Demi

Sorotan terbaru dari Tag # Demi

Demi Gibran: Duet Atau Duel Prabowo-Jokowi 2029 Opini
Opini
Sabtu, 05 September 2026 | 10:01 WIB

Demi Gibran: Duet Atau Duel Prabowo-Jokowi 2029

Oleh Agung Marsudi katakabar.com - DI panggung politik nasional menuju tahun 2029, dua sosok kuat— Prabowo dan Jokowi masih berdiri dalam posisi yang saling menopang—dan saling membayangi. Meski dalam dua kontestasi presiden sebelumnya berseteru, kini mereka bersekutu. Prabowo menduduki kursi kepresidenan berkat dukungan Jokowi; Jokowi menikmati perlindungan warisan politik, dan akses ke sumber daya negara—banyak loyalis Jokowi yang masih duduk di pemerintahan. Meski di permukaan, dua sosok ini tampak sebagai persekutuan yang harmonis: bergandengan. Namun seiring jarak yang makin dekat ke tahun 2029, muncul pertanyaan yang tak bisa lagi dipungkiri: kemana arah persekutuan strategis ini ditujukan? Apakah untuk menyanyikan lagu yang sama demi kebesaran Indonesia—atau justru sedang memainkan dua nada yang berbeda, di mana tujuan sebenarnya adalah melanggengkan jalur kekuasaan mengamankan posisi—dan dinasti Jokowi. Pidato menggelegar Prabowo "Hidup Jokowi!" dan dukungan Jokowi untuk Prabowo-Gibran dua periode, diiringi dengan turun gunungnya Jokowi membela mati-matian PSI pimpinan Kaesang anak bungsunya, penanda Jokowi berada di balik bangunan politik partai berlogo gajah tiny, dengan target perolehan kursi PSI di parlemen. Masih segar dalam ingatan, ketika pertarungan pilpres 2024, Jokowi memobilisasi seluruh kekuatan birokrasi, anggaran bantuan sosial, dan pengaruh partai untuk memastikan kemenangan Prabowo—langkah yang banyak pengamat dinilai sebagai pengkhianatan terhadap prinsip netralitas eksekutif. Inilah dasar dari apa yang tampak sebagai "duet": saling melengkapi dan mengunci satu sama lain. Prabowo membawa pengalaman, jaringan partai lama, dan kematangan strategis; Jokowi membawa popularitas, dan penguasaan mesin pemerintahan. Poros Hambalang-Solo menjadi ikonik, dan nyaris tak tertandingi di arena koloseum politik Indonesia saat ini. Namun persekutuan yang dibangun di atas pertukaran kepentingan pribadi selalu membawa benih keretakan ketika tujuan pribadi mulai berbenturan dengan kepentingan negara yang lebih luas. Risiko terbesar dari persekutuan strategis Prabowo–Jokowi bukanlah perpecahan di antara keduanya, melainkan hilangnya jarak antara negara dan keluarga berkuasa. Ketika Prabowo dan Gibran—bekerja dalam satu barisan, maka garis batas antara kepentingan negara dan kepentingan keluarga menjadi nyaris tak terlihat. Kepentingan nasional atau menabur benih kekuasaan turun-temurun. Rakyat pun perlahan mulai mempertanyakan: apakah demokrasi yang dijaga selama puluhan tahun ini akhirnya hanya akan berputar di antara beberapa keluarga saja? Jika jalur menuju kekuasaan semakin sempit dan semakin tertutup bagi mereka yang tidak memiliki nama besar atau relasi kuasa, maka kemenangan demokrasi hanya semu—sebab yang terjadi adalah pergantian wajah di atas sorot lampu politik yang sama. Kini potensi perpecahan menjadi terbuka, dan boleh jadi antiklimaks, dan menjadi titik balik paling menarik menuju 2029. Prabowo memiliki ambisi sejarahnya sendiri: untuk dikenang sebagai arsitek kemandirian ekonomi dan pemimpin yang mengembalikan kejayaan Indonesia. Ia tidak mungkin rela menjadi sekadar tangga darurat yang lalu dilupakan setelah memberi laluan kekuasaan kepada generasi Jokowi. Di sisi lain, Jokowi memiliki urgensi waktu yang tak bisa ditunda—sisa masa jabatan Prabowo adalah satu-satunya kesempatan emas untuk memastikan Gibran cukup kuat jika harus melaju sendiri, lalu ditopang Kaesang, jika PSI menang. Ketika ambisi pribadi Prabowo bertemu dengan urgensi suksesi Jokowi, benturan menjadi sangat mungkin terjadi. Prabowo mungkin mulai mempertimbangkan calon penerus yang sejalan dengan gagasan dan kelompoknya sendiri, bukan sekadar meneruskan warisan orang lain. Jika hal itu terjadi, maka yang semula duet harmonis akan berubah menjadi duel. Sepuluh tahun Jokowi, kini pemerintahan Prabowo mendekat di usia dua tahun, politik kita masih berbau Roti, Sirkus, dan Bansos. Sejak masa Romawi Kuno, penguasa memahami satu kebenaran mendalam: rakyat yang kenyang dan terhibur jarang sekali memberontak. Dua hal itu—panem et circenses, roti dan sirkus, menjadi resep lama untuk menjaga ketenangan publik dan mempertahankan kekuasaan. Di Indonesia abad ke-21, resep itu tampaknya menemukan penjelmaan baru. “Roti” kini bisa bernama MBG, Bansos menjadi Kopdes, dan “sirkus”? Ia hadir dalam kemeriahan program nasional yang terdengar nyaring, bening dan menjanjikan, diiringi narasi besar tentang kedaulatan, keadilan, kemakmuran. Tahun 2029 dua punakawan, Petruk dan Bagong, akan menggemparkan kahyangan, jagat politik nasional. Goro-Goro Indonesia harus diakhiri, tak ada reformasi jilid 2, yang ada rakyat dengan suka cita, menyambut deklarasi selamat tinggal era reformasi.

Tanam Pohon di 'Kota Sagu', Kapolda Riau: Ini Demi Masa Depan Peradaban Anak Cucu Kita Riau
Riau
Sabtu, 17 Mei 2025 | 15:53 WIB

Tanam Pohon di 'Kota Sagu', Kapolda Riau: Ini Demi Masa Depan Peradaban Anak Cucu Kita

Kepulauan Meranti, katakabar.com - Kepala Kepolisian Daerah atau Kapolda Riau, Irjen Pol Dr. Hery Herjawan, S.I.K., M.H., M.Hum, kunjungan kerja (Kunker) ke wilayah hukum Polres Kepulauan Meranti, di 'Kota Sagu' Selatpanjang, Sabtu (17/5) pagi. Kunjungan kerja tersebut untuk penguatan soliditas internal Polri, evaluasi kinerja Polres jajaran, serta memperkuat sinergi dengan pemangku kepentingan daerah, sekaligus penanaman bibit Pohon Kehidupan dan penandatanganan komitmen langsung oleh Kapolda Riau. Kapolda Riau, Irjen Pol Dr. Hery Herjawan menyatakan, kegiatan penanaman pohon yang dilakukan ini, di mana telah dilakukan selama hampir dua bulan terakhir, bukan sekadar rutinitas seremonial. Kegiatan ini memiliki nilai strategis, dan simbolis yang sangat tinggi. "Ketika kita menanam pohon, sesungguhnya kita sedang membangun peradaban baru. Kita sedang menanam harapan, menanam masa depan bagi anak cucu kita," tegasnya. Jika gerakan ini kita institusikan menjadi kebijakan Peraturan Daerah atau Perda, terang Kapolda Riau, Insya Allah akan menjadi warisan besar bagi daerah ini. Ini bukan hanya untuk lingkungan, tapi bisa membuka peluang kerja, meningkatkan indeks kualitas hidup, dan bahkan, ke depannya dapat memberikan nilai ekonomi melalui carbon trading atau perdagangan karbon yang sedang digalakkan secara global. "Bayangkan jika jumlah kita yang hadir di sini sekitar 200 orang. Kita komitmen menanam masing-masing satu pohon setiap minggu. Dalam sebulan, akan ada 800 pohon. Dalam setahun, kita akan menanam 16.000 pohon. Dan bila kita kalikan dengan empat anggota keluarga, itu menjadi 64.000 pohon dalam satu tahun," rincinya.

Demi Marwah Pemuda 'Negeri Sagu', Jefrizal Nyatakan Siap Pimpin KNPI Riau
Riau
Senin, 03 Februari 2025 | 20:28 WIB

Demi Marwah Pemuda 'Negeri Sagu', Jefrizal Nyatakan Siap Pimpin KNPI

Kepulauan Meranti, katakabar.com - Komitmen dan tetap optimis membawa perubahan besar demi perbaikan kinerja KNPI ke depan, alasan Jefrizal nyatakan siap pimpin Komite Nasional Pemuda Negeri (KNPI) di 'Negeri Sagu' nama lain dari Kepulauan Meranti. Jefrizal melihat KNPI adalah sebuah wadah pemersatu, dan harus mampu melahirkan kaum muda yang lebih kreatif, inovatif dan solusif. Ide dan gagasan modal utama memajukan sebuah organisasi, apalagi berbicara organisasi sebagai mitra pemerintah, harus sejalan dengan tujuan kepemerintahan, baik bicara Unggul, Agamis dan sejahtera. Hal ini modal dasar dan pijakan menjalankan program-program keorganisasian ini. Jefrizal awalnya dibesarkan dari aktifis Kesatuan Aksi mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan selalu aktif diskusi bersama dengan pengurus organisasi HMI. Disekolahkan dari sekolah Muhammmadiyah dan aktif menjalankan organisasi NU sejak Kulyah, Pernah jadi pengurus Hima persis Riau serta LSM Lira bahkan organisasi kemahasiswaan daerah Riau dan Kepulauan Meranti.

Kolaborasi Semua Pihak Dibutuhkan Demi Wujudkan Keberlanjutan Sawit Nusantara Nusantara
Nusantara
Jumat, 01 September 2023 | 15:03 WIB

Kolaborasi Semua Pihak Dibutuhkan Demi Wujudkan Keberlanjutan Sawit Nusantara

Jakarta, katakabar.com - Kolaborasi dan kesepahaman yang sama bangun kemitraan strategis dari semua pihak dibutuhkan untuk mewujudkan keberlanjutan sawit nusantara. Itu ditekankan Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman saat memberikan sambutan di Workshop Rembug Tani Nasional III tahun 2023 gelaran Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) di Jakarta, pada Kamis (31/8) kemarin. Kelapa sawit komoditas strategis telah menyumbang kebutuhan minyak nabati dunia hingga mencapai 22 persen. Tapi, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi penyedia bahan mentah minyak nabati dunia agar kelapa sawit punya nilai ekonomi yang lebih tinggi, salah satunya lewat hilirisasi, jelasnya dilansir dari laman globalplanet, pada Jumat (1/9). Mengutip BPDPKS, saat ini pemeritah telah menerbitkan berbagai kebijakan dengan tujuan untuk mendorong hilirisasi industri kelapa sawit yang dapat memberikan nilai tambah kepada petani dan masyarakat Indonesia. "Sekitar setengah perkebunan kelapa sawit Indonesia merupakan sawit yang dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat yang tersebar dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawei, Malulu hingga Papua. Dinamika itu memberikan tantangan tersendiri dalam mendorong hilirisasi kelapa sawit," ulasnya. Petani kelapa sawit swadaya punya banyak tantangan menjalankan perkebunan kelapa sawit mereka. Beberapa masalah yang muncul, yakni masalah rantai pasok dari perkebunan hingga ke pabrik, infrastruktur yang kurang memadai, produktivitas yang relatif rendah dan kurangnya pengetahun petani swadaya terhadap praktek pertanian yang baik serta akses yang terbatas terhadap teknologi maupun sertifikasi. Masalah itu, sangat penting untuk diatasi dengan solusi yang efektif dan strategis, salah satunya melalui strategi industri integrasi dari hulu hingga hilir, salah satunya melalui mandatori biodiesel. Asisten Deputi II Kantor Menko Perekonomian, Adi Yusuf menuturkan, Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan yang sangat besar dan perlu dioptmalkan untuk meningkatkan perekonomian di berbagai sektor serta mengurangi ketergantungan energi fosil. Mantadotori biodiesel menunjukkan hal yang sangat baik, salah satunya dapat mewujudkan penghematan devisa negara. Pada tahun 2022, akibat program biodiesel, terjadi penghematan devisa negara sebesar Rp122,65 triliun, dan memberikan nilai tambah terhadap Crude Palm Oil (CPO) sebesar Rp12,2 triliun. Setelah B-35, maka akan dilanjutkan menjadi B-40 sehingga hal ini bakal semakin mengukuhkan Indonesia sebagai produsen utama biodiesel dunia. “Ini suatu prestasi Indonesia yang patut untuk kita apresiasi. Dengan mandatori B-35, kebutuhan CPO semakin meningkat serta mampu menyerap CPO Indonesia sehingga mendongrak harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani,” bebernya. SPKS yang diketuai Darto Wojtyla tersebut melaksanakan Rembug Tani Nasional III dengan sejumlah rangkaian kegiatan, salah satunya Workshop Pemanfaatan TBS Petani Sawit Swadaya Melalui Kemitraan dalam Mendukung Program Biodiesel sebagai Sumber Energi Transisi Berkelanjutan di Indonesia.