Fitch Naikkan Asumsi Harga Komoditas, Ini Prospeknya Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 01 April 2026 | 12:10 WIB

Fitch Naikkan Asumsi Harga Komoditas, Ini Prospeknya

Jakarta, katakabar.com - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menaikkan asumsi harga logam dan komoditas tambang untuk tahun 2026. Proyeksi ini dinilai berpotensi menjadi sentimen positif bagi kinerja saham emiten pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Melansir laporan resmi Fitch Ratings, proyeksi harga tembaga naik dari sebelumnya US$9.500 per ton menjadi US$11.500 per ton. Kenaikan asumsi harga tembaga didorong oleh meningkatnya permintaan dari elektrifikasi global. Sementara, asumsi harga aluminium juga dinaikkan untuk seluruh periode proyeksi karena permintaan yang diperkirakan tetap kuat dalam beberapa tahun ke depan. Untuk tahun 2026, proyeksi harganya naik dari US$2.550 ke US$2.900 per ton. "Kenaikan asumsi harga aluminium untuk seluruh periode mencerminkan ekspektasi pertumbuhan permintaan yang tetap sehat serta terbatasnya penambahan pasokan dalam jangka menengah, selain dari rencana penambahan kapasitas di Indonesia dan Asia Tenggara," seperti dilansir dari laman resmi Fitch Rating. Untuk emas, Fitch menaikkan asumsi harga sepanjang periode proyeksi seiring lonjakan harga pasar yang didorong pembelian bank sentral serta meningkatnya alokasi investasi dari investor institusi dan ritel seiring dengan tensi geopolitik global. Kenaikan harga emas diprediksi terjadi dari level US$3.400 ke US$4.500 per ton. Untuk batu bara termal, Fitch menaikkan asumsi harga dari US$95 ke US$110 per ton, karena kondisi pasar yang lebih ketat terutama pada kuartal I-2026. Hal ini dipicu oleh penurunan ekspor batu bara Indonesia akibat ketidakpastian kebijakan serta melemahnya produksi domestik China. Untuk asumsi harga nikel jangka pendek juga dinaikkan ke US$16.000, seiring kebijakan pemerintah Indonesia yang menetapkan kuota produksi lebih rendah. Kebijakan tersebut berpotensi menekan pasokan global sehingga menopang harga nikel di pasar internasional. Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada mengatakan, kenaikan asumsi harga komoditas tersebut mencerminkan penilaian Fitch terhadap kondisi global saat ini. Menurutnya, naiknya harga komoditas biasanya menjadi sentimen positif bagi emiten yang berkaitan dengan sektor tersebut. "Dengan adanya potensi kenaikan tersebut biasanya pelaku pasar akan berasumsi bahwa kenaikan tersebut akan berdampak khususnya positif pada emiten-emiten yang berkaitan dengan komoditas tersebut," ucap Reza. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, aminkan Reza. Ia menilai langkah Fitch menaikkan asumsi harga logam dan komoditas pada 2026 merupakan hal yang wajar. Menurutnya, proyeksi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi peningkatan harga saham emiten terkait. Ia mencontohkan, prospek PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) beriringan dengan kuatnya dinamika harga emas global di tengah ketidakpastian geopolitik. Dengan harga emas yang diperkirakan tetap tinggi, margin laba dari divisi pemurnian logam mulia ANTM diprediksi akan tetap kuat pada awal 2026 Hilirisasi yang dilakukan ANTM bersama seluruh Grup MIND ID juga sebagai nilai tambah. Kerja sama dengan raksasa dunia seperti CATL dan LG Energy Solution melalui Indonesia Battery Corporation (IBC) mulai memasuki fase konstruksi lanjut dan operasional beberapa lini smelter HPAL (High-Pressure Acid Leaching). Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang semakin ketat terhadap ekspor bahan mentah akan semakin menguntungkan ANTM bersama Grup MIND ID karena sudah memiliki infrastruktur pengolahan (smelter feronikel) yang mapan. Diketahui, ANTM yang merupakan anggota bersama dengan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) saat ini memimpin kenaikan harga saham di antara emiten emas sejak awal tahun 2026. Bila dibandingkan, harga saham ANTM telah naik 9,03% year to date (ytd), dan MDKA naik 38,63% ytd per penutupan perdagangan Jumat, (27/3) lalu. Dari sisi teknikal, Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mencermati sejumlah saham komoditas yang menarik untuk diperhatikan. Di antaranya PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dengan target harga pada kisaran 9.000-9.400, dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) di rentang 1.755-1.905. "Lebih lanjut, rekomendasi harga PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) di kisaran 2.520-2.600, serta emiten batu bara pelat merah PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) pada level 2.900-3.080," kata Herditya.

Sektor Hulu Punya Potensi Pengembangan Komoditas Perkebunan Kelapa di Kota Jember Nasional
Nasional
Minggu, 22 Maret 2026 | 10:39 WIB

Sektor Hulu Punya Potensi Pengembangan Komoditas Perkebunan Kelapa di Kota Jember

Jember, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui Divisi Penyaluran Dana Sektor Hulu Perkebunan ( PDSHP) Kelapa Bersama Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Jember sosialisasi program pengembangan komoditas kelapa di sektor hulu, yakni peremajaan kebun kelapa rakyat serta mekanisme penyaluran dana program sarana dan prasarana Kabupaten Jember, di pekan pertama Maret 2026 lalu. Acara sosialisasi yang dihadiri pemerintah daerah, Poktan, Gapoktan dan Koperasi dengan total peserta 110 orang, di Aula Dinas TPHP Kabupaten Jember. Selain itu, di acara tersebut dihadiri Mohammad Djamil, Kepala Dinas TPHP Kabupaten Jember, Triana Meinarsih, Kepala Divisi Penyaluran Dana Sektor Hulu Perkebunan (PDSHP) Kelapa, Tim Dinas TPHP Kabupaten Jember dan Tim PDSHP Kelapa BPDP. Kepala Dinas TPHP Kabupaten Jember, Moh. Djamil, menegaskan dukungan pendanaan dari BPDP mengenai pengembangan komoditas kelapa menunjukkan perhatian pemerintah pusat terhadap sektor perkebunan di daerah. "Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember berharap sosialisasi ini dapat menjadi langkah awal menuju pelaksanaan program di lapangan sehingga para petani dapat memanfaatkan berbagai peluang bantuan yang tersedia," ujar Djamil. Sosialisasi ini untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada para pekebun mengenai skema program peremajaan kelapa rakyat, termasuk dukungan sarana dan prasarana yang dibiayai BPDP. Program tersebut bagian dari langkah pemerintah untuk meningkatkan produktivitas kebun kelapa sekaligus menjaga keberlanjutan pengelolaan perkebunan rakyat. Di sisi lain, program ini juga diharapkan dapat memperkuat perekonomian masyarakat yang bergantung pada komoditas kelapa. Di acara tersebut, Kepala Divisi Penyaluran Dana Sektor Hulu Perkebunan Kelapa BPDP , Triana Meinarsih, hadir sebagai narasumber menyampaikan paparan mengenai potensi pengembangan perkebunan kelapa di Indonesia, khususnya di Kabupaten Jember, termasuk berbagai tantangan dan hambatan yang dihadapi oleh para pekebun di lapangan. Triana memaparkan juga profil BPDP serta program layanan utama yang dijalankan dalam mendukung pengembangan komoditas perkebunan. Menurut Triana, Kabupaten Jember memiliki potensi besar, untuk pengembangan pada sektor hulu kelapa, ditandai dengan luas tanaman menghasilkan sekitar 4.778 ha pada tahun 2024 dan pertumbuhan areal sebesar 10,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Produksi kelapa mencapai sekitar 212 ribu ton dengan peningkatan produktivitas sebesar 58%. Kecamatan dengan potensi produksi terbesar antara lain Mayang, Wuluhan, dan Ambulu," sebutnya. Selain menjelaskan potensi pengembagan komoditas kelapa pada sektor hulu, Triana menuturkan secara rinci mengenai program peremajaan kelapa rakyat, yang meliputi persyaratan pengajuan, dokumen yang perlu disiapkan oleh kelompok tani, kriteria penerima bantuan, serta proses bisnis atau alur pelaksanaan program dari tahap pengusulan hingga penyaluran dana. Peserta juga memperoleh penjelasan terkait program dukungan sarana dan prasarana perkebunan kelapa, termasuk persyaratan, dokumen pengusulan, serta mekanisme pelaksanaan bantuan yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung pengelolaan kebun kelapa rakyat secara lebih optimal. Acara sosialisasi ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab antara narasumber dan peserta. Beberapa isu yang mengemuka antara lain peluang pengusulan kelapa sebagai tanaman sela berupa program sarpras ekstensifikasi dengan tetap berpedoman pada ketentuan teknis yang diatur Ditjen Perkebunan, kriteria tanaman yang dapat diikutsertakan dalam program peremajaan, serta ketentuan bantuan sarana prasarana seperti alat dan mesin pertanian serta pembangunan atau peningkatan jalan kebun untuk mendukung kegiatan pemeliharaan dan distribusi hasil panen. Melalui kegiatan ini, BPDP berharap para pekebun, serta kelembagaan petani seperti kelompok tani, gabungan kelompok tani, dan koperasi dapat memahami alur pengusulan program, serta siapkan persyaratan yang diperlukan guna mendorong pengelolaan perkebunan kelapa yang lebih berkelanjutan, dan meningkatkan kesejahteraan pekebun, khususnya di Kabupaten Jember.

BPDP Edukasi Pelajar Biar Melek Komoditas Perkebunan Nasional
Nasional
Sabtu, 07 Maret 2026 | 08:05 WIB

BPDP Edukasi Pelajar Biar Melek Komoditas Perkebunan

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) gelar kegiatan Edukasi Perkebunan bagi siswa dan anak-anak tahun 2026 usung tema “Kakao dan Rahasia Cokelat” di Ballroom BPDP, Jakarta, Kamis (5/3) lalu Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan komoditas perkebunan kepada generasi muda sejak dini melalui pendekatan edukatif dan interaktif. Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, Pangihutan Siagian, menyampaikan pentingnya edukasi perkebunan bagi generasi muda. “Secara strategis, kegiatan seperti ini penting bagi BPDP, sebab kita tidak hanya mengelola dana perkebunan, tetapi berinvestasi pada pembangunan pengetahuan dan literasi publik. Edukasi sejak dini merupakan langkah preventif untuk membangun persepsi yang positif, berbasis fakta, dan berorientasi pada keberlanjutan," jelasnya. Total 60 siswa usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama mengikuti kegiatan ini. Peserta berasal dari Rumah Tahfidz An Nur, Cinere, Depok, serta perwakilan anak-anak yang tinggal di sekitar kantor BPDP di kawasan Gambir. Di kegiatan ini, peserta diperkenalkan perjalanan kakao dari kebun hingga menjadi cokelat yang mereka konsumsi sehari-hari. Anak-anak juga diberikan pemahaman mengenai peran kakao sebagai komoditas strategis yang mendukung kesejahteraan petani, membuka lapangan kerja, serta berkontribusi pada perekonomian nasional. Kegiatan dikemas secara menarik melalui sesi dongeng edukatif yang dibawakan oleh Kak Rona Mentari, pendiri Rumah Dongeng Anak. Melalui metode storytelling, anak-anak diajak memahami kakao dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Setelah sesi dongeng, kegiatan dilanjutkan dengan kuis interaktif untuk menguji pemahaman peserta mengenai manfaat kakao, proses pengolahan, serta peran petani dalam menghasilkan cokelat. BPDP juga perkenalkan komik edukatif anak yang telah diproduksi untuk tiga komoditas perkebunan utama, yakni kelapa sawit, kelapa, dan kakao. Komik ini disusun dengan bahasa sederhana, ilustrasi menarik, serta format bilingual agar mudah dipahami oleh anak-anak dan dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Melalui kegiatan ini, BPDP berharap dapat menumbuhkan pemahaman positif generasi muda terhadap sektor perkebunan sekaligus memperkuat literasi publik mengenai peran strategis komoditas perkebunan bagi perekonomian nasional.

Bukan Komoditas Monokultur Dunia: Minyak Sawit Jawaban Lestarikan Keanekaragaman Hayati Default
Default
Selasa, 16 Desember 2025 | 14:58 WIB

Bukan Komoditas Monokultur Dunia: Minyak Sawit Jawaban Lestarikan Keanekaragaman Hayati

katakabar.com - Perkebunan kelapa sawit bukan komoditas pertanian monokultur terluas di dunia. Umumnya komoditas pertanian utama dunia dibudidayakan secara monokultur. Misalnya gandum, jagung, kacang-kacangan, padi, dan tanaman lain yang ditanam di berbagai negara dibudidayakan secara monokultur. Budidaya komoditas pertanian menggunakan sistem monokultur karena dinilai lebih menguntungkan, produktif, efisien, dan mampu mencapai skala ekonomi atau economic of scale (PASPI, 2023). Menurut data USDA (2022), secara global luas areal gandum mencapai 221 juta hektare, luas areal jagung mencapai 202 juta hektare, dan luas areal padi mencapai 167 juta hektare. Budidaya tanaman minyak nabati utama dunia juga menggunakan sistem monokultur dengan luas areal terbesar adalah kedelai (130 juta hektare), kemudian diikuti rapeseed (37,8 juta hektare), bunga matahari (28,4 juta hektare), dan kelapa sawit (25 juta hektare). Sedang, jurnal PASPI (2023) berjudul Kelapa Sawit dan Biodiversitas, mengatakan perkebunan kelapa sawit bukan komoditas pertanian monokultur yang terluas di dunia. Berdasarkan data tersebut di atas, luas perkebunan kelapa sawit dunia masih jauh di bawah komoditas pertanian lain. Dengan luas areal paling hemat di antara berbagai komoditas lain maka perkebunan kelapa sawit memiliki biodiversity loss yang jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan berbagai komoditas lain. Alhasil, penggunaan minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati global justru turut berkontribusi positif pelestarian keanekaragaman hayati. Berikut ini beberapa hal yang membuat kelapa sawit memiliki dampak positif terhadap pelestarian biodiversitas yakni bukan tanaman monokultur terluas di dunia, tingkat biodiversity loss rendah, serta biodiversitas bertumbuh. Bukan Tanaman Monokultur Terluas: Seperti disampaikan sebelumnya, perkebunan kelapa sawit bukanlah tanaman monokultur yang terluas di dunia. Apalagi, perkebunan sawit sebetulnya tidak dapat dikategorikan sebagai monokultur murni seperti tanaman minyak nabati lain. Diketahui pada fase penanaman dan pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) di sela-sela tanaman kelapa sawit ditanam tumbuhan cover crop berupa tanaman kacang-kacangan (Prawirosukarto et al., 2005; Yasin et al., 2006; PASPI Monitor, 2021ª). Selain itu, pelaku usaha perkebunan kelapa sawit mengembangkan berbagai pola integrasi seperti integrasi sawit dengan tanaman pangan (Partohardjono, 2003; Singerland et al., 2019; Baihaqi et al., 2020; Kusumawati et al., 2021) pada masa TBM/immature dan integrasi sawit-ternak pada fase tanaman menghasilkan/mature (Batubara, 2004; Sinurat et al., 2004; Ilham dan Saliem, 2011; Utomo dan Widjaja, 2012; Winarso dan Basuno, 2013). Dengan demikian cukup jelas bahwa budidaya monokultur pada perkebunan kelapa sawit hanya terjadi pada fase land clearing dan penanaman. Setelah fase tersebut, perkebunan kelapa sawit justru berkembang menjadi polikultur baik melalui integrasi sawit-tanaman pangan, sawit-sayuran, sawit-buah, sawit-ternak, dan pola integrasi lain maupun pertumbuhan alamiah biodiversitas. Sistem budidaya integrasi (polikultur) kelapa sawit dengan komoditas pertanian yang demikian mendukung kelestarian biodiversitas di dalam areal perkebunan kelapa sawit (Ghazali et al, 2016) sekaligus juga menjadi solusi dari upaya untuk mencegah degradasi lahan dan penurunan emisi gas rumah kaca atau GRK (Khasanah et al., 2020). Tingkat Biodiversity Loss Rendah: Beyer et al. (2020) dan Beyer & Rademacher (2021) melakukan studi tentang komparasi kehilangan keanekaragaman hayati atau biodiversity loss global pada produksi minyak nabati dunia. Indikator yang digunakan untuk mengukur jejak biodiversity loss adalah species richness loss (SRL) per liter minyak yang dihasilkan. Secara relatif dengan SRL minyak sawit sebagai pembanding menunjukkan bahwa indeks SRL minyak kedelai 284 persen, indeks SRL minyak rapeseed 179 persen, dan indeks SRL minyak bunga matahari 144 persen. Artinya, minyak sawit adalah minyak nabati dengan tingkat biodiversity loss paling rendah, sedangkan minyak nabati yang memiliki tingkat biodiversity loss paling besar adalah minyak kedelai. Biodiversitas Bertumbuh: Secara alamiah seiring dengan pertambahan umur maka tanaman kelapa sawit juga mengalami pertumbuhan biodiversitas. Karakteristik perkebunan kelapa sawit yang memiliki siklus produksi (life span) selama 25-30 tahun memungkinkan perkembangan kembali biodiversitas seperti pada hutan (PASPI Monitor, 2021ª). Studi Santosa et al. (2017) mengungkapkan bahwa jumlah jenis biodiversitas pada perkebunan kelapa sawit dewasa tidak selalu lebih rendah apabila dibandingkan dengan biodiversitas yang ada pada lahan sebelum dijadikan perkebunan kelapa sawit (ecosystem benchmark) maupun biodiversitas pada areal berhutan (high conservation value/HCV). Itu sebabnya, tidak mengherankan jika species richness loss per liter minyak nabati dari perkebunan kelapa sawit jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan berbagai tanaman minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, hingga minyak zaitun

PT RPN Gelar Outlook Perkebunan 2026: Antisipasi Tantangan Global dan Dorong Hilirisasi Komoditas Nusantara
Nusantara
Jumat, 28 November 2025 | 20:01 WIB

PT RPN Gelar Outlook Perkebunan 2026: Antisipasi Tantangan Global dan Dorong Hilirisasi Komoditas

Bogor, katakabar.com – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) gelar Outlook Komoditas Perkebunan 2026 di Aula PT RPN Bogor secara hybrid. Acara tahunan ini menjadi forum penting untuk memetakan tren produksi, harga, serta tantangan dan peluang sektor perkebunan Indonesia di tahun mendatang. Direktur PT RPN, Iman Yani Harahap, menekankan peran strategis perkebunan sebagai sumber devisa, penyerap tenaga kerja, dan penggerak ekonomi pedesaan. “Meski menjadi tulang punggung ekonomi, sektor ini masih menghadapi tantangan serius seperti perubahan iklim, fluktuasi harga, produktivitas yang belum optimal, dan tuntutan keberlanjutan dari pasar global,” ujarnya. Ia mengatakan, forum ini juga menjadi wadah kolaborasi bagi pemerintah, pelaku usaha, peneliti, dan masyarakat untuk merumuskan strategi bisnis yang adaptif dan berkelanjutan. Acara dihadiri perwakilan Kementerian, lembaga riset, perusahaan perkebunan negara dan swasta, perguruan tinggi, serta Forum Wartawan Pertanian, yang menunjukkan sinergi lintas sektor untuk kemajuan industri perkebunan nasional. Direktur Bisnis Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Ryanto Wisnuardhy, menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir. “Kalau semua stakeholder terlibat sejak hulu hingga hilir, sinergi ini bisa memperkuat ekonomi nasional,” tegas Ryanto, yang optimistis industri perkebunan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sesi outlook menghadirkan lima narasumber yang merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Lingkup PT RPN dengan komoditas utama: kelapa sawit, karet, teh dan kina, gula, serta kopi dan kakao. Tungkot Sipayung dari PASPI bertindak sebagai moderator sekaligus membuka diskusi tentang risiko global sektor perkebunan 2026. Fokus utama outlook tahun ini adalah peningkatan produktivitas melalui peremajaan tanaman dan benih unggul, penguatan hilirisasi untuk menambah nilai, serta penerapan prinsip keberlanjutan agar produk Indonesia makin diterima pasar global. Kelapa Sawit: Tantangan Tata Kelola dan Arah Perbaikan Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia menghadapi tantangan dalam tata kelola lahan dan industri. Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Rizki Amalia, menyebut isu utama meliputi legalitas lahan, penyelesaian sawit di kawasan hutan, dan penerapan standar keberlanjutan. Meski begitu, outlook sawit 2026 tetap positif. Produksi dan harga diperkirakan stabil, didorong program biodiesel B40 dan pemulihan ekonomi negara importir. Empat strategi utama yang direkomendasikan PPKS mencakup peningkatan produktivitas, diversifikasi pasar dan hilirisasi, perbaikan tata kelola berkelanjutan, serta efisiensi biaya untuk memperkuat daya saing. Karet: Produktivitas Turun, Pabrik Tutup Peneliti Pusat Penelitian Karet (PPK), Lina Fatayati Syarifa, menyampaikan kekhawatirannya atas menurunnya kinerja industri karet nasional. “Produktivitas karet kita terus turun dari tahun ke tahun, sementara negara kompetitor seperti Vietnam, India, dan Kamboja justru meningkat. Ini menunjukkan ada persoalan mendasar yang harus segera diatasi,” ujarnya. Penurunan produksi disebabkan tanaman tua, penyakit gugur daun, perubahan iklim, dan konversi lahan. Solusi jangka pendek meliputi pengendalian penyakit, subsidi pupuk, dan akses pembiayaan, sedankang jangka panjang menekankan peremajaan, hilirisasi, serta pembentukan Badan Karet Nasional. Teh: Perkuat Daya Saing Lewat Hilirisasi dan Inovasi Peneliti Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK), Kralawi Sita, menyampaikan bahwa prospek teh Indonesia pada 2026 masih positif meski menghadapi tantangan seperti penurunan produksi dan persaingan global. “Nilai teh Indonesia kini tidak hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga oleh kualitas, keberlanjutan, dan cerita di balik setiap proses produksinya,” ujarnya. Tren teh fungsional, matcha, dan kombucha membuka peluang besar untuk memperkuat pasar domestik dan ekspor. Revitalisasi teh bukan sekadar perbaikan di kebun, tetapi juga transformasi cara pandang terhadap teh sebagai produk budaya, ekonomi, dan lingkungan. Kopi dan Kakao: Harga Stabil, Hilirisasi Jadi Peluang Peneliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI), Diany Faila, menyebut Prospek kedua komoditas ini tetap cerah meski menghadapi tantangan produktivitas dan sertifikasi berkelanjutan. “Konsumsi kopi global terus meningkat, ini peluang besar untuk ekspor kita,” jelasnya. Produksi kopi diperkirakan naik dengan harga robusta sekitar $4,2/kg dan arabika $7/kg, sementara kakao diproyeksikan stabil di $5–6/kg meski sempat menyentuh $12,9/kg awal tahun ini. Strategi ke depan menekankan pengembangan produk olahan, peremajaan tanaman, dan perluasan sertifikasi guna memperkuat daya saing kopi dan kakao Indonesia di pasar global. Gula: Produksi Naik, Harga Petani Turun Peneliti Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), Danang Permadhi, menyebut produksi gula nasional diperkirakan meningkat dari 2,6 juta ton pada (2025) menjadi 2,8 juta ton (2026). Namun, kenaikan harga tidak diikuti perbaikan harga “Harga gula turun ke Rp14.500 per kilo, bahkan tetes tebu hanya Rp1.500 per kilo karena lemahnya permintaan,” ujarnya. Ia menyoroti dampak dari kemarau basah, menyebabkan kebun tergenang, menurunkan kualitas tebu dan meningkatkan biaya angkut. Sementara itu, kebijakan impor yang longgar dan dugaan kebocoran gula rafinasi memperburuk situasi. P3GI merekomendasikan evaluasi aturan impor, penguatan peran Bulog, pengawasan distribusi, serta membentuk badan khusus pengelola dana pengembangan tebu nasional. Sinergi Masa Depan Perkebunan Indonesia Dengan berbagai paparan dari lima komoditas utama, Outlook Komoditas Perkebunan 2026 menegaskan bahwa sektor perkebunan Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Peningkatan produktivitas, penguatan hilirisasi, dan penerapan prinsip keberlanjutan menjadi kunci agar komoditas nasional tidak hanya mampu bersaing di pasar global, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan jutaan keluarga petani.

Holding PTPN Perkuat Komoditas Strategis Melalui Replanting 14.000 Hektare PTPN I Regional 2 Nasional
Nasional
Jumat, 21 November 2025 | 07:32 WIB

Holding PTPN Perkuat Komoditas Strategis Melalui Replanting 14.000 Hektare PTPN I Regional 2

Bandung, katakabar.com - PTPN I Regional 2, bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, jadwalkan program penanaman kembali (replanting) secara masif pada tahun 2026. Program ini menyasar komoditas karet, kelapa (konversi dari karet), kopi, dan teh di berbagai lokasi di Provinsi Jawa Barat. Langkah strategis ini diarahkan untuk memperbarui unit-unit kerja (kebun), meningkatkan produksi dan produktivitas, memperluas lapangan kerja, serta menggerakkan ekonomi kawasan guna mengurangi kemiskinan. Informasi tersebut disampaikan SEVP Operasional PTPN I Regional 2, Iyan Heryanto, di Bandung, Selasa (21/10). Ia menjelaskan Kantor Pusat PTPN I telah menyetujui proposal pembaruan tanaman untuk empat komoditas tersebut sebagai dukungan nyata terhadap percepatan transformasi di Regional 2. “Sekitar 14.000 hektare areal kebun PTPN I Regional 2 dijadwalkan dilakukan replanting pada tahun 2026. Keinginan kami, tahun 2026 kondisi unit-unit perkebunan sudah jauh lebih baik dan optimal,” ujar Iyan Heryanto. Program replanting ini mencakup sejumlah lokasi utama, antara lain Subang, Wangunreja, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Garut, Ciamis, Panglejar, serta Maswati di Cikalong Wetan. Seluruh kegiatan replanting didukung oleh pendanaan dari Danantara. “Komoditas utama lokasi replanting di Kebun Wangunreja, Subang (karet), Kebun Agrabinta dan Cikaso (kelapa), serta Kebun Panglejar dan Maswati Bandung Barat (kopi dan teh),” jelasnya. Iyan menegaskan replanting merupakan implementasi visi Hilirisasi Nasional. Penanaman kembali secara besar-besaran ini menjadi fondasi penting untuk memastikan ketersediaan bahan baku berkualitas, sejalan dengan strategi hilirisasi komoditas strategis yang diusung Holding Perkebunan Nusantara. Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, mengkonfirmasi rencana besar tersebut. Ia menekankan replanting adalah tahapan hulu yang menentukan keberhasilan hilirisasi perusahaan. Sebagai Subholding SupportingCo, PTPN I telah menyiapkan investasi dan sumber daya guna mempercepat hilirisasi komoditas rakyat dan perusahaan. “Fokus kami adalah mengubah komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Regulasi yang sekarang lebih progresif membuka ruang bagi kami untuk lebih kreatif,” terang Teddy. Ia tegaskan lagi replanting dan hilirisasi merupakan misi multi-sektor yang sejalan dengan visi perusahaan. “Program hilirisasi ini ibarat pepatah sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Industri tumbuh, ekonomi kawasan bergulir lebih cepat, tenaga kerja terserap, dan kemiskinan berkurang. Ini sebangun dengan visi-misi PTPN sejak awal berdiri sebagai agent of development dan agent of change, yang sangat pas dengan PTPN I sebagai entitas padat karya di pelosok negeri,” sebutnya.

TEI 2025, PTPN IV PalmCo Sita Perhatian Tampilkan Produk Sawit dan Komoditas Perkebunan Sawit
Sawit
Rabu, 22 Oktober 2025 | 16:00 WIB

TEI 2025, PTPN IV PalmCo Sita Perhatian Tampilkan Produk Sawit dan Komoditas Perkebunan

Tangerang, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, sub holding perkebunan dari PTPN III (Persero) menyita perhatian di event Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Serpong, Tangerang, Banten. Sepanjang pergelaran, TEI 2025 mencatatkan transaksi tertinggi sepanjang sejarah, yakni mencapai 22,8 miliar Dolar AS atau sekitar Rp376,2 triliun. Produk kelapa sawit dan turunannya memberikan kontribusi signifikan sebesar 2,3 miliar Dolar AS dalam total nilai transaksi tersebut. Di pergelaran itu PTPN IV PalmCo menampilkan beragam produk hilir berbasis kelapa sawit serta komoditas perkebunan lain seperti kopi dan teh premium. Produk yang dipamerkan antara lain minyak goreng merek NusaKita, Salvaco, dan INL, serta teh Tobasari, Royal Aro, Kayu Aro, dan Butong, termasuk kopi Arabika Royal Aro dan minyak makan merah hasil binaan koperasi di Deli Serdang. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyatakan keberhasilan PalmCo di pameran ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan pasar terhadap kualitas dan keberlanjutan produk Indonesia. “TEI menjadi wadah untuk menunjukkan bahwa industri sawit kini bertransformasi, tidak hanya berbicara soal volume, tetapi nilai tambah dan keberlanjutan yang kami terapkan di seluruh rantai bisnis,” kata Jatmiko melalui keterangan tertulis, Selasa (21/10) kemarin, dilansir dari laman Rmol.id Rabu siang. Ditegaskan Jatmiko, respon positif dari buyer internasional tidak hanya datang dari mutu produk, melainkan juga karena konsistensi PalmCo menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang ketat. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Irene Felicia dari Louis Dreyfus Company, salah satu perusahaan perdagangan komoditas global yang menilai komitmen keberlanjutan dan keterlacakan produk PalmCo menjadi alasan utama mempercayakan pasokan CPO bersertifikat kepada perusahaan tersebut. Di sisi lain, Direktur Strategi dan Sustainability PTPN IV PalmCo, Ugun Untaryo, menyoroti peluang sekaligus tantangan dalam memperluas pasar produk hilir. "Kami bangga produk teh dan kopi kami yang memiliki nilai historis dan cita rasa unik kini bisa diperkenalkan secara lebih luas. Produk seperti Kayu Aro bahkan pernah menjadi favorit keluarga kerajaan Inggris," ucap Ugun.

BPDP Tampilkan Komoditas Unggulan Termasuk Sawit di Trade Expo Indonesia 2025 Sawit
Sawit
Jumat, 17 Oktober 2025 | 17:52 WIB

BPDP Tampilkan Komoditas Unggulan Termasuk Sawit di Trade Expo Indonesia 2025

Tangerang, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tunjukkan peran dengan promosikan komoditas unggulan Indonesia di kancah global melalui partisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 di ICE BSD City, pada 15 hingga 19 Oktober 2025 nanti. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang buka pergelaran ini, jadi salah satu pameran dagang terbesar di Asia, dengan fokus memperkenalkan produk-produk Indonesia ke pasar dunia. BPDP hadir tidak hanya peserta pameran, tetapi sebagai motor penggerak promosi sawit, kakao, dan kelapa ke level internasional. Selain itu, BPDP gandeng sejumlah asosiasi industri besar dari industri sawit, kakao, dan kelapa seperti Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Asosiasi Produsen Oleokimia Indonesia (APOLIN), Dewan Kakao Indonesia (DEKAINDO), dan Himpunan Industri Pengolahan Kelapa (HIPKI). Terus, dua UMKM mitra BPDP, Jayanti Batik dan Rumah Tamadun, turut dihadirkan untuk memperlihatkan bahwa produk berbasis komoditas perkebunan juga bisa tampil kreatif, bernilai budaya, dan memiliki potensi ekspor. Salah satu momen yang paling menarik perhatian pengunjung yakni sesi talkshow bertema peluang ekspor sawit dan kakao. Fadhil Hasan dari GAPKI dan Yeni Wati dari Dekaindo, memaparkan bagaimana kedua komoditas tersebut bisa terus berkembang di pasar global, asalkan digarap dengan pendekatan keberlanjutan dan inovasi produk yang tepat. Selain itu, aktivitas membatik dan kuis dengan hadiah menarik, menambah ramai pengunjung yang datang ke booth BPDP. Menurut Kepala Divisi Kerja Sama Kelembagaan BPDP, Aida Fitria, keikutsertaan BPDP di TEI 2025 bukan sekadar agenda rutin. “Kami ingin menunjukkan ke dunia bahwa sawit, kelapa, dan kakao Indonesia tidak hanya kuat secara volume, tetapi juga punya cerita, kreativitas, dan nilai ekonomi yang inklusif,” kata Aida Fitria lewat keterangan resmi, dilansir dari laman jpnn, Jumat (17/10).

Di Muaro Jambi Komoditas Sawit Motor Penggerak Ekonomi Topang Kehidupan Ribuan Petani Kecil Sawit
Sawit
Jumat, 17 Oktober 2025 | 16:30 WIB

Di Muaro Jambi Komoditas Sawit Motor Penggerak Ekonomi Topang Kehidupan Ribuan Petani Kecil

Jambi, katakabar.com - Wakil Bupati Muaro Jambi, Junaidi H. Mahir, menekankan kelapa sawit komoditas unggulan nasional punya andil strategis, baik peningkatan devisa negara, penyediaan lapangan kerja, maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah pedesaan. Lantaran itu, ia menegaskan pentingnya sektor kelapa sawit sebagai motor penggerak utama perekonomian daerah. Di tingkat daerah, ulas Junaidi, peran sawit tidak hanya sebagai sumber pendapatan pemerintah, tetapi menopang kehidupan ribuan petani kecil. “Di Kabupaten Muaro Jambi, perkebunan kelapa sawit menjadi tulang punggung ekonomi daerah, yang tidak hanya melibatkan perusahaan besar tetapi juga ribuan petani kecil yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini,” jelss Junaidi di agenda pembukaan Konsultasi Publik Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD-KSB) di Aula Bappeda Muaro Jambi pada Kamis (16/10) kemarin, dilansir dari laman sawitsetara.co, Jumat siang. Tetapi, ucap Junaidi, pengelolaan sawit masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari aspek legalitas lahan, produktivitas rendah di tingkat pekebun rakyat, isu lingkungan hidup, hingga tuntutan pasar global terhadap produk sawit yang berkelanjutan. Ia mengajak seluruh peserta forum untuk aktif memberikan pandangan dan rekomendasi. “Kita tidak menutup mata bahwa pengelolaan perkebunan sawit seringkali menghadapi berbagai tantangan,” terangnya. Di acara tersebut hadir Asisten Bupati, sejumlah kepala OPD, akademisi Universitas Jambi, Ketua Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Muaro Jambi, perwakilan LSM, serta berbagai pihak terkait pembangunan sektor perkebunan di daerah. Tujuan dari konsultasi publik ini untuk menyusun dokumen Rencana Aksi Daerah yang komprehensif dan aplikatif. Konsultasi publik ini diakhiri dengan penandatanganan kesepakatan bersama, sesi tanya jawab, dan foto bersama. Menurut, melalui forum konsultasi publik ini pihaknya mengajak seluruh peserta untuk aktif memberikan pandangan, masukan, dan rekomendasi.

Komoditas Sawit Dongkrak Penerimaan Bea Keluar Tembus Rp21,4 Triliun Sawit
Sawit
Kamis, 16 Oktober 2025 | 21:00 WIB

Komoditas Sawit Dongkrak Penerimaan Bea Keluar Tembus Rp21,4 Triliun

Jakarta, katakabar.com - Komoditas kelapa sawit dongkrak penerimaan bea keluar (BK) hingga September 2025 mencatat angka fantastis, tembus Rp21,4 triliun setara 477,8 persen dari target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Peran utama komoditas kelapa sawit, baik melalui kenaikan harga minyak kelapa sawit (CPO) maupun volume ekspornya, serta dorongan ekspor konsentrat tembaga. Data Kementerian Keuangan menunjukkan, realisasi total penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp221,3 triliun, setara 73,4 persen dari target APBN 2025. Angka ini meningkat 7,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menegaskan pertumbuhan ini ditopang oleh strategi pemanfaatan peluang ekspor di tengah kondisi pasar global yang dinamis. “Realisasi kepabeanan dan cukai hingga September 2025 menunjukkan pertumbuhan yang stabil, terutama dari bea keluar dan cukai. Ini memperkuat posisi fiskal kita,” ujar Suahasil dalam keterangan resmi, dilansir dari laman EMG, Kamis siang. Pemerintah saat ini menerapkan strategi fleksibel untuk hilirisasi sawit. Saat harga CPO dunia menguat, ekspor menjadi fokus utama. Tetapi ketika harga melemah, pasokan dialihkan ke program biofuel nasional, termasuk campuran biodiesel B40 yang sedang dipersiapkan menuju B50. Sementara Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pendekatan ini memungkinkan Indonesia menjaga nilai tambah sawit sekaligus menstabilkan harga bagi petani dan industri hilir. “Kita lihat kondisi harga global. Harga menguntungkan, kita ekspor. Jika turun, kita serap untuk biofuel. Strategi ini membuat kita tidak kehilangan peluang di pasar internasional maupun domestik,” jelas Amran. Hilirisasi sawit melalui biofuel dinilai menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga global sekaligus memperkuat daya tawar Indonesia di pasar internasional.