Greenhouse

Sorotan terbaru dari Tag # Greenhouse

Motor Penggerak Roda Ekonomi dan Ketapang Bernama Greenhouse PKK Air Jamban Ekonomi
Ekonomi
57 menit yang lalu

Motor Penggerak Roda Ekonomi dan Ketapang Bernama Greenhouse PKK Air Jamban

Bengkalis, katakabar.com - Sinar matahari menyengat tusuk pori-pori Kelurahan Air Jamban, sebuah bangunan kokoh dengan pelindung khusus tahan panas dan jaring pengaman berdiri anggun. Adalah Greenhouse baru diresmikan di pekan keempat April 2026 lalu, bukan sekadar seremoni pemotongan pita, melainkan simbol runtuhnya keterbatasan lahan yang selama ini membatasi ruang gerak ibu-ibu PKK berinovasi. Bagi Dian Afri Jayanti 42 tahun, Ketua PKK Air Jamban, kehadiran greenhouse ini jawaban atas keresahan yang telah lama ia rasakan. Sebagai penggerak aktif pemberdayaan perempuan, Dian saksikan langsung semangat anggota PKK yang tinggi, tetapi kerap terhambat oleh keterbatasan pekarangan, serta kondisi cuaca yang tidak menentu. “Dulu kami sudah menanam tanaman obat keluarga (TOGA) dan sayuran, tapi masih sangat terbatas. Lahan sempit dan metode konvensional membuat tanaman sering rusak akibat hujan atau panas ekstrem. Hasilnya pun jauh dari optimal,” kenangnya. Sebelum adanya intervensi program, hasil panen kelompok ini hanya berkisar 10–35 ikat sayur per siklus, jumlah yang belum mampu memberikan dampak signifikan, baik untuk konsumsi keluarga maupun nilai ekonomi. Melalui Program Puteri Proklim Melayu Lestari, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) hadir memberikan dukungan komprehensif berupa 1 paket greenhouse berukuran 8 x 12 meter yang dilengkapi sistem pengairan, bibit tanaman hidroponik, serta 1.000 lubang tanam hidroponik. Tetapi, lebih dari sekadar bantuan fisik, transformasi justru terjadi pada pola pikir dan cara kerja kelompok. Dian bersama 30 anggota PKK Air Jamban mulai menerapkan sistem kerja yang terstruktur, membagi peran secara jelas, serta mempelajari teknik hidroponik dari tahap penyemaian hingga perawatan. “Lahan kami memang terbatas, tapi sekarang kami punya harapan yang lebih luas. Greenhouse ini bukan hanya tempat menanam, tapi tempat kami belajar untuk maju bersama,” ujarnya. Lurah Air Jamban, Rifky Ellyaningsih, yang turut hadir di peresmian tersebut, memberikan apresiasi atas kolaborasi antara masyarakat dan PHR. Ia menilai inisiatif ini sebagai langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah padat penduduk. “Kami sangat mengapresiasi dukungan dari PHR Zona Rokan yang telah membantu mewujudkan greenhouse Program Puteri Proklim Melayu Lestari ini. Ini bukan hanya tentang pertanian, tetapi juga tentang pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan, dan upaya menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya. Dampak dari program ini mulai menunjukkan potensi yang menjanjikan. Dengan penerapan metode hidroponik di dalam greenhouse, kapasitas produksi diproyeksikan meningkat signifikan, dari sebelumnya 10–35 ikat sayur per siklus menjadi sekitar 100–150 ikat per siklus. Seiring dengan peningkatan tersebut, peluang ekonomi baru pun mulai terbuka, dengan estimasi potensi pendapatan yang dapat mencapai 4 juta rupiah per bulan. Ke depan, greenhouse ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat produksi sayur-mayur, tetapi berkembang sebagai simbol kemandirian ekonomi berbasis komunitas. Di tengah keterbatasan ruang, para perempuan PKK Air Jamban menunjukkan bahwa inovasi dan kolaborasi dapat menjadi fondasi menuju kesejahteraan yang berkelanjutan. Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menyampaikan kebanggaannya atas capaian kelompok tersebut. Menurutnya, program ini bukan sekadar pembangunan fasilitas, melainkan investasi sosial yang mendorong perubahan berkelanjutan. “Melihat ibu-ibu di sini mampu menaklukkan keterbatasan lahan dan beralih ke teknologi greenhouse adalah sebuah kebanggaan. Kami tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga mendorong lahirnya kemandirian dan kepercayaan diri masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan, keberhasilan pengelolaan 1.000 lubang tanam secara mandiri menjadi bukti nyata transformasi yang terjadi. “Ketika masyarakat mampu mengelola inovasi secara mandiri dan merasakan langsung manfaat ekonominya, di situlah esensi pemberdayaan yang berkelanjutan benar-benar terwujud. Dukungan masyarakat dan para pemangku kepentingan terhadap kelancaran operasional perusahaan juga menjadi kunci dalam menjaga keandalan dan ketahanan energi nasional, di mana PHR berperan sebagai salah satu tulang punggung ketahanan energi sektor migas,” imbuhnya. Kini, bagi Dian dan 30 perempuan tangguh di Air Jamban, greenhouse tersebut bukanlah garis akhir, melainkan titik awal menuju masa depan yang lebih hijau, mandiri, dan sejahtera. Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah  Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan WK Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi WK Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). WK Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.

Panen Perdana Greenhouse Hidroponik, KS Perkuat PPM dan KPN Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 16 Januari 2026 | 11:35 WIB

Panen Perdana Greenhouse Hidroponik, KS Perkuat PPM dan KPN

Cilegon, katakabar.com - Krakatau Steel Group melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) kembali menunjukkan komitmen mendukung ketahanan pangan berbasis masyarakat. Hal tersebut ditandai dengan panen perdana melon hidroponik di fasilitas Greenhouse Krakatau Steel Group Peduli yang berlokasi di Pondok Pesantren Amalul Ummah, Rabu (14/1). Panen perdana ini menjadi momen kebahagiaan tersendiri bagi para santri dan tim TJSL Krakatau Steel Group, setelah melalui masa tanam selama kurang lebih 70 hari. Melon premium jenis White Kirin dan Diva 16 yang dibudidayakan dengan sistem pertanian modern tersebut menghasilkan buah berkualitas tinggi, baik dari sisi ukuran, tekstur, maupun tingkat kemanisan yang mencapai brix 18. Inisiatif Berkelanjutan Pendidikan dan Kemandirian Pesantren Pembangunan greenhouse ini tidak semata-mata difokuskan pada penyediaan infrastruktur fisik, melainkan dirancang sebagai program keberlanjutan untuk mendukung pendidikan pertanian modern di lingkungan pesantren. Melalui program ini, Krakatau Steel mendorong kemandirian ekonomi pesantren sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas. Program greenhouse pesantren ini merupakan kolaborasi end-to-end Krakatau Steel Group dengan melibatkan unit-unit usaha yang memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing. Perancangan desain dilakukan oleh Engineer PT Krakatau Baja Konstruksi (KBK), dukungan material baja ringan oleh PT Krakatau National Indonesia (KNI), konstruksi oleh PT Krakatau Perbengkelan & Perawatan (KPDP), serta pendampingan budidaya hingga panen oleh tim TJSL Krakatau Steel Group. Pembiayaan program ini merupakan kolaborasi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk bersama Group Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI), Group Krakatau Baja Konstruksi (KBK), dan PT Krakatau Baja Industri (KBI). Penguatan Kapasitas Santri dan Ekosistem Usaha Selain pembangunan fasilitas, Krakatau Steel juga memberikan pelatihan komprehensif kepada para santri, mencakup teknik budidaya hidroponik, manajemen operasional greenhouse, hingga strategi pemasaran hasil panen. Dalam pelaksanaannya, PT Krakatau Steel melibatkan pesantren yang telah berhasil mengembangkan greenhouse di Provinsi Banten, yakni Pesantren Al Markas Serang, sebagai bagian dari transfer pengetahuan agar hasil panen sesuai dengan target yang direncanakan. “Pembangunan greenhouse hingga panen perdana ini merupakan wujud nyata dukungan Krakatau Steel terhadap pengembangan masyarakat sekitar, khususnya pesantren. Kami ingin pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga pusat inovasi pertanian modern yang mampu menciptakan kemandirian ekonomi dan memberikan pembelajaran nyata yang tidak hanya diperoleh dari buku,” ujar Direktur SDM PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Suryantoro Waluyo. Dukungan Ketahanan Pangan Nasional Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan, menegaskan program greenhouse pesantren ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam percepatan ketahanan pangan nasional. “Program TJSL Krakatau Steel melalui pengembangan greenhouse hidroponik di pesantren merupakan bentuk kontribusi nyata perusahaan dalam mendukung Asta Cita, terutama pada agenda percepatan ketahanan pangan. Kami percaya ketahanan pangan nasional harus dibangun dari akar rumput, dengan melibatkan komunitas pendidikan seperti pesantren agar tercipta sistem pangan yang mandiri, berkelanjutan, dan inklusif,” kata Dr. Akbar Djohan, sekaligus Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA). Kepastian Pasar dan Keberlanjutan Program Untuk memastikan keberlanjutan program, Krakatau Steel turut menyiapkan ekosistem pemasaran yang terintegrasi. Sebagian hasil panen pesantren binaan akan diserap langsung oleh Krakatau Steel Group, serta dipasarkan melalui kerja sama dengan pengelola ekowisata, di mana pengunjung dapat melakukan aktivitas petik buah langsung di greenhouse. Skema ini memberikan kepastian pasar sekaligus mendorong perputaran ekonomi pesantren secara berkelanjutan. Melalui inisiatif TJSL ini, Krakatau Steel berharap dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar sekaligus memperkuat hubungan yang harmonis antara perusahaan dan lingkungan.

Membangun Mini Greenhouse dan Budidaya Tanaman Pangan di Universitas Katolik Widya Karya Pendidikan
Pendidikan
Rabu, 24 Januari 2024 | 23:44 WIB

Membangun Mini Greenhouse dan Budidaya Tanaman Pangan di Universitas Katolik Widya Karya

Malang, katakabar.com - Mahasiswa Agribisnis Universitas Katolik Widya Karya eksplorasi potensi dan inovasi praktik budidaya tanaman pangan dmanfaatkan barang bekas. Fokus pada keberlanjutan dan kreativitas, mahasiswa terapkan konsep ini dipraktik mata kuliah Kewirausahaan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Terus menggali potensi dan inovasi di bidang pertanian, salah satu aspek yang menarik perhatian praktik budidaya tanaman pangan dengan memanfaatkan barang bekas. Keberlanjutan dan kreativitas dua nilai utama terus mereka tanamkan dalam diri mereka. Salah satu aspek yang menarik perhatian mereka praktik budidaya tanaman pangan dengan memanfaatkan barang bekas. Sejalan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan dan pelestarian lingkungan, mahasiswa Agribisnis ini tidak hanya belajar konsep teoritis tapi terapkan ide-ide cemerlang mereka ke dalam praktik nyata. Artikel ini bahas bagaimana mahasiswa Agribisnis dapat terapkan konsep ini dalam praktik mata kuliah Kewirausahaan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Pengenalan Matakuliah Kewirausahaan Tanaman Pangan dan Hortikultura Matakuliah Kewirausahaan Tanaman Pangan dan Hortikultura bagian dari kurikulum mahasiswa Agribisnis. Tujuan utama dari matakuliah ini mengajarkan mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan berwirausaha yang dapat diaplikasikan secara praktis di sektor pertanian. Untuk mencapai tujuan tersebut, mahasiswa dibimbing melalui serangkaian materi yang mencakup pemahaman mendalam tentang konsep-konsep kewirausahaan dan aplikasinya dalam konteks tanaman pangan dan hortikultura. Tak hanya itu, mereka diperkenalkan pada keterampilan manajerial yang diperlukan untuk mengelola operasi pertanian dengan efisien dan efektif. Konsep Budidaya Tanaman Pangan dengan Memanfaatkan Barang Bekas Mahasiswa diajak untuk pahami konsep budidaya tanaman pangan yang berkelanjutan dengan memanfaatkan barang bekas. Konsep ini tidak hanya mengajarkan efisiensi sumber daya melainkan membangun kesadaran lingkungan di kalangan mahasiswa Agribisnis. Konsep ini membawa dimensi kesadaran lingkungan yang mendalam di kalangan mahasiswa Agribisnis. Dalam proses budidaya tanaman pangan. Mereka tidak hanya melihatnya sebagai kegiatan ekonomis semata, tetapi juga sebagai interaksi yang bersifat simbiosis antara manusia dan lingkungan. Melalui penggunaan barang bekas, mahasiswa tidak hanya mengurangi limbah, tapi ciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Implementasi Konsep dalam Praktik Budidaya Praktik mahasiswa Agribisnis dalam budidaya tanaman pangan dengan memanfaatkan barang bekas dan membuat mini greenhouse mencerminkan semangat inovatif dan kesadaran keberlanjutan di kalangan generasi muda pertanian. Dalam praktik ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam mengelola tanaman pangan, tetapi juga menjadi agen perubahan yang membawa solusi kreatif untuk meningkatkan efisiensi dan berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Dengan memanfaatkan barang bekas, mahasiswa menunjukkan sumber daya yang sudah tidak terpakai dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai. Melalui kreativitas mereka, bahan-bahan seperti botol plastik, kemasan bekas, dan material lainnya sebagai media penanaman tanaman pangan. Ini menciptakan lingkungan pertumbuhan tanaman yang terkendali, memanfaatkan sumber daya yang sudah ada, dan pada saat yang sama mengurangi dampak lingkungan negatif yang mungkin timbul dari limbah. Kesimpulan Dalam matakuliah Kewirausahaan Tanaman Pangan dan Hortikultura, pengintegrasian konsep budidaya tanaman pangan dengan memanfaatkan barang bekas membuka peluang baru bagi mahasiswa Agribisnis Universitas Katolik Widya Karya. Dengan menggabungkan aspek ekonomi dan lingkungan, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan berwirausaha tidak hanya menguntungkan secara finansial, tapi berkontribusi keberlanjutan lingkungan dengan semangat inovasi. Endingnya bagamana mereka ke depan dapat menjadi pionir mengarahkan masa depan pertanian yang lebih berkelanjutan. Kontak: Universitas Katolik Widya Karya 0821 3980 8707 fp@widyakarya.ac.id