Agung Marsudi

Sorotan terbaru dari Tag # Agung Marsudi

A Marsudi Sampaikan Permohonan Maaf ke Amril Mukminin dan Publik Opini
Opini
Kamis, 09 Januari 2025 | 12:14 WIB

A Marsudi Sampaikan Permohonan Maaf ke Amril Mukminin dan Publik

Jakarta, katakabar.com - Penulis asal Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau, Agung Marsudi dari Duri Institute sampaikan permohan maaf kepada Amril Mukminin dan publik. Ini atas jawaban Somasi ke II (Terakhir) dan Permohonan Maaf atas tulisan Agung Marsudi "Hasto Tersangka, Amril Mukminin Keluar Penjara, Kasmarni Bupati "Lagi". Dengan hormat, Kepada kantor advokat & konsultan hukum Patar Pangasian & Rekan, selaku penasehat hukum Bapak Amril Mukminin, atas peringatan/ somasi ke-II (terakhir) yang disampaikan kepada saya, melalui w.a. nomor 0852 1005 1028, a.n. bapak Basuki Rahmat, tanggal 7 Januari 2025. Dengan surat Nomor : 001/PPR/SOM/I/2025, dengan ini saya : Nama: Agung Marsudi Pekerjaan: Penulis Alamat: Duri, Bengkalis, provinsi Riau

Dicari Pemimpi (N) Mikul Dhuwur, Mendhem Jero Opini
Opini
Selasa, 02 Januari 2024 | 13:33 WIB

Dicari Pemimpi (N) Mikul Dhuwur, Mendhem Jero

Oleh: Agung Marsudi Duri Institute katakabar.com - Di Mata Najwa bolehlah bergaya, karena disorot kamera. Tapi di mata rakyat, tak ada yang terlupa. Ungkapan, timbul tenggelam bersama rakyat itu sumpah setia. Bukan retorika. Pada setiap upaya rekayasa, ada karma. Jalan kebangsaan, tak bisa diselesaikan hanya dengan patriotisme di jalan politik. Gelombang aspirasi yang tersakiti, memang bisa ditenggelamkan sedalam-dalamnya di laut, tapi bukan 'mendhem jero". Dan yang timbul di darat tak bisa disamakan dengan 'mikul dhuwur'. Kehormatan rakyat di atas segalanya. Permainan kata-kata saja berbahaya, apalagi mempermainkan rakyat. Pilpres tidak hanya pertandingan tapi juga permainan, tapi rakyat tidak untuk dipermainkan. Timbul tenggelam bersama rakyat, itu bermakna 'mikul dhuwur, mendhem jero'. Bayangkan jika jutaan 'rakyat ketaton' lalu membangun kanal sosial dan mengikuti jalan pikirannya sendiri. Merasa baik, belum tentu bersentuhan dengan kebaikan. Tapi kebaikan bersama orang-orang yang baik. Indonesia masa depan membutuhkan pemimpin, bukan pemimpi. Apalagi pemimpi di siang bolong. Elitnya makan spaghetti, rakyatnya mangan 'godhong'. Presiden, telah mengundang 3 calon presiden makan siang di istana. Tentu dibiayai negara. Sementara dalam politik terkenal adagium, 'tidak ada makan siang yang gratis'. Pesan orang-oran tua, Pemimpin yang baik itu, makan belakangan, setelah rakyatnya makan.