Bangga Bawa Warisan Nusantara, Siswa SMPN 1 Ujungbatu Berlaga di Festival Tunas Bahasa Ibu Pendidikan
Pendidikan
16 jam yang lalu

Bangga Bawa Warisan Nusantara, Siswa SMPN 1 Ujungbatu Berlaga di Festival Tunas Bahasa Ibu

Ujungbatu, katakabar.com – Di tengah semarak peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026, hadir sebuah momen indah yang menyatukan ilmu pengetahuan dengan cinta pada budaya sendiri. Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Kabupaten Rokan Hulu menjadi panggung megis yang mempertemukan talenta muda untuk kembali merawat akar bahasa dan tradisi yang telah lama ditanam oleh leluhur. Sebagai wakil terbaik dari Kecamatan Ujungbatu, putra-putri SMP Negeri 1 Ujungbatu tampil penuh percaya diri, siap mengukir nama harum dan mempersembahkan penampilan terbaik demi menjaga kekayaan kearifan lokal agar tidak tergerus oleh zaman. Tiga siswa berprestasi yang dipercaya untuk bertanding, adalah Vicky Adira Lesmana yang akan menampilkan keelokan Aksara Melayu, Khayyirah Lubna Hasanah yang akan menyuarakan gagasan cerdas lewat Pidato Bahasa Daerah, serta Awaliah Azzahra Irawan yang akan memukau hadirin dengan seni bercerita atau Mendongeng. Mereka semua berjalan di bawah bimbingan penuh kasih dan ilmu dari pelatih setia, Khairanisa Sutamina, S.Pd. Kepala Sekolah SMPN 1 Ujungbatu, Berlian Siregar, S.Ag, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Rokan Hulu yang telah dengan tulus menaja acara bermakna ini. "Kami sangat mengapresiasi upaya pemerintah yang telah menaja acara ini dalam rangka Hardiknas. Melalui kegiatan seperti inilah, bahasa daerah kita akan semakin dikenal luas, dicintai generasi muda, dan terjaga kelestariannya selamanya," ujarnya penuh hangat kepada katakabar.com, Selasa (28/4). Lebih dalam, ia menitipkan harapan besar agar sekolahnya senantiasa menjadi institusi yang tidak hanya mencetak juara di atas panggung, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter yang kokoh. "Semoga sekolah kami senantiasa menjadi tempat yang tidak hanya mencetak prestasi di atas panggung kompetisi, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter yang kokoh bagi anak-anak bangsa agar kelak tumbuh menjadi generasi penerus yang sukses, berbudaya, dan selalu bangga akan identitas serta akar budaya mereka sendiri," harapnya tulus. Semoga setiap langkah mereka dimudahkan oleh Sang Pencipta, hati dipenuhi keyakinan, dan pulang membawa hasil yang gemilang sebagai bukti nyata cinta pada bahasa ibu.

Empower Girls, Warisan Hari Perempuan Internasional 2021 Masih Bergaung di 2025 Nusantara
Nusantara
Senin, 10 Maret 2025 | 19:22 WIB

Empower Girls, Warisan Hari Perempuan Internasional 2021 Masih Bergaung di 2025

Jakarta, katakabar.com - Kampanye Empower Girls, hasil kolaborasi antara Plan Indonesia dan WateryNation yang diluncurkan pada 2021 untuk memperingati Hari Perempuan Internasional, terus memberikan dampak positif hingga tahun 2025. Diluncurkan sebagai platform untuk meningkatkan kesadaran tentang kesetaraan gender, mencegah perkawinan anak, serta mendorong perempuan muda menjadi agen perubahan, Empower Girls kini telah berkembang menjadi gerakan anak muda yang berkelanjutan. Melalui wadah Peer-to-Peer Club, kampanye ini menciptakan ruang aman bagi anak muda untuk berdiskusi, mengikuti pelatihan, serta terlibat dalam kampanye advokasi tentang hak perempuan dan kesetaraan gender.

Hari Arak Bali 2025, Singkap Potensi Ekonomi Sebuah Warisan Budaya Nusantara
Nusantara
Kamis, 06 Februari 2025 | 11:27 WIB

Hari Arak Bali 2025, Singkap Potensi Ekonomi Sebuah Warisan Budaya

Bali, katakabar.com - Peringatan Hari Arak Bali 2025 jadi momentum untuk membuka potensi minuman arak sebagai industri artisanal berbasis kearifan lokal yang unik untuk pasar dunia Hari Arak Bali jatuh pada 29 Januari 2025, pemerhati budaya, akademisi dan artisan arak bali berkumpul di Level 21 Mall, Denpasar, Bali dalam sebuah bincang budaya “Talkshow Bali Signature: Arak Bali for The World”. Koperasi Fermentasi Nusantara (Fermenusa), organisasi non-profit berperan aktif dalam mempromosikan, advokasi produk pangan olahan fermentasi Indonesia, bersama Level 21 Mall, Bali dengan bangga menghadirkan narasumber dari berbagai bidang untuk membuka wawasan masyarakat terhadap potensi minuman arak sebagai industri artisanal berbasis kearifan lokal yang unik untuk pasar dunia.

Resida Peduli Warisan Budaya Nusantara Nusantara
Nusantara
Rabu, 01 Januari 2025 | 19:39 WIB

Resida Peduli Warisan Budaya Nusantara

Jakarta, katakabar.com - Resida Peduli suatu inisiatif berkomitmen untuk melestarikan kesenian tradisional Indonesia, khususnya tarian Jaranan dan Bantengan. Para penari Jaranan dan Bantengan seringkali berhadapan dengan masalah kulit akibat intensitas latihan dan pertunjukan yang tinggi. Resida Cair hadir sebagai solusi dengan menawarkan produk perawatan kulit yang efektif mengatasi masalah kulit seperti gatal-gatal dan iritasi. Selain menyediakan produk perawatan kulit, Resida Cair aktif mendukung berbagai kegiatan pelestarian kesenian tradisional, sehingga para seniman dapat terus berkarya dengan nyaman dan percaya diri, menjaga kelestarian budaya bangsa.

Buku 'The Real Guilty Pleasures', Evaluasi Pandangan Positif Film-film Eksploitasi Warisan Perfilman Serba Serbi
Serba Serbi
Sabtu, 30 Maret 2024 | 16:15 WIB

Buku 'The Real Guilty Pleasures', Evaluasi Pandangan Positif Film-film Eksploitasi Warisan Perfilman

katakabar.com - Binus Publishing gelar webinar “Ngabuburit Bareng Bedah Buku The Real Guilty Pleasures” bersama Ekky Imanjaya, Ph.D. selaku penulis buku The Real Guilty Pleasures dan Dosen Film Binus, dan Gorivana Ageza S.S., M.Hum., M.Fil. aktivis Bahasinema dan Dosen UNPAR dan dimoderatori Shadia Imanuella Pradsmadji, S.Sn., M.Si. Dosen Film Binus, pada 22 Maret 2024 lalu via Zoom Meeting. Ekky Imanjaya adalah dosen tetap di Departemen Film, Bina Nusantara (Binus) University, kampus Alam Sutera. Ia elesaikan studi doktoralnya dari Kajian Film di University of East Anglia (2018), Inggris. Ekky kritikus film yang fokus pada sinema Indonesia, dan isu keislaman dan budaya pop. Beliau adalah anggota Dewan Festival di Madani International Film Festival dan Jakarta Film Week, dan menjadi Ketua Komite Film di Dewan Kesenian Jakarta (2021-2023). Karya popularnya, yakni tersebar di Majalah Tempo, Kompas, Astaga.com, dan Zinetflix. Sebagai akademisi, karyanya dimuat, antara lain, di Cinemaya, Colloquy, Plaridel, Asian Cinema, Jurnal Wacana, dan Historical Journal of Film, TV, Radio. Buku termutakhir yang ditulisnya adalah Mencari Film Madani, Sinema dan Dunia Islam (2019) dan Mujahid Film, Usmar Ismail (2021). Gorivana Ageza seorang aktivis Bahasinema dan Dosen Film dari Universitas Katolik Parahyangan. Saat menempuh pendidikan sarjana, Ibu Echa bergabung dengan Sinesofia, kelompok diskusi film Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Pada tahun 2015 lalu, Ibu Echa bersama teman-teman dari sejumlah kampus di Bandung mendirikan Bahasinema, komunitas yang berfokus pada ekshibisi dan kajian film. Dari tahun 2019, Ibu Echa menjadi salah satu programmer Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Ibu Echa menjadi juri nominasi kategori Film Cerita Pendek pada Festival Film Indonesia 2021-2023. Kini Ibu Echa menjalani kesehariannya sebagai dosen fakultas filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), sembari mengelola Sinesofia. Buku The Real Guilty Pleasures membahas mengenai perlalulintasan budaya (cultural traffic) dari film-film tersebut, mulai dari akhir 1970-an sampai awal 2010-an, dari Indonesia sampai ke negara-negara lain. Film-film tersebut telah menjadi bidang penting dan bahkan menjadi objek ketegangan yang muncul dari berbagai politik selera yang melibatkan beberapa agen, seperti negara dan para elit budayanya, produser-produser film lokal, distributor dan eksibitor film lokal, khalayak lokal, distributor transnasional, dan para penggemar global. Dalam bukunya, Pak Ekky membongkar atau menimbang ulang edaran film-film kelas B pada masa orde baru dengan tujuan film kelas B yang banyak dianggap rendah oleh orang-orang harus masuk dalam sejarah Indonesia dan menjadi anak kandung perfilman Indonesia. Kata Ekky, arogan sekali orang-orang yang menganggap rendah selera-selera orang yang suka film 2000an, sebab film itu hadir dan dikonsumsi banyak orang itu menandakan sebuah komunitas butuh estetika tertentu dari film ini. "Jadi, dari buku ini dari kata menantang tadi adalah saya bilang bahwa kita membongkar dan menimbang ulang film-film yang dianggap tidak berkualitas harus masuk dalam sejarah Indonesia karena sejauh ini belum ada," ujarnya. Buku The Real Guilty Pleasures ini memperkenalkan kita film-film eksploitasi yang dianggap 'tidak berkualitas', film-film eksploitasi ini tidak diketahui dan tidak diakui sejarah perfilman Indonesia, seperti yang disampaikan Ibu Echa leqat presentasinya, ada beberapa problem dalam buku ini yang saya anggap menarik, yakni sejarah perfilman fokus pada sisi yang dianggap ideal. "Akibatnya beberapa film eksploitasi di kepinggirkan, diabaikan, bahkan diam-diam disingkirkan karena dianggap tidak penting, tidak layak, dianggap berkualitas, dan merusak moral," ulasnya. Buku The Real Guilty Pleasures, terang Echa, menganalisa secara menyeluruh dinamika politik, ekonomi, sosial, dan transformasi budaya dari film-film 'berkualitas' itu secara internasional membentuk dan memberi dampak terhadap suasana budaya film nasional dan global, termasuk secara kritis membenturkannya dengan konsep sinema kultus (cult cinema) yang sangat Barat-sentris. Banyak peserta yang antusias bertanya mengenai film eksploitasi di Indonesia, Sejarah perfilman pada masa orde baru, pandangan terhadap film B, dsb. Peserta yang mendaftar dari BINUSIAN dan umum sebanyak 466, dan yang hadir dalam acara ini sebanyak 230. Dari pemaparan seluruh narasumber maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada film-film yang dianggap tidak berkualitas oleh negeri sendiri namun justru dia menarik perhatian orang-orang yang ada di luar sana dan akhirnya diedarkan puluhan tahun setelahnya pengedaran aslinya. Soal estetika melawan etika, apakah yang estetik itu harus selalu etis? dan apakah yang etis itu tidak bisa estetik? hal tersebut akan selalu menjadi perdebatan yang menarik dan bisa dilihat dari banyak konteks. Sikap membina dan memberdayakan yang spesifik disoroti dalam buku The Real Guilty Pleasures adalah mengajak seluruh masyarakat untuk memberdayakan Film-Film eksploitasi yang dianggap 'tidak berkualitas' agar bisa masuk dan diakui dalam sejarah perfilman Indonesia. Binus Publishing memberikan diskon 25 persen hingga 31 Maret 2024 nanti. Kalian bisa mengunjungi koleksi BINUS Publishing melalui shopee https://shopee.co.id/binuspublishing, tokopedia https://tokopedia.com/binuspublishing, email di publishing@binus.edu, bisa juga dm di instagram kami di @publishingbinus atau kunjungi Beehive di Kampus BINUS @Anggrek Lt. Dasar. Kontak: BINUS Publishing 082122350806 / 021 -5345830 ext. 2150