Pilpres 2024

Sorotan terbaru dari Tag # Pilpres 2024

Debat Cawapres 2024, Gibran Raka B: RI Mesti Beralih ke Energi Hijau Nusantara
Nusantara
Senin, 22 Januari 2024 | 21:38 WIB

Debat Cawapres 2024, Gibran Raka B: RI Mesti Beralih ke Energi Hijau

Jakarta, katakabar.com - Kelapa sawit menjadi salah satu komoditas unggulan yang disinggung saat debat Calon Wakil Presiden (Cawapres).pada Ahad (21/1) malam. Calon Wakil Presiden yang terlihat paling konsisten berbicara soal buah berduri ini, yakni Cawapres nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka. Meski tak menyebutkan langsung komoditas itu, tapi putra Presiden RI, Joko Widodo ini menggaungkan produk dari komoditas, yakni produk bahan bakar dengan campuran minyak sawit. Misalnya, B35 atau Biodiesel yang 35 persennya bahan baku minyak sawit. Ini tengah dikembangkan menuju B40, yakni penambahan campuran minyak sawit sebesar 40 persen. Walikota Solo ini menuturkan, Indonesia sudah harus beralih ke energi hijau yang saat ini terus dikembangkan Indonesia dari kelapa sawit ini. "Untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil kita dorong transisi menuju energi hijau, seperti bio avtur biodiesel dan juga bioetanol yang sudah dilakukan meliputi B35 dan B40," jelasnya. Selain energi hijau dari kelapa sawit, berbagai produk Energi Baru Terbarukan (EBT), menurut Gibran harus terus dikembangkan lantaran Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. "Potensi energi baru terbarukan kita luar biasa sekali, mencakup 3.686 Giga Watt, yang meliputi energi surya angin air bioenergi dan panas bumi. Untuk itu, kerja sama penta helix wajib untuk didorong," imbuhnya.

Indonesia Berdebat Opini
Opini
Minggu, 21 Januari 2024 | 15:31 WIB

Indonesia Berdebat

Oleh: Agung Marsudi Duri Institute katakabar.com - Banyak bicara, banyak gaya, banyak drama. Di layar, mereka memang para aktor berkarakter. Tapi, yakinlah begitu turun dari panggung debat, ketiganya adalah manusia biasa. Para calon presiden juga manusia, yang masing-masing punya kekuatan, dan kelemahan. Mereka bukan manusia hero, yang bimsalabim bisa mengubah wajah Indonesia menjadi glowing, dalam semalam. Anies, Prabowo, Ganjar adalah putra terbaik bangsa ini, saat ini. Mereka ingin merebut hati rakyat dengan caranya. Dan itu tidak bisa dilihat hanya ketika berdebat. Kerja-kerja politik itu kolektif. Kerja bersama, gotong royong, seia-sekata. Indonesia Glowing, Indonesia Growing tak bisa diselesaikan dengan, Indonesia Berdebat. Ia tontonan, pertunjukkan sesaat, yang boleh jadi memancing emosi. Menguras energi. Pilihan ada di tangan rakyat. Yang di hati, dialah presiden sejati. Ada yang kalah, ada yang menang, biasa pertandingan. Itulah kredo demokrasi. Yang penting adalah endingnya. Pilpres 2024 adalah gelombang terakhir, yang selanjutnya akan mengantarkan rakyat melaut ke samudera luas, menuju Indonesia emas. Nenek moyang kita, pelaut. Bukan penakut. Indonesia adalah bangsa besar. Indonesia adalah Indonesia. Bukan Amerika, bukan Cina. Anies, Prabowo, Ganjar tak mungkin memakai baju kebesaran, tanpa rakyat. Apalagi dimenangkan dengan cara-cara mencederai dan melukai hati. Indonesia tidak sedang memilih siapa yang lihai berdebat. Sebab sejatinya berdebat, bukanlah jati diri kita. Sebagai bangsa kita telah memiliki warisan luhur yaitu musyawarah, bukan bersilat lidah.

Para Kandidat Capres Jangan Beretorika Prioritaskan Energi Berbasis Lokal Nusantara
Nusantara
Kamis, 30 November 2023 | 12:08 WIB

Para Kandidat Capres Jangan Beretorika Prioritaskan Energi Berbasis Lokal

Jakarta, katakabar.com - Indonesia diminta sudah saatnya fokus penyediaan energi bersih dari sumber yang memang bersih. Ketergantungan kepada kelapa sawit sebagai bahan baku Bahan Bakar Nabati (BBN) mesti dikurangi guna mewujudkan kemandirian energi skala lokal dan berkelanjutan. D di acara 'Diseminasi Kajian Membangun Skenario Industri BBN Generasi Kedua yang Berkelanjutan, Studi Kasus Kabupaten Kapuas Hulu' yang diselenggarakan di Jakarta Senin (27/11), Deputi Direktur Yayasan Manusia dan Alam untuk Indonesia (Madani) Berkelanjutan, Giorgio Budi Indrarto mengatakan, sejauh ini energi terbarukan di sektor transportasi masih didominasi sekitar 46 persen biofuel. "Utamanya biodiesel berbahan dasar sawit. Padahal, berbagai fakta menunjukkan telah terjadi degradasi yang disebabkan ekspansi sawit," ujarnya di acara 'Diseminasi Kajian Membangun Skenario Industri BBN Generasi Kedua yang Berkelanjutan, Studi Kasus Kabupaten Kapuas Hulu' digelar di Jakarta, pada Senin (27/11) lalu, lewat siaran pers dilansir dari laman elaeis.co, kemarin. Selain itu, kata Girogio, pilihan pemenuhan energi bersih selama ini masih bersifat terpusat (on grid). Sedang, secara geografis Indonesia memiliki banyak wilayah terpencil. Untuk itu, memaksimalkan potensi lokal untuk bahan baku BBN selain sawit dalam pemenuhan energi daerah, menjadi skenario yang harus diprioritaskan. Acara diseminasi digelar Yayasan Madani Berkelanjutan sekaligus memanfaatkan momentum perhelatan akbar Pilpres 2024, dengan harapan para kandidat menunjukkan komitmen dan agenda perlindungan lingkungan. Paling utama dengan melihat kembali peluang kemandirian energi daerah-daerah di Indonesia dengan memanfaatkan potensi komoditas lokal yang ada. “Ketiga pasangan calon presiden dan wakil presiden sudah sampaikan janji-janji berkaitan dengan transisi energi. Tapi, mereka masih belum tegas mendorong transisi energi yang dimulai dari kekayaan komoditas lokal. Komitmen soal energi terbarukan para capres wajib untuk dibersihkan dari retorika,” sebut Giorgio. Dari hasil kajian yang telah dilakukan, Yayasan Madani Berkelanjutan menemukan alternatif pengembangan BBN, khususnya melalui bahan baku generasi kedua. Kajian ini menemukan tiga faktor utama yang mendukung pengembangan BBN generasi kedua, yakni penentu output (16,28 persen), pasar yang ditarget (12,70 persen), dan subsidi atau insentif (11,12 persen). Penentu output adalah tentang ketersedian bahan baku dan teknologi. BBN generasi kedua ini merujuk pada bahan baku non pangan atau limbah, seperti Nyamplung, Jarak, minyak jelantah, air cucian ikan, dan lainnya. Untuk pasar yang ditargetkan, yakni terkait dengan potensi calon pembeli dan strategi penjualan. Sementara, untuk subsidi atau insentif terkait dengan dukungan kebijakan pemerintah berupa pemberian insentif atau subsidi kepada pelaku usaha yang menghasilkan BBN generasi kedua. Kajian itu dilakukan di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Daerah ini memiliki potensi yang besar untuk pengembangan BBN generasi kedua dan keberadaan hutannya masih baik. Pemilihan ini dilakukan berdasarkan premis bahwa semakin kaya dengan keanekaragaman hayati dan kawasan hutan, semakin besar potensi ketersediaan bahan baku. Terus, daerah ini menjadi laboratorium untuk membangun argumen bahwa pengembangan BBN generasi kedua yang berkelanjutan bisa dilakukan di daerah yang kaya keanekaragaman hayati dan memiliki tutupan hutan yang luas sekaligus memberikan kesejahteraan dan keadilan yang lebih berpihak pada masyarakat. Giorgio menekankan, dengan fokus mengembangkan potensi bahan baku BBN generasi kedua yang ada di daerah seperti halnya di Kapuas Hulu, maka transisi energi akan jauh lebih berkeadilan. “Jika pemanfaatan potensi lokal berhasil direalisasikan, maka kemandirian atau kedaulatan energi yang banyak disebut-sebut para politisi dalam janji kampanyenya akan terwujud. Itu tidak lagi berhenti menjadi sekedar janji belaka,” tegasnya. Direktur New Ecology Energy Indonesia, Muhammad Hafnan menjelaskan, Indonesia tidak perlu takut untuk mengembangkan BBN dari bahan baku generasi kedua karena banyaknya potensi komoditas yang ada. Perlu dibangun pusat informasi atau hub bagi para pelaku BBN di daerah, ulas Hafnan, gunanya sebagai tempat berbagi informasi bagi para pelaku BBN di daerah, misalnya saja seperti membangun BBN Center untuk pengembangan BBN, tuturnya. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menimpali, peran BBN dalam transisi energi Indonesia cukup signifikan. Lantaran itu, memprioritaskan dan memastikan keberlanjutannya merupakan langkah yang terbaik dari pada berjanji untuk menghentikan impor BBM yang sukar terwujud. Saat ini kebutuhan BBM mencapai 1,5 juta barrel per hari dan diperkirakan akan mencapai 1,8 juta barrel per hari di 2030. Sedang, kapasitas produksi BBM di dalam negeri setelah seluruh pengembangan kilang Pertamina selesai hanya mencapai 1,2 juta barrel per hari, artinya ada defisit BBM dalam negeri 0,4 sd 0,6 juta barrel per hari. “Itu sebabnya, mendorong pemanfaatan BBN yang berkelanjutan dalam transisi energi ini adalah langkah yang lebih realistis ketimbang kandidat berjanji menghentikan impor BBM yang bagi saya tidak realistis. Lantaran sulit dihentikan tanpa mengatur permintaan dan peningkatan pasokan bahan bakar non-konvensional, termasuk dari BBN,” tandasnya.