PTPN Group Terus Perkuat Branding Produk Hilir Nasional
Nasional
Kamis, 10 September 2026 | 09:06 WIB

PTPN Group Terus Perkuat Branding Produk Hilir

Jakarta, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), subholding PTPN III (Persero) terus perkuat strategi branding dan pemasaran produk hilir sebagai bagian dari akselerasi hilirisasi serta peningkatan nilai tambah komoditas perkebunan. Regulasi yang membuka peluang bagi badan usaha milik negara (BUMN) untuk memperluas bisnis hingga menyasar konsumen akhir dan pasar ritel menjadi momentum strategis bagi PTPN I untuk mendekatkan produk-produknya kepada masyarakat. Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras, mengatakan perusahaan memiliki sejarah panjang sebagai produsen berbagai produk konsumen berkualitas yang reputasinya telah dikenal hingga pasar Eropa dan Amerika. “Kita memiliki sejarah panjang sebagai produsen consumer goods dengan reputasi yang sudah dikenal hingga Eropa sejak zaman Belanda. Teh Walini, Kopi Banaran, Cerutu Golden Djawa, Cerutu Deli Nusantara, dan berbagai produk perkebunan lainnya merupakan merek-merek yang memiliki nama besar. Namun, ketika BUMN tidak lagi menyentuh pasar hingga sektor riil, pamor merek-merek tersebut perlahan tertinggal dari merek swasta yang bergerak lebih agresif. Sekarang saatnya kita kembali memperkuat posisi itu sejalan dengan program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah,” ujar Abdul Rivai Ras di Jakarta, di suatu perbincangan di pekan pertama September 2026. Abdul Rivai Ras mengakui, membangkitkan kembali kejayaan merek-merek PTPN I di tengah persaingan pasar yang semakin ketat bukan pekerjaan mudah. Namun, tren pasar saat ini memberikan peluang besar karena konsumen semakin mengutamakan kualitas, keamanan pangan, reputasi produk, serta keberlanjutan lingkungan. “Kesadaran masyarakat terus meningkat seiring membaiknya tingkat kesejahteraan. Konsumen kini tidak hanya membeli produk, tetapi juga memilih kualitas, keamanan pangan, reputasi premium, dan proses produksi yang ramah lingkungan. Karena itu, kami akan terus memperkuat branding seluruh produk ritel PTPN I, mulai dari Teh Walini, Kopi Banaran, Kopi Rollaas, Cerutu Golden Djawa, Cerutu Deli Nusantara, hingga produk-produk unggulan lainnya,” ucapnya. Menurut Abdul Rivai Ras, program hilirisasi yang menjadi salah satu agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto merupakan peluang strategis bagi PTPN I untuk meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan. Hilirisasi, menurutnya, tidak cukup berhenti pada proses produksi, tetapi harus mampu membangun merek, memperluas akses pasar, dan menciptakan pengalaman yang mendorong konsumen terus memilih produk PTPN I. “Hilirisasi tidak berhenti ketika produk selesai diproduksi. Hilirisasi baru berhasil ketika produk sampai ke tangan konsumen, digunakan, dibeli kembali, dan menjadi pilihan utama masyarakat. Di situlah nilai tambah benar-benar tercipta,” jelasnya. Dekatkan Produk kepada Konsumen PTPN I memiliki modal kuat untuk mengakselerasi strategi tersebut. Selain didukung portofolio merek yang telah dikenal luas, perusahaan memiliki belasan ribu karyawan yang tersebar di berbagai wilayah operasional. “Kita tidak boleh hanya bangga memiliki Teh Walini, Kopi Rollaas, Kopi Banaran, Cerutu Golden Djawa, maupun Cerutu Deli Nusantara. Produk-produk itu harus semakin dekat dengan masyarakat. Transformasi dimulai dari diri kita sendiri. Belasan ribu insan PTPN I harus menjadi pelanggan pertama, duta pertama, sekaligus pemasar pertama bagi produk kebanggaan perusahaan,” ujarnya. Sebagai bagian dari penguatan ekosistem pemasaran, PTPN I akan memperluas penggunaan produk-produknya di seluruh lingkungan perusahaan, mulai dari kantor, ruang rapat, mess karyawan, guest house, hingga destinasi wisata yang dikelola perusahaan. “Kalau kita sendiri belum bangga menyajikan produk PTPN I kepada tamu, bagaimana masyarakat akan mengenal kualitasnya? Setiap fasilitas perusahaan harus menjadi etalase yang memperkenalkan kekuatan merek-merek PTPN I,” ulasnya. Selain memperluas penggunaan produk di lingkungan internal, PTPN I akan mengembangkan gerai dan café berbasis produk hilir pada sejumlah aset strategis perusahaan. Konsep tersebut dirancang sebagai ruang yang mengintegrasikan promosi, pengalaman pelanggan, dan aktivitas perdagangan dalam satu ekosistem bisnis. Melalui gerai tersebut, pengunjung dapat menikmati cerutu premium Indonesia yang dipadukan dengan kopi dan teh produksi PTPN I, sekaligus memperoleh berbagai produk unggulan perusahaan. “Kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar café. Kami ingin membangun sebuah destinasi yang menjadi rumah bagi merek-merek PTPN I, tempat masyarakat dapat menikmati kualitas produk sekaligus melakukan transaksi. Di situlah promosi, pengalaman pelanggan, dan bisnis bertemu dalam satu ekosistem,” kata Abdul Rivai Ras. Jadikan Aset sebagai Mesin Pertumbuhan Pengembangan gerai akan memanfaatkan aset-aset strategis perusahaan yang berada di Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, dan Makassar. Optimalisasi aset tersebut akan menjadi bagian dari strategi pertumbuhan perusahaan sekaligus memperkuat jangkauan pasar produk-produk PTPN I. “Setiap aset PTPN I harus menjadi mesin pertumbuhan. Aset tidak boleh hanya menjadi bangunan yang dimiliki perusahaan, tetapi harus menjadi pusat aktivitas ekonomi yang memperkuat merek, menggerakkan hilirisasi, dan menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan,” tegasnya. Abdul Rivai Ras optimistis sinergi antara penguatan merek, optimalisasi aset, dan keterlibatan seluruh insan perusahaan akan mempercepat transformasi bisnis PTPN I. Melalui strategi tersebut, Holding Perkebunan Nusantara mendorong produk-produk unggulan PTPN I semakin dekat dengan masyarakat, memperluas pangsa pasar, dan meningkatkan daya saing perusahaan di pasar nasional maupun internasional.

Fasilitas EPF Libo GS Dioperasikan: PHR Perkuat Keandalan Operasi dan Produksi Migas Riau
Riau
Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:00 WIB

Fasilitas EPF Libo GS Dioperasikan: PHR Perkuat Keandalan Operasi dan Produksi Migas

Kandis, katakabar.com - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan resmi mengoperasikan fasilitas penunjang produksi baru berupa Early Production Facility (EPF) di Libo Gathering Station (GS). Langkah strategis ini diresmikan melalui momentum apresiasi usung tema "New Chapter, Greater Production, Brighter Future Libo Operation" yang digelar di area Libo GS, Kabupaten Siak, Senin (24/8) lalu. Peresmian fasilitas ini menjadi solusi konkret perusahaan memaksimalkan produksi minyak serta peningkatan kapasitas penampungan dan pengolahan (facility constraint). Beroperasinya EPF Libo GS ini sekaligus memperkuat keandalan operasional dalam mengalirkan hasil produksi migas dari lapangan Libo secara lebih optimal. General Manager (GM) Zona Rokan, Andre Wijanarko, menegaskan pencapaian ini merupakan wujud nyata komitmen seluruh insan Pertamina dalam menjaga stabilitas produksi energi nasional. "Keberhasilan pengoperasian fasilitas EPF di Libo GS ini adalah bukti nyata sinergi dan kontribusi kita bersama. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kapasitas dan keandalan operasional di Libo, tetapi juga menjadi bagian penting dari komitmen bersama untuk mendukung ketahanan energi nasional,” ucapnya. Selain peresmian EPF, kata Wijanarko, momentum ini menjadi ajang penghargaan atas keberhasilan penyelesaian serangkaian proyek strategis lainnya di area Libo, seperti penggantian cerobong pembakaran gas serta pengerjaan Integrated Fire Alarm System (IFAS) serta Public Address & General Alarm (PAGA) Libo. "Seluruh proyek tersebut berhasil diselesaikan dengan aman, selamat, serta tepat sasaran sesuai indikator kinerja utama (KPI) fungsi Project & Technical Engineering," jelasnya. Menurutnya, pencapaian ini buah dari kolaborasi erat lintas fungsi di lingkungan PHR, seperti fungsi PTE, Operations, Maintenance, hingga Operations Support & Facilities (OSF), serta dukungan dari para mitra kerja seperti PT PSI dan PT WKS. Keberhasilan berbagai proyek di Libo ini menjadi pondasi kokoh untuk membuka babak baru bagi operasional Libo Operation menuju sistem kerja yang semakin andal, aman, efektif, dan produktif demi mendukung pencapaian produksi migas WK Rokan yang lebih gemilang di masa depan. “Saya mengajak seluruh Perwira dan mitra kerja untuk tidak berhenti di sini, mari terus berkolaborasi, menjaga keselamatan kerja, dan memberikan kontribusi terbaik bagi negeri," tuturnya. Pengoperasian EPF Libo GS ini melengkapi rekam jejak keberhasilan teknis dan pencapaian efisiensi tinggi PHR di Lapangan Libo. Sebelumnya, PHR sukses menuntaskan proyek Libo Substation Upgrade dengan meningkatkan kapasitas Gardu Induk Libo dari 10,5 MVA menjadi 24,5 MVA dua bulan lebih cepat dari target Work Program & Budget (WP&B). Penguatan infrastruktur kelistrikan ini menjadi tulang punggung vital untuk menyokong keandalan pasokan listrik fasilitas produksi seperti Electrical Submersible Pump (ESP) dan Water Injection Pump (WIP), yang terbukti berhasil mendorong performa uji produksi sumur Libo SE #86 hingga mencatatkan angka spektakuler mencapai 1.274 BOPD tanpa kandungan air (0% Water Cut). Keberhasilan berkelanjutan di Lapangan Libo ini tak lepas dari penerapan teknologi hulu migas mutakhir dan kepatuhan tinggi terhadap aspek Health, Safety, and Environment (HSE). Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi Zona Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). Zona Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.

Odoo ERP Bantu Manufaktur Kontrol Produksi hingga Laporan Keuangan Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 13 Agustus 2026 | 09:03 WIB

Odoo ERP Bantu Manufaktur Kontrol Produksi hingga Laporan Keuangan

Jakarta, katakabar.com - Odoo ERP bantu manufaktur integrasikan produksi, persediaan, dan keuangan satu sistem. Dengan Partner Odoo yang memahami proses pabrik, perusahaan dapat meningkatkan kontrol operasional dan akurasi data. Pesanan terus bertambah, tetapi jadwal produksi justru semakin sering meleset. Banyak pabrik di Indonesia mengalami hal serupa ketika volume order naik. Data produksi ada di papan tulis, stok di Excel, biaya di catatan keuangan. Di titik inilah topik Odoo ERP Membantu Manufaktur mulai sering dibicarakan pemilik pabrik. Dampaknya jarang terasa langsung, tetapi menumpuk pelan-pelan. Bagian gudang kehabisan bahan baku saat lini produksi sudah berjalan. Tim keuangan baru tahu biaya sebenarnya setelah tutup buku bulanan. Keputusan harga jual pun diambil memakai angka yang sudah basi. Solusinya bukan menambah orang, melainkan menyatukan alur datanya. Sistem ERP manufaktur menghubungkan perencanaan, persediaan, dan pembukuan dalam satu basis data. Lantatan itu, pemilihan Partner Odoo yang paham proses pabrik sangat menentukan hasil implementasi. Teknologi bagus tetap gagal bila dipasang tanpa memahami realita lantai produksi. Akar Masalah Pabrik: Data Produksi dan Keuangan Terpisah Momentum industrinya sebenarnya sedang membaik. Data S&P Global yang dikutip Kementerian Perindustrian mencatat PMI Manufaktur Indonesia 50,2 pada Juli 2026. Angka tersebut menandakan aktivitas produksi kembali masuk zona ekspansi. Sayangnya, kenaikan pesanan sering tidak diimbangi kesiapan sistem internal. Gejala yang Sering Dianggap Wajar Beberapa kondisi berikut biasanya muncul sebelum masalah membesar: ● Stok bahan baku tercatat ada, tetapi fisik di gudang kosong. ● Nilai per unit produk baru diketahui saat tutup buku bulanan. ● Perubahan formula produk tidak tersampaikan ke bagian pembelian. ● Laporan hasil produksi harian masih direkap manual setiap sore. Gejala semacam ini jarang dianggap darurat. Padahal, selisih kecil pada catatan stok bisa merusak akurasi harga pokok produksi. Cara Odoo ERP Membantu Manufaktur Mengendalikan Lantai Produksi Kendali produksi dimulai dari struktur data, bukan dari laporan. Setiap produk perlu memiliki bill of material dan alur kerja yang jelas. Dari sana, sistem menghitung kebutuhan bahan serta kapasitas mesin secara otomatis. Klaim bahwa Odoo ERP Membantu Manufaktur menekan biaya sebaiknya diuji dengan data sendiri. Dari Perintah Produksi sampai Stasiun Kerja Manufacturing order berfungsi sebagai dokumen induk setiap perintah produksi. Di bawahnya, work order memecah pekerjaan per stasiun kerja atau mesin. Operator cukup mencatat waktu mulai, waktu selesai, dan jumlah produk gagal. Catatan itu langsung memotong stok bahan dan menambah stok barang jadi. Perencanaan Bahan Baku yang Terukur Reordering rule cocok untuk bahan yang pemakaiannya stabil tiap bulan. Sementara itu, penjadwal kebutuhan material lebih tepat bagi produksi berbasis pesanan. Kuncinya ada pada lead time pemasok yang diisi jujur, bukan asal. Banyak perencanaan produksi meleset karena angka lead time tidak pernah diperbarui. Jalur Data dari Lantai Produksi Menuju Laporan Keuangan Bagian ini paling sering luput dari perhatian. Setiap penyelesaian produksi seharusnya menghasilkan jurnal, bukan sekadar catatan operasional. Nilai persediaan barang jadi bertambah, sedangkan bahan baku dan biaya konversi berkurang. Alur inilah yang membuat Odoo ERP Membantu Manufaktur terhubung sampai laporan keuangan. Biaya Produksi yang Terbentuk Otomatis Perusahaan bisa memakai metode biaya standar atau rata-rata bergerak. Keduanya sah, tetapi konsekuensinya berbeda saat harga bahan baku bergejolak. Dengan metode standar, selisih biaya muncul sebagai varians yang bisa ditelusuri. Varians itulah yang sering menjelaskan mengapa margin menyusut tanpa sebab jelas. Tahapan Agar Odoo ERP Membantu Manufaktur Sejak Bulan Pertama Implementasi yang rapi biasanya mengikuti empat tahap berikut: 1. Audit dan pemetaan alur kerja nyata di lantai produksi. 2. Penyusunan blueprint serta penyesuaian modul manufacturing sesuai prosedur perusahaan. 3. Pelatihan dan uji coba bersama operator hingga tim keuangan. 4. Go-live dengan pendampingan teknis pada siklus produksi awal. Urutannya sebaiknya tidak dibalik. Sistem yang dipasang sebelum alur kerja dipetakan cenderung ditinggalkan tim lapangan. Bagian Paling Sering Diremehkan Master data menentukan hampir seluruh kualitas laporan. Sebelum go-live, tiga hal berikut sebaiknya dibereskan lebih dulu: ● Satuan ukur bahan baku beserta konversinya, misalnya kilogram ke lembar. ● Struktur komponen bertingkat untuk produk setengah jadi. ● Tingkat produk gagal yang wajar pada setiap tahap proses. Konsultan Odoo berpengalaman biasanya menahan jadwal go-live bila data belum siap. Langkah tersebut terasa lambat, tetapi menyelamatkan akurasi laporan setahun ke depan. Menutup Jarak antara Lantai Produksi dan Meja Direksi Intinya sederhana: kontrol produksi dan laporan keuangan tidak boleh berjalan terpisah. Satu basis data membuat keputusan harga, pembelian, dan kapasitas berpijak pada angka sama. Di sinilah Odoo ERP Membantu Manufaktur menjaga konsistensi angka antardivisi. Prosesnya bertahap dan menuntut disiplin pencatatan sejak hari pertama. i2C Studio sebagai partner Odoo resmi mendampingi proses tersebut sejak audit hingga pascaimplementasi. Pendekatannya menekankan pemahaman proses bisnis, bukan sekadar pemasangan modul. Diskusi awal bersama konsultan Odoo dapat membantu memetakan kesiapan pabrik Anda. Pertanyaan Sering Muncul dari Pelaku Industri 1. Berapa lama implementasi Odoo di pabrik skala menengah? Umumnya tiga sampai enam bulan, bergantung kerumitan proses dan kesiapan master data. 2. Apakah modul produksi bisa berjalan tanpa modul akuntansi? Bisa, tetapi laporan biaya tidak terbentuk otomatis dan tetap membutuhkan rekap manual. 3. Apakah sistem lama harus langsung dimatikan saat go-live? Tidak selalu, sebab banyak pabrik menjalankan periode paralel selama satu siklus produksi.

Perdana di Indonesia: FisTx Produksi dan Terapkan Teknologi Nano Atasi EHP, AHPND, WSSV hingga WFD Udang Tekno
Tekno
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 15:33 WIB

Perdana di Indonesia: FisTx Produksi dan Terapkan Teknologi Nano Atasi EHP, AHPND, WSSV hingga WFD Udang

Yogyakarta, katakabar.com - FisTx (PT Aditya Inovasi Makmur), perusahaan teknologi akuakultur asal Sleman, Yogyakarta, mengukuhkan diri sebagai perusahaan akuakultur pertama di Indonesia yang berhasil memproduksi, sekaligus menerapkan teknologi nano sebagai alat disinfeksi air dan aditif pakan untuk mengatasi momok utama industri udang nasional: EHP (Enterocytozoon hepatopenaei), AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease), WSSV (White Spot Syndrome Virus) hingga WFD (White Feces Disease). Lewat dua produk andalan, Nano Silver dan Nano Disinfektan (nano copper), FisTx menghadirkan pendekatan biosekuriti berlapis: Nano Silver dicampur langsung ke pakan untuk melindungi udang dari dalam, sementara Nano Disinfektan ditebar ke air kolam untuk sterilisasi menyeluruh. Kedua produk memanfaatkan partikel aktif berukuran 4–7 nanometer — validasi Transmission Electron Microscope (TEM) di Laboratorium Kimia FMIPA UGM mengonfirmasi ukuran partikel ini konsisten dan terdistribusi merata tanpa agregasi. "Selama ini petambak udang Indonesia bergantung pada disinfektan kimia konvensional atau antibiotik yang punya dua masalah besar: memicu resistensi bakteri dan meninggalkan residu berbahaya. Teknologi nano bekerja berbeda — partikelnya menembus langsung dinding sel patogen, menonaktifkan enzim dan produksi energinya, hingga merusak DNA-nya. Karena jalur serangannya multi-titik, Vibrio, virus WSSV, maupun spora EHP tidak sempat membangun resistensi," kata Rico Wisnu Wibisono, Founder & CEO FisTx. Terbukti di Lapangan Efektivitas Nano Disinfektan FisTx sudah divalidasi di sejumlah tambak komersial. Di tambak udang Pasuruan, aplikasi rutin berhasil menjaga total Vibrio tetap di bawah ambang aman selama siklus budidaya berlangsung. Pada uji feed additive bersama mitra PT MEN, satu kolam mencatat penurunan Vibrio Green patogenik dari 38.700 CFU/ml menjadi nol hanya dalam sepuluh hari evaluasi. Dari sisi keamanan, uji LD-50 internal menunjukkan margin keamanan hingga 710 kali antara dosis operasional dan ambang toksik bagi udang — jauh di atas standar keamanan produk sejenis. Dari sisi ekonomi, penggunaan Nano Disinfektan tercatat menghemat biaya disinfeksi lebih dari 87% dibanding kaporit untuk volume setara. Klaim efektivitas ini juga diperkuat pengalaman langsung para petambak yang sudah menggunakan produk FisTx. Iming, petambak dari Lampung yang telah tiga kali membeli Nano Disinfektan, mengaku puas dengan hasilnya: "So far bagus." Di Kulon Progo, seorang petambak binaan FisTx sempat mengalami lonjakan kematian udang sejak hari ke-30 budidaya (DOC 30). Setelah rutin menerapkan Nano Disinfektan, kondisi kolam berangsur pulih. "Alhamdulillah sudah membaik, yang bermasalah kemarin kolam 8 dan kolam 6, sudah mau makan dan kematian menurun," tulis petambak tersebut kepada tim FisTx. Tambak ini akhirnya berhasil dipanen tuntas pada DOC 120 dengan size 28, total hasil panen 9,5 ton dari tiga kolam. Salah satu performa dari Fistx Disinfection System (FDS) yakni Nano Disinfektan telah dirasakan oleh Mas Bayu, Petambak di Pengandaran. “Bakteri vibrio dulu jadi masalah utama di tambak kami. Sekarang bisa kami kendalikan dengan Nano Disinfektan. Kami berhasil pertahankan SR di atas 85% selama 4 siklus terakhir. Ini jadi produk standar wajib di semua kolam tambak kami,“ ucapnya. Membangun Kepercayaan Global Pencapaian teknologi nano ini menjadi fondasi baru bagi ekspansi FisTx yang saat ini tengah memperluas jejak kemitraan internasional, termasuk ke Pakistan dan kawasan Timur Tengah. Sebagai perusahaan yang telah mendistribusikan produk ke lebih dari 25 provinsi dan tiga negara, dengan lebih dari 1.500 petambak binaan, keberhasilan memproduksi teknologi nano dalam negeri memperkuat posisi Indonesia di peta inovasi akuakultur global — bukan lagi sekadar pengguna teknologi asing, melainkan produsen dan eksportir solusi biosekuriti berbasis riset sendiri. "Ini bukan cuma soal produk baru. Ini soal membuktikan bahwa Indonesia bisa memproduksi teknologi nano akuakultur kelas dunia dari dalam negeri, dengan validasi ilmiah dan bukti lapangan yang bisa dipertanggungjawabkan ke mitra global mana pun," kata Rico. Tentang FisTx FisTx (PT Aditya Inovasi Makmur) adalah perusahaan teknologi akuakultur asal Sleman, Yogyakarta, yang menyediakan solusi terintegrasi biosekuriti air, nutrisi budidaya, konstruksi tambak, dan pendampingan lapangan bagi pelaku perikanan budidaya di seluruh Indonesia. Produk FisTx telah didistribusikan ke lebih dari 25 provinsi dan tiga negara, menjangkau lebih dari 1.500 petambak, dengan rata-rata peningkatan tingkat keberhasilan budidaya hingga 83,6 persen.

Holding PTPN Perkuat Diversifikasi Agribisnis, Produksi Kopi PTPN IV PalmCo Melonjak 225 Persen Nasional
Nasional
Selasa, 04 Agustus 2026 | 09:18 WIB

Holding PTPN Perkuat Diversifikasi Agribisnis, Produksi Kopi PTPN IV PalmCo Melonjak 225 Persen

Jakarta, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara terus perkuat ketahanan portofolio bisnis melalui optimalisasi berbagai komoditas strategis di luar kelapa sawit. Melalui Sub Holding PTPN IV PalmCo, perusahaan tidak hanya menjaga kinerja bisnis inti (core business) kelapa sawit, tetapi juga mengakselerasi pertumbuhan komoditas non-core, yakni kopi, teh, dan karet. Hingga Mei 2026, ketiga komoditas tersebut mencatatkan tren peningkatan produksi dan efisiensi operasional yang konsisten. Sebagai entitas penyintas (surviving entity) hasil penggabungan PTPN III, PTPN IV, PTPN V, PTPN VI, dan PTPN XIII, PTPN IV PalmCo terus mengoptimalkan pengelolaan portofolio agribisnis secara terintegrasi sebagai bagian dari strategi transformasi Holding Perkebunan Nusantara. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menerangkan pencapaian komoditas non-core menjadi indikator keberhasilan strategi diversifikasi usaha dan konsolidasi aset pasca-merger. "Pasca-merger, kami memiliki tanggung jawab untuk mengelola aset agrikultur yang lebih luas dan beragam. Publik memang lebih mengenal PTPN IV PalmCo melalui kelapa sawit, namun kami memiliki fokus yang sama besarnya untuk mengembangkan komoditas karet, teh, dan kopi. Optimalisasi pada sektor non-core ini terus kami dorong agar seluruh lini bisnis dapat beroperasi secara efisien, mandiri, dan berkontribusi positif pada profitabilitas perusahaan," kata Jatmiko, di pekan kedua Juli 2026 lalu. Hingga Mei 2026, ulas Jatmiko, komoditas kopi menjadi kontributor pertumbuhan tertinggi di antara lini non-core. Volume produksi kopi kering PTPN IV PalmCo mencapai 135.570 kilogram, meningkat 225 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. "Kenaikan volume produksi tersebut turut menjaga tren profitabilitas komoditas kopi. Sepanjang lima bulan pertama 2026, kopi membukukan laba bersih sebesar Rp3,07 miliar, melanjutkan kinerja positif sepanjang tahun buku 2025 ketika salah satu unit usaha perusahaan, Java Coffee Estate, mencatatkan laba sebesar Rp42,70 miliar," ucapnya. Direktur Operasional PTPN IV PalmCo, Rediman Silalahi, menjelaskan peningkatan produksi kopi merupakan hasil penerapan standardisasi kultur teknis di lapangan sebagai bagian dari strategi adaptasi terhadap dinamika iklim. "Pertumbuhan pada komoditas kopi adalah wujud dari perbaikan kultur teknis yang kini lebih terstandarisasi. Kami mengawal program penyisipan tanaman dan pengaturan penaung secara ketat untuk menjaga mikroklimat perkebunan. Di tengah fluktuasi cuaca yang memengaruhi intensitas hujan dan cahaya, disiplin pangkas dan wiwil menjadi langkah krusial untuk menjaga stabilitas cabang-cabang produktif agar tetap berbuah optimal," tutur Rediman. Selain kopi, sambungnya, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo juga terus memperkuat daya saing komoditas karet melalui peningkatan kualitas produk. Pada kuartal I 2026, mutu Ribbed Smoked Sheet (RSS) terealisasi sebesar 99,63 persen, melampaui standar perusahaan sebesar 98 persen. Capaian tersebut memperkuat posisi produk karet perusahaan di pasar domestik maupun internasional. Menurut Rediman, pemenuhan kebutuhan tenaga kerja di perkebunan tetap menjadi fokus utama perusahaan dalam menjaga ritme produksi karet. "Untuk menjaga stabilitas produktivitas, kami menerapkan penataan tenaga deres secara komprehensif di seluruh regional guna menekan area yang tidak tersadap (hanca lowong). Melalui pendekatan Maximum Exploitation yang terukur, kami berupaya memastikan volume harian dan kualitas mutu karet PTPN IV PalmCo tetap terjaga dengan baik," paparnya. Sedang pada komoditas teh, imbuhnya, perusahaan terus menjalankan strategi efisiensi operasional tanpa mengurangi kualitas hasil produksi. Sepanjang tahun 2025, PTPN IV PalmCo berhasil membukukan efisiensi beban produksi sebesar Rp46,47 miliar. Upaya tersebut berlanjut hingga Mei 2026 melalui penerapan mekanisasi mesin petik dan penyempurnaan proses operasional di berbagai kebun teh yang terintegrasi. Jatmiko menekankan efisiensi di sektor hulu juga diimbangi dengan strategi penguatan pasar melalui optimalisasi portofolio produk. "Pada komoditas teh, kami menyeimbangkan efisiensi operasional dengan pemenuhan permintaan pasar. Selain merasakan dampak penghematan dari mekanisasi, arah produksi saat ini difokuskan pada portofolio Grade 1 seperti BOP I, BP, dan Dust, yang memiliki profil permintaan lebih stabil di pasar global," tandas Jatmiko. Kinerja positif komoditas kopi, karet, dan teh semakin memperkuat ketahanan portofolio bisnis Holding Perkebunan Nusantara pasca-transformasi. Melalui strategi diversifikasi agribisnis yang dijalankan PTPN IV PalmCo, perusahaan terus mengoptimalkan seluruh potensi aset perkebunan secara profesional, efisien, dan berkelanjutan guna mendukung pertumbuhan usaha serta memperkuat daya saing agribisnis nasional.

Pemboran Sumur Ekspansi Tuntas: PHR Produksi 903 BOPD dari Sumur Pungut Riau
Riau
Sabtu, 06 Juni 2026 | 11:05 WIB

Pemboran Sumur Ekspansi Tuntas: PHR Produksi 903 BOPD dari Sumur Pungut

Duri, katakabar.com - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) tuntaskan pemboran sumur pengembangan Pungut PT-069, di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Bukan sekadar pemboran biasa, para engineer PHR harus meliukkan mata bor secara miring (directional drilling) hingga mencapai kedalaman akhir 3.446 ftMD atau sekitar 3.359 TVD. Hasilnya, 903 BOPD (barrel oil per day) berhasil diproduksi.Target pengeboran tersebut adalah Lapisan Pasir Bekasap, sebuah reservoir kaya hidrokarbon yang menjadi tumpuan harapan. Proyek pengeboran ini diselesaikan hanya dalam waktu 12 hari. Lebih dari itu, efisiensi tim di lapangan berhasil menghemat anggaran dan hanya menghabiskan 51,37% dari total bujet yang dialokasikan. Sebuah pembuktian bahwa kerja keras dan kecerdasan teknis bisa berjalan beriringan dengan penghematan biaya. ​Puncaknya terjadi pada 29 Mei 2026 lalu. Saat pompa listrik Electrical Submersible Pump (ESP) mulai dinyalakan untuk uji produksi, cairan hitam cruide oil mulai mengalir. Hasilnya menggembirakan, sumur tersebut menghasilkan 903 BOPD minyak mentah murni tanpa kandungan air setetes pun (no persen water cut). Cruide oil ini pun langsung dialirkan ke fasilitas produksi untuk memperkuat pasokan minyak mentah nasional. ​Di tengah tantangan penurunan produksi alami (natural decline) lapangan-lapangan migas tua di Indonesia, setiap barel minyak baru yang berhasil diproduksikan adalah keberhasilan besar bagi ketahanan energi nasional. Pencapaian ini menegaskan posisi Blok Rokan sebagai salah satu tulang punggung produksi minyak bumi Indonesia. ​General Manager Zona Rokan, Andre Wijanarko, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya yang mendalam atas keberhasilan tim di lapangan. ​"Alhamdulillah, PT PHR telah melakukan pemboran Sumur Pengembangan Pungut PT-069. Pada tanggal 29 Mei lalu, telah dilakukan test produksi dengan laju alir minyak menggunakan pompa listrik ESP sebesar 903 BOPD tanpa kandungan air, dan langsung kita produksikan," kata Andre Wijanarko. ​Andre menjelaskan produksi sumur ini berasal dari lapisan Pasir Bekasap di Lapangan Pungut, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau. Pemboran dilakukan secara miring atau directional menggunakan Rig ACS-23 hingga kedalaman akhir 3.446 ftMD/3.359 TVD dengan total waktu pengerjaan 12 hari, dan berhasil menghemat biaya hingga hanya menghabiskan 51,37 persen dari bujet. "Mohon doa dan dukungannya dari seluruh masyarakat agar sumur ini dapat terus berproduksi secara optimal dalam jangka waktu yang cukup lama demi mendukung ketahanan energi nasional," jelasnya. ​Dari Lapangan Pungut, aliran minyak murni tanpa air ini menjadi simbol optimisme baru. Bahwa dengan keahlian, efisiensi, dan semangat, Blok Rokan masih menyimpan potensi besar dalam mendukung ketahanan energi nasional. Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah  Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan WK Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi WK Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). WK Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.

Kamis, 21 Mei 2026 | 21:05 WIB

PHR Bongkar Keunggulan Operasi dan Inovasi Capai Prestasi Produksi Regional 1 Sumatera di IPA Convex 2026

Jakarta, katakabar.com - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), bagian dari Subholding Upstream Pertamina, berpartisipasi aktif di ajang bergengsi Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition 2026. Ajang tersebut sebuah perhelatan industri migas pertemukan berbagai pemangku kepentingan guna membahas masa depan energi nasional. Sebagai salah satu produsen minyak dan gas utama di Indonesia, kehadiran PHR tidak hanya memperlihatkan peran strategis perusahaan dalam pengelolaan migas, tetapi juga menampilkan capaian produksi, inovasi teknologi, serta komitmen keberlanjutan. “Kehadiran PHR di IPA Convex 2026 menjadi momentum untuk menunjukkan inovasi teknologi dan strategi bisnis dalam mendukung ketahanan energi nasional. Melalui pengembangan berbagai metode, termasuk MNK, PHR berkomitmen mendorong peningkatan produksi migas berkelanjutan,” kata Direktur Utama PHR Regional 1, Muhamad Arifin. Diketahui, sebagai langkah strategis, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mendorong pengembangan Migas Non-Konvensional (MNK) sebagai salah satu metode yang digencarkan guna menjaga keberlanjutan produksi. Berpotensi menjadi game changer memperkuat portofolio masa depan Pertamina sekaligus menjaga ketahanan energi nasional di tengah tantangan lapangan migas konvensional yang semakin menua (mature fields). Pada ajang IPA Convex kali ini, PHR juga akan berpartisipasi dalam sesi diskusi Technical Program-Special Session bertema _Best Practices in Mature Field Management: Sustaining Production and Ensuring Energy Security_ . General Manager Zona Rokan, Andre Wijanarko tampil sebagai pembicara utama dengan memaparkan strategi pengelolaan lapangan tua yang tetap produktif melalui penerapan teknologi dan manajemen berkelanjutan. Sesi ini mengupas bagaimana perjalanan manajemen reservoir (reservoir management/RM) di Zona Rokan, sebuah operasi onshore terbesar di Indonesia dengan lebih dari 115 lapangan dan 12.600 sumur. Produksi dari area ini sekitar 151 ribu barel minyak per hari, serta 33 MMSCFD gas, dengan metode pemulihan primer, sekunder (waterflood), hingga tersier (steamflood dan CEOR). Ke depan, Blok Rokan diarahkan untuk terus berkembang melalui survei seismik 3D, reaktivasi sumur idle, ekspansi waterflood dan steamflood, serta penerapan inovasi digital berbasis AI/ML. Pesan utama dari materi ini adalah dengan manajemen reservoir yang disiplin, teknologi mutakhir, dan kepemimpinan yang kuat, lapangan matang seperti Rokan masih memiliki potensi besar untuk mendukung energi Indonesia di masa depan. Tidak hanya di sesi utama, PHR Regional 1 Sumatra juga menunjukkan komitmen akademis dan teknis dengan total 13 keterlibatan dalam program Poster Presentation, Oral Presentation, dan Core Workshop. Partisipasi ini menegaskan kontribusi aktif PHR dalam berbagi pengetahuan, pengalaman, serta inovasi teknologi kepada komunitas migas nasional dan internasional. Tak kalah menarik, dalam momen IPA Convex 2026 kali ini juga akan ada penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas antara PT Pertamina EP dan PT Pertamina Hulu Rokan untuk produksi operasi minyak dan gas bumi Wilayah Kerja Rokan. PHR akan membeli gas dari PEP, dengan perjanjian jual beli ini akan mendukung kebutuhan gas khususnya di WK Rokan untuk kegiatan operasi produksi minyak dan gas bumi. Inovasi dan Prestasi Produksi Regional 1 Sumatra PHR Regional 1 Sumatra terus menunjukkan berbagai capaian inovasi dan kinerja produksi di masing-masing zona operasi. Di Zona Rokan, selain pengembangan MNK, PHR berhasil melaksanakan Put On Injection (POI) pertama pada proyek Enhanced Oil Recovery (EOR) atau steamflood di lapangan North Duri Development (NDD) A14 pada Selasa, 14 Januari 2025. Keberhasilan penerapan metode steamflood ini menjadi bukti nyata inovasi anak bangsa dalam mengembangkan teknologi sektor migas sekaligus tonggak penting dalam pengembangan lapangan minyak di Zona Rokan. Melalui implementasi steamflood di lapangan NDD A14, proyek ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan cadangan dan produksi minyak di Blok Rokan. Keberhasilan tersebut juga menjadi motivasi bagi para pekerja PHR untuk terus berkontribusi menjaga ketahanan energi nasional. Di Zona 1, proyek Put on Production and Exploration (PoPE) Padang Pancuran (PPC-001) di Wilayah Kerja Jambi Merang yang dikelola entitas dalam Subholding Upstream berhasil meraih penghargaan kategori Onstream R2P Optimized. Proyek ini mencapai onstream pada 23 Desember 2025 dengan target awal produksi sebesar 67 BOPD dan proyeksi puncak produksi mencapai 379 BOPD pada 2026. Percepatan proyek dicapai melalui strategi early procurement, pemanfaatan fasilitas eksisting, pembentukan tim percepatan perizinan, serta koordinasi intensif dengan mitra kerja di tengah tantangan cuaca ekstrem, IPPKH, dan long lead item. Sementara di Zona 4, penerapan metode batch drilling di Adera Field, Sumatra Selatan, dengan menargetkan klaster sumur di Lapangan Benuang berhasil menciptakan efisiensi biaya yang signifikan sekaligus meningkatkan produksi minyak dan gas. Sejak mulai berproduksi pada 2 September 2025, implementasi teknologi ini menunjukkan hasil impresif. Hingga 5 Oktober 2025, produksi mencapai 3.388 BOPD, jauh melampaui target awal sebesar 1.200 BOPD atau hampir tiga kali lipat, dengan rata-rata produksi harian mencapai 1.552 BOPD. Berbagai inovasi itu turut menunjang capaian produksi. Sepanjang tahun 2025, PHR Regional 1 Sumatra mencatat produksi lebih dari 30% produksi nasional, menjadikannya salah satu kontributor terbesar bagi produksi nasional. Zona Rokan sebagai tulang punggung operasi berhasil mempertahankan stabilitas produksi di tengah tantangan lapangan tua, sementara Zona 1 dan Zona 4 menunjukkan tren peningkatan melalui optimalisasi sumur dan penerapan teknologi baru. Sejak 2025 hingga kini, PHR juga mencatat berbagai prestasi membanggakan. Di Zona Rokan, implementasi teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) berbasis Alkali-Surfactant-Polimer (ASP) terbukti meningkatkan perolehan minyak dari lapangan tua, sekaligus meraih penghargaan dari SKK Migas atas keberhasilan menjaga produksi di atas target. Zona 1 berhasil mengembangkan digital monitoring system yang meningkatkan efisiensi operasi dan mendapat apresiasi sebagai inovasi digital terbaik di internal Pertamina. Sementara itu, Zona 4 mencatat keberhasilan program drilling, workover & well intervention yang mendongkrak produksi minyak dan gas, serta meraih penghargaan keselamatan kerja (Safety Performance Award) tingkat nasional. TJSL Selain capaian produksi dan teknologi, PHR juga menegaskan komitmen tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat di seluruh area operasi Regional 1 Sumatra. Di Zona 1, Program Edu Ekowisata Mangrove di Desa Pasar Rawa, Kabupaten Langkat, mengintegrasikan konservasi lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi pesisir. Di Zona Rokan, PHR mengembangkan Brand Mandau sebagai inisiatif ekonomi kreatif berbasis budaya Melayu yang memberdayakan perempuan melalui produk unggulan Batik Mandau. Sementara di Zona 4, Program Rumah Kreatif Boek Khaman di Desa Lubuk Raman, Kabupaten Muara Enim, menjadi inovasi sosial berbasis potensi lokal dengan penerapan teknologi ramah lingkungan untuk pengelolaan limbah bambu dan batik. PHR Zona 1 juga ikut meramaikan pameran di booth SKK Migas dengan menampilkan UMKM difabel binaan Pertamina EP Rantau Field, yakni kedai kopi Inklusi Coffee yang dikembangkan di Rumah Kreatif Tamiang, Aceh Tamiang. Kehadiran UMKM binaan ini memperlihatkan komitmen PHR dalam mendukung ekonomi kaum difabel di wilayah operasi. Dengan kehadiran PHR di IPA Convex 2026, perusahaan berharap dapat terus berkontribusi dalam penguatan industri energi nasional, sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat melalui berbagai inisiatif sosial dan ekonomi.

KS Perkuat Daya Saing di Tengah Penurunan Produksi Baja Global dan Meroketnya Tekanan Perdagangan Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 14 Mei 2026 | 12:08 WIB

KS Perkuat Daya Saing di Tengah Penurunan Produksi Baja Global dan Meroketnya Tekanan Perdagangan

Jakarta, katakabar.com - Penurunan produksi baja global pada Januari 2026 jadi momentum bagi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk / Krakatau Steel Group (KRAS) untuk perkuat daya saing dan posisi di pasar domestik, seiring meningkatnya arus perdagangan baja dunia yang berpotensi menekan industri nasional. Langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan usaha dan menciptakan nilai ekonomi jangka panjang bagi industri baja nasional. Data World Steel Association menunjukkan, produksi baja global mencapai 147,3 juta ton pada Januari 2026, turun 6,5% secara tahunan, terutama dipengaruhi oleh penurunan produksi Tiongkok sebesar 13,9 persen. Tetapi, di tengah penurunan tersebut, arus ekspor baja global justru meningkat sebagai mekanisme penyesuaian kelebihan kapasitas. Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan, menegaskan komitmen perusahaan memperkuat fundamental industri nasional.  “Krakatau Steel terus meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas produk guna memastikan industri baja nasional tetap kompetitif dan berperan strategis dalam mendukung pembangunan nasional,” ujar Dr. Akbar Djohan, juga menjabat sebagai Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA). Pengamat Industri Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji, menegaskan penurunan produksi global tidak identik dengan berkurangnya tekanan eksternal. Menurutnya, ketika permintaan domestik melemah, ekspor meningkat sebagai mekanisme penyesuaian kapasitas. “Situasi ini dapat menjadi momentum konsolidasi industri nasional apabila didukung oleh kebijakan perdagangan dan strategi industri yang tepat,” kata Widodo. Upaya penguatan industri baja nasional tentunya sejalan dengan visi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang tertuang pada Asta Cita dalam memperkuat kemandirian ekonomi melalui industrialisasi dan hilirisasi. Sebagai industri strategis, baja memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur, ketahanan industri, dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Tren Permintaan Emas Cetak Sejarah, Kapasitas Produksi Nasional Perlu Ditingkatkan Internasional
Internasional
Minggu, 10 Mei 2026 | 07:39 WIB

Tren Permintaan Emas Cetak Sejarah, Kapasitas Produksi Nasional Perlu Ditingkatkan

Jakarta, katakabar.com - Permintaan emas terus meningkat secara global. Melihat tren ini, pebisnis pertambangan nasional perlu memperkuat kemandirian ekosistem industri emas nasional melalui peningkatan kapasitas pengolahan logam mulia dalam negeri. Menurut data World Gold Council, total permintaan emas kuartal I, termasuk transaksi over-the-counter (OTC), naik 2% secara tahunan menjadi 1.231 ton. Kenaikan volume dipandang sangat solid ini, di tengah lonjakan harga emas yang signifikan, mendorong nilai permintaan kuartalan melonjak 74% menjadi rekor US$193 miliar. Permintaan emas batangan dan koin mencapai 474 ton atau naik 42%, menjadi kuartal tertinggi kedua sepanjang sejarah. Investor Asia menjadi pendorong utama dengan memborong berbagai produk investasi emas secara agresif. Pengamat BUMN dan Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, mengatakan tren peningkatan permintaan emas yang signifikan ini memberikan dua alasan bagi Indonesia khususnya melalui perusahaan tambang emas Negara untuk proaktif dalam meningkatkan produksinya. Pertama, BUMN pertambangan bisa mengambil peluang peningkatan profit dari lonjakan ini. Kedua, peningkatan produksi turut meringankan neraca perdagangan emas yang defisit. Terlebih sejak 2021, Indonesia mengalami defisit dan telah menjadi net importer. Kondisi tersebut disebabkan oleh impor yang lebih besar guna memenuhi kebutuhan dalam negeri dibandingkan dengan ekspor. “Di saat demand terhadap emas tinggi, tentu sudah jadi sentimen positif bagi BUMN tambang emas. Kondisi seperti itu akan mendorong kenaikan harga. Karena itu, peningkatan produksi menjadi sangat penting,” terang Herry. Seiring dengan itu, anak usaha holding pertambangan MIND ID melalui PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) telah berupaya meningkatkan produksi melalui pembangunan pabrik manufaktur emas logam mulia di Gresik. Antam telah memulai pembangunan pabrik manufaktur emas logam mulia di Gresik dengan kapasitas hingga 30 ton per tahun. Fasilitas ini akan menambah kapasitas produksi kepingan emas yang telah dimiliki Antam di Pulogadung, Jakarta, dengan kapasitas produksi 40 ton per tahun. Dalam rantai pasok ini, pasokan emas batangan berasal dari dua sumber utama, yakni tambang emas Antam di Jawa Barat sekitar 1 ton per tahun, serta Precious Metal Refinery (PMR) PT Freeport Indonesia yang mampu mengolah lumpur anoda menjadi emas batangan sekitar 50–60 ton per tahun. Dengan rantai pasok industri terintegrasi ini, Pemerintah melalui Grup MIND ID memperkuat ekosistem bullion Indonesia untuk memenuhi permintaan emas logam mulia nasional diperkirakan mencapai sekitar 70 ton per tahun dan terus meningkat.

Holding PTPN Perkuat Tata Kelola Berbasis Data, Akurasi Produksi Sawit PTPN IV Regional III Tembus 96,77 Persen Sawit
Sawit
Minggu, 29 Maret 2026 | 16:06 WIB

Holding PTPN Perkuat Tata Kelola Berbasis Data, Akurasi Produksi Sawit PTPN IV Regional III Tembus 96,77 Persen

Pekanbaru, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara terus dorong penguatan tata kelola operasional berbasis data di seluruh entitasnya. Di antaranya Salah wujudkan melalui transformasi on-farm yang dijalankan oleh PTPN IV Regional III dengan mengedepankan implementasi trossen telling atau perhitungan bunga buah sebagai fondasi estimasi produksi. Kurun dua tahun terakhir, pendekatan tersebut menjadi instrumen utama dalam meningkatkan akurasi perencanaan dan realisasi produksi tandan buah segar (TBS). Sepanjang 2025, dari total produksi sebesar 1,6 juta ton TBS, tingkat akurasi perhitungan bunga buah tercatat mencapai 96,77 persen. Bahkan, dibandingkan dengan prognosa pada periode yang sama, realisasi produksi mencapai 100,46 persen dengan deviasi hanya 0,46 persen. Capaian ini mencerminkan selisih yang sangat tipis antara estimasi dan realisasi di lapangan, sekaligus menegaskan tingkat presisi yang tinggi dalam pengelolaan produksi. Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, menegaskan capaian tersebut merupakan hasil konsistensi dalam membangun budaya kerja berbasis presisi. “Di PTPN IV Regional III, kami memastikan bahwa produksi tidak berjalan berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan data yang terukur. Sepanjang 2025, akurasi trossen telling kami mencapai 96,77 persen. Bahkan realisasi terhadap prognosa menyentuh 100,46 persen dengan deviasi hanya 0,46 persen. Ini menunjukkan validitas data yang kami bangun benar-benar presisi,” katanya melalui keterangan tertulisnya di Pekanbaru, Selasa (24/2) lalu. Menurut Bambang, trossen telling bukan sekadar metode penghitungan bunga buah, melainkan parameter utama dalam memproyeksikan produksi TBS selama satu tahun penuh. Data tersebut menjadi dasar penyusunan kebutuhan operasional dari hulu ke hilir, mencakup tenaga kerja, material, transportasi, hingga aspek pendukung lainnya atau labor, material, transport, and others (LMTO). “Dengan forecast yang akurat, kami dapat menghindari kehilangan momentum saat panen puncak terjadi. Tidak ada keterlambatan tenaga, tidak ada kekurangan armada, dan tidak ada keputusan yang diambil tanpa dasar,” ucapnya. Secara teknis, evaluasi akurasi dilakukan dalam dua periode, yakni Semester I dan Semester II 2025, dengan pembobotan mengacu pada kontribusi masing-masing kebun terhadap target RKAP. Tiga indikator utama menjadi dasar penghitungan, yakni jumlah tandan berbobot 80 persen, berat tandan rata-rata (BTR) sebesar 10 persen, serta volume TBS sebesar 10 persen. Data realisasi produksi diperoleh dari sistem SAP berdasarkan jumlah tandan dan volume TBS yang diterima di pabrik kelapa sawit. Pengukuran akurasi dilakukan menggunakan metode deviasi absolut antara hasil estimasi dan realisasi produksi, dengan patokan terbaik berada pada deviasi 0 persen. Sepanjang 2025, manajemen menetapkan tiga kebun dan 12 afdeling dengan tingkat akurasi terbaik. Sementara itu, unit dengan deviasi absolut di atas 10 persen menjadi perhatian khusus untuk perbaikan metode pada 2026. Menurut Bambang, capaian tersebut sejalan dengan arahan Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, yang menekankan pentingnya validitas data, kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), serta integritas dalam setiap lini operasional. “Arahan beliau tentang validitas data, kepatuhan pada SOP, dan integritas seluruhnya tercermin dalam capaian ini. Inilah transformasi yang kami jalankan, presisi sebagai budaya kerja, data sebagai fondasi keputusan, dan produksi yang dikelola secara terukur, akuntabel, serta berkelanjutan,” jelasnya. Di tengah tantangan fluktuasi produksi dan tuntutan efisiensi, pendekatan berbasis data tersebut menjadi strategi kunci dalam menjaga stabilitas pasokan sekaligus mengendalikan potensi deviasi perencanaan. Dengan akurasi yang mendekati 97 persen dan deviasi yang nyaris nol terhadap prognosa, PTPN IV Regional III menegaskan langkah transformasi tata kelola on-farm yang semakin solid. Melalui penguatan ini, PTPN Group terus menempatkan data sebagai kompas utama dalam mengelola operasional perkebunan secara presisi, akuntabel, dan berkelanjutan di Bumi Lancang Kuning.