Tertekan

Sorotan terbaru dari Tag # Tertekan

Harga Emas Tertekan, Risiko Turun ke 4.480 Masih Terbuka Internasional
Internasional
Rabu, 29 April 2026 | 16:10 WIB

Harga Emas Tertekan, Risiko Turun ke 4.480 Masih Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia pada perdagangan Selasa (28/4) kemarin diprediksi masih berada dalam tekanan, seiring belum adanya sinyal kuat yang menunjukkan kelanjutan tren kenaikan.  Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai kondisi pasar saat ini justru mengarah pada potensi pelemahan lanjutan, terutama setelah harga gagal menembus sejumlah level penting di area resistance. Dari sisi teknikal, katanya, harga emas pada timeframe harian terlihat kesulitan untuk melanjutkan kenaikan setelah tertahan di level 4.741 dan kembali gagal menembus resistance kuat di kisaran 4.832. Kegagalan ini menjadi indikasi bahwa dorongan beli mulai melemah dan pasar kehilangan momentum untuk bergerak lebih tinggi. "Di kondisi seperti ini, pergerakan harga cenderung beralih ke fase koreksi. Fase ini merupakan bagian normal dari siklus pasar, di mana harga mengalami penurunan sementara setelah sebelumnya mencatat kenaikan yang cukup signifikan. Koreksi tersebut dikenal sebagai secondary trend, yang biasanya terjadi sebelum pasar menentukan arah berikutnya," jelasnya. Dengan tekanan yang masih dominan, harga emas diperkirakan berpotensi turun menuju area support di sekitar 4.592. Level ini menjadi titik awal yang akan diuji oleh pasar dalam waktu dekat. Jika tekanan jual masih berlanjut dan level tersebut tidak mampu menahan penurunan, maka harga berpeluang bergerak lebih dalam hingga ke kisaran 4.480. Tetapu, kupasnya, area support tersebut tetap menjadi level krusial. Jika harga mampu bertahan, tidak menutup kemungkinan terjadi pergerakan konsolidasi atau bahkan pantulan sementara sebelum arah selanjutnya terbentuk. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati respons harga di area tersebut. "Dari sisi fundamental, tekanan terhadap emas masih dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat. Dalam kondisi dolar yang kuat, harga emas cenderung melemah karena menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Hal ini berdampak pada menurunnya permintaan global terhadap emas," terangnya. Selain itu, lanjutnya, kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh Federal Reserve juga menjadi faktor utama yang menekan harga emas. Tingginya suku bunga membuat instrumen investasi berbasis imbal hasil seperti obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga. "Kondisi ini diperkuat oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih berada di level tinggi. Ketika yield meningkat, investor cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang memberikan keuntungan tetap, sehingga minat terhadap emas berkurang," ucapnya. Di sisi lain, imbuhnya, situasi pasar global yang relatif stabil juga ikut menekan harga emas. Dalam kondisi pasar yang cenderung positif atau risk-on, investor biasanya lebih memilih aset berisiko dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, sehingga permintaan terhadap aset safe haven seperti emas menjadi berkurang. Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut membuat prospek harga emas dalam jangka pendek masih cenderung negatif. Selama harga belum mampu kembali menembus area resistance penting, tekanan penurunan diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan perkembangan global yang dapat memengaruhi arah harga. Perubahan sentimen yang terjadi secara tiba-tiba, baik dari data ekonomi maupun faktor geopolitik, dapat memicu pergerakan yang cukup signifikan. Dengan kondisi pasar yang masih dinamis, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan fokus pada level-level penting sebagai acuan. Pendekatan yang disiplin dan berbasis analisis dinilai menjadi kunci untuk menghadapi volatilitas harga emas saat ini.

Rupiah Tertekan Level Terendah per Dolar AS, Trading Volume $USDT dan $BTC Melonjak di Bittime Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 25 April 2026 | 12:10 WIB

Rupiah Tertekan Level Terendah per Dolar AS, Trading Volume $USDT dan $BTC Melonjak di Bittime

Jakarta, katakabar.com - Di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global, perilaku investor Indonesia menunjukkan pergeseran yang semakin strategis. Di mana, $USDT, $BTC, dan $XAUT kembali jadi Top Trade aset pada platform Bittime. Sedang, aset kripto $USDT yang memberikan eksposur 1:1 terhadap dolar AS, menjadikannya instrumen yang relevan di tengah gejolak ketegangan geopolitik Amerika-Iran. Apalagi, $USDT bersifat fraksional sehingga dapat diakses atau dibeli dengan harga fleksibel di tengah kondisi depresiasi pada nilai tukar Rupiah.  Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya minat investor terhadap pasangan USDT/IDR di platform Bittime yang naik hingga 20% dalam 24 jam terakhir. Pergerakan tren strategi investasi yang terjadi saat ini, menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap nilai investasi dan pentingnya mengamankan nilai aset di tengah volatilitas pasar ekonomi yang terjadi. Di sisi lain, minat terhadap aset kripto berpotensi tinggi juga terus meningkat. Tercatat, volume trading BTC/IDR pada platform Bittime melonjak hingga 27% per-WoW mencerminkan meningkatnya optimisme investor terhadap aset $BTC. Hal ini dipicu kondisi psikologis pasar yang memandang depresiasi nilai aset $BTC saat ini sebagai momentum untuk menambah jumlah aset nya. Di mana, 6 bulan lalu nilai aset $BTC berada di kisaran $115.000-$120.000, dan dipercaya berpotensi untuk kembali bergerak ke level tersebut. Selain kedua aset tersebut, aset kripto berbasis aset tradisional (TradFi) seperti Emas Tether ($XAUT) dan Silver ($SLVON) juga merupakan aset-aset yang paling banyak diperdagangkan dalam 24 jam terakhir pada platform Bittime. Sebagai aset-aset yang bergerak lebih stabil dibanding aset kripto lainnya, Emas dan Silver dinilai dapat menjadi “safe haven”, apalagi Bittime menghadirkan staking $XAUT dan $SLVON dengan imbal hasil tahunan (APY) hingga 10% bagi pengguna baru. Bertepatan dengan pergeseran pola investasi masyarakat saat ini, sebagai platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan, Bittime menggelar program Bittime Mining Points. Selama program berlangsung, aset kripto $USDT, $BTC, $SOL, $PIPPIN, dan $XRP menjadi aset-aset yang paling banyak diperdagangkan. Sebelumnya, program Bittime MiningPoints digadang sebagai bentuk dukungan dan apresiasi bagi para investor yang memanfaatkan aset kripto sebagai pilihan aset diversifikasi di tengah volatilitas pasar dampak ketegangan geopolitik yang terjadi saat ini. Perlu dipahami investasi sebaiknya tidak berdasar pada tren, melainkan pemahaman dan fundamental di baliknya. Lantaran itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Diketahui, aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Makanya sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.

Harga Emas Masih Tertekan, Dolar AS dan Suku Bunga Jadi Penekan Internasional
Internasional
Senin, 06 April 2026 | 19:10 WIB

Harga Emas Masih Tertekan, Dolar AS dan Suku Bunga Jadi Penekan

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia di perdagangan Senin (6/4) diperkirakan berada dalam tekanan, seiring kuatnya dolar Amerika Serikat, dan belum meredanya ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi di tingkat global. Kondisi ini membuat emas belum mampu kembali menarik minat investor secara signifikan, meskipun ketidakpastian ekonomi dan geopolitik masih berlangsung. Menurut analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, arus dana global saat ini menunjukkan kecenderungan berpindah ke dolar AS sebagai aset lindung nilai utama. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menekan harga emas, mengingat kedua instrumen tersebut kerap bersaing dalam menarik minat investor di tengah situasi pasar yang tidak menentu. Dalam beberapa waktu terakhir, ujarnya, dolar AS menunjukkan penguatan yang cukup konsisten. Penguatan ini tidak hanya didorong oleh faktor ekonomi domestik, tetapi juga oleh persepsi pasar bahwa dolar masih menjadi pilihan paling aman di tengah volatilitas global. Akibatnya, emas yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven mulai kehilangan sebagian daya tariknya. Di sisi lain, bebernya, kebijakan moneter yang ditempuh oleh Federal Reserve juga turut memberikan tekanan tambahan. Bank sentral AS tersebut masih diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk mengendalikan inflasi. Dalam kondisi seperti ini, instrumen investasi berbasis imbal hasil menjadi lebih kompetitif dibandingkan emas yang tidak memberikan return. “Kombinasi antara penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang membatasi ruang gerak emas dalam jangka pendek,” ulas Geraldo Kofit lewat kajiannya. Meski tekanan fundamental cukup dominan, terangnya, pergerakan harga emas juga menunjukkan sinyal pelemahan dari sisi teknikal. Dalam perdagangan terakhir, emas terlihat gagal mempertahankan tren kenaikan dan mulai bergerak dalam pola yang mengindikasikan kecenderungan turun. "Tekanan jual yang muncul di area resistance memperlihatkan bahwa pelaku pasar masih cenderung melakukan aksi lepas posisi," imbuhnya. Dalam proyeksi jangka pendek, sebutnya, harga emas diperkirakan berpotensi bergerak ke level support di kisaran 4550. Level ini menjadi area penting yang akan menentukan apakah tekanan akan berlanjut atau mulai mereda. "Jika tekanan jual meningkat, harga berpotensi turun lebih lanjut mendekati kisaran 4480," ucapnya. Tetapi, peluang terjadinya koreksi naik tetap terbuka. Kenaikan ini bisa terjadi sebagai respons terhadap aksi ambil untung atau perubahan sentimen pasar secara sementara. Meski begitu, ruang penguatan diperkirakan terbatas, dengan potensi kenaikan hanya berada di kisaran 4600 hingga 4642. Secara keseluruhan, arah pergerakan emas saat ini masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama pergerakan dolar AS dan kebijakan moneter global. Selama kedua faktor tersebut belum menunjukkan perubahan signifikan, emas diperkirakan akan tetap bergerak dalam tekanan. Dupoin Futures menilai pelaku pasar perlu mencermati perkembangan data ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan inflasi dan kebijakan suku bunga. Selain itu, dinamika geopolitik juga tetap menjadi faktor yang dapat memicu perubahan sentimen secara cepat. Dengan berbagai faktor tersebut, harga emas pada perdagangan hari ini diproyeksikan bergerak fluktuatif namun dengan kecenderungan melemah. Investor diimbau untuk tetap waspada dan mempertimbangkan risiko pasar yang masih tinggi sebelum mengambil keputusan investasi.

Emas Tertekan Usai NFP AS Melebihi Perkiraan, XAU/USD Turun ke $4.070 Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 22 November 2025 | 13:31 WIB

Emas Tertekan Usai NFP AS Melebihi Perkiraan, XAU/USD Turun ke $4.070

Jakarta, katakabar.com - Harga emas turun ke bawah $4.070 pada 21 November 2025, tertekan data tenaga kerja AS yang solid dan penguatan Dolar. Pasar menantikan rilis PMI dan Sentimen Konsumen AS. Harga emas (XAU/USD) kembali bergerak melemah pada perdagangan Asia Jumat pagi (21/11), berada di bawah level $4.070. Tekanan jual muncul setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan, sehingga mengurangi ekspektasi pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS untuk September mencatat penambahan 119.000 pekerjaan, jauh di atas proyeksi pasar sebesar 50.000. Kenaikan ini turut memperbaiki laporan bulan sebelumnya yang sempat direvisi menurun. Meski tingkat pengangguran naik tipis ke 4,4 persen, data tersebut tetap menunjukkan bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS masih solid. Kekuatan data NFP membuat pelaku pasar menurunkan spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan 25 basis poin kini berada di sekitar 39 persen, lebih rendah dari pekan lalu. Menurut Analis Market HSB Investasi, melemahnya ekspektasi pemangkasan suku bunga menjadi salah satu faktor utama yang menahan penguatan emas dan mendorong investor kembali ke aset berbasis dolar. "Data NFP yang melampaui ekspektasi ini menjadi 'pil pahit' bagi emas. Pasar yang sebelumnya berharap pada pemangkasan suku bunga The Fed di Desember kini harus berpikir ulang. Dengan pasar tenaga kerja AS yang masih menunjukkan ketahanan, narasi hawkish The Fed mendapatkan angin segar, dan ini menekan harga emas hari ini untuk sulit menembus level psikologis $4.100,” ujarnya. Pasar kini menantikan rilis data ekonomi berikutnya, yaitu PMI S&P Global AS dan Indeks Sentimen Konsumen Michigan yang akan dirilis malam ini. Sinyal pelemahan pada aktivitas ekonomi dapat memberikan sentimen positif bagi emas sebagai aset safe haven. Dari sisi fundamental jangka panjang, permintaan emas global tetap solid. Bank Sentral Tiongkok (PBOC) kembali menambah cadangan emas selama 12 bulan berturut-turut hingga Oktober, mencerminkan permintaan institusional yang stabil dan menjadi faktor pendukung harga emas di periode mendatang. Pergerakan volatil XAU/USD yang tinggi belakangan ini membuka peluang perdagangan bagi pelaku pasar yang mengikuti dinamika harga emas harian. Beberapa platform trading, termasuk HSB Investasi, menyediakan akses ke instrumen seperti emas, forex, indeks, saham global, dan komoditi, serta akun demo untuk latihan strategi dalam kondisi pasar nyata tanpa risiko dana.

Lagi, Harga Emas Tertekan! Pasar Tunggu Sinyal Baru dari The Fed dan Data Ekonomi AS Internasional
Internasional
Selasa, 04 November 2025 | 18:44 WIB

Lagi, Harga Emas Tertekan! Pasar Tunggu Sinyal Baru dari The Fed dan Data Ekonomi AS

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) masih melanjutkan tren pelemahannya di awal pekan ini, seiring menurunnya minat terhadap aset safe haven setelah adanya perkembangan positif hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Tekanan jual pada emas berpotensi berlanjut, dengan tren bearish yang masih mendominasi pasar dalam jangka pendek. Pada perdagangan penghujung Oktober 2025 lalu, emas sempat bertahan di atas level psikologis $4.000 per troy ounce, namun akhirnya terkoreksi hingga ke area $3.985, turun hampir 1 persen, dan mencatatkan penurunan mingguan kedua secara berturut-turut. Tekanan tersebut berlanjut pada awal sesi Asia hari Senin (3/11) di mana logam mulia ini sempat menyentuh level $3.965 setelah penguatan dolar AS dan meningkatnya selera risiko di pasar global. Berdasarkan analisis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, emas menunjukkan tren bearish masih dominan berdasarkan sinyal candlestick dan indikator Moving Average. Ia memproyeksikan jika tekanan jual berlanjut, harga emas berpotensi turun ke kisaran $3.959. Namun, jika terjadi koreksi teknikal, rebound menuju $4.026 dapat terjadi sebelum kembali menghadapi resistensi kuat. “Kondisi pasar saat ini masih dalam fase penyesuaian pasca keputusan The Fed. Emas cenderung mencari arah baru, tetapi selama harga tetap di bawah area $4.026, tekanan jual masih menjadi skenario utama,” jelas Andy Nugraha. Sentimen positif datang dari kesepakatan parsial antara AS dan Tiongkok yang berhasil menenangkan pasar. Dalam kesepakatan tersebut, Presiden AS Donald Trump menyetujui penurunan tarif dari 57 persen menjadi 47 persen, sementara pihak Tiongkok berkomitmen untuk meningkatkan pembelian produk pertanian Amerika dan menangguhkan pembatasan ekspor logam tanah jarang. Perkembangan ini membuat investor cenderung beralih dari aset aman seperti emas ke aset berisiko seperti saham, sehingga membatasi potensi penguatan logam mulia ini. Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga tengah mencerna pernyataan hawkish dari Ketua The Fed, Jerome Powell, yang menegaskan bahwa penurunan suku bunga lanjutan di Desember belum menjadi kepastian. Sikap hati-hati The Fed ini membuat peluang pemangkasan suku bunga lebih lanjut tahun ini semakin kecil, sehingga memperkuat posisi dolar AS dan menekan harga emas yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Selain faktor kebijakan moneter, pelaku pasar kini menantikan rilis data Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur ISM AS untuk bulan Oktober. Data ini akan menjadi katalis penting bagi arah harga emas dalam jangka pendek. Jika hasilnya di bawah ekspektasi, dolar AS berpotensi melemah dan membuka ruang bagi emas untuk kembali menguat. Tetapi, bila hasilnya positif, tekanan jual kemungkinan akan berlanjut. Dalam pandangan Dupoin Futures Indonesia, emas saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dengan bias negatif. Level $3.959 menjadi area kunci yang perlu diperhatikan penembusan di bawah level ini dapat memperdalam pelemahan menuju $3.930, sementara penguatan hanya akan terkonfirmasi jika harga mampu menembus dan bertahan di atas $4.026–$4.050.

Emas Tertekan di Bawah $4.000, Pasar Tunggu Keputusan The Fed dan Pertemuan AS–Tiongkok Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 29 Oktober 2025 | 12:00 WIB

Emas Tertekan di Bawah $4.000, Pasar Tunggu Keputusan The Fed dan Pertemuan AS–Tiongkok

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) kembali terseret turun pada perdagangan Selasa (28/10) kemarin, menandai pelemahan signifikan setelah sempat bertahan di atas level psikologis $4.000. Logam mulia ini anjlok hingga $3.971 terendah sejak pertengahan Oktober karena pelaku pasar mulai kembali berani mengambil risiko setelah tensi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok menunjukkan tanda-tanda mereda. Emas kehilangan daya tariknya sebagai aset safe haven ketika hubungan dagang dua ekonomi terbesar dunia mulai mencair, kondisi tersebut membuat permintaan terhadap aset berisiko seperti saham dan obligasi meningkat, sehingga tekanan jual pada emas kian kuat. Dari sisi teknikal, menurut analisis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menjelaskan kombinasi pola candlestick dan pergerakan Moving Average saat ini masih mengindikasikan tren bearish yang dominan pada XAU/USD. Dengan momentum yang cenderung negatif, potensi pelemahan lanjutan terbuka menuju area $3.950, yang menjadi level support kuat untuk jangka pendek. Namun jika harga gagal menembus level tersebut, potensi rebound menuju $4.059 bisa terjadi sebagai bentuk koreksi teknikal. Selain faktor teknikal, pelaku pasar global juga menanti rapat kebijakan The Federal Reserve (The Fed) pada hari Rabu mendatang. Ekspektasi terhadap penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin kini mencapai hampir 97 persen, menurut data dari CME FedWatch Tool. Keputusan ini akan menjadi katalis penting bagi arah pergerakan emas berikutnya. “Jika The Fed memutuskan memangkas suku bunga, hal itu dapat menjadi penahan sementara bagi penurunan harga emas,” ujar Andy. Di sisi lain, kabar positif datang dari Washington dan Beijing. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa kedua negara telah menyepakati kerangka kerja baru untuk meredakan ketegangan perdagangan, termasuk pembatalan rencana tarif 100 persen terhadap produk Tiongkok yang semula akan berlaku mulai 1 November. Pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di sela-sela KTT Asia di Korea Selatan pada Kamis nanti juga diharapkan memperkuat arah kesepakatan dagang yang lebih stabil. “Pasar kini mulai menilai bahwa risiko perang dagang semakin berkurang, sehingga investor cenderung meninggalkan aset pelindung seperti emas,” kata Andy. Pandangan ini sejalan dengan komentar David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, yang menilai bahwa potensi kesepakatan perdagangan antara AS dan Tiongkok menandakan menurunnya permintaan terhadap aset safe haven. Meski begitu, tidak semua indikator ekonomi memberi tekanan tambahan. Indeks Dolar AS (DXY) justru melemah tipis 0,07% ke 98,84, dan imbal hasil obligasi AS 10-tahun turun ke 3,997%. Penurunan imbal hasil riil AS yang biasanya bergerak berlawanan arah dengan emas sempat menahan penurunan harga logam mulia tersebut. Andy menyarankan agar investor tetap berhati-hati dalam mengambil posisi menjelang keputusan The Fed. Menurutnya, volatilitas harga emas cenderung meningkat pada periode menjelang rilis kebijakan moneter dan berita geopolitik penting.

Jelang Rilis Data Inflasi AS, Emas Tetap Tertekan di Area Bearish Internasional
Internasional
Minggu, 26 Oktober 2025 | 10:09 WIB

Jelang Rilis Data Inflasi AS, Emas Tetap Tertekan di Area Bearish

Jakarta, katakabar.com - Harga emas global masih berada di bawah tekanan Kamis (23/10) lalu, setelah dua hari sebelumnya mengalami koreksi tajam. Logam mulia ini sempat diperdagangkan di sekitar level $4.092 per troy ounce, turun lebih dari 1,5 persen dibanding sesi sebelumnya, usai mencatat penurunan lebih dari 5 persen pada Selasa penurunan harian terbesar dalam lima tahun terakhir. Kondisi tersebut menandakan bahwa pelaku pasar tengah bersiap menghadapi rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang menjadi fokus utama minggu ini. Menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, penurunan tajam emas mencerminkan aksi penyesuaian posisi pasar menjelang publikasi laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS. “Secara teknikal, kombinasi antara pola candlestick dan indikator Moving Average (MA) masih menunjukkan kecenderungan bearish pada pasangan XAU/USD,” jelas Andy. Ia menambahkan kalau tekanan jual terus berlanjut, harga emas berpeluang turun lebih dalam menuju area $4.007. Tetapi, jika terjadi koreksi teknikal, potensi rebound terdekat bisa muncul di kisaran $4.156. Dari sisi fundamental, pergerakan emas masih dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi global. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor teknologi baru ke Tiongkok, langkah yang dikhawatirkan dapat memperburuk ketegangan antara Washington dan Beijing. “Meski kebijakan ini menambah ketidakpastian di sektor perdagangan global, khususnya teknologi, dampaknya terhadap harga emas belum signifikan karena fokus investor tetap tertuju pada inflasi dan arah kebijakan suku bunga The Fed,” kata Andy. Sementara, Indeks Dolar AS (DXY) melemah tipis 0,13 persen ke level 98,84, belum cukup kuat untuk mendukung kenaikan harga emas. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun turun ke 3,951 persen, sedangkan imbal hasil riil berada di 1,671 persen. Pergerakan ini menandakan bahwa sebagian investor mulai memperkirakan adanya penurunan suku bunga yang mungkin dilakukan oleh Federal Reserve (Fed) menjelang akhir 2025. Pasar kini menilai peluang sebesar 98 persen The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin pada dua pertemuan terakhir tahun ini, disertai potensi pemangkasan tambahan sekitar 100 basis poin di tahun 2026. Meski tengah menghadapi tekanan jangka pendek, secara year-to-date (YTD) emas masih mencatat kenaikan lebih dari 54 persen. Hal ini menunjukkan bahwa logam mulia tersebut tetap menjadi aset lindung nilai yang diminati di tengah ketidakpastian ekonomi global serta risiko perlambatan ekonomi AS. Andy Nugraha menyoroti fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada data IHK AS bulan September dan laporan Indeks Manajer Pembelian (PMI) Global S&P untuk Oktober yang akan dirilis Jumat mendatang. “Jika inflasi menunjukkan perlambatan, harga emas berpotensi kembali menembus area psikologis $4.100. Tetapi, bila inflasi justru lebih tinggi dari ekspektasi, tekanan bearish bisa mendorong harga turun hingga menembus support $4.000,” sebutnya.

Harga CPO Berulah Bikin Harga TBS Sawit Mitra Plasma Umur 9 Tahun Tertekan Periode Ini Sawit
Sawit
Rabu, 08 Oktober 2025 | 12:49 WIB

Harga CPO Berulah Bikin Harga TBS Sawit Mitra Plasma Umur 9 Tahun Tertekan Periode Ini

Pekanbaru, katakabar.com - Harga Crude Palm Oil atau minyak sawit mentah berulah bikin harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mitra plasma umur tanam 9 tahun tertekan Rp9,81 per kilogram periode 8 hingga 14 Oktober 2025. Itu diketahui setelah Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau bersama tim rapat penetapan harga kelapa sawit mitra plasma. Hasil penetapan harga kelapa sawit tersebut menggunakan tabel rendemen harga baru hasil kajian dari PPKS Medan yang disepakati tim. Menurut Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau Defris Hatmaja, untuk penurunan harga tertinggi berada di kelompok umur 9 tahun sebesar Rp9,81 per kilogram setara 0,27 persen dari harga periode lalu. Jadi, harga pembelian TBS petani untuk periode sepekan ke depan turun menjadi Rp3.686,11 per kilogram, dan berlaku untuk periode sepekan ke depan. “Untuk harga cangkang sebesar Rp17,38 per kilogram berlaku sebulan ke depan. Di periode ini indeks K yang dipakai indeks K untuk 1 bulan ke depan 92,75 persen, di mana harga penjualan CPO minggu ini turun sebesar Rp6,88 dan kernel pekan ini turun sebesar Rp178,32 dari pekan lalu,” ulasnya, dilansir dari laman media center Riau, Rabu (8/10). Kata Defris, ada beberapa Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tidak melakukan penjualan, berdasarkan Permentan nomor 01 tahun 2018 pasal 8 maka harga CPO dan kernel yang digunakan harga rata-rata tim, tetapi bila terkena validasi 2 digunakan harga rata-rata KPBN. Harga rata-rata CPO KPBN periode ini sebesar Rp14.675,00 dan harga kernel KPBN periode ini sebesarRp14.041,00. “Kita ketahui bersama harga TBS yang ditetapkan tim untuk mitra plasma mengalami penurunan. Penurunan harga minggu ini lebih disebabkan karena faktor turunnyanya harga CPO dan kernel,” jelasnya. Kata Defris, penetapan harga TBS Provinsi Riau melalui Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau dan Tim Penetapan Harga Pembelian TBS Produksi Pekebun selalu melakukan perbaikan tata kelola agar penetapan harga inisesuai dengan regulasi dan berkeadilan untuk kedua belah pihak yang bermitra. “Membaiknya tata kelola penetapan harga ini upaya serius dari seluruh stakeholder yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau. Komitmen bersama ini akhirnya bakal berimbas pada peningkatan pendapatan petani yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.

Pasar Aset Kripto Kembali Tertekan, Kebijakan The Fed Jadi Pemicu Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 26 September 2025 | 14:00 WIB

Pasar Aset Kripto Kembali Tertekan, Kebijakan The Fed Jadi Pemicu

Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto mengalami tekanan signifikan, Senin (22/9) lalu. Di mana, nilai aset Bitcoin, ETH, dan aset-aset lainnya terpantau merosot tajam. Hal ini, terjadi pasca pengumuman pemangkasan suku bunga oleh The Fed, beberapa waktu lalu. Secara historis, keputusan pemotongan suku bunga oleh The Fed seringkali disambut dengan baik oleh pasar investor dan trader. Sebab, suku bunga yang lebih rendah cenderung menempatkan aset- aset seperti Bitcoin, menjadi lebih menarik. Tapi kali ini, pasar bereaksi lebih sensitif terhadap rincian dan nada kebijakan itu sendiri, bukan hanya pada keputusannya. Meski pemotongan suku bunga oleh The Fed awalnya diharapkan akan memicu kenaikan, pengaruhnya justru memudar dengan cepat. Hal ini disebabkan oleh pernyataan hati-hati dari bank sentral yang menyebabkan investor menarik diri dari aset berisiko. Penurunan pasar aset kripto saat ini sangat dipengaruhi oleh pernyataan yang disampaikan oleh Ketua The Fed, Jerome Powell. Alih-alih memberikan sinyal dovish yang kuat, Powell menggambarkan pemotongan suku bunga sebagai langkah risk management dan mengisyaratkan bahwa The Fed tidak akan terburu-buru untuk melakukan pemotongan lebih lanjut. Sikap hati-hati ini mengecewakan ekspektasi pasar yang mengharapkan kelonggaran moneter yang lebih agresif. Akibatnya, sentimen pasar berubah menjadi lebih pesimis, mendorong para trader untuk menjual aset mereka dan mengambil keuntungan. Respons pasar terhadap pernyataan Powell terlihat jelas dari gelombang likuidasi yang masif. Bahkan, sempat terjadi likuidasi senilai lebih dari $1,7 miliar, yang menunjukkan bahwa banyak trader dengan posisi long secara berlebihan terpaksa menutup posisi mereka.

Harga Emas Tertekan Data NFP AS, Bearish Mendominasi Ekonomi
Ekonomi
Senin, 07 Juli 2025 | 22:33 WIB

Harga Emas Tertekan Data NFP AS, Bearish Mendominasi

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas atau XAU/USD alami tekanan jual lagi, setelah mencatat reli moderat seminggu terakhir. Lihat di penutupan sesi Jumat (4/7) lalu, logam mulia ini sempat menguat 0,26 persen ke $3.333, tapi kondisi likuiditas tipis jelang libur Hari Kemerdekaan AS memupus momentum kenaikan. Pasar kini menatap data Nonfarm Payrolls atau NFP yang menegaskan ketahanan tenaga kerja AS, menambah beban bagi emas yang dihargai dalam Dolar AS. Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha menyebutkan, sinyal teknikal sedang mengarah ke tren bearish. “Moving Average jangka pendek kini bergerak di bawah MA jangka menengah, didukung formasi lower high dan lower low pada candlestick harian,” tuturnya. Dari proyeksi teknikal Dupoin, ujarnya, jika tekanan jual terus berlanjut hari ini, XAU/USD berpeluang turun ke support penting di $3.292. Jika pelaku pasar menemukan momentum beli baru, rebound ke level $3.343 masih sangat mungkin terjadi. "Memasuki sesi perdagangan Asia Senin (7/7), emas sempat terkoreksi hingga menyentuh $3.320. Hal ini dipicu data NFP bulan Juni yang menunjukkan penambahan 147.000 lapangan kerja melewati estimasi pasar sebanyak 110.000 serta tingkat pengangguran yang tetap stabil di 4,1 persen. Hasil ini menurunkan probabilitas pemangkasan suku bunga jangka pendek oleh The Fed, sehingga menguatkan Dolar AS dan menekan XAU/USD)," jelasnya. Selanjutnya, ulasnya, sorotan pasar beralih ke risalah rapat Federal Open Market Committee atau FOMC yang akan dipublikasikan pada hari Rabu (9/7). Dokumen tersebut diyakini memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai sikap Fed, apakah akan menunda atau mempercepat langkah pelonggaran moneter. "Di saat bersamaan, ancaman kenaikan tarif dagang Presiden AS, Trump, yang akan mengembalikan tarif ke level awal apabila negosiasi tak mencapai kemajuan, menambah lapisan ketidakpastian di tengah kekhawatiran fiskal," ucapnya. Selain itu, sambungnya, eskalasi konflik di Timur Tengah juga menjadi faktor pendorong safe-haven. Aksi militer Israel terhadap sasaran Houthi di Yaman menambah kekhawatiran geopolitik, yang biasanya menjadi katalis positif bagi emas. Meskipun demikian, sentimen positif ini tampaknya tertahan oleh sentimen suku bunga dan data ketenagakerjaan yang kuat.