. “Teknologi dan hilirisasi industri tidak hanya memberikan manfaat bagi sektor pengolahan skala besar, tetapi harus membuka peluang bagi UMKM untuk menghasilkan produk-produk inovatif berbasis kelapa sawit yang memiliki nilai tambah dan daya saing,” ujar Helmi U8sungt tema “Updating Technology & Talent Palm Oil Mill and Downstream” dengan subtema “Hilirisasi Komoditi Perkebunan Menuju Sawit Pilar Indonesia Emas 2045”, TPOMI 2026 menjadi wadah strategis yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri dan UMKM, praktisi, serta penyedia teknologi untuk mendiskusikan berbagai inovasi dan tantangan dalam pengembangan industri pengolahan kelapa sawit nasional. Melalui booth pameran BPDP dalam TPOMI 2026, para pengunjung memperoleh informasi program pengembangan UMKM, promosi komoditas perkebunan serta informasi mengenai hilirisasi yang dapat menjadi peluang usaha. Pengunjung juga memperoleh informasi mengenai berbagai produk turunan kelapa sawit beserta potensi pengembangannya sebagai bagian dari upaya mendorong tumbuhnya wirausaha berbasis komoditas perkebunan diantaranya kepala, kelapa sawit dan kakao. TPOMI digelar selama 3 hari yang mana peserta dapat mengikuti konferensi, seminar teknis, diskusi panel, serta pameran teknologi yang menampilkan berbagai inovasi di bidang pengolahan kelapa sawit, digitalisasi industri, otomatisasi berbagai Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT), efisiensi energi, hingga solusi perangkat lunak untuk mendukung operasional pabrik kelapa sawit.
Holding PTPN Tegaskan Komitmen Net Zero Emission Lewat Pemanfaatan Limbah PKS Sei Tapung
Pekanbaru, katakabar.com - Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Tapung yang berada di bawah pengelolaan PTPN IV Regional III, entitas dari Holding Perkebunan Nusantara terus mengoptimalkan pemanfaatan limbah hasil pengolahan kelapa sawit secara komprehensif sebagai bagian dari implementasi prinsip ekonomi sirkular dan praktik industri berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan tandan kosong (tankos) sebagai bahan pupuk organik untuk mendukung produktivitas perkebunan, serta pengolahan limbah menjadi sumber energi baru terbarukan yang berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca Pj Manajer PKS Sei Tapung, Devario Ibnurusd S., menjelaskan pemanfaatan tankos merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung praktik budidaya perkebunan yang ramah lingkungan sekaligus mengoptimalkan nilai tambah dari limbah produksi sawit. Menurutnya, tankos memiliki kandungan bahan organik yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur lahan, serta menjaga ketersediaan unsur hara secara alami. “Pemanfaatan tankos sebagai pupuk organik merupakan salah satu bentuk dukungan manajemen terhadap praktik budidaya sawit yang lebih lestari dan ramah lingkungan. Selain membantu petani, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan mengoptimalkan seluruh produk samping agar memberikan manfaat yang lebih luas,” jelas Devario. Ia menimpali, PKS Sei Tapung secara rutin menyalurkan tankos kepada petani di desa-desa sekitar wilayah operasional perusahaan tanpa dipungut biaya sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Penyaluran dilakukan berdasarkan permohonan tertulis dari kelompok tani atau petani dengan mempertimbangkan ketersediaan di pabrik. “Tidak ada praktik jual beli tankos kepada masyarakat. Penyaluran dilakukan secara cuma-cuma sebagai bentuk dukungan perusahaan terhadap petani dan pemanfaatan bahan organik secara berkelanjutan,” ujarnya. Tetapi, Devario mengungkapkan selama lebih dari satu bulan terakhir, penyaluran tankos kepada masyarakat dihentikan sementara karena pemanfaatannya diprioritaskan untuk kebutuhan internal perusahaan. “Sudah lebih dari satu bulan tidak ada penyaluran tankos ke masyarakat karena sesuai arahan manajemen, tankos dan by product lainnya seperti abu janjang saat ini difokuskan untuk mendukung kebutuhan kebun inti,” bebernya. Kebijakan tersebut diambil untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan organik dalam mendukung produktivitas serta perbaikan kualitas lahan perkebunan perusahaan. Komitmen Keberlanjutan dan Dukungan Petani PKS Sei Tapung menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan praktik perkebunan dan industri sawit berkelanjutan, serta menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan dan pemanfaatan limbah bernilai tambah. Petani di sekitar wilayah operasional turut merasakan manfaat dari program tersebut, terutama dalam membantu menekan biaya produksi di tengah kenaikan harga pupuk. Idang, salah seorang petani, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif PKS Sei Tapung. “Kami sebagai petani sangat terbantu dengan inisiatif PKS Tapung. Program ini membantu kami mengurangi biaya perawatan kebun. Mudah-mudahan ke depan bisa kembali dilanjutkan setelah kebutuhan kebun inti perusahaan terpenuhi,” ucapnya. Lebih lanjut, Devario menjelaskan bahwa komitmen pengelolaan limbah berkelanjutan di PKS Sei Tapung tidak hanya terbatas pada pemanfaatan limbah padat seperti tankos dan abu janjang. Sejak 2023, PKS Sei Tapung juga dilengkapi dengan instalasi Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Co-firing yang memanfaatkan limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) sebagai sumber energi baru terbarukan. Fasilitas tersebut menggunakan teknologi Covered Lagoon atau CIGAR (Covered In-Ground Anaerobic Reactor) untuk menangkap gas metana dari proses pengolahan limbah cair. Instalasi ini memiliki kapasitas terpasang hingga 20.000 meter kubik atau setara 700 Nm³ biogas per jam. Melalui teknologi tersebut, limbah yang sebelumnya berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca kini dapat dimanfaatkan kembali menjadi sumber energi untuk mendukung operasional perusahaan sekaligus berkontribusi pada agenda nasional menuju net zero emission. “Prinsip yang kami jalankan adalah bagaimana seluruh produk samping hasil pengolahan sawit dapat dimanfaatkan secara optimal. Tankos dan abu janjang dimanfaatkan untuk mendukung kesuburan lahan, sementara limbah cair kami olah menjadi energi terbarukan melalui fasilitas biogas. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan perusahaan tetapi juga lingkungan dan masyarakat,” imbuhnya. Menurut Devario, pendekatan tersebut bagian dari transformasi industri sawit modern yang menempatkan aspek keberlanjutan sebagai prioritas utama operasional perusahaan. Melalui optimalisasi pemanfaatan tankos, abu janjang, hingga pengolahan limbah cair menjadi energi baru terbarukan, PKS Sei Tapung menunjukkan bahwa industri sawit tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga menghadirkan nilai tambah bagi lingkungan, masyarakat, serta mendukung agenda pembangunan berkelanjutan nasional.
Sempena Hari LH Sedunia 2026, JTT Komitmen Hijaukan Trans Jawa Lewat Penanaman Seribu Pohon
Jakarta, katakabar.com - Sempena memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) menegaskan komitmennya dukung pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan melalui program penghijauan di wilayah operasional Jalan Tol Trans Jawa. Sebagai bentuk sinergi dalam mendukung program penghijauan di lingkungan JTT Group, pada Senin (08/06) JTT melaksanakan penyerahan bibit pohon secara simbolis kepada anak perusahaan JTT Group. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal kolaborasi dalam mewujudkan target penanaman 1.000 pohon sepanjang tahun 2026 sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan kerja dan koridor jalan tol yang lebih hijau, asri, dan berkelanjutan. Vice President Corporate Secretary & Legal PT Jasamarga Transjawa Tol, Ria Marlinda Paallo, menyampaikan pelestarian lingkungan di antara aspek penting dalam mendukung operasional jalan tol yang berkelanjutan. “Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pembangunan infrastruktur harus berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan. Sebagai pengelola 676 kilometer Jalan Tol Trans Jawa, JTT memiliki tanggung jawab untuk terus menghadirkan nilai tambah tidak hanya dari sisi konektivitas, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap keberlanjutan lingkungan. Melalui program penanaman 1.000 pohon di wilayah Trans Jawa sepanjang 2026, kami berkomitmen mendukung terciptanya koridor jalan tol yang lebih hijau, nyaman, dan berkelanjutan,” ujar Ria. Selain program penanaman pohon, JTT juga membangun fasilitas nursery atau pusat pembibitan tanaman di lingkungan Kantor Pusat PT Jasamarga Transjawa Tol. Kehadiran nursery tersebut merupakan dukungan perusahaan dalam ketersediaan bibit tanaman secara mandiri guna menunjang program penghijauan yang berkelanjutan di seluruh wilayah operasional. Nursery JTT akan dimanfaatkan sebagai sarana pembibitan berbagai jenis tanaman dan pohon yang nantinya akan digunakan dalam kegiatan penghijauan di lingkungan kantor. Selain berfungsi sebagai pusat pembibitan, area tersebut juga diharapkan menjadi media edukasi lingkungan bagi insan perusahaan dan para pemangku kepentingan. Ke depan, JTT akan terus mengembangkan berbagai program keberlanjutan yang sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), termasuk pengelolaan lingkungan, efisiensi sumber daya, serta peningkatan kesadaran lingkungan di seluruh wilayah operasional Trans Jawa. Melalui semangat Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, JTT mengajak seluruh insan perusahaan dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan demi mewujudkan masa depan yang lebih hijau, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.