OJK Nilai Pelemahan Kripto Wajar, Tokocrypto Soroti Peluang Bangkit
Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto di Indonesia masih menghadapi tekanan seiring melemahnya harga aset digital secara global. Tetapi, minat investor terhadap industri kripto dinilai belum surut. Kondisi ini terlihat dari jumlah konsumen kripto yang masih bertambah serta sikap investor institusi mulai lebih selektif dalam mengambil posisi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penurunan harga aset kripto saat ini bagian dari siklus pasar yang wajar. Saat rapat Dewan Komisioner Bulanan April 2026 yang digelar di pekan peratama Mei 2026 lalu, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menyampaikan penurunan transaksi lebih disebabkan oleh proses normalisasi pasar setelah lonjakan harga pasca-halving Bitcoin pada 2024. "Ini menjadi high base effect, bukan pelemahan fundamental, tetapi ini sejalan dengan kondisi global, market cap kripto turun sekitar 45 persen dari all time high dari US$4,2 triliun pada Oktober 2025 menjadi sekitar US$2,3 triliun pada Maret 2026," ujar Adi. Data OJK menunjukkan transaksi kripto Indonesia pada Maret 2026 mencapai Rp28,04 triliun, terdiri dari Rp22,24 triliun di pasar spot dan Rp5,8 triliun di derivatif. Nilai perdagangan aset kripto domestik pada Maret 2026 juga tercatat turun 4,7 persen secara bulanan dari Rp24,33 triliun pada Februari 2026 menjadi Rp22,24 triliun, sementara total nilai transaksi perdagangan aset kripto sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai Rp75,83 triliun. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan penurunan aktivitas transaksi kripto di dalam negeri tidak bisa dilepaskan dari tekanan global yang masih membayangi pasar aset berisiko. “Kami melihat perlambatan transaksi kripto pada Maret 2026 lebih dipengaruhi oleh meningkatnya sentimen risk-off global. Investor saat ini cenderung lebih berhati-hati karena volatilitas masih tinggi, ketidakpastian geopolitik meningkat, dan arah kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi perhatian utama pasar,” kata Calvin. Menurut Calvin, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan hilangnya minat investor terhadap aset kripto. Sebaliknya, banyak pelaku pasar yang masih berada di ekosistem kripto, namun memilih strategi yang lebih defensif. “Investor tidak sepenuhnya keluar dari pasar kripto. Yang terjadi adalah pergeseran strategi. Sebagian investor mulai mengurangi eksposur pada aset yang lebih spekulatif dan memilih aset yang lebih likuid atau stabil, seperti Bitcoin, Ethereum, stablecoin, hingga aset berbasis emas. Ini lebih tepat dibaca sebagai fase wait and see,” jelasnya. Investor Kripto Terus Tumbuh OJK mencatat jumlah konsumen kripto Indonesia per Maret 2026 telah mencapai 21,37 juta akun, naik tipis dari bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan kepercayaan terhadap industri aset digital masih tetap terjaga meski pasar sedang berada dalam fase konsolidasi. “Masih ada kepercayaan dari masyarakat bahwa pasar kripto bisa memberikan dampak positif bagi portofolio investasi mereka. Kenaikan jumlah investor di tengah fase konsolidasi menunjukkan bahwa banyak masyarakat masih melihat kripto sebagai peluang untuk mendapatkan hasil positif dari aktivitas trading, yang pada akhirnya diharapkan dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi dan kualitas hidup mereka,” ulas Calvin. Calvin menilai prospek perdagangan aset kripto pada kuartal II-2026 berpotensi membaik secara bertahap, terutama setelah Bitcoin kembali menembus level psikologis US$80.000 pada awal Mei 2026. “Bitcoin masih menjadi barometer utama sentimen pasar kripto. Ketika BTC mampu bertahan di atas level penting seperti kisaran US$78.000-US$80.000, kepercayaan investor biasanya mulai membaik. Namun, pemulihan ini kemungkinan masih selektif karena pasar tetap mencermati faktor makro, inflasi, geopolitik, dan kebijakan moneter global,” ucapnya. Selain pemulihan harga aset utama, Tokocrypto melihat ada beberapa katalis yang dapat mendorong kembali aktivitas perdagangan kripto di Indonesia. Di antaranya adalah kejelasan arah suku bunga The Fed, meredanya ketegangan geopolitik, meningkatnya likuiditas global, serta kebijakan pajak kripto yang lebih kompetitif. Calvin menegaskan penyesuaian kebijakan pajak dapat menjadi faktor penting untuk memperkuat ekosistem kripto nasional. “Pajak yang lebih kompetitif akan membantu meningkatkan daya tarik transaksi melalui exchange resmi di dalam negeri. Ini penting agar aktivitas perdagangan tetap berada di platform yang diawasi regulator, sehingga perlindungan investor dan transparansi pasar tetap terjaga,” terang Calvin. Dari sisi regulasi, OJK juga terus memperkuat pengawasan terhadap industri aset kripto. Standar seperti Know Your Customer (KYC), Know Your Transaction (KYT), Customer Due Diligence (CDD), dan Enhanced Due Diligence (EDD) diterapkan untuk menjaga keamanan ekosistem. Selain itu, sistem whitelist aset kripto juga membatasi aset yang dapat diperdagangkan di Indonesia guna meminimalkan risiko bagi investor. Calvin mengimbau investor ritel untuk tetap disiplin dalam menghadapi kondisi pasar yang masih fluktuatif. “Dalam kondisi pasar yang menurun, fokus utama investor sebaiknya bukan mengejar keuntungan cepat, tetapi menjaga modal dan mengelola risiko. Hindari keputusan emosional, batasi penggunaan leverage, pahami aset sebelum bertransaksi, dan gunakan platform resmi yang diawasi regulator,” sebut Calvin.
Trading Bukan Spekulasi: FLOQ Dorong Pendekatan Risk Management Investor Kripto Baru
Jakarta, katakabar.com - Di tengah volatilitas pasar global yang masih tinggi, FLOQ menilai pendekatan risk management menjadi semakin penting bagi investor kripto baru di Indonesia, terutama ketika pergerakan harga Bitcoin dan aset digital lainnya bergerak semakin agresif dalam waktu singkat. Harga Bitcoin tercatat mengalami kenaikan hingga menembus level US$81.697, Rabu (6/5) sekitar pukul 20.45 WIB lalu. Pergerakan ini melanjutkan tren volatilitas pasar kripto global yang dalam beberapa bulan terakhir dipengaruhi oleh berbagai sentimen makro, mulai dari arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, ketidakpastian geopolitik global, hingga meningkatnya arus investasi institusional ke aset digital. Menurut FLOQ, kondisi tersebut menciptakan peluang besar bagi investor, namun sekaligus meningkatkan risiko, terutama bagi pengguna baru yang belum memiliki strategi trading dan pengelolaan risiko yang disiplin. Industri Kripto Indonesia Masuki Fase Lebih Matang Pertumbuhan industri aset kripto Indonesia sendiri terus menunjukkan perkembangan signifikan. Per Mei 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah pengguna aset kripto di Indonesia telah mencapai 21,37 juta akun, meningkat dibandingkan 19,08 juta pengguna pada Oktober 2025. Sementara, nilai transaksi aset kripto per Maret 2026 tercatat mencapai Rp22,24 triliun, dengan total transaksi sepanjang tahun 2025 mencapai Rp482,23 triliun. Selain pertumbuhan jumlah investor, OJK juga mencatat terdapat 29 entitas yang telah memperoleh persetujuan dalam ekosistem aset kripto Indonesia, termasuk bursa, lembaga kliring, kustodian, dan pedagang aset kripto fisik (PAKD). Dari jumlah tersebut, 24 entitas merupakan pedagang aset kripto resmi. Hingga Maret 2026, tercatat pula sebanyak 1.464 jenis aset kripto diperdagangkan di pasar Indonesia. Dijelaskan FLOQ, angka tersebut menunjukkan industri kripto Indonesia mulai memasuki fase yang lebih matang. Tetapi, di balik pertumbuhan pengguna dan transaksi yang semakin besar, edukasi mengenai strategi investasi dan pengelolaan risiko dinilai masih menjadi tantangan utama bagi banyak investor baru. “Trading bukan sekadar mengejar keuntungan jangka pendek atau mengikuti hype pasar. Investor perlu memahami bahwa volatilitas yang tinggi juga berarti risiko yang tinggi. Karena itu, edukasi mengenai risk management menjadi fondasi penting dalam membangun kebiasaan investasi yang lebih sehat,” ujar Yudhono Rawis, Founder dan CEO FLOQ. Buy the Dip dan Pentingnya Entry Strategy Menurut FLOQ, fenomena “buy the dip” menjadi salah satu strategi yang mulai banyak diperhatikan investor ketika pasar mengalami koreksi tajam. Strategi ini merujuk pada pendekatan membeli aset saat harga mengalami penurunan dengan asumsi potensi pemulihan jangka panjang. FLOQ mengingatkan strategi tersebut tetap membutuhkan perencanaan entry yang matang dan pengelolaan risiko yang jelas, terutama di tengah volatilitas Bitcoin yang dapat bergerak ribuan dolar hanya dalam hitungan hari. “Banyak investor melihat koreksi pasar sebagai peluang. Tetapi tanpa strategi entry, limit harga, atau pengelolaan modal yang baik, keputusan membeli saat harga turun justru bisa berubah menjadi keputusan emosional,” terang Yudhono. Contohnya, ketika harga Bitcoin berada di kisaran Rp1,431 miliar, trader dapat menggunakan fitur Limit Order untuk menyiapkan beberapa level entry sebelum pasar bergerak. Alih-alih langsung membeli di market price, trader dapat memasang order beli otomatis di beberapa area koreksi, misalnya: -1% di sekitar Rp1,416 miliar, -3% di sekitar Rp1,388 miliar, atau -5% di sekitar Rp1,359 miliar. Dengan pendekatan ini, order baru akan tereksekusi apabila harga Bitcoin benar-benar turun ke level yang telah ditentukan sebelumnya. Masih FLOQ, strategi seperti ini umum digunakan trader untuk memanfaatkan volatilitas jangka pendek tanpa harus terus memantau pergerakan market selama 24 jam. Sebagai ilustrasi, apabila harga Bitcoin mengalami koreksi pada akhir pekan akibat volatilitas pasar, lalu rebound kembali ketika sentimen pasar membaik, trader berpotensi mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli saat koreksi dan harga ketika pasar kembali naik. Sebagai contoh sederhana: trader membeli Bitcoin di area -3% saat koreksi, lalu harga Bitcoin rebound beberapa persen ke area sebelumnya,maka trader dapat melakukan take-profit sesuai target yang telah dipersiapkan sejak awal. Kata FLOQ, pendekatan ini membantu investor membangun kebiasaan trading yang lebih disiplin karena keputusan entry dan exit telah direncanakan sebelumnya, bukan dilakukan secara impulsif akibat pergerakan harga atau sentimen media sosial. Disclaimer: Informasi yang disampaikan dalam artikel ini bersifat edukatif dan bukan merupakan ajakan membeli atau menjual aset kripto tertentu. Pergerakan harga aset digital sangat volatil dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar global. Seluruh keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dengan mempertimbangkan profil risiko pribadi. Mengapa Banyak Trader Hindari Market Order Saat Volatil FLOQ menilai salah satu tantangan terbesar investor pemula bukan hanya memahami teknologi blockchain atau membaca pergerakan harga pasar, tetapi juga mengendalikan psikologi saat market bergerak ekstrem. Dalam kondisi bullish, investor sering terdorong melakukan pembelian karena fear of missing out (FOMO). Sebaliknya, saat pasar terkoreksi tajam, banyak pengguna justru melakukan panic selling tanpa strategi yang jelas. Padahal, menurut FLOQ, disiplin dalam menentukan entry point, target keuntungan, hingga batas risiko merupakan bagian penting dari pendekatan investasi yang lebih sehat. Sebagai bagian dari pendekatan tersebut, FLOQ menghadirkan fitur Limit Order yang memungkinkan pengguna menentukan harga beli maupun jual sesuai strategi masing-masing. Berbeda dengan market order yang langsung mengikuti harga pasar, fitur ini membantu investor melakukan entry dan exit secara lebih terukur sekaligus mengurangi potensi slippage, kondisi ketika harga aset berubah sebelum transaksi berhasil dieksekusi. Dalam periode tertentu, FLOQ juga menghadirkan program Zero Trading Fee untuk transaksi menggunakan fitur Limit Order guna mendorong pengguna mulai membangun kebiasaan trading yang lebih disiplin dan berbasis strategi. Edukasi dan Literasi Menjadi Fokus Industri Kripto Menurut FLOQ, pertumbuhan industri aset kripto Indonesia kini mulai memasuki fase yang lebih matang. Fokus pasar tidak lagi hanya mengenai jumlah pengguna baru, tetapi juga kualitas literasi dan kemampuan investor dalam memahami risiko investasi digital. “Seiring berkembangnya industri aset digital Indonesia, kami percaya edukasi mengenai risk management akan menjadi salah satu fondasi utama yang menentukan kualitas pertumbuhan industri ke depan. Trading bukan sekadar soal cepat membeli dan menjual aset, tetapi bagaimana investor mampu mengambil keputusan secara disiplin di tengah volatilitas pasar,” tutup Yudhono. Untuk membantu pengguna memahami strategi trading yang lebih terukur di tengah volatilitas pasar, FLOQ juga menyediakan berbagai materi edukasi melalui FLOQ Academy yang dapat diakses secara cuma-cuma. Untuk memahami lebih lanjut tentang strategi Limit Order, pengguna dapat mempelajari panduan berikut: Perbedaan Market Order dan Limit Order: Mana yang Lebih Sesuai untuk Strategimu? Strategi Buy the Dip: Cara Membeli Saat Harga Turun Cara Menghindari Slippage Saat Trading Crypto Panduan Strategi Trading untuk Pemula Melalui pendekatan ini, FLOQ berharap pengguna tidak hanya memanfaatkan fitur, tetapi juga memahami strategi di balik setiap keputusan trading. Dengan kombinasi antara kontrol yang lebih baik melalui Limit Order, pendekatan edukasi yang berkelanjutan, serta komitmen terhadap Zero Fee trading, FLOQ terus memperkuat visinya untuk menghadirkan pengalaman investasi kripto yang lebih inklusif, transparan, dan berorientasi pada pengguna. Langkah Berikutnya Di mana pun Anda berada dalam perjalanan investasi, langkah selanjutnya adalah memastikan Anda memiliki pemahaman dan strategi yang tepat. Seperti dipaparkan sebelumnya, FLOQ menyediakan FLOQ Academy, sebuah platform edukasi yang dirancang untuk membantu pengguna memahami dasar-dasar investasi kripto secara bertahap dan terstruktur. Seluruh materi dapat diakses secara gratis, termasuk seri video edukasi melalui kanal YouTube FLOQ, sehingga pengguna dapat belajar kapan saja sesuai kebutuhan mereka. Sementara itu, bagi trader yang membutuhkan dukungan lebih lanjut dalam analisis maupun kemudahan bertransaksi, FLOQ juga menghadirkan layanan Guest Relation dan VIP Service. Dengan dukungan tim trading desk serta layanan yang lebih personal, pengguna dapat memperoleh insight yang lebih mendalam dan pengalaman trading yang lebih optimal. Tim kami dapat dihubungi melalui [email protected] Layanan ini tidak hanya membantu meningkatkan efisiensi strategi, tetapi juga mendukung pengelolaan portofolio yang lebih terarah di tengah dinamika pasar yang terus berkembang. Tentang FLOQ FLOQ adalah platform perdagangan aset digital yang berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman investasi yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Dengan fokus pada inovasi, edukasi, serta kepatuhan terhadap regulasi, FLOQ bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekosistem aset digital di Indonesia. FLOQ memiki komunitas aktif dengan lebih dari 250,000 followers yang bergabung di 7 platform social media, 25,000 anggota komunitas aktif, dan platform berkomitmen untuk meningkatkan edukasi bagi setiap pengguna dan publik dengan penyediaan FLOQ Akademi yang dapat diakses tanpa biaya. Hingga saat ini,
Lewat Penguatan Edukasi Masyarakat Tokocrypto Dorong Inklusi Kripto
Jakarta, katakabar.com - Tokocrypto tegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan industri kripto nasional melalui penguatan edukasi masyarakat. Langkah ini menjadi fokus utama perusahaan dalam rangka Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026. Sebagai bagian dari BLK 2026, Tokocrypto menggelar rangkaian kegiatan edukasi offline di berbagai kota, antara lain Yogyakarta, Solo, Kebumen, Klaten, hingga melakukan kegiatan di Universitas Indonesia, Depok. Seluruh kegiatan tersebut telah diikuti lebih dari 300 peserta. Melalui program ini, Tokocrypto berupaya memperluas akses masyarakat terhadap pemahaman kripto yang lebih komprehensif. Ke depan, perusahaan berencana menjangkau lebih banyak kota untuk memperkuat literasi dan inklusi kripto di Indonesia. “Industri kripto hanya bisa tumbuh secara berkelanjutan jika masyarakat memahami manfaat, risiko, dan cara menggunakannya dengan bijak. Karena itu, edukasi akan terus menjadi fokus perusahaan,” kata CEO Tokocrypto, Calvin Kizana. Calvin mengatakan edukasi menjadi prioritas paling berdampak untuk memperluas inklusi kripto saat ini. Menurutnya, pemahaman yang baik menjadi fondasi penting agar masyarakat dapat mengenal aset digital secara lebih sehat dan bertanggung jawab. “Edukasi adalah pintu masuk kepercayaan. Pengguna perlu memahami apa itu kripto, bagaimana potensinya, serta apa saja risikonya sebelum mengambil keputusan investasi,” jelas Calvin. Fokus Edukasi dan Literasi Calvin menilai regulasi dan inovasi produk tetap memiliki peran penting dalam perkembangan industri kripto. Namun, dampak keduanya akan lebih kuat apabila masyarakat memiliki tingkat literasi yang memadai. “Regulasi dan inovasi produk tetap penting, tetapi manfaatnya akan lebih optimal ketika pengguna memahami cara kerja industri ini. Edukasi bisa langsung diterjemahkan menjadi aksi, mulai dari cara mengelola risiko, menjaga keamanan aset, hingga mengambil keputusan investasi yang lebih sehat,” sebutnya. Fokus pada edukasi juga sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi keuangan. Hasil survei oleh tim internal Tokocrypto menunjukkan sekitar 66% responden menganggap seseorang yang memahami keuangan pribadi lebih menarik. Angka tersebut mencerminkan pergeseran preferensi dalam menilai calon pasangan, tidak hanya dari aspek emosional, tetapi juga dari sisi rasionalitas dan stabilitas keuangan. Generasi Muda Sadar Kelola keuangan Di kalangan Generasi Z dan milenial, persentase tersebut lebih tinggi, masing-masing mencapai sekitar 76% dan 75 persen. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda semakin menyadari pentingnya kemampuan mengelola keuangan jangka panjang, termasuk memahami berbagai instrumen investasi seperti aset kripto. Pengetahuan tentang kripto kini juga mulai dipandang sebagai bagian dari literasi digital. Aset digital berbasis blockchain tidak lagi dianggap eksklusif bagi pelaku industri teknologi, tetapi semakin masuk ke arus utama sebagai bagian dari transformasi ekonomi digital. Meski demikian, Tokocrypto menekankan bahwa kepemilikan aset kripto saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami dan menjelaskan risiko serta potensi dari aset digital tersebut. Calvin menyebut salah satu miskonsepsi terbesar yang masih perlu diluruskan adalah anggapan bahwa kripto merupakan jalan cepat untuk menjadi kaya.
Dari Nol ke First Trade: Strategi Trading Bagi Pemula dan 5 Aset Kripto Memulai Lebih Terukur
Jakarta, katakabar.com - Minat masyarakat terhadap aset kriptoterus menunjukkan peningkatan, seiring dengan kemudahan akses dan berkembangnya ekosistem digital. Tetapi, di balik pertumbuhan tersebut, banyak investor pemula masih memasuki pasar tanpa strategi jelas, mengandalkan intuisi, mengikuti tren, atau bereaksi terhadap pergerakan harga jangka pendek. “Trading bukan sekadar menebak arah harga. Ini adalah kombinasi antara disiplin, probabilitas, dan manajemen risiko. Pendekatan yang terstruktur sejak awal akan sangat menentukan hasil dalam jangka panjang,” ujar Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ. Pada praktiknya, banyak pemula mengalami kerugian bukan karena salah membaca arah pasar, melainkan tidak memiliki sistem yang konsisten. Perilaku seperti FOMO (fear of missing out), panic selling, atau terlalu sering melakukan transaksi tanpa dasar yang jelas menjadi penyebab utama. Untuk itu, FLOQ menekankan beberapa prinsip dasar: • Mengutamakan perlindungan modal sebelum mengejar keuntungan • Menggunakan stop-loss dan take-profit sebagai kontrol risiko • Menghindari keputusan berbasis emosi • Membangun rutinitas investasi yang konsisten Pendekatan ini membantu investor berpindah dari spekulasi jangka pendek menuju strategi yang lebih terukur dan berkelanjutan. Sebagai langkah awal, diversifikasi menjadi strategi penting mengelola risiko di tengah volatilitas pasar kripto. Alih-alih berfokus pada satu aset, investor pemula dapat mempertimbangkan kombinasi beberapa kategori aset yang memiliki peran berbeda dalam ekosistem. Berikut lima aset kripto yang dapat menjadi fondasi portofolio awal, lengkap dengan peran strategis dan kondisi pasar terkini: 1. Bitcoin (BTC): Fondasi dan “Digital Safe Haven” *Harga diambil pada Sabtu, 2 Mei, pukul 14.00 WIB Harga saat ini: ~US$78,306* Sebagai aset kripto pertama dan terbesar di dunia, Bitcoin sering dianggap sebagai “digital gold” dan berperan sebagai penyimpan nilai (store of value). Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin semakin banyak diadopsi oleh institusi global sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset. Peran dalam portofolio: Stabilitas relatif + fondasi utama investasi 2. Ethereum (ETH): Mesin Inovasi Web3 Harga saat ini: ~US$2,304*. Ethereum bukan hanya aset kripto, tetapi juga platform teknologi yang mendukung berbagai aplikasi seperti decentralized finance (DeFi), NFT, dan smart contracts. Peran dalam portofolio: Kombinasi antara utilitas teknologi dan potensi pertumbuhan 3. Tether (USDT): Stabilitas dan Likuiditas Harga saat ini: ~US$0.997*. Sebagai stablecoin yang dipatok terhadap dolar AS, USDT digunakan sebagai alat lindung nilai terhadap volatilitas dan sebagai “cash position” dalam portofolio kripto. Peran dalam portofolio: Stabilizer + fleksibilitas dalam strategi trading 4. Solana (SOL): Pertumbuhan dan Adopsi Cepat Harga saat ini: ~US$83.76*. Solana dikenal sebagai salah satu blockchain dengan kecepatan tinggi dan biaya transaksi rendah, menjadikannya populer di kalangan developer dan pengguna ritel. Peran dalam portofolio: Eksposur ke aset dengan potensi pertumbuhan lebih agresif 5. Hyperliquid (HYPE): Eksposur Emerging Asset Harga saat ini: ~US$41.48*. Sebagai bagian dari kategori aset yang sedang berkembang, HYPE mencerminkan peluang pertumbuhan di fase awal adopsi, namun juga memiliki volatilitas yang lebih tinggi. Peran dalam portofolio: Pelengkap dengan porsi terbatas untuk mengeksplorasi peluang upside Sebagai ilustrasi sederhana, alokasi portofolio awal dapat dipertimbangkan sebagai berikut: Contoh Alokasi Portofolio Pemula (Total: Rp1.000.000) Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara stabilitas, likuiditas, dan potensi pertumbuhan, dengan tetap menjaga eksposur risiko pada level yang terukur. Sebagai ilustrasi, portofolio awal sebesar Rp1.000.000 dapat dialokasikan secara terstruktur untuk menyeimbangkan stabilitas, likuiditas, dan potensi pertumbuhan. Sekitar 40% atau Rp400.000 dialokasikan ke Bitcoin (BTC) sebagai fondasi utama portofolio, mengingat posisinya sebagai aset paling matang dengan likuiditas tinggi dan dominasi pasar yang kuat. Selanjutnya, 25% atau Rp250.000 ditempatkan pada Ethereum (ETH), yang memberikan eksposur terhadap pertumbuhan ekosistem Web3, termasuk DeFi dan berbagai inovasi berbasis blockchain. Untuk menjaga fleksibilitas, 20% atau Rp200.000 dialokasikan ke Tether (USDT) sebagai aset stabil yang berfungsi sebagai buffer likuiditas dan cadangan saat peluang pasar muncul. Di sisi pertumbuhan, 10% atau Rp100.000 dialokasikan ke Solana (SOL), yang dikenal dengan kecepatan tinggi dan adopsi yang berkembang pesat. Sementara itu, 5% atau Rp50.000 ditempatkan pada Hyperliquid (HYPE) sebagai eksposur terbatas terhadap aset emerging dengan potensi upside yang lebih tinggi, namun tetap dalam porsi kecil untuk menjaga risiko tetap terkendali. Logika di Balik Alokasi Ini Core Stability (65%) → BTC + ETH Mayoritas portofolio ditempatkan pada aset dengan: • Likuiditas tinggi • Adopsi luas • Risiko relatif lebih rendah Ini memastikan portofolio tidak terlalu terpengaruh volatilitas ekstrem. Defensive Layer (20%) → USDT Berfungsi sebagai: • “Dry powder” untuk buy the dip • Proteksi saat market turun Growth & Upside (15%) → SOL + HYPE Memberikan: • Eksposur ke pertumbuhan cepat • Potensi return lebih tinggi Namun dengan porsi kecil untuk menjaga risiko. Simulasi Potensi Return Ini adalah simulasi berbasis performa historis 12 bulan terakhir (perkiraan), bukan jaminan hasil di masa depan. Estimasi berikut menggunakan pendekatan CAGR (Compound Annual Growth Rate), yaitu rata-rata pertumbuhan tahunan suatu aset berdasarkan performa historis, dengan asumsi pertumbuhan yang terakumulasi secara konsisten. Simulasi ini bersifat indikatif dan bukan jaminan hasil di masa depan. Harga aset kripto tercantum di artikel ini merupakan data pasar yang diambil pada Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 14.00 WIB dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar. Investor wajib melakukan riset tersendiri (DYOR). Artikel ini bertujuan untuk edukasi dan bukan nasihat finansial. Untuk memberikan gambaran yang lebih kontekstual, simulasi ini menggunakan asumsi alokasi portofolio sebesar Rp1.000.000. Bitcoin (BTC): US$78.306,26 Rp400.000 → Rp520.000 (+30%) Ethereum (ETH): US$2.304,74 Rp250.000 → Rp312.500 (+25%) Tether (USDT): US$0,9997 Rp200.000 → Rp200.000 (0%) Nilai dalam Rupiah dapat berubah mengikuti pergerakan kurs USD/IDR saat dikonversikan. Solana (SOL): US$83,76 Rp100.000 → Rp140.000 (+40%) Hyperliquid (HYPE): US$41,48 Rp50.000 → Rp80.000 (~+60%) Secara keseluruhan, portofolio ini berpotensi berkembang dari Rp1.000.000 menjadi sekitar Rp1.252.500 dalam satu tahun, mencerminkan estimasi blended return sebesar kurang lebih 25%.
Lebih 20 Juta Pengguna, Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Adopsi Kripto Regional
Jakarta, katakabar.com - Indonesia dinilai berada pada titik penting evolusi industri kripto global, seiring dengan meningkatnya partisipasi investor domestik dan perubahan struktural yang terjadi di tingkat internasional. Wawancara terbaru bersama CNBC Indonesia, Founder dan CEO FLOQ, Yudhono Rawis, menjelaskan saat ini pasar kripto tidak lagi dipandang sebagai pasar yang berdiri sendiri, melainkan sebagaibagian dari ekosistem keuangan global semakin terintegrasi dengan dinamika makro, termasuk pergerakan suku bunga, likuiditas global, serta ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi perilaku investor di berbagai kelas aset. Menurutnya, apa yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir bukanlah penurunan fundamental, melainkan proses penyesuaian harga yang mencerminkan perubahan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi global, di mana investor kini semakin mempertimbangkan faktor-faktor eksternal dalam pengambilan keputusan terkait aset digital. Pad konteks global, di antara perubahan paling signifikan yang mendorong arah industri, yakni meningkatnya keterlibatan institusi besar dalam ekosistem kripto. Berbeda dengan siklus sebelumnya yang didominasi oleh partisipasi ritel, saat ini semakin banyak asset manager, investment bank, perbankan, hingga perusahaan global yang mulai mengalokasikan dana ke Bitcoin, baik sebagai aset utama maupun sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio mereka. Pergeseran ini tidak hanya meningkatkan legitimasi aset kripto sebagai bagian dari lanskap investasi yang lebih luas, tetapi juga memperkuat struktur pasar dari sisi likuiditas dan stabilitas jangka panjang. Yudhono menekankan institusi tidak bergerak berdasarkan sentimen jangka pendek, melainkan mempertimbangkan faktor-faktor seperti struktur pasar, kedalaman likuiditas, serta potensi pertumbuhan jangka panjang, sehingga kehadiran mereka menjadi salah satu indikator penting industri ini sedang bergerak menuju fase yang lebih matang dan berkelanjutan. Di sisi domestik, Indonesia menunjukkan perkembangan yang tidak kalah signifikan. Dengan lebih dari 20 juta investor kripto yang tercatat, serta keberadaan lebih dari 20 pelaku industri yang telah beroperasi dalam kerangka regulasi yang semakin jelas, Indonesia telah melampaui fase awal adopsi, dan mulai membangun fondasisebagai pasar yang lebih terstruktur. Pertumbuhan ini juga didukung peningkatan pengawasan dan kejelasan regulasi, yang tidak hanya memberikan rasa aman bagi investor, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pelaku industri untuk berkembang secara berkelanjutan. Pada perspektif ini, Indonesia tidak lagi hanya dipandang sebagai pasar dengan potensi pertumbuhan tinggi, tetapi sebagai salah satu kandidat kuat untuk menjadi pusat adopsi kripto di kawasan Asia, terutama dengan karakteristik demografis yang didominasi oleh populasi digital-native serta meningkatnya penetrasi teknologi finansial dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Sejalan dengan perkembangan tersebut, FLOQ mengambil peran dalam mendorong pertumbuhan yang lebih berkualitas melalui pendekatan yang menitikberatkan pada kesederhanaan produk, edukasi, serta kolaborasi lintas industri. Kurun waktu kurang dari 10 bulan sejak peluncuran, FLOQ telah mencapai lebih dari 2 juta pengguna, mencerminkan tingginya kebutuhan akan platform yang mampu menjembatani antara kompleksitas teknologi kripto dengan kebutuhan pengguna yang lebih luas, khususnya bagi mereka yang baru memasuki dunia aset digital. Selain penguatan produk, FLOQ juga aktif membangun kerja sama pemasaran maupun kerjasama strategis lainnya dengan berbagai mitra dari sektor retail dan ekosistem digital, termasuk Blibli, Smartfren, dan Ismaya, sebagai bagian dari upayauntuk menghadirkan kripto dalam konteks yang lebih relevan dan mudah diakses dalam kehidupan sehari-hari. Masih Yudhono, kolaborasi dengan sektor seperti fintech, pembayaran, dan e-commerce menjadi salah satu kunci dalam mempercepat adopsi, karena memungkinkan integrasi aset digital ke dalam ekosistem yang sudah familiar bagi masyarakat luas, sehingga mengurangi hambatan awal dalam proses adopsi. Ke depan, FLOQ melihat pertumbuhan industri kripto tidak lagi dapat diukur semata dari sisi volume transaksi atau jumlah pengguna, melainkan dari kualitas partisipasi yang terbentuk di dalamnya. Pada fase berikutnya, faktor seperti literasi, pemahaman risiko, serta kepercayaan terhadap platform akan menjadi penentu utama dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan. Lantaran itu, pendekatan yang mengedepankan edukasi dan transparansi menjadi semakin relevan, terutama konteks pasar semakin kompleks dan terintegrasi dengan sistem keuangan global. Dengan kombinasi antara pertumbuhan domestik yang kuat dan dukungan dari tren institusional global, Indonesia memiliki peluang strategis untuk memainkan peran yang lebih besar dalam peta industri kripto di kawasan, sekaligus mendorong terbentuknya pasar yang tidak hanya berkembang secara kuantitatif, tetapi juga matang secara struktural dan berdaya tahan dalam jangka panjang. Untuk mengenali lebih lanjut tentang aset digital, dan strategi investasi bagi pemula, anda bisa mengakses FLOQ Academy secara cuma-cuma. Tentang FLOQ FLOQ adalah platform perdagangan aset digital yang berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman investasi yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Dengan fokus pada inovasi, edukasi, serta kepatuhan terhadap regulasi, FLOQ bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekosistem aset digital di Indonesia. FLOQ memiki komunitas aktif dengan lebih dari 250,000 followers yang bergabung di 7 platform social media, 25,000 anggota komunitas aktif dan juga platform yang berkomitmen untuk meningkatkan edukasi bagi setiap pengguna dan publik dengan penyediaan FLOQ Akademi yang dapat diakses tanpa biaya. Hingga saat ini, FLOQ telah mencatat lebih dari 1,8 juta pengguna terdaftar and 2 juta App downloads dan mendukung 100+ aset digital. Dengan fokus pada pengembangan ekosistem dan kolaborasi strategis, FLOQ bertujuan menghadirkan manfaat nyata bagi penggunanya di era ekonomi digital.
Presiden Direktur Bittime: Investasi Aset Kripto Basis Emas Lebih Mudah dengan Rupiah
Jakarta, katakabar.com - Kondisi gejolak ekonomi dan volatilitas pasar saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi investor memilih alternatif aset investasi. Di saat bersamaan investasi aset kripto berbasis aset tradisional (TradFi) seperti Tether Gold ($XAUT) dan iShares Silver Trust Tokenized ETF (Ondo) ($SLVON) menjadi pilihan yang diminati saat ini. Sebelumnya, di tengah dinamika pasar saat ini, masyarakat dituntut untuk lebih berhati-hati dalam berinvestasi dan menentukan strategi investasi yang sesuai dengan portofolio risiko masing-masing. Lantaran itu, aset-aset tradisional masih dipandang sebagai aset pelindung nilai atau “safe haven” yang dapat menjaga nilai aset di tengah fluktuasi kondisi ekonomi global. Selain dimanfaatkan sebagai pelindung nilai, aset tradisional kini diharapkan untuk dapat meningkat pertumbuhan nilai portfolio. Sehingga, aset kripto berbasis emas seperti Tether Gold ($XAUT) semakin digemari sebagai salah satu alternatif diversifikasi. Apalagi, aset kripto berbasis emas ini dapat diakses secara langsung dalam 24 jam dengan menggunakan IDR, tanpa batasan waktu dan hari operasional tertentu. Hal ini menjadi keunggulan $XAUT sebagai aset yang bernilai 1:1 atau setara dengan satu troy ounce emas murni yang disimpan di brankas Swiss. Sebab, $XAUT menawarkan opsi investasi emas yang likuid, dan efisien dengan dukungan teknologi blockchain. Di Indonesia sendiri, $XAUT termasuk dalam whitelist aset kripto yang dapat diperdagangkan berdasarkan daftar whitelist CFX. $XAUT juga dapat secara langsung diperdagangkan dengan menggunakan mata uang Rupiah (IDR) pada platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia, seperti Bittime. Menurut Presiden Direktur Bittime, Ronny Prasetya, aset kripto berbasis aset tradisional seperti $XAUT dan $SLVON merupakan bentuk inovasi industri aset kripto yang dapat menjadi alternatif bagi investor di tengah gejolak geopolitik saat ini. “Dengan menggabungkan keseimbangan antara stabilitas nilai aset fisik dan efisiensi teknologi blockchain, $XAUT dan $SLVON membuka inovasi diversifikasi aset investasi. Melalui platform BITTIME, transaksi aset kripto tersebut dapat dilakukan menggunakan Rupiah dengan fleksibilitas waktu operasional,” kata Ronny. Di sisi lain, investor jangka-panjang dapat memanfaatkan fitur fleksibel staking dengan imbal hasil tahunan (APY) hingga 10% bagi pengguna baru. Fleksibel staking hadir tanpa batas locked periode tertentu, sehingga investor dapat memanfaatkan asetnya kapan saja. Tetapi, perlu dipahami aset kripto mengandung risiko tinggi, termasuk fluktuasi harga dan risiko likuiditas yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Untuk itu, sangat penting bagi setiap investor untuk terus melakukan riset mandiri dan berdiskusi dengan komunitas terpercaya sebelum mengambil keputusan investasi.
Pergantian Pimpinan Pengawas Kripto OJK Dorong Kolaborasi Regulator dan Industri
Jakarta, katakabar.com - Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI setujui Adi Budiarso untuk menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia menggantikan Hasan Fawzi yang kini dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon. Mengutip laman resmi Kementerian Keuangan, Adi Budiarso saat ini menjabat sebagai Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan, dan Pembiayaan Lainnya di Direktorat Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan. Pelaku industri aset kripto menyambut baik kepemimpinan baru ini sekaligus menyampaikan apresiasi atas kontribusi Hasan Fawzi selama memimpin pengawasan sektor inovasi teknologi keuangan dan aset kripto. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Bapak Hasan Fawzi atas perannya dalam memperkuat fondasi industri kripto di Indonesia. “Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Bapak Hasan Fawzi atas kepemimpinan dan kontribusinya selama menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas IAKD. Di bawah kepemimpinan beliau, ekosistem kripto di Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan, baik dari sisi tata kelola, penguatan regulasi, maupun peningkatan kepercayaan publik terhadap industri ini,” ujar Calvin. Ia menambahkan salah satu pencapaian penting dalam periode tersebut adalah proses peralihan pengawasan industri kripto dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) ke OJK yang berjalan dengan baik, dengan tetap menjaga keberlanjutan ekosistem yang telah terbentuk. Tokocrypto juga menyambut baik penunjukan Adi Budiarso sebagai Kepala Eksekutif Pengawas IAKD yang baru. Industri berharap kepemimpinan baru ini dapat semakin memperkuat ekosistem inovasi teknologi keuangan dan aset digital di Indonesia. “Kami menyambut baik penunjukan Bapak Adi Budiarso sebagai Kepala Eksekutif Pengawas IAKD yang baru. Kami berharap di bawah kepemimpinan beliau, ekosistem aset kripto dan inovasi teknologi keuangan di Indonesia dapat terus berkembang secara berkelanjutan,” kata Calvin. Menurutnya, dukungan regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi akan menjadi kunci bagi pertumbuhan industri di masa depan. “Ke depan, kami berharap OJK dapat terus mendorong terciptanya regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memberikan ruang inovasi bagi pelaku industri, serta memperkuat kolaborasi antara regulator, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan sinergi yang semakin kuat, kami optimistis industri aset kripto Indonesia dapat semakin berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi digital nasional sekaligus memberikan perlindungan yang optimal bagi masyarakat,” jelasnya. Pertumbuhan Transaksi dan Status Syariah Kripto Di tengah dinamika regulasi dan perkembangan industri, aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia masih menunjukkan tren yang kuat. Data dari Bursa Kripto PT Central Finansial X (CFX) mencatat volume transaksi di pasar spot mencapai Rp24,33 triliun selama periode 1–28 Februari 2026. Selain itu, aktivitas perdagangan di pasar derivatif juga mencatat nilai transaksi sebesar Rp3,88 triliun pada periode yang sama, mencerminkan tingginya minat pelaku pasar terhadap instrumen kripto di Indonesia. Calvin menilai, data tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap aset kripto di Indonesia masih tetap kuat, baik di pasar spot maupun derivatif. “Ini menjadi sinyal bahwa industri kripto nasional tetap memiliki daya tarik yang besar dan terus berkembang di tengah proses penguatan regulasi. Momentum ini juga menunjukkan pentingnya kehadiran kebijakan yang mendukung inovasi, menjaga kepercayaan pasar, serta memperkuat perlindungan bagi konsumen,” ujar Calvin. Perkembangan industri ini juga diikuti dengan perhatian dari berbagai kalangan, termasuk lembaga keagamaan. Muhammadiyah baru-baru ini menerbitkan fatwa terkait hukum kripto dalam Islam melalui Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 4 Maret 2026. Dalam fatwa tersebut dijelaskan bahwa kripto pada dasarnya dapat dikategorikan sebagai harta (māl mutaqawwam), yakni aset yang memiliki nilai ekonomi, dapat dimiliki, disimpan, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Lantaran itu, hukum dasar transaksi kripto pada prinsipnya adalah mubah atau diperbolehkan selama tidak melanggar prinsip-prinsip syariah. Tetapi, Muhammadiyah menegaskan bahwa kebolehan tersebut bersifat bersyarat. Jika aset atau mekanisme transaksi kripto mengandung unsur riba, penipuan, perjudian, atau spekulasi berlebihan, maka hukumnya dapat berubah menjadi tidak diperbolehkan. Dalam dokumen tersebut juga dijelaskan sejumlah aktivitas kripto yang dinilai diperbolehkan, antara lain investasi kripto di pasar spot, penggunaan kripto sebagai penyimpan nilai berbasis teknologi kriptografi, pemanfaatan utility token dalam ekosistem blockchain, governance token yang memberikan hak partisipasi dalam tata kelola proyek, serta airdrop kripto selama tidak melibatkan aktivitas yang melanggar prinsip syariah. Menanggapi hal tersebut, Calvin mengatakan pandangan Muhammadiyah menjadi salah satu perkembangan positif yang dapat membantu memperluas pemahaman publik terhadap aset kripto, khususnya dari perspektif syariah. “Kami melihat pandangan Muhammadiyah ini sebagai kontribusi penting dalam memperkaya pemahaman masyarakat mengenai aset kripto. Ini memberikan perspektif kripto tidak hanya dilihat dari sisi tren investasi, tetapi juga dari aspek utilitas, tata kelola, dan mekanisme transaksinya. Ke depan, edukasi dan literasi tetap menjadi faktor penting agar masyarakat dapat memahami aset kripto secara lebih utuh dan bijak,” sebut Calvin.
Tokocrypto Buka Deposit QRIS Mudahkan Transaksi Kripto di Indonesia
Jakarta, katakabar.com - Nilai transaksi aset kripto di Indonesia awal tahun 2026 mengalami penurunan seiring melemahnya harga kripto global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto selama Januari 2026 sebesar Rp29,24 triliun atau turun secara bulanan. Total transaksi kripto sepanjang Januari 2026 tersebut melemah 10,53 persen dibandingkan Desember 2025 yang tercatat senilai Rp32,68 triliun. Meski mengalami penurunan nilai transaksi, OJK menyatakan kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital, termasuk aset kripto, masih terjaga dengan baik. Data OJK juga menunjukkan jumlah konsumen pedagang aset keuangan digital mencapai 20,70 juta pengguna pada Januari 2026. Angka ini tumbuh 2,56 persen dibandingkan Desember 2025 yang tercatat sebanyak 20,19 juta konsumen. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan penurunan nilai transaksi kripto di awal tahun merupakan hal yang wajar di tengah kondisi pasar global yang sedang mengalami koreksi harga. “Pergerakan transaksi kripto sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global. Ketika harga aset kripto mengalami koreksi, biasanya aktivitas trading juga ikut melambat karena investor cenderung menunggu momentum yang lebih stabil. Tetapi secara fundamental, minat masyarakat terhadap kripto di Indonesia masih terus bertumbuh, terlihat dari jumlah pengguna yang terus meningkat,” ujar Calvin. Menurut Calvin, perkembangan ekosistem digital di Indonesia juga menjadi faktor penting yang akan mendorong pertumbuhan industri kripto ke depan. Kemajuan sistem pembayaran digital membuat akses terhadap layanan keuangan, termasuk investasi aset kripto, semakin mudah. Bank Indonesia mencatat kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital pada 2025 didukung oleh sistem pembayaran yang aman dan lancar seperti QRIS, BI-FAST, dan berbagai metode pembayaran digital lainnya. Indonesia bahkan menjadi salah satu negara dengan adopsi pembayaran digital yang sangat cepat. Dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2025, Bank Indonesia mencatat QRIS sebagai sistem pembayaran dengan pertumbuhan volume transaksi tertinggi. Volume transaksi QRIS tumbuh sebesar 139,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dengan jumlah pengguna mencapai 59,53 juta dan merchant sebanyak 42,75 juta. Kemudahan Deposit QRIS Melihat perkembangan pembayaran digital yang terus meningkat, Tokocrypto memperkuat kemudahan akses bagi pengguna dalam bertransaksi aset kripto melalui berbagai metode deposit yang cepat dan praktis, termasuk QRIS. Langkah ini sejalan dengan tren penggunaan QRIS yang terus tumbuh di Indonesia. Berdasarkan data Bank Indonesia, QRIS menjadi sistem pembayaran dengan pertumbuhan volume transaksi tertinggi pada 2025, yakni mencapai 139,9 persen secara tahunan, dengan jumlah pengguna 59,53 juta dan merchant 42,75 juta. Bahkan, pada 2026 pertumbuhan QRIS diproyeksikan tetap kuat di level 109,2 persen. Calvin menilai pertumbuhan QRIS yang sangat pesat menunjukkan semakin tingginya penerimaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital yang cepat, mudah, dan efisien. Menurutnya, tren ini dapat menjadi momentum positif bagi industri kripto untuk menjangkau lebih banyak pengguna melalui akses transaksi yang lebih sederhana. “Melalui fitur deposit menggunakan QRIS, pengguna dapat melakukan top up saldo secara instan hanya dengan memindai kode QR dari berbagai aplikasi pembayaran digital. Melihat pertumbuhan QRIS yang sangat signifikan di Indonesia, kami berharap kehadiran metode deposit ini dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan transaksi kripto di Tokocrypto, sekaligus memperluas akses masyarakat untuk masuk ke ekosistem aset digital dengan lebih mudah dan nyaman,” jelas Calvin. Selain QRIS, Tokocrypto juga menyediakan sejumlah metode deposit lain seperti virtual account melalui BCA dan Permata, serta pembayaran melalui e-wallet. Kehadiran beragam pilihan kanal pembayaran ini diharapkan dapat memberikan fleksibilitas lebih besar bagi pengguna, sekaligus menciptakan pengalaman transaksi yang lebih praktis dan efisien. Ke depan, Calvin optimistis industri kripto di Indonesia akan terus berkembang seiring percepatan transformasi digital, meningkatnya literasi masyarakat terhadap aset kripto, serta dukungan infrastruktur sistem pembayaran yang semakin kuat. "Kombinasi antara inovasi teknologi dan ekosistem pembayaran digital yang kian matang akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri kripto nasional," tambahnya.
Industri Kripto Sumbang Rp1,93 Triliun, Edukasi Pajak Makin Diperkuat
Jakarta, katakabar.com - Pertumbuhan industri aset kripto di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Di tengah peningkatan aktivitas pasar, aspek kepatuhan dan pemahaman perpajakan menjadi semakin krusial bagi investor maupun pelaku industri, khususnya dalam pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan. Menurut data terbaru Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu), penerimaan pajak dari aset kripto hingga Januari 2026 tercatat sebesar Rp1,93 triliun. Angka tersebut terdiri dari Rp246,45 miliar (2022), Rp220,83 miliar (2023), Rp620,4 miliar (2024), Rp796,74 miliar (2025), serta Rp43,45 miliar pada Januari 2026. Data ini menegaskan potensi kontribusi industri kripto terhadap penerimaan negara, sekaligus menguatkan urgensi kepatuhan pajak investor. Pada sesi edukasi perpajakan yang digelar Tokocrypto bersama Ideatax, di penghujung Februari 2026 di Jakarta, dibahas pembaruan aturan yang berdampak pada transaksi kripto, termasuk pemberlakuan PMK Nomor 50 Tahun 2025 yang mengubah skema pajak perdagangan aset kripto. Berpedoman pada PMK-50/2025 menetapkan transaksi jual aset kripto dikenakan PPh Final, sementara PPN tidak lagi dipungut karena aset kripto dipersamakan sebagai surat berharga. Aturan ini juga membedakan tarif berdasarkan platform: 0,21% untuk transaksi pada platform dalam negeri (DN) dan 1% untuk transaksi pada platform luar negeri (LN) dikenakan tarif 1%. Chief Financial Officer (CFO) Tokocrypto, Sefcho Rizal, menyatakan skema baru tersebut dapat memperkuat daya saing exchange dalam negeri sekaligus mendorong transaksi yang lebih patuh regulasi. “PMK-50/2025 membuat skema pajak menjadi lebih jelas dan sederhana. Pembedaan tarif 0,21% untuk platform dalam negeri memberi sinyal positif bagi ekosistem kripto nasional dan mendorong pengguna untuk bertransaksi di exchange berizin,” ujar Sefcho. Ia menambahkan, exchange berizin berperan penting membantu kepatuhan karena proses pemungutan pajak dilakukan secara otomatis sesuai ketentuan yang berlaku. Tokocrypto juga menyediakan akses laporan pajak tahunan agar pengguna lebih mudah menyiapkan dokumen pelaporan. “Kami berupaya memudahkan pengguna lewat fitur laporan ringkasan pajak tahunan di platform, sehingga proses pelaporan SPT bisa lebih rapi dan akurat,” tambahnya. Tokocrypto juga meraih penghargaan sebagai salah satu wajib pajak dengan kontribusi terbesar. Penghargaan ini diberikan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Selatan I (Kanwil DJP Jaksel I) sebagai bentuk apresiasi atas kepatuhan dan kontribusi signifikan Tokocrypto terhadap penerimaan pajak nasional. "Pencapaian ini tidak lepas dari dukungan komunitas pengguna yang terus tumbuh. Dengan lebih dari 4,8 juta pengguna aktif yang bertransaksi setiap hari melakukan investasi maupun trading," tutur Sefcho. Partner Ideatax, Jovita Budianto, menegaskan meski pajak atas transaksi kripto bersifat final dan dipungut melalui exchange, kepemilikan aset kripto tetap wajib dilaporkan dalam SPT Tahunan pada daftar harta. “Pajak final bukan berarti selesai dari sisi pelaporan. Aset kripto tetap perlu dicantumkan di SPT Tahunan sebagai bagian dari harta, umumnya masuk kategori investasi lainnya,” kata Jovita. Menurutnya, ketelitian pelaporan penting untuk menghindari ketidakseimbangan analisis harta yang dapat memicu klarifikasi otoritas pajak. Ideatax juga mengajak wajib pajak tidak menunda pelaporan dan memastikan seluruh aset, termasuk kripto, dicantumkan secara benar. “Kepatuhan pajak adalah bagian dari pengelolaan risiko. Selain menghindari sanksi, pelaporan yang tertib juga memperkuat reputasi dan kredibilitas, baik untuk individu maupun pelaku usaha,” sebut Jovita. Dengan penerimaan pajak kripto yang telah mencapai Rp1,93 triliun hingga Januari 2026, industri kripto Indonesia kian menunjukkan kontribusi nyata bagi negara. Kolaborasi edukasi antara exchange dan mitra konsultan pajak diharapkan memperkuat literasi, mendorong kepatuhan, serta membangun pertumbuhan ekosistem kripto yang lebih transparan dan berkelanjutan.
Bangun Kekayaan Lewat Literasi Aset Kripto, Belajar Konsistensi Strategi Global dan Keunggulan Bitcoin
Jakarta, katakabar.com - Akhir-akhir ini Michael Saylor, sebagai tokoh sentral di balik transformasi perusahaan Strategy, telah memposisikan dirinya sebagai salah satu pendukung Bitcoin paling vokal di dunia melalui strategi akumulasi yang sangat konsisten. Hingga awal tahun 2026, perusahaan yang dipimpinnya telah memiliki lebih dari 714.644 BTC. Sebuah jumlah yang luar biasa dan menempatkan mereka sebagai salah satu pemegang korporasi terbesar secara global. Saylor menegaskan fluktuasi harga jangka pendek tidak akan mengubah rencana jangka panjangnya untuk terus membeli Bitcoin setiap kuartal. Ia memandang Bitcoin sebagai cadangan nilai utama yang jauh lebih unggul dibandingkan uang tunai. Strategi ini dirancang untuk memberikan ketenangan bagi investor di tengah dinamika pasar, membuktikan keyakinan yang kuat pada fundamental aset dapat melampaui kebisingan berita harian. Sejalan dengan pandangan tersebut, Robert Kiyosaki, penulis buku finansial legendaris Rich Dad Poor Dad, baru-baru ini juga menegaskan dukungannya terhadap Bitcoin dengan membandingkannya secara langsung terhadap emas. Beliau berpendapat bahwa meskipun emas tetap menjadi aset yang berharga, pasokannya masih bisa bertambah melalui penemuan tambang baru maupun kemajuan teknologi pengeboran. Sebaliknya, Bitcoin diatur oleh kode matematika yang sangat ketat sehingga membatasi jumlah totalnya hanya pada angka 21 juta koin, menciptakan tingkat kelangkaan absolut yang tidak dimiliki oleh logam mulia tradisional. Kelangkaan yang telah dirancang secara digital inilah yang membuat Kiyosaki memandang Bitcoin memiliki keunggulan struktural yang lebih cerdas untuk meningkatkan kekayaan di masa depan. Tetapi, bagi para investor di Indonesia, perpaduan strategi positif dari dari Michael Saylor dan pandangan Robert Kiyosaki ini juga dapat memberikan harapan baru peluang keuntungan jangka panjang masih terbuka sangat lebar bagi mereka yang mampu bersikap tenang dan tidak terbawa arus kepanikan sesaat. Bittime, platform pertukaran aset kripto yang telah memperoleh izin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menekankan pentingnya literasi dan strategi investasi jangka panjang bagi setiap penggunanya agar investasi tidak sekadar menjadi ajang spekulasi, melainkan sebuah keputusan yang diambil berdasarkan pemahaman mendalam mengenai manajemen risiko dan fundamental aset. Dengan memperkuat wawasan sebelum bertransaksi, investor diharapkan dapat membedakan antara fluktuasi harga sementara dan nilai jangka panjang sebuah teknologi sehingga tidak mudah goyah oleh berita-berita yang kurang akurat. Kesabaran dan pemahaman yang baik akan menjadi kunci utama dalam meraih potensi maksimal dari perkembangan aset kripto yang terus bertransformasi menuju standar keuangan masa depan yang lebih inklusif dan modern. Perlu dipahami, investasi aset kripto mengandung risiko tinggi. Hal tersebut termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Lantaran itu, sangat penting mengetahui tingkat toleransi risiko, serta strategi dan metode investasi yang sesuai bagi masing-masing sebelum memulai perdagangan atau investasi aset kripto.