Hilirisasi Mineral Ciptakan Nilai Lebih Besar Untuk Indonesia Nasional
Nasional
Kemarin

Hilirisasi Mineral Ciptakan Nilai Lebih Besar Untuk Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Kekayaan mineral Indonesia tidak seharusnya berhenti sebagai komoditas yang diambil dari dalam bumi. Tetapi, melalui hilirisasi, sumber daya mineral dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang mendukung pengembangan industri, menciptakan aktivitas ekonomi baru, membuka lapangan kerja, serta memperkuat daya saing nasional. Semangat tersebut menjadi bagian dari komitmen Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dalam mengelola sumber daya mineral Indonesia agar mampu memberikan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat dan perekonomian nasional. Corporate Secretary ANTAM, Wisnu Danandi Haryanto, mengatakan perjalanan mineral tidak semestinya berakhir ketika sumber daya tersebut berhasil ditambang. Nilai sesungguhnya justru tercipta ketika mineral mampu diolah lebih lanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas. “Bagi ANTAM, setiap mineral memiliki perjalanan, mulai dari mine, kemudian diolah menjadi value, dan pada akhirnya harus memberikan meaning. Artinya, sumber daya mineral Indonesia harus mampu mendorong industri dan perekonomian, membuka peluang bagi masyarakat, sekaligus tetap dikelola dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” ujar Wisnu saat sosialisasi MediaMIND 2026 di Gedung Science Techno Park Universitas Indonesia, Jumat (11/9) lalu. Menurut Wisnu, hilirisasi bukan hanya mengenai pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian, tetapi bagaimana sumber daya alam dapat menciptakan manfaat ekonomi yang lebih besar di dalam negeri. Mineral yang sebelumnya memiliki nilai terbatas dapat diolah menjadi produk yang mendukung berbagai industri strategis, menarik investasi, mendorong transfer teknologi, serta menggerakkan pertumbuhan ekonomi di daerah. Transformasi tersebut antara lain terlihat pada komoditas bauksit dan nikel. Melalui rantai hilirisasi, bauksit dapat diolah menjadi alumina hingga aluminium yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan menjadi bahan baku bagi berbagai sektor industri. Sementara itu, nikel dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi produk bernilai tambah yang mendukung penguatan industri nasional, termasuk pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. Hilirisasi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian. Berkembangnya industri pengolahan mineral turut mendorong tumbuhnya rantai pasok baru, investasi, transfer teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga hadirnya berbagai industri pendukung di sekitar wilayah pengembangan. “Ukuran keberhasilan pertambangan bukan hanya apa yang dapat dihasilkan hari ini, tetapi juga manfaat yang dapat kita tinggalkan bagi masyarakat, lingkungan, dan generasi mendatang,” terang Wisnu. Sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID terus mendorong hilirisasi sebagai salah satu instrumen strategis untuk memastikan kekayaan mineral Indonesia memberikan nilai tambah yang semakin besar di dalam negeri. Department Head Corporate Communication MIND ID, Pratiwa Dyatmika, mengatakan penguatan hilirisasi menjadi bagian penting dalam membangun industri nasional yang semakin kuat dan mandiri. “Hilirisasi menjadi bagian penting untuk memastikan sumber daya mineral Indonesia memberikan nilai tambah yang semakin besar di dalam negeri. Pertambangan bukan hanya mengenai komoditas yang dihasilkan, tetapi bagaimana kekayaan mineral tersebut dapat memperkuat industri, mendukung kemandirian nasional, serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” timpal Pratiwa. Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi turut menopang kinerja Grup MIND ID. Sepanjang 2025, Grup MIND ID membukukan pendapatan sebesar Rp159,46 triliun serta memberikan kontribusi kepada negara melalui pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan dividen sebesar Rp92,56 triliun. Tetapi, transformasi industri pertambangan tidak hanya diarahkan untuk menciptakan nilai ekonomi. Aspek sosial dan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam memastikan manfaat pertambangan dapat dirasakan secara berkelanjutan. Hingga 2025, Grup MIND ID telah menanam lebih dari 7,48 juta pohon dan mereklamasi lebih dari 7.800 hektare lahan. Melalui hilirisasi dan pengelolaan pertambangan yang berkelanjutan, sumber daya mineral Indonesia dapat bergerak dari sekadar hasil tambang menjadi penggerak industri, pencipta nilai tambah, serta fondasi bagi Indonesia yang semakin mandiri dan berdaya saing.

India dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pertambangan, Bidik Mineral Kritis dan Peluang Hilirisasi Internasional
Internasional
Selasa, 15 September 2026 | 14:13 WIB

India dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pertambangan, Bidik Mineral Kritis dan Peluang Hilirisasi

Jakarta, katakabar.com - India dan Indonesia mendorong penguatan kerja sama di sektor pertambangan dan batu bara dengan memperluas kolaborasi dari perdagangan komoditas menuju investasi, teknologi, mineral kritis, industri hilir, dan keamanan rantai pasok. Peluang tersebut dibahas dalam roundtable “Boosting India-Indonesia Collaboration in Mining and Coal Sectors” di Tagore Hall, New Chancery, Kedutaan Besar India di Jakarta, 11 September 2026. Pertemuan mempertemukan pejabat pemerintah, perusahaan pertambangan, asosiasi industri, investor, kontraktor, dan pemangku kepentingan dari kedua negara. Indonesia menawarkan sumber daya mineral yang besar, sementara India memiliki kemampuan industri, teknologi, investasi, dan kebutuhan pasar yang terus berkembang. India Ingin Menjadi Mitra, Bukan Sekadar Pembeli Bahan Mentah Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan bahwa India tidak tertarik hanya mendapatkan akses bahan baku. “Kami tidak tertarik hanya mengambil bahan mentah. Kami ingin bermitra dengan Anda, dan kami ingin menjadi mitra dalam kemajuan Anda," kata Sandeep. Menurutnya, kebijakan hilirisasi Indonesia telah mengubah lanskap investasi. Perusahaan India perlu melihat Indonesia bukan hanya sebagai sumber mineral, tetapi juga sebagai tempat membangun fasilitas pengolahan, manufaktur, dan industri bernilai tambah. Mineral Kritis Jadi Area Strategis Baru Vivek Kumar Bajpai, Joint Secretary, Ministry of Mines, Government of India, menjelaskan transformasi sektor pertambangan India melalui eksplorasi, pengelolaan data geologi, keterlibatan swasta, dan pengembangan pengolahan mineral. India juga memberikan perhatian besar terhadap National Critical Mineral Mission (NCMM), yang mencakup eksplorasi, lelang blok, akuisisi aset luar negeri, fasilitas pengolahan, daur ulang, serta penelitian dan pengembangan. “Perusahaan-perusahaan India sangat tertarik untuk datang ke Indonesia dan melakukan investasi di sini,” kata Bajpai. Langkah berikutnya, menurutnya, adalah mempertemukan perusahaan India dengan proyek dan mitra yang tepat di Indonesia. Batu Bara Tetap Strategis, India Dorong Modernisasi Bhuvaneshwari S., Deputy Secretary, Ministry of Coal, Government of India, menjelaskan batu bara masih berperan penting dalam sistem energi India. Namun, pemerintah mendorong reformasi kebijakan, modernisasi teknologi, serta pemanfaatan batu bara untuk menghasilkan nilai tambah. India membuka sektor pertambangan batu bara melalui commercial mining dan mendorong penggunaan AI, GPS, GIS, serta sistem pemantauan terintegrasi. Melalui National Coal Gasification Mission, India juga mengembangkan teknologi untuk mengubah batu bara menjadi produk dan bahan baku industri, dengan tetap memperhatikan lingkungan dan keselamatan. Indonesia Punya Potensi Besar Mineral Kritis Debdutta Ganguly, President Director PT HDJ Consultant Indonesia, menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam industri pertambangan global, termasuk batu bara, nikel, tembaga, emas, bauksit, dan timah. Indonesia telah mengidentifikasi 47 mineral kritis, sementara India memiliki sekitar 30. Nikel, kobalt, tembaga, grafit, timah, dan rare earth elements menjadi sejumlah mineral yang memiliki kepentingan bagi kedua negara. Ganguly mendorong kedua negara segera menentukan proyek prioritas. “Identifikasi beberapa proyek prioritas. Kita cocokkan kemampuan India dengan proyek-proyek di Indonesia. Kemudian kita dapat meluncurkan dua atau tiga proyek percontohan," ucapnya. APNI Buka Peluang bagi Perusahaan India Meidy Katrin Lengkey, Secretary General Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), memaparkan pesatnya perkembangan industri nikel Indonesia. Menurutnya, sekitar 450 perusahaan tambang nikel aktif berproduksi, sementara hilirisasi telah mendorong pembangunan berbagai fasilitas pengolahan dan pemurnian. Indonesia kini memasok sekitar 65 persen kebutuhan nikel dunia. Tetapi, Meidy menyoroti dominasi investor China di sektor hilir. “Sayangnya, sejak program hilirisasi dimulai, kita dapat melihat bahwa sekitar 90 persen sektor hilir berasal dari China," timpalnya. Kondisi tersebut membuka ruang bagi India untuk menjadi mitra baru Indonesia, tidak hanya di nikel tetapi juga 47 mineral kritis yang telah diidentifikasi Indonesia. Dari Nikel Menuju Produk Bernilai Tambah Kamlesh Kumar, COO Tata Power Indonesia, menilai peluang nikel seharusnya tidak hanya diarahkan untuk menambah kapasitas produksi. Sejumlah segmen telah menghadapi oversupply, sehingga peluang lebih menarik dapat berada pada tahapan lebih tinggi dalam rantai nilai. Selain nickel pig iron (NPI), perusahaan dapat mempertimbangkan bahan kimia dan material yang digunakan dalam rantai nilai baterai. Tembaga, timah, bauksit, dan coal gasification juga dinilai memiliki peluang kerja sama. Ashok Mitra, mantan CEO Kaltim Prima Coal (KPC), menambahkan bahwa gasifikasi batu bara bukan konsep baru di Indonesia, tetapi masih menghadapi tantangan ekonomi proyek, kebutuhan investasi, serta ketersediaan batu bara yang sesuai. Adani Dorong Perusahaan India Lebih Agresif Siddharth Taparia, Country Head Adani Indonesia, mengatakan perusahaan India perlu melihat peluang lebih luas dan tidak hanya berfokus pada batu bara. Nikel, tembaga, dan bauksit dapat menjadi pintu masuk baru. Ia menilai perusahaan China telah bergerak sangat agresif dengan membawa modal, teknologi, peralatan, dan kemampuan engineering. “Kita harus lebih agresif.” Namun, perusahaan yang masuk ke Indonesia juga harus memahami ekosistem lokal dan memberikan nilai tambah. Danantara Melihat Peluang dari Tambang hingga Baterai Suryadi Wijaya, Director Investment Danantara, mengatakan peluang investasi dapat dikembangkan melalui co-investment dan kemitraan dengan investor strategis, dengan tetap berorientasi pada commercial return. Rantai nilai tersebut mencakup pengolahan mineral, material baterai, anode, cathode, battery cell, hingga kendaraan listrik. Indonesia juga membutuhkan diversifikasi teknologi agar tidak bergantung pada satu pendekatan atau sumber teknologi. Mineral Kritis Bukan Sekadar “Dig and Sell” Naveen Chandralal, Director PT Amman, menekankan bahwa mineral kritis membutuhkan perspektif jangka panjang. “Mineral kritis bukan sekadar dig and sell," tuturnya. Pengembangan mineral kritis membutuhkan fasilitas pengolahan, modal besar, teknologi, dan kepastian pasar. Tembaga, misalnya, semakin penting bagi India seiring meningkatnya kebutuhan industri. Indonesia dapat menjadi mitra strategis karena memiliki sumber daya dan pengalaman dalam operasi pertambangan berskala besar. Tantangan Pasokan Nikel Arief Perdana Kusumah, Chairman Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), menyoroti konsentrasi pasar nikel Indonesia ke China. Ia menyebut sekitar 93 persen produksi logam nikel Indonesia mengalir ke China. Arief juga menyoroti kebutuhan impor bijih nikel dari Filipina, terutama karena Maluku Utara menghadapi defisit bijih di tengah terkonsentrasinya kapasitas pengolahan nikel di wilayah tersebut. Salah satu opsi yang dibahas untuk menjamin pasokan adalah long-term offtake agreement dengan produsen yang telah beroperasi. Pilihan lainnya adalah kepemilikan saham atau akuisisi fasilitas yang sudah beroperasi. Meidy menjelaskan bahwa impor bijih dari Filipina berkaitan dengan karakteristik bijih yang dibutuhkan fasilitas pengolahan dan dapat dicampur dengan bijih domestik. Di tengah oversupply pada sejumlah segmen, Indonesia dinilai perlu semakin berfokus pada nilai tambah. Peluang bagi Kontraktor Pertambangan India Roundtable juga membahas peluang bagi perusahaan India untuk masuk sebagai kontraktor pertambangan maupun melalui model Mine Developer and Operator (MDO). Kuhan Selvaretnam, Director Sumbar Mitra Jaya, memberikan perspektif dari sisi kontraktor pertambangan Indonesia. Menurutnya, Indonesia telah berkembang pesat dari sisi teknologi pertambangan. “Dari perspektif pertambangan, Indonesia sudah cukup maju. Kita memiliki akses terhadap teknologi terbaru, baik untuk alat berat, pengawasan tambang, pengembangan tambang dan sebagainya," katanya. Ia juga melihat perbedaan model kontraktor Indonesia dan MDO di India sebagai peluang untuk saling belajar. Kuhan turut mengapresiasi perkembangan regulasi pertambangan India dan upaya menuju praktik pertambangan batu bara yang lebih ramah lingkungan. Saatnya Mengubah Dialog Menjadi Aksi Bijay Selvaraj, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar India di Jakarta, menilai forum tersebut mempertemukan keahlian dari pembuat kebijakan, perusahaan, investor, perbankan, dan Danantara. “Sudah menjadi sangat jelas bahwa Indonesia adalah tempat di mana hampir segala sesuatu terjadi dalam hal pertambangan. Anda dapat menyebut mineral apa pun, dan mineral itu ada di sini,” tukasnya. Menurutnya, peluang tersebut harus berjalan bersama kebijakan hilirisasi dan transisi menuju industri yang lebih bersih. “Kita tidak bisa hanya berada di apa yang disebut sebagai ruang kotor. Kita harus masuk ke ruang yang bersih dan juga menunjukkannya,” bebernya. India Mining Week Jadi Forum Lanjutan Selvaraj mengundang pelaku industri Indonesia untuk melanjutkan pembicaraan melalui India Mining Week pada 15 hingga 17 November 2026. Forum tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi peluang investasi dan kemitraan yang lebih konkret. Pertemuan di Jakarta menunjukkan bahwa kerja sama pertambangan India dan Indonesia mulai bergerak melampaui perdagangan komoditas. Batu bara tetap menjadi bagian penting, tetapi peluang masa depan semakin mengarah pada mineral kritis, hilirisasi, teknologi, pengolahan, manufaktur, investasi bersama, dan keamanan rantai pasok. Tantangan berikutnya adalah mengubah komplementaritas kedua negara menjadi proyek nyata dengan menentukan proyek prioritas, mempertemukan perusahaan yang tepat, dan membangun proyek percontohan sebagai dasar kemitraan industri jangka panjang.

Dukung Hilirisasi Nikel, Pelindo Multi Terminal Optimalkan Layanan Terminal Kendari Nasional
Nasional
Senin, 07 September 2026 | 12:01 WIB

Dukung Hilirisasi Nikel, Pelindo Multi Terminal Optimalkan Layanan Terminal Kendari

Kendari, katakabar.com - PT Pelindo Multi Terminal, anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang bergerak di bidang operasional terminal nonpetikemas, memastikan kesiapan layanan operasional di Pelabuhan Kendari, Sulawesi Tenggara, dalam mendukung kelancaran rantai pasok industri nikel nasional. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari sinergi Pelindo bersama PT Indo Konstruksi Mineral (IKM) dalam pemanfaatan fasilitas pelabuhan untuk kegiatan penumpukan serta pelayanan bongkar muat bijih nikel (nickel ore) di Pelabuhan Kendari. Melalui peran operasionalnya, Pelindo Multi Terminal memastikan fasilitas, proses layanan, serta standar operasional pelabuhan berjalan optimal guna mendukung kebutuhan industri mineral. Sebagai operator terminal nonpetikemas, Pelindo Multi Terminal mengambil peran strategis dalam memperkuat konektivitas logistik industri nikel melalui pengelolaan layanan pelabuhan yang mengedepankan keandalan, keselamatan, dan efisiensi. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam menghadirkan ekosistem logistik yang mampu menjembatani kebutuhan industri dari hulu hingga hilir. Direktur Utama Pelindo Multi Terminal, Sugeng Mulyadi, mengatakan keberhasilan hilirisasi industri mineral tidak hanya membutuhkan fasilitas pengolahan, tetapi juga dukungan infrastruktur logistik yang mampu menjamin kelancaran arus barang. “Hilirisasi membutuhkan ekosistem yang saling terhubung, termasuk kesiapan infrastruktur logistik. Sebagai anak usaha Pelindo yang mengoperasikan terminal nonpetikemas, Pelindo Multi terminal memiliki peran untuk memastikan layanan pelabuhan berjalan secara konsisten, andal, dan mampu menjawab kebutuhan industri strategis nasional, termasuk sektor nikel, serta mendorong produk Indonesia ke pasar internasional,” ujar Sugeng. Menurutnya, peran Pelindo Multi Terminal dalam mendukung industri nikel tidak berhenti pada aktivitas pelayanan bongkar muat, tetapi mencakup bagaimana perusahaan memastikan setiap proses operasional pelabuhan mampu memberikan kepastian layanan bagi pengguna jasa. “Dukungan terhadap industri nikel bukan hanya terkait perpindahan komoditas, tetapi bagaimana pelabuhan menjadi bagian dari rantai nilai industri nasional. Karena itu, Pelindo Multi Terminal terus memperkuat kesiapan operasional melalui optimalisasi fasilitas, pengembangan kapabilitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta penerapan standar keselamatan yang tinggi,” jelas Sugeng. Dalam pelaksanaan layanan di Pelabuhan Kendari, Pelindo Multi Terminal memastikan berbagai aspek operasional berjalan sesuai standar, mulai dari kesiapan fasilitas terminal, koordinasi pelayanan, hingga penerapan prinsip HSSE (Health, Safety, Security, and Environment). Hal ini dilakukan untuk menjaga kelancaran aktivitas logistik sekaligus memastikan kegiatan operasional berlangsung aman dan efisien. Penguatan layanan logistik mineral di Pelabuhan Kendari juga sejalan dengan agenda strategis Danantara Indonesia dalam mendorong penguatan konsistensi layanan dan keandalan operasional guna menjaga kelancaran arus logistik serta aktivitas perdagangan nasional. Sugeng menambahkan, optimalisasi aset pelabuhan menjadi salah satu strategi Pelindo Multi Terminal dalam memperkuat daya saing logistik nasional. Dengan jaringan terminal nonpetikemas yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, perusahaan terus berupaya menghadirkan layanan yang adaptif terhadap perkembangan kebutuhan industri. Nikel salah satu komoditas strategis dalam pengembangan industri berbasis mineral Indonesia, sehingga membutuhkan dukungan konektivitas logistik yang kuat dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, keberadaan layanan logistik yang andal menjadi faktor penting untuk memastikan keberlanjutan arus komoditas dari kawasan produksi menuju pusat pengolahan dan distribusi. Pelindo Multi Terminal berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan terminal nonpetikemas yang aman, efisien, dan berkelanjutan guna mendukung percepatan hilirisasi serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.

PTPN Group Bangun Ekosistem Hilirisasi Ubi Kayu Terintegrasi Teken MoU bersama 11 Mitra Strategis di Lampung Nasional
Nasional
Senin, 17 Agustus 2026 | 11:09 WIB

PTPN Group Bangun Ekosistem Hilirisasi Ubi Kayu Terintegrasi Teken MoU bersama 11 Mitra Strategis di Lampung

Bandar Lampung, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara III (Persero) terus kokohkan perannya sebagai motor penggerak ekonomi nasional dengan mengembangkan komoditas ubi kayu secara terintegrasi. Langkah itu tidak semata-mata menjalankan amanat pemerintah, tetapi merupakan wujud nyata kehadiran BUMN dalam menciptakan nilai tambah (value creation) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Melalui pendekatan hilirisasi, PTPN Group mengembangkan ekosistem ubi kayu dari hulu hingga hilir untuk mendukung ketahanan pangan dan energi nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani dan pelaku usaha lokal. Komitmen ini sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden RI, H Prabowo Subianto untuk memperkuat swasembada pangan dan energi serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Sebagai langkah konkret, PTPN III (Persero) melalui anak usahanya, PTPN I (Persero), melaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama usaha bersama 11 mitra strategis yang terdiri atas perusahaan swasta, BUMD, BUMDes, koperasi, dan yayasan. Penandatanganan berlangsung di Kantor Regional PTPN I Regional 7, Bandar Lampung, Rabu (12/8) lalu. MoU tersebut ditandatangani Plt. Region Head PTPN I Regional 7, Iyan Heryanto, dan disaksikan oleh Direktur Utama PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, serta Direktur Pemasaran & Aset Manajemen PTPN I (Persero), Arif Budiman. Ekspansi Bertahap Menuju Target 10.000 Hektare Penandatanganan MoU bersama 11 mitra ini merupakan tahap awal dari target pengembangan lahan ubi kayu seluas 10.000 hektare di Provinsi Lampung. Pada fase perdana ini, 11 mitra strategis telah merencanakan penanaman di lahan seluas 7.313 hektare yang akan segera dioptimalkan melalui program budidaya terpadu. Sisanya akan direalisasikan secara bertahap seiring dengan perluasan kemitraan dan kesiapan lahan. Sinergi Hulu-Hilir: Dari Lahan hingga Bioetanol Direktur Utama PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, menegaskan kolaborasi multipihak ini wujud nyata komitmen Holding dalam menciptakan ekosistem bisnis yang berkeadilan. Menurutnya, kehadiran BUMN tidak hanya berhenti pada pencapaian target fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja, transfer teknologi, dan penguatan ekonomi desa. "Kami di PTPN III (Persero) membangun rantai nilai yang utuh, mulai dari hulu hingga hilir. Di sisi on farm, kami fokus pada optimalisasi lahan, penerapan teknologi budidaya, dan pengembangan varietas unggul berdaya hasil tinggi. Di sisi off farm, kami mengarahkan hilirisasi pada industri pengolahan, termasuk pemanfaatan ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol. Dengan demikian, ubi kayu memberikan kontribusi ganda, yaitu untuk ketahanan pangan dan ketahanan energi nasional, sekaligus meningkatkan pendapatan petani," jelas Denaldy. Denaldy menambahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kekuatan kolaborasi. PTPN III (Persero) memastikan keterlibatan aktif Pemerintah Provinsi Lampung, BUMDes, koperasi, BUMD, dan masyarakat sebagai bagian penting dalam rantai nilai yang inklusif. "Kami sampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi Lampung atas dukungan strategisnya. Sinergi yang digerakkan oleh PTPN III (Persero) sebagai Holding dan dilaksanakan oleh PTPN I (Persero) ini adalah langkah nyata mendorong hilirisasi komoditas unggulan daerah, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Lampung, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional," ujar Denaldy. Komitmen Penuh PTPN I (Persero) Implementasi Program Direktur Pemasaran & Aset Manajemen PTPN I (Persero), Arif Budiman, menyampaikan bahwa pihaknya siap mengimplementasikan program ini secara bertahap. Mulai dari penyiapan lahan, penguatan kemitraan, pengembangan budidaya, hingga integrasi dengan industri hilir. "Kami optimistis kolaborasi yang dipimpin oleh Holding ini akan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha lokal. Kehadiran BUMN di sini adalah untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh korporasi, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat tapak. Kami berkomitmen penuh untuk menjadikan program ini sebagai model agribisnis modern yang berkelanjutan," ucap Arif. Ke depan, pengembangan ekosistem ubi kayu di Lampung akan terus diperkuat melalui riset, inovasi teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta perluasan industri hilir yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah bagi kemakmuran bangsa.

Dukung Hiilirisasi, BPDP dan Pemda Kepulauan Talaud Kuatkan Program Hulu Perkebunan Kelapa Nasional
Nasional
Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:07 WIB

Dukung Hiilirisasi, BPDP dan Pemda Kepulauan Talaud Kuatkan Program Hulu Perkebunan Kelapa

Talaud, katakabar.com -.. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Talaud kolaborasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Kementerian Keuangan, menggelar sosialisasi Program Hulu Perkebunan Kelapa untuk mendukung Program Hilirisasi Kelapa di Gereja Ebenhaezer Melonguane, Kamis (30/7) lalu. Kegiatan ini bertujuan mendorong peningkatan nilai tambah ekonomi komoditas kelapa yang selama ini masih banyak dijual dalam bentuk kopra di Kabupaten Kepulauan Talaud. Kegiatan yang dihadiri sekitar 300 peserta ini dibuka oleh Pelaksana Harian (Plh.) Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud, Daud Malensang. Kegiatan menghadirkan Kepala Divisi Penyaluran Dana Sektor Hulu Perkebunan (PDSHP) Kelapa BPDP, Kementerian Keuangan, Triana Meinarsih, serta Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Bidang Tanaman Tahunan Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara, Natalia Pangkerego, sebagai narasumber. Sosialisasi ini turut dihadiri pejabat pimpinan tinggi pratama, camat, lurah, kepala desa, penyuluh pertanian, kelompok tani dan koperasi perkebunan kelapa dari seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud. Kepala Divisi PDSHP Kelapa BPDP, Triana Meinarsih, menjbarkan luas areal perkebunan kelapa di Kabupaten Kepulauan Talaud tercatat sekitar 22.382 hektare dan menempati peringkat keenam di Sulawesi Utara. Kecamatan Kalongan, Kabaruan, dan Tampan'Amma menjadi tiga sentra penghasil utama, dengan kopra sebagai produk unggulan. Triana memetakan sejumlah tantangan di lapangan, antara lain sekitar 3.562 hektare areal tanaman kelapa tua dan rusak, serangan organisme pengganggu tumbuhan, tingginya biaya logistik antarpulau, minimnya fasilitas pengolahan pascapanen, serta dukungan pendanaan pembangunan perkebunan kelapa yang belum optimal. Di sisi lain, Triana menyampaikan Kabupaten Kepulauan Talaud memiliki sejumlah kekuatan, antara lain dominasi perkebunan rakyat, agroklimat tropis pesisir yang sesuai untuk pertumbuhan kelapa, serta posisi strategis di wilayah perbatasan Indonesia–Filipina. “Apabila kita membahas hilirisasi kelapa, kekuatan di sektor hulu harus dipersiapkan dengan baik. BPDP hadir melalui program penguatan sektor hulu perkebunan kelapa, yaitu Program Peremajaan Kelapa Rakyat dan Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa yang terdiri atas delapan bidang,” jelasnya. BPDP melalui Direktorat Penyaluran Dana Sektor Hulu menjalankan dua program strategis, yakni Program Peremajaan Kelapa Rakyat serta Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa. Program Peremajaan Kelapa Rakyat menyasar tanaman tua dan tidak produktif melalui bantuan benih unggul bersertifikat. Sedang, Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa mencakup penyediaan benih, pupuk dan pestisida; alat pascapanen dan unit pengolahan; jalan kebun dan jalan akses; alat transportasi; mesin pertanian; hingga infrastruktur pasar. Pengajuan usulan untuk kedua program dapat dilakukan melalui jalur dinas maupun jalur kemitraan. Setiap usulan akan diverifikasi secara teknis oleh dinas yang membidangi perkebunan di kabupaten/kota sebelum ditetapkan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Talaud, dalam sambutan yang disampaikan Pelaksana Harian (Plh.) Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud, Daud Malensang, menyebut kelapa bukan sekadar tanaman perkebunan, melainkan identitas daerah dan warisan leluhur yang menopang kehidupan masyarakat Talaud secara turun-temurun. Kelapa juga menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah, tetapi nilai tambahnya belum optimal karena pemanfaatannya masih didominasi penjualan dalam bentuk bahan mentah. "Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Talaud mengajak seluruh pihak untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam menyukseskan program hilirisasi kelapa guna meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus kesejahteraan masyarakat. Program tersebut juga diharapkan mendukung agenda pembangunan nasional melalui penguatan sektor perkebunan, peningkatan produktivitas, serta pengembangan hilirisasi berbasis potensi daerah," serunya. BPDP menegaskan keberhasilan penguatan sektor hulu kelapa di Kabupaten Kepulauan Talaud tidak hanya bergantung pada pendanaan dari pemerintah pusat, tetapi juga memerlukan sinergi dengan pemerintah daerah, kelembagaan pekebun, dan seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi tersebut diperlukan agar Program Peremajaan Kelapa Rakyat serta Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa dapat berjalan tepat sasaran dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan pekebun kelapa Talaud secara berkelanjutan.

Perkuat Ketapang dan Energi Nasional, Presiden RI Tinjau Hilirisasi Bioetanol PTPN I Nasional
Nasional
Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:10 WIB

Perkuat Ketapang dan Energi Nasional, Presiden RI Tinjau Hilirisasi Bioetanol PTPN I

Malang, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara I (Persero), Subholding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), menegaskan komitmen dukung ketahanan pangan dan energi nasional melalui hilirisasi tebu menjadi bioetanol. Komitmen itu ditunjukkan melalui partisipasi perusahaan Panen Raya TNI dalam rangka Mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional yang dihadiri Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7) lalu. Kegiatan tersebut turut dihadiri Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, Menteri Pertahanan, Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan, Budi Santoso, Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto beserta Anggota, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI, Tandyo Budi Revita, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI, Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI M. Tonny Harjono, Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria, Sekretaris Kabinet, Letkol Inf Teddy Indra Wijaya, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Bupati Malang, Wali Kota Malang, para kepala daerah, serta jajaran direksi BUMN. Rangkaian kegiatan diawali dengan peninjauan sejumlah booth yang menampilkan komoditas strategis dan produk hilirisasi oleh Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto, didampingi Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan dan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Salah satu booth yang dikunjungi adalah booth PTPN I (Persero). Dalam kesempatan tersebut, Presiden beserta rombongan disambut langsung oleh Direktur Utama PTPN I (Persero), Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.Si., IPU., ASEAN Eng., yang memaparkan pengembangan bioetanol hasil hilirisasi tetes tebu melalui PT Energi Agro Nusantara (Enero), anak perusahaan PTPN I (Persero). “Melalui PT Energi Agro Nusantara (Enero), kami mengolah tetes tebu menjadi bioetanol dengan kapasitas produksi 100 kiloliter per hari. Bioetanol tersebut dimanfaatkan sebagai fuel grade ethanol untuk campuran bahan bakar, termasuk Pertamax Green 95. Selain itu, kami juga menghasilkan extra neutral alcohol untuk kebutuhan kosmetik dan farmasi, spiritus, serta pupuk hayati,” jelas Rivai. Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan pangan nasional merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk TNI, Polri, pemerintah, BUMN, dunia usaha, dan masyarakat, sebagai fondasi dalam mewujudkan kemandirian bangsa. “Kegiatan ini menunjukkan ketahanan pangan bukan hanya urusan Kementerian Pertanian, tetapi merupakan gerakan nasional yang melibatkan seluruh kekuatan bangsa. Saya mengajak semua kekuatan bangsa, bersatulah untuk bangsa dan rakyat kita,” ujar Kepala Negara. Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto aminkan Presden RI. Ia menyampaikan bahwa Panen Raya TNI wujud sinergi lintas sektor dalam mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional. Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari kolaborasi antara TNI, pemerintah, BUMN, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. “Capaian ini adalah hasil dari sinergi TNI, pemerintah, BUMN, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Kami memohon arahan Bapak Presiden agar seluruh program yang kami laksanakan tetap selaras dengan kebijakan pemerintah dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia,” jelas Panglima TNI. Panglima TNI juga menekankan hilirisasi tebu menghasilkan berbagai produk bernilai tambah, di antaranya molase, bioetanol, bahan baku industri dan farmasi, pupuk organik, serta produk turunan lainnya yang memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional. Sejalan dengan upaya tersebut, PTPN I (Persero) terus memperkuat hilirisasi tebu melalui pengembangan bioetanol sebagai salah satu energi terbarukan. Selain dimanfaatkan sebagai fuel-grade ethanol untuk campuran bahan bakar, bioetanol yang dihasilkan juga menjadi bahan baku berbagai produk turunan, seperti extra neutral alcohol untuk industri kosmetik dan farmasi, spiritus, serta pupuk hayati. Pengembangan hilirisasi ini menjadi bagian dari komitmen PTPN I (Persero) dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan melalui inovasi yang berkelanjutan. Sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), PTPN I terus memperkuat transformasi industri perkebunan melalui hilirisasi komoditas strategis, pengembangan energi terbarukan, dan inovasi berbasis keberlanjutan. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri perkebunan Indonesia di tingkat global.

Hilirisasi Nikel di SulaweEkonsi Potensi Dorong Ekonomi Lokal Tangguh Nasional
Nasional
Jumat, 31 Juli 2026 | 12:07 WIB

Hilirisasi Nikel di SulaweEkonsi Potensi Dorong Ekonomi Lokal Tangguh

Jakarta, katakabar.com - Hilirisasi nikel dinilai akan mampu menciptakan nilai tambah melalui peningkatan produksi hasil tambang, sekaligus berdampak langsung dalam mendorong ketangguhan ekonomi lokal yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan industri. Salah satu proyek yang tengah dikembangkan adalah fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah. Proyek ini diamanatkan kepada PT Vale Indonesia Tbk (INCO), anggota Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID. Pengamat Lingkungan, Irwan Ridwan, mengatakan proyek hilirisasi seperti HPAL pada dasarnya juga dirancang untuk meningkatkan ekonomi lokal. Menurutnya, aspek tersebut umumnya telah dibahas dalam tahap pra-studi kelayakan (pre-feasibility study/Pra-FS) hingga studi kelayakan (feasibility study/FS) menjadi bagian dari untuk mendorong ketangguhan ekonomi nasional dan ekonomi lokal. “Seharusnya akan memberi pengaruh (positif) terhadap ekonomi lokal dan (peningkatan) kualitas sosial masyarakat dan ini sdh dibahas dalam Pra-FS dan FS suatu proyek investasi,” kata Irwan. Dia berharap peningkatan ekonomi lokal dan peningkatan kualitas sosial masyarakat dijalankan sesuai komitmen saat operasional berjalan, bukan hanya sekadar sebagai formalitas untuk memenuhi kewajiban. Diketahui, proyek HPAL Sambalagi merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali yang masuk dalam proyek strategis nasional untuk mempercepat hilirisasi mineral di Indonesia. Proyek tersebut memiliki nilai investasi mencapai US$2 miliar dan diharapkan memperkuat ekosistem industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) nasional melalui pengolahan nikel bernilai tambah tinggi. Inisiatif Anggota Grup MIND ID ini akan mampu mendorong multiplier effect yang sangat besar terhadap pembangunan ekonomi nasional sekaligus sosial masyarakat sekitar daerah operasionalnya di Sulawesi. Setali tiga uang, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny Arniwaty Lamadjido, mengapresiasi pengembangan kawasan industri yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan kualitas hidup masyarakat. Menurutnya, pendekatan inklusif ini penting untuk memastikan manfaat investasi dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat setempat. “Kolaborasi yang memberi ruang bagi UMKM lokal serta keterbukaan terhadap fasilitas publik menjadi model pembangunan kawasan industri yang inklusif dan berkelanjutan bagi Sulawesi Tengah,” jelas Reny. Dampak positif program hilirisasi nikel tersebut tecermin pada kinerja perekonomian daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah pada Triwulan I-2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,32 persen secara tahunan (year-on-year). Dari sisi produksi, pendorong utama pertumbuhan tersebut berasal dari lapangan usaha Industri Pengolahan yang mengalami pertumbuhan tertinggi mencapai 15,09 persen.

Tutup PERISAI 2026, Airlangga Hartarto Tegaskan Riset dan Hilirisasi Sawit Perkuat KEN Sawit
Sawit
Jumat, 24 Juli 2026 | 12:11 WIB

Tutup PERISAI 2026, Airlangga Hartarto Tegaskan Riset dan Hilirisasi Sawit Perkuat KEN

Jakarta, katakabar.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan riset, inovasi, dan hilirisasi menjadi kunci memperkuat daya saing industri kelapa sawit sekaligus mendukung ketahanan ekonomi nasional. Hal tersebut disampaikan Airlangga saat menutup Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Jakarta. Ia menyampaikan industri kelapa sawit tetap menjadi salah satu sektor strategis nasional dengan kontribusi sekitar 3,5 persen terhadap PDB, nilai ekspor mencapai USD30,87 miliar, serta penerimaan negara dari pungutan ekspor dan bea keluar sebesar Rp53,13 triliun pada 2025. Menurutnya, kontribusi tersebut harus terus diperkuat melalui peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, dan pengembangan produk hilir bernilai tambah. "Implementasi Biodiesel B50 menunjukkan bahwa riset, kebijakan, investasi, dan kapasitas industri mampu berjalan selaras. Ke depan, keberhasilan ini harus menjadi pijakan untuk mengembangkan hilirisasi menuju produk bernilai tambah seperti Green Diesel, Sustainable Aviation Fuel (SAF), dan bensin sawit," jelas Airlangga. Airlangga menyampaikan apresiasi kepada BPDP dan seluruh pemangku kepentingan yang telah berkontribusi dalam pengembangan industri kelapa sawit nasional. Ia berharap PERISAI tidak hanya menjadi forum pertukaran gagasan, tetapi mampu melahirkan kolaborasi nyata yang mempercepat penerapan dan komersialisasi hasil riset sehingga memberikan manfaat bagi industri dan masyarakat. Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, mengatakan BPDP akan terus memperkuat dukungan terhadap riset dan inovasi sebagai bagian dari transformasi industri perkebunan Indonesia. "PERISAI menjadi wadah untuk mempertemukan peneliti, pemerintah, dunia usaha, dan investor agar hasil riset dapat diimplementasikan serta memberikan nilai tambah bagi industri dan perekonomian nasional," ucap Eddy. Hingga saat ini, BPDP telah salurkan dana riset sebesar Rp921 miliar dengan melibatkan 109 lembaga penelitian dan sekitar 1.900 peneliti. Pada 2026, BPDP juga menandatangani 56 kontrak riset baru, termasuk kajian pengembangan kelapa nasional dan kesiapan infrastruktur implementasi Biodiesel B50. PERISAI 2026 diikuti sebanyak 1.500 peserta, dan menghadirkan seminar ilmiah, pameran inovasi, business matching, Forum Lembaga Pendidikan Penerima Beasiswa SDM Perkebunan, final Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa, hingga peluncuran Pedoman Pengarusutamaan Gender di Industri Kelapa Sawit Indonesia.

Dorong Hilirisasi Sawit, PalmCo Serap 6,8 Juta Bibit Bersertifikat Sawit
Sawit
Kamis, 23 Juli 2026 | 17:07 WIB

Dorong Hilirisasi Sawit, PalmCo Serap 6,8 Juta Bibit Bersertifikat

Jakarta, katakabar.com - Pemerintah terus memperkuat sinergi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mempercepat hilirisasi industri kelapa sawit nasional. Sejalan dengan agenda tersebut, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo terus memperkuat transformasi bisnis sekaligus meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan sawit rakyat sebagai fondasi pengembangan industri hilir nasional. Dukungan tersebut ditegaskan Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan dalam Workshop AKPSI & Sawit Expo bertajuk Sawit untuk Rakyat yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (7/7) lalu. Direktur Jenderal Perkebunan Kementan RI, Ali Jamil, melalui Direktur Tanaman Sawit dan Aneka Palma, Iim Mucharam, mengatakan pemerintah memiliki mandat untuk mengawal dan mendukung BUMN dalam mempercepat agenda hilirisasi nasional. "Kami memiliki tugas dari Bapak Presiden untuk mengawal dan mendukung perusahaan BUMN, khususnya PalmCo dan Agrinas, dalam percepatan hilirisasi," kata Iim Mucharam. Pada forum tersebut, Iim memaparkan pentingnya pengembangan industri sawit berkelanjutan sebagai fondasi hilirisasi sekaligus instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penguatan sektor hulu, peningkatan produktivitas petani, keberlanjutan, serta pengembangan industri hilir dinilai harus berjalan dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, yang diwakili Kepala Divisi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Abdul Muthalib, mengatakan PalmCo tengah menjalankan transformasi besar untuk memperkuat peran perusahaan, mulai dari sektor hulu hingga memasuki industri hilir sebagai bagian dari agenda transformasi Holding Perkebunan Nusantara. Menurutnya, transformasi serupa juga perlu dilakukan secara lebih luas di industri sawit nasional. Terlebih, sekitar 42 persen luas perkebunan kelapa sawit nasional dikelola oleh petani rakyat sehingga peningkatan produktivitas menjadi faktor utama dalam memperkuat daya saing industri. "Dari sisi sawit rakyat, kami berharap petani dapat mengubah pola pikir. Dalam mengelola kelapa sawit, jangan hanya berpikir mengenai harga. Hal yang perlu diperhatikan adalah produktivitas karena peningkatan produktivitas akan menentukan nilai ekonomi yang diterima petani," ucap Abdul. Sebagai bagian dari komitmen mendukung produktivitas sawit rakyat, PalmCo terus memperluas pelaksanaan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), transfer pengetahuan, penyediaan bibit unggul bersertifikat, pendampingan teknis, hingga penguatan kelembagaan petani. Perusahaan juga menjalankan sejumlah program strategis, antara lain penerapan pola single management, avalis produksi, pemetaan geospasial, serta fasilitasi sertifikasi minyak sawit berkelanjutan melalui Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Hingga 2025, program sertifikasi tersebut telah mencakup areal seluas 9.267 hektare dengan melibatkan 4.544 kepala keluarga. Pada aspek penyediaan bahan tanam, sebanyak 6,8 juta bibit unggul bersertifikat telah diserap untuk mendukung pengembangan sekitar 47 ribu hektare kebun yang melibatkan lebih dari 23 ribu petani. PalmCo juga memberikan bimbingan dan pelatihan teknis serta berperan sebagai offtaker bagi areal koperasi unit desa (KUD) dengan luas lebih dari 33 ribu hektare. Selain itu, perusahaan terus memperkuat kapasitas kelembagaan petani agar koperasi mampu menjadi pusat transfer pengetahuan sekaligus offtaker bagi koperasi lainnya. Hingga kini, sebanyak 90 KUD di berbagai wilayah Indonesia telah menerima pendampingan administrasi, teknis, dan budidaya dari perusahaan. Dalam paparannya, Abdul turut menekankan pentingnya percepatan peremajaan tanaman untuk meningkatkan produktivitas kebun rakyat. Ia mencontohkan produktivitas tanaman menghasilkan tahun pertama (TM I) di lingkungan PTPN mampu mencapai sekitar 18 ton per hektare. "Petani tidak perlu takut melakukan replanting. Dengan peremajaan yang tepat, penggunaan bibit unggul bersertifikat, dan penerapan praktik budidaya yang baik, produktivitas dapat meningkat secara signifikan," ujarnya. Workshop AKPSI & Sawit Expo turut dihadiri Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko BPDP Zaid Burhan Ibrahim, Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim, Anggota Dewan Energi Nasional Satya Widya Yudha, serta Direktur Kemitraan dan Plasma PT Agrinas Palma Nusantara Seger Budiarjo. Melalui kolaborasi antara pemerintah, BUMN, pemerintah daerah, kelembagaan petani, dan pelaku industri, Holding Perkebunan Nusantara optimistis percepatan hilirisasi kelapa sawit akan semakin memperkuat nilai tambah industri nasional, sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan jutaan petani yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok sawit Indonesia.

PERISAI 2026, BPDP: Wadah Percepat Hilirisasi Hasil Riset dan Perkuat Daya Saing Industri Sawit Berkelanjutan Sawit
Sawit
Kamis, 23 Juli 2026 | 14:10 WIB

PERISAI 2026, BPDP: Wadah Percepat Hilirisasi Hasil Riset dan Perkuat Daya Saing Industri Sawit Berkelanjutan

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kembali menyelenggarakan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 sebagai wadah kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, industri, asosiasi, investor, pekebun, mahasiswa, dan masyarakat guna mempercepat hilirisasi hasil riset serta memperkuat daya saing industri sawit Indonesia berkelanjutan. Angkat tema "Shaping the Palm Oil Industry Ecosystems for a Sustainable Future", PERISAI 2026 menegaskan pentingnya transformasi industri sawit melalui inovasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, menegaskan riset harus mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. "Arah BPDP ke depan adalah mempertemukan kebutuhan industri (market pull), inovasi (technology push), dan kebutuhan masyarakat. Melalui PERISAI, kami ingin mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi memberikan dampak nyata bagi kemajuan industri dan kesejahteraan masyarakat," jelasnya. Kata Eddy, Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia harus mampu menjadi pemimpin dalam inovasi dan teknologi. Di tengah tantangan perubahan iklim, digitalisasi, bioekonomi, serta tuntutan keberlanjutan, riset merupakan investasi strategis bangsa yang akan menentukan produktivitas dan daya saing industri sawit di masa depan. PERISAI 2026 diikuti sekitar 1.300 peserta yang berasal dari kementerian/lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pelaku industri, asosiasi, investor, pekebun, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Selama dua hari penyelenggaraan, kegiatan ini menghadirkan seminar nasional, talkshow, business matching, Grant Riset Showcase, Kompetisi Inovasi Riset Mahasiswa, pameran hasil riset dan teknologi, demonstrasi teknologi, serta exhibition yang diikuti berbagai perusahaan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, startup, dan mitra industri. Total 24 hasil Grant Riset Sawit BPDP dan 10 inovasi riset mahasiswa dipamerkan kepada publik. Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan demonstrasi berbagai teknologi unggulan, seperti Beton Precast Foam Concrete berbasis Biomassa Sawit, Drone Penyerbuk Sawit, serta Astaxanthin dari Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai contoh inovasi yang siap dihilirisasikan. Sejak Program Grant Riset Sawit dimulai pada 2015 lalu, BPDP telah mendukung 466 kontrak penelitian yang melibatkan 109 lembaga litbang, 1.873 peneliti, dan 383 mahasiswa. Program tersebut telah menghasilkan 395 publikasi ilmiah dan 84 paten. Pada 2026, BPDP juga menandatangani 56 kontrak riset baru, termasuk kajian pengembangan kelapa nasional dan kesiapan implementasi B50, dengan ruang lingkup penelitian yang mencakup budidaya, bioenergi, oleokimia, biomaterial, lingkungan, sosial ekonomi, hingga teknologi informasi. Di bidang pengembangan sumber daya manusia, BPDP telah bekerja sama dengan 44 perguruan tinggi, memberikan beasiswa kepada 13.265 mahasiswa, serta melatih lebih dari 30 ribu petani dan pekebun guna mempercepat adopsi inovasi di lapangan. Hingga saat ini, lebih dari 100 hasil riset BPDP telah memasuki tahap komersialisasi, mulai dari penandatanganan Letter of Intent (LoI) dengan industri hingga melahirkan startup berbasis hasil riset. Ke depan, BPDP akan terus berperan sebagai katalis kolaborasi untuk mewujudkan Indonesia sebagai Global Hub for Sustainable Palm Oil Research and Innovation. Melalui PERISAI 2026, BPDP berharap semakin banyak inovasi yang dapat diterapkan di lapangan, memperkuat daya saing industri sawit nasional, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi pekebun, industri, dan masyarakat.