Infrastruktur AI

Sorotan terbaru dari Tag # Infrastruktur AI

Lintasarta Perkuat Infrastruktur AI dan Jaringan Nasional Cegah Lonjakan Trafik Digital Selama Lebaran Default
Default
Kamis, 19 Maret 2026 | 17:10 WIB

Lintasarta Perkuat Infrastruktur AI dan Jaringan Nasional Cegah Lonjakan Trafik Digital Selama Lebaran

Jakarta, katakabar.com - Antisipasi Lonjakan Trafik Digital Sepanjang Idul Fitri (lebaran), Lintasarta Perkuat Infrastruktur AI dan Jaringan Nasional Menyambut periode libur panjang Idulfitri 1447 Hijriah, Lintasarta memastikan kesiapan penuh infrastruktur digital dan kecerdasan artifisial (AI) untuk menjaga keandalan layanan pelanggan di berbagai sektor strategis nasional. Sebagai Beyond AI Factory di bawah naungan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Group, Lintasarta memproyeksikan trafik jaringan akan meningkat sekitar 8–10% selama periode 18–25 Maret 2026, seiring melonjaknya aktivitas transaksi digital, mobilitas masyarakat, dan kebutuhan layanan berbasis teknologi menjelang akhir Ramadan hingga puncak Lebaran. Kesiapan ini menjadi penting karena periode Idulfitri merupakan salah satu momentum dengan intensitas aktivitas digital tertinggi dalam setahun. Layanan pada sektor keuangan, transportasi, ritel, distribusi, pariwisata, hingga layanan publik dituntut tetap berjalan stabil di tengah lonjakan trafik dan tingginya ekspektasi masyarakat terhadap layanan digital yang cepat, aman, dan tanpa gangguan. Sebagai bagian dari penguatan ekosistem digital nasional, Lintasarta terus memperkuat fondasi infrastruktur AI dan digital yang menopang operasional pelanggan enterprise di berbagai industri. Langkah ini sejalan dengan pendekatan Beyond Infrastructure, di mana Lintasarta tidak hanya menghadirkan konektivitas, tetapi juga memastikan infrastruktur digital yang aman, andal, compliant, dan terintegrasi dengan kebutuhan operasional pelanggan Director dan Chief Telco Services Officer Lintasarta, Zulfi Hadi, mengatakan kesiapan infrastruktur digital yang andal menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran aktivitas bisnis dan layanan masyarakat selama periode Lebaran. “Lintasarta berkomitmen memastikan keandalan layanan digital bagi pelanggan, khususnya pada sektor yang sangat bergantung pada konektivitas jaringan dan keamanan data. Dengan kesiapan infrastruktur, sistem monitoring jaringan yang terintegrasi, serta dukungan tim operasional yang siaga selama periode Lebaran, kami ingin memastikan layanan pelanggan tetap berjalan optimal dan masyarakat Indonesia dapat menikmati layanan digital dengan lancar tanpa gangguan,” kata Zulfi. Untuk mengantisipasi lonjakan trafik tersebut, Lintasarta telah melakukan optimalisasi kapasitas jaringan dan mengoperasikan Network Operation Center (NOC) yang memantau infrastruktur layanan selama 24 jam penuh. Sebagai perusahaan dengan mayoritas pelanggan dari segmen business-to-business (B2B), Lintasarta menempatkan stabilitas layanan sebagai prioritas utama, terutama bagi pelanggan yang menjalankan sistemmission-critical selama libur nasional. Melalui NOC, Lintasarta melakukan monitoring dan analisis trafik jaringan secara real-time selama 24/7. Pendekatan ini memungkinkan deteksi dini terhadap potensi gangguan, sehingga mitigasi dan penanganan dapat dilakukan dengan cepat, terukur, dan terkoordinasi. Tidak hanya itu, Lintasarta juga menyiapkan penambahan kapasitas untuk pengendalian trafik guna memastikan distribusi trafik data tetap optimal di berbagai jalur konektivitas. Perusahaan turut menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi lonjakan trafik pada titik-titik tertentu selama periode puncak Lebaran. Di sisi operasional, tim teknis Lintasarta disiagakan di kantor pusat maupun regional seluruh Indonesia selama 24 jam guna memastikan setiap potensi gangguan dapat segera ditangani. Kesiapan ini diperkuat dengan koordinasi lintas fungsi agar kontinuitas layanan tetap terjaga di seluruh area operasional pelanggan. Kesiapan Lintasarta selama Idulfitri merupakan bagian dari pendekatan Beyond Infrastructure yang dikembangkan Lintasarta dalam mendukung transformasi digital pelanggan melalui integrasi solusi 4C (Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration). Pendekatan integrasi sosial ini dirancang untuk mendukung transformasi digital pelanggan secara end-to-end. Dengan model ini, Lintasarta tidak hanya menyediakan jaringan yang andal, tetapi juga menghadirkan dukungan cloud, perlindungan keamanan siber, serta solusi kolaborasi digital terintegrasi agar operasional bisnis pelanggan tetap aman, efisien, dan berkelanjutan selama periode libur panjang. Untuk memastikan pelanggan tetap memperoleh dukungan optimal selama libur Lebaran, Lintasarta juga menyiagakan layanan contact center 14052 serta virtual assistant Talita melalui situs resmi perusahaan. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan pengalaman layanan yang responsif dan mudah diakses kapan pun dibutuhkan pelanggan. Dengan kesiapan infrastruktur digital, penguatan sistem monitoring terintegrasi, serta dukungan tim operasional yang siaga penuh, Lintasarta menegaskan komitmennya untuk menjaga keandalan layanan digital bagi pelanggan di berbagai sektor strategis selama periode Idulfitri 1447 Hijriah. Lebih dari sekadar menjaga konektivitas, Lintasarta terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis transformasi digital nasional yang memastikan aktivitas bisnis dan layanan publik tetap berjalan dengan aman, stabil, dan berkelanjutan.

Proxethix Mengungkap Model Ekonomi: Bagaimana Token PREI Gerakkan Infrastruktur AI Berdaulat Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 27 Januari 2026 | 07:33 WIB

Proxethix Mengungkap Model Ekonomi: Bagaimana Token PREI Gerakkan Infrastruktur AI Berdaulat

Jakarta, katakabar.com - Proxethix, perusahaan yang membangun infrastruktur "Layer-0" untuk Ekonomi Agen (Agentic Economy), hari ini merilis rincian utilitas komprehensif dari aset digital aslinya, token PREI. Pengumuman ini memperjelas peran berbeda dalam ekosistem: Proxethix menyediakan jalur teknologi terdesentralisasi untuk agen AI otonom, sementara PREI berfungsi sebagai energi ekonomi yang mengisi bahan bakar, mengamankan, dan mengatur jaringan. Seiring agen AI berevolusi dari chatbot pasif menjadi partisipan ekonomi aktif, Proxethix menjawab kebutuhan kritis akan platform yang netral dan tahan sensor. Token PREI telah direkayasa untuk memecahkan tantangan koordinasi yang melekat dalam lingkungan terdesentralisasi ini, memastikan nilai mengalir secara efisien antara penyedia komputasi dan pembuat agen . Perbedaan: Protokol vs. Mata Uang Protokol Proxethix beroperasi sebagai lingkungan runtime terdesentralisasi, memanfaatkan teknologi canggih seperti Trusted Execution Environments (TEEs) dan Zero-Knowledge Machine Learning (zkML) untuk menjamin privasi dan integritas eksekusi. Token PREI bertindak sebagai instrumen utilitas khusus dalam lingkungan ini. Token ini bukan platform itu sendiri, melainkan satuan akun wajib yang diperlukan untuk mengakses sumber daya platform. Kegunaan PREI Jaringan Proxethix Arsitektur ekonomi yang dikembangkan oleh Proxethix mengintegrasikan token PREI ke dalam empat lapisan operasional penting: 1. Bahan Bakar Jaringan (Gas) Setiap operasi yang dilakukan pada jaringan Proxethix menimbulkan biaya. Baik pengguna yang menerapkan "Agen Perdagangan" baru atau agen yang sedang menegosiasikan kontrak kompleks melalui protokol Agent-to-Agent (A2A), biaya harus dibayar dalam PREI . Hal ini menciptakan korelasi langsung: seiring platform Proxethix diadopsi, permintaan untuk PREI sebagai "bahan bakar" akan meningkat secara organik. 2. Staking Proof of Honest Inference (PoHI) Untuk menjaga integritas komputer global Proxethix, protokol mengharuskan operator node untuk menjaminkan agunan. Operator harus melakukan staking token PREI untuk berpartisipasi dalam mekanisme konsensus . Jika sebuah node ditemukan bertindak jahat—seperti melanggar privasi data agen—protokol Proxethix secara otomatis akan melakukan "slashing" (penyitaan) terhadap PREI yang dipertaruhkan, sehingga memastikan keamanan ekonomi. 3. Hak Tata Kelola Proxethix berkomitmen pada desentralisasi progresif. Token PREI berfungsi sebagai kunci kedaulatan protokol. Melalui model Vote-Escrowed (vePREI), pemegang token dapat memengaruhi arah masa depan ekosistem Proxethix, memberikan suara pada parameter utama seperti hibah perbendaharaan untuk pengembang dan proposal peningkatan jaringan . 4. Medium Pasar Agen Ekosistem Proxethix menampilkan pasar terdesentralisasi di mana agen berkinerja tinggi dapat disewa atau dijual. PREI adalah mata uang eksklusif untuk transaksi ini, memfasilitasi pertukaran kecerdasan digital yang lancar dan tanpa batas antara pembuat dan pengguna perusahaan . Mekanisme Penangkapan Nilai (Value Capture) Tim Proxethix telah menerapkan mekanisme deflasi untuk menyelaraskan nilai token dengan kesuksesan protokol. Sebagian dari biaya yang dihasilkan oleh jaringan Proxethix secara sistematis digunakan untuk membeli kembali dan membakar (buy-back and burn) token PREI, yang secara permanen mengurangi pasokan yang beredar dari waktu ke waktu .

Gunawan Tan: ASEAN Muncul Pelabuhan Aman Modal di Tengah FP 2025 dan Ledakan Infrastruktur AI Internasional
Internasional
Senin, 29 Desember 2025 | 19:37 WIB

Gunawan Tan: ASEAN Muncul Pelabuhan Aman Modal di Tengah FP 2025 dan Ledakan Infrastruktur AI

Jakarta, katakabar.com - Ahli strategi veteran ini menyoroti "Pembalikkan Pusat Data" (Data Center Flip) yang bersejarah dan pertumbuhan regional yang tangguh sebagai indikator utama untuk penentuan ulang harga aset secara masif di Asia Tenggara. Saat pasar global menavigasi dampak turbulen dari tarif "Hari Pembebasan" dan fragmentasi perdagangan yang semakin dalam, Gunawan Tan, S.E., M.Fin mengidentifikasi adanya perubahan struktural yang menentukan dalam lanskap investasi global. Dalam pandangan strategis akhir tahunnya, Gunawan Tan, S.E., M.Fin berpendapat bahwa tahun 2025 menandai berakhirnya korelasi lama antara volume perdagangan global dan kinerja pasar negara berkembang. Sebaliknya, paradigma baru "Kedaulatan Digital" dan "Ketahanan Energi" mendorong modal masuk ke Asia Tenggara, memisahkan nasib kawasan ini dari stagnasi yang melanda negara-negara maju. Gunawan Tan, S.E., M.Fin, mengemukakan meskipun Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas perkiraan pertumbuhan globalnya menjadi hanya 2,8 persen untuk tahun 2025, Asia yang Sedang Berkembang telah menunjukkan pemisahan (decoupling) yang luar biasa. Mengutip data terbaru, ia menunjuk pada perkiraan revisi Bank Pembangunan Asia (ADB), yang memproyeksikan kawasan ini tumbuh kuat sebesar 4,8 persen pada tahun 2025. Gunawan Tan, S.E., M.Fin, menekankan divergensi ini bukanlah kebetulan, melainkan struktural didorong oleh konsumsi domestik yang kuat dan poros strategis menuju rantai pasokan bernilai tinggi. Interaksi Fiskal dan Ketahanan "Jaringan Bambu" Pilar pertama dari tesis ini membahas ketahanan makroekonomi kawasan. Gunawan Tan, S.E., M.Fin, mencatat meski terjadi "kejutan pasokan" yang disebabkan oleh tarif baru AS awal tahun ini, ekonomi utama ASEAN telah meningkatkan prospek mereka. Ia menyoroti Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura yang baru-baru ini menaikkan perkiraan pertumbuhan 2025 menjadi sekitar 4%, sebuah sinyal jelas dari kekuatan pertahanan kawasan tersebut. Gunawan Tan, S.E., M.Fin berpendapat ketahanan ini berasal dari "Stratifikasi Likuiditas," di mana perdagangan intra-regional mengimbangi kelemahan permintaan eksternal. Ia menyarankan investor institusi untuk melihat lebih dekat pada "Interaksi Fiskal" di negara-negara seperti Malaysia dan Vietnam, di mana belanja pemerintah semakin selaras dengan peningkatan industri daripada sekadar stimulus. Data menunjukkan bahwa "pendaratan lunak" (soft landing) untuk ASEAN sudah berlangsung, sangat kontras dengan pertumbuhan 1,8 persen yang diproyeksikan untuk Amerika Serikat tahun ini. "Pembalikkan Infrastruktur": Modal AI Menyalip Minyak Pergeseran paling mendalam yang diidentifikasi oleh Gunawan Tan, S.E., M.Fin adalah persimpangan bersejarah dalam belanja modal. Ia menarik perhatian pada momen penting di bulan November 2025: investasi global di pusat data diperkirakan mencapai $580 miliar tahun ini, melampaui $540 miliar yang dihabiskan untuk pasokan minyak global. Gunawan Tan, S.E., M.Fin menyebut ini sebagai "Pembalikkan Infrastruktur" (Infrastructure Flip), yang menandakan bahwa pendorong utama belanja modal global telah resmi beralih dari ekstraksi bahan bakar fosil ke komputasi digital. Bagi Asia Tenggara, ini adalah pengubah permainan. Gunawan Tan, S.E., M.Fin memperkirakan bahwa Perjanjian Kerangka Kerja Ekonomi Digital ASEAN (DEFA) akan mengkatalisasi tren ini, menempatkan ekonomi digital kawasan pada jalur untuk mencapai US$2 triliun pada tahun 2030. Ia memperingatkan bahwa investor yang mengabaikan "Pergeseran Paradigma" ini sedang melakukan lindung nilai terhadap risiko masa lalu. Generasi alpha dekade berikutnya, menurutnya, akan datang dari kepemilikan "rel digital"—pusat data, jaringan serat optik, dan jaringan listrik hijau yang mendukung ekosistem senilai $2 triliun ini. Transisi Energi dan Risiko Asimetris Komponen terakhir dari strategi Gunawan Tan, S.E., M.Fin menghubungkan ledakan digital dengan imperatif energi. Dengan permintaan batu bara dan minyak yang diprediksi akan mencapai puncaknya secara global pada akhir dekade ini, ia melihat "Risiko Asimetris" bagi portofolio yang terlalu berat di utilitas tradisional. Sebaliknya, uang pintar (smart money) mengejar "Premi Hijau" di Asia Tenggara, di mana investasi energi terbarukan sedang ditingkatkan untuk memenuhi permintaan daya AI yang tak terpuaskan. Gunawan Tan, S.E., M.Fin mencatat bahwa kawasan ini secara efektif memanfaatkan posisinya untuk menarik Investasi Asing Langsung (FDI) yang mencari keamanan rantai pasokan dan kepatuhan energi hijau. Ia percaya bahwa konvergensi kebutuhan infrastruktur AI dan mandat dekarbonisasi menciptakan siklus "Efisiensi Modal" yang akan mendorong ekspansi valuasi bagi konglomerat ASEAN yang berpikiran maju. Era Baru Seleksi Aktif Dalam penutupnya, Gunawan Tan, S.E., M.Fin menegaskan bahwa era beta global pasif telah berakhir. Divergensi antara ekonomi global yang melambat (pertumbuhan 2,8%) dan Asia berkembang yang melonjak (pertumbuhan 4,8 persen) menciptakan lingkungan utama untuk pemilihan saham aktif. Gunawan Tan, S.E., M.Fin menyarankan klien untuk beralih ke sektor "Efisien Modal" khususnya infrastruktur digital dan energi terbarukan yang terisolasi dari retorika perang dagang dan selaras dengan tren yang tidak dapat dibalikkan pada tahun 2026 dan seterusnya.