Benteng

Sorotan terbaru dari Tag # Benteng

Menjaga Marwah Melayu di Tengah Globalisasi, Adat Jadi Benteng Etika Sosial dan Politik di Tanah Jantan Opini
Opini
Minggu, 04 Januari 2026 | 18:17 WIB

Menjaga Marwah Melayu di Tengah Globalisasi, Adat Jadi Benteng Etika Sosial dan Politik di Tanah Jantan

Oleh: Humas LAMR Kepulauan Meranti, Ucok Alexander Kepulauan Meranti, katakabar.com - Di tengah derasnya arus globalisasi yang kerap menggerus identitas budaya lokal, masyarakat Melayu di 'Tanah Jantan' sebutan lain dari Kabupaten Kepulauan Meranti tetap menjadikan adat istiadat sebagai benteng utama menjaga marwah dan jati diri. Bagi masyarakat setempat, adat bukan sekadar simbol seremonial, melainkan pedoman hidup yang mengatur etika sosial, tata pergaulan, hingga nilai-nilai politik. Falsafah hidup Melayu yang berbunyi “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah” masih dipegang kuat hingga kini. Prinsip tersebut menempatkan adat pada kedudukan tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat, sekaligus menjadi fondasi moral dalam setiap aspek kehidupan. Tokoh-tokoh adat menilai, ketika adat mulai diabaikan, sendi-sendi kehidupan masyarakat akan rapuh. Politik kehilangan etika, hubungan sosial menjadi renggang, dan generasi muda berpotensi tercerabut dari akar budayanya sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Melayu Kepulauan Meranti dikenal menjunjung tinggi nilai sopan santun, musyawarah, dan kebersamaan. Hal ini tercermin dalam pepatah Melayu, “Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” yang menggambarkan semangat solidaritas dan gotong royong. Nilai-nilai adat tersebut juga menjadi rujukan dalam etika kepemimpinan. Dalam budaya Melayu, seorang pemimpin tidak dinilai dari jabatan semata, melainkan dari budi pekerti dan moralitasnya. Pepatah “Tinggi tampuk kerana sirih, tinggi adat kerana budi” menegaskan jabatan adalah amanah, sementara akhlak menjadi dasar kehormatan kepemimpinan. Selain itu, adat Melayu berperan sebagai filter terhadap pengaruh luar. Globalisasi dipandang sebagai keniscayaan, tetapi adat berfungsi sebagai penuntun agar modernisasi tidak mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Masyarakat Melayu meyakini menjaga adat bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memastikan pembangunan tetap berkeadilan dan memuliakan manusia. Dengan berlandaskan adat, pembangunan dan politik diharapkan tidak semata mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Prinsip adat diyakini mampu mencegah praktik politik yang hanya menguntungkan kelompok tertentu. Ungkapan Melayu yang sangat dikenal, “Biar mati anak, jangan mati adat,” kembali mengingatkan pentingnya menjaga warisan leluhur. Hilangnya adat dianggap sama dengan hilangnya jati diri, yang pada akhirnya membuat masyarakat kehilangan arah dalam menghadapi perubahan zaman. Tantangan ke depan adalah menanamkan kembali nilai-nilai adat kepada generasi muda Meranti. Pendidikan tidak hanya dituntut mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berakar kuat pada kecerdasan budaya. Dengan demikian, adat istiadat tetap tegak, etika sosial tetap hidup, dan marwah Melayu terus terjaga di tengah gelombang globalisasi.

Bangun Benteng Hijau, PT HFI Tanam Ribuan Mangrove di Wonorejo Lingkungan
Lingkungan
Minggu, 13 Juli 2025 | 10:33 WIB

Bangun Benteng Hijau, PT HFI Tanam Ribuan Mangrove di Wonorejo

Surabaya, katakabar.com - Guna perkuat komitmen keberlanjutan lingkungan, PT Hino Finance Indonesia atau FHI berkolaborasi dengan LindungiHutan dalam aksi penanaman pohon mangrove di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya. Kegiatan bertema “Investing in Nature, Securing Our Future” ini berhasil menanam sebanyak 2.511 pohon mangrove jenis Rhizophora, dengan melibatkan 10 peserta aktif serta kontribusi dari masyarakat sekitar. Penanaman dilakukan di pekan pertam Juni 2025 lalu, bekerja sama dengan mitra penanaman lokal dan kelompok tani setempat. Proyek ini menjadi bagian dari upaya rehabilitasi kawasan pesisir sekaligus bentuk nyata kontribusi perusahaan dalam aksi iklim dan pelestarian ekosistem. Jenis mangrove Rhizophora dipilih karena kemampuannya bertahan di lingkungan ekstrem dengan salinitas tinggi, menjadikannya pelindung alami pantai dari abrasi dan banjir rob. Selain fungsi ekologis, Rhizophora memiliki nilai ekonomis sebagai sumber bahan bangunan, kayu bakar, dan tanin alami. Meski penanaman baru dilakukan pada awal Juni, keterlibatan 30 lebih petani lokal telah dimulai sejak tahap persiapan. Keikutsertaan mereka diharapkan menjadi awal dari manfaat jangka panjang, baik dalam bentuk peningkatan keterampilan, pendapatan, maupun kesadaran lingkungan. Monitoring akan dilakukan secara berkala selama enam bulan untuk memastikan pertumbuhan pohon dan efektivitas pemulihan ekosistem. Hasil dampak lingkungan dan sosial akan dilaporkan setelah periode monitoring selesai, sebagai bentuk transparansi dan tanggung jawab berkelanjutan. Penanaman mangrove ini berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim. Riset oleh Donato et al. (2011) menunjukkan bahwa hutan mangrove mampu menyimpan karbon 3–5 kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis daratan, menjadikan kawasan seperti Wonorejo penting dalam strategi adaptasi iklim nasional. Dengan luas tanam mencapai 1.752 m², kolaborasi ini menjadi contoh nyata bahwa investasi pada alam, termasuk melalui rehabilitasi lingkungan, adalah langkah strategis untuk menjamin masa depan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat dan ekosistem pesisir Indonesia. “Investasi hijau bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga tentang melindungi masa depan masyarakat dan ekosistem yang menjadi penopangnya. Melalui penanaman mangrove ini, kami ingin berkontribusi dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, terutama bagi alam, bagi kehidupan, dan bagi generasi mendatang,” pungkas Dwi Ratnaningsih, perwakilan dari PT Hino Finance Indonesia.