Halving

Sorotan terbaru dari Tag # Halving

Nasib Bitcoin Pasca Dua Bulan Halving dan Potensi Kenaikan Harga Ethereum Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 21 Juni 2024 | 22:21 WIB

Nasib Bitcoin Pasca Dua Bulan Halving dan Potensi Kenaikan Harga Ethereum

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin belum mendapatkan momentum kenaikan setelah Bitcoin halving pada 20 April lalu dan hanya diperdagangkan dikisaran US$65.000 atau sekitar Rp1,06 miliar. Pada perkembangannya, Bitcoin gagal membangun momentum kenaikan meskipun terdapat ETF Bitcoin dan Ethereum. Peluncuran ETF Bitcoin spot di AS dan negara lain membawa perubahan paradigma dalam ekosistem investasi Bitcoin. Namun, sentimen pasar masih lebih terfokus pada peristiwa makroekonomi. Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan, persetujuan ETF Bitcoin spot dan kemudian ETF Ethereum spot faktor bullish yang cukup untuk memicu reli harga Bitcoin, bahkan peluang kenaikan pasar kripto yang lebih luas. Tapi, penundaan dalam pencatatan ETF ETH spot berdampak pada sentimen bullish. Secara keseluruhan, ulas Fachrur, kapitalisasi pasar kripto mencapai US$2,77 triliun pada bulan Maret 2024, sejak itu investor telah kehilangan lebih dari US$400 miliar karena kapitalisasi pasar anjlok menjadi US$2,33 triliun di pertengahan Juni. "Alasannya adalah menurunnya kepercayaan terhadap pasar kripto karena penundaan penurunan suku bunga oleh The Fed. Terlebih dengan tidak adanya tiga kali penurunan suku bunga The Fed pada awal tahun ini, diperkirakan reli harga BTC akan melambat sampai akhir tahun," ujar Fyqieh. Pasar bullish Bitcoin telah mereda karena kekhawatiran makroekonomi sehingga membuat investor institusi menjauh. Arus masuk ke ETF Bitcoin telah negatif selama empat hari berturut-turut sejak 17 Juni 2024, dan sebabkan sentimen negatif di pasar kripto. Ketidakpastian investor tentang sikap The Fed dan tren aliran ETF BTC spot AS memengaruhi permintaan pembeli terhadap Bitcoin. Potensi Ethereum Dominasi Bitcoin turun tajam sebesar 0,93 persen menjadi 54,31 persen, yang berarti investor tampaknya tertarik pada altcoin. Secara signifikan, Ethereum mengungguli pasar kripto yang lebih luas. Pada hari Rabu (19/6), total kapitalisasi pasar kripto naik 0,49 persen menjadi US$2,315 triliun. Investor bereaksi terhadap berita SEC mengakhiri penyelidikannya terhadap Ethereum. Pengumuman tersebut kemungkinan akan memfasilitasi peluncuran pasar ETF ETH spot di AS dalam waktu dekat. Perkembangan positif saat ini dapat menyebabkan peningkatan permintaan dan berpotensi mendorong harga lebih tinggi. "Potensi kenaikan ini dapat dilihat dari arus masuk ETF yang diantisipasi tidak hanya akan berdampak pada harga Ethereum, namun juga mempercepat pertumbuhan, adopsi, dan likuiditas yang tersedia untuk protokol DeFi yang dibangun dalam ekosistem ETH," ucap Fyqieh. Hal tersebut memberikan gambaran awal tentang bagaimana posisi investor terhadap efek arus masuk dana ETF ETH nanti. Ketika Ethereum memperkuat posisinya, permintaan akan staking dan pengembangan dApps yang memungkinkan interaksi di berbagai blockchain ETH kemungkinan akan meningkat. Secara historis ETF Bitcoin yang diluncurkan pada Januari 2024 telah menarik kepemilikan BTC senilai lebih dari US$58 miliar dalam 6 bulan pertama perdagangan. Jika ETF Ethereum menarik setengah dari daya tarik tersebut, seperti yang diperkirakan, investor dapat mengantisipasi aliran masuk modal lebih dari US$20 miliar ke pasar ETH dalam beberapa bulan mendatang. ETF Ethereum dapat menjadi katalis untuk harga tertinggi baru ETH disekitar US$5.000-US$6.000 atau Rp82 juta-Rp92 juta dalam jangka pendek, karena berpotensi menarik basis investor yang lebih luas dan meningkatkan legitimasi pasar. Perkembangan pasar DeFi bakal jadi sentimen lain dari pendorong harga ETH di masa depan. Kontak: Bianda Ludwianto - Public Relations Tokocrypto +62856-9267-2993 bianda@tokocrypto.com

Pergerakan Harga Halving Bitcoin Hingga Mencapai Level USD $150.000 Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 09 Juni 2024 | 10:56 WIB

Pergerakan Harga Halving Bitcoin Hingga Mencapai Level USD $150.000

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan pasar bullish menuju puncak siklus halving Bitcoin (BTC) diprediksi mencapai USD $130.000 hingga $150.000. Menurut Peter Brandt, Pedagang Asset Kripto Senior, melihat halving sebelumnya yang terjadi pada 9 Juli 2016 dan 28 November 2021, maka siklus bull market tertinggi berikutnya terjadi pada akhir Agustus atau awal September 2025 mendatang. Momentum halving bitcoin peristiwa yang terjadi empat tahun sekali dengan memangkas imbalan penambangan sebesar 50 persen, sehingga dengan berkurangnya imbalan kepada penambang mengakibatkan pasokan yang beredar juga akan semakin sedikit. Pada 17 Desember 2022 menjadi awalan pasar bullish dimana BTC diperkirakan akan diperdagangkan sekitar USD $16.800, tetapi BTC telah diperdagangkan pada USD $67,882 yang mengalami kenaikan lebih dari 300% tambah Brandt. Berdasarkan data coinmarketcap, harga Bitcoin (BTC) hari ini $69.068 atau sekitar Rp1.120.759.113. Menjelang rilisnya data ekonomi utama, para trader pun bersiap untuk menghadapi data rilis makro ekonomi yang signifikan menyebabkan Bitcoin mengalami kesulitan di bawah USD $70.000. Meski ada penurunan harga Bitcoin, trend yang naik tetap menunjukkan kenaikan harga konsisten, dimana hal ini diproyeksikan akan mencapai level $71.000 USD dalam waktu dekat. “Tahun 2024 menjadi momentum ketangguhan Bitcoin sebagai aset digital, hal ini berdasarkan performa market BTC yang secara psikologis selalu naik dari sudut pandang nilai top-bottom atau harga paling rendah dalam satu siklus, kita bisa lihat pada siklus sebelumnya saat ATH di USD 63,000 lalu nilai top-bottom nya berada di USD 17,000 (-71 persen), lalu ketika BTC menyentuh ATH di nilai USD 74,000 pada bulan Maret 2024 diprediksi nilai top-bottom di USD 22,000 naik sebesar 77 persen jika dibandingkan dengan siklus harga top-bottom sebelumnya. Berdasarkan performa BTC tersebut dapat dipahami bahwa nilai top-bottom BTC akan selalu Naik. Selain karena demand Bitcoin yang mulai meningkat, para investor juga menyadari fungsi BTC sebagai store of value," ujar M Yusuf Musa, Head of Strategy Nanovest. Dengan melihat pergerakan Bitcoin yang semakin melambung dengan harga yang cukup konsisten, tuturnya, investasi Bitcoin menjadi langkah yang strategis dan menguntungkan bagi para investor. Melalui aplikasi investasi yang aman dan mempunyai pilihan aset kripto terlengkap, kamu bisa melihat harga Bitcoin hari ini dan mengakses berbagai koin kripto lainnya di Nanovest. Para investor maupun pemula yang baru ingin terjun ke dunia investasi dan aset kripto, dapat merasakan kemudahan dalam berinvestasi karena tampilan dari aplikasi Nanovest yang sangat simple dan selalu mengutamakan kenyamanan bagi para penggunanya. Kamu bisa menemukan berbagai koin menarik dari berbagai macam kategori seperti AI, meme koin, stablecoins, dan masih banyak lagi karena ada lebih dari 600+ koin kripto yang terkenal dan diincar oleh investor aset kripto. Selain itu, pilihan investasi yang ditawarkan oleh Nanovest tidak hanya terbatas pada aset kripto saja namun juga tersedia fitur transaksi untuk dapat membeli 2000+ saham Amerika Serikat dan emas digital. Pengguna dapat bertransaksi di Nanovest hanya mulai dari Rp5000, dan tanpa biaya tambahan. Pengguna Nanovest tidak perlu khawatir, sebab aset yang kamu miliki dan yang tersimpan di Aplikasi sudah terlindungi oleh asuransi Sinar Mas, sehingga terhindar dari resiko cybercrime. Pastinya Nanovest telah aman karena telah terdaftar di BAPPEBTI. Dapatkan aplikasi Nanovest di App Store ataupun Play Store anda. Kontak: Cindy Claudia Yunefi Senior Marketing Communication 0813 7273 8935 | cindy.yunefi@nanovest.io

Potensi Pergerakan Harga Bitcoin Selepas Halving, Naik atau Turun! Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 20 April 2024 | 10:05 WIB

Potensi Pergerakan Harga Bitcoin Selepas Halving, Naik atau Turun!

Jakarta, katakabar.com - Menjelang momen halving yang diperkirakan terjadi pada 20 April 2024 nanti, harga Bitcoin terpantau turun pada Kamis (18/4) kemarin. Penurunan terjadi lebih dari 3,84% menjadi US$61.309. Aset kripto terbesar di dunia ini telah anjlok lebih dari 13,05 dalam tujuh hari terakhir dan lebih dari 10,31 persen sebulan terakhir. Menurut Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, penurunan Bitcoin ini terjadi bukan tanpa sebab. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, utamanya meningkatnya ketegangan konflik Iran-Israel dan keyakinan The Fed yang tidak mungkin menurunkan suku bunga secara terburu-buru pada tahun ini. Tidak cuma itu, kata Fachrur, investor di pasar kripto tengah menantikan halving. Secara tren, halving ini meningkatkan harga, tapi dengan harga Bitcoin yang baru-baru ini mencapai titik tertinggi dalam sejarah, keraguan muncul. Halving diperkirakan meningkatkan harga BTC dalam jangka panjang, tapi jelang itu, Bitcoin semakin berfluktuasi dan kemungkinan akan terus mengalami penurunan. Tren Harga Bitcoin Dijelaskan Fyqieh, secara tren harga Bitcoin menjelang halving, jika sejarah terulang kembali, BTC mungkin mengalami penurunan harga sebelum mendapatkan momentum untuk bull run. Tren penurunan ini bukan hal yang tidak terduga, sebab BTC yang mengikuti tren historis menjelang halving mendatang. Bitcoin perlahan-lahan beralih dari fase “Pre-Halving Rally” ke fase “Pre-Halving Retrace” yang cenderung terjadi 28 hingga 14 hari sebelum peristiwa halving. Fase ini mengakibatkan penurunan harga masing-masing sebesar 38 persen dan 20 persen pada tahun 2016 dan 2020. Sejarah Bitcoin menunjukkan penurunan besar-besaran sebelum berkurang separuhnya yang diikuti oleh reli besar-besaran. "Jika memang ingin akumulasi aset seperti Bitcoin, mungkin bisa mulai DCA (Dollar Cost Averaging) untuk mengurangi volatilitas bitcoin di masa dekat dekat ini. Mengadopsi strategi DCA dapat membantu investor membeli BTC secara konsisten dan mengurangi risiko harga yang terlalu tinggi atau rendah. Investor dapat memperhatikan tren historis dan analisis teknis untuk menentukan titik masuk dan keluar yang tepat," saran Fyqieh. Meski harga BTC mungkin mengalami koreksi harga lagi, ulasnya, dalam jangka panjang tampak bullish. Khususnya, setelah fase Pre-Halving Retrace, BTC akan memasuki fase akumulasi ulang. Fase akumulasi mungkin berlangsung selama hampir 5 bulan. Rentang akumulasi ulang ini yang dapat meningkatkan harga Bitcoin mencapai ATH Baru. “Banyak investor yang terguncang pada tahap ini karena kebosanan, ketidaksabaran, dan kekecewaan terhadap kurangnya hasil besar dalam investasi BTC mereka setelah Halving. Setelah Bitcoin keluar dari area akumulasi ulang, terobosan ke tren naik. Selama fase inilah Bitcoin mengalami percepatan pertumbuhan menuju titik tertinggi baru sepanjang masa,” tutur Fyqieh. Analisis Harga Reli yang berkepanjangan selalu terjadi setelah peristiwa halving, ucap Fyqieh, berlangsung selama 6 hingga 18 bulan. Pergerakan harga pada halving sebelumnya mendukung pandangan ini: Bitcoin naik rata-rata 61 persen dalam enam bulan menjelang halving sebelumnya, dan naik rata-rata 348 persen dalam enam bulan setelah halving. "Adanya ETF BTC spot kemungkinan dapat mempercepat tren kenaikan harga BTC dan menciptakan kondisi pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini karena ETF BTC terus membeli lebih banyak BTC, sehingga membebani pasokan Bitcoin," terangnya. Ditambahkannya, BTC memiliki dukungan kuat di dekat angka US$60.000 atau sekitar Rp970 juta. Harga Bitcoin mungkin akan rebound setelah menyentuh level tersebut. Jika gagal menguji support tersebut dan berada di bawahnya, maka kemungkinan BTC mencapai US$58.000 (Rp 938 juta). Pada sisi positifnya, jika harga BTC naik, maka akan menemukan resistensi di level US$73.662 (Rp1,19 miliar) dan US$77.080 (Rp1,24 miliar), yang mungkin menghambat harga untuk naik lebih lanjut. Kontak: Bianda Ludwianto-Public Relations Tokocrypto 0856-9267-2993 bianda@tokocrypto.com