Lahan Gambut
Sorotan terbaru dari Tag # Lahan Gambut
Kolaborasi Polda Riau Sukseskan Jinakkan Karhutla di Lahan Gambut Pelalawan
Pelalawan, katakabar.com - Tim gabungan dari Polda Riau bersama unsur Kodam Tuanku Tambusai, pemerintah daerah, dan perusahaan kembali berjibaku tangani kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Sabtu (4/4). Upaya pendinginan dan mitigasi dilakukan secara intensif di Desa Gambut Mutiara, menyusul ditemukannya titik api yang tidak terpantau dalam aplikasi Dashboard Lancang Kuning (DLK). Kepala Biro Operasi (Karoops) Polda Riau, Kombes Ino Harianto yang turun langsung ke lokasi, menegaskan penanganan Karhutla harus dilakukan secara cepat, terpadu, dan berbasis kolaborasi lintas sektor. Ia menyebut, meski titik api tidak terdeteksi dalam sistem DLK, tim di lapangan tetap responsif melakukan pengecekan dan penanganan. “Kami tidak hanya bergantung pada sistem monitoring, tetapi juga mengedepankan patroli darat dan koordinasi dengan seluruh stakeholder. Begitu ditemukan titik api di Desa Gambut Mutiara, tim langsung bergerak melakukan pemadaman dan pendinginan,” ujar Ino di lokasi. Ia menjelaskan, kebakaran terjadi di lahan gambut seluas sekitar 10 hektare dengan kondisi semak belukar yang kering dan mudah terbakar. Faktor cuaca panas, angin kencang, serta keterbatasan sumber air menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman di lapangan. “Medan yang jauh dan sulit dijangkau, ditambah kontur gambut yang kering, membuat penanganan harus dilakukan dengan strategi khusus. Namun berkat kerja sama semua pihak, api berhasil dipadamkan dan saat ini hanya tersisa titik-titik asap,” jelasnya. Kombes Ino menambahkan, upaya ini menjadi bagian dari komitmen Polda Riau dalam menjaga stabilitas lingkungan dan mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah rawan gambut. Hal itu sejalan dengan semangat melindungi tuah dan menjaga marwah bumi Lancang Kuning. "Kegiatan hari ini juga dihadiri Dansat Brimob Polda Riau Kombes I Ketut Gede Adi Wibawa dan Asops Kodam XIX/Tuanku Tambusai Kolonel Inf Rendra Dwi Ardhani. Ini menunjukan bahwasanya penanganan karhutla harus dilakukan secara kolaboratif, lintas satker dan lintas sektor," ungkapnya. Bupati Pelalawan, H. Zukri turut hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi terhadap langkah cepat dan sinergi yang dilakukan seluruh unsur di lapangan. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI-Polri, perusahaan, dan masyarakat dalam menghadapi ancaman karhutla. “Kami sangat mengapresiasi respons cepat dari Polda Riau dan seluruh tim gabungan. Ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus bersama-sama, termasuk melibatkan masyarakat di sekitar lokasi,” ucap Zukri. Menurutnya, upaya pencegahan harus terus diperkuat, terutama di wilayah rawan seperti Teluk Meranti yang memiliki karakteristik lahan gambut yang rentan terbakar. Sementara, Kapolres Pelalawan, AKBP John Louis Letedara menyampaikan bahwa proses pendinginan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada potensi api kembali menyala. “Kondisi saat ini api sudah padam, namun masih terdapat asap di beberapa titik, sehingga pendinginan terus kami lakukan. Untuk pelaku masih dalam proses penyelidikan,” tutur John. Ia menambahkan, pihaknya telah mengerahkan sebanyak 160 personel gabungan yang terdiri dari unsur Polri, TNI, BPBD, Manggala Agni, perusahaan, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) dalam penanganan karhutla tersebut. “Koordinasi lintas sektor terus kami perkuat, termasuk dengan perusahaan dan masyarakat, agar setiap potensi kebakaran dapat segera ditangani sejak dini,” sebutnya.
Mantap! EDS-G Bikin Mudah Mengurusi Tanaman Sawit di Lahan Gambut
Jakarta, katakabar.com - Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) rupanya sudah ciptakan peralatan perangkat keras yang mampu mendeteksi dan merekam data titik air kritis lahan gambut, suhu dan kelembaban bawah kanopi, lahan gambut, dan konsentrasi CO2 pada lahan gambut secara realtime. Piranti lunak itu bernama Early Detection System untuk Gambut (EDS-G). EDS-G ini punya kemampuan mengamati dan memberikan informasi up to date terkait kondisi tanaman kelapa sawit di lahan gambut. Peralatan ini hadir bermula dari pemikiran soal tantangan utama pengembangan tanaman kelapa sawit di lahan gambut, yakni pengaturan ketinggian muka air guna menyediakan ruang yang cukup bagi tumbuh kembang akar tanaman tanpa merusak tanah gambut. Tapi praktik di lapangan, sebagian besar penerapan tata air yang ada masih perlu diperbaiki karena masih bersifat parsial, dan belum mempertimbangkan fluktuasi muka air tanah yang dinamis. Lantaran tata air yang telah dibangun kurang berfungsi optimal, berakibat meningkatkan peluang terganggunya performa tanaman, dan rusaknya lahan gambut. Untuk mengatasi masalah ini, Dr. Heri Santoso dan kawasan-kawan dapat pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk melakukan riset dalam program Grant Riset Sawit (GRS) empat tahun lalu. Peneliti PPKS ini mengajak rekan-rekannya melakukan penelitian di di Kebun Panai Jaya, PT Perkebunan Nusantara IV. Mereka setahun meneliti di sana. Penelitian dilakukan tiga tahap. Tahap I menghasilkan prototipe yang mampu mendeteksi, dan mengukur perubahan-perubahan yang terjadi di dalam Peat Hydrophobic Simulator (PHS). PHS adalah simulator yang dikembangkan untuk memodelkan kondisi lahan gambut di lapangan. Ajaibnya, PHS ini menjadi terobosan baru hasil tidak terduga dari penelitian. Tahap II, dilakukan perbaikan dan pengembangan EDS (EDS versi 1.0; 1.1; dan 1.2) biar mampu mengukur variabel penelitian (suhu udara dan tanah, kelembaban udara dan tanah, emisi karbon, dan water level) baik di dalam laboratorium (PHS) serta di lapangan. Tahap III, dilakukan perbaikan dan pengembangan EDS terutama untuk meningkatkan akurasi pengukuran dan kelancaran pengiriman data dari taman alat di lapangan menuju receiver dan cloud. Tidak hanya itu, sudah pula dilakukan kalibrasi sensor pengukur konsentrasi CO2 dengan Gas Chromatography. Estimasi probabilitas hidrofobisitas tanah gambut sudah dilaksanakan di dalam PHS. Bahkan, penghitungan tingkat stress tanaman menggunakan Metode Crop Water Stress Index (CWSI) sudah dilakukan.