Wow, Pemuda Dari Bengkalis Terpilih Program Sekolah Staf Presiden
Bengkalis, katakabar.com - Orang Nomor Dua di 'Negeri Junjungan' nama lain dari Kabupaten Bengkalis menerima seorang pemuda asal pulau seberang, Bengkalis 26 tahun di Rumah Dinas Wakil Bupati Kabupaten Bengkalis, pada Sabtu (1/7) weekend lalu. Adalah Riska Saputra, peraih prestasi luar biasa terpilih dalam program Sekolah Staf Presiden yang dilaksanakan oleh Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, yang diterima oleh Wakil Bupati Kabupaten Bengkalis, Bagus Santoso. Riska satu-satunya perwakilan dari Provinsi Riau berhasil melewati proses seleksi ketat yang diikuti sebanyak 66.239 pendaftar dari seluruh Indonesia. Tim Seleksi SSP menerima sebanyak 66.239 dokumen pendaftaran. Mereka secara marathon melakukan analisis dan verifikasi untuk mendapatkan kandidat terbaik tentang wawasan, pengetahuan, keterampilan, kemampuan menyampaikan pendapat lewat esai. Selain itu, pengalaman organisasi untuk mendapatkan 100 pendaftar akan bergabung mengikuti tahap seleksi wawancara sebagai calon peserta Sekolah Staf Presiden Pertamina. Alhamdulillah, Riska Saputra berhasil menembus tahap awal seleksi dan meloloskan diri ke dalam 100 besar peserta terbaik yang diundang untuk mengikuti tahap wawancara. Tim Seleksi telah melakukan wawancara terhadap 100 peserta yang memiliki potensi, kompetensi, dan reputasi yang baik. Dari penilaian itu, tim seleksi Sekolah Staf Presiden memutuskan Riska Saputra dinyatakan lulus jadi salah satu dari 35 peserta yang terpilih. Diketahui, Program Sekolah Staf Presiden ini angkatan ke 2 berkolaborasi dengan Pertamina telah melakukan seleksi wawancara untuk memilih 35 calon pemimpin masa depan. Tim seleksi yang beranggotakan para pakar di bidangnya masing-masing telah melakukan analisis, verifikasi dan wawancara untuk mendapatkan peserta terbaik dari yang paling baik dalam wawasan, pengalaman, keterampilan, kemampuan menyampaikan gagasan lewat esai dan wawancara. Pada tahap seleksi, Riska Saputra tampil memukau dengan pengetahuan dan pemikirannya yang cerdas. Keberhasilannya tidak hanya terletak pada kemampuannya mengikuti proses seleksi dengan baik. Tapi lantaran esai yang diajukan pada saat pendaftaran. Di esainya, Riska Saputra menyoroti isu pendidikan dan memberikan kritik konstruktif terhadap kebijakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim, terkait marketplace guru sebagai katalis pendidikan. Kritiknya adalah soal isu pendidikan. Di mana fokusnya pada Teknologi Pendidikan di Indonesia. Menteri Pendidikan kami telah mengusulkan kebijakan platform marketplace guru, di mana sekolah-sekolah di Indonesia dapat melihat dan merekrut guru-guru terbaik dari platform tersebut berdasarkan kualitas guru di sana. Riska Saputra mendukung program tersebut. Tapi dengan beberapa kritik positif, seperti pemerintah harus memperhatikan bagaimana meningkatkan kualitas dan kredibilitas guru, dukungan untuk pelatihan dan pengembangan guru, akses yang inklusif dan setara bagi semua sekolah, evaluasi dan perbaikan platform agar kualitas platformnya terus meningkat. Kritik positif yang disampaikan Riska Saputra di dalam esainya menunjukkan kepekaan dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Ia mengajukan solusi dan saran-saran untuk meningkatkan efektivitas program marketplace guru yang digagas oleh Menteri Nadiem Makarim. Keberhasilan Riska Saputra dalam program Sekolah Staf Presiden bukan hanya sebagai bentuk pengakuan atas dedikasinya dalam proses seleksi yang ketat. Tapi sebagai penghargaan atas pemikiran kritis dan ide-ide konstruktif yang diungkapkannya dalam esai pendaftaran. Ini menunjukkan pemuda Indonesia memiliki potensi besar dalam memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa. Riska Saputra merasa bangga dan terhormat dapat mewakili Provinsi Riau dalam program Sekolah Staf Presiden. Dirinya pun berkomitmen untuk belajar dan beradaptasi di lingkungan kerja pemerintahan yang berprestise itu. (Inf)