Bittime: Minat RWA di Indonesia NaiFaktork Ondo Finance Beberkan Faktor Pendorong
Jakarta, katakabar.com - Bittime mencatat transaksi Tokenized US Stocks tumbuh 2,5 kali lipat pada Juli 2026, seiring meningkatnya minat investor Indonesia terhadap Real World Assets (RWA) dan aset digital global. Ondo Finance menilai pertumbuhan RWA didorong kebutuhan investor terhadap aset yang transparan, aman, dan berkualitas, sementara kepastian regulasi menjadi faktor penting bagi perkembangan RWA di Indonesia. Bittime, sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mencatat peningkatan transaksi Tokenized US Stocks pada Juli 2026. Peningkatan tersebut sebesar 2,5 kali lipat dibandingkan Juni 2026. Tren tersebut mencerminkan meningkatnya minat investor Indonesia terhadap instrumen investasi global berbasis blockchain dan sejalan dengan perkembangan pasar Real World Assets (RWA) yang terus bertumbuh di tingkat global. Senior Director Asia Pacific Ondo Finance, Rania Rahardja, mengatakan nilai pasokan stablecoin global kini telah mencapai sekitar US$300 miliar, sementara nilai pasar RWA telah menyentuh US$30 miliar. Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan aset yang ditokenisasi, termasuk Tokenized US Stock. Minat Investor Indonesia Pada RWA Terus Meningkat Menurut Rania, pertumbuhan RWA didorong oleh perubahan perilaku investor yang kini semakin selektif dalam memilih instrumen investasi. Investor tidak lagi hanya mengejar imbal hasil tinggi, tetapi juga mulai memperhatikan transparansi, keamanan, serta kualitas aset yang menjadi dasar investasinya. "Investor kini semakin memahami dari mana imbal hasil berasal dan bagaimana aset tersebut dikelola. Perkembangan stablecoin juga membuka jalan bagi tokenisasi aset lain seperti US Treasury dan saham Amerika Serikat," ujar Rania. Rania menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pasar penting bagi perkembangan RWA di Asia Tenggara. Menurutnya, kepastian regulasi menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan investor sekaligus membuka ruang bagi inovasi di industri aset digital. "Indonesia memiliki pendekatan regulasi yang cukup progresif dibandingkan beberapa negara lain di Asia Tenggara. Kehadiran platform aset digital yang telah berizin menunjukkan komitmen regulator dalam membangun ekosistem yang sehat sekaligus memberikan kepercayaan bagi masyarakat untuk mengakses inovasi seperti Tokenized US Stock," jelasnya. Bittime Perluas Akses Tokenized US Stock Bittime menilai pandangan Ondo Finance tersebut menunjukkan Indonesia semakin diperhitungkan dalam perkembangan industri aset digital global. Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan kepastian regulasi dan meningkatnya minat investor menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan RWA di Indonesia. "Kami sependapat bahwa kepastian regulasi menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri. Dengan ekosistem yang semakin matang serta regulasi dan pengawasan yang semakin kuat, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pasar utama RWA di kawasan," kata Ryan. Ryan mengatakan tren global tersebut juga mulai tercermin pada aktivitas pengguna Bittime. Transaksi Tokenized US Stocks di Bittime tumbuh 2,5 kali lipat pada Juli 2026 dibandingkan Juni 2026, menunjukkan meningkatnya minat investor lokal terhadap aset global. Sejalan dengan meningkatnya minat tersebut, kolaborasi Bittime dan Ondo Finance saat ini telah menghadirkan 20 Tokenized US Stocks di Bittime. Beberapa di antaranya mencakup SpaceX (SPCXON), Coinbase (COINON), AMD (AMDON), Amazon (AMZNON), dan Microsoft (MSFTON). "Pertumbuhan transaksi Tokenized US Stocks sebesar 2,5 kali lipat menunjukkan meningkatnya minat investor lokal terhadap aset global. Lima Tokenized US Stocks yang paling banyak diminati di Bittime adalah SPCX, NVDA, CRCL, MSTR, dan AAPL," ucap Ryan. Ryan menambahkan, meningkatnya aktivitas perdagangan tersebut juga didukung fitur Flexible Earn dengan hadiah hingga 7% untuk Tokenized AI Stocks. Menurut Ryan, Bittime akan terus mengembangkan ekosistem investasi digital agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan investasi melalui aset digital, seperti Tokenized US Stock, serta fitur spot, futures, dan staking dalam satu platform yang terdaftar dan diawasi OJK. "Kami ingin semakin banyak masyarakat Indonesia dapat mengakses peluang investasi global secara lebih mudah, aman, dan bertanggung jawab," sebut Ryan.
Bitcoin Anjlok 17,9 persen, Transaksi Kripto RI Justru Tembus Rp28,58 Triliun
Jakarta, katakabar.com - Aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia kembali menunjukkan pertumbuhan signifikan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto nasional mencapai Rp28,58 triliun pada Juni 2026, melonjak 24,20% dibandingkan transaksi pada Mei 2026 yang tercatat sebesar Rp23,01 triliun. Kenaikan transaksi tersebut terjadi seiring dengan bertambahnya jumlah akun konsumen aset keuangan digital. Hingga Juni 2026, jumlah akun mencapai 22,69 juta, meningkat 1,32% secara bulanan dari 22,40 juta akun pada Mei 2026. Pertumbuhan aktivitas perdagangan juga berlangsung di tengah tingginya volatilitas pasar kripto global. Data Bitcoin Monthly Report menunjukkan harga Bitcoin turun 17,9% sepanjang Juni 2026, dari sekitar US$71.440 pada awal periode menjadi US$58.646 pada akhir bulan. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya pergerakan harga Bitcoin sepanjang Juni dan menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong meningkatnya aktivitas jual-beli di pasar kripto. Volatilitas harga yang tinggi biasanya membuat pelaku pasar lebih aktif menyesuaikan posisi, baik untuk merespons peluang kenaikan maupun mengelola risiko ketika harga bergerak turun. Dengan demikian, lonjakan nilai transaksi pada Juni tidak hanya mencerminkan bertambahnya jumlah pengguna, tetapi juga tingginya aktivitas investor dalam menghadapi dinamika pasar. Volatilitas Bitcoin Dorong Aktivitas Perdagangan CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai peningkatan transaksi kripto pada Juni menunjukkan bahwa pasar aset digital Indonesia semakin aktif. Menurutnya, salah satu faktor yang ikut mendorong tingginya aktivitas perdagangan adalah pergerakan harga Bitcoin yang cukup volatil sepanjang bulan tersebut. “Kenaikan transaksi kripto hingga Rp28,58 triliun menunjukkan bahwa aktivitas pasar aset digital di Indonesia semakin tinggi. Jika melihat pergerakan Bitcoin sepanjang Juni yang cukup volatil, kondisi tersebut juga dapat mendorong investor untuk lebih aktif melakukan penyesuaian posisi dan memanfaatkan pergerakan pasar. Bagi kami, ini menunjukkan bahwa minat terhadap aset digital tetap kuat, bahkan di tengah kondisi pasar yang dinamis,” kata Yudho. Menurut Yudho, pertumbuhan aktivitas transaksi perlu diimbangi dengan semakin mudahnya akses terhadap layanan aset digital, sekaligus edukasi yang memadai agar masyarakat dapat memahami risiko volatilitas pasar. “Volatilitas merupakan bagian dari karakteristik pasar aset kripto. Karena itu, pertumbuhan aktivitas transaksi perlu diikuti dengan akses yang mudah, keamanan, edukasi, dan pemahaman risiko yang memadai. Dengan fondasi tersebut, pertumbuhan industri dapat berlangsung secara lebih sehat dan berkelanjutan,” jelasnya. Jumlah Investor Kripto Tembus 22,69 Juta Pertumbuhan transaksi pada Juni juga berjalan seiring dengan peningkatan jumlah akun konsumen aset keuangan digital. OJK mencatat jumlah akun mencapai 22,69 juta pada Juni, naik dari 22,40 juta pada bulan sebelumnya. Angka tersebut melanjutkan tren pertumbuhan industri yang sebelumnya tercatat dalam data OJK per Mei 2026. Pada periode tersebut, jumlah investor kripto Indonesia telah mencapai 22,4 juta dengan nilai transaksi bulanan sebesar Rp23,01 triliun. Pertumbuhan jumlah pengguna dan aktivitas transaksi menunjukkan bahwa aset kripto semakin mendapatkan tempat dalam ekosistem keuangan digital Indonesia. Selain transaksi aset kripto, nilai transaksi derivatif aset keuangan digital juga mengalami peningkatan. OJK mencatat transaksi derivatif mencapai Rp4,19 triliun pada Juni 2026, naik 3,64% dibandingkan Rp4,04 triliun pada Mei. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan OJK, Adi Budiarso, menilai pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem aset keuangan digital masih terjaga. “Di tengah ketidakpastian global dan fluktuasi nilai transaksi yang terjadi, kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital, termasuk aset kripto Indonesia, masih terjaga dengan baik,” ucap Adi saat konferensi pers Rapat Dewan Komisioner OJK awal Agustus 2026 lalu. Akses Investasi Semakin Mudah Pertumbuhan jumlah investor dan transaksi juga mendorong pelaku industri untuk memperluas akses terhadap aset digital. FLOQ, sebagai platform perdagangan aset digital yang berizin dan diawasi OJK, terus mengembangkan kemudahan bagi masyarakat untuk masuk ke ekosistem kripto. Salah satunya melalui fasilitas deposit menggunakan Virtual Account (VA) BCA, BRI, dan Nobu Bank. Pengguna dapat melakukan deposit mulai dari Rp10.000 dan membeli aset kripto mulai dari Rp1.000. Kemudahan tersebut menjadi bagian dari upaya FLOQ untuk menurunkan hambatan awal bagi masyarakat yang ingin mengakses aset digital. “Kami melihat pertumbuhan investor kripto di Indonesia masih memiliki ruang yang sangat besar. Semakin mudah masyarakat mengakses ekosistem kripto melalui jalur yang mereka gunakan sehari-hari, semakin besar pula peluang adopsi yang sehat dan berkelanjutan. Karena itu, kami menghadirkan opsi deposit melalui BCA, BRI, dan Nobu Bank agar proses memulai investasi menjadi lebih praktis dan nyaman bagi pengguna,” tutur Yudho. Hingga saat ini, FLOQ telah mencatat lebih dari 1,8 juta pengguna terdaftar, dengan total unduhan aplikasi mencapai lebih dari 2 juta kali. Platform ini juga mendukung perdagangan lebih dari 100 aset digital. FLOQ juga terus mendorong peningkatan literasi aset digital melalui FLOQ Academy, yang dapat diakses secara gratis oleh pengguna maupun masyarakat umum.
Reli Belum Usai! Dupoin Futures Prediksi Harga Emas Masih Berpotensi Melonjak
Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAUUSD) diperkirakan masih berada dalam jalur penguatan pada perdagangan Selasa (11/8). Analisis terbaru dari Dupoin Futures menjelaskan, tren bullish yang telah terbentuk dalam beberapa waktu terakhir masih menunjukkan kekuatan yang solid. Dukungan dari indikator teknikal yang positif serta meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven menjadi kombinasi faktor yang dinilai mampu menjaga momentum kenaikan harga dalam jangka pendek hingga menengah. Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, selama belum muncul sinyal teknikal yang mengindikasikan pembalikan arah, peluang emas (XAUUSD) untuk melanjutkan reli masih cukup besar. Dalam kajian teknikal yang dilakukan Dupoin Futures, emas (XAUUSD) pada time frame Daily masih memperlihatkan struktur pergerakan yang didominasi oleh buyer. Arah tren utama masih mengarah ke atas dengan target penguatan menuju area resistance 4.484 hingga 4.592. Area tersebut dipandang sebagai sasaran kenaikan berikutnya apabila momentum beli tetap bertahan dan tidak terganggu oleh sentimen negatif dari pasar global. Geraldo Kofit menuturkan salah satu indikator yang memperkuat proyeksi tersebut adalah Stochastic, yang hingga saat ini masih bergerak naik tanpa menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang berarti. Posisi indikator tersebut mengindikasikan bahwa tekanan beli masih lebih dominan dibandingkan tekanan jual. Selama kondisi ini bertahan, peluang bagi harga emas (XAUUSD) untuk mencetak level yang lebih tinggi dinilai masih terbuka. "Dominasi buyer juga terlihat dari pola pergerakan harga yang terus mempertahankan tren naik secara konsisten. Meskipun dalam setiap tren bullish tetap terdapat peluang koreksi jangka pendek akibat aksi ambil untung, pelemahan tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara selama struktur tren utama tidak mengalami perubahan. Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap memperhatikan level-level teknikal penting sebagai acuan dalam menentukan strategi transaksi," ujarnya. Analis Dupoin Futures juga mengingatkan kenaikan harga yang cukup cepat sering kali diikuti oleh peningkatan volatilitas pasar. Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya fluktuasi harga yang lebih besar dalam jangka pendek. Tetapi, selama tekanan beli masih mampu mempertahankan momentum, koreksi yang muncul justru dapat menjadi bagian dari proses konsolidasi sebelum harga kembali melanjutkan penguatan. Dari sisi fundamental, prospek harga emas (XAUUSD) masih memperoleh dukungan dari meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Ketidakpastian mengenai situasi di Selat Hormuz kembali menjadi perhatian investor global karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia. Potensi gangguan terhadap arus perdagangan energi membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan sebagian investasinya ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk emas. Selain faktor geopolitik, Dupoin Futures juga menyoroti fenomena fear of missing out (FOMO) yang mulai terlihat di pasar. Setelah harga emas (XAUUSD) berhasil mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua bulan terakhir, semakin banyak investor yang mulai masuk ke pasar untuk mengantisipasi potensi kenaikan lanjutan. Arus pembelian tambahan tersebut turut memperkuat momentum bullish yang sedang berlangsung. Permintaan fisik emas dari China juga menjadi salah satu faktor yang menopang prospek harga. Sebagai salah satu konsumen emas terbesar di dunia, peningkatan pembelian dari China memberikan dukungan terhadap keseimbangan permintaan global. Menurut Dupoin Futures, tingginya permintaan dari pasar Asia berpotensi menjaga harga tetap berada dalam tren positif, terutama ketika dibarengi dengan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai. Perhatian pelaku pasar kini juga tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang akan menjadi salah satu katalis utama dalam beberapa waktu ke depan. Data inflasi tersebut dinilai memiliki pengaruh besar terhadap ekspektasi arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Apabila inflasi menunjukkan perlambatan, pasar berpotensi semakin yakin bahwa bank sentral Amerika Serikat memiliki ruang untuk memangkas suku bunga di masa mendatang. Skenario tersebut dapat memberikan dorongan tambahan bagi harga emas (XAUUSD) karena pelemahan ekspektasi suku bunga biasanya diikuti oleh tekanan terhadap dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Sebaliknya, apabila inflasi masih bertahan tinggi atau bahkan melampaui ekspektasi pasar, peluang penguatan dolar AS dapat meningkat sehingga berpotensi membatasi laju kenaikan emas dalam jangka pendek. Dupoin Futures menilai bahwa kombinasi antara faktor teknikal dan fundamental saat ini masih memberikan peluang yang cukup besar bagi harga emas (XAUUSD) untuk mempertahankan tren bullish. Dominasi buyer yang masih kuat, indikator Stochastic yang terus menunjukkan momentum positif, meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven akibat ketidakpastian geopolitik, fenomena FOMO di kalangan investor, serta naiknya permintaan emas dari China menjadi fondasi yang memperkuat prospek kenaikan harga. Secara keseluruhan, Dupoin Futures memproyeksikan harga emas (XAUUSD) masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan menuju area resistance 4.484 hingga 4.592. Meskipun pasar tetap berpotensi mengalami volatilitas menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat, struktur tren yang masih bullish membuat peluang kenaikan dinilai lebih dominan.
CEO FLOQ: Bitcoin Naik 6 Persen Tapi Pasar Kripto Belum Keluar dari Zona Waspada
Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto kembali tunjukkan volatilitas tinggi pada pekan kedua Juli 2026. Setelah sempat menguat lebih dari 6 persen pada awal bulan akibat meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat, Bitcoin kembali terkoreksi seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan pergerakan pasar saat ini menunjukkan bahwa sentimen terhadap aset kripto masih sangat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dan geopolitik, bukan semata-mata kondisi industri kripto itu sendiri. "Kenaikan Bitcoin di awal Juli sempat memunculkan optimisme bahwa pasar memasuki fase pemulihan. Namun, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mengingatkan kita bahwa aset kripto tetap menjadi bagian dari pasar keuangan global yang sensitif terhadap perubahan sentimen risiko. Investor perlu memahami bahwa volatilitas saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal dibandingkan fundamental industri kripto," ujar Yudho. Bitcoin Menguat, Tetapi Belum Keluar dari Zona Ketidakpastian Pada awal Juli, Bitcoin sempat menyentuh level terendah di sekitar US$58.278, sebelum kembali menguat hingga US$64.034 dalam waktu kurang dari sepekan. Penguatan tersebut didorong oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari ekspektasi, sehingga memunculkan harapan bahwa Federal Reserve akan mengurangi agresivitas kebijakan suku bunga. Tetapi, peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed masih tetap terbuka sehingga pasar belum memiliki kepastian mengenai arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang. "Data ekonomi yang lebih lemah memang membuka ruang bagi ekspektasi penurunan tekanan suku bunga. Namun pasar masih berada dalam fase wait and see. Investor sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa tren bullish telah kembali hanya berdasarkan pergerakan harga dalam beberapa hari," kata Yudho. Konflik Geopolitik Kembali Menekan Aset Berisiko Optimisme pasar tidak berlangsung lama setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan tersebut mendorong investor global beralih ke aset yang dianggap lebih aman (risk-off), sehingga Bitcoin maupun aset kripto lainnya kembali mengalami tekanan. Selain memengaruhi pasar keuangan, konflik tersebut juga mendorong kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut dapat mempersempit ruang bagi Federal Reserve untuk mulai melonggarkan kebijakan moneternya. Altcoin Mengalami Koreksi Lebih Dalam Di tengah meningkatnya ketidakpastian, aset kripto dengan kapitalisasi lebih kecil kembali mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan Bitcoin. Sejumlah altcoin seperti Solana, JUP, ETHFI, hingga PUMP mencatatkan koreksi signifikan seiring meningkatnya aksi jual investor. Menurut FLOQ, kondisi ini merupakan pola yang umum terjadi ketika pasar memasuki fase risk-off, di mana investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset dengan tingkat risiko yang lebih tinggi. Sinyal Positif Mulai Bermunculan Di balik tingginya volatilitas, terdapat sejumlah indikator yang memberikan harapan terhadap prospek jangka menengah pasar kripto. ETF Bitcoin di Amerika Serikat mulai kembali mencatat arus dana masuk (inflow) setelah mengalami outflow besar sepanjang Juni. Selain itu, data on-chain menunjukkan adanya peningkatan akumulasi Bitcoin di area harga sekitar US$59.000, mengindikasikan sebagian investor jangka panjang mulai kembali melakukan pembelian. "Kami melihat adanya sinyal akumulasi dari investor jangka panjang dan mulai pulihnya minat institusi melalui ETF Bitcoin. Namun sinyal tersebut masih memerlukan konfirmasi yang lebih kuat sebelum dapat dianggap sebagai awal dari siklus bullish baru," jelas Yudho. Regulasi Masih Menjadi Faktor Penting Selain faktor ekonomi global, kepastian regulasi di Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pembahasan CLARITY Act, yang diharapkan memberikan kepastian hukum bagi industri aset digital, masih mengalami penundaan sehingga belum mampu memberikan katalis positif bagi pasar. Menurut FLOQ, kepastian regulasi akan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan investor institusi terhadap industri aset kripto. Investor Perlu Mengedepankan Manajemen Risiko Menghadapi kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, FLOQ mengimbau investor untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko dan menghindari keputusan investasi yang didasarkan pada sentimen jangka pendek. "Volatilitas merupakan bagian dari karakteristik pasar kripto. Yang terpenting bagi investor bukan mengejar setiap kenaikan harga, melainkan memiliki strategi investasi yang konsisten, disiplin, dan sesuai dengan profil risiko masing-masing. Pendekatan seperti dollar cost averaging (DCA) tetap relevan bagi investor jangka panjang selama dilakukan dengan pengelolaan risiko yang baik," terang Yudho. Ke depan, FLOQ menilai pasar akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah agenda penting, di antaranya data inflasi Amerika Serikat, perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, pembahasan regulasi aset kripto di Amerika Serikat, serta keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir Juli. Sebagai platform perdagangan aset kripto yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), FLOQ berkomitmen menghadirkan pengalaman investasi aset digital yang aman, mudah, dan transparan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Disclaimer: Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruh informasi yang tersedia hanya bersifat umum dan bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi investasi. Kami menghimbau seluruh konsumen untuk melakukan riset dan mempertimbangkan keputusan investasi secara matang sebelum melakukan transaksi aset kripto. Konsumen juga diharapkan untuk bertransaksi sesuai dengan profil risiko dan kemampuan finansial masing-masing serta tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan.
Harga Emas Masih Berpeluang Naik, Momentum Bullish Diperkirakan Berlanjut
Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih memiliki ruang untuk menguat di perdagangan, Senin (15/6). Hal ini, setelah mencatat kenaikan yang cukup signifikan dalam beberapa sesi terakhir, logam mulia masih didukung oleh sentimen positif baik dari sisi teknikal maupun fundamental. Kondisi tersebut membuat peluang kenaikan harga emas dinilai masih terbuka, meski pelaku pasar tetap perlu mencermati potensi perubahan sentimen yang dapat memengaruhi arah pergerakan pasar. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan pergerakan XAU/USD pada timeframe H4 masih memperlihatkan tren naik yang kuat. Sejak pembukaan perdagangan pagi, harga bergerak dengan momentum yang cukup besar dan menunjukkan bahwa minat beli dari pelaku pasar masih mendominasi. Menurutnya, kenaikan yang terjadi tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga didukung oleh struktur teknikal yang masih sehat. Selama tekanan beli tetap bertahan dan harga tidak kembali turun di bawah area support terdekat, peluang emas untuk melanjutkan penguatan masih cukup besar. Secara teknikal, ulasnya, target kenaikan terdekat berada di level 4.354. Apabila area tersebut berhasil ditembus, harga diperkirakan memiliki peluang untuk melanjutkan kenaikan menuju resistance berikutnya di kisaran 4.421. Kedua level tersebut menjadi acuan penting bagi pelaku pasar dalam mengamati arah pergerakan emas dalam jangka pendek. Geraldo menjelaskan hingga saat ini belum terlihat adanya sinyal teknikal yang menunjukkan perubahan tren menjadi bearish. Sebaliknya, pola pergerakan harga masih mencerminkan dominasi pembeli yang cukup kuat. Kondisi tersebut membuat prospek kenaikan masih lebih besar dibandingkan peluang terjadinya koreksi dalam waktu dekat. Indikator stochastic juga memberikan gambaran yang sejalan dengan kondisi tersebut. Saat ini indikator berada di area overbought atau jenuh beli. Meski demikian, posisi tersebut belum bisa diartikan sebagai sinyal harga akan segera berbalik turun. Hingga kini belum muncul indikasi pelemahan momentum yang cukup kuat untuk mengakhiri tren naik yang sedang berlangsung. Dalam banyak kondisi pasar, kata Kofit, indikator stochastic yang berada di zona overbought memang dapat menjadi peringatan bahwa harga sudah naik cukup tinggi. Namun selama indikator tersebut belum berbalik arah secara tegas, peluang kenaikan masih tetap terbuka. Karena itu, investor masih akan mencermati kekuatan momentum beli yang saat ini masih cukup dominan. Selain analisis teknikal, faktor fundamental juga masih memberikan dukungan terhadap harga emas. Salah satu pendorong utama adalah meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah berbagai ketidakpastian yang masih membayangi perekonomian global. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia, ketegangan geopolitik yang belum mereda, serta fluktuasi pasar keuangan membuat sebagian investor memilih mengalihkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dalam situasi seperti ini, emas kembali menjadi salah satu aset yang banyak diminati karena dinilai mampu menjaga nilai investasi ketika kondisi pasar sedang tidak menentu. Di sisi lain, pelemahan dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor yang ikut menopang penguatan harga emas. Ketika nilai tukar dolar menurun, harga emas menjadi lebih kompetitif bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut biasanya meningkatkan permintaan terhadap logam mulia sehingga mendukung kenaikan harga. Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga menjadi perhatian pelaku pasar. Yield obligasi yang cenderung menurun membuat biaya peluang untuk memiliki emas menjadi lebih rendah. Hal tersebut meningkatkan daya tarik emas sebagai alternatif investasi, terutama bagi investor yang mencari instrumen lindung nilai. Pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve. Apabila data ekonomi Amerika Serikat, seperti inflasi, tenaga kerja, maupun aktivitas manufaktur, menunjukkan perlambatan, peluang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan suku bunga akan semakin besar. Ekspektasi tersebut biasanya memberikan sentimen positif bagi emas sekaligus menekan pergerakan dolar AS. Secara keseluruhan, Dupoin Futures melihat prospek harga emas masih cukup positif pada perdagangan hari ini. Dukungan dari tren teknikal yang masih kuat, tingginya permintaan terhadap aset safe haven, pelemahan dolar AS, serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar menjadi faktor yang berpotensi menjaga momentum kenaikan harga. Selama harga tetap bertahan di atas area support penting, peluang emas untuk melanjutkan penguatan menuju level resistance 4.354 hingga 4.421 masih terbuka dalam jangka pendek.
Harga HYPE Naik Tembus US$48 di Tengah Pelemahan Rupiah dan Tren Bitcoin 2026
Jakarta, katakabar.com - Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, penguatan harga Bitcoin, serta meningkatnya penggunaan stablecoin global mulai mendorong perhatian masyarakat terhadap pasar aset digital pada 2026. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah altcoin mulai menunjukkan peningkatan aktivitas perdagangan dan minat pasar, termasuk Hyperliquid (HYPE). Data pasar pada 20 Mei 2026 pukul 11.50 WIB menunjukkan, harga HYPE menembus US$48,07* dengan kenaikan aset lebih dari 16% di masa 1 bulan terakhir. Sedang, harga Bitcoin hari ini masih bertahan di area tinggi US$76,862 setelah mengalami penguatan signifikan sepanjang tahun 2026. Sejumlah analis pasar global mulai memperhatikan potensi pertumbuhan ekosistem Hyperliquid dalam jangka panjang seiring berkembangnya decentralized trading infrastructure dan integrasi stablecoin di dalam platform. Di sisi makroekonomi, Rupiah sempat menyentuh level mendekati Rp17.670 per dolar AS di tengah tekanan global dan penguatan dolar AS. Kondisi ini turut meningkatkan perhatian masyarakat terhadap aset berbasis dolar seperti Bitcoin dan stablecoin USDT. Menurut FLOQ, kondisi pasar saat ini menunjukkan aset digital mulai semakin diperhatikan sebagai bagian dari diversifikasi aset dan eksposur terhadap ekonomi global. “Dalam kondisi pasar global yang dinamis, masyarakat mulai memperhatikan berbagai instrumen digital seperti Bitcoin, stablecoin, hingga altcoin. Tetapi penting dipahami bahwa setiap aset memiliki karakteristik risiko dan volatilitas yang berbeda,” kata Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ. Mengapa Bitcoin, USDT dan Aset Digital Mulai Dilirik? Di tengah pelemahan Rupiah dan ketidakpastian ekonomi global, sebagian masyarakat mulai mencari alternatif aset yang memiliki eksposur terhadap dolar AS dan ekonomi global. Hal ini mendorong meningkatnya perhatian terhadap Bitcoin, stablecoin seperti USDT (saat ini berkisaran US$0.99), hingga aset digital lainnya. Selain digunakan untuk aktivitas trading, stablecoin juga mulai dipandang sebagai bagian dari efisiensi transaksi digital dan diversifikasi aset di era ekonomi digital. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menunjukkan jumlah pengguna aset kripto di Indonesia telah melampaui 21 juta pengguna pada 2026, menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap ekosistem aset digital dan blockchain di Indonesia. Mengenal Hyperliquid dan Pendiri di Baliknya Hyperliquid merupakan proyek decentralized exchange (DEX) yang berfokus pada perpetual futures trading berbasis blockchain. Platform ini mulai dikenal luas di komunitas aset digital karena menawarkan pengalaman trading dengan kecepatan tinggi dan likuiditas yang menyerupai centralized exchange, namun tetap berjalan dalam ekosistem decentralized finance (DeFi). Kurun beberapa tahun terakhir, Hyperliquid berkembang menjadi salah satu decentralized perpetual trading platform yang banyak diperhatikan komunitas aset digital global seiring meningkatnya aktivitas decentralized derivatives trading.
Sentimen Global dan Teknikal Kompak Bikin Harga Emas Naik Lagi
Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia pada perdagangan Kamis (30/4) diperkirakan memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan, seiring munculnya kombinasi sinyal teknikal yang positif serta dukungan dari faktor fundamental global. Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai pergerakan XAU/USD dalam timeframe H1 mulai menunjukkan indikasi pembalikan arah, setelah sebelumnya berada dalam tekanan. Secara teknikal, ujarnya, salah satu sinyal utama yang menjadi perhatian adalah terbentuknya pola double bottom. Pola ini dikenal luas sebagai indikasi awal perubahan tren dari turun menjadi naik. "Konfirmasi terhadap pola tersebut semakin kuat setelah harga berhasil menembus area neckline, yang menjadi batas penting dalam formasi tersebut. Penembusan ini mengindikasikan tekanan beli mulai meningkat dan pasar mulai beralih ke fase penguatan," jelasnya. Dengan adanya sinyal tersebut, kata Kofit, harga emas diperkirakan berpotensi melanjutkan kenaikan menuju level resistance terdekat di kisaran 4.604. Level ini menjadi titik awal yang akan diuji oleh pasar dalam jangka pendek. "Jika momentum penguatan tetap terjaga, maka peluang untuk melanjutkan kenaikan ke level berikutnya di sekitar 4.629 semakin terbuka," ucapnya. Meski demikian, sambung Kofit, pergerakan harga tetap perlu diperhatikan, terutama di area resistance. Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, kenaikan harga biasanya tidak terjadi secara linier, sehingga diperlukan konfirmasi lanjutan agar tren naik dapat berlanjut dengan lebih kuat. Dari sisi fundamental, ulasnya, sentimen positif terhadap emas juga didukung oleh keputusan suku bunga Amerika Serikat yang tetap atau tidak mengalami perubahan. "Kebijakan ini memberikan sinyal tekanan pengetatan moneter mulai berkurang. Dengan kondisi tersebut, aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas menjadi lebih menarik dibandingkan instrumen berbasis yield," imbuhnya. Selain itu, kupas Kofit, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang cenderung stabil atau bahkan menurun turut menjadi faktor pendukung. Ketika yield tidak mengalami kenaikan, biaya peluang dalam memegang emas menjadi lebih rendah. Hal ini membuat investor kembali melirik emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio. "Faktor lain yang turut memperkuat potensi kenaikan emas adalah pergerakan dolar Amerika Serikat yang cenderung melemah atau bergerak terbatas setelah keputusan suku bunga. Dalam kondisi tersebut, harga emas menjadi lebih terjangkau bagi investor global, sehingga permintaan cenderung meningkat," terangnya. Di sisi lain, tuturnya, sikap wait and see yang ditunjukkan pelaku pasar juga berkontribusi terhadap pergerakan emas. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan ke depan serta kondisi ekonomi global membuat investor cenderung berhati-hati. Dalam situasi seperti ini, emas kembali dilirik sebagai aset lindung nilai yang relatif aman. Secara keseluruhan, bebernya, Dupoin Futures melihat bahwa kombinasi antara sinyal teknikal dan dukungan fundamental memberikan prospek yang cukup positif bagi harga emas dalam jangka pendek. Selama harga mampu bertahan di atas area neckline yang telah ditembus, peluang untuk melanjutkan tren kenaikan masih terbuka. "Pelaku pasar tetap disarankan untuk mencermati dinamika pasar global dan perkembangan data ekonomi yang dapat memengaruhi arah pergerakan harga. Dengan volatilitas yang masih tinggi, pendekatan yang disiplin dan berbasis analisis menjadi kunci dalam mengambil keputusan investasi," sebutnya. Dengan latar belakang tersebut, harga emas diperkirakan akan bergerak dalam kecenderungan bullish terbatas dalam jangka pendek, dengan fokus pada pengujian level resistance yang telah ditentukan.
Harga Emas Mulai Pulih, Peluang Naik ke 4.767 Terbuka
Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia di perdagangan, Senin (27/4) kemarin diperkirakan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sempat tertekan pada awal sesi. Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai pergerakan harga emas saat ini mulai mengarah pada potensi kenaikan, meskipun sebelumnya sempat mengalami penurunan yang cukup tajam. Di awal perdagangan pagi, ujarnya, harga emas dibuka dengan kondisi gap down yang memicu penurunan secara cepat. Tekanan jual sempat mendominasi pasar, sehingga harga bergerak turun menuju area support terdekat. Penurunan ini mencerminkan respons pasar terhadap sentimen jangka pendek yang mendorong aksi jual. "Setelah mencapai area support tersebut, tekanan jual mulai berkurang. Harga tidak melanjutkan penurunan lebih dalam, melainkan mulai bergerak stabil. Kondisi ini menjadi indikasi awal bahwa pasar mulai menemukan titik keseimbangan setelah pergerakan turun yang cukup agresif," ucapnya. Secara teknikal, lanjutnya, harga kemudian membentuk swing low di area support tersebut. Ini salah satu sinyal penting yang menunjukkan bahwa level tersebut cukup kuat untuk menahan penurunan. Dengan terbentuknya titik ini, peluang bagi harga untuk bergerak naik kembali mulai terbuka. Selain itu, kupasnya, indikator teknikal juga menunjukkan adanya bullish divergence. Kondisi ini terjadi ketika harga masih bergerak turun, tetapi indikator justru mulai mengarah naik. Sinyal ini biasanya menjadi tanda bahwa tekanan jual mulai melemah dan potensi pembalikan arah mulai muncul. Melihat kombinasi sinyal tersebut, Dupoin Futures memperkirakan harga emas memiliki peluang untuk naik dalam jangka pendek. Target kenaikan terdekat berada di level 4.733, yang menjadi area resistance pertama yang akan diuji oleh pasar. Jika harga mampu melewati level tersebut, maka peluang kenaikan lanjutan menuju level 4.767 semakin terbuka. Tetapi, kenaikan ini masih perlu dikonfirmasi oleh kekuatan pasar. Pergerakan setelah penurunan tajam biasanya tidak langsung berbalik secara kuat, sehingga masih ada kemungkinan harga bergerak naik secara bertahap. Dari sisi fundamental, potensi penguatan emas juga didukung oleh kondisi dolar AS yang mulai melemah. Ketika dolar mengalami tekanan, harga emas biasanya mendapatkan dorongan karena menjadi lebih terjangkau bagi investor global. Tidak hanya itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi faktor yang mendukung. Ketika yield turun, minat investor terhadap emas meningkat karena perbedaan imbal hasil dengan instrumen lain menjadi lebih kecil. Permintaan terhadap aset safe haven juga turut memberikan dukungan. Dalam kondisi pasar yang belum stabil, investor cenderung mencari instrumen yang lebih aman, seperti emas. Hal ini bisa membantu harga emas untuk kembali menguat setelah sebelumnya mengalami penurunan. Untuk itu, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan risiko yang ada. Kebijakan suku bunga dari Federal Reserve yang masih berada di level tinggi dapat menjadi faktor yang membatasi kenaikan emas. Jika dolar kembali menguat atau yield obligasi naik, tekanan terhadap emas bisa kembali muncul. Secara keseluruhan, Dupoin Futures melihat bahwa harga emas saat ini mulai menunjukkan peluang rebound setelah penurunan di awal sesi. Selama harga mampu bertahan di atas area support, potensi kenaikan menuju level 4.733 hingga 4.767 masih terbuka. Dalam kondisi pasar yang masih dinamis, pelaku pasar disarankan untuk tetap berhati-hati dan mencermati pergerakan harga serta perkembangan sentimen global sebelum mengambil keputusan.
Biaya Hidup Naik, Masyarakat Mulai Beralih ke Alternatif Pendanaan di Luar Pinjaman Bank
Jakarta, katakabar.com - Sejumlah pelaku industri melihat adanya pergeseran preferensi masyarakat dalam mencari sumber likuiditas. Salah satu alternatif yang mulai banyak dilirik adalah pemanfaatan aset pribadi sebagai jaminan untuk memperoleh dana tunai tanpa harus menjual aset tersebut secara permanen. Di tengah kondisi tersebut, pinjaman bank yang selama ini menjadi solusi utama mulai menghadapi tantangan. Selain proses yang relatif panjang, persyaratan yang ketat serta faktor penilaian kredit membuat tidak semua masyarakat dapat dengan mudah mengakses pembiayaan konvensional, khususnya untuk kebutuhan yang bersifat mendesak. Sejumlah pelaku industri melihat adanya pergeseran preferensi masyarakat dalam mencari sumber likuiditas. Salah satu alternatif yang mulai banyak dilirik adalah pemanfaatan aset pribadi sebagai jaminan untuk memperoleh dana tunai tanpa harus menjual aset tersebut secara permanen. Skema ini dinilai memberikan fleksibilitas lebih, terutama dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Aset seperti emas, jam tangan mewah, tas branded, hingga kendaraan dinilai memiliki nilai ekonomi yang cukup kuat dan relatif stabil, sehingga dapat digunakan sebagai instrumen likuiditas jangka pendek. Business Development deGadai, David Tatangsurja, menyatakan tren ini menunjukkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap aset yang dimiliki. Menurutnya, aset tidak lagi hanya diposisikan sebagai barang konsumsi atau simbol gaya hidup, melainkan mulai dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi keuangan. “Di kondisi seperti sekarang, kami melihat semakin banyak masyarakat yang memilih untuk tidak menjual asetnya. Mereka mencari cara agar tetap bisa mendapatkan dana cepat, tetapi tanpa kehilangan kepemilikan,” ujar David lewat keterangan resmi. Ia menambahkan kebutuhan likuiditas yang cepat menjadi faktor utama yang mendorong masyarakat untuk mempertimbangkan alternatif di luar pinjaman bank. Pada praktiknya, proses penilaian aset dinilai lebih sederhana dan dapat memberikan kepastian dalam waktu yang relatif singkat. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan berbasis gadai barang luxury, deGadai mencatat adanya peningkatan minat terhadap layanan gadai untuk aset bernilai tinggi. Aset seperti jam tangan premium dan tas branded disebut memiliki karakteristik likuiditas yang baik karena didukung oleh pasar sekunder yang aktif. Fenomena ini juga sejalan dengan tren global, di mana aset luxury mulai dipandang sebagai bagian dari portofolio alternatif. Dalam kondisi ekonomi yang bergejolak, aset dengan nilai intrinsik dan pasar yang jelas dinilai mampu memberikan fleksibilitas bagi pemiliknya dalam mengelola kebutuhan finansial. Tetapi, para pengamat mengingatkan bahwa penggunaan skema pembiayaan apa pun tetap perlu disertai dengan perencanaan yang matang. Kemampuan untuk memenuhi kewajiban pelunasan serta pemahaman terhadap skema pembiayaan menjadi faktor penting yang harus diperhatikan. Dengan tekanan biaya hidup yang masih berlangsung, kebutuhan akan solusi pendanaan yang cepat dan fleksibel diperkirakan akan terus meningkat. Pada konteks ini, pemanfaatan aset sebagai sumber likuiditas menjadi salah satu opsi yang semakin relevan bagi masyarakat di tengah dinamika ekonomi saat ini.
Harga BBM Naik Tekan Biaya Operasional Mobil Mewah, Pemilik Cari Alternatif Likuiditas
Jakarta, katakabar.com - Dalam situasi ekonomi yang dinamis, kemampuan untuk mengelola aset secara adaptif menjadi kunci. Kenaikan BBM bukan hanya soal biaya tambahan, tetapi menjadi pemicu perubahan strategi finansial di kalangan pemilik aset bernilai tinggi. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir mulai memberikan tekanan signifikan terhadap biaya operasional kendaraan pribadi, khususnya pada segmen mobil mewah yang dikenal memiliki konsumsi bahan bakar relatif tinggi. Berbeda dengan kendaraan pada umumnya, mobil mewah seperti SUV berkapasitas mesin besar maupun mobil sport memiliki rasio konsumsi BBM yang berada di kisaran 1:4 hingga 1:8. Artinya, setiap kenaikan harga BBM sebesar Rp1.000 hingga Rp2.000 per liter dapat berdampak langsung pada peningkatan pengeluaran bulanan hingga jutaan rupiah, terutama bagi pengguna aktif di wilayah perkotaan. Apalagi di saat sekarang yang kenaikan harga BBM mencapai hampir 70 persen dan secara rupiah sudah mencapai kenaikan di atas Rp5000 per liter. Sejumlah pemilik kendaraan premium mengaku mulai merasakan perubahan signifikan dalam struktur pengeluaran mereka. Jika sebelumnya biaya BBM tidak menjadi perhatian utama, kini komponen tersebut mulai mendominasi pengeluaran rutin. Fenomena ini mendorong perubahan pendekatan dalam pengelolaan aset. Mobil mewah yang selama ini diposisikan sebagai simbol status dan kenyamanan, kini mulai dipertimbangkan sebagai aset yang harus dioptimalkan secara finansial. Dalam kondisi tersebut, industri pembiayaan berbasis jaminan mencatat adanya peningkatan minat. Salah satu layanan yang mulai dilirik adalah gadai kendaraan premium, yang memungkinkan pemilik memperoleh dana tunai tanpa harus menjual asetnya. Platform seperti deGadai melihat adanya pergeseran perilaku ini. Melalui layanan gadai mobil mewah, pemilik kendaraan dapat memanfaatkan nilai aset mereka untuk mendapatkan likuiditas dalam waktu singkat. Menurut pelaku industri, opsi ini memberikan fleksibilitas yang tidak dimiliki oleh skema penjualan langsung. Pemilik kendaraan tetap memiliki kesempatan untuk menebus kembali asetnya setelah kondisi keuangan membaik. Dalam situasi ekonomi yang dinamis, kemampuan untuk mengelola aset secara adaptif menjadi kunci. Kenaikan BBM bukan hanya soal biaya tambahan, tetapi juga menjadi pemicu perubahan strategi finansial di kalangan pemilik aset bernilai tinggi.