Dolar

Sorotan terbaru dari Tag # Dolar

Alternatif Menyimpan Dolar untuk Pemula di Era Digital Internasional
Internasional
Senin, 15 Desember 2025 | 08:04 WIB

Alternatif Menyimpan Dolar untuk Pemula di Era Digital

Jakarta, katakabar.com - Banyak orang masih melihat dolar Amerika Serikat sebagai acuan nilai yang relatif stabil. Lantaran itu, investasi USD dolar sering dianggap sebagai salah satu cara untuk menjaga nilai kekayaan, terutama bagi pemula yang ingin menyimpan nilai aset dengan referensi mata uang yang umum dipakai di perdagangan internasional. Tantangannya, akses ke produk dolar secara konvensional tidak selalu praktis. Rekening valas bisa punya persyaratan tertentu, dan penggunaannya kadang terasa kurang fleksibel untuk kebutuhan harian. Di sisi lain, teknologi finansial membuat “dolar versi digital” makin mudah dijangkau. Salah satu yang paling dikenal adalah USDT, yaitu aset kripto kategori stablecoin yang dirancang untuk mengikuti nilai dolar AS. Pendekatan ini memberi opsi bagi sebagian orang untuk menyimpan nilai berbasis dolar tanpa harus selalu bergantung pada rekening valas. Mengenal USDT Representasi Dolar Digital USDT (Tether) merupakan aset kripto yang dirancang untuk mengikuti nilai dolar AS dengan target nilai 1 banding 1. Artinya, satu unit USDT ditujukan untuk merepresentasikan satu dolar Amerika Serikat. Di dalam ekosistem kripto, USDT banyak digunakan sebagai alat tukar, penyimpan nilai sementara, hingga penghubung antar aset digital. Bagi pemula yang ingin beli USD dolar secara digital, USDT sering dianggap lebih mudah dipahami karena nilainya relatif stabil dibanding aset kripto lain. Meski begitu, penting untuk memahami bahwa USDT tetap diperdagangkan di pasar dan tetap berada dalam ekosistem kripto, sehingga ada risiko yang perlu dipertimbangkan. Sebelum transaksi, sebagian orang juga memakai kalkulator USDT untuk memperkirakan nilai konversi agar tidak salah hitung saat mengubah rupiah ke USDT atau sebaliknya. Pahami Staking USDT Bahasa Sederhana Selain digunakan sebagai alat simpan, USDT juga dapat dimanfaatkan dalam mekanisme yang dikenal sebagai staking. Secara sederhana, staking adalah proses mengunci aset digital dalam jangka waktu tertentu di sebuah platform. Selama periode tersebut, aset tidak bisa digunakan atau ditarik, dan sebagai gantinya pengguna berpotensi menerima imbal hasil sesuai ketentuan yang berlaku. Staking USDT sering dipilih oleh pengguna yang sudah terlebih dahulu beli USDT murah sebagai bagian dari strategi pengelolaan aset digital. Tetapi penting dipahami bahwa staking bukanlah tabungan bank. Imbal hasilnya tidak bersifat tetap dan dapat berubah tergantung durasi penguncian serta kebijakan platform. Karena itu, staking sebaiknya dipahami sebagai bagian dari sistem aset digital, bukan sebagai instrumen bebas risiko. Staking USDT di Platform Bittime APY hingga 10 Persen Di Indonesia, salah satu platform yang menyediakan fitur staking USDT adalah Bittime. Staking USDT Bittime menawarkan estimasi imbal hasil tahunan atau annual percentage yield (APY) hingga 10 persen. Besaran ini bergantung pada periode staking dan program yang sedang berjalan. Sebelum staking, pengguna dapat melihat detail terkait durasi penguncian, estimasi APY, serta ketentuan pencairan dana secara transparan di dalam platform. Bagi pemula, informasi ini penting agar keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan pemahaman, bukan sekadar mengikuti angka imbal hasil. Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Setiap instrumen aset memiliki risiko masing-masing. Aset kripto bersifat volatil dan dapat mengalami perubahan nilai dalam waktu singkat. Selalu lakukan riset secara mandiri, pahami cara kerja serta risiko yang ada, dan sesuaikan keputusan dengan kondisi serta tujuan keuangan pribadi sebelum berinvestasi pada instrumen apa pun.

BTC Rally di Tengah Penguatan Dolar, Apakah Investor Perlu Waspada? Internasional
Internasional
Sabtu, 29 November 2025 | 12:05 WIB

BTC Rally di Tengah Penguatan Dolar, Apakah Investor Perlu Waspada?

Jakarta, katakabar.com - Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan penguatan dengan berhasil naik mendekati level US$ 86.000 pada perdagangan Senin, setelah sempat jatuh ke titik terendah US$ 80.600 Jumat lalu level terendah sejak April. Rebound ini terjadi di tengah kondisi makro yang cukup menantang, khususnya karena U.S. Dollar Index (DXY) masih berada kokoh di atas angka 100 dan mendekati level tertinggi enam bulan. Biasanya, penguatan dolar memberikan tekanan besar pada aset berisiko seperti kripto, sehingga kenaikan BTC di kondisi seperti ini memicu pertanyaan mengenai kekuatan fundamental dari reli tersebut. Penguatan dolar sebagian besar dipicu oleh rilis data nonfarm payroll (NFP) terbaru Amerika Serikat yang menunjukkan pertumbuhan signifikan. Total 119.000 pekerjaan berhasil ditambahkan dalam periode pelaporan, jauh di atas perkiraan konsensus yang hanya sekitar 53.000. Lonjakan NFP ini meningkatkan keyakinan pasar terhadap ketahanan ekonomi AS, namun sekaligus menciptakan ketidakpastian terkait arah kebijakan Federal Reserve. Peluang pemangkasan suku bunga di bulan Desember masih menjadi perdebatan, sebab data ekonomi yang lebih kuat biasanya membuat The Fed enggan melonggarkan kebijakan terlalu cepat. Di tengah pergerakan makro tersebut, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed untuk Desember sempat tercatat meningkat, namun tetap bergantung pada data lanjutan dalam beberapa minggu ke depan. Situasi ini menciptakan volatilitas tambahan bagi Bitcoin, karena kebijakan suku bunga memiliki pengaruh langsung terhadap minat investor terhadap aset berisiko. Pada sisi teknikal, rebound Bitcoin ini mendapat sorotan dari analis, termasuk Tony Severino, yang menilai bahwa penguatan BTC mungkin bersifat “deceptive strength” atau kekuatan yang menyesatkan. Menurut analisisnya, pergerakan BTC terhadap dolar bisa saja mencerminkan pelemahan dolar, bukan kekuatan sejati dari Bitcoin itu sendiri. Ia membandingkan rasio BTC terhadap emas (BTC/gold) dan menemukan bahwa secara struktural Bitcoin masih underperform dibandingkan emas. Artinya, ketika diukur dengan aset safe haven lain, Bitcoin belum menunjukkan kekuatan mendasar yang cukup solid untuk mendukung reli jangka panjang. Dengan kata lain, kenaikan harga dalam USD bisa saja menutupi kelemahan fundamental Bitcoin di pasar global. Dengan berbagai dinamika tersebut, banyak analis menilai bahwa meski Bitcoin berhasil merebut kembali posisi di atas US$ 86.000, reli ini masih tergolong rapuh dan berpotensi bersifat sementara. Investor disarankan lebih berhati-hati sebelum menyimpulkan bahwa pemulihan ini adalah awal dari bull run yang lebih besar. Ketidakpastian makro, penguatan dolar, serta sinyal teknikal yang belum solid menjadi faktor-faktor yang perlu diawasi dalam beberapa waktu ke depan. Bagi para investor yang ingin memantau pergerakan Bitcoin, dolar, maupun aset global lainnya, aplikasi Nanovest dapat menjadi pilihan terbaik. Melalui Nanovest, kamu bisa memantau pergerakan saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital secara real-time dalam satu aplikasi yang aman dan mudah digunakan. Bagi pemula, tidak perlu khawatir karena hanya di Nanovest kamu mendapatkan proteksi dari risiko cybercrime melalui Asuransi Sinar Mas sebuah fitur keamanan ekstra yang sangat jarang dimiliki platform investasi lain. Sebagai platform yang telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital oleh OJK, Nanovest menawarkan rasa aman dan kredibilitas bagi para investor di Indonesia. Kamu juga bisa mengeksplor berbagai koin kripto lain, memulai investasi dengan mudah, dan menikmati pengalaman bertransaksi yang cepat serta transparan. Untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa mengunjungi www.nanovest.io. Aplikasinya sendiri tersedia di Play Store dan App Store, sehingga kamu dapat mulai berinvestasi kapan pun dan di mana pun.

Emas Lesu di Awal Pekan, Kombinasi Tekanan The Fed dan Dolar Faktor Utama Internasional
Internasional
Kamis, 06 November 2025 | 13:37 WIB

Emas Lesu di Awal Pekan, Kombinasi Tekanan The Fed dan Dolar Faktor Utama

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) memulai perdagangan Selasa (4/11) dengan langkah hati-hati. Logam mulia ini sempat bergerak fluktuatif di kisaran $3.962 hingga $4.050 per troy ounce sebelum akhirnya stabil di sekitar level psikologis $4.010. Para pelaku pasar tampak menahan diri menjelang serangkaian data ekonomi penting Amerika Serikat (AS) serta pernyataan dari pejabat Federal Reserve (The Fed) yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya. Menurut Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, tren jangka pendek emas masih cenderung melemah. Berdasarkan sinyal teknikal dari pola candlestick dan indikator Moving Average, tekanan bearish terlihat semakin kuat. “Selama harga belum mampu menembus area $4.026, peluang koreksi ke bawah masih terbuka. Jika tekanan jual berlanjut, target berikutnya berada di area $3.959,” jelas Andy. Ia menyatakan peluang koreksi naik tetap ada apabila harga gagal menembus support tersebut. “Apabila emas mampu bertahan di atas $3.980 dan menembus kembali level $4.026, ada peluang bagi rebound teknikal menuju $4.060 dalam jangka pendek,” ujarnya. Dari sisi fundamental, harga emas mendapat tekanan tambahan dari ekspektasi kebijakan The Fed yang masih condong hawkish. Setelah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pekan lalu, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pemangkasan lanjutan belum tentu terjadi pada pertemuan Desember mendatang. Pernyataan ini mendorong penguatan Dolar AS (USD) dan menekan harga logam mulia yang berdenominasi dolar. Selain itu, komentar dari pejabat The Fed, Michelle Bowman, yang dijadwalkan berbicara hari ini, menjadi fokus pasar. Setiap isyarat mengenai kebijakan moneter akan dicermati ketat, mengingat pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa The Fed mungkin kembali menurunkan suku bunga pada akhir tahun. Di sisi lain, data ekonomi terbaru menunjukkan tanda-tanda pendinginan di sektor manufaktur AS. Laporan dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan bahwa PMI Manufaktur turun menjadi 48,7 pada Oktober, lebih rendah dari perkiraan 49,5 dan tetap berada di zona kontraksi. Data ini bisa menjadi penyeimbang bagi The Fed, karena perlambatan aktivitas industri dapat menekan Dolar AS dan memberi ruang bagi harga emas untuk menguat kembali. Sentimen global pun ikut memengaruhi arah emas. Kabar positif dari hubungan perdagangan AS–Tiongkok, setelah kedua negara sepakat menunda penerapan tarif tambahan dan membuka kembali kerja sama ekspor logam tanah jarang, sempat memangkas permintaan aset safe haven seperti emas. Tetapi, pelaku pasar masih berhati-hati menilai sejauh mana kesepakatan ini dapat bertahan di tengah ketegangan geopolitik yang masih tinggi. Secara keseluruhan, emas masih bergerak dalam fase konsolidasi di sekitar level $4.000 dengan bias negatif yang tipis. Para investor kini menunggu rilis data ketenagakerjaan ADP pada Rabu dan laporan Nonfarm Payroll (NFP) pada akhir pekan sebagai petunjuk arah yang lebih jelas terhadap kebijakan moneter AS ke depan.

Kinerja Moncer! Reksa Dana Dolar BRI MI Bukukan AUM Rp1 Triliun Sejak Peluncuran Ekonomi
Ekonomi
Senin, 01 September 2025 | 09:00 WIB

Kinerja Moncer! Reksa Dana Dolar BRI MI Bukukan AUM Rp1 Triliun Sejak Peluncuran

Jakarta, katakabar.com - Sejak peluncuran pada 10 Juli 2025, produk Reksa Dana BRI Seruni Likuid Dolar atau BSLD mendapatkan respons yang sangat positif dari investor. Hal ini tecermin dari pertumbuhan dana kelolaan atau Asset Under Management/AUM yang telah menyentuh Rp1 Triliun (61,7 juta dollar AS) per tanggal 28 Agustus 2025 atau kurun waktu 1 bulan lebih, menunjukkan tingkat kepercayaan investor terhadap produk ini dalam waktu relatif singkat. Direktur Utama BRI MI, Tina Meilina, menjelaskan, kehadiran Reksa Dana BSLD merupakan bentuk nyata dari inovasi perusahaan dalam menyediakan solusi investasi yang sesuai kebutuhan pasar. “Reksa Dana BSLD kelolaan BRI-MI hadir untuk memberikan alternatif investasi berbasis dollar dengan likuiditas yang tinggi dan risiko terukur. Raihan dana kelolaan menjadi cerminan bahwa produk BSLD mampu mendukung investor melakukan diversifikasi sekaligus melindungi nilai investasi mereka di tengah fluktuasi pasar,” ujarnya, melalui keterangan resmu diterima katakabar.com, Minggu pagi. Mengenal Tentang Produk Reksa Dana BSLD Adapun Tina mengatakan bahwa kehadiran produk BSLD berangkat dari meningkatnya permintaan terhadap instrumen investasi berbasis dollar Amerika Serikat di tengah kondisi ekonomi global yang penuh dinamika. "Dollar masih menjadi mata uang dominan dalam transaksi internasional sekaligus instrumen lindung nilai yang kerap dipilih investor untuk menghadapi ketidakpastian pasar. Kehadiran Reksa Dana BSLD diharapkan dapat menjawab kebutuhan tersebut dengan memberikan akses investasi dollar yang likuid dan risiko yang terukur," ucap Tina. Diketahui, BRI MI tawarkan instrumen investasi berbasis dollar yang likuid, memiliki risiko terukur, dan dapat menjadi pilihan diversifikasi portofolio di tengah dinamika ekonomi global. “Reksa Dana BSLD merupakan reksa dana pasar uang yang seluruhnya berdenominasi USD, dengan penempatan dana pada instrumen pasar uang serta surat utang jangka pendek berbasis dollar,” ulas Tina. Dengan formulasi tersebut, Reksa Dana BSLD memberikan fleksibilitas bagi investor yang menginginkan likuiditas. Kehadiran produk ini sekaligus menjawab tren kebutuhan investor yang semakin sadar akan pentingnya memiliki eksposur dollar dalam strategi investasinya. Tidak hanya itu, bagi investor yang ingin mengantisipasi fluktuasi nilai tukar Rupiah tanpa harus memegang dollar secara fisik, BSLD dapat menjadi jawaban praktis sekaligus profesional.

Harga Minyak Stabil, Efek Dolar Imbangi Kekhawatiran Pasokan AS Internasional
Internasional
Kamis, 16 Januari 2025 | 14:40 WIB

Harga Minyak Stabil, Efek Dolar Imbangi Kekhawatiran Pasokan AS

Jakarta, katakabar.com - Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), pasokan minyak mentah AS, saat ini diperdagangkan di sekitar $73,65 diawal sesi Asia, Jumat (10/1) lalu. Pergerakan harga yang datar ini mencerminkan pengaruh dari penguatan Dolar AS (USD), yang menyeimbangkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan. Dolar yang lebih kuat, sebagai akibat dari sikap hati-hati Federal Reserve (The Fed), telah membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga membatasi lonjakan harga WTI. Dari analisis teknikal yang dilakukan Andy Nugraha, analis Dupoin Indonesia, kombinasi candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan bahwa tren bullish pada WTI kembali menguat. Berdasarkan proyeksi teknikal tersebut, harga WTI berpotensi naik hingga mencapai level $75,8.