Kadin Sumut

Sorotan terbaru dari Tag # Kadin Sumut

Kadin Sumut Dukung Palmex Medan 2025 Demi Implementasi Industri Sawit Berkelanjutan Sawit
Sawit
Rabu, 08 Oktober 2025 | 16:10 WIB

Kadin Sumut Dukung Palmex Medan 2025 Demi Implementasi Industri Sawit Berkelanjutan

Medan, katakabar.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Sumatera Utara dukung pergelaran pameran industri kelapa sawit, Palmex Medan 2025, yang berlangsung dari 7 hingga 9 Oktober 2025 di Santika Dyandra Premiere & Convention Hotel. Pergelaran ini diharapkan dapat berfungsi sebagai platform yang dinamis bagi penyedia teknologi, pemilik perkebunan, penyulingan, dan pemangku kepentingan industri untuk berjejaring, bertukar wawasan, dan mengeksplorasi peluang bisnis baru. Ketua Kadin Provinsi Sumatera Utara, Firsal Dida Mutyara, yang buka pameran, dihadiri CEO of Fireworks Trade Media Group, Mr. Kenny Yong, Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Chairman of the Board of Trustees Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Dr. M. Windrawan Inantha, Deputy Director-Market Transformation (Indonesia), Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Terus, Sahat M. Sinaga, Chairman Indonesian Palm Oil Board (IPOB), Ernest Gunawan, Secretary General Indonesia Biofuel Producer Association (APROBI), para delegasi perusahaan dan lainnya. Ketua Kadin Provinsi Sumatera Utara, Firsal Dida Mutyara, mengutarakan sektor perkebunan budidaya kelapa sawit penyumbang terbesar pergerakan perekonomian di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatera Utara. Hal ini terlihat, ujar Firsal, dari data tahun 2023 mengenai provinsi yang menjadi penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia. Misalnya Riau dengan volume produksi sebesar 8,79 juta ton setara 18,7 persen dari total produksi nasional, Kalimantan Tengah dengan volume produksi 8,55 juta ton setara 18,2 persen, Kalimantan Barat dengan volume produksi 5,29 juta ton setara 11,3 persen, Sumatera Utara dengan volume produksi 5,02 juta ton setara 10,7 persen, Kalimantan Timur dengan volume produksi 4,22 juta ton setara 9 persen. Lalu, Sumatera Selatan dengan volume produksi 4,12 juta ton setara 8,8 persen, Jambi dengan volume produksi 2,53 juta ton setara 5,4 persen, Sumatera Barat dengan volume produksi 1,42 juta ton setara 3 persen, Kalimantan Selatan dengan volume produksi 1,33 juta ton setara 2,8 persen, dan Aceh dengan volume produksi 1,01 juta ton setara 2,1 persen dari total produksi nasional. "Kepedulian dan komitmen kami akan sektor pertumbuhan, dan perkembangan kelapa sawit sangat tinggi. Makanya kami yakin sektor perkebunan budidaya kelapa sawit merupakan penyumbang terbesar dalam pergerakan perekonomian di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara," tuturnya, dilansir dari laman warta ekonomi, Rabu sore. Kata Firsal, praktik yang lebih berkelanjutan produksi minyak sawit ramah lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial perlu untuk didukung. "Prinsip berkelanjutan, dan energi terbarukan terus kami sampaikan kepada para pengusaha di Sumatera Utara khususnya dari kalangan pengusaha kelapa sawit agar target pemerintah net zero carbon dapat tercapai," jelasnya. Pameran PALMEX Medan 2025 perlu didukung, ulas Firsal, sebab pameran ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya industri kelapa sawit dan peran pentingnya dalam perekonomian regional. "Kadin Provinsi Sumatera Utara mendukung pelaksanaan kegiatan ini dan berharap seluruh organisasi pengusaha terutama dari kalangan kelapa sawit dapat bergabung bersama Kadin sebagai mitra pemerintah dalam memajukan kelapa sawit di Sumatera Utara," tegasnya. Kita berharap, imbuh Firsal, Palmex Medan 2025 dapat menjadi wadah bagi para pelaku industri kelapa sawit untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inovasi terbaru. Apalagi, industri kelapa sawit di antara sektor yang sangat penting bagi perekonomian Sumatera Utara dan Indonesia. "Jadi, kami sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh panitia Palmex Medan 2025 mempromosikan, dan mengembangkan industri ini. Kami berharap Palmex Medan 2025 ke 15 ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kinerja industri kelapa sawit di Sumatera Utara dan Indonesia secara keseluruhan. Kami siap mendukung dan bekerja sama dengan semua pihak untuk mencapai tujuan tersebut," terangnya. Firsal sampaiakan apresiasi kepada PT Fireworks Indonesia yang telah menginisiasi pameran tersebut. "Semoga acara ini dapat menjadi sukses besar dan memberikan manfaat bagi semua peserta," sebutnya. Pada 2025 ini Palmex Medan 2025 angkat tema "Technology. Traceability. Transformation: Future-Proofing Palm Oil in North Sumatra". Acara tahun ini mempertemukan lebih dari 250 peserta pameran dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Jerman, India, Korea, Cina, dan sekitarnya, menampilkan inovasi mutakhir untuk rantai nilai minyak sawit global. Palmex Medan telah berkembang menjadi pertemuan internasional, menarik 6.000 pengunjung bisnis dari seluruh Asia dan terutama pengambil keputusan di wilayah Sumatera Indonesia. Adapun sorotan utama dari acara ini meliputi konferensi "Mempercepat Perubahan di Seluruh Rantai Nilai Minyak Sawit Asia". Kegiatan ini mempertemukan asosiasi terkemuka seperti RSPO, DMSI, APROBI, PASPI, dan Kementerian Perindustrian. Kemudian seminar teknologi kelapa sawit Indonesia yang menampilkan presentasi berwawasan ke depan dari penyedia teknologi global dan inovator yang mendorong kancah teknologi di industri kelapa sawit.

Temasuk Sawit, Kadin Sumut: Hilirisasi dan Dekarbonisasi Dongkrak Ekonomi 2024 Sumut
Sumut
Sabtu, 20 Januari 2024 | 15:35 WIB

Temasuk Sawit, Kadin Sumut: Hilirisasi dan Dekarbonisasi Dongkrak Ekonomi 2024

Medan, katakabar.com - Hilirisasi dan dekarbonisasi dua hal dapat mendorong progres atau pertumbuhan ekonomi pada 2024 ini. "Hilirisasi ini sangat penting lantaran meningkatkan nilai tambah. Untuk dekarbonisasi, itu peluang bisnis," kata Ketua Umum Kadin Sumatera Utara, Firsal Dida Mutyara, di acara "Sumut Economic Outlook 2024" di Medan, Selasa di pertengahan Januari 2024 lalu, dilansir dari laman ANTARA, pada Sabtu (20/1). Menurutnya, hilirisasi produk perkebunan seperti kelapa sawit, kopi dan karet jadi kebutuhan untuk mendongkrak perekonomian. Tapi, Firsal menggarisbawahi hilirisasi harus berpedoman pada prinsip keberlanjutan. Soal dekarbonisasi, Kadin Sumut mencatat ada lima aspek di dalamnya yang bisa dimanfaatkan untuk bisnis. Pertama, pengelolaan limbah terintegrasi, misalnya jasa penjemputan limbah terpilah dengan daur ulang yang dijual ke industri. Kedua, menghasilkan kompos dengan lalat tentara hitam atau "black soldier fly" yang dapat mengonsumsi limbah makanan. Ketiga, mengubah limbah organik menjadi biogas yang bisa menjadi sumber panas industri. Keempat, gasifikasi untuk menghasilkan produk seperti gas sintetis, "biochar" atau arang dan "bio-oil" untuk kulit. Kelima, mengembangkan fasilitas "refused derived fuel" (RDF), yang memadatkan limbah organik untuk dibuat sebagai bahan bakar "co-firing" atau pengganti batu bara. Emisi limbah, terang Firsal, diperkirakan meningkat empat hingga lima kali pada 2060 mendatang. Tapi, Ketum Kadin Sumut ini menilai ada beberapa hal yang menjadi tantangan untuk dekarbonisasi sektor limbah. Satu di antaranya, yakni kecenderungan 80 persen limbah padat tercampur dari sumbernya. Terus, rantai nilai pengumpulan limbah daur ulang memakan waktu, kurang efisien. Selanjutnya, 70 hingga 85 persen air limbah domestik dibuang dalam sistem tertutup sehingga menghasilkan gas rumah kaca. Berikutnya, dari total biasanya satu persen air limbah industri yang diolah, sedangkan 99 persennya air limbah yang menjadi emisi limbah industri.