India Lirik Potensi Syuting Film di Jatim, Film English Vinglish Gaet Ratusan Penonton di Surabaya Default
Default
Rabu, 23 April 2025 | 16:29 WIB

India Lirik Potensi Syuting Film di Jatim, Film English Vinglish Gaet Ratusan Penonton di Surabaya

Jakarta, katakabar.com - Suasana Balai Pemuda Surabaya berubah meriah pada Sabtu (19/4) lalu, saat ratusan warga memadati area tersebut untuk saksikan pemutaran gratis film Bollywood berjudul English Vinglish. Film garapan sutradara Gauri Shinde ini dibintangi mendiang aktris legendaris Sridevi, dan sukses mencuri perhatian publik Surabaya dengan pesan inspiratifnya. Mengangkat tema tentang pentingnya kepercayaan diri dan menghargai diri sendiri, English Vinglish menyampaikan keterbatasan bahasa tak seharusnya menjadi penghalang untuk meraih mimpi dan kebahagiaan. Menariknya, dalam versi dubbing yang ditayangkan, aktris senior Indonesia, Ayu Azhari turut berkontribusi sebagai pengisi suara, menambah nuansa lokal dalam film bertema universal ini. Acara pemutaran dilakukan dalam dua sesi, pukul 16.00 hingga 18.15 WIB dan 19.15 hingga 21.15 WIB, dan keduanya dipenuhi antusiasme penonton. “Ini bukan sekadar hiburan, tapi bentuk diplomasi budaya,” ujar Manoj Bhat, Konsul Kehormatan India di Surabaya, usai pemutaran film. Ia mengungkapkan, acara ini bagian dari upaya memperkenalkan sinema India kepada masyarakat Indonesia, sekaligus menjajaki peluang lebih besar. Salah satunya, menjadikan Surabaya dan Jawa Timur sebagai lokasi syuting film Bollywood. “Kami ingin film-film India bisa syuting di Surabaya. Ini akan jadi pintu untuk mengenalkan pariwisata daerah ke mata dunia,” cerita Manoj. Dalam waktu dekat, rencana besar itu mulai diwujudkan. Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty dijadwalkan berkunjung ke Surabaya pada 2 Mei 2025 mendatang. Ia bakal bertemu Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi guna membahas peluang kerja sama strategis dalam bidang pariwisata dan perfilman. Melihat sambutan hangat masyarakat, Manoj bahkan mengisyaratkan akan ada lebih banyak film India yang akan diputar di masa mendatang. “Kalau antusiasme terus seperti ini, kami pertimbangkan untuk memutar dua atau tiga film lagi di Balai Pemuda,” jelasnya.

Buku 'The Real Guilty Pleasures', Evaluasi Pandangan Positif Film-film Eksploitasi Warisan Perfilman Serba Serbi
Serba Serbi
Sabtu, 30 Maret 2024 | 16:15 WIB

Buku 'The Real Guilty Pleasures', Evaluasi Pandangan Positif Film-film Eksploitasi Warisan Perfilman

katakabar.com - Binus Publishing gelar webinar “Ngabuburit Bareng Bedah Buku The Real Guilty Pleasures” bersama Ekky Imanjaya, Ph.D. selaku penulis buku The Real Guilty Pleasures dan Dosen Film Binus, dan Gorivana Ageza S.S., M.Hum., M.Fil. aktivis Bahasinema dan Dosen UNPAR dan dimoderatori Shadia Imanuella Pradsmadji, S.Sn., M.Si. Dosen Film Binus, pada 22 Maret 2024 lalu via Zoom Meeting. Ekky Imanjaya adalah dosen tetap di Departemen Film, Bina Nusantara (Binus) University, kampus Alam Sutera. Ia elesaikan studi doktoralnya dari Kajian Film di University of East Anglia (2018), Inggris. Ekky kritikus film yang fokus pada sinema Indonesia, dan isu keislaman dan budaya pop. Beliau adalah anggota Dewan Festival di Madani International Film Festival dan Jakarta Film Week, dan menjadi Ketua Komite Film di Dewan Kesenian Jakarta (2021-2023). Karya popularnya, yakni tersebar di Majalah Tempo, Kompas, Astaga.com, dan Zinetflix. Sebagai akademisi, karyanya dimuat, antara lain, di Cinemaya, Colloquy, Plaridel, Asian Cinema, Jurnal Wacana, dan Historical Journal of Film, TV, Radio. Buku termutakhir yang ditulisnya adalah Mencari Film Madani, Sinema dan Dunia Islam (2019) dan Mujahid Film, Usmar Ismail (2021). Gorivana Ageza seorang aktivis Bahasinema dan Dosen Film dari Universitas Katolik Parahyangan. Saat menempuh pendidikan sarjana, Ibu Echa bergabung dengan Sinesofia, kelompok diskusi film Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Pada tahun 2015 lalu, Ibu Echa bersama teman-teman dari sejumlah kampus di Bandung mendirikan Bahasinema, komunitas yang berfokus pada ekshibisi dan kajian film. Dari tahun 2019, Ibu Echa menjadi salah satu programmer Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Ibu Echa menjadi juri nominasi kategori Film Cerita Pendek pada Festival Film Indonesia 2021-2023. Kini Ibu Echa menjalani kesehariannya sebagai dosen fakultas filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), sembari mengelola Sinesofia. Buku The Real Guilty Pleasures membahas mengenai perlalulintasan budaya (cultural traffic) dari film-film tersebut, mulai dari akhir 1970-an sampai awal 2010-an, dari Indonesia sampai ke negara-negara lain. Film-film tersebut telah menjadi bidang penting dan bahkan menjadi objek ketegangan yang muncul dari berbagai politik selera yang melibatkan beberapa agen, seperti negara dan para elit budayanya, produser-produser film lokal, distributor dan eksibitor film lokal, khalayak lokal, distributor transnasional, dan para penggemar global. Dalam bukunya, Pak Ekky membongkar atau menimbang ulang edaran film-film kelas B pada masa orde baru dengan tujuan film kelas B yang banyak dianggap rendah oleh orang-orang harus masuk dalam sejarah Indonesia dan menjadi anak kandung perfilman Indonesia. Kata Ekky, arogan sekali orang-orang yang menganggap rendah selera-selera orang yang suka film 2000an, sebab film itu hadir dan dikonsumsi banyak orang itu menandakan sebuah komunitas butuh estetika tertentu dari film ini. "Jadi, dari buku ini dari kata menantang tadi adalah saya bilang bahwa kita membongkar dan menimbang ulang film-film yang dianggap tidak berkualitas harus masuk dalam sejarah Indonesia karena sejauh ini belum ada," ujarnya. Buku The Real Guilty Pleasures ini memperkenalkan kita film-film eksploitasi yang dianggap 'tidak berkualitas', film-film eksploitasi ini tidak diketahui dan tidak diakui sejarah perfilman Indonesia, seperti yang disampaikan Ibu Echa leqat presentasinya, ada beberapa problem dalam buku ini yang saya anggap menarik, yakni sejarah perfilman fokus pada sisi yang dianggap ideal. "Akibatnya beberapa film eksploitasi di kepinggirkan, diabaikan, bahkan diam-diam disingkirkan karena dianggap tidak penting, tidak layak, dianggap berkualitas, dan merusak moral," ulasnya. Buku The Real Guilty Pleasures, terang Echa, menganalisa secara menyeluruh dinamika politik, ekonomi, sosial, dan transformasi budaya dari film-film 'berkualitas' itu secara internasional membentuk dan memberi dampak terhadap suasana budaya film nasional dan global, termasuk secara kritis membenturkannya dengan konsep sinema kultus (cult cinema) yang sangat Barat-sentris. Banyak peserta yang antusias bertanya mengenai film eksploitasi di Indonesia, Sejarah perfilman pada masa orde baru, pandangan terhadap film B, dsb. Peserta yang mendaftar dari BINUSIAN dan umum sebanyak 466, dan yang hadir dalam acara ini sebanyak 230. Dari pemaparan seluruh narasumber maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada film-film yang dianggap tidak berkualitas oleh negeri sendiri namun justru dia menarik perhatian orang-orang yang ada di luar sana dan akhirnya diedarkan puluhan tahun setelahnya pengedaran aslinya. Soal estetika melawan etika, apakah yang estetik itu harus selalu etis? dan apakah yang etis itu tidak bisa estetik? hal tersebut akan selalu menjadi perdebatan yang menarik dan bisa dilihat dari banyak konteks. Sikap membina dan memberdayakan yang spesifik disoroti dalam buku The Real Guilty Pleasures adalah mengajak seluruh masyarakat untuk memberdayakan Film-Film eksploitasi yang dianggap 'tidak berkualitas' agar bisa masuk dan diakui dalam sejarah perfilman Indonesia. Binus Publishing memberikan diskon 25 persen hingga 31 Maret 2024 nanti. Kalian bisa mengunjungi koleksi BINUS Publishing melalui shopee https://shopee.co.id/binuspublishing, tokopedia https://tokopedia.com/binuspublishing, email di [email protected], bisa juga dm di instagram kami di @publishingbinus atau kunjungi Beehive di Kampus BINUS @Anggrek Lt. Dasar. Kontak: BINUS Publishing 082122350806 / 021 -5345830 ext. 2150

Keren! Kebun Sawit di Agam Jadi Lokasi Syuting Film Palm's Oil Love Serba Serbi
Serba Serbi
Senin, 28 Agustus 2023 | 23:03 WIB

Keren! Kebun Sawit di Agam Jadi Lokasi Syuting Film Palm's Oil Love

Agam, katakabar.com - Kabupaten Agam, Sumatera Barat dipilih jadi lokasi syuting film layar lebar berjudul Palm's Oil Love. Sesuai dengan judul film layar lebari ini lokasi pengambilan adegan di tengah kebun kelapa sawit. Yayasan Bentang Merah Putih yang produksi film menceritakan kisah keluarga petani sawit dengan genre drama komedi dan percintaan. Pihak Yayasan Bentang Merah Putih menjumpai Bupati Agam, Dr H Andri Warman, di Mess Pemkab Agam Belakang Balok untuk meminta dukungan dan restu rencana syuting lokasi film, pada Jumat (25/8) lalu. Rombongan dipimpin Prof Reni Mayemi, Deputi Pengkajian Strategi Lemhanas RI yang kebetulan satu almamater dengan Andri Warman di SMAN 1 Bukittinggi. “Awalnya lokasi syuting film ini mau dipilih antara Kalimantan dan Jambi. Lantaran bicara kelapa sawit, kita mengusulkan Kabupaten Agam,” ujar Reni dilansir dari laman website resmi Pemkab Agam, pada Senin (28/8). Ketua Yayasan Bentang Merah Putih, Yohana Elizabeth Hardjadinata menimpali, syuting film melibatkan 50 orang, 2 orang diantaranya aktor dari Korea. “Film mulai diprodukso di penghujung November 2023 ini. Di alur cerita film bakal ditampilkan kuliner dan budaya yang ada di Kabupaten Agam,” bebernya. Selain bupati, Yayasan Bentang Merah Putih minta dukungan dari masyarakat sekitar lokasi syuting. Andri Warman mengapresiasi Yayasan Bentang Merah Putih yang memilih Kabupaten Agam sebagai lokasi syuting film layar lebar. “Kita di Agam memiliki lahan perkebunan kelapa sawit cukup luas untuk dijadikan sebagai lokasi syuting,” terangnya. Secara prinsip, sangat mendukung apalagi nanti dalam film menampilkan kuliner dan budaya dari Agam. “Ini menjadi suatu hal yang positif bagi kita, sebab secara bakal mempromosikan Kabupaten Agam hingga manca negara,” tandasnya.