PTPN III Dorong Ketahanan Pangan dan Energi Lewat Ekspansi dan Hilirisasi Ubi Kayu
Jakarta, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara III (Persero) terus perkuat perannya sebagai BUMN strategis dukung agenda pemerintah yaitu program ketahanan pangan dan energi nasional. Salah satu langkah konkret yang tengah dipersiapkan adalah pelaksanaan program pengembangan dan hilirisasi komoditas ubi kayu. Program ini dirancang sebagai model pengembangan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pada sisi on farm, PTPN III (Persero) akan fokus pada optimalisasi lahan, penanaman dan peningkatan produktivitas, serta pengembangan varietas unggul ubi kayu yang adaptif dan memiliki produktivitas tinggi. Sedang di sisi off farm, penguatan hilirisasi dilakukan melalui pengembangan industri pengolahan bioetanol melalui kolaborasi operasional dengan mitra pada fasilitas pabrik bioetanol di Lampung. Direktur Utama PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, di acara kick off program hilirisasi di Kantor Holding Jakarta, mengatakan program ini langkah strategis perusahaan membangun ekosistem agroindustri masa depan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan. Menurutnya, ubi kayu bukan hanya komoditas pertanian, tetapi memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi daerah sekaligus penopang kebutuhan nasional di sektor pangan dan energi. “Kami melihat ubi kayu sebagai komoditas strategis dengan potensi besar untuk pendukung ketahanan energi dan pangan nasional. Lantaran itu, pengembangannya tidak cukup hanya berhenti pada budidaya, tetapi harus dibangun secara menyeluruh dari hulu sampai hilir. Kami mau pastikan peningkatan produksi di tingkat kebun berjalan seiring dengan kesiapan industri pengolahan, sehingga tercipta rantai nilai yang kuat, efisien dan berkelanjutan," jelasnya. Sebagai bentuk komitmen perusahaan, pada 14 hingga 15 April 2026 lalu, Direktur Utama PTPN III (Persero) bersama jajaran terkait, melakukan rangkaian pertemuan strategis dengan berbagai pemangku kepentingan di Provinsi Lampung untuk memastikan implementasi. Pertemuan tersebut melibatkan Gubernur Lampung, masyarakat petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani ubi Kayu Indonesia (PPUKI), serta mitra operasional PT Medco Ethanol Lampung hingga kalangan akademisi di Universitas Lampung. Sinergi dengan Pemerintah Provinsi Lampung diarahkan untuk memperkuat dukungan kebijakan daerah, percepatan ekosistem investasi, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pengembangan. Sementara dialog dengan pelaku usaha dan asosiasi petani diharapkan memperkuat rantai pasok bahan baku serta menciptakan pola kemitraan yang saling menguntungkan antara perusahaan dan petani. Di bidang riset dan inovasi, kerja sama dengan Universitas Lampung yang akan didampingi oleh PT Riset Perkebunan Nusantara menjadi bagian penting pengembangan varietas unggul serta penerapan teknologi budidaya modern, termasuk uji coba teknik peningkatan produktivitas dengan metode Mukibat. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan ini diharapkan mampu meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan. Pengembangan pabrik bioetanol di Lampung juga diproyeksikan memberikan multiplier effect yang luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja, tumbuhnya ekonomi wilayah, meningkatnya nilai tambah hasil pertanian, hingga terbentuknya ekosistem industri hijau berbasis sumber daya lokal. Melalui program ini, PTPN III (Persero) menegaskan komitmennya untuk terus menjadi motor penggerak pembangunan sektor agroindustri nasional, menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat, sekaligus mendukung target besar Indonesia mewujudkan ketahanan pangan dan energi yang berkelanjutan sesuai dengan Astacita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Kedutaan Besar India Dorong Impor Urea dari Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan
Jakarta, katakabar.com - Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty bertemu dengan Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono di Jakarta, Kamis (16/4) lalu. Pertemuan tersebut dilakukan demi mendorong kerja sama impor pupuk urea dari Indonesia guna mengamankan pasokan pupuk bagi musim tanam India mendatang melalui skema antar pemerintah di tengah dinamika global rantai pasok pertanian. Langkah ini menegaskan pendekatan aktif India dalam memperluas sumber pasokan pupuk strategis, sekaligus mencerminkan meningkatnya peran Indonesia sebagai mitra potensial dalam menjaga stabilitas pangan kawasan dan global. Dorongan dari pihak Kedutaan India juga memperlihatkan bahwa isu pupuk kini tidak lagi sekadar persoalan teknis pertanian, tetapi telah menjadi bagian dari diplomasi ekonomi dan ketahanan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga energi global, gangguan rantai pasok, hingga dinamika geopolitik telah mempengaruhi ketersediaan pupuk di berbagai negara, termasuk India yang memiliki kebutuhan sangat besar untuk menopang sektor pertaniannya. Kerja sama ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian nasional. Fokus pembahasan tidak hanya terbatas pada perdagangan pupuk, tetapi juga mencakup isu yang lebih luas seperti ketahanan pangan dan ketersediaan sarana produksi. “Diskusi yang komprehensif dan produktif bersama Pak Sudaryono mengenai kerja sama pertanian bilateral termasuk ketahanan pangan dan ketersediaan input (sarana produksi),” ujar Dubes Sandeep. Ia menegaskan India melihat Indonesia sebagai mitra yang kredibel dalam menjawab kebutuhan pupuk, khususnya urea, yang menjadi komponen penting dalam mendukung produktivitas pertanian. “Pak Sudaryono telah menyampaikan dengan sangat jelas bahwa ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Jika terdapat surplus, maka kami akan sangat senang untuk membelinya dari Indonesia melalui skema kerja sama antar pemerintah,” jelasnya. Pernyataan ini sekaligus menunjukkan India tidak hanya mencari pemasok, tetapi juga mengedepankan model kerja sama yang stabil, terukur, dan berbasis kesepahaman antar pemerintah. Skema seperti ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko volatilitas pasar global yang sering kali berdampak pada harga dan ketersediaan pupuk. Indonesia Buka Peluang Tetap Prioritaskan Domestik Di sisi lain, pemerintah Indonesia menyambut positif minat tersebut, dengan tetap menegaskan prinsip kehati-hatian dalam kebijakan ekspor. Sudaryono menyampaikan bahwa pembahasan ini juga menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk berkontribusi tanpa mengorbankan kebutuhan nasional. “Hari ini kami mendiskusikan salah satu topik utamanya adalah bagaimana India itu kemudian bisa mengamankan kebutuhan pasokan ureanya yang salah satu sumbernya adalah berasal dari Indonesia,” kata Sudaryono. Indonesia saat ini memiliki potensi surplus produksi urea sekitar 1,5 juta ton. Tetapi, ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi secara optimal guna menjaga stabilitas produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional. Pendekatan ini mencerminkan strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara peluang ekonomi dari ekspor dan tanggung jawab menjaga pasokan domestik. Pada konteks ini, pupuk menjadi komoditas strategis yang tidak bisa diperlakukan semata-mata sebagai barang dagangan biasa. Kerja sama ini juga diperkuat oleh faktor teknis yang menguntungkan kedua negara, yakni perbedaan siklus musim tanam. India memasuki periode tanam utama pada Juli hingga September, sementara Indonesia berada dalam fase aktivitas yang relatif lebih rendah. Perbedaan ini memberikan fleksibilitas dalam pengaturan distribusi pupuk, sehingga Indonesia dapat mengalokasikan sebagian produksinya untuk ekspor tanpa mengganggu kebutuhan petani dalam negeri. Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa kerja sama ini dinilai realistis untuk direalisasikan dalam waktu dekat. Selain itu, momentum ini juga memperlihatkan bagaimana koordinasi lintas negara dalam sektor pertanian dapat menghasilkan solusi yang saling menguntungkan, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Industri Pupuk Nasional Siap Tetapi Selektif Kesiapan Indonesia turut didukung oleh kapasitas produksi yang kuat. Direktur Utama Pupuk Indonesia Holding Company, Rahmad Pribadi, menegaskan ekspor akan tetap dilakukan secara terukur dan mengikuti siklus pertanian nasional. “Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri mencukupi. Kalau hitungan total nasional kan ada ekses tapi kita tahu ada musim tanam dan musim di luar tanam. Kita tidak mungkin ekspor saat musim tanam,” ulas Rahmad. Ia memastikan stok pupuk nasional berada dalam kondisi aman. “Saat ini (stok pupuk) 1,2 juta ton, ditambah produksi harian sekitar 25.000 ton urea dan 15.000 ton NPK. Jadi sangat cukup,” imbuhnya. Dengan kapasitas produksi yang mencapai puluhan juta ton per tahun, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk memainkan peran lebih besar di pasar global. Tetapi, kehati-hatian tetap menjadi prinsip utama agar tidak terjadi gangguan pada distribusi dalam negeri. Diplomasi Pertanian dan Peran Global Indonesia Dorongan dari Kedutaan India ini mencerminkan penguatan diplomasi berbasis pangan di tengah tekanan global terhadap rantai pasok pupuk. Kebutuhan pupuk yang tinggi, ditambah dengan ketidakpastian pasokan global, membuat negara-negara mulai mencari mitra yang stabil dan dapat diandalkan. Bagi India, Indonesia menawarkan kombinasi antara kapasitas produksi, kedekatan geografis, dan hubungan bilateral yang kuat. Sedang, bagi Indonesia, kerja sama ini membuka peluang untuk memperluas pengaruhnya dalam isu ketahanan pangan global. Lebih jauh, langkah ini juga memperlihatkan transformasi peran Indonesia dari sekadar produsen domestik menjadi aktor strategis dalam ekosistem pangan dunia. Dengan pengelolaan yang tepat, kerja sama seperti ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi internasional berbasis sektor riil.
Maharasa Gastronomy Experience Angkat Spiritualitas Pangan dan Tradisi Luhur Bali
Karangasem, katakabar.com - Program Maharasa Gastronomy Experience digelar di Desa Adat Geriana Kauh di pekan ke dua April 2026. Kegiatan ini kelanjutan dari rangkaian Maharasa sebelumnya yang digelar di Candi Ijo pada Desember 2025 lalu. Pergelaran kali ini, Maharasa angkat konsep eco-teologi Bali yang berakar pada praktik ritual Pantun Masa Padi Taun, yang menekankan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan dimensi spiritual. Filosofi ini tercermin dalam kehidupan agraris masyarakat Bali, di mana petani memuliakan sawah sebagai ruang hidup, serta menghormati Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan. Beras, pada konteks ini, dipandang bukan sekadar hasil pertanian, melainkan bagian dari proses sakral yang sarat nilai spiritual. Rangkaian kegiatan diawali dengan ritual Papag Segehan sebagai bentuk penyucian awal bagi peserta. Lepas itu, peserta menyaksikan atraksi Ngoncang yang dibawakan perempuan desa setempat. Atraksi ini merepresentasikan ungkapan syukur dan kebahagiaan petani perempuan pascapanen melalui gerak ritmis dan ekspresi komunal yang mencerminkan keterhubungan erat dengan alam. Peserta kemudian mengikuti prosesi Melukat, yakni ritual pembersihan diri secara spiritual menggunakan air suci. Ritual ini dimaknai sebagai upaya penyelarasan antara tubuh, pikiran, dan energi spiritual sebelum memasuki rangkaian pengalaman berikutnya. Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Museum Sang Hyang Dedari untuk memahami sejarah serta praktik ritual yang berkembang di desa tersebut. Peserta juga diajak menyusuri area persawahan sambil mengamati padi lokal jenis taun. Pada sesi ini, Nyoman Subrata selaku Jero Bandesa Adat Geriana Kauh memaparkan sembilan tahapan ritual pertanian yang masih dijalankan masyarakat, mulai dari sebelum masa tanam hingga pascapanen. Memasuki malam hari, sebanyak 26 peserta mengikuti Maharasa Dining Experience. Sesi ini mengedepankan praktik mindfulness dalam pengolahan dan penyajian makanan, termasuk tata cara makan dan minum secara berkesadaran sebagai bentuk penghormatan terhadap Tuhan, alam, dan sumber pangan. Di rangkaian ini, turut hadir perwakilan Bupati Karangasem, I Made Agus Budiyasa (Asisten II Pemkab. Karangasem) dan Ida Bagus Made Gunawan (Samsara Living Museum) yang memberikan pemaparan mengenai konsep Kanda Pat. Konsep ini merujuk pada empat saudara spiritual yang dipercaya menyertai manusia sejak dalam kandungan hingga akhir kehidupan. Dalam pemaparannya, dijelaskan Kanda Pat tidak hanya dimaknai secara simbolik, tetapi juga diimplementasikan dalam praktik keseharian, termasuk dalam etika makan. Aktivitas makan dipandang sebagai tindakan sakral yang melibatkan kesadaran penuh, di mana manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menghormati dimensi spiritual yang menyertainya melalui sikap hening, rasa syukur, dan persembahan. Setelah rangkaian santap malam, peserta menyaksikan ritual sakral Sang Hyang Jaran Gading. Ritual ini menampilkan kondisi trans sebagai media spiritual yang dipercaya memiliki fungsi perlindungan serta menjaga keseimbangan energi dalam kehidupan masyarakat. Maharasa dihadirkan sebagai upaya mereaktualisasi nilai-nilai leluhur Nusantara melalui pendekatan gastronomi. Program ini mendorong refleksi atas peran budaya dalam membangun hubungan yang lebih selaras antara manusia, Tuhan, dan alam. “Banyak sekali hal baru yang dipelajari. Di Maharasa dan desa ini, kita melihat Bali dari sisi yang berbeda. Ini sangat menyentuh. Alamnya, orang-orangnya, dan budayanya, inilah Bali yang sesungguhnya,” kata Winnie, peserta Maharasa asal Singapura. Ke depan, kegiatan serupa Maharasa direncanakan akan terus diselenggarakan di Desa Adat Geriana Kauh untuk memastikan budaya terus dilestarikan dan masyarakat luas dapat belajar dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun, mulai dari nilai spiritual, praktik hidup berkesadaran, hingga harmoni antara manusia, alam, dan tradisi sebagai inspirasi dalam membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan, dan bermakna di masa kini.
Kolaborasi KAI Services dan Kemendag, Buka Akses UMKM Pangan ke Jaringan Bisnis KA
Jakarta, katakabar.com - Kereta Api Indonesia (KAI) Services berkolaborasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) buka akses pasar bagi produk pangan dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masuk ke jaringan bisnis kereta api. Sinergi ini diimplementasikan melalui Business Matching mempertemukan UMKM dengan KAI Services, sehingga semakin banyak produk pangan lokal mengisi jaringan bisnis KAI Services mulai dari penjualan diatas kereta api melalui kereta makan, Loko Cafe yang tersebar di berbagai stasiun, dan di gerai Gerbong Oleh Oleh yang tersebar di Jakarta, Bandung, hingga Yogyakarta. Salah satu wujud kegiatan dari kolaborasi ini adalah dengan menggelar Pameran dan Bazzar bertema Sambut Ramadhan, kolaborasi KAI Services dan Kemendag bawa produk lokal ke Gerbong Pemudik: Perjalanan Penuh Rasa. Pameran yang berlangsung mulai 12 Febuari 2026 hingga 13 Febuari 2026 ini lalu, Kemendag mengajak UMKM-UMKM binaannya menjual produk seperti seperti tas, pakaian hingga parfum di booth pameran yang berlangsung di Stasiun Gambir, Jakarta. Menurut Ketua Tim Peningkatan Akses Pasar, Direktorat Pemasaran Kemendag, Firsta Widya Aris, Salah satu tujuan Bazzar dan Pameran ini adalah untuk mendorong UMKM binaan Kemendag untuk menjual produk-produknya di stasiun jarak jauh seperti di Gambir yang dikelola PT KAI (Persero). “Dalam pameran ini kita menjual produk-produk untuk kebutuhan mudik para penumpang, apalagi sebentar lagi kita akan masuk masa mudik lebaran, penumpang kereta api biasanya mencari kebutuhan mudik seperti pakaian dan tas," kata Firsta. KAI Services dan Kemendag punya komitmen kuat untuk memberikan support penuh bagi UMKM Pangan Lokal agar mendapatkan akses pasar dalam negeri salah satunya melalui pemanfaatan transportasi publik yakni KAI yang memiliki captive market 51 juta pertahun. Saat ini, kemitraan KAI Services dan Kemendag telah membuahkan hasil yang ditandai dengan UMKM pangan lokal yang mulai mengisi layanan kereta api jarak jauh dan juga gerai-gerai Loko Cafe. Menurut Manager Corporate Communication KAI Services, Nyoman Suardhita, perusahaan memiliki potensi pasar yang besar melalui jutaan penumpang yang dilayani setiap bulan, sehingga kerja sama dengan UMKM menjadi peluang saling menguatkan. KAI Services membuka ruang selebar mungkin bagi produk lokal berkualitas untuk hadir dalam ekosistem layanan kami baik di Kuliner Kereta, Loko Cafe, maupun Gerbong Oleh-Oleh. “Business matching ini adalah langkah untuk memastikan produk UMKM siap masuk ke pasar yang lebih luas dengan standar mutu yang tepat melalui jaringan bisnis KAI Services. Kegiatan ini implementasi nyata dari upaya pemerintah dalam memperluas jangkauan pemasaran UMKM serta memperlihatkan keberhasilan pembinaan yang telah dilakukan Kemendag," timpal Nyoman lewat keterangan resmi. Menurut Nyoman, KAI Services siap menjadi mitra strategis bagi UMKM di bawah Kemendag untuk memperluas jaringan pemasaran produk pangan lokal dan menghadirkan cita rasa Indonesia di setiap perjalanan.
Kolaborasi Kementan dan Holding PTPN Perkuat Ketahanan Pangan Korban Banjir
Jakarta, katakabar.com - Kementerian Pertanian Republik Indonesia melepas bantuan kemanusiaan bagi korban bencana banjir di sejumlah wilayah Sumatera yang terjadi sejak 23 November 2025 sehingga sebabkan terisolasinya beberapa daerah serta lumpuhnya aktivitas masyarakat. Pelepasan bantuan dipimpin langsung oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia dan dilaksanakan di Lobi Auditorium Gedung F, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. Bantuan kemanusiaan tersebut dihimpun dari berbagai unit kerja, mitra, serta pelaku usaha di sektor pertanian sebagai wujud kepedulian untuk meringankan beban masyarakat terdampak. Salah satu dukungan signifikan datang dari PT Sinergi Gula Nusantara (PT SGN), entitas di bawah Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), yang menyalurkan bantuan berupa tujuh truk Gula Kristal Putih (GKP) dan tiga truk makanan siap saji sebagai respons cepat terhadap kondisi darurat di lapangan. Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat di wilayah terdampak merupakan prioritas utama pemerintah dalam fase tanggap darurat. “Kami memastikan bahwa negara hadir dan bergerak cepat. Bantuan yang dilepas hari ini adalah wujud komitmen bersama untuk menjaga ketersediaan pangan bagi saudara-saudara kita yang sedang menghadapi bencana. Kolaborasi pemerintah, BUMN, serta para mitra seperti PT SGN menjadi kekuatan penting dalam memastikan bantuan tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran,” tegas Andi Amran Sulaiman. Sedang, Direktur Utama PT SGN, Mahmudi, menyampaikan partisipasi perusahaan merupakan bentuk tanggung jawab moral dan sosial perusahaan terhadap masyarakat, khususnya di wilayah operasional. “Bantuan ini kami siapkan untuk memastikan kebutuhan pangan dasar masyarakat dapat segera terpenuhi di tengah situasi darurat. Kami berharap suplai gula dan makanan siap saji ini dapat membantu mempercepat pemulihan kondisi warga di daerah terdampak,” kata Mahmudi. Acara pelepasan bantuan tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan Kementerian Pertanian, termasuk para Direktur Jenderal, Kepala Badan, Staf Ahli, dan Staf Khusus, serta perwakilan mitra strategis dari unsur BUMN, swasta, asosiasi pertanian, dan lembaga relawan. Kolaborasi lintas sektor ini mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dalam merespons bencana yang berdampak luas di sejumlah provinsi di Sumatera. Kementerian Pertanian RI menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pengumpulan dan penyaluran bantuan, serta menegaskan komitmen pemerintah bersama Holding Perkebunan Nusantara untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terjaga selama masa tanggap darurat bencana.
Minyak Sawit Petensial Jadi Sumber Bahan Pangan Global
katakabar.com - Minyak sawit sangat potensial dikembangkan jadi salah satu sumber bahan pangan dunia. Pangan kebutuhan dasar masyarakat di seluruh dunia. Lantaran itu, aspek ketersediaan (availability) dan keterjangkauan (affordability) menjadi sangat penting ketika suatu komoditas digunakan sebagai sumber bahan pangan global. Menurut jurnal PASPI Monitor (2024) berjudul Industri Sawit Bagian Strategis Ketahanan Pangan dan Energi Nasional yang Berkelanjutan, minyak sawit sangat potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu sumber bahan pangan dunia. Ada beberapa hal yang membuat minyak sawit sangat potensial yakni harga kompetitif, tersedia sepanjang tahun, dan aplikasi penggunaan sangat luas. Berikut ini ulasan mengenai potensi pendukung minyak sawit sebagai sumber bahan pangan global tersebut. Harga Kompetitif: Harga minyak sawit lebih rendah atau lebih kompetitif apabila dibandingkan dengan minyak nabati utama lain. Kondisi tersebut disebabkan oleh produktivitas minyak sawit yang jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lain seperti minyak kedelai, rapeseed, dan bunga matahari (PASPI, 2023). Harga yang lebih kompetitif ini memberikan manfaat bagi masyarakat dunia. Dalam konteks pemanfaatan minyak nabati sebagai bahan pangan, keberadaan minyak sawit sebagai substitusi bagi minyak nabati lain juga dapat berkontribusi positif untuk mencegah kenaikan harga pangan dunia secara berlebihan (Kojima et al., 2016). Tersedia Sepanjang Tahun: Produksi minyak sawit tersedia sepanjang tahun dengan pasokan yang stabil. Selama sinar matahari tetap tersedia, proses produksi minyak sawit akan terus berlangsung secara berkesinambungan (PASPI Monitor, 2024a). Komoditas ini tidak mengenal pola musiman dengan volume produksi yang relatif konsisten dari bulan ke bulan serta dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut memberikan kepastian dan kenyamanan bagi masyarakat di berbagai wilayah. Perlu diketahui, minyak sawit dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit yang memiliki tingkat produktivitas minyak per hektare sekitar 8-10 kali lebih tinggi apabila dibandingkan dengan produktivitas minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak biji bunga matahari. Dengan komposisi tanaman yang ideal, kelapa sawit mampu menghasilkan minyak secara konsisten setiap bulan hingga mencapai usia produktif sekitar 25 tahun. Stabilitas pasokan tersebut menjadikan minyak sawit sebagai sumber minyak nabati yang andal dan memberikan kepastian dalam penyediaan minyak nabati bagi kebutuhan pangan global. Aplikasi Penggunaan Sangat Luas: Minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan baku untuk berbagai produk pangan seperti minyak goreng, margarin, mentega putih (shortening), dan krimer nabati. Penciptaan produk pangan berbasis minyak sawit dapat memenuhi kebutuhan konsumen terkait kualitas, stabilitas, dan kesehatan. Selain itu, minyak sawit memiliki keunggulan nutrisi yang menjadikannya bahan baku unggulan dalam produk pangan. Terkait aspek kesehatan, minyak sawit memiliki kandungan betakaroten, vitamin E, dan asam lemak tak jenuh yang bermanfaat positif bagi tubuh manusia. Pengembangan minyak sawit akan menghasilkan produk minyak sawit merah (red palm oil atau RPO) yang kaya nutrisi dan tinggi gizi. Minyak sawit merah diproses khusus agar kandungan gizi tetap bertahan meski melalui proses pemurnian. Beberapa keunggulan lain dari minyak sawit yakni memiliki kandungan antioksidan alami yang berfungsi sebagai pengawet alami, kemampuan memberikan tekstur yang halus dan lembut pada makanan, serta sifatnya yang bebas lemak trans, tidak berbau, tidak berasa, dan dapat meningkatkan cita rasa produk pangan secara keseluruhan.
Toga dan PK Serukan Transformasi Sistem Pangan Berbasis Spritualisme dan Keberlanjutan
Depok, katakabar.com - Lebih dari 20 tokoh agama, penghayat kepercayaan, serta perwakilan organisasi keagamaan berkumpul dalam Lokakarya Sistem Pangan untuk Tokoh Agama dan Kepercayaan yang digelar Yayasan KEHATI bekerja sama dengan Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) pada 7 hingga 10 Desember 2025 di Wisma Hijau, Depok. Kegiatan ini menghasilkan Deklarasi Bersama Tokoh Agama dan Kepercayaan yang menegaskan komitmen lintas iman dalam mendorong transformasi sistem pangan nasional yang adil, berkelanjutan, serta berakar pada nilai-nilai spiritualitas nusantara. Di lokakarya tersebut, para peserta menyoroti krisis sistem pangan yang ditandai oleh hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan fungsi lahan, ketimpangan akses pangan bagi kelompok rentan, hingga pola konsumsi yang semakin menjauh dari kearifan lokal. Manajer Program Ekosistem Pertanian Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Puji Sumedi, menekankan pangan harus dipandang secara holistik. "Pangan adalah ruang spiritual, ekologis, dan sosial. Ia bukan sekadar komoditas. Transformasi sistem pangan tidak akan terjadi tanpa memulihkan relasi manusia dengan alam sebagai anugerah Tuhan,” ujarnya. Kepala Sekretariat KSPL, Gina Karina, menambahkan pendekatan teknokratik tidak cukup dalam menjawab krisis pangan. “Nilai agama dan kearifan lokal memberikan landasan moral yang kuat untuk menggerakkan perubahan. Tokoh agama memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku dan pilihan konsumsi masyarakat,” jelasnya. Peran Strategis Komunitas Agama dan Kepercayaan Di acara yang sama, Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Jarot Indarto menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan komunitas iman. “Transformasi sistem pangan merupakan agenda besar dalam RPJMN, dan partisipasi tokoh agama sangat diperlukan agar kebijakan diversifikasi pangan serta perlindungan sumber daya lokal dapat berkembang menjadi gerakan luas di masyarakat,” ucapnya. Beberapa perwakilan tokoh agama dan kepercayaan turut menyuarakan beberapa poin penting peran strategis agama dalam program pangan lokal berkelanjutan. Perwakilan tokoh Katolik dari JPIC, Sr. Maria Monika, menyatakan dimensi spiritual harus tercermin dalam perilaku konsumsi umat, dan menurutnya bumi adalah rumah bersama sehingga memilih pangan lokal, mengurangi sampah, dan menjaga tanah merupakan bagian dari praktik iman sehari-hari. Dari kalangan penghayat kepercayaan, Kento Subarman, menekankan bahwa pangan memiliki keterhubungan erat dengan adat dan kosmos. Ia menyatakan merusak tanah sama artinya dengan merusak diri sendiri, sehingga regenerasi petani dan perlindungan lahan harus dipahami sebagai laku spiritual, bukan sekadar upaya teknis. Deklarasi Bersama Deklarasi yang disepakati para tokoh agama dan penghayat kepercayaan menegaskan komitmen untuk memperkuat pangan lokal dan kedaulatan benih dengan melindungi benih-benih lokal, mendorong diversifikasi pangan, dan mengembangkan inovasi olahan pangan yang dapat menarik minat generasi muda. Deklarasi tersebut juga menekankan pentingnya integrasi spiritualitas ekologis dalam pendidikan dan kebijakan dengan mengarusutamakan ajaran agama dan kearifan lokal tentang rasa syukur, kesederhanaan, dan harmoni dengan alam dalam pendidikan formal, khutbah, ritual, serta perayaan keagamaan. Selain itu, para tokoh menyatakan perlunya perlindungan lahan dan ekosistem melalui penolakan terhadap alih fungsi lahan subur, penguatan upaya restorasi lingkungan, dan penegakan hukum terhadap tindakan yang merusak alam. Mereka juga mendorong regenerasi petani dengan membuka akses lahan, menyediakan pendidikan pertanian ekologis, dan membangun kemitraan yang dapat menarik anak muda untuk kembali bergerak di sektor pertanian. Deklarasi tersebut turut menegaskan tata kelola sistem pangan harus dilakukan secara lintas sektor dan melibatkan kementerian terkait, lembaga agama, komunitas adat, serta organisasi masyarakat sipil secara setara dan kolaboratif. Pembentukan Forum Lintas Iman dan Komitmen Bersama Sistem Pangan Lestari Dengan menggunakan pendekatan System Thinking, para peserta lokakarya merumuskan Teori Perubahan Sistem Pangan Berkelanjutan, menyusun rencana aksi yang berlandaskan nilai-nilai spiritualitas, dan menyepakati pembentukan Forum Lintas Agama dan Kepercayaan untuk Sistem Pangan Lestari. Wakil Kementerian Agama, Deva Sebayang, memberikan apresiasi terhadap inisiatif ini dan menegaskan bahwa agama memiliki kekuatan moral yang besar, serta bahwa gerakan lintas iman untuk pangan berkelanjutan merupakan bukti bahwa spiritualitas dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian persoalan nasional. Deklarasi penutup menegaskan bahwa pangan merupakan hak dasar sekaligus titipan Tuhan yang harus dijaga, konsumsi pangan harus dilakukan secara beragam, bergizi, seimbang, dan tidak berlebihan, serta komunitas agama, penghayat kepercayaan, dan masyarakat adat memiliki peran penting dalam mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat.
Ditopang Sawit, Bupati Tegaskan Komitmen 'Muba Mandiri Pangan'
Palembang, katakabar.com - Bupati Musi Banyuasin (Muba), H M Toha Tohet SH menyampaikan komitmen serius wujudkan kemandirian pangan berkelanjutan di Sumatera Selatan. "Kita komitmen wujudkan 'Muba Mandiri Pangan' berkelanjutan di Sumatera Selatan," tegas Toha saat mengikuti Dialog Interaktif bertema “Inovasi & Terobosan Mendorong Sumsel Mandiri Pangan” yang digelar Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post di Hotel Novotel Palembang, Jumat (24/10) lalu. Gubernur Sumatera Selatan, Dr H Herman Deru, yang pimpin kegiatan diikuti para bupati dan wali kota se Sumatera Selatan. Forum ini menjadi ruang bertukar gagasan dan strategi untuk memperkuat gerakan 'Sumatera Selatan Mandiri Pangan'. Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru menyampaikan apresiasi kepada Sriwijaya Post dan Tribun Sumsel atas penyelenggaraan forum yang memfasilitasi kepala daerah dalam berbagi inovasi pembangunan. Ia mengatakan, Sumatera Selatan memiliki potensi besar di sektor pertanian dan perkebunan. “Sumsel memiliki hamparan sawah dan perkebunan yang luas, termasuk kelapa sawit dan karet. Kabupaten Banyuasin dan OKI menjadi wilayah dengan sawah terluas, sementara Muba merupakan daerah yang sangat potensial, tidak hanya di bidang pertanian, tetapi energi dan perikanan,” ulasnya, dilansir dari laman MC Sumsel, Senin (27/10). Ia mengapresiasi capaian Kabupaten Musi Banyuasin yang berhasil menurunkan angka kemiskinan hingga satu digit pada peringatan HUT ke 69 tahun ini. “Muba telah mencatat sejarah baru dalam pengentasan kemiskinan, berkat kerja sama dan inovasi di berbagai sektor,” ucapnya. Sementara, Bupati Muba, H M Toha Tohet SH, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya dialog yang dinilai sangat strategis dan relevan dengan arah pembangunan daerah. “Tema Inovasi dan Terobosan Mendorong Sumsel Mandiri Pangan sejalan dengan visi pembangunan di Musi Banyuasin. Kami berkomitmen menjadi lumbung pangan regional untuk mendukung gerakan Sumatera Selatan Mandiri Pangan yang diinisiasi oleh Bapak Gubernur,” tutur Toha. Menurutnya, kemandirian pangan di Muba tidak berhenti pada swasembada semata, tetapi menyangkut upaya membangun kedaulatan pangan yang berkelanjutan, dengan mengoptimalkan potensi lahan rawa dan sistem pertanian terintegrasi. Pemerintah Kabupaten Muba menargetkan tercapainya swasembada pangan secara mandiri pada tahun 2025, dengan fokus pada komoditas unggulan seperti padi dan jagung. Selain sektor pangan, Muba memiliki potensi besar di bidang perkebunan dan energi. Saat ini, terdapat sekitar 300 ribu hektare perkebunan kelapa sawit dan 200 ribu hektare perkebunan karet, yang terdiri dari kebun perusahaan dan milik masyarakat. Untuk memperkuat produktivitas, pemerintah daerah memberikan bantuan bibit unggul sawit, karet, dan pinang, serta potongan biaya sewa alat berat bagi petani yang membuka lahan baru. “Langkah-langkah ini bentuk dukungan nyata pemerintah kepada petani agar dapat meningkatkan hasil produksi secara berkelanjutan,” terangnya. Selain sektor pertanian, Musi Banyuasin dikenal sebagai salah satu wilayah dengan potensi sumber daya alam terbesar di tingkat nasional. Kekayaan alam berupa minyak, gas, dan batu bara menjadikan Muba sebagai daerah dengan kontribusi penting bagi ekonomi Sumatera Selatan maupun Nasional. Dialog interaktif diikuti para kepala daerah penghasil pangan, dan perkebunan di Sumatera Selatan. Masing-masing kepala daerah memaparkan potensi wilayah serta strategi lokal dalam memperkuat ketahanan pangan provinsi.
Dukung Penguatan Pangan dan Energi Nasional PTPN IV Regional III Replanting Sawit Tua Seluas 949,6 Ha
Kampar, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara IV Regional III replanting perkebunan sawit inti memasuki usia tidak produktif atau tus seluas mencapai 949,6 hektare. Replanting sejalan dengan komitmen entitas di bawah Sub Holding PalmCo ini untuk menjaga keberlanjutan bisnis, dan produktivitas industri sawit nasional berlangsung di Kebun Terantam dan Berlian, Kabupaten Kampar, Riau. Region Head PTPN IV Regional III Ahmad Gusmar Harahap melalu keterangan tertulisnya di Pekanbaru, Ahad (19/10), menyatakan program peremajaan sawit ini bukan sekadar mengganti tanaman tua dengan yang baru, melainkan langkah strategis untuk memastikan kesinambungan upaya PTPN IV Regional III guna memperkuat ketahanan pangan dan energi usaha sesuai asta cita serta daya saing PTPN IV di masa mendatang. “Permejaan ini bentuk komitmen perusahaan menjaga produktivitas dan efisiensi pengelolaan kebun. Dengen begitu, langkah ini selaras dengan Asta Cita untuk mendukung program penguatan pangan dan energi nasional dari sektor perkebunan sawit yang lestari," ujarnya, dilansir dari laman cakaplah.com, Minggu sore. Dari total lahan yang diremajakan, seluas 649,6 hektare berada di Kebun Terantam dan 300 hektare di Kebun Berlian. Kedua areal tersebut bagian dari core estate Regional III yang menjadi penopang utama produksi Crude Palm Oil (CPO) PTPN IV di wilayah Riau bagian barat. Di Terantam, program peremajaan berlangsung di Afdeling 7 dengan luas 187 hektare, Afdeling 8 dengan luas 138,5 hektare, dan Afdeling 9 dengan luas 324,1 hektare. Sedang, di Berlian, program peremajaan berlangsung di Afdeling 1 dengan total luas mencapai 300 hektare. Dijelaskan Gusmar, program peremajaan ini sebagai bentuk PTPN IV Regional III yang menargetkan peningkatan produktivitas sawit mencapai 7 ton CPO per hektare per tahun. "Target itu sekaligus menjadi pilot project bagi Regional III untuk menunjukkan perbaikan signifikan di tingkat teknis dan manajerial," imbuhnya. Menurutnya, peningkatan produktivitas bisa dicapai melalui pengelolaan agronomi presisi yang didukung dengan teknis budidaya yang baik serta inisiatif digitalisasi. "Fokus kami bukan hanya pada kuantitas, tetapi kualitas. Setiap hektare yang diremajakan harus dikelola dengan disiplin tinggi agar menghasilkan rendemen dan produktivitas maksimal,” terangnya. Langkah replanting ini, sambungnya, menjadi bagian dari komitmen perusahaan terhadap Sustainable Palm Oil Management, sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance dan sertifikasi RSPO/ISPO yang terus diperkuat PTPN Group. “Menanam kembali artinya kita menanam harapan baru. Bukan hanya untuk produktivitas, tapi juga untuk keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar kebun,” tutur Gusmar. Pada 2025 ini, PTPN IV Regional III menargetkan untuk dapat melakukan peremajaan sawit renta dan konversi dengan total luas mencapai 2.396,45 hektare. Program peremajaan ini berlangsung di Kebun Lubuk Dalam dengan total luas mencapai 503,85 hektare, Terantam 649 hektare, dan Sei Berlian seluas 300 hektare. Selanjutnya, entitas juga ditarget melakukan konversi seluas 943 hektare di Kebun Air Molek I. “Program peremajaan ini harus menjadi momentum bagi kita semua untuk juga meremajakan semangat kita. Memperbarui cara kerja kita, pola kita, sebagai bagian dari semangat perbaikan yang kita usung tiga tahun terakhir ini,” harap Gusmar. Diketahui, PTPN IV Regional III saat ini menjadi pilot project mencapai produktivitas crude palm oil (CPO) sebesar 7 ton per hektare. Produktivitas CPO indikator untuk mengukur kemampuan produksi setiap hektare perkebunan sawit dalam menghasilkan minyak sawit dalam kurun waktu satu tahun.
Diskusi Panel ISF 2025 tentang Pertanian Soroti Kolaborasi Jalan Menuju Ketahanan Pangan
Jakarta, katakabar.com - Rangkaian Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025, para pemimpin dan pakar dari sektor agribisnis dan keberlanjutan berkumpul untuk membahas bagaimana inovasi dan kolaborasi dapat mendorong transformasi sektor pertanian demi memastikan ketahanan pangan bagi generasi mendatang dalam sesi panel diskusi berjudul “Feeding the Future: Sustainable Innovation to Boost Agriculture Productivity”. Sesi ini dimoderatori oleh Sachin Gopalan, CEO dan pendiri Indonesia Economic Forum, dengan pembicara Anita Neville dari Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART), Peter Bakker dari World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), Djap Tet Fa dari Astra Agro Lestari, dan Rahmad Pribadi dari Pupuk Indonesia. Kolaborasi sebagai Fondasi Ketahanan Pangan Dalam pembukaannya, Sachin Gopalan menyoroti perubahan wajah pertanian, di mana generasi muda semakin enggan terjun ke dunia pertanian. Ia menegaskan pentingnya inovasi dan teknologi untuk menjadikan sektor ini lebih efisien, berkelanjutan, dan menarik bagi generasi penerus. Djap Tet Fa menekankan pentingnya kemitraan antara sektor publik dan swasta menjaga ketahanan pangan jangka panjang. “Ketahanan pangan tidak bisa dicapai oleh satu sektor saja. Pemerintah, swasta, dan masyarakat harus berkolaborasi,” ujarnya. Ia menjelaskan berbagai inisiatif Astra Agro Lestari seperti peremajaan perkebunan, pengembangan pupuk hayati, serta dukungan bagi petani kecil melalui pelatihan, pembiayaan, dan akses teknologi. “Tidak boleh ada yang tertinggal,” ulasnya. Menguatkan Petani Kecil melalui Pertumbuhan Inklusif Anita Neville memperkuat pandangan tersebut dengan menyoroti bahwa petani kecil berkontribusi sekitar 40 persen terhadap produksi kelapa sawit di Indonesia. “Perusahaan besar seperti kami memiliki tanggung jawab untuk mendampingi pelaku usaha yang lebih kecil. Melalui model inclusive closed loop, kami membantu petani kecil menerapkan praktik berkelanjutan, mengakses benih unggul, dan meningkatkan produktivitas,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya aksi kolektif serta kebijakan yang mendorong inovasi dan investasi berkelanjutan. Meningkatkan Produktivitas dan Ketahanan terhadap Perubahan Iklim Peter Bakker memberikan perspektif global dengan merujuk pada temuan terbaru laporan EAT-Lancet, yang menyoroti tiga prioritas utama sektor pertanian: pertanian regeneratif, transformasi digital, dan ketahanan terhadap dampak iklim. “Perubahan iklim bukan lagi isu konseptual. Dampaknya sudah nyata, dan inovasi harus difokuskan tidak hanya pada produktivitas, tetapi juga ketahanan,” ujarnya. Sementara, Rahmad Pribadi menegaskan peran penting pupuk dalam meningkatkan produktivitas pertanian, yang menyumbang lebih dari 60 persen terhadap hasil panen. Ia menjelaskan bagaimana teknologi pertanian presisi berbasis satelit membantu mengoptimalkan penggunaan pupuk sekaligus mengurangi limbah. “Keberlanjutan tidak hanya soal pertanian, tetapi juga ketahanan energi. Pertanian dapat berperan penting dalam mendukung transisi Indonesia menuju ekonomi rendah karbon,” jelasnya. Investasi untuk Generasi Petani Berikutnya Diskusi ditutup dengan pandangan mengenai cara memperluas skala inovasi dan memberdayakan generasi muda di sektor pertanian. Neville menyoroti bahwa sebagian besar program pemberdayaan masih menargetkan petani berusia di atas 45 tahun, sementara kelompok muda kurang terlibat. “Kita perlu memikirkan kembali cara mendukung mereka yang berusia 18 hingga 35 tahun dan memperlakukan mereka sebagai pelaku usaha kecil, bukan sekadar penerima manfaat,” ujarnya.