India dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pertambangan, Bidik Mineral Kritis dan Peluang Hilirisasi
Jakarta, katakabar.com - India dan Indonesia mendorong penguatan kerja sama di sektor pertambangan dan batu bara dengan memperluas kolaborasi dari perdagangan komoditas menuju investasi, teknologi, mineral kritis, industri hilir, dan keamanan rantai pasok. Peluang tersebut dibahas dalam roundtable “Boosting India-Indonesia Collaboration in Mining and Coal Sectors” di Tagore Hall, New Chancery, Kedutaan Besar India di Jakarta, 11 September 2026. Pertemuan mempertemukan pejabat pemerintah, perusahaan pertambangan, asosiasi industri, investor, kontraktor, dan pemangku kepentingan dari kedua negara. Indonesia menawarkan sumber daya mineral yang besar, sementara India memiliki kemampuan industri, teknologi, investasi, dan kebutuhan pasar yang terus berkembang. India Ingin Menjadi Mitra, Bukan Sekadar Pembeli Bahan Mentah Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan bahwa India tidak tertarik hanya mendapatkan akses bahan baku. “Kami tidak tertarik hanya mengambil bahan mentah. Kami ingin bermitra dengan Anda, dan kami ingin menjadi mitra dalam kemajuan Anda," kata Sandeep. Menurutnya, kebijakan hilirisasi Indonesia telah mengubah lanskap investasi. Perusahaan India perlu melihat Indonesia bukan hanya sebagai sumber mineral, tetapi juga sebagai tempat membangun fasilitas pengolahan, manufaktur, dan industri bernilai tambah. Mineral Kritis Jadi Area Strategis Baru Vivek Kumar Bajpai, Joint Secretary, Ministry of Mines, Government of India, menjelaskan transformasi sektor pertambangan India melalui eksplorasi, pengelolaan data geologi, keterlibatan swasta, dan pengembangan pengolahan mineral. India juga memberikan perhatian besar terhadap National Critical Mineral Mission (NCMM), yang mencakup eksplorasi, lelang blok, akuisisi aset luar negeri, fasilitas pengolahan, daur ulang, serta penelitian dan pengembangan. “Perusahaan-perusahaan India sangat tertarik untuk datang ke Indonesia dan melakukan investasi di sini,” kata Bajpai. Langkah berikutnya, menurutnya, adalah mempertemukan perusahaan India dengan proyek dan mitra yang tepat di Indonesia. Batu Bara Tetap Strategis, India Dorong Modernisasi Bhuvaneshwari S., Deputy Secretary, Ministry of Coal, Government of India, menjelaskan batu bara masih berperan penting dalam sistem energi India. Namun, pemerintah mendorong reformasi kebijakan, modernisasi teknologi, serta pemanfaatan batu bara untuk menghasilkan nilai tambah. India membuka sektor pertambangan batu bara melalui commercial mining dan mendorong penggunaan AI, GPS, GIS, serta sistem pemantauan terintegrasi. Melalui National Coal Gasification Mission, India juga mengembangkan teknologi untuk mengubah batu bara menjadi produk dan bahan baku industri, dengan tetap memperhatikan lingkungan dan keselamatan. Indonesia Punya Potensi Besar Mineral Kritis Debdutta Ganguly, President Director PT HDJ Consultant Indonesia, menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam industri pertambangan global, termasuk batu bara, nikel, tembaga, emas, bauksit, dan timah. Indonesia telah mengidentifikasi 47 mineral kritis, sementara India memiliki sekitar 30. Nikel, kobalt, tembaga, grafit, timah, dan rare earth elements menjadi sejumlah mineral yang memiliki kepentingan bagi kedua negara. Ganguly mendorong kedua negara segera menentukan proyek prioritas. “Identifikasi beberapa proyek prioritas. Kita cocokkan kemampuan India dengan proyek-proyek di Indonesia. Kemudian kita dapat meluncurkan dua atau tiga proyek percontohan," ucapnya. APNI Buka Peluang bagi Perusahaan India Meidy Katrin Lengkey, Secretary General Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), memaparkan pesatnya perkembangan industri nikel Indonesia. Menurutnya, sekitar 450 perusahaan tambang nikel aktif berproduksi, sementara hilirisasi telah mendorong pembangunan berbagai fasilitas pengolahan dan pemurnian. Indonesia kini memasok sekitar 65 persen kebutuhan nikel dunia. Tetapi, Meidy menyoroti dominasi investor China di sektor hilir. “Sayangnya, sejak program hilirisasi dimulai, kita dapat melihat bahwa sekitar 90 persen sektor hilir berasal dari China," timpalnya. Kondisi tersebut membuka ruang bagi India untuk menjadi mitra baru Indonesia, tidak hanya di nikel tetapi juga 47 mineral kritis yang telah diidentifikasi Indonesia. Dari Nikel Menuju Produk Bernilai Tambah Kamlesh Kumar, COO Tata Power Indonesia, menilai peluang nikel seharusnya tidak hanya diarahkan untuk menambah kapasitas produksi. Sejumlah segmen telah menghadapi oversupply, sehingga peluang lebih menarik dapat berada pada tahapan lebih tinggi dalam rantai nilai. Selain nickel pig iron (NPI), perusahaan dapat mempertimbangkan bahan kimia dan material yang digunakan dalam rantai nilai baterai. Tembaga, timah, bauksit, dan coal gasification juga dinilai memiliki peluang kerja sama. Ashok Mitra, mantan CEO Kaltim Prima Coal (KPC), menambahkan bahwa gasifikasi batu bara bukan konsep baru di Indonesia, tetapi masih menghadapi tantangan ekonomi proyek, kebutuhan investasi, serta ketersediaan batu bara yang sesuai. Adani Dorong Perusahaan India Lebih Agresif Siddharth Taparia, Country Head Adani Indonesia, mengatakan perusahaan India perlu melihat peluang lebih luas dan tidak hanya berfokus pada batu bara. Nikel, tembaga, dan bauksit dapat menjadi pintu masuk baru. Ia menilai perusahaan China telah bergerak sangat agresif dengan membawa modal, teknologi, peralatan, dan kemampuan engineering. “Kita harus lebih agresif.” Namun, perusahaan yang masuk ke Indonesia juga harus memahami ekosistem lokal dan memberikan nilai tambah. Danantara Melihat Peluang dari Tambang hingga Baterai Suryadi Wijaya, Director Investment Danantara, mengatakan peluang investasi dapat dikembangkan melalui co-investment dan kemitraan dengan investor strategis, dengan tetap berorientasi pada commercial return. Rantai nilai tersebut mencakup pengolahan mineral, material baterai, anode, cathode, battery cell, hingga kendaraan listrik. Indonesia juga membutuhkan diversifikasi teknologi agar tidak bergantung pada satu pendekatan atau sumber teknologi. Mineral Kritis Bukan Sekadar “Dig and Sell” Naveen Chandralal, Director PT Amman, menekankan bahwa mineral kritis membutuhkan perspektif jangka panjang. “Mineral kritis bukan sekadar dig and sell," tuturnya. Pengembangan mineral kritis membutuhkan fasilitas pengolahan, modal besar, teknologi, dan kepastian pasar. Tembaga, misalnya, semakin penting bagi India seiring meningkatnya kebutuhan industri. Indonesia dapat menjadi mitra strategis karena memiliki sumber daya dan pengalaman dalam operasi pertambangan berskala besar. Tantangan Pasokan Nikel Arief Perdana Kusumah, Chairman Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), menyoroti konsentrasi pasar nikel Indonesia ke China. Ia menyebut sekitar 93 persen produksi logam nikel Indonesia mengalir ke China. Arief juga menyoroti kebutuhan impor bijih nikel dari Filipina, terutama karena Maluku Utara menghadapi defisit bijih di tengah terkonsentrasinya kapasitas pengolahan nikel di wilayah tersebut. Salah satu opsi yang dibahas untuk menjamin pasokan adalah long-term offtake agreement dengan produsen yang telah beroperasi. Pilihan lainnya adalah kepemilikan saham atau akuisisi fasilitas yang sudah beroperasi. Meidy menjelaskan bahwa impor bijih dari Filipina berkaitan dengan karakteristik bijih yang dibutuhkan fasilitas pengolahan dan dapat dicampur dengan bijih domestik. Di tengah oversupply pada sejumlah segmen, Indonesia dinilai perlu semakin berfokus pada nilai tambah. Peluang bagi Kontraktor Pertambangan India Roundtable juga membahas peluang bagi perusahaan India untuk masuk sebagai kontraktor pertambangan maupun melalui model Mine Developer and Operator (MDO). Kuhan Selvaretnam, Director Sumbar Mitra Jaya, memberikan perspektif dari sisi kontraktor pertambangan Indonesia. Menurutnya, Indonesia telah berkembang pesat dari sisi teknologi pertambangan. “Dari perspektif pertambangan, Indonesia sudah cukup maju. Kita memiliki akses terhadap teknologi terbaru, baik untuk alat berat, pengawasan tambang, pengembangan tambang dan sebagainya," katanya. Ia juga melihat perbedaan model kontraktor Indonesia dan MDO di India sebagai peluang untuk saling belajar. Kuhan turut mengapresiasi perkembangan regulasi pertambangan India dan upaya menuju praktik pertambangan batu bara yang lebih ramah lingkungan. Saatnya Mengubah Dialog Menjadi Aksi Bijay Selvaraj, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar India di Jakarta, menilai forum tersebut mempertemukan keahlian dari pembuat kebijakan, perusahaan, investor, perbankan, dan Danantara. “Sudah menjadi sangat jelas bahwa Indonesia adalah tempat di mana hampir segala sesuatu terjadi dalam hal pertambangan. Anda dapat menyebut mineral apa pun, dan mineral itu ada di sini,” tukasnya. Menurutnya, peluang tersebut harus berjalan bersama kebijakan hilirisasi dan transisi menuju industri yang lebih bersih. “Kita tidak bisa hanya berada di apa yang disebut sebagai ruang kotor. Kita harus masuk ke ruang yang bersih dan juga menunjukkannya,” bebernya. India Mining Week Jadi Forum Lanjutan Selvaraj mengundang pelaku industri Indonesia untuk melanjutkan pembicaraan melalui India Mining Week pada 15 hingga 17 November 2026. Forum tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi peluang investasi dan kemitraan yang lebih konkret. Pertemuan di Jakarta menunjukkan bahwa kerja sama pertambangan India dan Indonesia mulai bergerak melampaui perdagangan komoditas. Batu bara tetap menjadi bagian penting, tetapi peluang masa depan semakin mengarah pada mineral kritis, hilirisasi, teknologi, pengolahan, manufaktur, investasi bersama, dan keamanan rantai pasok. Tantangan berikutnya adalah mengubah komplementaritas kedua negara menjadi proyek nyata dengan menentukan proyek prioritas, mempertemukan perusahaan yang tepat, dan membangun proyek percontohan sebagai dasar kemitraan industri jangka panjang.
Peluang Harga Emas Bisa Tembus 4.500, Ini Analisis Dupoin Futures
Jakarta, katakabar.com - Harga emas atau XAUUSD diprediksi masih punga peluang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (10/9). Analisis Dupoin Futures menunjukkan adanya potensi pembentukan pola double bottom pada grafik harian yang dapat menjadi sinyal positif bagi pergerakan harga emas. Dalam skenario tersebut, XAUUSD berpeluang bergerak menuju area resistance terdekat di level 4.479 hingga 4.510. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan peluang penguatan harga emas masih terbuka selama XAUUSD mampu mempertahankan area support penting. Berdasarkan analisis Dupoin Futures, zona support yang perlu diperhatikan berada di kisaran 4.366 hingga 4.340. Menurut Geraldo Kofit dari Dupoin Futures, selama harga emas tidak menembus area support tersebut, struktur pergerakan pada time frame Daily masih memberikan indikasi bullish. Kondisi ini membuat area 4.479–4.510 menjadi target resistance yang berpotensi diuji apabila momentum beli terus berlanjut. Analisis Dupoin Futures melihat pola double bottom sebagai salah satu faktor teknikal yang mendukung peluang kenaikan XAUUSD. Pola tersebut biasanya terbentuk setelah harga mengalami tekanan dan kemudian menemukan area yang mampu menahan penurunan sebanyak dua kali. Apabila harga mampu bergerak lebih tinggi dari area neckline, peluang terjadinya pembalikan tren menuju level yang lebih tinggi akan semakin terbuka. Dalam konteks pergerakan saat ini, Dupoin Futures menilai area support 4.366–4.340 menjadi batas penting bagi skenario bullish tersebut. Selama harga masih bertahan di atas zona itu, tekanan beli berpotensi tetap mendominasi. Sebaliknya, apabila support tersebut berhasil ditembus, skenario kenaikan yang disampaikan dalam analisis Dupoin Futures perlu dievaluasi kembali karena dapat membuka ruang bagi pelemahan lebih lanjut. Selain faktor teknikal, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh sejumlah sentimen fundamental. Berdasarkan rangkuman berita Reuters, emas masih memperoleh dukungan dari pelemahan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Situasi tersebut membuat aset emas tetap menarik bagi investor yang mencari instrumen safe haven di tengah meningkatnya risiko global. Dupoin Futures melihat perkembangan dolar AS sebagai salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam perdagangan XAUUSD. Ketika dolar AS mengalami tekanan, emas yang dihargai dalam mata uang tersebut cenderung menjadi lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya. Kondisi ini dapat memberikan dukungan tambahan terhadap harga emas. Di sisi lain, Dupoin Futures juga menilai pelaku pasar perlu mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat. Investor kini menunggu rilis data Producer Price Index (PPI) AS pada hari ini dan Consumer Price Index (CPI) pada Jumat. Kedua indikator tersebut berpotensi memberikan gambaran baru mengenai tekanan inflasi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed. Data inflasi menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed. Berdasarkan pemberitaan Reuters, peluang kenaikan suku bunga saat ini berada di sekitar 60%. Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi penguatan emas, terutama apabila kenaikan suku bunga mendorong imbal hasil Treasury AS semakin tinggi. Kenaikan yield Treasury menjadi tantangan bagi emas karena instrumen tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga. Dengan demikian, apabila imbal hasil obligasi AS terus meningkat, sebagian investor dapat mengalihkan perhatian ke aset berbasis dolar yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi. Namun, menurut analisis Dupoin Futures, tekanan dari kenaikan yield dan ekspektasi suku bunga masih perlu dilihat bersama dengan kondisi teknikal XAUUSD. Jika dolar AS tetap melemah dan ketidakpastian geopolitik terus meningkat, permintaan terhadap emas berpotensi tetap kuat. Dengan mempertimbangkan analisis Dupoin Futures dan perkembangan sentimen pasar, Geraldo Kofit memperkirakan XAUUSD masih memiliki peluang untuk bergerak naik selama area support 4.366–4.340 tetap bertahan. Jika momentum bullish semakin kuat, harga emas berpotensi menguji resistance 4.479–4.510. Sebaliknya, apabila harga menembus support 4.340, pelaku pasar perlu mewaspadai perubahan struktur harga karena tekanan jual dapat kembali meningkat. Itu sebabnya, Dupoin Futures menilai respons XAUUSD terhadap area support dan resistance tersebut menjadi kunci untuk melihat arah pergerakan emas selanjutnya, terutama menjelang rilis data ekonomi penting Amerika Serikat.
ION Ajak Startup Bandung Lihat Celah Infrastruktur Digital Peluang Bisnis
Bandung, katakabar.com - Peluang bisnis baru tidak selalu datang dari menciptakan platform baru. Dalam ekosistem digital yang semakin terhubung, peluang juga bisa muncul dari hal-hal yang belum terhubung: antara bisnis dan pelanggan, layanan pembayaran dan merchant, logistik dan penjual, atau teknologi dan berbagai penyedia layanan. Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam “Digital Public Infrastructure: Mini Seminar & Networking” yang digelar Indonesia Open Network (ION) di Garuda Spark Innovation Hub, BLOCK71 Bandung, Rabu (9/9/2026) lalu. Usung tema “What’s Your Next Big Move? Discover New Business Opportunities Through the Power of Open Networks,” kegiatan tersebut memperkenalkan konsep Digital Public Infrastructure (DPI), interoperabilitas dan open network kepada startup serta pelaku ekosistem digital di Bandung. Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah peserta tidak hanya duduk mendengarkan presentasi. Mereka kemudian diajak melihat bisnis masing-masing, mengidentifikasi persoalan yang dihadapi, mencari celah dalam ekosistem dan memikirkan koneksi apa yang dibutuhkan untuk membuka peluang baru. Format tersebut memang dirancang sebagai proses dua arah. Selain memperkenalkan ION kepada startup, kegiatan ini juga digunakan untuk menemukan use cases, kebutuhan dan missing connections yang belum tercermin dalam pemetaan ekosistem ION. Ketika Sistem Digital Tidak Saling Terhubung Bisnis saat ini semakin bergantung pada berbagai platform, sistem pembayaran, layanan logistik, data dan perangkat digital lainnya. Masalahnya, sistem-sistem tersebut tidak selalu dapat terhubung dengan mudah. Fragmentasi ini dapat menciptakan hambatan bagi bisnis yang ingin berkembang, mulai dari kesulitan integrasi hingga keterbatasan dalam menjangkau pasar dan bekerja sama dengan partner baru. Karena itu, interoperabilitas menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai Digital Public Infrastructure. ION memperkenalkan dirinya sebagai open digital commerce network yang menghubungkan buyers, sellers, logistics providers, developers dan penyedia layanan lainnya melalui partisipasi terbuka dan standar bersama. Pendekatan ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap platform tertentu sekaligus memperluas akses pasar. Tetapi, bagi Dr. Uruqul Nadhif Dzakiy, Assistant Professor di Telkom University, membangun koneksi saja belum cukup. Dalam sesi “Ecosystem Opportunity Mapping”, Uruqul mengajak peserta melihat ekosistem bisnis dari sisi hubungan antaraktor dan manfaat yang dapat mereka peroleh. “Masalahnya adalah ketika masuk di platform itu tidak adanya mutual benefit. Nah di open network ini menganut prinsip yaitu ada mutual benefit," jelasnya. Menurut Uruqul, sebuah ekosistem memiliki berbagai peran, mulai dari buyer dan vendor hingga pihak yang mengoordinasikan hubungan di antara para aktor tersebut. Yang penting bukan sekadar membuat mereka terhubung, tetapi memastikan hubungan tersebut memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat. Bukan Sekedar “Connectivity” Pembahasan Uruqul kemudian bergerak pada satu hal yang menurutnya menjadi pembeda antara konektivitas biasa dan ekosistem yang benar-benar berjalan: transaksi dan kepercayaan. “Melalui di sini tidak hanya sekedar connectivity. Tapi di situ ada namanya transaksi. Kalau connectivity saja itu sudah bisa dengan teknologi. Tapi kalau sampai kemudian ada transaksi di dalamnya itu sudah ada trust,” ucapnya. Menurutnya, teknologi dapat membuat berbagai pihak saling terhubung. Tetapi hubungan tersebut belum tentu menciptakan ekosistem yang hidup jika tidak ada kolaborasi nyata dan manfaat bagi setiap aktor. Hal itu juga menjadi tantangan yang ia lihat dalam ekosistem startup Bandung. Kota tersebut memiliki banyak startup dan institusi pendukung inovasi, tetapi tantangannya adalah bagaimana kolaborasi dapat bergerak dari sekadar koneksi menuju kerja sama yang menghasilkan transaksi dan kepercayaan. “Kolaborasinya itu dalam bentuknya yang real tidak hanya sekedar ... tapi ada sampai kemudian transaksi karena dengan transaksi itu ada trust,” imbuhnya. Uruqul menilai sebuah ekosistem dapat disebut aktif ketika para aktornya memahami peran masing-masing dan mendapatkan manfaat dari keberadaannya di dalam ekosistem. “Parameter aktif adalah entiti di dalam ekosistem itu saling mendapatkan benefit dan dia tahu peran masing-masingnya," terangnya. Mulai dari Masalah, Bukan Teknologi Dari konsep tersebut, peserta kemudian diarahkan untuk melihat bisnis mereka sendiri. Materi ION menggunakan Ecosystem Opportunity Mapping untuk membantu peserta memetakan platform, partner, pelanggan, layanan dan sistem digital yang mereka gunakan, kemudian melihat koneksi mana yang sudah ada dan mana yang masih hilang. Uruqul meminta peserta memulai dari persoalan yang benar-benar mereka hadapi dalam menjalankan bisnis. “Bisa nanti mengidentifikasi apa sih jadi pain point yang dirasakan, khususnya yang running business, masalahnya di mana," ulasnya. Setelah menemukan pain point, peserta kemudian diminta mencari gap antara kondisi yang ada dan kondisi yang mereka butuhkan. “Pertama apa sih pain point, apa sih yang jadi problem ... kemudian setelah itu gap-nya apa ... dari situlah kemudian kira-kira apa sih yang perlu diakomodasi oleh Open Network," bebernya. Menurut Uruqul, masukan tersebut penting karena ION juga masih mengembangkan ekosistemnya. Apa yang dibutuhkan oleh pelaku bisnis dapat menjadi insight untuk menentukan koneksi dan fungsi apa yang perlu dikembangkan ke depan. Melihat Peluang dari Berbagai Sektor Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Haryo Kusuma Wibawa, Head of Operations ION, yang memimpin sesi Mini Group Discussion. Dalam sesi tersebut, Haryo membawa konsep open network ke contoh peluang bisnis yang lebih konkret. Ia menunjukkan bahwa peluang dapat muncul di berbagai sisi ekosistem, termasuk finance, logistik, teknologi dan mobility. Salah satu ilustrasi yang disampaikan Haryo adalah bagaimana bisnis dapat memanfaatkan koneksi dengan pemilik basis pengguna yang sudah memiliki ekosistem sendiri. Dalam contoh yang ia berikan, perusahaan telekomunikasi dan bank dapat memiliki basis pengguna serta informasi transaksi yang, dengan persetujuan dan mekanisme yang tepat, dapat membuka kemungkinan koneksi dengan bisnis atau produk lain di dalam open network. Bagi startup, kemungkinan seperti itu berarti akses terhadap partner dan pelanggan tidak harus selalu dibangun dari nol. Haryo juga menyoroti kemungkinan model bisnis dengan biaya administrasi yang lebih rendah dibandingkan marketplace konvensional. “Kalau teman-teman punya marketplace dengan ION itu bisa men-charge administrasi yang jauh lebih rendah daripada yang saat ini terjadi. Nah itu yang kita harapkan,” tukasnya. Enam Kelompok Mencari Peluang Setelah sesi pemaparan, peserta dibagi menjadi enam kelompok untuk mengerjakan pemetaan mereka masing-masing. Haryo memimpin proses pembentukan kelompok tersebut dan mengarahkan peserta masuk ke sesi diskusi. Dalam kelompok, peserta diminta memilih bisnis atau kasus tertentu kemudian mengidentifikasi kebutuhan utama, persoalan yang muncul, aktor yang terlibat, koneksi yang sudah tersedia dan koneksi yang masih hilang. Mereka kemudian mencari kemungkinan peluang yang dapat muncul jika koneksi tersebut tersedia melalui interoperabilitas atau open network. Tujuannya bukan menghasilkan solusi teknologi yang sudah final, melainkan menemukan kebutuhan, peluang dan kemungkinan use case. Pendekatan ini membuat diskusi menjadi lebih dekat dengan persoalan yang dihadapi startup sehari-hari. Alih-alih bertanya, “Teknologi apa yang bisa kita bangun?”, peserta diajak mulai dari pertanyaan yang lebih sederhana: masalah apa yang sebenarnya ingin diselesaikan? Dari sana, mereka dapat melihat siapa saja yang dibutuhkan, apa yang belum tersedia dan apakah koneksi baru dapat menciptakan nilai. Peserta Menguji Model Bisnisnya Salah satu peserta, Fajar dari Bandung, mengatakan bahwa framework yang digunakan dalam workshop membantunya melihat sebuah ide bisnis secara lebih terstruktur. “Itu bisa membantu kami dalam membuat sebuah business model, apa yang jadi tantangan dan juga bisa melihat opportunities apa yang bisa kita lakukan," katak Fajar. Kelompok Fajar mengembangkan ide layanan untuk tenaga kerja di Indonesia, dengan fokus pada pengembangan pekerja untuk berbagai jenis pekerjaan seperti pengemudi, pekerja rumah tangga dan koki. Melalui framework yang diperkenalkan ION, kelompok tersebut melihat kembali model bisnis, target pasar dan peluang yang mungkin dikembangkan. “Kita bisa membantu bagaimana bisa melihat business modelnya, target marketnya gimana, dan juga peluang apa yang bisa didapatkan dari business model yang dibuat tadi dengan dibantu framework yang diajarkan oleh ION," tuturnya. Bagi ION, contoh tersebut menunjukkan fungsi lain dari kegiatan di Bandung. Startup tidak hanya diperkenalkan dengan konsep open network, tetapi juga diajak memberikan gambaran mengenai persoalan dan kebutuhan yang mereka hadapi sendiri. Membangun Open Network dari Kebutuhan Nyata Kegiatan di Bandung merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem Bandung ION Lab, dengan menghubungkan startup, inkubator, bisnis, komunitas teknologi dan stakeholder inovasi lokal dengan kebutuhan pasar yang lebih luas. Karena itu, hasil workshop tidak hanya berhenti pada enam kelompok yang selesai berdiskusi. ION juga menggunakan kegiatan tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai kebutuhan, kapabilitas dan kemungkinan partisipasi para pelaku ekosistem. Setiap kelompok diharapkan menghasilkan setidaknya satu peluang bisnis, kebutuhan infrastruktur digital atau tantangan konektivitas, sekaligus memahami posisi bisnis mereka dalam ekosistem ION. Bagi startup Bandung, pertanyaan yang diberikan ION menjadi cukup praktis: apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh ekosistem mereka hari ini, tetapi belum bisa dilakukan? Jawaban atas pertanyaan itu bisa saja menjadi peluang bisnis berikutnya.
Peluang Futures Kripto di Indonesia Masih Besar, Bittime Tekankan Pentingnya Edukasi
Jakarta, katakabar.com - Bittime melihat peluang Bittime Futures di Indonesia masih terbuka seiring berkembangnya perdagangan derivatif kripto. Tetapi, pertumbuhan Bittime Futures perlu diimbangi edukasi mengenai mekanisme, leverage, volatilitas, dan risiko futures agar investor dapat mengambil keputusan secara lebih terukur. Bittime, sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melihat peluang perdagangan futures kripto di Indonesia masih terbuka seiring berkembangnya aktivitas perdagangan derivatif. Namun, perkembangan tersebut perlu diimbangi dengan edukasi agar investor memahami mekanisme, peluang, dan risiko futures. Tren Perdagangan Futures Global Aktivitas perdagangan derivatif menunjukkan besarnya pasar futures secara global. Berdasarkan data yang diamati pada 3 September 2026 pagi, sebanyak 73,44% akun berada pada posisi long pada kontrak ETHUSDT perpetual, sementara 26,56% berada pada posisi short, dengan long/short ratio 2,77. Pada BTCUSDT perpetual, posisi long sebanyak 54,8%, sedangkan short 45,2%. Data tersebut menunjukkan kecenderungan posisi long lebih kuat pada Ethereum dibandingkan Bitcoin pada saat pengamatan. Namun, long/short ratio merupakan gambaran posisi pada waktu tertentu dan dapat berubah dengan cepat, sehingga tidak dapat menjadi kepastian arah harga aset. Di Indonesia, OJK mencatat jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital tercatat sebanyak 22,93 juta akun, menunjukkan masih adanya ruang bagi pertumbuhan pasar futures di Indonesia. Secara global, perdagangan derivatif menjadi bagian penting dalam ekosistem aset digital. Data dan riset CoinMarketCap menunjukkan derivatif pada periode tertentu menyumbang sekitar 79% dari total volume perdagangan aset kripto global. Edukasi Penting Seiring Perkembangan Futures Bittime menilai perkembangan pasar aset digital perlu diikuti dengan penguatan literasi dan edukasi investor, terutama ketika semakin banyak pilihan instrumen perdagangan tersedia. Hal ini sejalan dengan upaya OJK dalam meningkatkan pemahaman masyarakat melalui penerbitan Buku Saku Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto 2.0, yang memuat informasi mengenai ekosistem aset digital, regulasi, risiko, perlindungan konsumen, perkembangan industri, dan inovasi. Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan edukasi menjadi bagian penting dalam membantu investor memahami karakteristik setiap instrumen. “Futures memberikan fleksibilitas untuk mengambil posisi ketika pasar bergerak naik maupun turun. Namun, peluang tersebut harus diikuti pemahaman yang baik mengenai mekanisme dan risiko futures,” ujar Ryan. Berbeda dengan spot, futures memungkinkan pengguna mengambil posisi long maupun short. Namun, penggunaan leverage dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus kerugian. Volatilitas pasar juga dapat membuat nilai posisi berubah dengan cepat dan, ketika margin tidak lagi mencukupi, posisi dapat mengalami likuidasi. Karena itu, pengguna perlu memahami ukuran posisi, tingkat leverage, kondisi pasar, dan kemampuan menanggung risiko sebelum melakukan transaksi futures. Bittime Perkuat Edukasi Futures Komitmen tersebut turut diwujudkan Bittime melalui Bittime Alpha Gala Night dalam rangkaian Coinfest Asia pada Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, Bittime membahas perkembangan futures serta pentingnya memahami mekanisme dan risiko sebelum melakukan transaksi. Aktivitas perdagangan juga tercermin dari data internal Bittime. Dalam periode tujuh hari terakhir, BTCUSDT-PERP, HYPEUSDT-PERP, dan PUMPUSDT-PERP menjadi Top Tokens di Bittime Futures. “Kami melihat peluang Bittime Futures di Indonesia masih terbuka. Karena itu, pengembangan produk perlu berjalan bersama edukasi agar pengguna dapat memahami peluang sekaligus mengelola risiko sesuai profilnya,” kata Ryan. Bittime menyediakan ekosistem 3-in-1 yang mencakup Spot, Staking, dan Bittime Futures dalam satu platform yang terdaftar dan diawasi OJK. Dari sisi pelaku pasar, Lely Marthadinata, senior trader sekaligus founder komunitas trader Theory of Whaless, menilai perkembangan futures di Indonesia perlu berjalan bersama dengan peningkatan edukasi investor. Menurutnya, karakteristik futures yang memungkinkan trader mengambil posisi saat pasar naik maupun turun membuat pemahaman terhadap mekanisme dan risiko menjadi semakin penting. “Perkembangan futures di Indonesia memiliki potensi besar, tetapi pertumbuhan tersebut perlu diikuti edukasi yang memadai. Trader perlu memahami mekanisme futures, termasuk risiko leverage dan volatilitas, agar dapat mengambil keputusan secara lebih terukur,” timpal Lely.
Bitcoin Tertekan di US$63.000, FLOQ Ungkap Peluang Rebound hingga Akhir 2026
Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin (BTC) berada di level US$63.334 di pertengahan Agustus 2026. Secara tahunan, harga aset kripto terbesar tersebut tercatat terkoreksi sekitar 45,98%. Meski penurunan terlihat cukup dalam, kondisi ini belum tentu menandakan Bitcoin telah memasuki tren bearish struktural. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan koreksi Bitcoin perlu dilihat dalam konteks pergerakan harga sebelumnya. Penurunan tahunan yang besar terjadi karena basis pembanding pada tahun lalu sangat tinggi, ketika BTC sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$120.000. “Koreksi harga Bitcoin yang cukup dalam secara tahunan ini sebenarnya perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Secara teknikal, ini bukan semata-mata BTC sedang dalam tren penurunan struktural, melainkan proses normalisasi setelah euforia harga yang sangat tinggi tahun lalu,” kata Yudho dalam keterangannya, Minggu (16/8) lalu. Menurutnya, koreksi setelah Bitcoin mencetak rekor tertinggi bukan merupakan fenomena baru. Secara historis, BTC kerap mengalami fase koreksi dan konsolidasi sebelum menemukan level keseimbangan harga berikutnya. Saat ini, area US$62.000–US$65.000 menjadi salah satu zona penting yang perlu diperhatikan. Kemampuan Bitcoin untuk bertahan di area tersebut menunjukkan masih adanya permintaan yang dapat menahan tekanan jual. “Jadi perhatian saya bukan besaran koreksinya semata, tapi apakah BTC masih mampu bertahan di atas level-level support psikologis penting,” jelasnya. Bitcoin Berpotensi Tembus US$150.000 Memasuki paruh kedua 2026, proyeksi harga Bitcoin dari sejumlah analis dan lembaga keuangan global masih menunjukkan rentang yang cukup lebar. Hal ini mencerminkan tingginya ketidakpastian pasar kripto. Dalam skenario konservatif, Bitcoin diproyeksikan berada di kisaran US$45.000–US$90.000. Sementara itu, skenario optimistis menempatkan harga BTC di rentang US$95.000–US$120.000. Adapun dalam skenario paling bullish, BTC berpotensi kembali menguat hingga sekitar US$150.000. Meski demikian, Yudho tidak ingin menjadikan satu angka sebagai patokan atau prediksi harga pasti Bitcoin. “Saya pribadi tidak ingin memberi angka tunggal sebagai ‘prediksi’, karena itu bisa menyesatkan, apalagi mengingat karakter Bitcoin yang historisnya sangat volatil dan sering bergerak di luar ekspektasi mayoritas analis,” ucapnya. Menurut Yudho, investor sebaiknya lebih fokus pada sejumlah indikator yang dapat menentukan arah Bitcoin hingga akhir tahun. Salah satunya adalah arus dana masuk dan keluar dari ETF Bitcoin spot. Jika aliran dana institusional kembali mencatat inflow secara konsisten, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal meningkatnya minat investor terhadap BTC. Selain itu, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed juga menjadi katalis penting. Pelonggaran kebijakan moneter berpotensi meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Sebaliknya, jika Bitcoin gagal mempertahankan area support di kisaran US$60.000, tekanan jual berpotensi meningkat dan membuka ruang untuk koreksi lebih lanjut. ETF, The Fed, Makroekonomi dan Geopolitik Jadi Penentu Yudho melihat setidaknya empat faktor utama yang dapat memengaruhi pergerakan Bitcoin, yakni kebijakan suku bunga The Fed, arus dana ETF BTC spot, kondisi makroekonomi dan geopolitik global, serta faktor teknikal dan siklus pasar Bitcoin. Perubahan data inflasi Amerika Serikat, pergerakan yield obligasi AS, hingga perkembangan konflik dan ketegangan geopolitik dapat memengaruhi tingkat toleransi risiko investor global. Di sisi lain, Bitcoin masih sangat sensitif terhadap aktivitas investor institusional. Perlambatan arus masuk ETF BTC, misalnya, dapat menunjukkan bahwa sebagian investor besar masih mengambil sikap wait and see daripada melakukan akumulasi secara agresif. Dari sisi domestik, Yudho menilai Indonesia bukan penentu utama harga Bitcoin karena pembentukan harga BTC tetap berlangsung di pasar global. Meski demikian, kondisi dalam negeri dapat memengaruhi respons investor Indonesia terhadap volatilitas pasar. Faktor yang perlu diperhatikan antara lain perkembangan regulasi aset kripto, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta semakin beragamnya produk investasi aset digital di pasar domestik. Pergerakan rupiah juga menjadi perhatian karena harga Bitcoin di Indonesia merupakan hasil konversi harga BTC dalam dolar AS ke rupiah. Artinya, pelemahan rupiah dapat membuat harga BTC dalam denominasi rupiah meningkat meskipun dalam dolar AS relatif tidak berubah. Pasar Waspadai BI dan The Fed Pekan Depan Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18–19 Agustus serta rilis notulen FOMC pada 19 Agustus. Kedua agenda tersebut berlangsung berdekatan dan berpotensi meningkatkan volatilitas rupiah maupun Bitcoin. Di dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi perkembangan pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Rupiah sempat menguat ke Rp17.750 per dolar AS pada 10 Agustus sebelum kembali bergerak di kisaran Rp17.855–Rp17.881. Sementara, IHSG naik ke level 6.373,85 pada 12 Agustus. “Dalam jangka pendek, investor perlu memperhatikan kombinasi kebijakan BI dan arah komunikasi The Fed. Dua katalis moneter besar yang muncul hampir bersamaan dapat meningkatkan volatilitas pasar, terutama jika hasilnya berbeda dari ekspektasi,” tambah Yudho. Yudho menilai Bitcoin masih perlu menembus area US$65.300 secara meyakinkan untuk membuka ruang penguatan berikutnya. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level US$64.000 berpotensi kembali meningkatkan tekanan terhadap harga BTC. Sebagai bagian dari komitmen meningkatkan literasi aset digital, FLOQ juga menyediakan FLOQ Academy yang dapat diakses secara gratis untuk mempelajari pergerakan pasar, investasi aset kripto, blockchain, hingga perkembangan Web3 secara lebih mudah.
Lewat Futures Trading Dupoin Futures Gandeng WeWork Dorong Pekerja Swasta Kenali Peluang Side Income
Jakarta, katakabar.com - Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk memiliki sumber pendapatan tambahan di luar gaji utama, PT Dupoin Futures Indonesia berkolaborasi dengan WeWork Indonesia gelar program edukasi Dupoin Goes to Office di WeWork, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (6/8) lalu, usung tema "Futures Trading as Your Side Income". Kegiatan ini membekali pekerja swasta dengan pemahaman mengenai perdagangan derivatif sebagai salah satu alternatif instrumen investasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendiversifikasi sumber pendapatan secara bijak. Pemilihan segmen pegawai swasta didasarkan pada data internal Dupoin Futures yang menunjukkan sekitar 42% pengguna platform berasal dari kalangan profesional dan karyawan swasta. Lantaran itu, perusahaan menilai edukasi mengenai investasi, pengelolaan risiko, dan perdagangan derivatif perlu diperluas agar semakin banyak pekerja memahami instrumen investasi yang legal dan teregulasi. Head of Marketing PT Dupoin Futures Indonesia, Taufan, mengatakan meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai sebelum mulai bertransaksi. "Perdagangan derivatif tidak hanya menawarkan peluang, tetapi juga membutuhkan pemahaman terhadap risiko. Lewat Dupoin Goes to Office, kami ingin menghadirkan edukasi yang sederhana, mudah dipahami, dan relevan agar para profesional semakin mengenal futures trading sebagai instrumen investasi yang legal, teregulasi, dan berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan," ujar Taufan. Selama kegiatan berlangsung, sebanyak 23 dari berbagai member WeWork mengikuti sesi pengenalan perdagangan derivatif, manajemen risiko investasi, serta pembahasan tren dan peluang pasar global sepanjang 2026. Peserta juga mendapatkan pengalaman langsung menggunakan platform Dupoin Futures melalui demonstrasi aplikasi dan simulasi transaksi pasar secara real-time dengan pendampingan tim profesional. Dupoin Futures turut berkolaborasi dengan Finansialku, platform edukasi dan perencanaan keuangan di Indonesia. Peserta dapat berkonsultasi langsung mengenai pengelolaan keuangan, strategi investasi, hingga perencanaan finansial sesuai kebutuhan masing-masing. Selain sesi edukasi, acara juga diisi dengan networking, makan bersama, sesi hiburan tarot reading, serta pembagian hadiah dan merchandise bagi peserta. PT Dupoin Futures Indonesia merupakan perusahaan pialang berjangka yang beroperasi di bawah pengawasan BAPPEBTI, serta berada dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia sesuai kewenangan masing-masing. Perusahaan berkomitmen memperluas literasi keuangan melalui berbagai program edukasi agar masyarakat semakin memahami perdagangan derivatif yang legal, transparan, dan berbasis manajemen risiko. Ke depan, Dupoin Goes to Office akan terus diperluas ke berbagai perusahaan dan kawasan perkantoran sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan di kalangan pekerja profesional. Informasi mengenai program edukasi dan layanan Dupoin Futures dapat diakses melalui website dan media sosial resmi perusahaan.
Krisis Selalu Ada, Menunggu Kondisi Ideal Justru Bisa Bikin Investor Kehilangan Peluang
Jakarta, katakabar.com - Di tengah dinamika ekonomi global masih dibayangi berbagai ketidakpastian, banyak calon investor masih bertanya: apakah sekarang waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi? Ketika pasar bergerak fluktuatif, suku bunga berubah, dan sentimen geopolitik memengaruhi ekonomi dunia, tidak sedikit yang memilih menunggu hingga kondisi dianggap lebih aman sebelum mengambil keputusan investasi. Padahal, jika melihat perjalanan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, ketidakpastian bukanlah sesuatu yang bersifat sementara. Mulai dari pandemi Covid-19 pada 2020, penyebaran varian Delta dan Omicron pada 2021, lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga global pada 2022, konflik Rusia-Ukraina pada 2023, kekhawatiran resesi serta perkembangan artificial intelligence yang memicu volatilitas pasar pada 2024, perang tarif Amerika Serikat pada 2025, hingga memanasnya konflik di Timur Tengah sepanjang 2026. Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa selalu ada faktor baru yang memengaruhi pasar dan membentuk sentimen investor. Bagi Chief Marketing Officer (CMO) Nanovest, Jovita Widjaja, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus menunda investasi. Menurutnya, ketidakpastian merupakan bagian dari siklus pasar yang akan selalu ada. Karena itu, keputusan investasi tidak seharusnya didasarkan pada ada atau tidaknya krisis, melainkan pada tujuan keuangan dan strategi investasi yang konsisten. "Kalau melihat perjalanan ekonomi global, hampir setiap tahun selalu ada peristiwa yang memicu kekhawatiran pasar. Artinya, krisis akan selalu ada dalam berbagai bentuk. Kalau kita terus menjadikan krisis sebagai alasan untuk menunda investasi, kemungkinan besar kita tidak akan pernah mulai. Ketakutan pasar akan selalu muncul, tetapi jika melihat sejarahnya, pasar selalu mampu pulih dan kembali bertumbuh. Yang berisiko bukan hanya menghadapi volatilitas, tetapi juga kehilangan peluang pertumbuhan karena terlalu lama menunggu," ujar Jovita. Mengubah Cara Pandang Terhadap Krisis Menurut Jovita, salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi investor adalah belum memahami profil risiko masing-masing. Akibatnya, banyak investor mudah panik ketika pasar mengalami volatilitas dan mengambil keputusan berdasarkan emosi, seperti menjual aset saat harga sedang turun. Padahal, sebelum mulai berinvestasi, langkah pertama yang perlu dilakukan bukan hanya memilih produk investasi, tetapi juga memahami diri sendiri dan mengenali tingkat risiko yang mampu dihadapi. Berbekal pengalaman lebih dari 14 tahun di industri investasi dan sekuritas, Jovita telah melewati berbagai siklus pasar, mulai dari periode pertumbuhan hingga berbagai krisis global yang memicu koreksi signifikan. "Selama 14 tahun terakhir saya bekerja di bidang ini, sudah banyak krisis yang terjadi. Namun tidak lama setelah krisis apapun itu, pasar kembali pulih bahkan mencatatkan kenaikan yang lebih tinggi dari penurunannya. Pengalaman itu mengajarkan bahwa pertanyaannya bukan lagi if the market will rebound, melainkan when. Yang terpenting adalah memiliki strategi investasi dan tetap disiplin menjalaninya," jelasnya. Kata Jovita, volatilitas bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan investasi. Investor yang memahami profil risikonya akan lebih siap menghadapi fluktuasi pasar tanpa mudah terbawa kepanikan, karena mereka telah memilih instrumen yang sesuai dengan tujuan keuangan dan tingkat toleransi risikonya. "Tidak ada yang bisa secara konsisten menentukan kapan pasar berada di titik terendah atau tertinggi. Karena itu, membangun kebiasaan berinvestasi secara rutin jauh lebih realistis dibanding terus menunggu momentum yang dianggap sempurna. Ketika kita memahami profil risiko sendiri, kita juga akan lebih tenang menghadapi pergerakan pasar karena sudah mengetahui strategi investasi yang paling sesuai dengan diri kita," imbuhnya. Untuk mendukung kebutuhan investor dengan karakter yang berbeda-beda, Nanovest menyediakan berbagai pilihan produk investasi sesuai profil risiko masing-masing. Investor dengan profil yang lebih konservatif dapat memilih Earn Program Nanovest atau Digital Gold sebagai alternatif yang lebih stabil, sementara investor dengan toleransi risiko yang lebih tinggi dapat berinvestasi di saham Amerika Serikat maupun aset kripto. Dengan memahami profil risiko sejak awal, investor dapat membangun portofolio yang lebih sesuai dengan kebutuhannya dan tetap konsisten menjalankan strategi investasi, meskipun pasar sedang bergejolak. Konsistensi Lebih Penting daripada Menunggu Momentum Meningkatnya jumlah investor Indonesia menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri keuangan. Namun, di tengah derasnya arus informasi dan perubahan kondisi ekonomi global, investor membutuhkan lebih dari sekadar akses transaksi. Mereka membutuhkan pemahaman yang tepat agar tidak mudah dipengaruhi ketakutan jangka pendek. Jovita menilai kepercayaan dibangun melalui edukasi yang berkelanjutan, transparansi, serta kemampuan membantu masyarakat memahami bahwa fluktuasi pasar merupakan bagian alami dari perjalanan investasi. "Pada akhirnya, investasi bukan tentang menunggu waktu yang benar-benar sempurna untuk mulai, karena kondisi tersebut mungkin tidak akan pernah datang. Krisis akan selalu menjadi bagian dari perjalanan pasar, tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa pasar memiliki kemampuan untuk pulih dan terus bertumbuh. Karena itu, yang paling penting bukan menghindari setiap gejolak, melainkan membangun kebiasaan berinvestasi yang konsisten agar tidak kehilangan peluang pertumbuhan dalam jangka panjang," tambahnya.
S&P 500 Cetak Rekor, Data Naker Lemah Buka Peluang The Fed Lebih Dovish
Jakarta, katakabar.com - Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengawali pekan dengan sentimen positif setelah Wall Street mencatat penguatan dalam dua pekan berturut-turut. Indeks S&P 500 bahkan berhasil mencetak rekor baru, sementara Nasdaq Composite menjadi salah satu indeks dengan kinerja paling kuat berkat kembali bergairahnya saham-saham teknologi dan semikonduktor. Di perdagangan pekan lalu, S&P 500 menguat sekitar 3,6%, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 5,2%. Reli juga didukung oleh saham-saham yang berkaitan dengan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), termasuk sektor semikonduktor yang kembali menjadi motor penggerak pasar. Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve atau The Fed akan lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga setelah muncul tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS. Data Tenaga Kerja AS Jadi Perhatian Investor Sentimen pasar berubah setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan yang cukup tajam. Nonfarm payrolls pada Juli 2026 tercatat turun 23.000 pekerjaan, berlawanan dengan ekspektasi ekonom yang memperkirakan penambahan sekitar 80.000 pekerjaan. Selain penurunan payrolls, data sebelumnya juga mengalami revisi ke bawah. Pertumbuhan pekerjaan pada Mei direvisi dari 129.000 menjadi 63.000, sementara Juni direvisi dari 57.000 menjadi hanya 20.000. Tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,1% dari 4,2%, tetapi penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan turunnya tingkat partisipasi angkatan kerja. Data tersebut memberikan sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum. Bagi investor, kondisi ini justru dapat menjadi katalis positif bagi aset berisiko karena tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat menjadi lebih rendah. Pasar kini menilai peluang kenaikan suku bunga pada September semakin mengecil. Setelah data pekerjaan dirilis, probabilitas kenaikan suku bunga September di pasar futures turun ke kisaran 44%, dibandingkan sekitar 60% sebelumnya. Situasi ini mencerminkan fenomena “bad news is good news” bagi pasar saham. Data ekonomi yang lebih lemah dapat menjadi kabar buruk bagi pertumbuhan, tetapi sekaligus meningkatkan harapan bahwa The Fed tidak perlu menaikkan suku bunga lebih tinggi. Penurunan imbal hasil obligasi AS juga berpotensi memberikan dukungan bagi saham-saham teknologi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Inflasi Jadi Katalis Berikutnya Meski demikian, reli pasar belum sepenuhnya aman. Fokus investor kini beralih ke sejumlah indikator ekonomi penting yang akan dirilis sepanjang pekan ini, terutama data inflasi. Data Consumer Price Index (CPI) Juli akan menjadi perhatian utama karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed selanjutnya. Konsensus pasar memperkirakan inflasi utama berada di sekitar 3,4% secara tahunan, sementara inflasi inti diproyeksikan sekitar 2,5%. Jika data inflasi kembali menunjukkan perlambatan, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan yang lebih dovish dapat semakin menguat. Selain CPI, investor juga akan mencermati Producer Price Index (PPI), penjualan ritel, serta data sektor perumahan. PPI penting untuk melihat tekanan harga dari sisi produsen, sedangkan penjualan ritel dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan konsumsi rumah tangga AS. Jika kombinasi data tersebut menunjukkan inflasi yang terkendali dan aktivitas ekonomi yang mulai melambat secara terukur, ruang bagi The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga akan semakin terbuka. Sebaliknya, apabila inflasi kembali meningkat, pasar dapat kembali mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan berpotensi menekan valuasi saham. Dengan S&P 500 berada di level rekor dan Nasdaq mencatat kenaikan signifikan, investor perlu mencermati apakah reli saat ini dapat berlanjut atau justru memasuki fase konsolidasi. Kinerja laba perusahaan yang kuat masih menjadi fondasi penting bagi pasar, terutama setelah sebagian besar perusahaan S&P 500 melaporkan kinerja kuartal kedua yang melampaui ekspektasi. Pantau Pergerakan Saham AS, Kripto dan Emas di Nanovest Pergerakan Saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital saat ini bisa kamu cek melalui aplikasi Nanovest. Bagi kamu yang tertarik mulai berinvestasi di saham AS maupun mengeksplorasi aset kripto dan emas digital, Nanovest menawarkan akses ke berbagai pilihan aset dalam satu platform. Nanovest memungkinkan pengguna mulai berinvestasi dengan modal dari Rp5.000. Berdasarkan informasi di situs resminya, layanan aset kripto Nanovest disediakan oleh PT Tumbuh Bersama Nano yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sementara transaksi emas digital dilakukan melalui mitra yang berizin Bappebti. Dari sisi keamanan, Nanovest juga menyebut adanya perlindungan melalui Asuransi Sinarmas serta fitur keamanan NanoShield untuk membantu melindungi akun dan aset pengguna dari risiko keamanan siber. Bagi investor pemula, Nanovest dapat menjadi salah satu pilihan untuk mulai mengenal investasi secara bertahap. Aplikasi Nanovest tersedia di Google Play Store dan App Store, sehingga pengguna dapat memantau pasar dan mengelola investasi melalui satu aplikasi. Informasi lebih lanjut mengenai layanan dan produk Nanovest dapat ditemukan melalui situs resmi Nanovest. Disclaimer: Investasi memiliki risiko. Investor perlu memahami karakteristik dan risiko setiap aset sebelum mengambil keputusan investasi.
Mengenal Peluang Menabung Saham AS bagi Investor Indonesia
Jakarta, katakabar.com - Minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi pada saham perusahaan global, khususnya saham di pasar Amerika Serikat, terus meningkat beberapa tahun terakhir. Kemudahan akses melalui platform digital membuat banyak investor pemula mulai mempertimbangkan saham AS sebagai bagian dari portofolio mereka. Artikel ini merangkum peluang, cara akses, serta hal-hal yang perlu dipahami sebelum mulai menabung saham AS. Mengapa Saham AS Menarik Diperhatikan Pasar saham Amerika Serikat dikenal sebagai salah satu pasar terbesar dan paling likuid di dunia, dengan banyak perusahaan berskala global di sektor teknologi, kesehatan, hingga konsumsi. Bagi investor Indonesia, ada beberapa alasan mengapa saham AS menarik untuk dipertimbangkan sebagai pelengkap portofolio. Diversifikasi geografis, sehingga portofolio tidak hanya bergantung pada satu pasar. Diversifikasi mata uang, karena investasi dilakukan dalam denominasi dolar AS yang menambah variasi eksposur. Akses ke perusahaan global yang sebagian merupakan pemimpin di industrinya masing-masing. Potensi imbal hasil dari pergerakan harga dan pembagian dividen, dengan catatan keduanya tidak dijamin. Perlu ditegaskan bahwa semua potensi tersebut datang bersama risiko. Saham AS tetap berfluktuasi, dan eksposur terhadap mata uang asing dapat bekerja dua arah, yaitu menguntungkan maupun merugikan tergantung pergerakan nilai tukar. Membandingkan Karakteristik, Bukan Sekadar Imbal Hasil Sebuah kekeliruan yang umum adalah membandingkan instrumen hanya dari sisi imbal hasil tanpa mempertimbangkan risikonya. Tabungan atau deposito dan saham memiliki tujuan serta karakteristik yang berbeda, sehingga keduanya sebenarnya saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Cara Mengakses Saham AS dari Indonesia Investor di Indonesia kini dapat mengakses saham AS melalui platform investasi resmi yang diawasi regulator. Secara umum, terdapat dua bentuk akses yang umum ditemui. Pertama, kepemilikan saham secara langsung, termasuk melalui fitur saham pecahan atau fractional shares yang memungkinkan pembelian dengan modal kecil. Kedua, produk turunan seperti kontrak selisih (CFD) yang pergerakannya mengikuti harga saham acuan. Hal yang paling penting bukan sekadar memilih platform, melainkan memastikan bahwa platform tersebut resmi dan berada di bawah pengawasan otoritas berwenang yang relevan di Indonesia, seperti OJK maupun Bappebti sesuai jenis produknya. Memverifikasi legalitas adalah langkah awal yang tidak boleh dilewati. Langkah Umum Memulai Meski rincian tiap platform dapat berbeda, langkah-langkah umumnya relatif serupa. Memilih platform resmi yang diawasi regulator dan sesuai kebutuhan. Melakukan registrasi dan verifikasi identitas sesuai ketentuan yang berlaku. Menyetorkan dana, yang umumnya akan dikonversi ke dolar AS. Mencari saham berdasarkan kode (ticker), lalu menentukan jumlah pembelian. Memantau portofolio secara berkala, termasuk harga, dividen, dan informasi perusahaan. Dalam menempatkan order, investor umumnya akan menemui beberapa jenis instruksi pembelian yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Prinsip Menabung Saham yang Sehat Bagi Pemula Menabung saham AS sebaiknya dipandang sebagai proses jangka panjang, bukan upaya mencari keuntungan cepat. Beberapa prinsip berikut umum dianjurkan. Memulai dengan modal kecil sambil belajar memahami cara kerja pasar. Melakukan diversifikasi lintas sektor, alih-alih berfokus pada satu saham saja. Memiliki horizon waktu yang memadai, mengingat pasar saham bergerak naik turun dalam jangka pendek. Menetapkan strategi keluar yang terukur, termasuk batas pengambilan keuntungan dan batas kerugian. Risiko dan Aspek yang Perlu Dipahami Sebelum mulai, investor perlu memahami sejumlah risiko yang melekat pada saham AS. Di antaranya adalah volatilitas harga, risiko nilai tukar antara dolar AS dan rupiah, risiko pasar secara umum seperti koreksi, serta aspek perpajakan yang berlaku atas dividen maupun keuntungan. Memahami hal-hal ini sejak awal membantu investor menyusun ekspektasi yang lebih realistis. Market Insight Menabung saham AS dapat menjadi salah satu cara bagi investor Indonesia untuk memperluas diversifikasi portofolio ke pasar global. Namun, peluang ini sebaiknya tidak dipahami sebagai jalan pintas untuk mendapatkan imbal hasil tinggi tanpa risiko. Potensi yang lebih besar selalu beriringan dengan risiko yang juga lebih besar. Yang sama pentingnya adalah memandang saham AS sebagai pelengkap, bukan pengganti, dari instrumen lain dalam portofolio. Tabungan, instrumen domestik, dan aset global masing-masing memiliki peran yang berbeda dan dapat saling melengkapi. Menurut tim Research Valbury, informasi seperti ini sebaiknya dipahami sebagai bagian dari literasi keuangan, bukan sebagai rekomendasi untuk membeli instrumen tertentu. Hal yang ingin terus didorong adalah pemahaman investor terhadap karakteristik dan risiko setiap pilihan, serta kedisiplinan untuk selalu menggunakan platform resmi yang diawasi otoritas berwenang, agar keputusan dapat diambil secara lebih bijak sesuai dengan profil masing-masing.
Strategi 'Range Trading': Memaksimalkan Peluang Saat Pasar Bergerak Sideways
Jakarta, katakabar.com - Ketika mengamati dinamika pasar keuangan internasional, tidak jarang para pelaku pasar menemukan grafik harga yang tampak berjalan di tempat atau bergerak mendatar tanpa arah tren yang mendominasi. Fenomena itu dikenal sebagai kondisi sideways atau range-bound market, di mana kekuatan daya beli dan daya jual berada dalam posisi yang relatif seimbang. Bagi sebagian orang, kondisi pasar yang tenang ini sering kali dianggap membosankan dan kurang menarik. Padahal, jika dipahami dengan baik, fase konsolidasi ini justru menawarkan pola pergerakan yang sangat terstruktur dan lebih mudah diprediksi dibandingkan saat pasar sedang bergejolak ekstrem. Membaca Batas Support-Resistance dan Mengabaikan Kebisingan Pasar Kunci utama untuk menguasai strategi range trading terletak pada kemampuan mengidentifikasi batas atas (resistance) dan batas bawah (support) yang menahan grafik dalam jangka waktu tertentu. Dalam proses belajar trading yang baik, trader diajarkan untuk bersabar memperhatikan titik-titik di mana harga selalu mengalami pembalikan arah setelah menyentuh area tertentu. Ketika batas-batas psikologis ini sudah terpetakan dengan jelas, pola pergerakan harga akan membentuk koridor transaksi yang sangat rapi, memberikan batasan risiko yang jauh lebih terukur dan objektif bagi setiap posisi yang akan dibuka. Prinsip eksekusinya sangat sederhana namun membutuhkan kedisiplinan tinggi: melakukan pembelian (buy) di dekat area batas bawah dan melakukan penjualan (sell) ketika harga mendekati batas atas koridor tersebut. Strategi ini sangat efektif untuk menyaring kebisingan sinyal palsu yang sering membingungkan di layar monitor. Tetapi, trader tetap harus mewaspadai risiko terjadinya penembusan harga (breakout) mendadak keluar dari koridor konsolidasi. Oleh karena itu, penempatan perintah batasan kerugian (stop loss) di luar garis batas support atau resistance tetap merupakan tindakan wajib untuk mengantisipasi jika pasar tiba-tiba membentuk tren baru yang agresif. Kepraktisan Transaksi Dua Arah di Pasar Kontrak Berjangka Fleksibilitas strategi memanfaatkan koridor konsolidasi ini dapat dijalankan secara optimal karena adanya fasilitas perdagangan dua arah yang tersedia di dalam ekosistem pasar berjangka. Melalui fitur ini, Anda memiliki kebebasan penuh untuk meraih peluang di kedua sisi batas koridor; baik mengambil posisi beli saat harga memantul dari lantai dasar, maupun langsung mengambil posisi jual (short) saat harga mulai tertahan di atap koridor. Kemudahan ini memastikan bahwa portofolio Anda tetap aktif berkembang meskipun pasar finansial secara keseluruhan sedang tidak bergerak dalam tren naik atau turun yang tajam. Tetapi, keberhasilan mengonsolidasi keuntungan dari strategi ini sangat bergantung pada kecepatan dan ketepatan eksekusi sistem. Mengingat jarak antara batas atas dan batas bawah dalam pasar sideways cenderung terbatas, keterlambatan eksekusi sekian detik saja dapat menggerus porsi potensi keuntungan Anda. Menggunakan platform trading online yang memiliki infrastruktur teknologi stabil dan selisih harga (spread) yang kompetitif menjadi faktor krusial agar setiap perintah masuk dan keluar pasar dapat diproses secara presisi pada tingkat harga yang diharapkan. Optimalkan Strategi Perdagangan Anda Bersama KVB Futures Menavigasi berbagai kondisi pasar finansial global baik saat tren bergerak kuat maupun saat berkonsolidasi membutuhkan kemitraan bersama broker yang memiliki komitmen tinggi terhadap transparansi eksekusi dan stabilitas teknologi. KVB Futures hadir sebagai Broker Trading Futures yang andal dan terpercaya untuk menyediakan ekosistem perdagangan berjangka yang aman, transparan, serta sepenuhnya patuh terhadap regulasi hukum industri yang berlaku. Kami berkomitmen untuk memastikan setiap instruksi transaksi Anda diproses secara instan tanpa penundaan di segala kondisi pasar. Seluruh fasilitas digital dan layanan profesional kami dirancang secara khusus untuk membantu para pelaku pasar mengelola portofolio mereka secara efisien dan terarah. Anda dapat mengeksplorasi berbagai spesifikasi produk komoditas, mata uang, dan indeks saham dunia kami untuk mendukung pertumbuhan portofolio finansial Anda secara konsisten. Untuk segera mengambil langkah strategis Anda dan mulai menguasai peluang pasar keuangan internasional sekarang juga, silakan melakukan pendaftaran melalui tautan resmi Register KVB Futures.