Prospek

Sorotan terbaru dari Tag # Prospek

Fitch Naikkan Asumsi Harga Komoditas, Ini Prospeknya Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 01 April 2026 | 12:10 WIB

Fitch Naikkan Asumsi Harga Komoditas, Ini Prospeknya

Jakarta, katakabar.com - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menaikkan asumsi harga logam dan komoditas tambang untuk tahun 2026. Proyeksi ini dinilai berpotensi menjadi sentimen positif bagi kinerja saham emiten pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Melansir laporan resmi Fitch Ratings, proyeksi harga tembaga naik dari sebelumnya US$9.500 per ton menjadi US$11.500 per ton. Kenaikan asumsi harga tembaga didorong oleh meningkatnya permintaan dari elektrifikasi global. Sementara, asumsi harga aluminium juga dinaikkan untuk seluruh periode proyeksi karena permintaan yang diperkirakan tetap kuat dalam beberapa tahun ke depan. Untuk tahun 2026, proyeksi harganya naik dari US$2.550 ke US$2.900 per ton. "Kenaikan asumsi harga aluminium untuk seluruh periode mencerminkan ekspektasi pertumbuhan permintaan yang tetap sehat serta terbatasnya penambahan pasokan dalam jangka menengah, selain dari rencana penambahan kapasitas di Indonesia dan Asia Tenggara," seperti dilansir dari laman resmi Fitch Rating. Untuk emas, Fitch menaikkan asumsi harga sepanjang periode proyeksi seiring lonjakan harga pasar yang didorong pembelian bank sentral serta meningkatnya alokasi investasi dari investor institusi dan ritel seiring dengan tensi geopolitik global. Kenaikan harga emas diprediksi terjadi dari level US$3.400 ke US$4.500 per ton. Untuk batu bara termal, Fitch menaikkan asumsi harga dari US$95 ke US$110 per ton, karena kondisi pasar yang lebih ketat terutama pada kuartal I-2026. Hal ini dipicu oleh penurunan ekspor batu bara Indonesia akibat ketidakpastian kebijakan serta melemahnya produksi domestik China. Untuk asumsi harga nikel jangka pendek juga dinaikkan ke US$16.000, seiring kebijakan pemerintah Indonesia yang menetapkan kuota produksi lebih rendah. Kebijakan tersebut berpotensi menekan pasokan global sehingga menopang harga nikel di pasar internasional. Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada mengatakan, kenaikan asumsi harga komoditas tersebut mencerminkan penilaian Fitch terhadap kondisi global saat ini. Menurutnya, naiknya harga komoditas biasanya menjadi sentimen positif bagi emiten yang berkaitan dengan sektor tersebut. "Dengan adanya potensi kenaikan tersebut biasanya pelaku pasar akan berasumsi bahwa kenaikan tersebut akan berdampak khususnya positif pada emiten-emiten yang berkaitan dengan komoditas tersebut," ucap Reza. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, aminkan Reza. Ia menilai langkah Fitch menaikkan asumsi harga logam dan komoditas pada 2026 merupakan hal yang wajar. Menurutnya, proyeksi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi peningkatan harga saham emiten terkait. Ia mencontohkan, prospek PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) beriringan dengan kuatnya dinamika harga emas global di tengah ketidakpastian geopolitik. Dengan harga emas yang diperkirakan tetap tinggi, margin laba dari divisi pemurnian logam mulia ANTM diprediksi akan tetap kuat pada awal 2026 Hilirisasi yang dilakukan ANTM bersama seluruh Grup MIND ID juga sebagai nilai tambah. Kerja sama dengan raksasa dunia seperti CATL dan LG Energy Solution melalui Indonesia Battery Corporation (IBC) mulai memasuki fase konstruksi lanjut dan operasional beberapa lini smelter HPAL (High-Pressure Acid Leaching). Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang semakin ketat terhadap ekspor bahan mentah akan semakin menguntungkan ANTM bersama Grup MIND ID karena sudah memiliki infrastruktur pengolahan (smelter feronikel) yang mapan. Diketahui, ANTM yang merupakan anggota bersama dengan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) saat ini memimpin kenaikan harga saham di antara emiten emas sejak awal tahun 2026. Bila dibandingkan, harga saham ANTM telah naik 9,03% year to date (ytd), dan MDKA naik 38,63% ytd per penutupan perdagangan Jumat, (27/3) lalu. Dari sisi teknikal, Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mencermati sejumlah saham komoditas yang menarik untuk diperhatikan. Di antaranya PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dengan target harga pada kisaran 9.000-9.400, dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) di rentang 1.755-1.905. "Lebih lanjut, rekomendasi harga PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) di kisaran 2.520-2.600, serta emiten batu bara pelat merah PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) pada level 2.900-3.080," kata Herditya.

Prospek Karir Lulusan Software Engineering Pendidikan
Pendidikan
Minggu, 01 Maret 2026 | 07:38 WIB

Prospek Karir Lulusan Software Engineering

Jakarta, katakabar.com - Di era digital saat ini, software engineering menjadi bidang yang sangat strategis sebab hampir semua industri mengandalkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi bisnis. Sobat Unggul, setiap kali kamu memakai aplikasi mobile, e-commerce, atau sistem pembayaran digital, kamu sebenarnya sedang merasakan hasil kerja software engineering yang bukan sekadar menulis kode, tetapi merancang solusi yang menyelesaikan masalah nyata secara sistematis dan berkelanjutan. Mengapa Software Engineering Sangat Dibutuhkan? Permintaan tenaga ahli software engineering terus meningkat seiring percepatan transformasi digital di Indonesia dan dunia. Perusahaan kini tidak bisa lagi bergantung pada sistem manual. Mereka membutuhkan sistem berbasis software engineering yang aman, cepat, dan efisien. Beberapa alasan mengapa software engineering memiliki prospek besar: 1. Semua Industri Membutuhkan Software Engineering Perbankan memerlukan sistem keamanan digital, rumah sakit membutuhkan sistem rekam medis, perusahaan logistik memerlukan sistem tracking, dan semuanya berbasis software engineering. 2. Peluang Kerja yang Luas Profesional software engineering dapat bekerja sebagai karyawan tetap, remote worker, freelancer, hingga membangun startup berbasis teknologi. 3. Gaji Kompetitif Karena keahlian software engineering tergolong spesifik dan teknis, nilai profesionalnya pun tinggi di pasar kerja. Prospek Karir Lulusan Software Engineering Lulusan dengan kompetensi software engineering memiliki banyak peluang karir yang fleksibel dan menjanjikan. Software Engineer / Developer Mengembangkan aplikasi web dan mobile berbasis prinsip software engineering modern. Backend Engineer Membangun sistem server dan database dengan pendekatan software engineering yang terstruktur. Frontend Engineer Mengembangkan tampilan antarmuka pengguna menggunakan praktik terbaik dalam software engineering. System Analyst Menganalisis kebutuhan bisnis dan merancang solusi berbasis software engineering. DevOps Engineer Mengelola proses deployment dan integrasi sistem dalam siklus software engineering. Selain itu, lulusan software engineering juga berpeluang menjadi technopreneur dengan membangun produk digital sendiri. Kuliah Software Engineering di Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University (100% Full Online) Untuk menjadi profesional software engineering, kamu membutuhkan pendidikan yang relevan dan fleksibel. Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University melalui Kampus Digital 100% online menghadirkan Program S1 Teknik Informatika dengan fokus software engineering. Program ini dirancang untuk menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang software engineering, dengan pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan kebutuhan industri. Keunggulan Program: 1. Sistem kuliah 100% online dan dapat diakses dari mana saja 2. Live session interaktif dan materi terekam 3. Project-based learning berbasis software engineering 4. Kurikulum mengikuti perkembangan teknologi terkini 5. Gelar Sarjana Komputer (S.Kom) 6. Mahasiswa akan mempelajari berbagai kompetensi inti software engineering, seperti: 7. Software Development Life Cycle (SDLC) 8. Analisis dan perancangan sistem 9. Pemrograman berbasis objek 10. Pengujian dan quality assurance dalam software engineering 11. Manajemen proyek perangkat lunak Sobat Unggul, sistem pembelajaran online ini sangat cocok bagi kamu yang ingin bekerja sambil tetap mengembangkan kompetensi software engineering tanpa batasan lokasi. Kurikulum Berstandar Global Kuliah di Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University menghadirkan pengalaman pendidikan berstandar global melalui kurikulum terafiliasi dengan Arizona State University (ASU), sehingga mahasiswa mendapatkan akses materi kelas dunia tanpa harus ke luar negeri. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa berkesempatan menikmati berbagai benefit unggulan seperti: 1. Arizona State University Content & Curriculum – Materi dan kurikulum kelas dunia dari ASU yang disampaikan oleh dosen kompeten UEU. 2. Arizona State University Master Class – Kelas online eksklusif dengan pembahasan topik global yang relevan dan aplikatif. 3. Global Summer Program & Summer Experience – Program musim panas di jaringan universitas Powered by ASU untuk pengalaman belajar dan pertukaran budaya internasional. 4. Global Signature Courses – Kesempatan belajar bersama mahasiswa dari universitas mitra ASU di berbagai negara. 5. Global Students Competition – Kompetisi global berbasis SDGs untuk mengasah inovasi dan kepemimpinan mahasiswa. Dengan sinergi ini, Sobat Unggul tidak hanya kuliah di dalam negeri, tetapi juga merasakan standar pendidikan internasional yang membuka peluang karir global. Bidang software engineering menawarkan prospek karir yang luas, fleksibel, dan memiliki daya saing tinggi. Permintaan terhadap tenaga profesional software engineering terus meningkat seiring pesatnya perkembangan teknologi. Melalui Program S1 Teknik Informatika dengan fokus software engineering di Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University yang tersedia 100% full online, Sobat Unggul dapat mempersiapkan diri menjadi profesional digital yang kompeten dan siap bersaing di tingkat global. Cari Tahu Lebih Lanjut Program Studi 100% Online Software Engineering Dapatkan informasi lengkap mengenai kurikulum, biaya pendidikan, dan proses pendaftaran disini. Jangan tunda lagi, wujudkan impianmu menjadi ahli software engineering dengan sistem belajar lebih fleksibel bersama Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University!

Prospek Emas Masih Positif, XAU/USD Berpeluang Menguat ke Area $5.386 Pekan Depan Internasional
Internasional
Sabtu, 28 Februari 2026 | 12:59 WIB

Prospek Emas Masih Positif, XAU/USD Berpeluang Menguat ke Area $5.386 Pekan Depan

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih melanjutkan kecenderungan menguat di perdagangan pekan depan, didukung oleh kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang masih berpihak pada aset safe-haven. Menurut kajian Dupoin Futures, analis Andy Nugraha, tren emas pada timeframe H4 masih menunjukkan arah bullish yang jelas, tercermin dari kemampuan harga bertahan stabil di atas level psikologis krusial di kisaran $5.000 hingga $5.100 per troy ounce. Andy Nugraha menjelaskan posisi harga yang tetap berada di atas area psikologis tersebut menjadi sinyal kuat bahwa minat beli investor masih terjaga dengan baik. Level ini berfungsi sebagai fondasi penting dalam menjaga momentum kenaikan, ucap Andy, sekaligus mencerminkan dominasi sentimen positif di pasar. Selama harga tidak turun di bawah zona support utama tersebut, peluang emas untuk melanjutkan tren naik masih terbuka dalam jangka menengah. Dari perspektif teknikal, ulasnya, pola pergerakan harga menunjukkan struktur tren yang sehat dengan kecenderungan mencetak level support yang lebih tinggi secara bertahap. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan jual belum cukup kuat untuk membalikkan arah tren secara keseluruhan. Selain itu, sambungnya, aksi beli yang muncul setiap kali terjadi koreksi harga menunjukkan bahwa pelaku pasar masih melihat pelemahan sebagai kesempatan untuk masuk ke pasar, bukan sebagai sinyal pembalikan tren. "Faktor fundamental juga turut memberikan kontribusi signifikan terhadap prospek positif emas," jelasnya. Ketidakpastian geopolitik global, kupas Andy, khususnya terkait perkembangan negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran, masih menjadi salah satu pendorong utama permintaan emas. Kondisi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil membuat investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman untuk melindungi nilai investasinya, dan emas tetap menjadi salah satu pilihan utama dalam situasi tersebut. Tidak cuma itu, Andy mengingatkan pergerakan dolar AS yang mengalami pelemahan moderat juga memberikan dukungan tambahan terhadap harga emas. Ketika nilai dolar melemah, emas menjadi lebih menarik bagi investor internasional karena nilainya menjadi relatif lebih kompetitif. Kondisi ini membantu menjaga kestabilan tren kenaikan emas, meskipun penguatan harga masih menghadapi tantangan untuk menembus level resistance utama secara agresif tanpa adanya katalis tambahan yang signifikan. Ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kebijakan pelonggaran moneter oleh Federal Reserve juga menjadi faktor yang terus dipantau. Meskipun belum ada kepastian mengenai waktu pelaksanaan penurunan suku bunga, harapan tersebut tetap memberikan sentimen positif bagi emas. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah umumnya mendukung kenaikan harga emas karena mengurangi daya tarik aset berbasis bunga, sehingga meningkatkan minat terhadap instrumen lindung nilai seperti emas. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Dupoin Futures memperkirakan bahwa apabila momentum bullish tetap berlanjut, harga emas berpotensi menguat hingga mencapai kisaran $5.386 per troy ounce dalam pekan mendatang. Target ini mencerminkan potensi lanjutan dari tren positif yang telah terbentuk, seiring dengan dukungan sentimen pasar dan struktur teknikal yang masih solid. Tetapi, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan potensi risiko koreksi apabila terjadi perubahan sentimen secara signifikan. Andy Nugraha menekankan apabila harga mengalami pembalikan arah dan menembus level kunci di $4.630, maka kemungkinan penurunan lebih lanjut dapat terjadi dengan target pelemahan menuju area $4.415 per troy ounce. Penembusan level tersebut akan menjadi indikasi awal melemahnya momentum bullish yang selama ini menopang pergerakan emas. Secara keseluruhan, outlook emas untuk pekan depan masih menunjukkan kecenderungan positif dengan potensi penguatan yang cukup menjanjikan. Dukungan dari faktor safe-haven, pelemahan dolar AS, serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih akomodatif menjadi kombinasi yang memperkuat prospek kenaikan harga. Selama tidak terjadi perubahan signifikan pada kondisi fundamental maupun teknikal, emas diperkirakan tetap berada dalam jalur bullish dengan peluang untuk mencatatkan kenaikan lebih lanjut dalam waktu dekat.

Prospek Lulusan Teknik Elektro di Industri Teknologi 2026 Pendidikan
Pendidikan
Minggu, 22 Februari 2026 | 10:31 WIB

Prospek Lulusan Teknik Elektro di Industri Teknologi 2026

Jakarta, katakabar.com - Sobat Unggul pastinya merasakan Industri teknologi bergerak dengan cepat. Dimulai dari kendaraan listrik, smart home, hingga sistem otomatisasi industri, semuanya membutuhkan peran penting teknik elektro. Pada 2026 diprediksi menjadi momentum besar bagi lulusan teknik elektro karena perkembangan digitalisasi, energi terbarukan, dan transformasi industri semakin masif. Jika kamu sedang mempertimbangkan jurusan ini, yuk kenali bagaimana lulusan teknik elektro memiliki prospek cerah dan relevan dengan kebutuhan zaman. Mengapa Lulusan Teknik Elektro Dibutuhkan pada 2026? Perkembangan teknologi bukan hanya tentang aplikasi dan software. Di baliknya, ada sistem kelistrikan, kontrol, dan perangkat keras yang dirancang oleh lulusan teknik elektro. 1. Era Otomatisasi dan Industri 4.0 Industri manufaktur, logistik, hingga perbankan kini memanfaatkan sistem otomatisasi. Banyak perusahaan membutuhkan lulusan teknik elektro untuk memastikan mesin dan sistem berjalan efisien, aman, serta hemat energi. Tahun 2026, kebutuhan ini diproyeksikan semakin meningkat. 2. Energi Terbarukan dan Kendaraan Listrik Isu keberlanjutan membuat sektor energi terbarukan berkembang pesat. Panel surya, pembangkit listrik tenaga angin, hingga charging station kendaraan listrik membutuhkan tenaga ahli. Tidak heran jika lulusan teknik elektro menjadi salah satu profesi strategis di masa depan. Bidang Karir Lulusan Teknik Elektro di Industri Teknologi Banyak Sobat Unggul yang bertanya, sebenarnya ke mana saja arah karir lulusan teknik elektro? Jawabannya sangat luas. 1. Engineer Sistem dan Otomasi Sebagai system engineer, lulusan teknik elektro bertanggung jawab mengembangkan sistem kontrol, PLC, hingga integrasi perangkat IoT. Industri manufaktur dan teknologi sangat membutuhkan peran ini. 2. Teknisi dan Ahli Energi Di sektor energi, lulusan teknik elektro dapat bekerja sebagai engineer pembangkit listrik, konsultan instalasi listrik, hingga pengembang sistem energi terbarukan. 3. Industri Telekomunikasi dan Elektronika Perusahaan telekomunikasi dan produsen perangkat elektronik juga membuka peluang besar bagi lulusan teknik elektro. Mereka terlibat dalam perancangan jaringan, perangkat komunikasi, dan sistem transmisi. 4. Startup dan Industri Digital Bahkan di perusahaan berbasis digital, lulusan teknik elektro tetap relevan. Pengembangan hardware, embedded system, hingga integrasi perangkat cerdas membutuhkan kompetensi lulusan teknik elektro. Melihat luasnya bidang ini, lulusan teknik elektro dapat disebut sebagai fondasi dari industri teknologi modern. Program Studi Teknik Elektro di Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University S1 Teknik Elektro Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University dirancang untuk membekali mahasiswa memahami, merancang, dan menerapkan sistem kelistrikan serta teknologi elektro/elektronika yang relevan dengan kebutuhan industri modern dan perkembangan teknologi. Bagi Sobat Unggul yang ingin menekuni program studi ini, tersedia dalam Program Reguler dengan sistem perkuliahan offline Senin–Jumat. Agar lebih terarah, kamu bisa memilih peminatan sesuai minat dan tujuan karir: 1. Arus Kuat (Power Engineering): fokus pada sistem tenaga listrik, distribusi, dan penguatan infrastruktur energi. 2. Arus Lemah (Electronics & Control Systems): fokus pada elektronika, sistem kontrol, otomasi, embedded system, hingga IoT. 3. Teknik Biomedis (Biomedical Engineering): fokus pada penerapan teknik elektro untuk alat kesehatan dan teknologi medis. Kurikulum Berstandar Global Kuliah di Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University menghadirkan pengalaman pendidikan berstandar global melalui kurikulum terafiliasi dengan Arizona State University (ASU), sehingga mahasiswa mendapatkan akses materi kelas dunia tanpa harus ke luar negeri. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa berkesempatan menikmati berbagai benefit unggulan seperti: 1. Arizona State University Content & Curriculum – Materi dan kurikulum kelas dunia dari ASU yang disampaikan oleh dosen kompeten UEU. 2. Arizona State University Master Class – Kelas online eksklusif dengan pembahasan topik global yang relevan dan aplikatif. 3. Global Summer Program & Summer Experience – Program musim panas di jaringan universitas Powered by ASU untuk pengalaman belajar dan pertukaran budaya internasional. 4. Global Signature Courses – Kesempatan belajar bersama mahasiswa dari universitas mitra ASU di berbagai negara. 5. Global Students Competition – Kompetisi global berbasis SDGs untuk mengasah inovasi dan kepemimpinan mahasiswa. Dengan sinergi ini, Sobat Unggul tidak hanya kuliah di dalam negeri, tetapi juga merasakan standar pendidikan internasional yang membuka peluang karir global. Sobat Unggul, prospek lulusan teknik elektro di industri teknologi 2026 sangat menjanjikan. Dari energi terbarukan, otomasi industri, hingga teknologi digital, semuanya membutuhkan peran strategis lulusan teknik elektro. Jika kamu ingin menjadi bagian dari masa depan teknologi, memilih jurusan ini bisa menjadi langkah awal yang tepat.

Prospek Emas Masih Positif Meski Dihadapkan Volatilitas Pasar Global Internasional
Internasional
Jumat, 06 Februari 2026 | 12:00 WIB

Prospek Emas Masih Positif Meski Dihadapkan Volatilitas Pasar Global

Jalarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas global kembali menunjukkan dinamika yang cukup signifikan dalam perdagangan terakhir, seiring pengaruh kuat dari faktor teknikal dan sentimen fundamental internasional. Di sesi perdagangan Amerika Utara hari Rabu, logam mulia ini sempat mengalami tekanan jual yang cukup dalam. Harga emas tercatat melemah lebih dari 1 persen setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam tiga hari di area USD 5.091. Koreksi tersebut terjadi di tengah penguatan Dolar AS yang moderat serta kondisi pasar global yang masih diliputi ketidakpastian, sehingga mendorong XAU/USD bergerak turun dan bertahan di kisaran USD 4.901. Meski mengalami penurunan dalam jangka pendek, tekanan tersebut dinilai belum mengubah arah tren utama emas. Berdasarkan kajian teknikal yang dilakukan oleh analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, pergerakan harga emas saat ini masih berada dalam jalur bullish. Pola candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan sinyal dari indikator Moving Average, menunjukkan bahwa kecenderungan tren naik pada XAU/USD tetap terjaga. Koreksi harga yang terjadi lebih dipandang sebagai bagian dari fluktuasi jangka pendek yang wajar di tengah volatilitas pasar, bukan sebagai indikasi perubahan tren secara menyeluruh. Andy Nugraha menjelaskan selama harga emas mampu bertahan di atas level support penting, potensi penguatan lanjutan masih cukup terbuka. Untuk perdagangan hari ini, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa apabila sentimen bullish kembali menguat dan minat beli meningkat, maka harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area resistance di sekitar USD 5.142. Level tersebut dinilai sebagai titik teknikal krusial yang berpotensi menguji kekuatan pasar. Namun demikian, jika tekanan jual kembali mendominasi dan harga gagal mempertahankan momentum kenaikan, maka koreksi lanjutan dapat membawa emas turun mendekati area support terdekat di kisaran USD 4.899, yang berperan penting dalam menjaga struktur tren naik jangka pendek. Dari sisi fundamental, pergerakan emas juga masih sangat dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Pada sesi perdagangan Asia hari Kamis, harga emas tercatat kembali menguat hingga mendekati USD 5.005. Penguatan ini mencerminkan upaya pemulihan setelah periode volatilitas yang cukup tinggi sebelumnya. Sentimen kehati-hatian investor kembali meningkat seiring berkembangnya isu geopolitik, khususnya setelah laporan mengenai militer Amerika Serikat yang menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di kawasan Laut Arab. Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran pasar akan potensi eskalasi konflik antara AS dan Iran, meskipun kedua pihak telah mengonfirmasi rencana pertemuan diplomatik di Oman. Selain faktor geopolitik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Perubahan kepemimpinan di Federal Reserve serta ekspektasi kebijakan yang cenderung lebih hawkish dinilai dapat membatasi ruang kenaikan harga emas ke depan. Sedang, berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga Fed pada pertemuan Juni berada di sekitar 46 perse . Di sisi lain, penguatan Dolar AS turut menjadi faktor penekan bagi emas, tercermin dari kenaikan Indeks Dolar AS (DXY) ke level 97,67. Lalu, rilis data ekonomi Amerika Serikat memberikan gambaran yang beragam. Laporan ADP menunjukkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta berada di bawah ekspektasi, mengindikasikan perlambatan tertentu di pasar tenaga kerja. Tetapi, data PMI Jasa AS justru mencatatkan angka yang lebih kuat, menandakan aktivitas sektor jasa yang masih ekspansif. Kombinasi data tersebut memperkuat pandangan bahwa volatilitas harga emas masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Dengan mempertimbangkan keseluruhan faktor teknikal dan fundamental tersebut, Dupoin Futures menilai bahwa harga emas masih memiliki peluang bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat. Investor dan trader disarankan untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik global, rilis data ekonomi AS, serta pergerakan Dolar AS sebagai acuan utama dalam menentukan strategi perdagangan emas ke depan.

Prospek Emas Tetap Positif di Tengah Volatilitas Pasar Global Internasional
Internasional
Jumat, 23 Januari 2026 | 15:39 WIB

Prospek Emas Tetap Positif di Tengah Volatilitas Pasar Global

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAUUSD) dunia kembali bergerak dinamis pada perdagangan terkini, mencerminkan tarik-menarik antara sentimen geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Di sesi Amerika Utara hari Rabu (21/1), XAU/USD berhasil mencatat kenaikan moderat sekitar 0,25 persen, dan diperdagangkan di area $4.772 per troy ounce. Penguatan ini terjadi setelah emas sempat menyentuh rekor tertinggi baru di 4.888 dolar AS, sebelum terkoreksi menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan opsi militer terkait isu Greenland tidak akan ditempuh. Klarifikasi tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar, tetapi belum cukup untuk menghapus daya tarik emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Berdasarkan analisa teknikal Dupoin Indonesia yang disampaikan oleh analis Andy Nugraha, struktur pergerakan emas saat ini masih mencerminkan tren naik yang kuat. Formasi candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan posisi harga di atas indikator Moving Average utama, menunjukkan tekanan beli masih mendominasi pasar. Andy menilai koreksi yang terjadi lebih bersifat sehat dalam tren bullish yang lebih besar. Selama harga mampu bertahan di atas zona support penting, peluang kelanjutan kenaikan masih terbuka. Dalam proyeksi jangka pendeknya, jika sentimen positif tetap terjaga, emas berpotensi menguji area $4.900. Sebaliknya, apabila terjadi tekanan jual lanjutan, area $4.756 dipandang sebagai support terdekat yang krusial untuk menjaga struktur tren naik. Dari sisi fundamental, pergerakan emas juga dipengaruhi oleh perubahan sikap Gedung Putih terkait kebijakan perdagangan dan geopolitik. Di sesi Asia Kamis (22/1), harga emas sempat memangkas kenaikannya dan bergerak di sekitar $4.790 setelah Presiden Trump menarik kembali ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa dan mengumumkan adanya kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland. Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan NATO telah menyepakati suatu kerangka kerja, yang memicu harapan akan penyelesaian diplomatik dan mengurangi risiko eskalasi dalam waktu dekat. Situasi ini sempat menekan permintaan emas sebagai aset safe-haven, meski dampaknya cenderung terbatas. Ketidakjelasan detail kesepakatan tersebut membuat pasar tetap waspada. Sejumlah pejabat Eropa menilai bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan meredanya ketegangan secara permanen. Selama risiko politik dan potensi friksi antara AS dan Uni Eropa masih membayangi, emas dinilai tetap memiliki peran penting dalam portofolio investor global. Selain itu, pelaku pasar kini menanti serangkaian rilis data ekonomi Amerika Serikat, seperti pertumbuhan ekonomi kuartalan, klaim pengangguran mingguan, serta data inflasi berbasis PCE. Data yang menunjukkan perlambatan ekonomi atau tekanan inflasi yang mereda berpotensi melemahkan dolar AS dan mendukung penguatan emas. Di sisi kebijakan moneter, ekspektasi terhadap Federal Reserve juga menjadi faktor kunci. Meski mayoritas ekonom memperkirakan suku bunga akan dipertahankan dalam waktu dekat, pasar masih memperhitungkan peluang pemangkasan suku bunga ke depan. Kekhawatiran terhadap independensi bank sentral AS, menyusul tekanan politik terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, turut menambah lapisan ketidakpastian di pasar keuangan. Secara keseluruhan, Andy Nugraha memandang prospek emas masih cenderung positif. Selama volatilitas geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global belum benar-benar mereda, emas diperkirakan tetap berada dalam jalur bullish, dengan potensi fluktuasi jangka pendek yang wajar di tengah tren naik yang lebih luas.

Emas Bangkit dari Tekanan, Prospek Bullish Didukung Sentimen Risiko Dunia Internasional
Internasional
Rabu, 21 Januari 2026 | 11:00 WIB

Emas Bangkit dari Tekanan, Prospek Bullish Didukung Sentimen Risiko Dunia

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) global kembali bergerak menguat di awal perdagangan pekan ini, menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai utama di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi dunia. Setelah sempat tertekan, dan menyentuh level terendah dalam empat hari di akhir pekan lalu, Emas berbalik arah dan melonjak lebih dari 1,50 persen, Senin (19/1). Logam mulia tersebut kini diperdagangkan di area $4.672 per troy ounce, tidak jauh dari level psikologis $4.700, setelah sebelumnya mencatat rekor tertinggi baru. Penguatan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang kembali memanas. Berdasarkan analisa teknikal dari Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai pergerakan emas saat ini masih berada dalam jalur yang konstruktif. "Indikasi teknikal yang terlihat dari formasi candlestick serta arah indikator Moving Average menunjukkan bahwa tren bullish emas semakin solid. Harga emas mampu bertahan di atas area support kunci, mencerminkan dominasi minat beli yang masih kuat dan minimnya tekanan jual signifikan meskipun harga berada di level yang relatif tinggi," jelasnya. Dalam outlook jangka pendeknya, Andy Nugraha memproyeksikan bahwa selama sentimen pasar tetap didominasi oleh sikap waspada terhadap risiko global, emas masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatannya. Apabila dorongan bullish tetap terjaga, emas berpeluang mengarah ke area $4.750 sebagai target kenaikan berikutnya. Area tersebut dinilai sebagai level teknikal penting yang dapat menjadi magnet harga jika aliran dana ke aset safe-haven terus berlanjut. Meski demikian, Andy mengingatkan pergerakan di dekat puncak historis kerap diiringi dengan volatilitas tinggi. Jika terjadi aksi ambil untung dan harga gagal mempertahankan momentum naiknya, maka zona $4.565 diperkirakan akan menjadi area penopang terdekat yang perlu dicermati oleh pelaku pasar. Dari sisi fundamental, reli emas kali ini tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan perdagangan global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana akuisisi Greenland oleh AS. Negara-negara tersebut meliputi Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Finlandia, Belanda, dan Inggris. Tarif awal sebesar 10 persen akan diberlakukan mulai awal Februari dan berpotensi naik hingga 25 persen pada pertengahan tahun apabila tidak tercapai kesepakatan. Langkah ini memicu kekhawatiran pasar akan terjadinya perang dagang yang lebih luas, terlebih Uni Eropa dilaporkan tengah menyiapkan opsi balasan berupa tarif bernilai puluhan miliar euro terhadap impor AS. Di tengah kondisi tersebut, emas kembali mendapat sorotan sebagai instrumen perlindungan nilai. Ketidakpastian kebijakan perdagangan, ditambah dengan dinamika geopolitik yang belum mereda, mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Sementara, kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi faktor yang turut mempengaruhi arah harga emas. Meski sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga dalam waktu dekat, proyeksi pemangkasan suku bunga yang lebih lambat tetap menciptakan ketidakpastian tersendiri bagi pasar. Di pasar mata uang, Dolar AS justru menunjukkan pelemahan, tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY) yang turun ke kisaran 99,02. Kondisi ini memberikan dukungan tambahan bagi emas, meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami kenaikan. Dengan latar belakang tersebut, Andy Nugraha menilai bias pergerakan emas masih cenderung positif. "Selama risiko global tetap membayangi dan minat terhadap aset aman belum surut, harga emas berpotensi mempertahankan tren bullish dan melanjutkan pergerakan ke level yang lebih tinggi dalam waktu dekat," tandasnya.

Prospek Harga Emas Masih Konstruktif di Tengah Dinamika Global Internasional
Internasional
Selasa, 06 Januari 2026 | 11:30 WIB

Prospek Harga Emas Masih Konstruktif di Tengah Dinamika Global

Jakarta, katakabar.com - Harga Emas (XAU/USD) global kembali menunjukkan kecenderungan menguat pada perdagangan hari ini, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan membaiknya sentimen teknikal di pasar. Emas saat ini berada dalam fase penguatan lanjutan, setelah berhasil bangkit dari tekanan koreksi yang terjadi pada awal pekan lalu. Di sesi perdagangan akhir pekan, emas mencatat kenaikan signifikan di tengah kondisi pasar yang relatif sepi akibat libur Tahun Baru di Jepang dan Tiongkok. Logam mulia tersebut menguat sekitar 1,75 persen dan bergerak mendekati area $4.400, setelah sebelumnya sempat turun hingga ke kisaran $4.274. Kenaikan ini mencerminkan kembalinya minat beli investor, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan akan aset lindung nilai. Berdasarkan analisa Dupoin Futures yang disampaikan Andy Nugraha, struktur pergerakan harga saat ini menunjukkan sinyal yang semakin konstruktif. Pola candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan arah indikator Moving Average, mengindikasikan tren bullish XAU/USD mulai menguat kembali. Kondisi ini membuka peluang bagi harga Emas untuk melanjutkan penguatan dalam jangka pendek. Andy juga memproyeksikan bahwa selama tekanan beli masih terjaga, emas berpotensi bergerak naik menuju area $4.466. Jika momentum penguatan gagal dipertahankan dan terjadi koreksi, maka area $4.355 diperkirakan menjadi zona penurunan terdekat yang perlu dicermati pelaku pasar. Dukungan fundamental terhadap Emas juga semakin kuat seiring memburuknya situasi geopolitik global. Harga Emas tercatat bergerak naik hingga ke sekitar $4.370 pada awal sesi Asia hari Senin, didorong oleh meningkatnya ketidakpastian setelah Amerika Serikat melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Langkah tersebut, yang dilaporkan dilakukan tanpa persetujuan Kongres, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan Amerika Latin. Pernyataan keras dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump, termasuk rencana untuk meningkatkan tekanan terhadap Venezuela, turut memperburuk sentimen risiko global. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan menyatakan Washington akan memanfaatkan pengaruhnya terhadap sektor minyak Venezuela untuk memaksa perubahan politik lebih lanjut. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan dan mendorong aliran dana ke aset safe-haven seperti Emas. Selain faktor geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat tetap menjadi perhatian utama pasar. Risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat The Fed masih membuka peluang penurunan suku bunga, seiring dengan tren inflasi yang terus melandai. Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai waktu dan besaran pemangkasan suku bunga, ekspektasi pelonggaran kebijakan ini tetap menjadi faktor pendukung bagi harga Emas, mengingat suku bunga yang lebih rendah akan menurunkan biaya peluang memegang logam mulia. Fokus pasar akan tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan Nonfarm Payrolls. Data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi mendorong penguatan Dolar AS dan memberikan tekanan jangka pendek pada Emas. Tetapi secara keseluruhan, kombinasi ketegangan geopolitik yang meningkat, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih akomodatif, serta penguatan sinyal teknikal dinilai masih menjaga prospek positif XAU/USD dalam waktu dekat.

William Lim Kaji Peluang Asimetris dan Rekalibrasi Efisiensi Modal Prospek Makro Asteng 2025 Internasional
Internasional
Selasa, 30 Desember 2025 | 09:30 WIB

William Lim Kaji Peluang Asimetris dan Rekalibrasi Efisiensi Modal Prospek Makro Asteng 2025

Jakarta, katakabar.com - Di tengah lanskap ekonomi global yang ditentukan oleh kebijakan moneter yang berbeda arah, dan fragmentasi teknologi yang pesat, William Lim, seorang ahli strategi keuangan berpengalaman dan pakar pasar Asia Tenggara, telah merilis analisis komprehensif mengenai lintasan ekonomi kawasan ini untuk tahun fiskal 2025. Analisis Lim mengemukakan kawasan ini sedang mengalami "Pergeseran Paradigma" (Paradigm Shift) yang mendasar bergerak dari model pertumbuhan dengan segala cara menuju model yang didefinisikan oleh "stratifikasi likuiditas" dan integrasi industri bernilai tinggi. William Lim berpendapa, sementara ekonomi global menghadapi stagnasi sekuler, Asia Tenggara (ASEAN) memisahkan diri (decoupling) untuk menjadi penerima manfaat utama dari realokasi modal global. Ia mengidentifikasi struktur tripartit yang mendorong pergeseran ini: divergensi interaksi fiskal antara Timur dan Barat, pematangan ekonomi digital menjadi mesin penghasil laba, dan penguatan ketahanan rantai pasokan melalui friend-shoring geopolitik. Rekalibrasi Struktural: Stratifikasi Likuiditas dan Interaksi Fiskal William Lim memulai analisisnya dengan membahas lingkungan "Kebijakan Makroprudensial". Sementara The Federal Reserve mengisyaratkan pendekatan "tunggu dan lihat" dengan suku bunga berkisar di level 3,50%-3,75% pada akhir 2025, Menurut catatannya, jeda ini telah menciptakan jendela unik bagi pasar negara berkembang. Berbeda dengan siklus sebelumnya di mana suku bunga AS yang tinggi menyedot likuiditas dari Asia, tahun 2025 menyaksikan "stratifikasi likuiditas" di mana alokasi institusional mengabaikan ETF pasar berkembang umum dan beralih ke yurisdiksi spesifik dengan imbal hasil tinggi serta fondasi fiskal yang kokoh. "Kita sedang mengamati pemisahan korelasi aset," amati William Lim. "Sementara arus Investasi Asing Langsung (FDI) global telah menurun sekitar 11%, arus masuk ke ASEAN justru melawan tren tersebut, naik sebesar 8% mencapai rekor tertinggi $226 miliar. Ini bukan sekadar anomali statistik; ini adalah bukti penetapan harga risiko asimetris di mana modal lari dari stagnasi menuju efisiensi," jelasnya. William Lim lebih lanjut berargumen bahwa proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyatakan Asia-Pasifik akan menyumbang hampir 60 persen dari pertumbuhan global pada tahun 2025 menggarisbawahi realitas yang lebih dalam: Barat sedang mengelola siklus utang, sementara Timur memanfaatkan interaksi fiskal untuk melakukan industrialisasi. Pergeseran Paradigma Teknologi: Dari GMV ke Efisiensi Modal Dalam pilar kedua tesisnya, William Lim mengkritik metrik usang yang digunakan untuk menilai ekonomi digital kawasan ini. Selama bertahun-tahun, Gross Merchandise Value (GMV) adalah satu-satunya metrik keberhasilan. Tetapi, William Lim menegaskan bahwa tahun 2025 menandai era "Efisiensi Modal". Ia menyoroti data yang menunjukkan bahwa ekonomi digital Asia Tenggara tidak hanya mencapai $263 miliar dalam GMV tetapi, yang lebih penting, mencapai $11 miliar dalam laba peningkatan 24% dari tahun ke tahun. "Narasinya telah bergeser dari membakar uang menjadi solvabilitas ekonomi unit," ucapnya. "Mantra 'pertumbuhan dengan segala cara' telah digantikan oleh fokus disiplin pada profitabilitas, yang menarik tingkat investor institusional yang lebih canggih," bebernya. Selain itu, William Lim S.E., M.Fin menunjuk pada pertumbuhan eksplosif dalam infrastruktur Kecerdasan Buatan (AI) sebagai katalisator kritis. Dengan lebih dari $30 miliar yang dikomitmenkan untuk infrastruktur AI pada paruh pertama tahun 2024 saja, kawasan ini sedang bertransisi dari konsumen layanan digital menjadi pusat produksi digital. Ia memandang pembangunan infrastruktur ini sebagai tulang punggung bagi inovasi fintech dekade berikutnya, memprediksi bahwa pasar fintech Asia Tenggara akan melampaui $1 triliun dalam nilai transaksi pada akhir tahun 2025. Bifurkasi Geopolitik dan Ketahanan Rantai Pasokan Pilar terakhir dari pandangan William Lim membahas "Bifurkasi" perdagangan global. Karena ketegangan geopolitik mengharuskan penarikan ulang rute perdagangan, William Lim menekankan peran "Ketahanan rantai pasokan" dalam mendorong kebangkitan manufaktur kawasan ini. "Strategi 'China Plus One' telah matang menjadi kebijakan industri yang komprehensif bagi negara-negara ASEAN," terangnya. Ia mengutip masuknya proyek-proyek greenfield secara masif, dengan Vietnam menarik $16,7 miliar dan Indonesia mengamankan $4,2 miliar dalam komitmen baru-baru ini. Lonjakan FDI manufaktur ini naik hampir 150% menjadi $44 miliar menunjukkan produsen global mencari ketahanan daripada sekadar arbitrase biaya. Lantas, William Lim memperingatkan bahwa arus masuk ini membawa tantangan. "Industrialisasi yang cepat memerlukan peningkatan yang sama cepatnya dalam 'Kebijakan Makroprudensial' untuk mengelola tekanan inflasi dan hambatan infrastruktur," catatnta. Ia menyarankan agar investor harus mencari yurisdiksi yang secara aktif berinvestasi dalam logistik dan jaringan energi untuk mendukung ledakan manufaktur ini. Strategi Adaptif Dalam penutupnya, William Lim menekankan perlunya strategi investasi yang adaptif. Hari-hari alokasi pasif ke indeks Asia yang luas telah berakhir. Era baru ini menuntut manajemen aktif yang dapat mengidentifikasi sektor-sektor spesifik, seperti Fintech, infrastruktur AI, dan manufaktur bernilai tinggi yang terisolasi dari volatilitas global. William Lim S.E., M.Fin percaya profil "Risiko Asimetris" Asia Tenggara menawarkan lindung nilai yang langka terhadap "Stagnasi sekuler" yang mengancam negara-negara maju. Dengan berfokus pada titik masuk berbasis data dan memahami nuansa kebijakan fiskal kawasan ini, investor institusional dapat menangkap "Alpha" yang dihasilkan oleh pergeseran struktural bersejarah ini.

Prospek Saham Nikel di Tengah Wacana Pemangkasan Produksi Jumbo Nasional
Nasional
Sabtu, 27 Desember 2025 | 09:00 WIB

Prospek Saham Nikel di Tengah Wacana Pemangkasan Produksi Jumbo

Jakarta, katakabar.com - Saham nikel kompak naik dalam sepekan terakhir setelah pemerintah Indonesia mengumumkan rencana pemangkasan produksi bijih nikel yang cukup signifikan. Lalu, apakah ini berpotensi menjadi titik balik sektor nikel untuk terus melaju di 2026? CEO dan Founder Mikirduit Surya Rianto mengatakan, kenaikan harga saham nikel dalam jangka pendek didorong oleh kenaikan harga nikel di LME sebesar 10,64 persen sejak 17 Desember 2025 hingga menjadi 15.758 dolar AS per ton. Tetapi, kenaikan ini hanya sifat reaktif dari market atas rencana pemangkasan produksi nikel di Indonesia. “Realitanya, pasar nikel masih oversupply ratusan ribu ton. Kami menilai kenaikan jangka pendek karena Indonesia hanya baru berencana, tapi belum merealisasikan pemangkasan produksi. Lalu, setelah Indonesia pangkas produksi, sektor nikel baru memperbaiki kondisi supply, sedangkan demand-nya masih lemah,” ujarnya melalui keterangan resmi Rabu lalu. Kabar terakhir, pemerintah Indonesia berencana memangkas produksi hingga 35 persen menjadi 250 juta ton pada 2026. Tetapi, aksi dari Indonesia ini dinilai belum menjadi solusi atas oversupply nikel di dunia. Catatan dari BMO CapitalMarkets menilai pasar nikel masih surplus pasokan sekitar 240.000 ton (nikel tingkat kemurnian 99 persen bukan dalam bentuk bijih) pada 2026 (dengan mengecualikan rencana pemangkasan produksi Indonesia). Pemangkasan produksi di Indonesia dinilai belum bisa berdampak signifikan hingga benar-benar terealisasi. Sementara, Rusia Nornickel memperkirakan oversupply di sektor nikel masih sebesar 275.000 ton pada 2026. Angka itu meningkat dari surplus 240.000 ton pada tahun ini. Rencana Indonesia memangkas produksi nikel juga patut dipertanyakan, terutama terkait komitmennya. Pasalnya, pada akhir 2024, pemerintah berencana memangkas produksi hingga tersisa 150 juta ton di 2025. Realitasnya, produksi bijih nikel Indonesia masih tembus 300 juta ton di 2025. Prospek Saham Nikel Dalam jangka pendek, saham-saham nikel naik selaras dengan kenaikan harga nikel di LME dari 14.000 dolar AS per ton mendekati 16.000 dolar AS per ton. Jika harga nikel kembali konsolidasi dan mengalami koreksi bisa menjadi tekanan lagi bagi saham nikel. Surya menekankan ada normalisasi kinerja keuangan saham nikel di 2025 yang mencatatkan kenaikan signifikan dibandingkan 2024. Hal itu disebabkan adanya kendala persetujuan RKAB pada 2024 yang membuat hampir satu semester pertama di tahun tersebut para emiten nikel tidak mampu mencatatkan penjualan optimal. Sehingga, ketika aktivitas penjualan kembali normal di 2025, ada pertumbuhan anomali yang cukup signifikan di hampir seluruh saham nikel. “Untuk itu, kinerja keuangan emiten nikel di 2026 akan kembali ke mode normal yang menyesuaikan dengan harga nikel. Meski, kami mencatat ada beberapa saham nikel yang menyelesaikan pembangunan smelter di 2026 dan bisa jadi katalis pendorong kinerjanya lebih atraktif,” jelasnya. Menurut Surya, pesan terpenting untuk investor ritel bisa bersabar jika ingin masuk ke saham nikel yang baru saja mengalami kenaikan. Tren kenaikan saham nikel sepanjang 2025 didorong oleh tiga faktor utama, mulai dari anomali pertumbuhan karena hal teknis di 2024, kenaikan harga MHP (produk olahan nikel untuk baterai kendaraan listrik di Agustus-Oktober 2024), dan wacana pemangkasan produksi bijih nikel di Indonesia pada 2026. "Tetapi, secara fundamental, permintaan nikel masih lemah. Kecuali, tiba-tiba demand nikel di China untuk nickel pig iron yang digunakan di industri stainless steel kembali meningkat. Itu bisa menjadi pendorong booming yang lebih besar bagi saham nikel,” terangnya. Untuk mengantisipasi peluang saham sektor nikel, Mikirduit juga sudah merilis riset prospek 9 saham nikel di 2026 yang ringkasannya bisa dibaca di sini . Jika ingin laporan lebih lengkap beserta action-nya, kamu bisa join ke Mikirsaham pro dengan klik link di sini