Inovasi Produk Podcast 'Bincang di Roemah UMKM Perkebunan' BPDP Dorong UMKM Perkebunan Naik Kelas
Jakarta, katakabar.com - Sebagai upaya memperkuat ekosistem usaha dan mewujudkan UMKM Perkebunan Naik Kelas, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU Kemenkeu gelar kegiatan podcast bertajuk “Bincang UMKM Perkebunan di Roemah” di Roemah UMKM BPDP @ SMESCO Indonesia, Jakarta. Kegiatan ini usung tema “Strategi UMKM Naik Kelas melalui Inovasi Produk Berbasis Komoditas Perkebunan” sebagai sarana edukasi bagi pelaku usaha di sektor perkebunan nasional. Kegiatan yang berlangsung Kamis (18/6) lalu ini menghadirkan narasumber dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan pelaku usaha, meliputi Helmi Muhansah selaku Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, serta Afdhal Aliasar selaku Founder Minang Kakao. Diskusi edukatif ini dipandu oleh Brigita Agustina sebagai pembawa acara. Podcast ini menyoroti pentingnya peran UMKM berbasis komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, kelapa, dan kakao, dalam menciptakan nilai tambah dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pada sesi diskusi, dipaparkan perjalanan inspiratif Minang Kakao dalam membangun usaha berbasis kakao, mulai dari tantangan dalam menjaga kualitas hingga strategi melakukan inovasi produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menyampaikan kegiatan podcast ini diharapkan dapat menjadi media promosi sekaligus edukasi bagi masyarakat terkait potensi usaha berbasis perkebunan. “Podcast ini menjadi sarana promosi bagi UMKM perkebunan dan diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk berwirausaha berbasis perkebunan. Melalui berbagai cerita dan pengalaman yang dibagikan, kami berharap semakin banyak masyarakat yang melihat peluang besar pengembangan usaha dari komoditas perkebunan Indonesia,” ujar Helmi. Selain berbagi pengalaman bisnis, podcast ini memaparkan berbagai dukungan BPDP untuk membantu pelaku usaha naik kelas melalui penguatan ekosistem, sinergi pemerintah-pelaku usaha, peningkatan informasi pasar, serta perluasan promosi produk perkebunan melalui kanal digital. Melalui aktivasi Roemah UMKM BPDP di SMESCO Indonesia, pelaku usaha juga didorong untuk terus meningkatkan kapasitas dalam menghasilkan produk turunan yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan. Inisiatif ini menjadi bagian penting dari upaya memastikan UMKM Perkebunan Naik Kelas dengan memanfaatkan potensi kekayaan perkebunan Indonesia. Seluruh rangkaian diskusi ini akan ditayangkan melalui kanal YouTube dan media sosial resmi BPDP untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan serta motivasi bagi para pelaku UMKM untuk terus berinovasi dalam menciptakan produk berkualitas yang memiliki nilai tambah tinggi agar mampu naik kelas secara konsisten
Sinergi BPDP dan ASPEKPIR Lepas Ekspor Perdana Lidi Sawit ke China Buah Pemberdayaan UMKM Perkebunan
Medan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia melepas ekspor perdana lidi sawit saat perhelatan di gudang PT Arra Setya Abadi di Belawan, Medan, Sumatera Utara, Rabu (17/6) lalu. Total 28 Ton lidi sawit yang berasal dari perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau, Sumatera Utara dan Aceh akan diberangkatkan menuju China. Produk lidi sawit tersebut dikumpulkan dan diusahakan oleh para petani sawit serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta Koperasi anggota ASPEKPIR hasil dari rangkaian kegiatan program pemberdayaan UMKM dan Koperasi yang telah digelar ASPEKPIR dan BPDP. ASPEKPIR menggandeng PT Arra Setya Abadi sebagai eksportir yang akan memasarkan produk lidi sawit ke pasar internasional. Hadir di kegiatan tersebut Ketua Umum ASPEKPIR, Setiyono, Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Anwar Sadat, Direktur Utama PT Arra Setya Abadi Ilham Setiadi, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumatera Utara yang diwakili Tsarwah, perwakilan Badan Karantina, Sekretaris Jenderal ASPEKPIR Syarifuddin Sirait, perwakilan sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Utara, serta petani dan pengrajin lidi sawit. Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Anwar Sadat menyampaikan BPDP telah lama melakukan kegiatan promosi mengenai potensi nilai tambah ekonomi dari produk samping dan limbah kelapa sawit, termasuk lidi sawit. Kerja sama intensif bersama ASPEKPIR dilakukan melalui berbagai kegiatan workshop dan diseminasi sejak tahun 2024 hingga saat ini. Rangkaian workshop produksi lidi sawit tersebut telah dilaksanakan di berbagai wilayah antara lain Kabupaten Siak, Kampar, Bengkalis, Muaro Jambi, Belitung Timur, hingga Kabupaten Pasang Kayu, Sulawesi Barat. Upaya tersebut dilakukan untuk mengenalkan potensi lidi sawit dan ketersediaan pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan kapasitas petani agar kualitas produk sesuai standar pasar ekspor. Menurut Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, lidi sawit memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi beragam produk bernilai ekonomi, mulai dari bahan baku ekspor hingga aneka kerajinan yang dapat dikerjakan oleh pelaku UMKM di daerah. “BPDP sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini karena mampu memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat serta menunjukkan bahwa limbah sawit dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi,” ujarnya. BPDP saat ini memiliki berbagai program strategis untuk mendukung penguatan kapasitas dan peningkatan produktivitas petani sawit, antara lain melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Program Sarana dan Prasarana, Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan, Penelitian dan Pengembangan, serta program Promosi Perkebunan yang bertujuan mengenalkan manfaat komoditas perkebunan bagi masyarakat dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Keberhasilan ekspor perdana lidi sawit ini menunjukkan bahwa sawit adalah komoditas yang inklusif karena manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari petani, perempuan, pemuda, UMKM, koperasi hingga pelaku ekspor. “Rantai pasok produksi lidi sawit melibatkan banyak pihak, dari petani, pengrajin, koperasi, dan pelaku ekspor, sehingga dapat memberikan efek ganda bagi penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi di daerah,” ujarnya. Menurut Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, kegiatan ini juga sejalan dengan visi pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden RI, H Prabowo Subianto, khususnya dalam upaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional melalui ekonomi hijau, memperluas kesempatan kerja berkualitas dengan kewirausahaan, serta pemerataan pembangunan hingga ke desa-desa. Ketua Umum ASPEKPIR, Setiyono menegaskan pelepasan ekspor perdana ini merupakan tindak lanjut dari berbagai program pemberdayaan UMKM yang telah dilaksanakan ASPEKPIR bersama BPDP di sejumlah daerah di Riau dan Sumatera Utara. Dijelaskan Setiyono, sedikitnya tujuh koperasi anggota ASPEKPIR terlibat dalam penyediaan bahan baku lidi sawit yang diekspor ke China. Manfaatnya kemudian akan dirasakan kurang lebih 2.800 anggota koperasi tersebut. Keterlibatan koperasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan usaha berbasis limbah sawit mampu menjadi sumber ekonomi baru bagi petani. “Ekspor perdana ini membuktikan bahwa lidi sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kami berharap semakin banyak petani sawit yang tertarik menjadikan pengumpulan dan pengolahan lidi sawit sebagai sumber penghasilan tambahan,” imbuh Setiyono. Direktur Utama PT Arra Setya Abadi, Ilham Setiadi, menimpali sejak akhir 2024 pihaknya bersama ASPEKPIR dan didukung BPDP terus melakukan sosialisasi serta pendampingan pengembangan usaha ekspor lidi sawit di berbagai daerah. Menurut Ilham, permintaan pasar internasional terhadap lidi sawit terus menunjukkan tren positif sehingga peluang pengembangan usaha ini masih sangat terbuka lebar bagi petani dan UMKM di berbagai daerah sentra perkebunan sawit. Pada kegiata sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumatera Utara yang diwakili Tsarwah menyampaikan apresiasi atas keberhasilan ekspor perdana tersebut. Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lainnya untuk memanfaatkan potensi limbah pertanian dan perkebunan yang memiliki nilai ekonomi. “Sumatera Utara memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan berbagai produk turunan berbasis limbah kelapa sawit, termasuk lidi sawit. Kerja sama dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi petani, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan keberhasilan ekspor seperti ini,” terangnya. Pengembangan produk lidi sawit menjadi bukti sektor sawit mampu mendukung prinsip ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan pelepah dan biomassa sawit sebagai bahan baku produk UMKM membantu mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat sekitar perkebunan. Produk lidi sawit ini juga sekaligus dapat memperluas pasar ekspor perkebunan melalui diversifikasi produk turunan kelapa sawit. Selain kegiatan pelepasan perdana ekspor lidi sawit, BPDP dan ASPEKPIR taja workshop praktik ekspor lidi sawi di Langkat, Sumatra Utara pada Kamis (18/6). Dalam workshop yang dihadiri 100 peserta ini, dilakukan penandatanganan MoU antara koperasi sawit dan pelaku ekspor tentang peningkatan produksi lidi sawit siap ekspor.
Sosialisasi Program di Sumut, BPDP: Perkuat Sinergi Pengembangan Perkebunan
Medan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Sumatera Utara gelar Sosialisasi Program BPDP di Aula Gedung Keuangan Negara Medan, Sumatera Utara. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman para pemangku kepentingan terhadap berbagai program BPDP sekaligus memperkuat sinergi dalam mendukung pengembangan sektor perkebunan yang berkelanjutan. Perwakilan pemerintah daerah, instansi vertikal, pelaku usaha, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan sektor perkebunan di Provinsi Sumatera Utara turut hadir. Melalui forum ini, peserta memperoleh informasi mengenai peran BPDP mendukung pembangunan sektor perkebunan nasional melalui berbagai program strategis yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Dalam keynote speech-nya, Kepala Kantor Wilayah DJPb Provinsi Sumatera Utara, Indra Soeparjanto, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mengoptimalkan pelaksanaan program pemerintah guna mendukung pembangunan ekonomi daerah, termasuk sektor perkebunan yang menjadi salah satu sektor strategis di Sumatera Utara. Di kegiatan tersebut, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, menyampaikan berbagai program yang dikelola BPDP untuk mendukung pengembangan komoditas perkebunan. Program tersebut meliputi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia, beasiswa, pelatihan, penelitian dan pengembangan, dan promosi komoditas perkebunan. “BPDP terus berkomitmen mendukung pengembangan sektor perkebunan yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan melalui berbagai program yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, pemerintah daerah, pelaku usaha, maupun pemangku kepentingan lainnya,” kata Zaid Burhan Ibrahim dalam pemaparannya. Selain paparan mengenai program BPDP, peserta juga memperoleh informasi mengenai kondisi fiskal daerah dan perkembangan pelaksanaan APBN Tahun 2026 di Provinsi Sumatera Utara yang disampaikan Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran (PPA) II Kanwil DJPb Provinsi Sumatera Utara, Edy Purwanto. Materi tersebut memberikan gambaran mengenai peran APBN dalam mendukung pembangunan daerah dan pertumbuhan ekonomi regional. Antusiasme peserta terlihat pada sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan disampaikan terkait mekanisme pelaksanaan program BPDP, peluang pemanfaatan program oleh pemerintah daerah dan pelaku usaha, serta isu-isu pengembangan sektor perkebunan di Sumatera Utara. Melalui sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran BPDP dan berbagai dukungan yang tersedia untuk pengembangan komoditas perkebunan. BPDP berharap pemanfaatan berbagai program yang tersedia dapat semakin optimal serta mendorong terbangunnya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendukung pengembangan komoditas perkebunan yang berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian daerah dan nasional.
Dirut PTPN III Seru Generasi Muda Kembangkan Industri Perkebunan
Bogor, katakabar.com - Transformasi sektor perkebunan nasional dinilai tidak bisa hanya bertumpu pada perusahaan dan pemerintah. Keterlibatan generasi muda melalui inovasi, teknologi, dan penguatan sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing industri perkebunan Indonesia di tengah tantangan pangan, energi, dan perubahan iklim. Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara (PT Perkebunan Nusantara III), Denaldy Mulino Mauna, mengatakan sektor perkebunan memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional sehingga membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan yang terus berkembang. "Kita harus bersama-sama membangun sektor perkebunan Indonesia. Masa depan sektor ini tidak hanya ditentukan oleh perusahaan atau pemerintah, tetapi oleh seluruh pihak yang memiliki komitmen untuk mendorong kemajuan bangsa," kata Denaldy dalam Studium Generale bertema Membangun Masa Depan Sektor Perkebunan Indonesia: Inovasi, Talenta Muda, dan Keberlanjutan di IPB University, Bogor, Selasa (9/6). Denaldy menjelaskan, transformasi industri perkebunan saat ini semakin berkaitan dengan pemanfaatan teknologi, digitalisasi, peningkatan produktivitas, dan tuntutan keberlanjutan. Lantaran itu, keterlibatan generasi muda dinilai menjadi kebutuhan untuk mempercepat adaptasi sektor perkebunan terhadap perubahan global. "Generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong transformasi digital, peningkatan produktivitas, serta penguatan daya saing perkebunan Indonesia di tingkat global," jelasnya. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan mahasiswa dan alumni IPB University. Turut hadir Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa IPB University M. Abdan Rofi, Founder Rembuk Pemuda Aidil Afdan Pananrang, serta Wakil Rektor I Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB University Deni Noviana yang membuka acara secara resmi. Menurut Deni, forum yang mempertemukan dunia akademik dan industri penting untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai tantangan pembangunan nasional sekaligus kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. "Kolaborasi seperti ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami tantangan pembangunan secara langsung dari para pelaku industri. Ini adalah bentuk sinergi yang perlu terus diperkuat untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan menjawab tantangan dan kebutuhan pembangunan nasional ke depannya," terang Deni. Presiden BEM KM IPB, M Abdan Rofi, menilai berbagai tantangan yang dihadapi sektor perkebunan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk menghadirkan solusi baru melalui inovasi dan pengembangan teknologi. "Setiap tantangan selalu menghadirkan peluang. Transformasi sektor perkebunan hari ini dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk menciptakan inovasi, membangun teknologi baru, dan menghadirkan solusi yang memberikan dampak nyata bagi pembangunan nasional," ucapnya. Sementara, Aidil Afdan Pananrang menegaskan bahwa pembangunan nasional membutuhkan kontribusi seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda yang akan menjadi aktor utama pembangunan di masa depan. "Kerja-kerja untuk mengoptimalkan peluang bagi kemajuan bangsa bukanlah kerja satu atau dua pihak saja. Ini adalah kerja bersama lebih dari 200 juta jiwa yang memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan Indonesia terus bergerak maju," bebernya. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pembahasan mengenai peluang karier di sektor perkebunan, pemanfaatan teknologi pertanian dan perkebunan, hingga strategi membangun industri yang lebih berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, PTPN menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi dengan dunia akademik untuk mendukung pengembangan talenta muda dan transformasi sektor perkebunan nasional.
BPDP Dorong Hilirisasi Kakao dan Pengembangan UMKM Berbasis Perkebunan
Jakarta, katakabar.com - Usung konsep edukatif dan interaktif menghadirkan pelaku usaha cokelat lokal Cokelatin Signature lewat sesi story sharing, chocolate tasting, hingga praktik langsung pembuatan minuman cokelat berbasis kakao Indonesia. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU Kementerian Keuangan terus perkuat promosi komoditas perkebunan sekaligus mendorong pengembangan UMKM berbasis kakao melalui Workshop “Roemah Kreasi Nyokelat di Roemah” yang digelar di Roemah UMKM BPDP @ SMESCO Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5) lalu. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan BPDP tidak hanya fokus pada pengelolaan dana perkebunan, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan UMKM. “Putra-putri Bapak Ibu yang sudah lulus SMA punya kesempatan kuliah melalui program beasiswa sawit. Semua biaya ditanggung, termasuk uang saku bulanan,” terang Helmi. Menurutnya, penerima beasiswa bukan hanya dari keluarga pemilik kebun sawit, tetapi juga dapat berasal dari keluarga pekerja di sektor sawit seperti sopir perusahaan maupun profesi lain yang berkaitan dengan industri sawit. Selain program beasiswa, BPDP juga terus mendorong pertumbuhan UMKM berbasis komoditas perkebunan guna meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka peluang usaha baru. “Kami ingin ini bukan sekadar omon-omon. Kami ingin menjadi sesuatu yang nyata. Silakan manfaatkan kesempatan ini untuk membangun jejaring dan melihat apa yang bisa disupport oleh BPDP untuk pengembangan UMKM,” ujarnya. Ia berharap kegiatan workshop tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan generasi muda untuk membangun usaha berbasis komoditas perkebunan. Co-Founder Cokelatin Signature, Nugroho Surosoputra, menuturkan bisnis yang dijalankannya berangkat dari ketertarikan terhadap potensi besar kakao Indonesia. Indonesia pernah menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia dan hingga kini masih menjadi produsen terbesar di Asia. Namun demikian, citra cokelat premium selama ini justru lebih melekat pada negara-negara Eropa yang tidak memiliki produksi kakao sebesar Indonesia. “Kalau ke luar negeri oleh-olehnya selalu cokelat. Padahal Swiss tidak punya banyak tanaman kakao,” ucapnya. Pada sesi edukasi, Nugroho, menceritakan sejarah kakao yang berasal dari tanaman Theobroma cacao yang berarti “food of god” atau makanan para dewa. Ia juga memaparkan perbedaan istilah kakao, kokoa, dan cokelat, serta memperkenalkan tiga varietas utama kakao yakni criollo, forastero, dan trinitario. Selain sesi edukasi, peserta workshop juga diajak mempraktikkan langsung pembuatan minuman berbasis kakao Indonesia bersama Founder Cokelatin Signature, Irena Surosoputra, dan Shana yang memiliki keahlian di bidang mixology. Dua menu minuman yang diperkenalkan dalam workshop tersebut, yakni Earl Grey Criollo Chocolate, Pistachio Criollo Chocolate, dan Granola. Pada menu pertama, peserta diperkenalkan pada kombinasi teh Earl Grey dengan cokelat criollo yang memiliki karakter rasa kuat. “Perpaduannya menenangkan, karena ada rasa cokelat dan teh sekaligus. Bisa jadi menu menarik untuk usaha minuman,” kata Shana. Di sesi berikutnya, peserta diajak membuat Pistachio Criollo Chocolate yang terinspirasi dari tren Dubai chocolate dan pistachio yang tengah populer. Peserta mempraktikkan teknik menghias bibir gelas menggunakan pistachio paste dan cacao nibs, membuat tampilan minuman berlapis dengan teknik gradasi warna, hingga penggunaan edible flower sebagai garnish minuman. Suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Peserta tampak aktif bertanya, saling menunjukkan hasil kreasi minuman, hingga mendokumentasikan hasil karya mereka untuk diunggah ke media sosial. Pasalnya, dalam sesi praktik, peserta juga diperkenalkan pada teknik penyajian dan plating minuman yang menjadi salah satu nilai tambah dalam industri makanan dan minuman. Selain praktik pengolahan kakao, workshop tersebut juga memperkenalkan penggunaan non-dairy creamer berbahan sawit sebagai bagian dari inovasi produk minuman berbasis perkebunan. Peserta mempraktikkan penggunaan creamer sawit dalam proses pembuatan minuman cokelat untuk menghasilkan tekstur minuman yang creamy dan seimbang. Penggunaan creamer berbahan sawit juga menjadi bentuk pengenalan produk turunan komoditas perkebunan Indonesia yang memiliki nilai tambah tinggi dan potensi besar dalam industri hilir pangan dan minuman. Melalui kegiatan “Roemah Kreasi Nyokelat di Roemah”, BPDP berharap masyarakat semakin memahami potensi komoditas kakao Indonesia, mengenal produk UMKM berbasis perkebunan, serta terus termotivasi untuk mengembangkan inovasi dan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan nasional
BPDP Dorong Kewirausahaan Komoditas Perkebunan Latih Pelaku UMKM dan Mahasiswa di Sidoarjo
Sidoarjo, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai Badan Layanan Umum Kemenkeu terus perkuat peran strategisnya lewat pengembangan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan di Indonesia. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan pelatihan dan sosialisasi yang menyasar para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Sidoarjo pada 29 hingga 30 April 2026 lalu. Kegiatan ini diikuti 60 pengusaha UMKM Sidoarjo, dan 40 mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), khususnya dari program studi Teknologi Hasil Pertanian dan Agroteknologi. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas kewirausahaan berbasis komoditas unggulan perkebunan seperti sawit, kakao, dan kelapa. Direktur Politeknik LPP Yogyakarta, M Mustangin, mengatakan pentingnya kolaborasi antara dunia akademik dan pelaku usaha dalam menciptakan inovasi produk yang bernilai tambah tinggi terutama produk berbahan hasil perkebunan. Kolaborasi antara pegiat UMKM dan akademisi adalah kekuatan besar yang tidak bisa dipisahkan. UMKM memiliki pengalaman pasar dan kepekaan terhadap kebutuhan konsumen, sementara akademisi membawa inovasi, riset, dan teknologi. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM , Helmi Muhansyah, menegaskan pentingnya hilirisasi komoditas perkebunan melalui penguatan sektor UMKM. “BPDP tidak hanya berfokus pada pengelolaan dana, tetapi juga terus berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan promosi wirausaha berbahasis komoditas Perkebunan khususnya sawit, kakao dan kelapa, kami berharap kegiatan seperti ini akan mendorong munculnya pengusaha UMKM dan menginspirasi mahasiswa berwirausaha berbahan sawit, kakao dan kelapa di Sidoarjo," jelas Helmi Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sidoarjo, M Edi Kurniadi, menyoroti potensi besar UMKM lokal dalam mendukung perekonomian daerah. Ia juga mengapresiasi sinergi antara pemerintah dalam hal ini BPDP dan Politeknik LPP selaku Lembaga Pendidikan dalam meningkatkan daya saing produk UMKM berbasis komoditas perkebunan. “Kami percaya meski di daerah kami tidak terdapat sentra Perkebunan sawit, dengan adanya kegiatan ini pegiat UKM akan dapat memunculkan ide baru untuk produk berbahan sawit’," ucap Edi Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam mendorong penguatan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan di tingkat akar rumput. Melalui kolaborasi strategis bersama Politeknik LPP Yogyakarta, program ini tidak hanya menghadirkan transfer knowledge tapi mendorong produk UMKM Perekebunan akan lebih mudah dikenal dan memiliki peluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas.
Inovasi Riset Perkebunan: BPDP Fasilitasi Pengembangan Traktor Otonom Pemupukan Sawit
Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus menunjukkan komitmen dorong inovasi berbasis riset di sektor perkebunan. Di antaranya melalui dukungan pendanaan program Grant Riset Sawit 2024, yang melahirkan teknologi autonomous intermittent fertilizer spreader, hasil kolaborasi tim peneliti INSTIPER bersama PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA). Teknologi ini merupakan traktor otonom yang dirancang khusus untuk kegiatan pemupukan di perkebunan kelapa sawit. Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus presisi dalam aplikasi pupuk, yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama di sektor budidaya. Pada peluncuran dan pemaparan hasil riset tersebut, turut hadir Rahmat Widiana, menegaskan pentingnya peran riset aplikatif dalam mendukung transformasi sektor perkebunan. “BPDP melalui program grant riset mendorong lahirnya inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dapat diimplementasikan langsung di lapangan dan memberikan dampak nyata bagi industri,” ujarnya. Tingkatkan Efisiensi hingga 60 Persen Hasil uji coba menunjukkan, penggunaan traktor otonom ini mampu meningkatkan efisiensi kegiatan pemupukan hingga 60 persen dibandingkan metode konvensional. Selain itu, teknologi ini memungkinkan distribusi pupuk yang lebih tepat sasaran melalui sistem yang telah terintegrasi dengan pengaturan dosis dan pola sebar. Pendekatan berbasis otomatisasi ini dinilai mampu menjawab tantangan keterbatasan tenaga kerja sekaligus meningkatkan produktivitas kebun secara keseluruhan. Pengembangan teknologi ini hasil kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku industri, yang menjadi salah satu fokus utama dalam skema Grant Riset BPDP. Sinergi ini memungkinkan proses riset berjalan lebih adaptif terhadap kebutuhan di lapangan serta mempercepat proses hilirisasi inovasi. Selain meningkatkan efisiensi, teknologi ini juga mendukung praktik perkebunan berkelanjutan melalui penggunaan input yang lebih terukur dan minim pemborosan. Komitmen BPDP Pada Inovasi Melalui program Grant Riset Sawit, BPDP secara konsisten mendorong pengembangan teknologi yang mampu meningkatkan daya saing sektor perkebunan nasional. Inovasi seperti traktor otonom ini menjadi contoh konkret bagaimana dukungan pendanaan riset dapat menghasilkan solusi yang berdampak langsung bagi industri. Ke depan, BPDP berharap semakin banyak riset-riset unggulan yang tidak hanya berhenti pada tahap penelitian, tetapi juga dapat diimplementasikan secara luas dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Dengan dukungan yang berkelanjutan, sektor perkebunan diharapkan mampu bertransformasi menjadi lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
Pemetaan LiDAR Berbasis Drone Perkebunan Sawit Skala Besar
Jakarta, katakabar.com - Pemetaan lahan di perkebunan kelapa sawit skala besar menghadapi tantangan teknis yang tidak bisa diselesaikan dengan foto udara konvensional. Kanopi sawit dewasa menutup permukaan tanah dari sensor kamera, sehingga data terrain yang dihasilkan hanya merekam pucuk pohon, bukan kondisi tanah yang sebenarnya. DJI Zenmuse L3 hadir sebagai sensor LiDAR untuk survei dan pemetaan dari platform drone enterprise. Berbeda dari kamera, Zenmuse L3 menembakkan laser pulse pada frekuensi 350 kHz dan merekam multiple return per pulse, termasuk sinyal yang menembus celah antar pelepah sawit hingga menyentuh permukaan tanah di bawahnya. Dikembangkan oleh DJI Enterprise, Zenmuse L3 menggabungkan sistem pemindaian laser beresolusi tinggi dengan koreksi IMU terintegrasi. Sensor ini menghasilkan point cloud 3D yang merepresentasikan kondisi terrain secara akurat, dari lapisan kanopi hingga permukaan bare-earth, dalam satu penerbangan. Di Indonesia, Halo Robotics menyediakan Zenmuse L3 sebagai bagian dari solusi LiDAR survey untuk kebutuhan pemetaan di sektor perkebunan, pertambangan, dan kehutanan. Sistem ini dioperasikan menggunakan drone DJI Matrice 400 dengan DJI D-RTK 3 sebagai ground station untuk koreksi GNSS differential secara real-time, serta pemrosesan point cloud menggunakan Terrasolid. "Zenmuse L3 berhasil memetakan 1.306 hektar di lahan produksi aktif dalam 138 menit waktu terbang efektif, dengan akurasi horizontal dan vertikal 4 cm. Data yang dihasilkan langsung siap digunakan untuk analisis drainase dan pemetaan kontur," ujar Halo Robotics. Output LiDAR survey mencakup tiga file survey-grade: 1. Point Cloud (.las) untuk data 3D lengkap dari kanopi hingga tanah 2. Digital Surface Model (.tif) untuk elevasi permukaan termasuk vegetasi 3. Digital Terrain Model (.tif) untuk elevasi bare-earth yang digunakan dalam analisis drainase dan pemetaan kontur. Seluruh file sudah ter-georeferensi dan kompatibel langsung dengan workflow GIS standar. Penggunaan LiDAR drone seperti DJI Zenmuse L3 menunjukkan cara industri perkebunan mengelola data terrain skala besar secara lebih terukur. Data bare-earth dengan akurasi centimeter membuka peluang bagi pengelola kebun untuk mengambil keputusan operasional berbasis data, dari perencanaan drainase hingga monitoring topografi jangka panjang, tanpa bergantung pada metode survei konvensional yang membutuhkan waktu lebih lama.
Di Kalimantan Utara BPDP dan Kanwil DJPB Bersinergi Dorong UMKM Perkebunan Naik Kelas
Kalimantan Utara, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) inisiasi SINARA FEST 2026. Kegiatan ini hadir bagian dari rangkaian kegiatan nasional. Kalimantan Utara jadi provinsi ketiga pelaksanaan event ini yang menghadirkan kolaborasi strategis antara BPDP dan Kanwil DJPB Provinsi Kalimantan Utara. Kegiatan sama sebelumnya telah sukses digelae di Bandung dan Aceh, tema “Sinergi Perkebunan dan Perbendaharaan untuk Kemenkeu Satu: Dorong UMKM Perkebunan Naik Kelas”, yang bertujuan guna memperkuat pemahaman masyarakat mengenai komoditas perkebunan strategis Indonesia, sekaligus mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis sawit, kelapa, dan kakao agar naik kelas. Rangkaian kegiatan edukatif dan interaktif mencakup sosialisasi program strategis BPDP, diskusi, demo masak dan pelatihan kuliner, mini bazar UMKM, serta booth edukasi interaktif yang memungkinkan pengunjung mengenal lebih dekat manfaat komoditas perkebunan dalam kehidupan sehari-hari dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Utara, Ika Hermini Novianti, menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan sektor perkebunan. “Kegiatan ini jadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, khususnya dalam mendorong optimalisasi peran sektor hulu dan hilir komoditas strategis daerah, serta meningkatkan nilai tambah sektor perkebunan, khususnya komoditas sawit, kelapa, dan kakao di Kalimantan Utara,” ujarnya. Selain itu, tambahnya, kegiatan ini menjadi sarana strategis untuk memperkuat literasi masyarakat terhadap peran APBN sekaligus mendorong peningkatan daya saing UMKM, terutama di sektor perkebunan. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menuturkan SINARA FEST tidak sekadar kegiatan seremonial, melainkan platform strategis yang berperan dalam mengintegrasikan aspek hulu dan hilir sektor perkebunan. “Melalui penguatan edukasi, inovasi, akses pembiayaan, serta promosi, SINARA FEST diharapkan mampu mendorong pengembangan UMKM berbasis komoditas perkebunan agar tumbuh secara berkelanjutan, memiliki nilai tambah, dan berdaya saing tinggi di pasar,” jelasnya. Kegiatan SINARA FEST 2026 menghadirkan narasumber dari instansi vertikal Kementerian Keuangan sebagai bentuk sinergi dukungan layanan fiskal kepada para pelaku UMKM. Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai KPPBC Tarakan, Dwi Ardiyanto, menyampaikan materi terkait layanan serta tata cara akses ekspor bagi pelaku UMKM untuk pengembangan pasar ke luar negeri. Sedang, Edi Trisno Yuwono, Penyuluh Pajak KPP Tanjung Redeb, memberikan edukasi mengenai kewajiban dan fasilitas perpajakan guna mendukung penguatan legalitas serta pertumbuhan usaha UMKM. BPDP bersama Kanwil DJPB Kalimantan Utara menegaskan komitmennya dalam pelaksanaan SINARA FEST sebagai sarana efektif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap peran strategis BPDP sebagai Badan Layanan Umum di bawah Direktorat Jenderal Perbendaharaan dalam mendukung pengembangan komoditas sawit, kelapa, dan kakao secara berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat dari sisi hulu hingga hilir dalam mendukung pengembangan komoditas strategis nasional, khususnya di wilayah Kalimantan Utara, sekaligus memperkuat peran UMKM dalam menciptakan produk bernilai tambah. BPDP bersama Kanwil DJPB Kalimantan Utara juga berharap kegiatan ini dapat menjadi platform kolaboratif yang berkelanjutan dalam mendukung pengembangan komoditas perkebunan dan pemberdayaan UMKM, sehingga mampu menciptakan ekosistem yang lebih kuat, inovatif, dan berdaya saing, serta menjadikan komoditas sawit, kelapa, dan kakao sebagai penggerak utama ekonomi nasional.
Terima Audiensi SKI, BPDP Perkuat Pengembangan Perkebunan Kelapa
Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terima kunjungan audiensi dari Sahabat Kelapa Indonesia (SKI), guna bahas penguatan program pengembangan perkebunan kelapa nasional, di kantor BPDP di penghujung Februari 2026 lalu. Peserta audiensi SKI diterima Kepala Divisi Penyaluran Dana Sektor Hulu Perkebunan Kelapa (PDSHP Kelapa) BPDP, Triana Meinarsih. Hadir saat audiensi Staf Divisi PDSHP Kelapa. Sedang dari SKI hadir Ketua Sahabat Kelapa Indonesia, Mawardin M. Simpala, beserta perwakilan anggota Sahabat Kelapa Indonesia yang selama ini aktif mendorong pengembangan komoditas kelapa di Indonesia. Di kegiatan tersebut, Kepala Divisi Penyaluran Dana Sektor Hulu Perkebunan Kelapa BPDP, Triana Meinarsih memberikan sambutan sekaligus membuka acara. Triana menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kunjungan Sahabat Kelapa Indonesia sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendukung pengembangan komoditas kelapa nasional. Ia menekankan komoditas kelapa memiliki peran strategis bagi perekonomian masyarakat, khususnya karena sebagian besar perkebunan kelapa di Indonesia dikelola oleh pekebun rakyat. Triana berharap ke depan BPDP dan SKI dapat mendukung program pengembangan perkebunan kelapa, baik melalui program peremajaan kelapa rakyat, penyediaan sarana dan prasarana perkebunan, penguatan kelembagaan pekebun, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor perkebunan kelapa. Kegiatan audiensi dilanjutkan dengan pemaparan materi dari kedua lembaga mengenai peran, program, serta potensi pengembangan komoditas kelapa di Indonesia. Dalam pemaparannya, BPDP menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat dukungan terhadap komoditas perkebunan melalui transformasi kelembagaan BPDP sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024 yang memperluas mandat BPDP dalam pengelolaan dana perkebunan tidak hanya untuk kelapa sawit, tetapi juga untuk komoditas kakao dan kelapa. BPDP memaparkan sejumlah program yang dirancang untuk mendukung pengembangan perkebunan kelapa, antara lain program peremajaan kelapa rakyat, pengembangan sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan, program sarana dan prasarana perkebunan kelapa, serta promosi dan kemitraan. "Program-program tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kebun rakyat sekaligus memperkuat daya saing komoditas kelapa di pasar domestik maupun global," bebernya. Di kegiatan itu dijelaskan luas perkebunan kelapa di Indonesia mencapai sekitar 3,3 juta hektar dan lebih dari 98 persen dikelola oleh perkebunan rakyat, sehingga penguatan program pengembangan kelapa diharapkan dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan jutaan petani kelapa di Indonesia. Sementara, SKI juga menjabarkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan organisasi tersebut dalam mengkampanyekan pengembangan kelapa nasional, termasuk melalui berbagai kegiatan promosi, publikasi, dan forum kolaborasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan sektor kelapa. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi antara kedua belah pihak. Dalam diskusi tersebut, SKI menyampaikan program pengembangan perkebunan kelapa rakyat dari BPDP akan mendukung peningkatan produktivitas kelapa, sehingga akan memberikan manfaat nyata serta berdampak langsung bagi para pekebun kelapa di berbagai daerah di Indonesia. Penutup acara audiensi diakhiri dengan sesi penyerahan plakat dari SKI kepada BPDP sebagai bentuk apresiasi atas terjalinnya komunikasi dan kerja sama yang baik antara kedua lembaga.