Pemangkasan

Sorotan terbaru dari Tag # Pemangkasan

Prospek Saham Nikel di Tengah Wacana Pemangkasan Produksi Jumbo Nasional
Nasional
Sabtu, 27 Desember 2025 | 09:00 WIB

Prospek Saham Nikel di Tengah Wacana Pemangkasan Produksi Jumbo

Jakarta, katakabar.com - Saham nikel kompak naik dalam sepekan terakhir setelah pemerintah Indonesia mengumumkan rencana pemangkasan produksi bijih nikel yang cukup signifikan. Lalu, apakah ini berpotensi menjadi titik balik sektor nikel untuk terus melaju di 2026? CEO dan Founder Mikirduit Surya Rianto mengatakan, kenaikan harga saham nikel dalam jangka pendek didorong oleh kenaikan harga nikel di LME sebesar 10,64 persen sejak 17 Desember 2025 hingga menjadi 15.758 dolar AS per ton. Tetapi, kenaikan ini hanya sifat reaktif dari market atas rencana pemangkasan produksi nikel di Indonesia. “Realitanya, pasar nikel masih oversupply ratusan ribu ton. Kami menilai kenaikan jangka pendek karena Indonesia hanya baru berencana, tapi belum merealisasikan pemangkasan produksi. Lalu, setelah Indonesia pangkas produksi, sektor nikel baru memperbaiki kondisi supply, sedangkan demand-nya masih lemah,” ujarnya melalui keterangan resmi Rabu lalu. Kabar terakhir, pemerintah Indonesia berencana memangkas produksi hingga 35 persen menjadi 250 juta ton pada 2026. Tetapi, aksi dari Indonesia ini dinilai belum menjadi solusi atas oversupply nikel di dunia. Catatan dari BMO CapitalMarkets menilai pasar nikel masih surplus pasokan sekitar 240.000 ton (nikel tingkat kemurnian 99 persen bukan dalam bentuk bijih) pada 2026 (dengan mengecualikan rencana pemangkasan produksi Indonesia). Pemangkasan produksi di Indonesia dinilai belum bisa berdampak signifikan hingga benar-benar terealisasi. Sementara, Rusia Nornickel memperkirakan oversupply di sektor nikel masih sebesar 275.000 ton pada 2026. Angka itu meningkat dari surplus 240.000 ton pada tahun ini. Rencana Indonesia memangkas produksi nikel juga patut dipertanyakan, terutama terkait komitmennya. Pasalnya, pada akhir 2024, pemerintah berencana memangkas produksi hingga tersisa 150 juta ton di 2025. Realitasnya, produksi bijih nikel Indonesia masih tembus 300 juta ton di 2025. Prospek Saham Nikel Dalam jangka pendek, saham-saham nikel naik selaras dengan kenaikan harga nikel di LME dari 14.000 dolar AS per ton mendekati 16.000 dolar AS per ton. Jika harga nikel kembali konsolidasi dan mengalami koreksi bisa menjadi tekanan lagi bagi saham nikel. Surya menekankan ada normalisasi kinerja keuangan saham nikel di 2025 yang mencatatkan kenaikan signifikan dibandingkan 2024. Hal itu disebabkan adanya kendala persetujuan RKAB pada 2024 yang membuat hampir satu semester pertama di tahun tersebut para emiten nikel tidak mampu mencatatkan penjualan optimal. Sehingga, ketika aktivitas penjualan kembali normal di 2025, ada pertumbuhan anomali yang cukup signifikan di hampir seluruh saham nikel. “Untuk itu, kinerja keuangan emiten nikel di 2026 akan kembali ke mode normal yang menyesuaikan dengan harga nikel. Meski, kami mencatat ada beberapa saham nikel yang menyelesaikan pembangunan smelter di 2026 dan bisa jadi katalis pendorong kinerjanya lebih atraktif,” jelasnya. Menurut Surya, pesan terpenting untuk investor ritel bisa bersabar jika ingin masuk ke saham nikel yang baru saja mengalami kenaikan. Tren kenaikan saham nikel sepanjang 2025 didorong oleh tiga faktor utama, mulai dari anomali pertumbuhan karena hal teknis di 2024, kenaikan harga MHP (produk olahan nikel untuk baterai kendaraan listrik di Agustus-Oktober 2024), dan wacana pemangkasan produksi bijih nikel di Indonesia pada 2026. "Tetapi, secara fundamental, permintaan nikel masih lemah. Kecuali, tiba-tiba demand nikel di China untuk nickel pig iron yang digunakan di industri stainless steel kembali meningkat. Itu bisa menjadi pendorong booming yang lebih besar bagi saham nikel,” terangnya. Untuk mengantisipasi peluang saham sektor nikel, Mikirduit juga sudah merilis riset prospek 9 saham nikel di 2026 yang ringkasannya bisa dibaca di sini . Jika ingin laporan lebih lengkap beserta action-nya, kamu bisa join ke Mikirsaham pro dengan klik link di sini

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Dorong Tren Bullish Emas Internasional
Internasional
Kamis, 27 November 2025 | 12:00 WIB

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Dorong Tren Bullish Emas

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) kembali catat kenaikan pada perdagangan Selasa (25/11), menguat lebih dari 0,14 persen setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat memperbesar peluang bahwa Federal Reserve (Fed) akan melakukan pemangkasan suku bunga pada pertemuan 9 hingga 10 Desember. Pada perdagangan Rabu (26/11), emas bergerak stabil di sekitar $4.141 setelah sebelumnya menyentuh titik terendah harian di $4.109. Pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah menjadi pendorong utama kenaikan ini, membuat investor kembali mengalihkan minat ke aset tanpa imbal hasil seperti emas. Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menjelaskan bahwa formasi candlestick dan pergerakan indikator Moving Average mengindikasikan bahwa tren bullish pada XAU/USD semakin kuat. Menurutnya, momentum yang terbentuk di pasar menunjukkan meningkatnya optimisme investor bahwa harga emas memiliki peluang naik dalam jangka pendek. Penguatan teknikal tersebut juga dinilai sejalan dengan kondisi fundamental global yang mendukung sentimen ke arah bullish. Secara teknikal, Andy memaparkan dua potensi arah gerak emas untuk hari ini. Jika tekanan beli terus berlanjut, XAU/USD berpotensi menargetkan kenaikan menuju area resistance di $4.208. Namun, jika tekanan naik melemah dan terjadi koreksi harga, emas bisa turun menuju level support terdekat di $4.116, yang akan menjadi penentu apakah tren bullish mampu bertahan. Sentimen penguatan emas juga diperkuat oleh data makro ekonomi AS terbaru. Setelah laporan inflasi menunjukkan pelemahan, pasar semakin yakin The Fed memiliki ruang yang lebih luas untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Beberapa pejabat The Fed bahkan mendukung pemangkasan suku bunga ketiga tahun ini di bulan Desember. Hal ini membuat dolar AS melemah ke posisi terendah dalam satu minggu, sehingga memberikan dorongan tambahan bagi harga emas, mengingat hubungan terbalik antara keduanya. Meski demikian, kenaikan harga emas tidak serta-merta berlangsung tanpa hambatan. Turunnya ekspektasi suku bunga juga mendorong peningkatan minat terhadap aset berisiko, tercermin dari menguatnya pasar saham global, sehingga membatasi penguatan emas sebagai aset safe haven. Harapan tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina juga menjadi faktor yang menekan potensi reli emas. Di sisi lain, kondisi fundamental keseluruhan tetap mendukung pergerakan emas ke arah naik. Stabilnya Indeks Harga Produsen (IHP) AS di 2,7% YoY, turunnya IHP inti menjadi 2,6%, serta melemahnya penjualan ritel dan tingkat kepercayaan konsumen, menunjukkan adanya perlambatan ekonomi yang dapat membuat The Fed semakin condong kepada kebijakan pelonggaran. Sikap dovish Gubernur Stephen Miran yang menilai perlunya penurunan suku bunga besar untuk menyeimbangkan kebijakan, semakin memperkuat ekspektasi pasar bahwa Fed berpeluang besar memangkas suku bunga 25 basis poin pada Desember, dengan probabilitas sekitar 85%.

Fed Isyaratkan Pemangkasan Suku Bunga, Emas Berpeluang Menguat Internasional
Internasional
Rabu, 26 November 2025 | 08:00 WIB

Fed Isyaratkan Pemangkasan Suku Bunga, Emas Berpeluang Menguat

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) kembali mencatat penguatan signifikan pada awal pekan ini, didorong oleh peningkatan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve pada pertemuan bulan Desember. Sentimen pasar saat ini sangat mendukung aset safe haven seperti emas, seiring meningkatnya keyakinan bahwa suku bunga acuan AS akan segera turun. Pada perdagangan Senin (24/11) kemarin, emas (XAU/USD) menguat 0,80 persen, diperdagangkan mendekati area $4.100 setelah sempat berada di titik terendah harian di sekitar $4.040. Kenaikan lanjutan berlanjut pada sesi perdagangan Asia, Selasa (25/11), di mana harga emas bergerak hingga berada di kisaran $4.140, menandakan minat beli masih sangat kuat. Menurut analisis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menyebutkan tekanan beli pada emas semakin solid berdasarkan kombinasi struktur candlestick dan indikator Moving Average. "Tren Bullish dalam jangka pendek dan menengah masih kuat, memberikan peluang kenaikan lanjutan selama harga bertahan di atas zona support kunci," ulasnya melalui siaran pers resmi, Selasa siang. Proyeksi pergerakan emas saat ini, kata Andy, jika momentum bullish berlanjut, harga emas berpotensi melanjutkan penguatan menuju area resistance $4.208. Jika terjadi koreksi, potensi pelemahan jangka pendek berada di area support terdekat $4.090. Andy menegaskan selama harga tetap berada di atas titik $4.090, bias bullish tetap dominan dan skenario kenaikan lebih besar kemungkinan terjadi. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed meningkat tajam setelah sejumlah pejabat Fed menyampaikan pandangan yang mendukung kebijakan pelonggaran. Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, menekankan kondisi pasar tenaga kerja AS yang terus melemah menjadi dasar yang kuat untuk penurunan suku bunga sebesar 0,25 persen pada pertemuan Desember. Komentar senada disampaikan oleh Mary Daly, Presiden Fed wilayah San Francisco, yang menilai risiko terhadap ekonomi dan sektor tenaga kerja semakin besar jika suku bunga tetap tinggi terlalu lama. Komentar tersebut mengubah lanskap prediksi pasar secara drastis. Menurut perangkat CME FedWatch, probabilitas pemangkasan suku bunga Desember kini mendekati 80 persen, dibandingkan hanya 30 persen sebelum pernyataan tersebut dirilis. Ekspektasi pelonggaran kebijakan ini memberikan dukungan kuat terhadap emas, karena suku bunga yang lebih rendah menurunkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Pelaku pasar saat ini menantikan rilis data ekonomi penting AS, termasuk ADP Employment Change, Penjualan Ritel, dan Indeks Harga Produsen (PPI) yang dijadwalkan pada Selasa malam. Jika hasil data lebih kuat dari ekspektasi, dolar AS berpotensi menguat dan memberi tekanan pada emas. Sebaliknya, hasil yang lebih lemah dapat kembali mendorong aliran modal menuju aset aman seperti emas. Selain dinamika kebijakan Fed, pasar juga memantau perkembangan geopolitik global. Tetapi sejauh ini, harga emas tampaknya lebih fokus pada ekspektasi kebijakan suku bunga ketimbang faktor geopolitik. Dengan dukungan kuat dari sentimen fundamental serta struktur teknikal bullish yang terbentuk, prediksi harga emas hari ini cenderung menguat menuju area $4.208, selama harga mampu bertahan di atas zona support penting $4.090.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Dorong Harga Emas Menguat Internasional
Internasional
Sabtu, 15 November 2025 | 16:03 WIB

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Dorong Harga Emas Menguat

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) kembali jadi pusat perhatian pasar global seiring meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) yang kini semakin “terdiskon” dalam harga. Pergerakan emas pekan ini hingga minggu depan berpotensi memasuki fase volatilitas yang lebih tinggi, dengan fokus utama pada nada pernyataan Fed dalam pertemuan mendatang. Harga emas saat ini masih berada dalam jalur kenaikan yang cukup kuat. Permintaan yang solid dari bank sentral global serta pembelian oleh investor institusi menunjukkan bahwa apresiasi harga emas bukan sekadar hasil spekulasi jangka pendek, melainkan didukung oleh fundamental yang kokoh. Dari perspektif teknikal, analisis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, kombinasi pergerakan candlestick hingga sinyal dari indikator Moving Average menunjukkan bahwa tren bullish di XAU/USD masih dominan. Struktur harga memperlihatkan serangkaian higher highs dan higher lows yang menjadi tanda penguatan tren jangka menengah. Namun, Nugraha memperingatkan bahwa pasar perlu tetap memperhatikan level-level kunci yang dapat menentukan arah pergerakan berikutnya. Jika tekanan bullish berlanjut, XAU/USD diperkirakan berpotensi naik hingga ke area $4.381 pada minggu depan, sebuah target yang mencerminkan kelanjutan tren kenaikan dalam struktur harga. Tetapi, skenario alternatif perlu diwaspadai: jika harga emas mengalami reversal dan menembus key point $3.867, maka ada potensi penurunan lebih dalam menuju $3.718. Level ini menjadi batas bawah penting yang dapat memicu perubahan sentimen dari bullish menjadi netral atau bahkan bearish dalam jangka pendek. Faktor utama pendorong reli adalah ekspektasi pasar mengenai pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember. Menariknya, ekspektasi ini disebut sudah sangat diperhitungkan dan diantisipasi pasar, sehingga respon emas terhadap keputusan tersebut bergantung pada nada kebijakan Fed selanjutnya. Apabila Fed mempertahankan sikap hati-hati misalnya dengan mengisyaratkan cut and pause, emas justru bisa mengalami koreksi jangka pendek. Hal ini terjadi karena pasar yang sudah sangat agresif dalam memproyeksikan pemangkasan suku bunga dapat mengevaluasi ulang posisi mereka apabila Fed memberikan sinyal bahwa jalur pelonggaran tidak akan berlangsung secepat harapan. Jika Fed membuka peluang pelonggaran lanjutan di awal 2025, momentum bullish emas berpotensi berlanjut lebih kuat. Sentimen pendukung lainnya datang dari pelemahan Dolar AS dan stabilnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Ketika Dolar melemah, biaya peluang memegang emas menurun, sehingga logam mulia ini menjadi lebih menarik bagi investor. Selain itu, ketidakpastian global terkait inflasi, potensi perlambatan ekonomi, dan risiko geopolitik turut meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Andy menegaskan skenario sebaliknya tetap mungkin terjadi. Jika ekonomi AS menunjukkan kekuatan lebih besar dari ekspektasi dan inflasi kembali menanjak, maka imbal hasil obligasi dan Dolar AS dapat kembali menguat, tekanan bagi emas berpotensi meningkat dan memicu koreksi yang lebih dalam.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed Dongkrak Harga Emas Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 05 Oktober 2025 | 20:01 WIB

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed Dongkrak Harga Emas

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAUUSD) terus mencuri perhatian pelaku pasar global seiring meningkatnya ketidakpastian politik dan fiskal di Amerika Serikat. Ancaman shutdown pemerintah AS yang kian dekat memicu kekhawatiran investor terhadap keterlambatan rilis data ekonomi penting. Situasi ini memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai utama. Meski demikian, bila risiko shutdown bisa dihindari atau diselesaikan lebih cepat, sebagian premi risiko berpotensi menghilang, sehingga bisa memunculkan tekanan jual jangka pendek pada logam mulia ini. Menurut Andy Nugraha, analis Dupoin Futures Indonesia, lewat keterangan resmi, Sabtu kemarin, kekuatan teknikal emas masih berada di jalur positif. “Selama tekanan beli terus terjaga, peluang emas untuk menembus level psikologis $4.000 per troy ons terbuka lebar pada minggu depan,” paparnya. Tetapi, Andy mengingatkan adanya potensi koreksi. “Jika terjadi reversal dan harga turun menembus $3682, maka ruang pelemahan bisa meluas hingga $3600,” jelasnya. Faktor fundamental turut mendukung reli emas. Pasar kini semakin yakin Federal Reserve (The Fed) akan beralih ke sikap dovish. Data tenaga kerja dari ADP mencatat penurunan 32.000 pekerja pada September, menjadi sinyal perlambatan ekonomi. Kondisi ini membuat investor memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan mendatang. Langkah itu menekan imbal hasil obligasi AS dan memperlemah dolar, sehingga meningkatkan daya tarik emas yang tidak menawarkan imbal hasil tetap. Reuters melaporkan pelemahan indeks dolar menjadi salah satu motor penggerak reli emas belakangan ini. Para pelaku pasar melihat kombinasi kebijakan moneter yang lebih longgar dan ketidakpastian fiskal AS membuka ruang besar bagi emas untuk melanjutkan penguatan. Tetapi, risiko tetap ada. Jika data inflasi atau ketenagakerjaan berikutnya keluar lebih kuat dari perkiraan, imbal hasil obligasi berpotensi kembali naik dan menekan harga emas. Selain faktor AS, ketidakpastian geopolitik global turut menopang tren emas. Konflik internasional yang belum mereda membuat investor institusional maupun ritel semakin aktif menjadikan emas sebagai instrumen hedge untuk melindungi portofolio mereka. Secara teknikal, pergerakan emas saat ini cenderung konsolidatif di area menengah. Level $3682 dipandang sebagai titik penentu arah. Bertahan di atas area tersebut menjaga bias bullish dengan target menuju $4.000. Sebaliknya, bila level itu ditembus ke bawah, emas rawan terkoreksi lebih dalam hingga $3600. Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental mulai dari ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, pelemahan dolar, hingga ketidakpastian fiskal dan geopolitik prospek emas dalam jangka pendek masih condong positif.

Kebijakan The Fed Sukses Lawan Inflasi, Pemangkasan Suku Bunga Jadi Opsi Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 21 Desember 2024 | 09:09 WIB

Kebijakan The Fed Sukses Lawan Inflasi, Pemangkasan Suku Bunga Jadi Opsi

Jakarta, katakabar.com - Komite Pasar Terbuka Federal, atau FOMC, telah gelar rapat di awal November 2024 lalu. Di rapat tersebut diputuskan pemangkasan suku bunga acuan di AS sebesar 25 bps, menjadi 4,75 persen. Kebijakan ini sesuai dengan harapan pelaku pasar yang ingin suku bunga berada di level yang lebih bersahabat sejak kebijakan suku bunga tinggi ini bertahan selama lebih dari 1 tahun. Maka di konferensi pers setelah pertemuan FOMC ini, Jerome Powell menegaskan, jika proses penurunan suku bunga langkah awal yang tepat dan perlu diambil guna mengkalibrasi ulang kebijakan moneter mengingat kondisi ekonomi yang terus berkembang. Artinya komponen makro ekonomi saat ini menunjukan tanda-tanda perbaikan dibandingkan 2 tahun yang lalu ketika kebijakan suku bunga tinggi diambil. The Fed menilai inflasi sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan dan menuju ke angka target inflasi The Fed yakni 2 persen. The Fed menggarisbawahi risiko bakal timbul jika suku bunga ditahan lebih lama. The Fed terlihat ingin menyeimbangkan stabilitas harga, penyerapan dan pertumbuhan gaji tenaga kerja dengan kebijakan moneter AS.