Rantai
Sorotan terbaru dari Tag # Rantai
Perkuat Rantai Pasok Nasional, KS Group dan Kerismas Group Teken Perjanjian Pasokan Jangka Panjang
Jakarta, katakabar.com - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk/Krakatau Steel Group (KRAS) perkokoh sinergi industri baja dalam negeri melalui penandatanganan perjanjian pasokan jangka panjang atau Long Term Supply Agreement (LTSA) dengan PT Kerismas Witikco Makmur beserta grup usahanya. Kerja sama ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan bahan baku baja jenis Cold Rolled Coil (CRC) dan Hot Rolled Pickled Oil (HRPO) dengan total sebesar 36.000 ton hingga satu tahun ke depan. Adapun penandatanganan komitmen ini dari PT Krakatau Steel (Persero) Tbk diwakili Hernowo selaku Direktur Komersial, Pengembangan Usaha dan Portofolio. Sedang, PT Kerismas Witikco Makmur diwakili Lau Beng Sing selaku Presiden Direktur. Melalui kesepakatan ini, Krakatau Steel Group menjamin stabilitas pasokan CRC dan HRPO untuk mendukung kelancaran produksi hilir di seluruh unit usaha Kerismas Group, yang meliputi PT Kerismas Witikco Makmur, PT Tumbakmas Inti Mulia, PT Semarang Makmur, dan PT Poli Contindo Nusa. Keberlanjutan Strategi Penguatan Industri Langkah strategis ini merupakan manifestasi nyata dari konsistensi perusahaan dalam menjaga ekosistem industri baja nasional. Sebelumnya, Februari 2026, Krakatau Steel Group telah meresmikan kerja sama serupa dengan PT Fumira. Dalam kesepakatan tersebut, Krakatau Steel berkomitmen memasok kebutuhan CRC PT Fumira dengan volume minimum sebesar 3.500 Metric Ton (MT) per bulan sepanjang tahun 2026. Rentetan kerja sama jangka panjang ini menegaskan posisi strategis Krakatau Steel Group sebagai penopang utama kebutuhan bahan baku industri manufaktur nasional. Jamin Stabilitas Pasokan untuk Performa Terbaik Mitra Keberhasilan penandatanganan LTSA ini didorong oleh dukungan modal kerja dari Danantara. Dukungan tersebut dialokasikan secara khusus untuk mengamankan ketersediaan material bahan baku secara berkelanjutan, yang menjadi fondasi utama bagi Krakatau Steel Group dalam memproduksi produk baja bernilai tambah tinggi (high value-added products). “Dukungan modal kerja dari Danantara merupakan penggerak utama dalam memastikan rantai pasok bahan baku kami tetap terjaga dan stabil. Dengan ketersediaan material hulu yang terjamin, Krakatau Steel dapat memberikan kepastian pasokan bagi mitra loyal kami," ujar Hernowo. Ia menambahkan stabilitas pasokan ini akan berdampak langsung pada performa mitra di pasar. "Melalui dukungan produk CRC dan HRPO yang berkualitas tinggi, kami optimistis Kerismas Group dapat terus meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing produknya, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun merambah pasar internasional,” jelas Hernowo. Menurutnya, penguatan ketersediaan bahan baku ini merupakan implementasi nyata dari pilar Asta Cita Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto, khususnya dalam mempercepat hilirisasi industri domestik. Dengan memastikan bahan baku baja tersedia di dalam negeri, Krakatau Steel Group yang dipimpin Dr. Akbar Djohan, yang juga menjabat sebagai Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) serta Chairman Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) menyatakan siap berperan aktif dalam menciptakan ekosistem industri yang mandiri dan berdaya saing tinggi. “Kami menyelaraskan operasional perusahaan dengan visi Asta Cita untuk memperkokoh kedaulatan ekonomi melalui hilirisasi. Melalui jaminan pasokan bahan baku yang didukung Danantara, kita memastikan bahwa nilai tambah ekonomi sepenuhnya dinikmati oleh industri dan tenaga kerja nasional,” imbuh Hernowo. Komitmen Kemitraan Jangka Panjang Lau Beng Sing sambut baik kolaborasi ini sebagai fondasi utama stabilitas operasional grup. "Kami mengapresiasi dukungan berkelanjutan dari Krakatau Steel. Jaminan pasokan bahan baku ini sangat krusial bagi keberlangsungan produksi di grup kami, sehingga kami bisa fokus pada pengembangan pasar dan kualitas produk akhir bagi konsumen," ulasnya. Langkah ini juga sejalan dengan upaya penguatan struktur industri baja nasional dan program substitusi impor, di mana pemanfaatan produk baja lokal menjadi prioritas utama bagi para pelaku manufaktur di Indonesia. Melalui kemitraan ini, kedua belah pihak sepakat untuk terus bersinergi menghadapi tantangan industri baja global dan memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Perkuat Rantai Pasok Hilirisasi, Indonesia Semakin Gencar Optimalkan Bauksit
Jakarta, katakabar.com - Pemanfaatan dan hilirisasi bauksit semakin krusial guna perkuat rantai pasok industri dalam negeri. Bauksit yang diolah menjadi alumina dan aluminium merupakan bahan baku strategis bagi berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur, konstruksi, transportasi, hingga energi terbarukan. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sumber daya bauksit Indonesia mencapai sekitar 7,4 miliar ton, dengan cadangan sekitar 2,7 miliar ton di antaranya berstatus siap ditambang. Besarnya cadangan tersebut menunjukkan Indonesia memiliki modal mineral yang sangat kuat untuk mendorong hilirisasi dan industrialisasi nasional. Tetapi, pemanfaatan cadangan bauksit tersebut selama ini belum optimal. Hal ini tercermin dari pola produksi yang masih sangat bergantung pada ekspor bijih mentah. Produksi bijih bauksit nasional sempat mencapai 31,8 juta ton pada 2022. Setelah penerapan larangan ekspor bahan mentah, produksi menurun menjadi sekitar 19 juta ton pada 2023 dan kembali menyusut menjadi 16,8 juta ton pada 2024. Kondisi tersebut menegaskan percepatan pengembangan fasilitas pengolahan bauksit di dalam negeri menjadi semakin mendesak. Hilirisasi dipandang sebagai langkah strategis agar cadangan mineral nasional mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi perekonomian, sekaligus memperkuat struktur industri nasional secara berkelanjutan. Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW), Ferdy Hasiman menilai program hilirisasi bauksit nasional memasuki fase krusial pada 2026. Menurutnya, Indonesia perlu terus mempercepat transformasi ekonomi dari pola pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi berbasis nilai tambah. “Indonesia mulai menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Pola lama pertambangan ekstraktif mulai ditinggalkan, dan hilirisasi menjadi instrumen penting untuk menekan defisit neraca pembayaran melalui pengolahan berbagai komoditas mineral di dalam negeri,” ujar Ferdy. Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang semakin mengoptimalkan peran Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID integrasikan rantai hilirisasi bauksit, mulai dari pengolahan menjadi alumina hingga aluminium. Integrasi ini dinilai penting untuk menjamin ketersediaan bahan baku industri nasional tanpa ketergantungan pada pasokan luar negeri. Bahan baku aluminium yang dihasilkan dari pengolahan terintegrasi tersebut diharapkan menjadi fondasi terbentuknya rantai pasok industri yang kuat, mendukung sektor manufaktur, transportasi, hingga pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwandi Arif. Ia menjelaskan kebutuhan aluminium bersifat lintas sektor dan terus meningkat seiring perkembangan ekonomi global. “Di negara berpendapatan tinggi, aluminium banyak digunakan untuk sektor transportasi. Sementara di negara berpendapatan rendah dan menengah, penggunaannya lebih dominan untuk sistem transmisi listrik, barang manufaktur, dan konstruksi,” kata Irwandi dalam bukunya Bauksit Indonesia. Kajian International Aluminium Institute juga menyebutkan bahwa kapasitas pemurnian alumina merupakan indikator utama dalam memperkuat daya saing industri suatu negara. Dengan terealisasinya pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Indonesia kini berada pada posisi strategis untuk memenuhi kebutuhan aluminium, baik bagi pasar domestik maupun global. Ke depan, penguatan proyek hilirisasi bauksit diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan cadangan nasional, memperkuat struktur industri dalam negeri, serta menjadikan aluminium sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi dan industrialisasi masa depan Indonesia.
Akselerasi Hilirisasi, MIND ID Perkokoh Dominasi Indonesia Rantai Pasok Hijau Dunia
Jakarta, katakabar.com - Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, dinilai telah menjadi pelopor sekaligus pemain utama peta rantai pasok energi bersih global melalui penguatan hilirisasi mineral strategis. Langkah strategis ini tidak hanya memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar internasional, tetapi menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi lokal dan ekosistem industri hijau yang berkelanjutan. Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (IMEW), Ferdy Hasiman, menyatakan penguasaan proyek-proyek hilirisasi oleh MIND ID tonggak awal bagi BUMN tambang untuk masuk lebih dalam ke ekosistem energi bersih. "MIND ID memiliki segala persyaratan untuk bersaing. Dengan masuk ke proyek hilirisasi, perusahaan sudah melangkah lebih maju. Proyek seperti smelter di Halmahera Timur milik Antam, hingga pembangunan fasilitas bauksit terintegrasi, mempertegas posisi MIND ID sebagai pelopor hilirisasi pemerintah," ujar Ferdy dilansir dari laman warta ekonomi Ahad siang. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki cadangan mineral strategis yang sangat signifikan, mencakup 42 persen cadangan nikel dunia, 16,3 persen timah, dan 7,18 persen kobalt. Dengan kekayaan tersebut, MIND ID memegang peran sentral sebagai pemimpin pasar (market leader) yang mengintegrasikan berbagai sektor mineral. Ferdy menilai, keberadaan holding telah menghapus ego sektoral di antara anggota grup. Sinergi ini meluas hingga kolaborasi dengan sektor swasta nasional dan antar-BUMN, seperti dukungan pasokan listrik dari PT PLN (Persero). "MIND ID kini menjadi pemimpin yang bisa merangkul swasta nasional, baik di industri nikel, baterai, maupun bauksit. Sinergi ini krusial karena mereka adalah leader di segala bidang mineral; ada Antam di nikel dan bauksit, Inalum di alumina, hingga Freeport di tembaga," jelasnya. Komitmen ESG dan Keberlanjutan Ferdy menekankan perusahaan sekelas MIND ID dan anggotanya telah menerapkan standar tata kelola yang transparan dan akuntabel. Ia mencontohkan praktik hijau di PT Vale Indonesia melalui penggunaan pembangkit listrik tenaga air dari aliran Danau Matano, serta proyek reklamasi yang konsisten dilakukan oleh PT Aneka Tambang Tbk dan PT Bukit Asam Tbk. Ia mengingatkan tantangan besar dari maraknya pertambangan ilegal. "IUP ilegal ini yang memberikan stigma negatif terhadap industri tambang. Ini menjadi PR besar pemerintah karena mengganggu perusahaan yang sudah menjalankan ESG dengan baik," tegasnya. Selain lingkungan, Ferdy menyebut kontribusi sosial terhadap masyarakat lokal juga signifikan. Di Luwu Timur, kontribusi PT Vale mencapai hampir 90 persen bagi masyarakat sekitar, sementara PT Freeport Indonesia menyumbang porsi besar terhadap PDRB Kabupaten Mimika, Papua. Meski memiliki fundamental keuangan yang kuat dan bersifat bankable, Ferdy mencatat tantangan terbesar tetap berada pada konsistensi kebijakan pemerintah. Ia berharap pemerintah memberikan keleluasaan bagi MIND ID untuk bergerak secara korporasi murni tanpa intervensi non-bisnis. "Pemerintah perlu memberikan dukungan berupa insentif pajak atau pemotongan pajak. Jangan sampai di satu sisi diminta membangun smelter dengan biaya besar, namun di sisi lain dibebani bea keluar yang tinggi. Dukungan pemerintah harus sinkron agar deviden yang dihasilkan nantinya juga besar bagi negara," imbuhnya. Saat ini, MIND ID tengah mengakselerasi sejumlah proyek strategis, termasuk pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Halmahera Timur, manufaktur baterai di Karawang, hingga pengembangan artificial graphite untuk mendukung kebutuhan kendaraan listrik masa depan.
KOLTIVA Bersama Unilever, FCDO dan EY Dukung Sugata Transformasi Rantai Pasok Kakao
Aceh, katakabar.com - Sugata bersama mitra pelaksana KOLTIVA, dan didukung Unilever, FCDO, dan EY melalui Transform Bestari, pimpin penerapan model terukur produksi kakao regeneratif di Aceh. Kolaborasi ini integrasikan ketertelusuran digital, pertanian cerdas iklim, dan pelatihan inklusif gender untuk membantu petani kecil beralih menuju praktik produksi bebas deforestasi dan tangguh terhadap perubahan iklim. Melalui lima fokus kerja Gender Action Learning System (GALS), Pengelolaan Lahan Percontohan (Demo Plot Management), Pertanian Regeneratif, Pengelolaan Limbah Kakao, dan Pemantauan Emisi Gas Rumah Kaca (GHG Monitoring). Di mana program ini menanamkan prinsip keberlanjutan di setiap aspek operasional pertanian. Kurun waktu setahun, proyek ini telah memberdayakan 500 produsen di 21 desa, membangun 10 lahan percontohan regeneratif, memasang unit biochar untuk mengubah limbah kakao menjadi kompos, serta memperkenalkan pengambilan keputusan inklusif gender di lebih dari 100 rumah tangga. Upaya ini menjadi fondasi rantai nilai kakao yang regeneratif dan bebas deforestasi di Aceh. Industri kakao Indonesia memegang peranan penting bagi ekonomi lokal dan pasar global. Tetapi, produktivitas yang menurun, usia pohon yang menua, serta dampak perubahan iklim yang kian terasa menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan sektor ini. Untuk menjawab persoalan tersebut, Sugata (PT Kudeungoe Sugata), perusahaan kakao berorientasi keberlanjutan dan pemulihan lingkungan, memimpin upaya pengembangan produksi kakao regeneratif dengan dukungan dari KOLTIVA dan mitra global Unilever, Foreign, Commonwealth dan Development Office (FCDO) Inggris, serta EY melalui program Transform Bestari Challenge. Inisiatif ini mempercepat inovasi bagi petani kecil melalui integrasi ketertelusuran digital, pelatihan pertanian cerdas iklim, serta model pembiayaan inklusif. Dengan menggabungkan pendekatan berbasis komunitas Sugata dan ekosistem teknologi KOLTIVA termasuk KoltiTrace untuk ketertelusuran “farm-to-bar” dan KoltiSkills untuk pelatihan petani kolaborasi ini bertujuan membangun rantai nilai kakao yang lebih tangguh, berdaya saing, dan mendukung pelestarian hutan. Didirikan pada tahun 2018, Sugata dikenal sebagai salah satu pionir bean-to-bar di Indonesia yang secara langsung bermitra dengan petani kecil. Misi perusahaan untuk meregenerasi lahan terdegradasi dan memulihkan mata pencaharian masyarakat menempatkannya di garis depan inovasi kakao berkelanjutan di Tanah Air. Terletak di sisi timur Ekosistem Leuser seluas 2,6 juta hektare salah satu hutan hujan tropis terakhir di dunia yang masih menjadi habitat bersama harimau, gajah, badak, dan orangutan Sumatra-Aceh menjadi jantung penting produksi kakao nasional. Dengan luas tanam lebih dari 101.000 hektare dan produksi tahunan sekitar 41.000 ton, Aceh tercatat sebagai provinsi penghasil kakao terbesar keempat di Indonesia (Invest in Aceh, 2023). Lanskap luas ini, yang menaungi sembilan sungai, tiga danau, serta 185.000 hektare lahan gambut dengan cadangan karbon mencapai 1,6 miliar ton, menyediakan air bersih bagi empat juta penduduk layanan ekosistem yang ditaksir bernilai lebih dari US$600 juta per tahun. Tetapi, pohon kakao tua, serangan hama, cuaca ekstrem, dan alih fungsi hutan menjadi monokultur terus mengancam keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat dan keseimbangan ekosistem. Kurun lima tahun terakhir, kawasan hutan dataran rendah Aceh telah kehilangan sekitar 20 persen tutupan hutannya (Global Conservation, 2023). Meningkatnya tekanan terhadap lingkungan dan regulasi global seperti EU Deforestation Regulation (EUDR), Sustainable Development Goals (SDGs), serta komitmen zerodeforestation korporasi besar, menandai era baru bagi industri kakao. Produksi kakao regeneratif, yang dikembangkan melalui sistem agroforestri, daur ulang nutrisi, dan ketertelusuran digital, kini menjadi strategi kunci untuk mencapai keberlanjutan sekaligus profitabilitas jangka panjang. Pada 2024 lalu, program Transform Bestari Challenge yang digagas oleh Unilever, FCDO, dan EY, mengundang pelaku usaha Indonesia untuk menghadirkan solusi inovatif dalam mendukung pencapaian SDGs, dengan hibah hingga £300.000 bagi pemenang. Program akselerator ini memadukan pendanaan dengan dukungan bisnis strategis untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. Pada Oktober 2024, Sugata terpilih sebagai salah satu dari tiga pemenang utama, memperoleh dukungan untuk implementasikan proyek kakao regeneratif di Aceh Tenggara selama 18 bulan. Sedang, untuk mempercepat pelaksanaan di lapangan, Sugata menggandeng KOLTIVA sebagai mitra pelaksana, menghadirkan keahlian dalam penerapan sistem ketertelusuran digital, pelatihan di tingkat petani, serta pengambilan keputusan berbasis data. Melalui lima pilar kegiatan utama Gender Action Learning System (GALS), Pengelolaan Lahan Percontohan, Pertanian Regeneratif dan Agroforestri, Pengelolaan Limbah Kakao, serta Pemantauan Emisi Gas Rumah Kaca (GHG Monitoring) kolaborasi ini menanamkan prinsip keberlanjutan di setiap kebun dan setiap keputusan petani. “Yang kami bangun bersama Sugata, Unilever, dan FCDO di Aceh bukan sekadar proyek, melainkan cetak biru masa depan industri kakao berkelanjutan,” ujar Joe Keen Poon, Executive Chairman of the Board KOLTIVA. “Bagi kami, petani kecil berhak mendapatkan lebih dari sekadar kepatuhan regulasi, tetapi mereka berhak atas teknologi, pelatihan, dan kesempatan yang adil untuk berkembang di pasar global. Dengan menghubungkan data lapangan secara real-time, pengambilan keputusan inklusif gender, dan pemantauan karbon dalam satu sistem, kami membuktikan regenerasi dan profitabilitas dapat berjalan beriringan bahkan, keduanya adalah satu-satunya jalan ke depan," beber Joe. Sejak akhir 2024, Sugata dan KOLTIVA telah mengembangkan kurikulum pelatihan, membangun lahan percontohan, dan melatih pelatih utama untuk mempercepat implementasi di lapangan. Satu tahun pertama, lebih dari 500 petani kakao di 21 desa telah mendapatkan pelatihan melalui KoltiSkills, 10 lahan percontohan regeneratif didirikan dengan pemantauan emisi langsung, serta lima unit biochar dipasang untuk mengubah limbah kakao menjadi kompos, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Selain itu, 173 lahan telah disurvei untuk pemantauan emisi GHG, sementara lebih dari 100 rumah tangga kini menerapkan pengambilan keputusan inklusif gender melalui pendekatan GALS. “Sugata menunjukkan komitmen kuat untuk mendorong perubahan sosial dan lingkungan positif di sektor pertanian,” timpal Jessica Pauline, Country Lead Finance & Business Development Unilever Indonesia. “Perusahaan berdampak seperti Sugata berperan penting dalam menjawab tantangan keberlanjutan global. Melalui Transform, kami tidak hanya memberikan hibah, tetapi juga memperkuat kolaborasi lintas sektor agar dampak sosial dan lingkungan dapat tumbuh secara berkelanjutan," jelas Jessica. Meski masih menghadapi tantangan seperti cuaca tidak menentu dan kesenjangan literasi digital, inisiatif ini telah menunjukkan bagaimana teknologi, data, dan partisipasi inklusif dapat membentuk masa depan baru bagi petani kakao menghadirkan keuntungan ekonomi, manfaat lingkungan, dan ketahanan sosial yang lebih kuat bagi komunitas petani kecil di Aceh dan sekitarnya.
Luncurkan 'Prospek', Perusahaan Raksasa Sawit Perkuat Jaringan Rantai Pasok Sasar 26 Ribu Petani
Palembang, katakabar.com - Perusahaan raksasa yang bergerak di sektor kelapa sawit, Wilmar luncurkan Program Sinergi dan Pemberdayaan Petani Kecil (Prospek), guna perkuat jaringan rantai pasok bakal menjangkau 26.000 mitra petani plasma kelapa sawit di seluruh Indonesia. Program 'Prospek' komitmen jangka panjang Wilmar penguatan praktik berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Program ini kelanjutan dari program yang sebelumnya telah dijalankan perusahaan bersama mitranya.
Strategi Peningkatan Inklusivitas dan Ketahanan Rantai Pasokan Minyak Sawit
India, katakabar.com - Organisasi antar pemerintah negara penghasil minyak sawit (CPOPC) inisiasi forum 2nd Sustainable Vegetable Oil Conference (SVOC) diinisiasi Di agenda SVOC perdana digelar pada 2022 lalubdi Bali bersamaan dengan KTT G-20. Indonesia sebagai tuan rumah yang membahas ketahanan pangan lantaran kondisi geopolitik Rusia-Ukraina yang berimbas pada pasokan minyak nabati dunia. Untuk SVOC ke 2 tahun 2023 digelar pada 27 September 2023 di Mumbai, India, bersamaan pula momentum KTT G-20 dengan India sebagai tuan rumah. Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Prayudi Syamsuri menjelaskan, SVOC ke 2 di India langkah yang tepat. Meski dengan beberapa pertimbangan, yakni pertama India pangsa pasar kelapa sawit terbesar Indonesia. Kedua India menghadapi tantangan pemenuhan pangan, khususnya vegetable oil yang disebabkan peningkatan populasi penduduk. Terus, ketiga adanya dorongan yang cukup kuat di industri vegetable oil India untuk memasok minyak kelapa sawit selain untuk kebutuhan pangan seperti biofuel, kosmetik, deterjen, dan aplikasi industri. Keempat, keunggulan minyak sawit memiliki daya saing harga dan produktivitas tinggi dibanding vegetable oil lainnya sehingga mudah melakukan penetrasi pasar ke negara tujuan ekspor, khususnya India. Kelima, peluang kampanye positif kelapa sawit Indonesia di India perlu terus didorong khususnya aspek keberlanjutan, kesehatan dan tracebility. "Hal ini ditujukan jangan sampai hambatan dagang dalam EUDR policy di Eropa mempengaruhi negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia lainnya termasuk India," ujarnya, dilansir dari laman website resmi Ditjenbun, pada Senin (9/10). Nah, keenam adanya nota kesepahaman yang telah dibuat antara para pemangku kepentingan utama dalam industri minyak sawit di India, Indonesia dan Malaysia dalam bentuk memorandum yang bertujuan untuk mengakui ISPO, MSPO, dan IPOS (Indian Palm Oil Sustainability) kerangka keberlanjutan yang diakui untuk produksi dan perdagangan minyak sawit di negara-negara tersebut. Ketujuh, minyak sawit berkontribusi sebesar 33 persen dalam konsumsi vegetable oil di India, mengungguli Soya Oil, Rape Oil dan sunflower oil. Kedelapan, potensi India sebagai negara konsumen terbesar kelapa sawit diharapkan dapat menjadi jembatan diplomasi bilateral dengan Indonesia untuk memperkuat kerja sama di bidang keberlanjutan, ketahanan pangan dan energi, energi terbarukan, ketahanan dan rantai nilai pangan inklusif, serta ekonomi sirkular. Menurutnya, Indonesia sebagai negara produsen dan eksportir terbesar kelapa sawit dunia perlu terus mendorong strategi oeningkatan inklusivitas dan ketahanan dalam rantai pasokan minyak sawit melalui sistem pangan yang transformatif dan berkelanjutan. Tantangannya, ulas Prayudi, populasi dunia yang terus bertambah, dan dunia berada di bawah tekanan guna memenuhi permintaan global pangan dan bahan bakar. "Pertanyaan kunci yang perlu dihadapi Indonesia bagaimana pemenuhan minyak sawit berkelanjutan dapat memenuhi permintaan dunia secara efisien, ekonomis, dan berkelanjutan, sebab bentuk pengakuan minyak sawit sudah terbukti dalam memberikan dampak positif terhadap ketahanan pangan global karena produktivitasnya yang tinggi, cakupan aplikasi yang luas, dan kemampuannya dalam meningkatkan ketahanan pangan," tandasnya.