Hari Danau Sedunia: Rayakan Danau Toba, Tempat Alam, Warisan dan Masyarakat Bersatu Wisata
Wisata
Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:01 WIB

Hari Danau Sedunia: Rayakan Danau Toba, Tempat Alam, Warisan dan Masyarakat Bersatu

Medan, katakabar.com - Setiap 27 Agustus, dunia memperingati Hari Danau Sedunia (World Lake Day). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan peringatan ini melalui resolusi yang diprakarsai oleh Indonesia. Perayaan global pertama Hari Danau Sedunia berlangsung pada 2025. Hari Danau Sedunia meningkatkan kesadaran akan pentingnya danau di seluruh dunia. Peringatan ini juga mendorong upaya untuk melindungi, menjaga, dan memulihkan ekosistem danau. Danau menyediakan sumber air tawar dan mendukung keanekaragaman hayati. Danau juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat, mata pencaharian, serta budaya yang berkembang di sekitarnya. Hari Danau Sedunia: Rayakan Danau di Dunia Danau salah satu ekosistem air tawar yang paling penting di dunia. Danau menyediakan air bagi masyarakat serta menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa. Bagi banyak masyarakat, danau juga memiliki nilai budaya yang mendalam. Danau dapat membentuk tradisi, mata pencaharian, dan cara hidup masyarakat di sekitarnya. Nilainya jauh melampaui keindahan alamnya. Hari Danau Sedunia mengingatkan kita akan pentingnya menjaga ekosistem berharga ini. Peringatan ini juga mendorong kesadaran dan tindakan nyata untuk menjaga kelestarian danau bagi generasi mendatang. Peran Indonesia dalam Hari Danau Sedunia Indonesia turut memimpin inisiatif untuk menetapkan Hari Danau Sedunia melalui diplomasi air di tingkat internasional. Inisiatif ini mendapat momentum dalam World Water Forum ke-10 di Bali. Forum tersebut mempertemukan berbagai negara dan organisasi untuk membahas tantangan air yang dihadapi dunia. PBB kemudian mengadopsi resolusi untuk menetapkan Hari Danau Sedunia. Pencapaian ini mencerminkan komitmen Indonesia terhadap pengelolaan air yang berkelanjutan serta perlindungan sumber daya air tawar. Indonesia memiliki banyak danau dengan nilai alam dan budaya yang unik. Di antaranya, Danau Toba menjadi salah satu lanskap paling istimewa di Indonesia. Danau Toba: Keajaiban Alam Indonesia Terletak di Sumatera Utara, Danau Toba merupakan salah satu keajaiban alam Indonesia yang paling dikenal. Danau ini memiliki panjang sekitar 100 kilometer dan lebar 30 kilometer. Danau Toba merupakan danau vulkanik terbesar di dunia sekaligus danau terbesar di Asia Tenggara. Sejarah Danau Toba bermula sekitar 74.000 tahun lalu. Letusan gunung berapi besar membentuk kaldera luas yang kemudian menjadi Danau Toba. Saat ini, danau tersebut dikelilingi pegunungan, hutan, desa, dan masyarakat setempat. Keindahan alamnya hanyalah sebagian dari cerita Danau Toba. Danau Toba juga memiliki hubungan erat dengan budaya dan sejarah masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Lebih dari Sekadar Danau: Kisah Samosir Di tengah Danau Toba terdapat Pulau Samosir. Pulau ini memiliki hubungan sejarah dan budaya yang kuat dengan kawasan Danau Toba. Samosir memiliki desa-desa tradisional, situs leluhur, dan berbagai peninggalan bersejarah. Lanskapnya mencerminkan hubungan yang erat antara manusia dan alam. Kehidupan masyarakat di pulau ini juga tidak dapat dipisahkan dari danau. Danau Toba menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekaligus identitas kawasan tersebut. Bagi wisatawan, Samosir menawarkan lebih dari sekadar pemandangan indah. Pulau ini menjadi kesempatan untuk mengenal sejarah, tradisi, dan kehidupan sehari-hari masyarakat di sekitar Danau Toba. Menikmati Danau Toba dari Samosir Bagi mereka yang ingin menikmati Danau Toba lebih dari sekadar pemandangan, Pulau Samosir menawarkan kesempatan untuk lebih dekat dengan danau, alam, dan warisan budayanya. Berlokasi di Tuktuk Siadong, Marianna Resort & Convention Tuktuk – Samosir, Marclan Collection berada di tepi Danau Toba dan menjadi salah satu tempat untuk menjelajahi keindahan Pulau Samosir. Resor ini memadukan pemandangan Danau Toba, kekayaan budaya setempat, dan keramahan modern. Para tamu dapat menikmati suasana alam sekaligus menjelajahi berbagai situs budaya dan sejarah di sekitar Samosir. Marianna juga menawarkan berbagai aktivitas seperti olahraga air, bersepeda, dan kegiatan luar ruangan yang memungkinkan tamu menikmati Danau Toba dari berbagai sisi. Dengan Danau Toba sebagai bagian utama dari pengalaman, menginap di Samosir dapat menjadi lebih dari sekadar kunjungan ke destinasi yang indah. Pengalaman ini juga menjadi kesempatan untuk memahami hubungan antara danau, alam, dan masyarakat yang menjadikan kawasan ini sebagai rumah mereka. Warisan Budaya Batak Terus Hidup Danau Toba memiliki hubungan yang erat dengan warisan budaya masyarakat Batak, salah satu masyarakat adat di kawasan ini. Rumah tradisional dan desa-desa adat dapat ditemukan di berbagai wilayah di sekitar danau. Musik, upacara adat, kerajinan, serta cerita lokal juga terus menjadi bagian penting dari budaya Batak. Tradisi-tradisi ini menghubungkan generasi masa kini dengan sejarah kawasan. Tradisi tersebut juga menunjukkan betapa eratnya hubungan antara budaya dan alam di sekitar Danau Toba. Karena itu, melindungi Danau Toba berarti menjaga lebih dari sekadar perairannya. Hal ini juga berarti mendukung budaya, sejarah, dan masyarakat yang telah tumbuh bersama danau tersebut. Melihat Lebih dari Sekadar Lanskap Hari Danau Sedunia menjadi kesempatan untuk melihat danau bukan hanya sebagai destinasi wisata. Danau merupakan ekosistem hidup sekaligus lanskap budaya. Danau Toba menjadi contoh nyata dari hubungan tersebut. Perairannya yang luas, sejarah vulkaniknya, lingkungan alamnya, dan warisan budaya Batak berpadu menciptakan sebuah kawasan yang istimewa. Saat memperingati Hari Danau Sedunia, Danau Toba mengingatkan kita bahwa menjaga danau merupakan tanggung jawab bersama. Menjaga danau berarti menjaga lingkungan dan masyarakat yang bergantung padanya. Hal ini juga berarti melestarikan cerita, tradisi, dan lanskap yang membuat setiap danau memiliki keunikan tersendiri. Ketika kita melindungi sebuah danau, kita tidak hanya melindungi air. Kita juga menjaga bagian hidup dari warisan kita untuk generasi mendatang.

Warisan Terus Berevolusi: Heritage Reimagined di ASHTA District 8 Serba Serbi
Serba Serbi
Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:01 WIB

Warisan Terus Berevolusi: Heritage Reimagined di ASHTA District 8

Jakarta, katakabar.com - ASHTA District 8 menghadirkan HERITAGE REIMAGINED, sebuah program budaya yang berlangsung pada 5 hingga 30 Agustus 2026, menghadirkan eksplorasi tentang bagaimana warisan budaya Indonesia terus menginspirasi karya-karya kontemporer melalui fashion, seni, desain, musik, dan craftsmanship. Warisan budaya tidak hanya hidup melalui sejarah, tetapi juga melalui cara kita terus menghidupkannya. Ketika tradisi bertemu dengan kreativitas, lahirlah perspektif baru yang membuat nilai-nilai budaya tetap relevan bagi generasi masa kini. Mengangkat semangat tersebut dalam perayaan bulan Kemerdekaan Indonesia, ASHTA District 8 menghadirkan HERITAGE REIMAGINED, sebuah program budaya yang berlangsung pada 5 hingga 30 Agustus 2026, menghadirkan eksplorasi tentang bagaimana warisan budaya Indonesia terus menginspirasi karya-karya kontemporer melalui fashion, seni, desain, musik, dan craftsmanship. Mengusung tema Where Legacy Inspires Tomorrow, HERITAGE REIMAGINED menghadirkan pengalaman terkurasi yang memperlihatkan bahwa budaya bukan sekadar sesuatu yang diwariskan, melainkan terus berkembang melalui interpretasi baru. Melalui rangkaian pameran, instalasi, hingga pengalaman kreatif, pengunjung diajak melihat bagaimana nilai-nilai tradisi dapat diterjemahkan ke dalam bahasa visual dan desain yang relevan dengan kehidupan urban masa kini. "Di ASHTA, kami percaya bahwa legacy hanya akan tetap hidup ketika terus diberi ruang untuk berevolusi. Melalui Heritage Reimagined, kami ingin menghadirkan sebuah pengalaman yang menghubungkan warisan wastra Indonesia dengan kreativitas masa kini. Bersama Wilsen Willim, kami mengajak masyarakat untuk melihat tenun bukan sekadar sebagai tradisi yang diwariskan, tetapi sebagai inspirasi yang terus berkembang, relevan, dan layak diapresiasi oleh generasi mendatang," ujar Leonardo Slatter, Senior Manager Center Experience ASHTA District 8. Algorithm: Universal Language, Ketika Tenun Menjadi Bahasa Baru Sebagai bagian utama dari HERITAGE REIMAGINED, ASHTA District 8 menghadirkan Algorithm: Universal Language, sebuah instalasi dan pameran karya desainer Wilsen Willim yang berlangsung di Melting Pot, Ground Floor. Pameran ini mengeksplorasi bagaimana tradisi tenun Indonesia dapat diterjemahkan menjadi bahasa universal melalui fashion, musik, dan eksplorasi visual yang berpadu dengan inovasi teknik serta prinsip keberlanjutan. Berangkat dari kekayaan pola dan struktur tenun Nusantara, Wilsen Willim menghadirkan interpretasi kontemporer yang memperlihatkan bahwa warisan budaya tidak berhenti sebagai artefak masa lalu, tetapi terus berkembang sebagai sumber inspirasi bagi praktik desain masa kini. Lewat Algorithm: Universal Language, setiap pola tenun dipandang sebagai sebuah bahasa yang mampu menghubungkan identitas budaya Indonesia dengan lanskap kreatif global. "Kami memilih palet warna yang netral agar setiap rancangan dapat dikenakan kembali dalam berbagai kesempatan sekaligus mudah dipadukan dengan wastra Nusantara yang kaya akan warna dan motif. Pada koleksi ini, Dian Sastrowardoyo tidak hanya hadir sebagai wajah kolaborasi, tetapi juga terlibat dalam proses pengembangan ide dan kurasi desain bersama tim, sehingga setiap karya lahir melalui dialog kreatif yang saling melengkapi," kata Wilsen Willim. Kolaborasi Merayakan Wastra Indonesia Melengkapi rangkaian pameran, HERITAGE REIMAGINED juga menjadi momen peluncuran koleksi kolaborasi eksklusif antara Wilsen Willim dan Dian Sastrowardoyo. Koleksi ini menghadirkan reinterpretasi siluet-siluet busana tradisional Indonesia, seperti Kebaya Kartini, Kebaya Kutubaru, Kebaya Janggan, Beskap, Surjan, hingga Sikepan Hussar khas Keraton Surakarta, yang diterjemahkan ke dalam bentuk busana siap pakai dengan pendekatan kontemporer. Menggunakan material seperti katun, jacquard, suiting fabric, serta batik tulis Cirebon, koleksi ini menawarkan siluet yang lebih modern dengan palet warna netral, menjadikan wastra Indonesia lebih mudah dikenakan dalam keseharian tanpa kehilangan karakter dan nilai budayanya. Kolaborasi ini menjadi wujud pertemuan dua kreator dari disiplin yang berbeda, yang dipersatukan oleh visi yang sama untuk terus menghadirkan budaya Indonesia dalam cara-cara baru yang lebih dekat dengan generasi masa kini. "Saya ingin kebaya dapat menjadi bagian dari keseharian perempuan Indonesia, dengan gaya yang lebih kasual, material yang nyaman dikenakan, namun tetap mempertahankan nilai serta identitas budayanya," timpal Dian Sastrowardoyo. Melalui HERITAGE REIMAGINED, ASHTA District 8 kembali memperkuat komitmennya sebagai destinasi gaya hidup yang menghadirkan pengalaman terkurasi melalui seni, budaya, dan komunitas. Lebih dari sekadar merayakan warisan budaya, program ini menjadi ruang kreatif untuk saling bertemu, berkolaborasi, dan menghadirkan pemahaman baru yang menjaga warisan Indonesia tetap hidup, terus berkembang, dan menginspirasi masa depan. HERITAGE REIMAGINED berlangsung di ASHTA District 8 pada 5 hingga 30 Agustus 2026 dan terbuka untuk publik.

Bangga Bawa Warisan Nusantara, Siswa SMPN 1 Ujungbatu Berlaga di Festival Tunas Bahasa Ibu Pendidikan
Pendidikan
Selasa, 28 April 2026 | 22:14 WIB

Bangga Bawa Warisan Nusantara, Siswa SMPN 1 Ujungbatu Berlaga di Festival Tunas Bahasa Ibu

Ujungbatu, katakabar.com – Di tengah semarak peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026, hadir sebuah momen indah yang menyatukan ilmu pengetahuan dengan cinta pada budaya sendiri. Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Kabupaten Rokan Hulu menjadi panggung megis yang mempertemukan talenta muda untuk kembali merawat akar bahasa dan tradisi yang telah lama ditanam oleh leluhur. Sebagai wakil terbaik dari Kecamatan Ujungbatu, putra-putri SMP Negeri 1 Ujungbatu tampil penuh percaya diri, siap mengukir nama harum dan mempersembahkan penampilan terbaik demi menjaga kekayaan kearifan lokal agar tidak tergerus oleh zaman. Tiga siswa berprestasi yang dipercaya untuk bertanding, adalah Vicky Adira Lesmana yang akan menampilkan keelokan Aksara Melayu, Khayyirah Lubna Hasanah yang akan menyuarakan gagasan cerdas lewat Pidato Bahasa Daerah, serta Awaliah Azzahra Irawan yang akan memukau hadirin dengan seni bercerita atau Mendongeng. Mereka semua berjalan di bawah bimbingan penuh kasih dan ilmu dari pelatih setia, Khairanisa Sutamina, S.Pd. Kepala Sekolah SMPN 1 Ujungbatu, Berlian Siregar, S.Ag, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Rokan Hulu yang telah dengan tulus menaja acara bermakna ini. "Kami sangat mengapresiasi upaya pemerintah yang telah menaja acara ini dalam rangka Hardiknas. Melalui kegiatan seperti inilah, bahasa daerah kita akan semakin dikenal luas, dicintai generasi muda, dan terjaga kelestariannya selamanya," ujarnya penuh hangat kepada katakabar.com, Selasa (28/4). Lebih dalam, ia menitipkan harapan besar agar sekolahnya senantiasa menjadi institusi yang tidak hanya mencetak juara di atas panggung, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter yang kokoh. "Semoga sekolah kami senantiasa menjadi tempat yang tidak hanya mencetak prestasi di atas panggung kompetisi, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter yang kokoh bagi anak-anak bangsa agar kelak tumbuh menjadi generasi penerus yang sukses, berbudaya, dan selalu bangga akan identitas serta akar budaya mereka sendiri," harapnya tulus. Semoga setiap langkah mereka dimudahkan oleh Sang Pencipta, hati dipenuhi keyakinan, dan pulang membawa hasil yang gemilang sebagai bukti nyata cinta pada bahasa ibu.

Empower Girls, Warisan Hari Perempuan Internasional 2021 Masih Bergaung di 2025 Nusantara
Nusantara
Senin, 10 Maret 2025 | 19:22 WIB

Empower Girls, Warisan Hari Perempuan Internasional 2021 Masih Bergaung di 2025

Jakarta, katakabar.com - Kampanye Empower Girls, hasil kolaborasi antara Plan Indonesia dan WateryNation yang diluncurkan pada 2021 untuk memperingati Hari Perempuan Internasional, terus memberikan dampak positif hingga tahun 2025. Diluncurkan sebagai platform untuk meningkatkan kesadaran tentang kesetaraan gender, mencegah perkawinan anak, serta mendorong perempuan muda menjadi agen perubahan, Empower Girls kini telah berkembang menjadi gerakan anak muda yang berkelanjutan. Melalui wadah Peer-to-Peer Club, kampanye ini menciptakan ruang aman bagi anak muda untuk berdiskusi, mengikuti pelatihan, serta terlibat dalam kampanye advokasi tentang hak perempuan dan kesetaraan gender.

Hari Arak Bali 2025, Singkap Potensi Ekonomi Sebuah Warisan Budaya Nusantara
Nusantara
Kamis, 06 Februari 2025 | 11:27 WIB

Hari Arak Bali 2025, Singkap Potensi Ekonomi Sebuah Warisan Budaya

Bali, katakabar.com - Peringatan Hari Arak Bali 2025 jadi momentum untuk membuka potensi minuman arak sebagai industri artisanal berbasis kearifan lokal yang unik untuk pasar dunia Hari Arak Bali jatuh pada 29 Januari 2025, pemerhati budaya, akademisi dan artisan arak bali berkumpul di Level 21 Mall, Denpasar, Bali dalam sebuah bincang budaya “Talkshow Bali Signature: Arak Bali for The World”. Koperasi Fermentasi Nusantara (Fermenusa), organisasi non-profit berperan aktif dalam mempromosikan, advokasi produk pangan olahan fermentasi Indonesia, bersama Level 21 Mall, Bali dengan bangga menghadirkan narasumber dari berbagai bidang untuk membuka wawasan masyarakat terhadap potensi minuman arak sebagai industri artisanal berbasis kearifan lokal yang unik untuk pasar dunia.

Resida Peduli Warisan Budaya Nusantara Nusantara
Nusantara
Rabu, 01 Januari 2025 | 19:39 WIB

Resida Peduli Warisan Budaya Nusantara

Jakarta, katakabar.com - Resida Peduli suatu inisiatif berkomitmen untuk melestarikan kesenian tradisional Indonesia, khususnya tarian Jaranan dan Bantengan. Para penari Jaranan dan Bantengan seringkali berhadapan dengan masalah kulit akibat intensitas latihan dan pertunjukan yang tinggi. Resida Cair hadir sebagai solusi dengan menawarkan produk perawatan kulit yang efektif mengatasi masalah kulit seperti gatal-gatal dan iritasi. Selain menyediakan produk perawatan kulit, Resida Cair aktif mendukung berbagai kegiatan pelestarian kesenian tradisional, sehingga para seniman dapat terus berkarya dengan nyaman dan percaya diri, menjaga kelestarian budaya bangsa.

Buku 'The Real Guilty Pleasures', Evaluasi Pandangan Positif Film-film Eksploitasi Warisan Perfilman Serba Serbi
Serba Serbi
Sabtu, 30 Maret 2024 | 16:15 WIB

Buku 'The Real Guilty Pleasures', Evaluasi Pandangan Positif Film-film Eksploitasi Warisan Perfilman

katakabar.com - Binus Publishing gelar webinar “Ngabuburit Bareng Bedah Buku The Real Guilty Pleasures” bersama Ekky Imanjaya, Ph.D. selaku penulis buku The Real Guilty Pleasures dan Dosen Film Binus, dan Gorivana Ageza S.S., M.Hum., M.Fil. aktivis Bahasinema dan Dosen UNPAR dan dimoderatori Shadia Imanuella Pradsmadji, S.Sn., M.Si. Dosen Film Binus, pada 22 Maret 2024 lalu via Zoom Meeting. Ekky Imanjaya adalah dosen tetap di Departemen Film, Bina Nusantara (Binus) University, kampus Alam Sutera. Ia elesaikan studi doktoralnya dari Kajian Film di University of East Anglia (2018), Inggris. Ekky kritikus film yang fokus pada sinema Indonesia, dan isu keislaman dan budaya pop. Beliau adalah anggota Dewan Festival di Madani International Film Festival dan Jakarta Film Week, dan menjadi Ketua Komite Film di Dewan Kesenian Jakarta (2021-2023). Karya popularnya, yakni tersebar di Majalah Tempo, Kompas, Astaga.com, dan Zinetflix. Sebagai akademisi, karyanya dimuat, antara lain, di Cinemaya, Colloquy, Plaridel, Asian Cinema, Jurnal Wacana, dan Historical Journal of Film, TV, Radio. Buku termutakhir yang ditulisnya adalah Mencari Film Madani, Sinema dan Dunia Islam (2019) dan Mujahid Film, Usmar Ismail (2021). Gorivana Ageza seorang aktivis Bahasinema dan Dosen Film dari Universitas Katolik Parahyangan. Saat menempuh pendidikan sarjana, Ibu Echa bergabung dengan Sinesofia, kelompok diskusi film Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Pada tahun 2015 lalu, Ibu Echa bersama teman-teman dari sejumlah kampus di Bandung mendirikan Bahasinema, komunitas yang berfokus pada ekshibisi dan kajian film. Dari tahun 2019, Ibu Echa menjadi salah satu programmer Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Ibu Echa menjadi juri nominasi kategori Film Cerita Pendek pada Festival Film Indonesia 2021-2023. Kini Ibu Echa menjalani kesehariannya sebagai dosen fakultas filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), sembari mengelola Sinesofia. Buku The Real Guilty Pleasures membahas mengenai perlalulintasan budaya (cultural traffic) dari film-film tersebut, mulai dari akhir 1970-an sampai awal 2010-an, dari Indonesia sampai ke negara-negara lain. Film-film tersebut telah menjadi bidang penting dan bahkan menjadi objek ketegangan yang muncul dari berbagai politik selera yang melibatkan beberapa agen, seperti negara dan para elit budayanya, produser-produser film lokal, distributor dan eksibitor film lokal, khalayak lokal, distributor transnasional, dan para penggemar global. Dalam bukunya, Pak Ekky membongkar atau menimbang ulang edaran film-film kelas B pada masa orde baru dengan tujuan film kelas B yang banyak dianggap rendah oleh orang-orang harus masuk dalam sejarah Indonesia dan menjadi anak kandung perfilman Indonesia. Kata Ekky, arogan sekali orang-orang yang menganggap rendah selera-selera orang yang suka film 2000an, sebab film itu hadir dan dikonsumsi banyak orang itu menandakan sebuah komunitas butuh estetika tertentu dari film ini. "Jadi, dari buku ini dari kata menantang tadi adalah saya bilang bahwa kita membongkar dan menimbang ulang film-film yang dianggap tidak berkualitas harus masuk dalam sejarah Indonesia karena sejauh ini belum ada," ujarnya. Buku The Real Guilty Pleasures ini memperkenalkan kita film-film eksploitasi yang dianggap 'tidak berkualitas', film-film eksploitasi ini tidak diketahui dan tidak diakui sejarah perfilman Indonesia, seperti yang disampaikan Ibu Echa leqat presentasinya, ada beberapa problem dalam buku ini yang saya anggap menarik, yakni sejarah perfilman fokus pada sisi yang dianggap ideal. "Akibatnya beberapa film eksploitasi di kepinggirkan, diabaikan, bahkan diam-diam disingkirkan karena dianggap tidak penting, tidak layak, dianggap berkualitas, dan merusak moral," ulasnya. Buku The Real Guilty Pleasures, terang Echa, menganalisa secara menyeluruh dinamika politik, ekonomi, sosial, dan transformasi budaya dari film-film 'berkualitas' itu secara internasional membentuk dan memberi dampak terhadap suasana budaya film nasional dan global, termasuk secara kritis membenturkannya dengan konsep sinema kultus (cult cinema) yang sangat Barat-sentris. Banyak peserta yang antusias bertanya mengenai film eksploitasi di Indonesia, Sejarah perfilman pada masa orde baru, pandangan terhadap film B, dsb. Peserta yang mendaftar dari BINUSIAN dan umum sebanyak 466, dan yang hadir dalam acara ini sebanyak 230. Dari pemaparan seluruh narasumber maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada film-film yang dianggap tidak berkualitas oleh negeri sendiri namun justru dia menarik perhatian orang-orang yang ada di luar sana dan akhirnya diedarkan puluhan tahun setelahnya pengedaran aslinya. Soal estetika melawan etika, apakah yang estetik itu harus selalu etis? dan apakah yang etis itu tidak bisa estetik? hal tersebut akan selalu menjadi perdebatan yang menarik dan bisa dilihat dari banyak konteks. Sikap membina dan memberdayakan yang spesifik disoroti dalam buku The Real Guilty Pleasures adalah mengajak seluruh masyarakat untuk memberdayakan Film-Film eksploitasi yang dianggap 'tidak berkualitas' agar bisa masuk dan diakui dalam sejarah perfilman Indonesia. Binus Publishing memberikan diskon 25 persen hingga 31 Maret 2024 nanti. Kalian bisa mengunjungi koleksi BINUS Publishing melalui shopee https://shopee.co.id/binuspublishing, tokopedia https://tokopedia.com/binuspublishing, email di [email protected], bisa juga dm di instagram kami di @publishingbinus atau kunjungi Beehive di Kampus BINUS @Anggrek Lt. Dasar. Kontak: BINUS Publishing 082122350806 / 021 -5345830 ext. 2150