Sentimen Global Dongkrak Harga Emas Siap Lanjutkan Kenaikan Internasional
Internasional
Senin, 13 April 2026 | 14:10 WIB

Sentimen Global Dongkrak Harga Emas Siap Lanjutkan Kenaikan

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia pada hari Kamis, 9 April 2026 diperkirakan masih memiliki peluang untuk kembali naik, meskipun sebelumnya sempat mengalami fase penurunan. Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh analis Geraldo Kofit, harga emas saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda stabil dan berpotensi melanjutkan tren kenaikan dalam waktu dekat. Dalam beberapa waktu terakhir, harga emas sempat mengalami koreksi atau penurunan sementara. Namun kini, pergerakan harga terlihat mulai tertahan di area penting yang berfungsi sebagai penopang. Selama harga mampu bertahan di area tersebut, peluang untuk kembali naik dinilai masih cukup besar. Saat ini, harga emas juga sedang berusaha membentuk titik terendah baru yang lebih kuat sebagai dasar untuk naik kembali. Level di sekitar 4.698 menjadi area yang cukup krusial untuk diperhatikan. Jika harga tidak turun lebih jauh dari titik ini, maka kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda dan pembeli kembali masuk ke pasar. Apabila momentum kenaikan terus berlanjut, harga emas diperkirakan berpotensi naik ke kisaran 4.799 dalam waktu dekat. Bahkan, jika dorongan beli semakin kuat, bukan tidak mungkin harga akan melanjutkan kenaikan hingga ke level berikutnya di sekitar 4.858. Level-level tersebut menjadi acuan penting bagi pelaku pasar dalam melihat arah pergerakan emas selanjutnya. Dari sisi global, kondisi fundamental juga turut mendukung peluang kenaikan harga emas. Salah satu faktor utamanya adalah meningkatnya harapan bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, akan mulai menurunkan suku bunga. Hal ini biasanya terjadi ketika inflasi mulai terkendali atau menunjukkan tanda-tanda penurunan. Jika suku bunga turun, maka emas akan menjadi lebih menarik bagi investor. Pasalnya, emas tidak memberikan bunga seperti instrumen keuangan lainnya. Ketika bunga rendah, investor cenderung beralih ke emas sebagai alternatif investasi yang lebih aman. Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga turut memberikan dorongan bagi harga emas. Ketika imbal hasil turun, biaya untuk memegang emas menjadi lebih ringan, sehingga minat investor terhadap logam mulia ini meningkat. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah pergerakan dolar AS. Jika dolar melemah, harga emas biasanya akan naik karena menjadi lebih murah bagi pembeli dari negara lain. Hal ini dapat meningkatkan permintaan dan mendorong harga lebih tinggi. Di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, baik dari sisi ekonomi maupun geopolitik, emas tetap menjadi salah satu aset yang banyak diminati. Investor cenderung mencari instrumen yang lebih aman untuk melindungi nilai aset mereka, dan emas sering menjadi pilihan utama dalam situasi seperti ini. Secara keseluruhan, Dupoin Futures melihat bahwa peluang kenaikan harga emas masih cukup terbuka untuk saat ini. Selama harga mampu bertahan di area penting yang menjadi penopang, arah pergerakan diperkirakan masih cenderung naik. Meski begitu, pergerakan harga emas tetap bisa mengalami naik turun dalam jangka pendek. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan global serta level-level penting yang dapat memengaruhi arah harga emas ke depan.

Harga Emas Diprediksi Lanjut Melemah, Dupoin Futures Soroti Sinyal Bearish Kian Kuat Internasional
Internasional
Kamis, 09 April 2026 | 07:03 WIB

Harga Emas Diprediksi Lanjut Melemah, Dupoin Futures Soroti Sinyal Bearish Kian Kuat

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia di perdagangan Selasa (7/4) kemarin diperkirakan masih berada dalam tekanan, seiring menguatnya sinyal pelemahan baik dari sisi teknikal maupun fundamental. Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai bahwa tren bearish pada XAU/USD semakin terlihat jelas, khususnya pada timeframe H4, setelah harga gagal mempertahankan posisi di area resistance penting. Dalam analisisnya, Geraldo, mengungkapkan struktur pergerakan emas saat ini menunjukkan dominasi tekanan jual. Hal ini tercermin dari terbentuknya candlestick bearish yang konsisten, sekaligus menjadi indikasi bahwa pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual dibandingkan akumulasi. Kegagalan harga untuk menembus area resistance sebelumnya turut memperkuat sinyal bahwa momentum kenaikan mulai melemah. Selain itu, indikator teknikal juga memberikan konfirmasi tambahan. Harga emas yang telah bergerak di bawah Moving Average 21 dan 34 menunjukkan perubahan arah tren ke fase penurunan. Kondisi ini umumnya menjadi sinyal awal bahwa pasar sedang memasuki fase bearish yang lebih solid dalam jangka menengah. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan harga emas masih berpotensi melanjutkan pelemahan dalam waktu dekat. Target penurunan terdekat berada di area support pada level 4.581. Jika tekanan jual berlanjut dan tidak ada katalis positif yang signifikan, harga bahkan berpotensi turun lebih dalam hingga menyentuh level 4.492 sebagai support berikutnya. Tetapi, peluang terjadinya rebound tetap terbuka. Dalam skenario alternatif, apabila harga gagal melanjutkan tren penurunan dan justru mendapatkan dorongan beli, maka emas berpotensi bergerak naik menuju kisaran resistance di level 4.708 hingga 4.786. Selama harga masih berada di bawah area resistance tersebut, bias pergerakan diperkirakan tetap condong ke arah bearish. Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas juga semakin kuat akibat penguatan dolar Amerika Serikat. Dalam situasi ketidakpastian global, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih likuid seperti dolar AS. Kondisi ini membuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai sedikit berkurang dalam jangka pendek. Tidak cuma itu, meningkatnya harga energi akibat tensi geopolitik global turut picu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Lonjakan inflasi ini memperbesar kemungkinan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Kebijakan moneter yang ketat tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas, mengingat logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya. Suku bunga yang tinggi membuat aset berbasis bunga seperti obligasi menjadi lebih menarik bagi investor. Akibatnya, aliran dana cenderung beralih dari emas ke instrumen tersebut, yang pada akhirnya menekan harga emas lebih lanjut. Kombinasi antara dolar yang kuat, ekspektasi suku bunga tinggi, serta tekanan inflasi menjadi faktor utama yang memperkuat tren penurunan emas saat ini. Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati berbagai data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter. Setiap rilis data, khususnya yang berkaitan dengan inflasi dan suku bunga, berpotensi memicu volatilitas yang cukup tinggi di pasar emas. Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai tekanan bearish masih akan mendominasi pergerakan harga emas dalam jangka pendek. Selama belum ada perubahan signifikan dalam sentimen pasar maupun indikator teknikal, peluang pelemahan harga masih terbuka. Untuk itu, investor disarankan untuk tetap mencermati level-level kunci yang dapat menjadi acuan dalam menentukan strategi di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

Harga Emas Menguat Seiring Redanya Ketegangan Global, Tren Positif Diproyeksikan Berlanjut Internasional
Internasional
Jumat, 03 April 2026 | 10:34 WIB

Harga Emas Menguat Seiring Redanya Ketegangan Global, Tren Positif Diproyeksikan Berlanjut

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas global kembali menunjukkan penguatan perdagangan terkini, didorong oleh meredanya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah serta pelemahan mata uang dolar Amerika Serikat. Kombinasi sentimen tersebut meningkatkan daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai, sekaligus memicu minat beli dari pelaku pasar global. Kondisi ini terjadi setelah muncul sinyal positif terkait kemungkinan de-eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Pernyataan dari otoritas Iran yang membuka peluang untuk mengakhiri konflik, dengan syarat adanya jaminan keamanan, disambut optimistis oleh pelaku pasar. Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat juga dikabarkan mempertimbangkan untuk menghentikan langkah militernya, meskipun jalur strategis seperti Selat Hormuz masih belum sepenuhnya pulih. Harapan terhadap proses perdamaian yang semakin nyata ini turut menopang penguatan harga emas dalam beberapa sesi terakhir. Dari perspektif teknikal, Dupoin Futures melalui analisnya, Andy Nugraha, menilai bahwa tren pergerakan emas (XAU/USD) masih berada dalam fase bullish, khususnya dalam timeframe jangka pendek. Hal ini tercermin dari terbentuknya pola candlestick yang mengindikasikan dominasi tekanan beli, yang diperkuat oleh posisi harga di atas indikator Moving Average. Sinyal tersebut menjadi indikasi bahwa momentum kenaikan masih cukup kuat untuk mendorong harga ke level yang lebih tinggi. Pada perdagangan sebelumnya, harga emas sempat mengalami tekanan hingga menyentuh level 4.482 dolar AS. Tetapi, tekanan tersebut tidak berlangsung lama karena pasar dengan cepat merespons sentimen positif, sehingga harga berbalik arah dan naik ke kisaran 4.648 dolar AS. Rebound ini menunjukkan adanya area support yang solid, sekaligus memperlihatkan bahwa pelaku pasar masih memanfaatkan setiap pelemahan sebagai peluang untuk masuk. Andy Nugraha memproyeksikan apabila momentum bullish terus terjaga, maka harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan hingga mendekati level resistance di 4.862 dolar AS. Sebaliknya, jika terjadi koreksi akibat aksi ambil untung atau perubahan sentimen, maka penurunan diperkirakan akan tertahan di sekitar level 4.539 dolar AS yang menjadi area support terdekat. Selain faktor teknikal, pergerakan emas juga dipengaruhi oleh dinamika makroekonomi global, khususnya dari Amerika Serikat. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 4,31% menjadi salah satu faktor pendorong utama penguatan emas. Penurunan yield ini berimbas pada melemahnya dolar AS, yang tercermin dari penurunan Indeks Dolar AS (DXY) ke level 99,91. Pelemahan dolar membuat harga emas menjadi lebih kompetitif bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan. Di sisi lain, data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan di sektor ketenagakerjaan. Laporan Survei Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) mencatat penurunan jumlah lowongan pekerjaan, yang mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Kondisi ini menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi ke depan. Tetapi, tekanan inflasi masih menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Kenaikan harga energi mendorong ekspektasi inflasi tetap tinggi, yang pada akhirnya memengaruhi arah kebijakan moneter. Pernyataan dari pejabat Federal Reserve yang menegaskan pentingnya menjaga ekspektasi inflasi menunjukkan bahwa bank sentral masih akan berhati-hati dalam menentukan kebijakan suku bunga. Bahkan, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga dalam beberapa tahun ke depan mulai berkurang. Dengan latar belakang tersebut, pergerakan harga emas diperkirakan akan tetap dinamis dalam jangka pendek. Meskipun tren bullish masih mendominasi, pelaku pasar tetap perlu mencermati berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi arah harga, termasuk perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, emas tetap menjadi salah satu instrumen yang menarik sebagai lindung nilai, sekaligus peluang investasi di tengah volatilitas yang tinggi.

Harga Emas Tunjukkan Sinyal Penguatan Berpotensi Uji Area Resistance 5.041 Internasional
Internasional
Kamis, 19 Februari 2026 | 11:37 WIB

Harga Emas Tunjukkan Sinyal Penguatan Berpotensi Uji Area Resistance 5.041

Jakarta, katakabar.com - Harga emas global kembali perlihatkan performa positif pada perdagangan Kamis (19/2), setelah sebelumnya mengalami tekanan signifikan. Pemulihan ini terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan meningkatnya risiko geopolitik global. Kondisi tersebut memberikan dorongan tambahan bagi logam mulia untuk mempertahankan momentum penguatannya, dengan prospek kenaikan yang masih terbuka selama tren bullish tetap dominan. Di sesi awal perdagangan Asia, emas dengan pasangan XAU/USD bergerak stabil di sekitar level $4.985 per ounce. Posisi ini mencerminkan adanya dukungan beli yang cukup kuat dari pelaku pasar setelah emas sempat terkoreksi lebih dari 2 persen pada sesi sebelumnya. Rebound yang terjadi didorong oleh langkah investor yang mulai kembali mengakumulasi emas menjelang publikasi risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Dokumen tersebut dinilai penting karena dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai pandangan para pembuat kebijakan terkait arah suku bunga ke depan. Di pertemuan terakhirnya, bank sentral Amerika Serikat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Tetapi, perbedaan pandangan di antara pejabat The Federal Reserve terkait waktu dan besaran pelonggaran kebijakan moneter masih menjadi perhatian utama pasar. Ketidakpastian ini menciptakan volatilitas di berbagai instrumen keuangan, termasuk emas, yang sering kali menjadi pilihan utama investor saat kondisi pasar tidak menentu. Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menyampaikan dari perspektif teknikal, pergerakan emas saat ini menunjukkan kecenderungan tren naik yang semakin solid. Indikasi ini didukung formasi candlestick yang positif, serta posisi indikator Moving Average yang mengonfirmasi keberlanjutan tren bullish dalam jangka pendek. "Struktur teknikal tersebut menunjukkan tekanan beli masih mendominasi, sehingga membuka peluang bagi harga untuk melanjutkan kenaikan," ujarnya. Menurut Andy Nugraha, selama harga mampu bertahan di atas area support kunci, potensi penguatan emas masih cukup besar. Ia memproyeksikan bahwa jika momentum bullish tetap terjaga, XAU/USD berpeluang melanjutkan kenaikan hingga menguji level resistance berikutnya di sekitar 5.041. Level ini menjadi target penting yang dapat menjadi penentu arah pergerakan emas selanjutnya. Meski demikian, ia mengingatkan risiko koreksi tetap perlu diperhatikan. Area support terdekat saat ini berada di kisaran 4.911. Apabila harga turun dan menembus level tersebut, maka emas berpotensi mengalami tekanan lanjutan sebelum kembali menemukan arah yang lebih stabil. Oleh karena itu, level support dan resistance menjadi referensi penting bagi pelaku pasar dalam mengambil keputusan perdagangan. Selain faktor teknikal, sentimen fundamental juga turut memainkan peran penting dalam mendukung pergerakan harga emas. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkatkan kekhawatiran pasar global. Pernyataan pejabat tinggi AS terkait kemungkinan langkah tegas apabila negosiasi diplomatik tidak mencapai kesepakatan telah memicu peningkatan permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas. Situasi ini memperkuat posisi emas sebagai instrumen yang diminati saat ketidakpastian global meningkat. Di sisi lain, ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed juga terus memengaruhi arah pergerakan emas. Risalah FOMC terbaru menunjukkan bahwa beberapa pejabat masih mewaspadai risiko inflasi dan tidak menutup kemungkinan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Kondisi ini sempat memberikan dukungan terhadap penguatan dolar AS, yang secara umum dapat membatasi kenaikan harga emas karena hubungan keduanya yang cenderung berlawanan arah. Tetapu, data ekonomi AS yang dirilis baru-baru ini menunjukkan gambaran yang beragam. Penurunan inflasi memberikan harapan bagi kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter di masa mendatang, sementara kondisi pasar tenaga kerja yang tetap kuat mencerminkan ketahanan ekonomi AS. Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan dinamika yang kompleks di pasar keuangan dan memicu fluktuasi harga emas dalam jangka pendek. Andy Nugraha menambahkan perhatian pasar saat ini tertuju pada sejumlah data ekonomi penting yang akan segera dirilis, seperti klaim pengangguran awal, data sektor perumahan, Produk Domestik Bruto, serta Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi. Data-data tersebut akan menjadi indikator utama yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed dan arah pergerakan emas selanjutnya. Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas masih cenderung positif selama sentimen safe-haven tetap kuat dan dukungan teknikal masih terjaga. Dengan level resistance di kisaran 5.041 dan support di sekitar 4.911, emas memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatannya dalam waktu dekat. Meski demikian, investor tetap disarankan untuk mencermati perkembangan pasar secara seksama serta menerapkan manajemen risiko yang tepat, mengingat volatilitas harga masih berpotensi tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Harga Emas Stabil di $4.993, Pasar Tunggu Sinyal The Fed Memasuki Pekan Kedua Februari 2026 Internasional
Internasional
Selasa, 17 Februari 2026 | 16:10 WIB

Harga Emas Stabil di $4.993, Pasar Tunggu Sinyal The Fed Memasuki Pekan Kedua Februari 2026

Jakarta, katakabar.com - Harga emas menunjukkan fase konsolidasi menjelang rilis data penting dan perkembangan geopolitik. Trader disarankan tetap memperhatikan dinamika dolar AS, kebijakan moneter, serta sentimen global sebelum mengambil keputusan transaksi. Harga emas dunia (XAU/USD) pada perdagangan Senin (16/2) tercatat bergerak stabil di kisaran $4.993 per ons pada sesi Asia. Pergerakan ini terjadi setelah emas sempat melonjak lebih dari $150 pada akhir pekan lalu, sebelum kembali terkoreksi dan bertahan di bawah level psikologis $5.000. Analis Market HSB Investasi menyampaikan pergerakan emas saat ini dipengaruhi oleh kombinasi penguatan dolar AS serta meningkatnya minat risiko (risk appetite) pelaku pasar. Tetapi, tekanan terhadap logam mulia dinilai masih terbatas. “Penguatan dolar memang membatasi ruang kenaikan emas dalam jangka pendek. Namun, faktor ketidakpastian global dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter membuat potensi penurunan emas relatif terbatas,” ujar Analis Market HSB Investasi. Penguatan Dolar AS Tekan Emas Kenaikan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Secara historis, emas dan dolar memiliki korelasi terbalik. Ketika dolar menguat, harga emas cenderung tertekan karena menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Tetapi, penguatan dolar diperkirakan tidak berlangsung lama. Data inflasi Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu menunjukkan angka yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi mulai memangkas suku bunga pada pertemuan bulan Juni mendatang. Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter umumnya menjadi sentimen positif bagi emas karena menurunkan opportunity cost memegang aset non-yielding seperti logam mulia. Ketegangan Geopolitik Batasi Penurunan Selain faktor moneter, sentimen geopolitik turut membatasi tekanan terhadap emas. Pasar saat ini mencermati kelanjutan pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran, di tengah laporan peningkatan kehadiran militer AS di kawasan yang memicu respons keras dari Iran. Dalam kondisi global yang belum sepenuhnya stabil, emas tetap dipandang sebagai aset safe haven. Permintaan terhadap aset lindung nilai cenderung meningkat ketika risiko geopolitik membesar. Pasar Menanti Notulensi FOMC Pergerakan emas juga berlangsung dalam volume transaksi yang relatif tipis seiring libur Presidents Day di Amerika Serikat. Pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati sembari menunggu katalis berikutnya. Fokus utama investor saat ini tertuju pada rilis notulensi rapat FOMC (FOMC Minutes) yang dijadwalkan pada Rabu (18/2/2026). Dokumen tersebut diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed. Secara teknikal, emas masih menghadapi tekanan jangka pendek setelah gagal mempertahankan posisi di atas level resistensi $5.028. Selama belum mampu kembali menembus area tersebut, potensi koreksi tetap perlu diwaspadai. Namun dalam jangka menengah, prospek emas dinilai tetap positif sebagai instrumen lindung nilai di tengah dinamika global yang berkembang.

Harga Emas Berpeluang Naik, Investor Cermati Arah Kebijakan The Fed Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 07 Februari 2026 | 12:37 WIB

Harga Emas Berpeluang Naik, Investor Cermati Arah Kebijakan The Fed

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia (XAU/USD) pada perdagangan hari ini masih berlangsung dinamis dengan kecenderungan bergerak tidak stabil. Setelah sebelumnya mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa di atas area US$5.500 per ounce, harga emas mengalami tekanan koreksi yang cukup dalam. Penurunan tersebut dipicu oleh kombinasi penguatan dolar Amerika Serikat serta melemahnya minat terhadap aset safe haven, seiring dengan rilis sejumlah data ekonomi AS dan perkembangan terbaru terkait kebijakan moneter Federal Reserve. Meski sempat tertekan, emas mulai menunjukkan upaya pemulihan terbatas yang mengindikasikan adanya ketertarikan beli dari pelaku pasar di level harga yang lebih rendah. Berdasarkan analisis yang disampaikan oleh Andy Nugraha dari Dupoin Futures, koreksi harga emas yang terjadi saat ini masih dapat dikategorikan sebagai fase penyesuaian yang wajar. Pada perspektif tren jangka menengah hingga panjang, arah pergerakan emas dinilai masih berada dalam struktur bullish. Tekanan jual yang muncul lebih banyak dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, setelah pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang berpotensi lebih ketat dalam waktu dekat. Selain itu, mencuatnya nama figur beraliran hawkish seperti Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua The Fed turut menambah tekanan sementara terhadap emas, karena memicu kenaikan imbal hasil obligasi dan meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Meski sentimen tersebut memberi dampak negatif dalam jangka pendek, Andy Nugraha menegaskan bahwa tekanan yang ada belum cukup kuat untuk membalikkan tren utama emas secara keseluruhan. Apabila kondisi pasar kembali kondusif dan minat risiko mulai membaik, harga emas berpeluang melanjutkan pergerakan naik. Sedang skenario positif, XAU/USD diproyeksikan dapat mengarah ke area 5.282 pada pekan depan. Level tersebut dipandang sebagai target teknikal penting, khususnya jika harga mampu bertahan di atas area support dinamis dan dorongan beli kembali menguat. Lantaran itu, Dupoin Futures mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mengantisipasi kemungkinan skenario negatif. Jika harga emas mengalami pembalikan arah yang lebih dalam dan menembus level kunci di sekitar 4.368, maka tekanan jual lanjutan berpotensi membawa harga turun menuju area 4.033 pada pekan mendatang. Skenario ini bisa terjadi apabila dolar AS melanjutkan penguatannya, didukung oleh data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis lebih solid dari perkiraan pasar. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat, sehingga menekan pergerakan harga emas. Dari sisi fundamental, prospek emas untuk jangka menengah hingga panjang masih dinilai cukup menjanjikan. Salah satu faktor utama yang menopang outlook positif ini adalah ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang tahun 2026. Penurunan suku bunga umumnya akan menekan imbal hasil riil dan mengurangi opportunity cost dalam memegang emas, sehingga membuat logam mulia ini kembali menarik bagi investor. Selain itu, permintaan emas sebagai aset lindung nilai masih relatif kuat, terutama dari investor institusional dan bank sentral global yang terus melakukan diversifikasi cadangan devisa mereka. Sejumlah bank besar dunia juga masih mempertahankan proyeksi positif terhadap harga emas dalam jangka tahunan, meskipun volatilitas jangka pendek cukup tinggi akibat dinamika kebijakan moneter. Hal ini menunjukkan secara fundamental, permintaan terhadap emas masih dianggap solid dan tidak mudah tergerus oleh sentimen sesaat. Ke depan, arah pergerakan harga emas diperkirakan akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi utama Amerika Serikat, seperti laporan ketenagakerjaan, inflasi, serta perkembangan CPI dan real yield. Data-data tersebut berpotensi menjadi pemicu pergerakan signifikan, terutama jika hasilnya menyimpang jauh dari ekspektasi pasar. Itu sebabnya, pelaku pasar disarankan untuk terus memantau perkembangan fundamental dan teknikal secara berimbang sebagai dasar dalam menentukan strategi transaksi emas di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.

Harga Emas Bertahan Bullish, Sentimen Geopolitik Penggerak Utama Internasional
Internasional
Rabu, 28 Januari 2026 | 10:00 WIB

Harga Emas Bertahan Bullish, Sentimen Geopolitik Penggerak Utama

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) dunia kembali menjadi sorotan pada perdagangan hari ini seiring penguatan tajam yang membawa logam mulia tersebut menembus level psikologis penting. Pergerakan emas saat ini menunjukkan momentum bullish yang semakin solid, didukung oleh faktor teknikal maupun sentimen fundamental global. Di awal pekan, emas (XAU/USD) mencatat lonjakan lebih dari 2 persen dan berhasil menembus level $5.000 per troy ounce. Penguatan ini berlanjut hingga mendekati area $5.100, dengan harga terakhir tercatat di kisaran $5.095 setelah sempat mencetak rekor tertinggi di $5.111. Kenaikan agresif ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global yang kembali memanas. Menurut analisis Dupoin Futures, Andy Nugraha, secara teknikal struktur pergerakan XAU/USD saat ini sangat mendukung kelanjutan tren naik. Kombinasi pola candlestick yang terbentuk bersama indikator Moving Average menunjukkan dominasi buyer masih kuat. Selama harga mampu bertahan di atas area support kunci, tekanan beli diperkirakan tetap mendominasi pergerakan intraday. Dari sisi proyeksi, Andy memperkirakan jika momentum bullish berlanjut, harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area $5.150 sebagai target terdekat. Level ini menjadi resistance lanjutan yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Namun demikian, Andy juga mengingatkan bahwa potensi koreksi tetap terbuka. Apabila harga gagal mempertahankan momentum dan mengalami tekanan jual, area $4.990 diproyeksikan menjadi zona penurunan terdekat yang berpotensi menahan pelemahan. Sentimen fundamental turut memberikan dorongan signifikan bagi emas. Pada sesi Asia hari ini, harga emas masih bertahan di sekitar $5.050 seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi geopolitik dan stabilitas keuangan global. Ketegangan kembali mencuat setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan mengenakan tarif hingga 100% terhadap Kanada jika negara tersebut menjalin kesepakatan perdagangan dengan China. Pernyataan ini memicu kekhawatiran akan eskalasi perang dagang baru dan mendorong investor kembali memburu aset safe-haven. Selain itu, isu independensi Federal Reserve turut menjadi perhatian. Pasar menantikan keputusan Trump terkait penunjukan Ketua The Fed berikutnya, yang memicu spekulasi bahwa kebijakan moneter AS ke depan bisa menjadi lebih dovish. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah cenderung mendukung harga emas karena menurunkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, pasar juga mencermati agenda ekonomi AS, termasuk rilis data ADP Employment Change dan Consumer Confidence. Meski data pesanan barang tahan lama AS menunjukkan pemulihan yang kuat, rumor potensi intervensi Jepang dan AS untuk menopang yen turut menekan dolar AS, sehingga memberikan ruang tambahan bagi penguatan emas. Dengan kombinasi faktor teknikal yang solid dan sentimen global yang masih penuh ketidakpastian, Andy menilai bahwa emas tetap berada dalam fase bullish. Tetapi, investor disarankan tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek, terutama menjelang keputusan suku bunga The Fed dan pernyataan Ketua Fed Jerome Powell yang berpotensi memengaruhi arah pasar selanjutnya.

Jelang Rilis NFP, Harga Emas Tunjukkan Sinyal Penguatan Berkelanjutan Internasional
Internasional
Kamis, 08 Januari 2026 | 13:36 WIB

Jelang Rilis NFP, Harga Emas Tunjukkan Sinyal Penguatan Berkelanjutan

Jakarta, katakabar.com - Harga emas global kembali mencatatkan penguatan dan melanjutkan tren naik yang telah terjadi selama empat sesi perdagangan berturut-turut. Berdasarkan pergerakan pasar, harga emas spot (XAU/USD) berada di kisaran $4.487 pada perdagangan Selasa (6/1), menguat hampir 1 persen, serta semakin mendekati area psikologis $4.500 Rabu (7/1). Penguatan ini terjadi di tengah naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan menguatnya Dolar AS, dua faktor yang umumnya memberikan tekanan terhadap pergerakan harga emas. Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai kenaikan harga emas saat ini didukung oleh kondisi teknikal yang masih kuat. Berdasarkan kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average, tren bullish pada pergerakan XAU/USD terlihat semakin solid. Harga yang bergerak stabil di atas rata-rata pergerakan menunjukkan dominasi minat beli di pasar, sementara tekanan jual relatif terbatas dalam jangka pendek. Dari sudut pandang teknikal, Andy Nugraha menjelaskan selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat dan tekanan beli tetap terjaga, XAU/USD berpotensi melanjutkan kenaikan hingga menguji level $4.520. Level tersebut menjadi target kenaikan terdekat yang patut diperhatikan pelaku pasar. Meski demikian, potensi koreksi tetap terbuka. Apabila harga gagal mempertahankan momentum kenaikan dan terjadi aksi ambil untung, maka area $4.444 diproyeksikan menjadi support terdekat yang berpeluang diuji. Tidak hanya didorong oleh faktor teknikal, penguatan harga emas juga mendapat sokongan dari sentimen fundamental global. Pada awal perdagangan sesi Asia hari Rabu, harga emas tercatat naik lebih dari 1 persen, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik serta ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga di Amerika Serikat. Situasi geopolitik kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar terhadap Venezuela dan mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya. Ketidakpastian yang berkembang dari krisis tersebut mendorong investor kembali memburu aset safe haven, termasuk emas. Sementara, dari sisi kebijakan moneter, risalah FOMC mengindikasikan mayoritas pejabat Federal Reserve masih memandang penurunan suku bunga sebagai langkah yang sesuai, seiring dengan meredanya tekanan inflasi. Tetapi, terdapat perbedaan pandangan terkait waktu dan besaran penurunan suku bunga tersebut. Berdasarkan alat CME FedWatch, pasar memperkirakan probabilitas sekitar 82% bahwa suku bunga acuan akan tetap dipertahankan pada pertemuan The Fed pada 27 hingga 28 Januari mendatang. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah cenderung mengurangi biaya peluang dalam memegang emas, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi harga logam mulia. Ke depan, fokus pelaku pasar akan tertuju pada rilis data ekonomi utama Amerika Serikat, termasuk PMI Jasa ISM serta laporan ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP) bulan Desember. Apabila data tenaga kerja menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, Dolar AS berpotensi menguat dan dapat menekan harga emas dalam jangka pendek. Namun selama ketidakpastian global masih tinggi dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter tetap terjaga, harga emas diperkirakan masih bergerak dalam tren bullish, sejalan dengan proyeksi dari Dupoin Futures.

Harga Emas Masih Kuat, Analis Dupoin Ingatkan Risiko Koreksi Jangka Pendek Internasional
Internasional
Kamis, 18 Desember 2025 | 18:10 WIB

Harga Emas Masih Kuat, Analis Dupoin Ingatkan Risiko Koreksi Jangka Pendek

Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia (XAU/USD) saat ini dinilai masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren kenaikan, seiring respons pelaku pasar terhadap rilis data ekonomi Amerika Serikat serta perkembangan situasi geopolitik global. Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai bahwa pergerakan emas saat ini masih berada dalam fase bullish yang cukup kuat, meskipun tetap perlu diwaspadai potensi koreksi dalam jangka pendek. Pada perdagangan Selasa (16/12) lalu, harga emas sempat mengalami pembalikan arah setelah pasar mencerna laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan adanya pelemahan di sektor tenaga kerja. Kondisi tersebut mendorong harga emas naik hingga mencapai level tertinggi harian di sekitar $4.335. Tetapi, tekanan aksi ambil untung membuat harga kembali terkoreksi dan ditutup melemah sekitar 0,23 persen, dengan posisi bertahan di kisaran $4.296. Andy Nugraha menjelaskan dari sisi teknikal, kombinasi pola candlestick serta indikator Moving Average saat ini masih memperlihatkan sinyal penguatan tren bullish pada XAU/USD. "Struktur pergerakan harga dinilai masih mencerminkan dominasi pembeli, sehingga peluang kenaikan tetap terbuka selama harga mampu bertahan di atas area support krusial," ujarnya. Untuk pergerakan saat ini, Andy memproyeksikan jika dorongan beli berlanjut, harga emas berpotensi melanjutkan penguatan menuju area resistance di sekitar $4.348. Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa kegagalan menembus level tersebut dapat memicu koreksi teknikal, dengan potensi penurunan awal mengarah ke area support di sekitar $4.294. Pada perdagangan Rabu (17/12), emas tercatat bergerak menguat secara terbatas. XAU/USD diperdagangkan di kisaran $4.315 setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah harian di sekitar $4.271. Penguatan ini terjadi seiring pasar kembali merespons laporan ketenagakerjaan AS yang tertunda. Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menunjukkan hasil yang beragam, di mana jumlah angkatan kerja meningkat di atas ekspektasi, sementara tingkat pengangguran justru naik ke level tertinggi sejak 2021. Laporan tersebut dinilai membuka peluang bagi pelonggaran kebijakan moneter lanjutan. Namun demikian, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga pada Januari 2026 masih tergolong rendah, yakni di kisaran 25 persen. Di sisi lain, data Penjualan Ritel AS dari Biro Sensus menunjukkan bahwa belanja konsumen stagnan secara bulanan pada Oktober, mencerminkan tekanan akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, serta barang impor yang terdampak kebijakan tarif. Sementara, meredanya ketegangan geopolitik turut menahan laju penguatan emas. Adanya laporan kemajuan dalam perundingan damai antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat sedikit mengurangi minat terhadap aset safe haven. Optimisme dari pejabat Ukraina serta pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai peluang tercapainya kesepakatan damai membuat arus dana ke emas cenderung terbatas. Ke depan, pelaku pasar akan menantikan rilis data inflasi AS serta Klaim Pengangguran Awal, menjelang publikasi Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE). Andy Nugraha menilai, selama ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter dan kondisi ekonomi global masih berlanjut, pergerakan harga emas berpotensi tetap fluktuatif dengan kecenderungan menguat dalam jangka pendek.

Ekspektasi Pelonggaran The Fed Jaga Momentum Positif Harga Emas Internasional
Internasional
Selasa, 16 Desember 2025 | 11:35 WIB

Ekspektasi Pelonggaran The Fed Jaga Momentum Positif Harga Emas

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) dunia kembali bergerak stabil dengan kecenderungan menguat di awal pekan, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang tetap memposisikan emas sebagai aset lindung nilai utama. Setelah mencetak level tertinggi tujuh minggu di $4.353 pada akhir pekan lalu, harga emas memang sempat mengalami koreksi ringan akibat aksi ambil untung. Tetapi, koreksi tersebut dinilai wajar dan tidak mengubah struktur tren utama yang masih mengarah ke atas. Saat ini, emas bergerak di kisaran $4.300–$4.315, dengan fokus pasar tertuju pada perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat dan kondisi global. Berdasarkan analis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha menilai pergerakan emas masih berada dalam fase bullish yang solid. Indikator teknikal, terutama kombinasi pola candlestick dan Moving Average, menunjukkan tekanan beli tetap dominan. "Koreksi yang terjadi lebih mencerminkan fase konsolidasi sehat setelah reli kuat, bukan sinyal pembalikan arah," ujarnya. Menurut Andy, struktur harga emas saat ini masih memberikan ruang bagi kelanjutan kenaikan selama area support utama mampu dipertahankan. Dari sisi proyeksi teknikal, Andy Nugraha, menyampaikan apabila tekanan bullish kembali menguat, emas berpotensi melanjutkan penguatan menuju area $4.378. Level tersebut dipandang sebagai target kenaikan terdekat yang dapat diuji dalam jangka pendek, terutama jika sentimen pasar kembali didominasi oleh pelemahan Dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi. Sebaliknya, jika harga gagal mempertahankan momentum dan terjadi koreksi lanjutan, maka area $4.290 menjadi zona support penting yang berpotensi menahan tekanan jual awal. Secara fundamental, kata Andy, harga emas masih ditopang oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada tahun depan. Bank sentral AS pekan lalu telah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,50%–3,75%, menandai pemangkasan terakhir tahun ini. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang memegang emas, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia tersebut di mata investor. "Fokus pasar kini tertuju pada rilis data ekonomi AS, termasuk laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang tertunda, yang dapat menjadi petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya," jelasnya. Selain faktor kebijakan, sebut Andy, meningkatnya ketidakpastian global turut memperkuat peran emas sebagai aset safe haven. Ketegangan geopolitik dan insiden keamanan internasional mendorong investor mencari perlindungan nilai, sehingga aliran dana ke emas tetap terjaga. Meski demikian, pasar juga mencermati pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang masih menekankan pendekatan hati-hati dalam pelonggaran kebijakan. Nada hawkish dari pejabat bank sentral berpotensi memicu penguatan Dolar AS dan menekan harga emas dalam jangka pendek. Secara keseluruhan, Andy Nugraha menilai prospek harga emas hari ini masih condong positif, dengan tren naik tetap terjaga selama tidak terjadi tekanan fundamental yang signifikan. Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang mendukung, emas masih berpeluang melanjutkan penguatan, meskipun volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi oleh pelaku pasar.