Intensifkan Rantai Ketahanan Pangan: Dari Laut hingga Meja Makan Nasional
Nasional
Senin, 27 Juli 2026 | 15:10 WIB

Intensifkan Rantai Ketahanan Pangan: Dari Laut hingga Meja Makan

Jakarta, katakabar.com - Ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang ketersediaan bahan makanan di pasar atau harga yang terjangkau di tingkat konsumen. Soalnya, di balik setiap bahan pangan yang tersaji di meja makan masyarakat, terdapat rantai panjang yang dimulai dari proses produksi, distribusi, hingga berbagai kebijakan pemerintah untuk memastikan pasokan tetap terjaga.  Pada konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, rantai tersebut bahkan dimulai dari laut, tempat jutaan nelayan menggantungkan hidup sekaligus menjadi penyedia salah satu sumber protein utama masyarakat. Lantaran itu, memperkuat ketahanan pangan tidak cukup dilakukan melalui intervensi harga di hilir. Penguatan sektor produksi, khususnya di wilayah pesisir, juga menjadi bagian penting agar pasokan pangan tetap terjaga, daya beli masyarakat terlindungi, dan kesejahteraan pelaku usaha pangan ikut meningkat. Laut sebagai Titik Awal Ketahanan Pangan Pentingnya sektor perikanan dalam mendukung ketahanan pangan tercermin dari tren konsumsi ikan nasional yang terus meningkat. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan konsumsi ikan masyarakat naik dari 54,56 kilogram per kapita per tahun pada 2020 menjadi 58,91 kilogram per kapita per tahun pada 2024.  Peningkatan ini menunjukkan ikan semakin menjadi sumber protein penting bagi masyarakat Indonesia. Di sisi lain, peningkatan konsumsi juga menuntut ketersediaan pasokan yang berkelanjutan. Artinya, produktivitas nelayan menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan menjaga ketahanan pangan nasional. Sebagai upaya memperkuat sektor hulu, pemerintah telah menyelesaikan pembangunan 65 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tahap pertama yang tersebar di berbagai wilayah pesisir Indonesia.  Program ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari pabrik es, gudang beku (cold storage), bengkel kapal, sentra kuliner, hingga kios perbekalan nelayan untuk meningkatkan efisiensi aktivitas melaut dan menjaga kualitas hasil tangkapan. Ketua Tim Koordinasi Pelaksanaan Pembangunan KNMP Tahap I dan II, Trian Yunanda, mengatakan seluruh pembangunan fisik tahap pertama telah rampung. "Pekerjaan konstruksi KNMP Tahap I pada 65 lokasi telah selesai sepenuhnya 100 persen per akhir April 2026. Kami pastikan seluruh fasilitas dapat segera berfungsi secara optimal. Selanjutnya Satgas akan memastikan kesiapan operasionalisasi KNMP dapat berjalan efektif,” kata Trian di suatu perbincangan. Penguatan sektor nelayan juga dilakukan melalui rencana penyaluran 1.582 unit kapal ikan yang akan diberikan secara bertahap melalui koperasi nelayan. Presiden RI, H Prabowo Subianto, menegaskan peningkatan kesejahteraan nelayan menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. "Yang selama ini mereka susah, mereka melaut tanpa es, sekarang kita bikin pabrik es di tiap kampung nelayan. Kita juga akan bantu kapal-kapal untuk mereka,” jelas Presiden RI pada Peringatan Hari Buruh, 1 Mei 2026 lalu.  Berbagai upaya tersebut juga diharapkan berdampak terhadap kesejahteraan nelayan. Salah satu indikator yang digunakan pemerintah adalah Nilai Tukar Nelayan (NTN).  Data Badan Pusat Statistik menunjukkan NTN sempat meningkat dari 116,23 pada Januari menjadi 122,28 pada April 2026 sebelum berada di level 118,39 pada Mei 2026. Nilai di atas 100 menunjukkan bahwa secara umum daya beli nelayan masih berada pada kondisi yang relatif baik karena pendapatan yang diterima lebih tinggi dibandingkan pengeluaran yang harus dikeluarkan. Menjaga Pasokan dan Stabilitas Harga Produksi yang meningkat perlu diikuti distribusi yang baik agar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat. Oleh karena itu, menjaga ketahanan pangan tidak berhenti pada peningkatan produksi. Hasil tangkapan nelayan maupun komoditas pangan lainnya tetap harus dapat diakses masyarakat dengan harga yang wajar. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi pangan pada Maret 2026 menurun menjadi 1,58 persen dibandingkan Februari yang mencapai 2,50 persen. Sementara inflasi umum secara bulanan tercatat sebesar 0,41 persen. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa inflasi Maret masih didorong oleh komponen harga bergejolak yang didominasi komoditas pangan strategis seperti daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, dan daging sapi. "Inflasi Maret tahun 2026 sebesar 0,41 persen. Ini terutamanya didorong oleh inflasi komponen harga bergejolak. Komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 1,58 persen. Komponen ini memberikan andil inflasi terbesar, yakni 0,27 persen," timpalnya. Meski demikian, pemerintah menilai kondisi tersebut masih berada dalam koridor yang terkendali melalui berbagai instrumen stabilisasi pangan. Memastikan Pangan Tetap Terjangkau Untuk menjaga keterjangkauan harga pangan, pemerintah menjalankan berbagai program stabilisasi, mulai dari penyaluran bantuan pangan, Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), hingga Gerakan Pangan Murah (GPM). Pada periode Juli–September 2026, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menugaskan Perum Bulog menyalurkan bantuan pangan beras kepada 33,24 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP), masing-masing sebanyak 10 kilogram beras setiap bulan.  Penyaluran tersebut menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) versi 3 tahun 2026 sebagai basis data terbaru agar bantuan semakin tepat sasaran. Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, menegaskan penyaluran bantuan pangan mengacu pada pembaruan data terbaru yang telah dirilis Badan Pusat Statistik. "DTSEN yang akan digunakan dalam penyaluran bantuan pangan tersebut akan merujuk pada rilis terbaru BPS (DTSEN versi 3),” ucapnya, Senin (13/7). Sepanjang Januari hingga 11 Juli 2026, pemerintah juga telah melaksanakan Gerakan Pangan Murah sebanyak 5.884 kali di 38 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Di saat yang sama, realisasi penyaluran beras SPHP telah mencapai sekitar 457 ribu ton atau 55,22 persen dari target tahun 2026 sebesar 828 ribu ton. Kepala Badan Pangan Nasional yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pemerintah akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi pangan untuk menjaga pasokan, keterjangkauan harga, sekaligus daya beli masyarakat. "Pemerintah hadir melalui berbagai instrumen, mulai dari Gerakan Pangan Murah, SPHP beras, hingga bantuan pangan, untuk memastikan masyarakat tetap tenang dan daya beli terjaga,” imbuhnya Rantai Ketahanan Pangan yang Saling Terhubung Ketahanan pangan dibangun melalui rantai yang saling terhubung, mulai dari nelayan yang memperoleh dukungan untuk meningkatkan produktivitas, sistem distribusi yang semakin baik, hingga berbagai kebijakan yang menjaga agar bahan pangan tetap terjangkau oleh masyarakat. Ketika rantai tersebut berjalan dengan baik, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari laut, tetapi juga oleh jutaan keluarga Indonesia yang setiap hari mengandalkan ketersediaan pangan di meja makan.  Di situlah ketahanan pangan menjadi lebih dari sekadar target pembangunan, melainkan fondasi bagi kesejahteraan masyarakat secara luas.

PERISAI 2026 Siap Digelar, BPDP Tampilkan Inovasi Sawit Mulai Pangan hingga Energi Sawit
Sawit
Kamis, 16 Juli 2026 | 09:03 WIB

PERISAI 2026 Siap Digelar, BPDP Tampilkan Inovasi Sawit Mulai Pangan hingga Energi

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bakal menggelar Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 pada 20 hingga 21 Juli 2026 sebagai ajang diseminasi hasil riset dan inovasi kelapa sawit terbesar di Indonesia. Angkat  tema "Shaping The Palm Oil Industry Ecosystem For A Sustainable Future", PERISAI 2026 menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, industri, dan masyarakat untuk memperkuat ekosistem riset, inovasi, serta hilirisasi industri sawit nasional. Sebagai rangkaian menuju pergelaran PERISAI 2026, BPDP taja Media Briefing Road to Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 di Jakarta, Rabu (15/7). Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkenalkan berbagai agenda utama PERISAI sekaligus menunjukkan beragam hasil riset yang telah didukung BPDP selama lebih dari satu dekade. Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, mengatakan riset dan inovasi merupakan salah satu pilar penting dalam meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia. Menurutnya, selama ini BPDP tidak hanya mendukung pengembangan produktivitas perkebunan, tetapi juga mendorong lahirnya berbagai inovasi yang memberikan nilai tambah bagi industri dan masyarakat. "Melalui PERISAI, kami ingin menunjukkan bahwa sawit bukan hanya menghasilkan minyak nabati atau biodiesel. Berbagai hasil riset yang didukung BPDP telah menghasilkan inovasi di bidang pangan, kesehatan, energi terbarukan, biomaterial, hingga rekayasa industri. Inilah bukti bahwa sawit memiliki potensi yang sangat besar untuk mendukung pembangunan nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global," jelasnya. Ia menambahkan sejak program pendanaan riset dilaksanakan, BPDP telah mendukung ratusan penelitian yang melibatkan berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia. Di mana hasil-hasil penelitian tersebut terus didorong agar tidak berhenti Siaran Pers sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat dihilirisasikan menjadi teknologi maupun produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha. "Kami ingin membangun ekosistem inovasi yang kuat. Karena itu, PERISAI bukan sekadar forum ilmiah, tetapi menjadi ruang bertemunya peneliti, pemerintah, industri, pelaku usaha, dan investor agar hasil riset dapat diterapkan secara luas, termasuk oleh pekebun rakyat," imbuhnya. Di kegiatan sama, Prof. Dr. Ratu Ayu Dewi Sartika, M.Sc. memaparkan hasil penelitian mengenai pengaruh suplementasi Red Palm Oil pada diet ibu hamil terhadap kualitas air susu ibu dan status gizi bayi. "Penelitian tersebut menunjukkan bahwa minyak sawit merah memiliki kandungan beta karoten, vitamin A, vitamin E, serta antioksidan yang berpotensi mendukung peningkatan status gizi ibu dan anak," ucapnya. Menurut Prof. Ratu Ayu, hasil penelitian tersebut menunjukkan pemanfaatan sawit tidak hanya terbatas sebagai bahan pangan, tetapi juga memiliki potensi besar dalam mendukung kesehatan masyarakat melalui pengembangan pangan fungsional berbasis kelapa sawit. "Kelapa sawit memiliki kandungan nutrisi yang sangat potensial untuk mendukung perbaikan status gizi masyarakat. Melalui riset yang berkelanjutan, kita dapat mengembangkan berbagai produk pangan yang tidak hanya aman, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang lebih luas," terang Prof. Ratu Ayu. Selain sektor pangan dan kesehatan, pemanfaatan sawit di bidang energi juga terus berkembang. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Ir. C.B. Rasrendra, S.T., M.T., yang mempresentasikan hasil penelitian mengenai Teknologi BENSA (Bensin Sawit) berbasis Mixed Industrial Vegetable Oil (MIVO). Menurut Rasrendra, inovasi tersebut menunjukkan bahwa kelapa sawit memiliki prospek besar sebagai bahan baku energi masa depan yang lebih ramah lingkungan sekaligus mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sawit nasional. "BENSA merupakan salah satu contoh bagaimana hasil riset mampu membuka peluang pemanfaatan baru bagi kelapa sawit. Ke depan, inovasi seperti ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong tumbuhnya industri berbasis sumber daya domestik," tuturnya. PERISAI 2026 akan menghadirkan berbagai seminar, diskusi, pameran hasil riset, business matching, kompetisi inovasi, serta forum kolaborasi yang melibatkan peneliti, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, dan mahasiswa. Kegiatan ini juga akan menampilkan berbagai hasil penelitian pada enam bidang utama, yaitu bioenergi; lingkungan; biomaterial; budidaya dan pascapanen; pangan dan kesehatan; serta sosial, ekonomi, manajemen, pasar, dan teknologi informasi. Selain itu, PERISAI 2026 direncanakan akan dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Pertanian, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut diharapkan semakin memperkuat sinergi dalam mendorong riset dan inovasi sebagai fondasi pengembangan industri sawit Indonesia yang berkelanjutan. Melalui pergelaran PERISAI 2026, BPDP berharap hasil-hasil penelitian yang telah dikembangkan selama ini dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh industri, pemerintah, akademisi, maupun pekebun rakyat. Jadi, riset tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga mampu mendorong peningkatan produktivitas, menciptakan nilai tambah, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta meningkatkan daya saing industri sawit Indonesia di pasar global. Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang digelar pada 20 hingga 21 Juli 2026 di Jakarta. BPDP mengundang para peneliti, akademisi, pelaku industri, mahasiswa, media, serta masyarakat untuk berpartisipasi dan menyaksikan berbagai inovasi yang menunjukkan kelapa sawit Indonesia tidak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga sumber solusi bagi pembangunan berkelanjutan.

Dukung Swasembada Pangan Nasional: Polsek Mandau dan BumDes Bathin Betuah Kelola Lahan Jagung Hukrim
Hukrim
Rabu, 08 Juli 2026 | 13:01 WIB

Dukung Swasembada Pangan Nasional: Polsek Mandau dan BumDes Bathin Betuah Kelola Lahan Jagung

Mandau, katakabar.com - Kepolisian Sektor (Polsek) Mandau, Polres Bengkalis, melalui Bhabinkamtibmas, kelompok masyarakat, Badan Usaha Milik Desa (BumDes), pemilik lahan di Desa Bathin Betuah, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, mengelola lahan jagung pipil, Selasa (7/7). Menurut Kapolsek Mandau, AKP I Made diteruskan Kasi Humas Polsek Mandau, Betty Dumauli S, kepada wartawan Rabu (8/7) siang, kegiatan tersebut untuk terus mendukung program Swasembada Pangan Nasional. "Kegiatan ini bentuk dukungan nyata Polri terhadap program ketahanan pangan, dengan memanfaatkan lahan secara produktif dan berkelanjutan," jelasnya. Dengan penanaman jagung pipil, harap Kasi Humas Polsek Mandau, dapat mendukung ketersediaan pangan, meningkatkan kemandirian pangan, serta menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap ketahanan pangan di tengah masyarakat. "Selain terus mendukung program Ketapangnas, kegiatan ini juga mewujudkan program 100 Hari Asta Cita Presiden RI, H Prabowo subianto," jelasnya.

Bersama Poktan: Polsek Mandau Panen Jagung Swasembada Pangan di Harapan Baru Hukrim
Hukrim
Jumat, 19 Juni 2026 | 09:18 WIB

Bersama Poktan: Polsek Mandau Panen Jagung Swasembada Pangan di Harapan Baru

Mandau, katakabar.com - Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Mandau, Kompol Primadona, pimpin panen jagung swasembada pangan di atas lahan seluas 2 hektat di Desa Harapan Baru, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, Kamis (18/6) kemarin. Di kegiatan tersebut Kapolsek Mandau Kompol Primadona, tak sendirian tetapi bersama Bhabinkamtibmas, Kepala Desa, Kelompok Tani dan masyarakat.  Kapolsek Mandau, Kompol Primadona, diteruskan Kasi Humas Polsek Mandau, Betty Dumauli S, kepada wartawan Kamis malam, mengatakan hasil panen jagung swasembada pangan memuaskan. Ini menjadi bukti nyata sinergitas Polri dan masyarakat mendukung ketahanan pangan Nasional. Diketahui, pengelolaan tanaman jagung di lahan seluas 2 hektar hasil sinergi Polsek Mandau, pemilik lahan, kelompok tani bersama masyarakat. Kegiatan ini bagian dari program gerakan penanaman jagung seluas 1 juta hektar Polri, sekaligus program 100 Hari Asta Cita Presiden Republik Indonesia.

Dukung Hilirisasi Riset, Wamenko Pangan Luncurkan Inovasi Faspol 5.0 dan Kompetisi PFsains 2026 Nusantara
Nusantara
Senin, 15 Juni 2026 | 10:04 WIB

Dukung Hilirisasi Riset, Wamenko Pangan Luncurkan Inovasi Faspol 5.0 dan Kompetisi PFsains 2026

Kendal, katakabar.com -  Pertamina lewat Pertamina Foundation berkomitmen mendukung pemerintah dalam menghadirkan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat melalui hilirisasi riset. Di antaranya inovasi yang telah diimplementasikan ialah alat pirolisis multikondensor Gen 5.0 (Faspol 5.0) yang diluncurkan untuk TPS3R Desa Mergorejo, Cempiring, Kendal. Inovasi ini diluncurkan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq sebagai solusi atas banyaknya timbunan sampah di Indonesia yang masih belum terkelola. “Pengelolaan sampah di Indonesia menjadi tantangan serius karena 74 persen pengelolaannya masih berada sawah-sawah, selokan, dan sungai-sungai sekitar masyarakat. Untuk itu, kita patut berbangga ada inovasi Faspol yang dihadirkan oleh BRIN dan Pertamina Foundation melalui program PFsains yang mampu mengolah sampah plastik low value menjadi bahan bakar minyak terbarukan," kata Hanif di acara Launching Alat Pirolisis Multikondensor Faspol 5.0 dan Kompetisi PFsains 2026, Kamis (11/6) lalu. Hanif berharap inovasi ini dapat mendukung operasional petani desa Mergorejo sehingga menekan biaya produksi dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat serta berpesan agar dikelola dengan baik. Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari aminkan Hanif. Ia menyambut baik Faspol 5.0 karena mendukung daerahnya untuk membangun pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi bagi masyarakat. Inovasi Faspol 5.0 di Kendal merupakan karya riset peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus pemenang program PFsains Pertamina Foundation tahun 2025, Tri Martini Patria. “Berkat program PFsains, kami mampu menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kemandirian energi lewat produksi minyak (Petasol) dari limbah dan menangani tumpukan sampah plastik low value agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) yang sudah mengalami overload,” jelas Tri Martini. PFsains merupakan kompetisi inovasi teknologi dan energi dari Pertamina Foundation yang berfokus pada hilirisasi riset, implementasi teknologi tepat guna, serta pemberdayaan masyarakat berbasis ketahanan pangan dan energi. Program ini hadir sebagai wadah bagi akademisi dan praktisi untuk melahirkan solusi inovatif yang berdampak nyata bagi masyarakat luas. Sejak 2020 hingga 2025, PFsains telah menjadi katalisator bagi 45 inovator. Fokus bidang inovasinya pun beragam, mencakup sektor perikanan, pertanian, pengelolaan limbah, fasilitas umum, peternakan, kendaraan listrik hingga fasilitas industri. Tahun 2026, PFsains secara resmi diluncurkan dengan tema "Masyarakat Berdikari berbasis Ketahanan Pangan dan Energi melalui Inovasi Teknologi Berkelanjutan”. “PFsains tidak hanya memberikan pendanaan, tetapi juga pendampingan proses agar inovasi teknologi yang dikembangkan dapat dikelola dengan efektif, berkelanjutan, dan betul-betul serius membantu masyarakat marginal agar bisa menjadi mandiri,” timpal Agus. Kompetisi ini terbuka untuk mahasiswa, peneliti, dan akademisi melalui dua kategori utama: Ideation (riset tahap awal dengan TKT 1-4) dan Implementation (riset yang siap diimplementasikan dengan TKT 5-9). Tujuan dari PFsains selaras dengan Asta Cita Presiden dalam upaya membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan, serta mendorong hilirisasi dan industrialisasi guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Informasi selengkapnya mengenai kompetisi PFsains dapat diakses melalui media sosial dan laman resmi Pertamina Foundation pertaminafoundation.org.

PalmCo Siapkan Proyek Percontohan Kedelai Dukung Target Swasembada Pangan Nasional
Nasional
Minggu, 07 Juni 2026 | 08:09 WIB

PalmCo Siapkan Proyek Percontohan Kedelai Dukung Target Swasembada Pangan

Jakarta, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui PTPN IV PalmCo siapkan proyek percontohan pengembangan kedelai di sejumlah wilayah potensial sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional, sekaligus mendukung upaya pemerintah mempercepat swasembada pangan nasional. Rencana tersebut disampaikan Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa saat mengunjungi sentra produksi kedelai di Desa Ngudikan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, di pertenghan Mei 2026 lalu. Kunjungan berlangsung di tengah panen raya kedelai nasional yang turut dihadiri Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Panglima TNI Jenderal, Agus Subiyanto, dan Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto. Di hamparan lahan kedelai yang mulai dipanen petani tersebut, Jatmiko, mengatakan perusahaan mulai memetakan peluang pengembangan kedelai secara lebih serius. Menurut dia, kedelai memiliki posisi strategis karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat sehari-hari. “Kedelai bukan sekadar komoditas pertanian, tetapi bagian dari stabilitas pangan masyarakat karena menjadi bahan baku utama tahu dan tempe. Karena itu kami mulai melihat peluang pengembangannya secara jangka panjang,” ujar Jatmiko. Ia menilai langkah diversifikasi ke sektor pangan juga sejalan dengan agenda pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tingginya ketergantungan impor kedelai. Kebutuhan kedelai nasional saat ini diperkirakan mencapai 2,6 juta hingga 2,7 juta ton per tahun. Tetapi, produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut sehingga sebagian besar pasokan masih berasal dari impor. Dalam beberapa tahun terakhir, luas panen kedelai nasional juga terus menyusut akibat peralihan lahan dan rendahnya minat petani. Pemerintah kini mulai mendorong peningkatan produksi melalui perluasan areal tanam, penyediaan benih unggul, hingga kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah daerah dan TNI. Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu daerah yang dinilai potensial dalam pengembangan kedelai nasional. Berdasarkan hasil peninjauan PalmCo, pola tanam petani di Desa Ngudikan tergolong produktif dengan kombinasi satu musim padi, satu musim kedelai, dan dua musim bawang merah dalam setahun. Dukungan irigasi, kondisi lahan yang relatif datar, serta kelembagaan petani yang kuat membuat produktivitas kedelai di wilayah tersebut mampu mencapai 1,7 hingga 2,1 ton per hektare. Bahkan, melalui penerapan teknologi organik dan prebiotik, hasil panen disebut berpotensi meningkat hingga 3,5 ton per hektar. Menurut Jatmiko, pengalaman budidaya di Nganjuk menjadi referensi penting bagi PalmCo sebelum menjalankan proyek percontohan di wilayah perkebunan perusahaan. Saat ini perusahaan mulai melakukan kajian kesesuaian areal untuk memastikan lahan yang akan digunakan memenuhi aspek agronomis, mulai dari kondisi tanah, ketersediaan air, topografi, hingga faktor iklim. “Kami ingin memastikan pengembangannya berjalan optimal dan berkelanjutan. Karena itu seluruh aspek teknis harus dipetakan terlebih dahulu,” jelasnya. Tahap awal proyek akan dilakukan di sejumlah areal terpilih sebelum diperluas secara bertahap. Beberapa wilayah di Sumatera seperti Langkat, Deli Serdang, Pasaman, dan Banyuasin mulai masuk dalam pemetaan awal karena dinilai memiliki karakter agroklimat yang sesuai untuk pengembangan kedelai. PalmCo berharap pengembangan kedelai tidak hanya berkontribusi memperkuat pasokan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar kawasan perkebunan melalui pola kemitraan dan kolaborasi bersama petani.

Dukung Ketapang Nasional, Bhabinkamtibas Polsek Merbau Sambangi Pertenak Sapi Hukrim
Hukrim
Senin, 11 Mei 2026 | 20:43 WIB

Dukung Ketapang Nasional, Bhabinkamtibas Polsek Merbau Sambangi Pertenak Sapi

Kepulauan Meranti, katakabar.com - Kepolisian Sektor (Polsek) Merbau, Polres Kepulauan Meranti, melalui Bhabinkamtibmas gelar kegiatan sambang Pertenak Sapi. Kagitan ini bertujuan untuk mendukung seluruh program Ketahan Pangan (Ketapang) dan Swasembada Pangan Nasional. Kapolsek Merbau, AKP Jimmy Andre, S.H., M.H., melalui Bhabinkamtibmas Polsek Merbau, Brigadir Muchlisin M. Akbar, mengatakan kegiatan sambang bersama jajaran Polsek Merbau tersebut, yakni Peternak Sapi di Desa Bagan Melibur Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti. "Kegiatan ini untuk mendukung program ketahanan pangan dan swasembada Pangan Nasional. "Semoga kegiatan yang kita lakukan ini, dapat menjaga ketahanan pagan dan swasembada pangan nasional di wilayah hukum Polsek Merbau," ujar Brigadir Muchlisin M Akbar, Senin (11/5). Ia berharap, dengan kegiatan menjaga ketahan pangan ini, sekaligus dapat menjaga Kamtibmas di wilayah hukum Polsek Merbau. Polres Kepulauan Meranti mengimbau bila ada tindakan yang mencurigakan atau ada tindakan kriminal lainya segera hubung di Call Center 110. Polres Kepulauan Meranti siap melayani masyarakat Kepulauan Meranti.

Dukung Swasembada Pangan, Polsek Rangsang Tanam Jagung Pipil Seluas 1,5 Hektar di Teluk Samak Hukrim
Hukrim
Kamis, 07 Mei 2026 | 10:30 WIB

Dukung Swasembada Pangan, Polsek Rangsang Tanam Jagung Pipil Seluas 1,5 Hektar di Teluk Samak

Kepulauan Meranti, katakabar.com - Sebagai upaya mendukung program ketahanan pangan dan swasembada pangan nasional, jajaran Polsek Rangsang melaksanakan kegiatan penanaman jagung pipil seluas di lahan seluas 1,5 hektar di Desa Teluk Samak, Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, (Sabtu (28/4). Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB tersebut dipimpin langsung oleh Kapolsek Rangsang AKP Gunawan SH bersama pemerintah desa dan pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Arta Niaga Teluk Samak. Adapun lokasi penanaman berada di wilayah Desa Teluk Samak dengan titik koordinat 0°51'29.1"N 103°03'32.1"E. Lahan yang digunakan merupakan milik BUMDes Arta Niaga Teluk Samak. Di kegiatan tersebut hadir Kepala Desa Teluk Samak, Bahrin AB, Pj Kanit Binmas, Bripka Benny Surya, Bhabinkamtibmas Desa Teluk Samak, Bripka S.P. Silaen, Ketua BUMDes Arta Niaga, Abdul Rohim, serta anggota BUMDes dan masyarakat setempat. Kapolres Kabupaten Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi SH SIK MH melalui Kapolsek Rangsang, AKP Gunawan SH, mengatakan kegiatan ini bentuk nyata dukungan Polri terhadap program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. “Penanaman jagung pipil ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional. Polri hadir tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga ikut berperan aktif dalam mendukung kesejahteraan masyarakat,” ujar AKP Gunawan. Ia menjelaskan, keterlibatan Polri dalam program tersebut dilakukan melalui penyuluhan, pendampingan, hingga pelaksanaan penanaman bersama masyarakat dan pihak desa. Menurutnya, sinergi antara Polri, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi langkah penting meningkatkan produktivitas sektor pertanian di wilayah Kepulauan Meranti. Kegiatan penanaman jagung pipil tersebut berlangsung hingga pukul 10.00 WIB dan berjalan aman, tertib, serta kondusif. Laporan kegiatan juga disampaikan kepada Wakapolres Kepulauan Meranti, Kabag Ops Polres Kepulauan Meranti, dan Kabag SDM Polres Kepulauan Meranti.

Sespimma Polri Angkatan 75 Pokjar V Sinergi Dinas TPH Jabar Dorong Produktivitas Tanaman Jagung Nasional
Nasional
Senin, 04 Mei 2026 | 19:27 WIB

Sespimma Polri Angkatan 75 Pokjar V Sinergi Dinas TPH Jabar Dorong Produktivitas Tanaman Jagung

Jawa Barat, katakabar.com - Sespimma Polri Angkatan 75 Pokjar V gelar forum grup discussion (FGD) bersama Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Jawa Barat, Senin (4/5). Kegiatan ini membahas penguatan sinergi dan dukungan program ketahanan pangan nasional. Anjak Madya Sespimma, Kombes Pol Tommy Bambang Wirawan, mengatakan sinergitas dan kolaborasi menjadi hal penting terus dibangun antara Polri dan instansi pemerintah daerah. Usung tema 'Optimalisasi Kerjasama Polri Dengan Dinas Tanaman Pangan & Holtikultura Provinsi Jawa Barat Guna Meningkatkan Produktivitas Tanaman Jagung Dalam Rangka Terdukungnya Ketahanan Pangan'. FGD ini dihadiri 25 serdik Sespimma dari Pokjar V, ASN dari Dinas TPH Provinsi Jabar 14 orang, 21 mahasiswa dari UNPARI, 2 orang Pawas, 2 Patun dan 2 pendamping dari Sespimma. "Sinergitas, kerja sama, dan lainnya pasti kita laksanakan. Untuk kegiatan ini saya ucapkan terima kasih, sebab sudah diterima Pak Kadis, dan memang Polri lagi ada perintah dari pimpinan untuk swasembada pangan, khususnya jagung," ujar Kombes Pol Tommy di Bandung. Selain jagung, kata Kombes Pol Tommy, terdapat pula fokus komoditas lain seperti padi yang menjadi perhatian dalam program ketahanan pangan Polri. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat mendorong kontribusi nyata dalam pembangunan nasional. Ia berharap melalui kolaborasi tersebut, ketahanan pangan nasional dapat semakin kuat. Ia optimistis upaya bersama ini mampu mendukung percepatan pembangunan nasional. "Mudah-mudahan pembangunan nasional bisa terus kita kejar, dan kita capai dengan ketahanan pangan yang mantap, terima kasih," harapnya. Mengenai harapan ke depan, Kombe Pol Tommy membuka peluang kerja sama lanjutan dengan Dinas Pertanian, khususnya peningkatan kapasitas personel Polri di bidang pertanian. Salah satunya melalui pelatihan dan pembekalan keahlian. "Mudah-mudahan nanti kepala dari dinas pertanian untuk Polri sendiri, mungkin nanti ada pelatihan, kerjasama, dan dalam skup mungkin nanti dari polisi sendiri untuk mempersiapkan personilnya yang ahli di bidang pertanian," ucapnya. Sementara, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Jawa Barat, Dadan Hidayat, mengungkapkan produksi jagung di Jawa Barat terus menunjukkan peningkatan. Hingga 2025, Jawa Barat menempati peringkat ketujuh secara nasional. "Jadi untuk jagung ini Jawa Barat tadi, sampai dengan 2025 peningkat ke 7 tingkat nasional," ulasnya. Peningkatan produksi jagung didorong oleh berbagai inisiatif, tutur Dadan, termasuk kerja sama antara pemerintah pusat, Polri, dan pemerintah daerah. Ia menyebut telah ada penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pimpinan Polri dan kementerian terkait. "Tentunya upaya dan usaha bagaimana kita meningkatkan produksi jagung Jawa Barat tadi kita sudah dengar bersama. Ada MoU yang kita tanda tangani, di tingkat pimpinan antara Polri dengan Pak Menteri, dan kami tingkat daerah dengan Polda Jabar," imbuhnya. Dijabarkan Dadan, salah satu faktor penting dalam pengembangan pertanian adalah ketersediaan lahan. Dalam hal ini, Polda Jabar turut berinisiatif menyediakan lahan dari berbagai sumber, termasuk lahan perkebunan dan aset institusi. Selain lahan, permodalan juga menjadi perhatian utama dalam pengembangan jagung. Dadan menyebut adanya dukungan pembiayaan yang terhubung dengan perbankan dan koperasi internal Polri. “Yang kedua juga ada permodalan, ini masalah utama permodalan, ternyata diinisiasi juga terkoneksi dengan Bank Himbara dan juga dengan Primkopol itu sendiri, dengan CSR,” sebutnya. Ia menambahkan, aspek hilir seperti pemasaran juga telah dipersiapkan dengan baik. Hasil produksi jagung disebut telah terserap oleh Bulog maupun industri pakan ternak. Dadan menekankan pentingnya membangun ekosistem pertanian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Hal ini dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. "Jadi upaya peningkatan produksi harus dibarengi dengan hilirnya dan alhamdulillah, ekosistem pertanian ini sudah terbangun," tegasnya. Ia berharap kejelasan pasar, dan dukungan sistem yang ada dapat menarik minat anak muda untuk mengembangkan budidaya jagung. Dengan demikian, sektor pertanian dapat terus berkembang secara berkelanjutan.

Dukung Ketahanan Pangan, PalmCo Perkuat Kemitraan Petani di Jambi Nasional
Nasional
Senin, 04 Mei 2026 | 13:05 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, PalmCo Perkuat Kemitraan Petani di Jambi

Jambi, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) lewat Subholding PTPN IV PalmCo terus perkuat peran strategisnya dukung ketahanan pangan nasional melalui penguatan kemitraan bersama petani di daerah. Komitmen tersebut tercermin dengan kehadiran Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, yang mendampingi Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, pada rangkaian kegiatan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) tingkat Provinsi Jambi, di pekan keempat April 2026 lalu. Provinsi Jambi salah satu wilayah strategis bagi operasional PalmCo. Selain sebagai sentra kelapa sawit, wilayah ini memiliki komoditas unggulan lain seperti teh dan kopi yang sebagian besar dikelola oleh petani rakyat. Pada konteks tersebut, sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan petani menjadi kunci dalam menjaga produktivitas sekaligus keberlanjutan sektor pertanian. Di sela kegiatan, Jatmiko menegaskan, peran petani merupakan bagian integral dari kinerja perusahaan. Ia menyebut kontribusi petani terhadap pasokan bahan baku sangat signifikan. Sepanjang 2025, sekitar 25 persen dari total produksi Tandan Buah Segar (TBS) yang dikelola PalmCo berasal dari petani mitra, dengan volume penyerapan mencapai 3,25 juta ton. "Capaian ini menempatkan PalmCo sebagai salah satu offtaker utama yang berperan dalam menyerap hasil panen rakyat sekaligus mendukung program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR)," jelasnya. Petani bukan sekadar mitra, tegas Jatmiko, tetapi bagian dari identitas perusahaan. Tanpa mereka, pertumbuhan PalmCo tidak akan seperti sekarang. "Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui berbagai inisiatif, termasuk pelibatan petani dalam kegiatan nasional serta penguatan kapasitas kelembagaan di tingkat daerah," ucapnya. Selama kunjungan di Jambi, PalmCo bersama Kementerian Pertanian dan HKTI terlibat mengikuti sejumlah agenda, mulai dari pertemuan dengan organisasi petani seperti Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI), Wanita Tani, dan Pemuda Tani, hingga kegiatan tanam bersama. Di kawasan Bukit Cinto Kenang, Kabupaten Muara Jambi, dilakukan penanaman benih jagung dan bibit buah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman padi brigade di Kabupaten Batanghari serta pelantikan pengurus DPD HKTI Provinsi Jambi. Rangkaian kegiatan ini mencerminkan pendekatan pembangunan pertanian yang terintegrasi lintas komoditas dalam satu ekosistem yang berkelanjutan. Menurut Jatmiko, sinergi antara pelaku hulu dan hilir, termasuk perusahaan, organisasi petani, serta penyedia sarana produksi, menjadi faktor kunci dalam percepatan swasembada pangan nasional. “Di wilayah multikomoditas seperti Jambi, kolaborasi menjadi kunci. Ketika petani berdaya dan ekosistemnya kuat, maka target swasembada pangan bukan hal yang sulit dicapai,” imbuhnya. Penguatan kemitraan ini sekaligus menegaskan peran Holding Perkebunan Nusantara tidak hanya sebagai entitas bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari solusi dalam menjawab tantangan pangan nasional.