PGN dan Tiga Perusahaan Jepang Kerja Sama Lanjutkan Produksi Biomethane Limbah Sawit
Jakarta, katakabar.com - Proyek komersialisasi biomethane yang berasal dari limbah kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) bakal dilanjutkan pengembangannya. Progresnya sudah memasuki fase baru, dengan dimulai kajian mendalam mengenai proyek tersebut. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina, bekerja sama dengan JGC Holdings Corporation (JGC), Osaka Gas Co Ltd, dan INPEX Corp, ketiganya perusahaan Jepang, yang melanjutkan pengembangan proyek. Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Harry Budi Sidharta menuturkan, fase ini melibatkan penilaian teknis rantai pasok, produksi dan pasokan biomethane, dengan asumsi produksi biomethane bakal dimulai di perkebunan kelapa sawit di Sumatera Bagian Selatan pada 2025 mendatang. "Biomethane yang diproduksi dari proyek ini diharapkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gas industri dan permintaan pelanggan di Indonesia. Tapi, ini sebagai bukti komitmen Pertamina Group dan partner dalam hal ini JGC, INPEX, dan Osaka Gas, terus mendorong pengembangan renewable energy,” ulas Harry melalui keterangan tertulis, dilansir dark laman elaeis.co, pada Rabu (27/9). Proyek ini kata Harry, nanti menggunakan jaringan pipa gas bumi PGN untuk mendistribusikan biomethane dari Sumatera Selatan. Progresnya, beberapa perkebunan kelapa sawit sudah tandatangani Nota Kesepahaman untuk pengadaan bahan baku POME. “PGN menyediakan fasilitas pipeline injection dan pipa gas bumi yang telah memiliki akses yang baik dengan POME sebagai bahan bakunya," jelasnya. Menurutnya, produksi minyak kelapa sawit (CPO) menyisakan limbah POME yang kaya bahan organik menghasilkan emisi metana dalam jumlah besar. Ditaksir, emisi metana memiliki efek rumah kaca 25 kali lebih besar dibandingkan CO2. "Proyek ini nanti menangkap gas methane yang dilepaskan ke atmosfer dari POME. Lalu, dimurnikan menjadi gas biomethane dan disalurkan melalui jaringan pipa gas bumi serta infrastruktur eksisting lainnya ke pelanggan di Indonesia," bebernya. Jadi, proyek biomethane ini lanjut Harry, bisa memberikan manfaat berupa pengurangan emisi gas methane, mengurangi emisi karbon, dan memenuhi kebutuhan gas bumi di Indonesia Skala operasi proyek ini ke depan, kiranya dapat meluas ke seluruh Sumatera dan Kalimantan. Apalagi pihak-pihak proyek ini mempertimbangkan untuk penyediaan bio-LNG liquified dari biomethane sebagai bahan bakar bunker, ekspor bio-LNG ke Jepang maupun negara lainnya, dan potensi bisnis lainnya. "Proyek ini telah diperkenalkan di Asia Zero Emission Community (AZEC) Ministreal Meeting pada Maret 2023 lalu, sebagai inisiatif berkontribusi terhadap netral karbon di Asia," sebutnya. Proyek ini tambahnya, memiliki andil besar untuk mengatasi tantangan lingkungan seiring dengan pengembangan New and Renewable Energy (NRE) dengan menggunakan POME sebagai sumber energi yang ramah lingkungan.