Hipnotis Pengunjung, Produk UMKM Sawit Tampil di Ajang Pameran Internasional Sawit
Sawit
Minggu, 10 Mei 2026 | 14:19 WIB

Hipnotis Pengunjung, Produk UMKM Sawit Tampil di Ajang Pameran Internasional

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai salah satu aktor utama pembangunan sektor sawit terus perkuat peran strategis sektor ini terutama dengan menggerakkan hilirisasi sawit skala Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Di antara bentuk dukungan BPDP ini diwujudkan melalui keikutsertaannya di ajang pameran industri kelapa sawit skala internasional, PALMEX Jakarta 2026, yang digelar pada 6 hingga 7 Mei 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran.  Usung tema “Mendorong Industri Kelapa Sawit Global Melalui Inovasi dan Transformasi Digital”, ajang ini menjadi wadah pertemuan pelaku industri, pemangku kepentingan, hingga investor global untuk menjajaki teknologi terbaru di sektor sawit. BLU Kemenkeu ini perkenalkan produk-produk inovasi ramah lingkungan yang dihasilkan UMKM mitra BPDP, yakni Pupuk Cair Organik berbahan baku limbah cair kelapa sawit, Biodegradable Mulsa, Fungisida Organik, Bio Baby Bag yang dirancang khusus untuk proses nursery, Kompos, Biochar yang berasal dari cangkang sawit, hingga produk aromaterapi berbahan minyak sawit.  Ketika pembukaan acara, booth BPDP dikunjungi Deputy Secretary General CPOPC, Musdhalifah Machmud. Pada kunjungannya, Musdhalifah mengapresiasi produk turunan kelapa sawit ramah lingkungan yang dihasilkan oleh UMKM  mitra binaan BPDP. Selain itu, booth BPDP juga dikunjungi Vice President Palm Oil Crushing Mill Association, Krisada Chavananad; CEO Fireworks Trade Media Group, Kenny Yong; dan Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah yang hadir mendampingi kegiatan tersebut,  mengatakan keikutsertaan BPDP dalam kegiatan ini bertujuan untuk mempromosikan produk-produk inovatif yang dihasilkan oleh UMKM mitra BPDP agar bisa dikenal secara luas dan melakukan ekspansi produk pada skala internasional.  “Sebagai wadah sinergi antara pelaku bisnis, ahli, hingga pemasok global, kami berharap kegiatan ini bisa menjadi momentum untuk mewujudkan kolaborasi antara mitra BPDP dengan peserta-peserta pameran lainnya yang berasal dari sekitar 30 negara di dunia, terutama yang berkaitan dengan teknologi dalam industri kelapa sawit,” terang Helmi.  Selain perkenalkan produk-produk inovatif ramah lingkungan yang diproduksi UMKM mitra BPDP melalui kegiatan PALMEX 2026 ini, Dukungan BPDP untuk pengembangan produk-produk turunan kelapa sawit tersebut diwujudkan melalui kehadiran Roemah Perkebunan  BPDP di Gedung SMESCO Indonesia, Jakarta Selatan. Roemah Perkebunan  BPDP menampilkan produk-produk turunan kelapa sawit yang dihasilkan oleh UMKM dan mitra binaan BPDP, baik bentuk produk pangan, non-pangan, hingga home decore seperti batik sawit, kerajinan dari lidi sawit, dan banyak produk lainnya.  Diketahui, Indonesia masih memegang posisi sebagai produsen dan eksportir minyak kelapa sawit terbesar dunia. Selain sebagai penyumbang devisa, sektor ini menjadi penggerak ekonomi daerah, penyerap tenaga kerja, serta penopang ketahanan energi lewat program biodiesel.

BPDP Perkuat Insustri Sawit Nasional Dukung Pelepasan Bibit Sawit Unggul Asal Tanzania Sawit
Sawit
Minggu, 10 Mei 2026 | 11:30 WIB

BPDP Perkuat Insustri Sawit Nasional Dukung Pelepasan Bibit Sawit Unggul Asal Tanzania

Medan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tegaskan komitmen mendukung penguatan industri kelapa sawit nasional melalui pendanaan kegiatan pelepasan dan pengembangan sumber daya genetik kelapa sawit unggul asal Tanzania di Sumatera Utara. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya bersama guna perkuat produktivitas sawit nasional di tengah tantangan stagnasi produksi yang terjadi dalam lima tahun terakhir. Kegiatan pelepasan bibit sawit unggul tersebut hasil kolaborasi berbagai pemangku kepentingan industri sawit nasional, termasuk Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), lembaga riset, pelaku usaha perkebunan, serta pemerintah. Total 29.281 bibit sawit unggul asal Tanzania didistribusikan kepada sejumlah perusahaan perkebunan di Sumatera Utara sebagai bagian dari pengayaan plasma nutfah dan pengembangan generasi baru sawit Indonesia. Di momentum itu, BPDP menegaskan dukungan pada pengembangan riset dan inovasi sawit bagian dari mandat strategis dalam mendorong transformasi industri sawit nasional yang produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Pengembangan plasma nutfah baru dinilai menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan penurunan produktivitas akibat dominasi tanaman tua yang telah memasuki usia di atas 25 tahun. Berbagai kajian industri menunjukkan, produksi minyak sawit nasional mengalami stagnasi kisaran 52 hingga 54 juta ton selama lima tahun terakhir. Di sisi lain, kebutuhan domestik terus meningkat seiring implementasi program biodiesel nasional dari B35 menuju B40 dan persiapan B50. Kondisi tersebut menjadikan peningkatan produktivitas sebagai agenda prioritas nasional. Melalui dukungan pendanaan BPDP, kegiatan introduksi material genetik asal Tanzania diharapkan dapat memperkaya keragaman genetik kelapa sawit Indonesia, sekaligus menjadi fondasi pengembangan varietas unggul baru yang lebih adaptif, produktif, tahan terhadap cekaman lingkungan, serta mampu mendukung peningkatan produktivitas nasional secara berkelanjutan. Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, mengatakan dukungan terhadap pengembangan bibit unggul dan inovasi riset sawit merupakan bagian dari upaya jangka panjang BPDP dalam memperkuat fondasi industri sawit nasional. Menurutnya, peningkatan produktivitas menjadi langkah yang sangat penting untuk menjaga keberlanjutan industri sawit Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan domestik dan tantangan global yang semakin kompleks. “Pengembangan sumber daya genetik unggul menjadi investasi strategis bagi masa depan sawit Indonesia. BPDP mendukung berbagai upaya riset dan inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, sekaligus memastikan industri sawit nasional tetap berkelanjutan,” jelas Alfansyah. Selain pengembangan bibit unggul, kolaborasi Indonesia dan Tanzania juga diarahkan pada penguatan riset penyerbukan biologis melalui introduksi beberapa spesies serangga penyerbuk untuk meningkatkan fruit set tanaman sawit. Program tersebut merupakan bagian dari strategi intensifikasi produktivitas tanpa perlu melakukan ekspansi lahan baru. BPDP memandang penguatan riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya genetik merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi keberlanjutan industri sawit nasional. Lantaran itu, dukungan terhadap kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aspek budidaya, tetapi juga pada pembangunan ekosistem inovasi sawit nasional yang melibatkan dunia usaha, lembaga penelitian, akademisi, dan pemerintah. Kegiatan pelepasan bibit unggul asal Tanzania ini juga jadi simbol komitmen bersama dalam mendorong transformasi industri sawit Indonesia dari yang sebelumnya bertumpu pada ekspansi lahan menuju peningkatan produktivitas berbasis inovasi dan teknologi. Dengan dukungan riset yang kuat serta sinergi seluruh pemangku kepentingan, Indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi baru kelapa sawit yang lebih unggul dan mampu menjawab tantangan industri sawit global di masa depan. Sebagai lembaga pengelola dana perkebunan, BPDP akan terus memperkuat dukungan terhadap program-program strategis yang berorientasi pada peningkatan produktivitas, keberlanjutan, hilirisasi, dan penguatan daya saing industri perkebunan Indonesia. Dukungan terhadap pengembangan plasma nutfah sawit unggul ini diharapkan menjadi salah satu pijakan penting menjaga posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia sekaligus memastikan keberlanjutan industri sawit nasional bagi generasi mendatang.

Beton Precast Foam Concrete dari Campuran Sawit Hasil Inovasi Riset BPDP dan Universitas SK Sawit
Sawit
Minggu, 10 Mei 2026 | 10:45 WIB

Beton Precast Foam Concrete dari Campuran Sawit Hasil Inovasi Riset BPDP dan Universitas SK

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Universitas Syiah Kuala (SK), lahir inovasi riset yang dikembangkan, yakni material konstruksi berbasis perkebunan,  berupa Beton Precast Foam Concrete berbasis sawit. Produk ini memanfaatkan turunan kelapa sawit sebagai bagian dari komposisi foam concrete, menghasilkan beton ringan yang tetap kuat, efisien, serta lebih ramah lingkungan. Inovasi ini tak terbayangkan sebelumnya, dan menjadi langkah nyata tingkatkan nilai tambah komoditas sawit, tidak hanya sebagai sumber pangan dan energi, tetapi sebagai solusi di sektor konstruksi. Dari sisi pemanfaatan, beton pracetak ini dirancang untuk mendukung pembangunan yang cepat dan praktis. Bobotnya ringan memudahkan distribusi dan pemasangan di lapangan, sekaligus memberikan efisiensi dalam proses konstruksi. Karakteristik tersebut menjadikannya alternatif material yang potensial untuk berbagai kebutuhan pembangunan modern. Proses pembuatannya diawali dengan produksi busa menggunakan foam agent (merek dagang: FoaMac) yang dikembangkan dalam penelitian. Bahan ini dicampurkan dengan air dan diproses melalui foam generator untuk menghasilkan busa dengan densitas terkontrol. Busa tersebut kemudian dicampurkan dengan pasta semen yang terdiri dari semen, air, serta agregat halus atau bahan substitusi biomassa sawit seperti clinker boiler. Seluruh bahan diolah secara homogen menggunakan cement mixer hingga mencapai densitas target sekitar 1,2–1,4 g/cm³. Terus, campuran dituangkan ke dalam cetakan untuk membentuk bata foam atau panel pracetak, lalu melalui proses curing hingga mencapai kekuatan yang diinginkan. Guna monitoring dan evaluasi terhadap capaian program penelitian dan pengembangan industri beton ringan ini, tim Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melakukan kunjungan lapangan ke Lambaro, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Selasa (5/5) lalu. Kunjungan tersebut diwakili Prof. Ir. Didiek Hadjar Goenadi, M.Sc., Ph.D bersama tim BPDP, yang meninjau langsung fasilitas produksi bata foam dan precast foam concrete yang telah dibangun dan dioperasikan. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat perkembangan implementasi hasil riset, mencakup pembangunan fasilitas industri, kesiapan teknologi produksi, serta penerapan produk pada konstruksi nyata. Observasi dilakukan secara menyeluruh terhadap alur produksi, mulai dari penyiapan bahan baku, proses pencampuran, hingga tahap pencetakan dan curing. Fasilitas yang dikunjungi merupakan wujud nyata dari kolaborasi riset antara Universitas Syiah Kuala dan BPDP mendorong hilirisasi teknologi pemanfaatan limbah biomassa sawit menjadi material konstruksi bernilai tambah tinggi. Program ini tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi berhasil mengimplementasikannya dalam skala industri. Sebagai luaran strategis, inisiatif ini telah melahirkan dua entitas bisnis, yakni PT Solusi Global Precast yang bergerak di industri bata foam dan precast foam concrete, serta UMKM sebagai pemasok foam agent. Produk yang dihasilkan meliputi bata foam, panel pracetak, penutup drainase, alas jembatan, hingga elemen konstruksi lain yang telah diaplikasikan, termasuk pada rumah contoh ramah gempa. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin sinergi yang semakin kuat antara BPDP, akademisi, dan industri dalam mengembangkan teknologi berbasis limbah biomassa sawit secara berkelanjutan. Selain itu, hasil monitoring dan evaluasi menjadi dasar untuk penyempurnaan program serta perluasan implementasi industri beton ringan di Indonesia.

Dorong Pengembangan UMKM Sawit, BPDP Tingkatkan Perekonomian  Daerah 3T Sawit
Sawit
Kamis, 07 Mei 2026 | 19:11 WIB

Dorong Pengembangan UMKM Sawit, BPDP Tingkatkan Perekonomian  Daerah 3T

Kendari, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU Kementerian Keuangan kerja sama dengan Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia (POPSI) taja Workshop dan Pasar Benih usung tema “Meningkatkan Perekonomian Daerah 3T dengan Kelapa Sawit” di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa (3/5) lalu. Acara ini antusias dan luar biasa dari petani, pemerintah, dan perusahaan perkebunan daerah sekitar. Apalagi Sulawesi Tenggara memiliki beberapa wilayah daerah terpencil dan terbatas akses terutama daerah 3T (Tertinggal, Terluar, Terdepan) di antaranya adalah Kabupaten Wakatobi, Konawe Selatan, Muna, dan Konawe Kepulauan. Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka, yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Sultra, Mujahidin, menerangkan kelapa sawit di Sultra yang terdiri dari perkebunan rakyat dan swasta memberikan pertumbuhan ekonomi dari sub sektor perkebunan. Mengenai rendahnya produktivitas sawit di Sultra, ujar Mujahidin, Gubernur meminta para Kepala Dinas Provinsi maupun Kabupaten dan Kota untuk memanfaatkan bantuan yang disediakan oleh pemerintah pusat. “Provinsi Sultra bisa mendapatkan program peremajaan sawit rakyat serta sarpras dan pengembangan sumber daya manusia baik perkebunan petani dan mahasiswa. Dari program tersebut peningkatan produktivitas dan nilai tambah mutu dapat terwujud sehingga dapat mensejahterakan petani. Banyak biaya yang disiapkan pusat untuk petani, sehingga Kadin Provinsi maupun Kabupaten/Kota harus melihat peluang terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan petani agar dana tersebut dapat diserap,” paparnya. Menurutnya, acara ini dinilai dapat sebagai suatu wadah untuk mensinkronkan berbagai pihak dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat 3T di Sultra dengan kelapa sawit. “Pemerintah provinsi Sultra mengucapkan terima kasih dan menyambut baik acara ini dalam upaya mengatasi kendala-kendala yang diperlukan kerjasama semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, asosiasi, koperasi, kelompok tani, perusahaan perkebunan, sampai PKS sehingga tujuan dapat terwujud dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani sawit rakyat di Sultra,” kata Mujahidin. Pembina POPSI, Bambang, menimpali program BPDP sebagai upaya negara bagaimana kepedulian pelaku usaha, dan masyarakat untuk turut, serta membangun perkebunan dengan prioritas untuk replanting, sarpras, riset serta promosi. Ketua POPSI, Mansuetus Darto, menilai Sultra memiliki potensi yang sangat besar dalam pemanfaatan kelapa sawit. Tetapi, untuk mengoptimalkan lahan perlu budidaya yang baik mulai dari penggunaan benih unggul bersertifikat. “Workshop ini diharapkan tidak hanya informatif tetapi juga transformatif. Perubahan paradigma di petani kecil kelapa sawit harus berubah dari sekedar bertani untuk bertahan hidup tetapi untuk keberlanjutan jangka panjang,” tuturDarto. Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan BPDP sangat terbuka untuk mendukung aktivitas petani dalam upaya peningkatan produktivitas. “Di Sultra  sawit bisa menjadi bagian dari aktivitas peningkatan ekonomi di daerah. Kita dari BPDP akan selalu support untuk kolaborasi agar dari sisi hulu rekomtek bisa cepat tercapai, Selain dari sisi hulu BPDP terus mendukung pengembangan sisi hilir melalui  UMKM berbasis sawit, oleh karena itu para pekebun sawit khususnya di Sultra kami ajak memanfaatkan peluang pengembangan wirausaha berbasis UMKM Sawit,” beber Helmi. Dari aspek hulu, Pekebun Sultra dapat memanfaatkan progran PSR BPDP untuk operasional peremajaan perkebunan sawit, meliputi pembersihan lahan, pembelian bibit unggul, penanaman, pemupukan, peningkatan kualitas pengelolaan kebun, sampai pada pengajuan sertifikasi keberlanjutan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Sultra memiliki perekebunan sawit dengan produktivitas yang  masih rendah, disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah ketidakmampuan peremajaan, kurangnya pengetahuan petani tentang praktis budidaya terbaik, dan yang paling penting adalah minimnya akses ke penyedia benih unggul bersertifikat.   Kelapa sawit memiliki posisi strategis untuk potensi ekonomi 3T jika dapat menerapkan tiga pilar utama, yakni adopsi benih unggul bersertifikat, implementasi Good Agricultural Practices (GAP), dan penguatan kelembagaan, dan kemitraan petani.

Inovasi Riset Perkebunan: BPDP Fasilitasi Pengembangan Traktor Otonom Pemupukan Sawit Sawit
Sawit
Kamis, 07 Mei 2026 | 15:05 WIB

Inovasi Riset Perkebunan: BPDP Fasilitasi Pengembangan Traktor Otonom Pemupukan Sawit

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus menunjukkan komitmen dorong inovasi berbasis riset di sektor perkebunan. Di antaranya melalui dukungan pendanaan program Grant Riset Sawit 2024, yang melahirkan teknologi autonomous intermittent fertilizer spreader, hasil kolaborasi tim peneliti INSTIPER bersama PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA). Teknologi ini merupakan traktor otonom yang dirancang khusus untuk kegiatan pemupukan di perkebunan kelapa sawit. Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus presisi dalam aplikasi pupuk, yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama di sektor budidaya. Pada peluncuran dan pemaparan hasil riset tersebut, turut hadir Rahmat Widiana, menegaskan pentingnya peran riset aplikatif dalam mendukung transformasi sektor perkebunan. “BPDP melalui program grant riset mendorong lahirnya inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dapat diimplementasikan langsung di lapangan dan memberikan dampak nyata bagi industri,” ujarnya. Tingkatkan Efisiensi hingga 60 Persen Hasil uji coba menunjukkan, penggunaan traktor otonom ini mampu meningkatkan efisiensi kegiatan pemupukan hingga 60 persen dibandingkan metode konvensional. Selain itu, teknologi ini memungkinkan distribusi pupuk yang lebih tepat sasaran melalui sistem yang telah terintegrasi dengan pengaturan dosis dan pola sebar. Pendekatan berbasis otomatisasi ini dinilai mampu menjawab tantangan keterbatasan tenaga kerja sekaligus meningkatkan produktivitas kebun secara keseluruhan. Pengembangan teknologi ini hasil kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku industri, yang menjadi salah satu fokus utama dalam skema Grant Riset BPDP. Sinergi ini memungkinkan proses riset berjalan lebih adaptif terhadap kebutuhan di lapangan serta mempercepat proses hilirisasi inovasi. Selain meningkatkan efisiensi, teknologi ini juga mendukung praktik perkebunan berkelanjutan melalui penggunaan input yang lebih terukur dan minim pemborosan. Komitmen BPDP Pada Inovasi Melalui program Grant Riset Sawit, BPDP secara konsisten mendorong pengembangan teknologi yang mampu meningkatkan daya saing sektor perkebunan nasional. Inovasi seperti traktor otonom ini menjadi contoh konkret bagaimana dukungan pendanaan riset dapat menghasilkan solusi yang berdampak langsung bagi industri. Ke depan, BPDP berharap semakin banyak riset-riset unggulan yang tidak hanya berhenti pada tahap penelitian, tetapi juga dapat diimplementasikan secara luas dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Dengan dukungan yang berkelanjutan, sektor perkebunan diharapkan mampu bertransformasi menjadi lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.

BPDP Buka Call for Proposal Grant Riset 2026: Kelapa Sawit, Kakao dan Kelapa Menuju Hilirisasi Komersial Nusantara
Nusantara
Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:05 WIB

BPDP Buka Call for Proposal Grant Riset 2026: Kelapa Sawit, Kakao dan Kelapa Menuju Hilirisasi Komersial

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), BLU Kementerian Keuangan telah menggelar Webinar sebagai panduan pendaftaran proposal pendanaan penelitian melalui program Grant Riset BPDP 2026 Transformasi lembaga saat ini meliputi pengelolaan dana untuk komoditas Kelapa Sawit, Kakao, dan Kelapa ini menjadi tonggak baru memperkuat kedaulatan sektor perkebunan nasional melalui inovasi dan teknologi. Program ini dirancang untuk memastikan riset tidak hanya berhenti di meja laboratorium, tetapi mampu memberikan solusi aplikatif bagi tantangan industri dan meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh penjuru Indonesia. Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menegaskan perluasan mandat lembaga tahun ini membawa semangat inklusivitas yang lebih besar. Menurutnya, BPDP memberikan ruang seluas-luasnya bagi para peneliti untuk mengeksplorasi potensi di tiga komoditas utama tanpa ada pembatasan jumlah riset yang kaku di tiap kategorinya. "Tahun ini, kami akan melihat riset-riset yang berdampak bagi kakao, kelapa, dan sawit. Kami tidak akan membatasi atau menentukan jumlahnya masing-masing secara spesifik. Paling penting bagi kita agar hasil dari riset kita menjadi maksimal pemanfaatannya menuju komersialisasi," jelasnya. Ia menambahkan keberhasilan program ini akan diukur dari sejauh mana hasil riset dapat dimanfaatkan secara nyata oleh para pemangku kepentingan guna meningkatkan nilai tambah produk perkebunan Indonesia di pasar global. Sejalan dengan visi tersebut, salah satu Komite Penelitian dan Pengembangan BPDP, Dr. Tony Liwang, menekankan pentingnya kualitas luaran (output) dari setiap proposal yang diajukan. Tony merinci standar ketat yang menjadi acuan penilaian agar dana yang disalurkan dapat tepat sasaran pada riset yang memiliki daya guna tinggi. "Output yang diharapkan adalah replicable sehingga siapa saja dapat menggunakan dan masyarakat dapat mengaplikasikannya. Tolong perhatikan daftar periksa agar tidak ada yang terlewatkan, seperti apakah riset sudah jelas, memiliki relevansi yang kuat, inovatif, berdampak, dan apakah nilai komersialisasinya bernilai tinggi?" tegas Dr. Tony Liwang. Riset yang replikabel dinilai menjadi kunci utama agar inovasi yang dihasilkan dapat segera diserap oleh industri kecil maupun menengah (UKM) perkebunan di berbagai wilayah. Motivasi Untuk Peneliti Nasional Kepala Divisi Penyaluran Dana Riset BPDP, Rahmat Widiana, memberikan pesan penyemangat bagi para akademisi dan praktisi riset di seluruh Indonesia. Beliau mengingatkan bahwa proses seleksi ini adalah bagian dari upaya kolektif untuk menajamkan kualitas keilmuan nasional. "Kami berharap Bapak dan Ibu tidak berkecil hati jika nantinya belum berhasil lolos. Tetapi, kami harapkan hasil ini menjadi momentum untuk semakin mempertajam fokus penelitiannya ke depan," ujar Rahmat Widiana. Rahmat juga menekankan BPDP berkomitmen menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam seluruh proses seleksi guna melahirkan inovasi unggulan yang dapat membanggakan Indonesia. Diketahui Pendaftaran proposal dilakukan sepenuhnya secara daring melalui portal resmi https://program-riset.bpdp.or.id/. Untuk batas akhir penyampaian usulan penelitian ditetapkan pada tanggal 30 Juni 2026 mendatang. Para peneliti diwajibkan menyusun proposal inti secara ringkas dan sistematis dengan batas maksimal 20 halaman, mengacu pada peta jalan (roadmap) penelitian yang telah ditetapkan. Melalui sinergi antara akademisi dan dukungan pendanaan dari BPDP, sektor perkebunan diharapkan mampu menjadi pilar utama ekonomi hijau Indonesia di masa depan.

Keunggulan Banyak, Paguyuban Batik Sawit Ajak Pengrajin Batik Gunakan ke 'Malam' Sawit Sawit
Sawit
Sabtu, 25 April 2026 | 08:31 WIB

Keunggulan Banyak, Paguyuban Batik Sawit Ajak Pengrajin Batik Gunakan ke 'Malam' Sawit

Pekanbaru, katakabar.com - Paguyuban batik sawit mengajak pengrajin batik beralih dan gunakan 'Malam' Sawit, lantaran dengan beralih dan gunakan bahan tersebut keunggulan labih banyak. Batik berbahan 'malam' kelapa sawit terus digaungkan Elaeis Media Group (EMG) lewat beberapa gelaran pelatihan yang ditaja di Provinsi Riau. Kegiatan kerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) gelaran pelatihan ini dilaksanakan di Dumai tahun lalu dan terbaru di Pekanbaru pada 21 hingga 23 April 2026. Ketua Umum Paguyuban Batik Sawit, Miftahudin Nur Ihsan, menyampaikan apresiasi dengan langkah yang diambil EMG, yang bertujuan untuk terus membumikan batik berbahan kelapa sawit. Menurutnya gelaran ini adalah langkah yang sangat tepat untuk meningkatkan wawasan dan memberikan terobosan baru bagi para pengrajin batik, khususnya di wilayah Riau. "Kegiatan adalah wadah untuk para pengrajin atau pelaku UMKM dalam menambah wawasannya mengenai batik yang menggunakan malam sawit," terangnya saat menjadi pemateri dalam gelaran yang digelar di gedung Dekranasda Pekanbaru tersebut. Dari pengamatan Ihsan, antusias peserta sangat tinggi untuk mendalami bahan malam kelapa sawit tersebut. Hal ini sejalan dengan visi dan misi paguyuban yang dipimpinnya yakni mendorong pengrajin kelapa sawit beralih menggunakan malam kelapa sawit. Kata Ihsan, malam atau lilin kelapa sawit memiliki berbagai keunggulan dibanding dengan malam atau lilin yang biasa digunakan. "Malam sawit ini lebih ramah lingkungan. Selain itu mudah digunakan, baunya tidak menyengat sehingga tidak mengganggu pernapasan," jelasnya. Disamping itu lanjut Ihsan, bahan baku malam kelapa sawit ini sangat mudah ditemukan terutama di Riau yang menjadi sentra perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Apalagi, stearin yang menjadi bahan utamanya adalah turunan minyak kelapa sawit yang biasanya dihasilkan dalam pengolahan kelapa sawit di PKS. "Harapannya melalui pelatihan ini terbentuk ekosistem pembatik yang kuat, yang menghasilkan produk batik berkualitas dan mampu bersaing hingga ke mancanegara. Batik sawit peluangnya masih sangat terbuka lebar. Terlebih lagi Riau memiliki motif ciri khas setiap daerah, ini bisa jadi ladang cuan bagi pengrajin," sebutnya.

BPDP BLU Kemenkeu dan Samade Gandeng Tangan Dorong Sertifikasi Halal UMKM Sawit Sawit
Sawit
Jumat, 24 April 2026 | 16:10 WIB

BPDP BLU Kemenkeu dan Samade Gandeng Tangan Dorong Sertifikasi Halal UMKM Sawit

Palembang, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai Badan Layanan Umum Kementerian Keuangan berkolaborasi dengan  Sawitku Masa Depanku (Samade) pacu penguatan kapasitas pelaku usaha melalui Workshop UMKM Naik Kelas di Sumatera Selatan. Kegiatan yang dilaksanakan di pertengahan April 2026 lalu, usung tema 'Strategi Sertifikasi Halal UMKM Berbasis Bahan Turunan Sawit sebagai Bahan Pangan Potensial'. Tujuanya, fokus pada akselerasi sertifikasi halal dan inovasi produk berbasis bahan turunan sawit sebagai langkah strategis hilirisasi. Langkah tersebut sebagai upaya sistematis mendorong pelaku UMKM, koperasi, hingga petani agar mampu meningkatkan nilai tambah produk sehingga memiliki daya saing yang kuat di pasar domestik maupun global. Ketua DPW Samade Sumatera Selatan sekaligus Ketua Panitia Workshop, Jonli Sirait, menjelaskan kegiatan ini respons konkret untuk menjawab tantangan standarisasi produk yang dihadapi pelaku usaha di daerah. Menurutnya, pemahaman mengenai legalitas dan teknologi digital sangat krusial bagi keberlanjutan usaha. "Workshop ini kami desain untuk membekali pelaku UMKM dengan kompetensi teknis, terutama dalam aspek sertifikasi halal dan inovasi produk. Sebagai salah satu wilayah dengan potensi sawit terbesar, UMKM di Sumatera Selatan harus naik kelas dan mampu mengoptimalkan bahan baku turunan sawit menjadi produk pangan berkualitas tinggi yang siap bersaing di pasar modern," ucap Jonli. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menekankan posisi strategis kelapa sawit sebagai pilar devisa negara. Ia menegaskan bahwa keterlibatan UMKM dalam ekosistem hilirisasi adalah kunci untuk memastikan perputaran ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat. "Sawit adalah miracle crop yang berkontribusi masif terhadap devisa negara. Kami ingin memastikan kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi menghasilkan output nyata berupa peningkatan jumlah produk UMKM sawit yang tersertifikasi halal. Sertifikasi ini bukan sekadar administratif, melainkan instrumen peningkat daya saing global agar produk turunan sawit kita semakin dipercaya oleh konsumen," tegas Helmi. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan melalui Kepala Divisi Pusat Pelayanan Hasil dan Diseminasi (PPHD) Dinas Perkebunan, Mupakanisin, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menyatakan kolaborasi antara asosiasi dan lembaga pendukung seperti BPDP sangat membantu program percepatan pembangunan perkebunan di daerah. "Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus mendorong penguatan UMKM agar mampu naik kelas, salah satunya melalui percepatan sertifikasi halal dan pemanfaatan potensi bahan turunan sawit sebagai komoditas unggulan daerah. Kami berharap melalui workshop ini, hambatan teknis yang dihadapi pelaku usaha di lapangan dapat teratasi secara efektif," terang Mupakanisin. Melalui sinergi yang didukung oleh BPDP ini, para pelaku UMKM di Sumatera Selatan diharapkan dapat mengoptimalkan potensi bahan turunan sawit serta beradaptasi dengan ekosistem digital guna memperluas pangsa pasar di tengah kompetisi yang semakin ketat.